Friday, July 3, 2020

Ada yang Masuk Dapur tapi Bukan Rekaman -- Episode Mari Memasak (Bagian 1)

Hari ini aku punya pengalaman baru lagi. Hari ini aku menerima beberapa paket hasil online shopping ku. Bukan.. bukan baju, apalagi sepatu. (No) Thanks to pandemic self quarantie situation, sekarang daftar belanjaan online ku sudah merambah ke ikan, sayur-mayur, buah-buahan, dan peralatan memasak. Menarique bukan??

Jadi ceritanya sejak pertengahan bulan Juni, aku mulai menempati kamar kost. Sejak saat itu pula aku tidak punya akses ke masakan rumah. Sebelumnya aku tinggal di rumah Uda (Paman)ku, dan setiap hari di rumah tersedia berbagai menu sehat masakan Inanguda (Tante) ku.

Beberapa hari pertama, aku masih bisa menikmati masakan rumah. Beruntung aku punya teman yang baik, Tessa, yang mengirimkan sepaket makanan American delish. Isinya 4 potong square pizza, tuna ala Jamie Oliver, kue tiga rasa, dan chocolate cookies. Semuanya hasil masakan Tessa. Rasanya jangan ditanya, sedapnya merasuk ke jiwa karena dimasak dengan penuh cinta. Dan datangnya tepat di hari pertama aku menempati kamar kost. Jadi rasanya semacam bingkisan kost-warming gitu... haha

 ❤ Paket American Delish ala Tessa ❤

Kemudian minggu kemarin, seorang teman yang lain, Friska, mengirimi aku sepaket makanan, hasil masakannya juga. Kali ini Korean delish. Isinya jjajangmyeon, japchae, tteobokki, dan kimchi. Kata Friska, supaya semangat menulis topik per-Koriya-an. Aaaww... so sweet kali puuuunn...

❤ Paket Korean Delish ala Friska ❤

Mental note. Menerima kedua paket ini, aku merasa sungguh bahagia dan terharu. I am so blessed and loved. Tuhan selalu mengirimkan malaikat-malaikat tidak bersayap untuk menolong kita. Semoga saja suatu saat, bila Dia kasih kesempatan, aku pun siap meneruskan kebaikan yang aku terima.  

Ketika semua paket makanan itu habis, maka tidak ada pilihan lain, aku harus beli makanan dari luar. Paling sering sih beli nasi padang atau nasi warteg, baik untuk makan siang di kantor, maupun makan malam. Enak sih enak, tapi nasi nya itu lho... Porsi Galia! Apalagi aku paling pantang membuang makanan, sehingga mau sebanyak mana pun nasi, pasti aku habiskan #modus. Selain itu sayurannya juga terbatas, dan rentan basi. Belum lagi penyedap. Sekali dua kali sih masih tidak apa. Tapi kalau hampir setiap hari?  

Nah, rumah kost ku ini punya dapur bersama yang cukup lengkap. Ada kompor gas dua tungku, kulkas dua pintu, dispenser, dan bak cuci piring. Ukurannya pun lumayan lega. Memang dapur menjadi salah satu kriteria dalam memilih tempat kost, selain sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Setelah beberapa minggu memanfaatkan kompor dan kulkas hanya untuk menghangatkan makanan dan merebus mie instan, aku rasa sudah saatnya aku mulai menggunakannya untuk aktifitas yang lebih serius. Me-ma-sak.   

Dapur bersama di rumah kost. Dilengkapi exhaust fan di langit-langitnya. 

Dapur Tampak Sini

Dapur Tampak Sana


Sebagai alat masak, Inanguda sudah membekaliku dengan sebuah frying pan, dan itu sudah cukup untuk memulai. Selanjutnya tentu saja aku harus membeli bahan-bahan makanan. Karena aku masih menghindari pusat perbelanjaan, maka solusinya adalah belanja online. Langsung saja aku browsing di Instagram untuk mencari supplier ikan, daging, dan sayuran. Ternyata ada banyak! Banget! Pusing juga memilihnya.

Lalu aku teringat cerita Tessa tentang seorang temannya yang menjadi supplier ikan. Ikan segar tangkapan nelayan Ambon, dikirim dengan cargo pesawat terbang. Aku kirain harganya bakal bikin gemetaran, secara ikan laut selalu lebih mahal dari ikan air tawar. Ternyata tidak juga. Kata Tessa, harganya sama dengan di swalayan langganan. Akhirnya aku menghubungi Marini, sang suplier ikan. Jenis ikannya ada bermacam-macam. Tenggiri potongan, cakalang, kembung banjar, bobara atau kuwe, dan tuna. Setelah memilih-milih, akhirnya aku memesan ikan kembung banjar kualitas super. Benar-benar super,  4 ekor ikan per kg.

Kemarin Marini sudah menghubungiku, mengabarkan bahwa pesanan ikan sudah datang. Tadi pagi, aku mendapatkan pesan lagi bahwa ikan sudah dalam perjalanan menuju tempat kost ku. YAY!  

Pukul sembilan tadi pagi, kurir menelpon dan mengatakan sudah meninggalkan pesananku di depan rumah. Waduuh, main tinggalin aja nih si abang ojol. Untung gak digondol kucing. Aku bergegas ke depan rumah, dan lega menemukan paket ikan dalam keadaan baik-baik saja.

Kembung Banjar - Bandingkan besarnya dengan botol AQUA ukuran kecil


Dimarinasi asam garam - supaya ikannya banyak pengalaman

Sesampainya di rumah kost, aku buka bungkusan paket dan huwaaa.... bahagia sekali melihat empat ekor ikan kembung banjar, segar, mantap dan padat. Aku segera mengeluarkan satu ekor, dan yang tiga lagi kubungkus dan masuk ke freezer. Ikan yang satu aku bersihkan, potong dua, lalu dimarinasi dengan asam jeruk nipis dan garam. Kalau kata temanku Ikop, supaya ikannya banyak pengalaman (makan asam garam, get it?? :p) 

Hmm.... enaknya dimasak apa ya?  

No comments:

Post a Comment