Sunday, December 20, 2020

KLIP 2020 dan Harapan untuk KLIP 2021

Annyeong…

Hari ini adalah hari terakhir setoran Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk tahun 2020. Tahun ini adalah pertama sekalinya aku ikut serta dalam komunitas KLIP. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar tentang komunitas ini dari kk Risna, dan tahun ini, kk Risna berhasil ‘menyeret’ku untuk ikut dalam pusaran literasi ini. 


Aku sudah pernah menuliskan tentang kisah perjalananku dalam menulis dalam postinganku di bulan Oktober yang lalu yang berjudul “Tantangan yang Menyenangkan”. Aku yang tadinya menulis kapan tahu, menulis karena ikutan event (itupun jarang lengkap), akhirnya memberanikan diri bergabung dengan sebuah komunitas literasi. 


Dari KLIP aku belajar untuk rutin menulis. Memang buat manusia berkarakter moody kaya’ aku ini, aku membutuhkan komunitas untuk bisa tetap termotivasi. Harus ada contoh yang bikin aku terhenyak, tercubit, terpukau, terperangah, lalu belajar untuk meniru. Intinya harus ada pembanding, sehingga aku bisa mengikuti jejak teman-teman yang sudah berhasil. 


Sejauh ini sistem “reward and punishment” cukup berhasil membuatku tetap menulis. Walaupun mengklaim diri sebagai pengabdi badge, tapi aku sendiri tidak mengingat jelas berapa badge warna apa yang berhasil kukumpulkan. Namun yang pasti, aku belum tereliminasi hingga hari terakhir KLIP 2020 ini. Buatku itu sungguh merupakan prestasi! (Dan kopernya bisa disimpan kembali haha)


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi. Betapa mereka produktif menulis, dengan tidak meninggalkan tugas utamanya. Dalam kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan, mereka tetap menyediakan waktu untuk menulis. Menulis adalah “me time” buat teman-temanku yang keren-keren ini.


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang ternyata memiliki kesenangan yang sama denganku, yaitu menonton drama Korea. Kegemaran menonton drama Korea, yang sering dipandang negatif bagi sebagian orang, justru membuat kami semakin produktif. Drama Korea menjadi inspirasi dan sumber ilmu yang tidak habis-habisnya. Dan semakin produktif lagi ketika kami menyatukan keimpulsifan kami dalam bentuk sebuah blog bareng bertajuk Drakor Class. Sejak blog ini mengudara tanggal 10 Oktober 2020, tak henti-hentinya aku, kami semua, belajar hal baru. Semoga saja kami bisa membesarkan ‘anak’ kami ini dengan baik dan benar. 


Dari KLIP aku bertemu dengan my long lost twin, Rijo Tobing. Entah kenapa, kami sering sekali ‘dituduh’ sebagai anak kembar. Bukan hanya di masa awal, namun makin ke sini, justru makin sering sebutan mirip dan kembar ini membahana. Mulai dari tampang sampai suara. Bahkan salah satu teman di Drakor Class pernah menyangka bahwa dia sedang chat dengan Rijo ketika aku menghubunginya lewat wapri. Dan nyadarnya itu setelah percakapan berlangsung beberapa lama hahahaha 


Sebutan kembar ini sungguh menguntungkan buatku, karena Rijo ini seorang novelist sementara aku seorang ‘moodist’ hihi. Aku pernah ‘dituduh’ sebagai “yang selalu menulis ribuan kata”, dan dengan senang hati aku kembali mengulang fakta bahwa itu bukan aku tapi ‘kembaran’ku. Lucunya, kehidupanku sebenarnya pernah beririsan dengan Rijo. Aku mengenal orang-orang di sekitarnya, dan Rijo mengenal orang-orang di sekitarku. Namun entah bagaimana, kami tidak pernah bertemu atau berkenalan secara langsung. Semoga saja tahun depan kami bisa bertemu raga dan makan Bebek Kaleyo bersama. 

 

Intinya, ada banyak sekali manfaat, pengalaman, pelajaran, dan kebahagiaan yang kudapatkan ketika aku bergabung dengan KLIP. I must say, it is one of the best decisions I made this year. 


Harapan tentang KLIP ke depan? Semoga saja KLIP tetap mengudara, berjaya di darat (luring) dan di udara (daring). Semoga para admin, pengurus, penggagas, penggiat dalam KLIP diberkahi dengan tenaga dan inspirasi yang tak habis-habisnya, untuk membagikan ilmu dan menularkan semangat berliterasi, menjadi saluran berkat dan kebaikan bagi lebih banyak orang.  


Friday, December 18, 2020

Annyeonghaseyo Chingudeul Episode Finale 2020

Annyeonghaseyo!

Sebagaimana biasanya hari Jumat, hari ini adalah hari yang panjang dan lumayan sibuk. Walaupun di rumah saja karena hari ini aku WFH, kegiatan sudah dimulai dari pagi dan baru berakhir pukul 10, dan ditutup dengan kegiatan menulis. 

Bulan Desember adalah bulan istimewa di KLIP, dengan 20 setoran saja sudah bisa mendapatkan badge Outstanding. Berhubung aku memang memiliki kecenderungan modis, alias modal diskon, maka ‘diskon’ ala KLIP ini pun termasuk salah satu yang aku kejar haha


Hari ini pekerjaan kantor agak ‘rungsing’ karena banyak diisi dengan koordinasi via telepon dan via WhatsApp. Apalagi kemarin aku baru saja survei lapangan ke Cigudeg, dan besok akan ke luar kota lagi. Maka hari ini adalah harinya melakukan koordinasi ke sana dan kemari, pasca dan pra survei. 


Yang paling istimewa hari ini adalah acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”, IG Live Drakor Class. Hari ini adalah episode ketujuh, yang adalah episode terakhir untuk tahun 2020. Setelah beberapa episode ‘kursi panas’ sebagai host ditempati oleh RiRi Couple-nya Drakor Class, yaitu Cha Ree dan Cho Rijo, kemudian Cho Rijo, dan Lendyagasshi, maka episode ini, aku kembali mendudukinya. Setelah beberapa minggu bisa santuy nonton IG Live sambil rebahan, kali ini aku kembali sibuk dengan persiapan dan eksekusinya. 


Pada episode kali ini, Drakor Class menghadirkan tiga orang classmate. Dengan penampilan ketiga classmate ini, maka bisa dikatakan seluruh kontributor Drakor Class sudah tampil di acara IG Live. Eh, ada satu orang yang belum ding… Sudah dijadwalkan sebenarnya untuk tampil di episode ke-6, namun karena ada kepentingan keluarga, akhirnya harus ditunda dulu deh penampilannya.  


Sejak hari Sabtu yang lalu aku sudah menghubungi ketiga teman yang menjadi classmate, yaitu Nastiti, Rosy, dan Gita. Harus dihubungi jauh-jauh hari, karena mereka bertiga memiliki kesibukan yang cukup menyita waktu juga. Nastiti mengikuti beberapa komunitas yang banyak tugas-tugasnya, Rosy yang tinggal di kota berzona WITA sehingga harus menyesuaikan waktu dengan kita yang di WIB, dan Gita yang punya usaha kuliner yang biasanya tutup setelah jam makan malam. 


Awalnya sih mau bahas film dan drama Korea. Namun setelah diskusi dengan Nastiti, kaya’nya kurang pas kalau fokus hanya di film. Nas lalu mengusulkan untuk membahas literasi Korea, karena memang Nas suka membaca dan mengoleksi beberapa novel karya penulis Korea. Wah, ide brilian! Karena sepanjang Drakor Class mengudara, kami belum pernah membahas tentang literasi Korea. Akhirnya dirumuskan untuk episode kali ini, kami akan membahas tentang sinema (film dan drama) dan literasi Korea. 


Persiapannya sih sama seperti acara IG Live sebelumnya. Aku menyiapkan daftar pertanyaan untuk para classmate, lalu para classmate memberikan feedback mereka, kemudian kami mengadakan rehearsal sehari sebelum hari H, yaitu gladi resik melalui video call. Seserius itu? Iyaaa… kami seserius itu hahaha Gladi resik (GR) ini penting untuk melatih komunikasi host dan classmate juga. Jadi ketika ‘manggung’, tidak kagok atau canggung lagi. 


Ketika GR, biasanya classmate masih “demam panggung”, apalagi kebanyakan kami belum pernah tampil live di depan kamera. Tentu saja dalam setiap GR, aku punya pengamat dan komentator yang selalu siap sedia memberikan input, yaitu Kak Risna dan Lendy. Dalam setiap GR, biasanya akan muncul ide-ide pertanyaan atau topik yang akan dibahas, sehingga biasanya setiap GR aku akan sibuk membuat catatan, dan kk Risna dan Lendy akan sibuk “merusuh” hahahaha.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah flyer yang didesain oleh Manda. Ketika jadwal, tema, host dan classmate sudah fixed, maka semua informasi itu 'disetorkan' kepada Manda, bersama foto-foto para 'tersangka' hahaha Tidak pakai lama, Manda akan segera meproduksi flyer, dan siap ditayangkan di berbagai medsos Drakor Class. 



Flyer "Annyeonghaseyo Chingudeul" Episode Finale 2020 
(sumber: Instagram Drakor Class)


Latihan atau GR Kamis malam itu berjalan dengan lancar. Terus terang aku agak gentar, karena di luar dugaanku, ketiga classmate memiliki kecintaan yang amat sangat pada hobi mereka masing-masing, sehingga malah aku merasa kurang informasi. Dibandingkan aku, mereka bertiga telah lebih dulu menonton drakor, dan koleksi drakor dan filmnya sudah buuanyaaaakk. Kuatirnya besok malahan hostnya yang kelihatan bengong dan demam panggung hahaha

Hari H pun tiba. Satu jam sebelum acara, aku kembali bersiap-siap, membuka berbagai catatan, membuat berbagai catatan. Pukul delapan malam pun tiba, panggung pun dibuka!

Bahagianya aku karena kekuatiranku tidak terjadi. Baik Nas, Rosy, maupun Gita tampil lebih baik, lebih cair, dan lebih lancar dibandingkan GR. Luar biasa, keren banget! Informasi yang mereka sampaikan juga sangat menarik, sehingga tanpa terasa, episode hari ini mengambil dua sesi, alias 2 jam, yang sangat menyenangkan. 

Ketika direnungkan, memang pandemi telah membuat aku berani mencoba hal baru, membuat aku belajar banyak hal baru. Dan menjadi host Drakor Class adalah pengalaman yang sangat berharga buatku. Tidak saja aku belajar keterampilan baru, mulai dari public speaking, sampai mengoperasikan fitur Instagram. Aku juga belajar merencanakan acara seperti IG Live ini, dan lebih 'rempong' lagi ketika bersama-sama teman-teman Drakor Class kami merencanakan event "Crash Landing on KDrama" bersama KCC Indonesia, dimana aku menjadi moderator. Dan satu hal yang lebih istimewa lagi, dengan menjadi host, aku semakin mengenal teman-teman yang menjadi classmate secara lebih dekat.  

Semoga saja di tahun 2021, Drakor Class bisa tetap dan terus menjadi rumah yang nyaman bagi kami dan banyak orang lagi untuk sama-sama belajar, berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan.  

Thursday, December 10, 2020

Drakor Class, Ulang Bulan ke-2

Annyeong…

Hari ini adalah tanggal 10 Desember 2020. Hari ini adalah hari peringatan Hak Asasi Manusia Sedunia. Terus, hari ini juga adalah hari ulang tahun Kang Daniel, salah satu Busan Boys yang adalah KPop idol. Tapi yang paling istimewa, hari ini genap dua bulan blog keroyokan Drakor Class mengudara. YAY!


Usia dua bulan masih belum apa-apa. Tapi dalam dua bulan, sudah banyak kisah yang kami lewati bersama. Yang pasti, kami makin (sok) sibuk, karena makin banyak kerjaan hahaha 


Setiap hari selalu ada postingan, syukurnya ada kk Risna yang selalu mengingatkan dan mengejar dan memastikan dan membagikan jadwal publish postingan di web. 


Tadinya moment twitteran dilakukan sekali seminggu, biasanya tiap Sabtu. Sekarang? Kaya’nya udah gak ada jadwal tertentu lagi deh hahaha Kalau lagi ada trending topic yang bisa disambung-sambungin, tiba-tiba ada yang nyamber aja di grup. “Aku twit tentang anu yaaa….” dan langsung mengambil alih kemudi akun twitter.


Sejauh ini, walaupun belum sempurna, aku bisa melihat bahwa sebagian besar kami punya rasa kepemilikan terhadap Drakor Class yang cukup tinggi. Ketika rembugan, semua memikirkan bagaimana supaya Drakor Class bisa tampil bagus. Bagaimana mengemas sesuatu agar terlihat lebih sedap dipandang, lebih sedap didengar, lebih meninggalkan kesan. Semua saling mengingatkan, khususnya mengingatkan bagaimana agar kami tetap menyebarkan konten dan vibe yang positif.


Aku tidak melihat ada yang mau menguasai panggung sendiri. Ketika yang satu menjadi PIC, yang lain akan ikut sumbangsih ide, bagaimana caranya supaya sesuatu itu menjadi lebih baik. Memberikan ide, memberikan tenaga dan waktu. Itu sudah merupakan hal yang luar biasa, karena sesungguhnya tidak ada ikatan apapun di antara kami. Well.. kecuali kk Risna dan Rijo yang bersepupu, dan dengan aku yang dulu teman kost di Bandung. Dan banyak di antara teman-teman yang berasal dari komunitas yang sama. Eh… banyak juga ya ikatannya hahaha 

Anyway, bisa dibilang selama hampir setahun ini, sesungguhnya kami semua hanya berkenalan dan berjumpa lewat dunia maya. 


Semuanya yang kami lakukan didasari dua alasan. Pertama, kami senang dengan dunia menulis. Kedua, kami senang dunia drakor. Dan Drakor Class merupakan perpaduan keduanya. 


Di ulang bulan yang kedua ini kami mendapatkan hadiah yang sangat membahagiakan. Korean Cultural Centre Indonesia (KCCI) mengajak Drakor Class untuk berkolaborasi dalam salah satu acara mereka dalam rangka Korean Culture Day, yang kali ini mengangkat tema K-Drama.


Sebenarnya undangan untuk berkolaborasi itu sudah disampaikan sejak awal Desember. Di awal minggu ini kami sudah mendapatkan konsep acara dari KCCI, dan kami pun sudah melakukan dua kali zoom meeting untuk melakukan persiapan. Namun, tetap saja deg-degan; sebelum flyer acara secara resmi ditayangkan oleh KCCI, maka acara tersebut kami anggap belum resmi terselenggara. 


Hari ini, penantian pun berakhirlah. Tadi sore pukul 16.00 WIB, KCCI memposting flyer acara tersebut di akun Instagram mereka, dengan men-tag Drakor Class Ahhh… rasanya senang sekali. IT’S JUST SO EXCITING! 


Flyer Acara KCC Indonesia X Drakor Class (sumber: Instagram KCC.ID)



Tak menunggu lama, flyer tersebut segera kami posting kembali di akun Drakor Class dan akun medsos kami masing-masing. Dan seperti yang sudah bisa diduga, acara tersebut pun mengundang follower bagi akun Drakor Class. YAY!!


Pekerjaan belum selesai. Masih belum apa-apa. Masih banyak persiapan harus dilakukan menjelang hari H, yaitu Senin 14 Desember ini. Tapi melihat antusiasme teman-teman, aku yakin, sangat yakin, kami akan tampil membawa nama Drakor Class dengan baik hari Senin nanti. 


Selamat ulang bulan uri Drakor Class! 


Sunday, November 29, 2020

Presentasi di Masa Pandemi

Semasa sekolah, aku bukan murid yang pemalu juga, tetapi aku juga bukan si banci tampil yang selalu ada di setiap event sekolahan. Yaa... cukup cukup saja lah. Ada tapi bukan pemain utama. 

Kalau urusan presentasi, lain lagi kisahnya. Aku ingat waktu SMP ada tugas menirukan iklan (coba ya… entah apalah target pembelajaran sehingga kami harus menirukan iklan). Sungguh kugagal melakukannya. Padahal tiap hari juga ada iklan di tv, ya kan. Diminta menirukan satu saja, aku kagok luar biasa. 

Masih ingat juga ketika SMA ada tugas kelompok untuk mempresentasikan suatu negara. Kelompokku mendapatkan tugas untuk negara Afrika. Dalam satu kelompok ada lima orang, ada yang presentasi bagian ekonominya, budayanya, dan aku lupa aku bagian apanya. Ketika berdiri di depan, aku ingat sekali tanganku pucat pasi dan mendingin. Kalau kuingat-ingat lagi, presentasinya pun benar-benar seadanya. Lebih mirip bercerita, atau menerangkan kembali. Tapi yang kuingat ya itu, groginya seubun-ubun. 


Ketika di kampus, gaya presentasi sudah berbeda. Di sini lah pertama kali aku mengenal Power Point. Tetapi presentasi kami tidak banyak. Itu pun kebanyakan di depan asisten dosen, paling banyak 3 orang.  


Kalau soal bicara di depan orang banyak, di kampus lah aku belajar melakukannya. Aku samakan saja lah dalam hal ini soal public speaking dan presentasi, karena intinya kita menyampaikan sesuatu di depan sebuah forum. 


Selama setahun dalam masa panjangku di kampus, aku menjadi salah satu pengurus PMK, yaitu seksi Intern. Seksi intern ini hampir setiap Jumat berdiri di depan untuk memberikan pengumuman. Harus kuakui, aku tidak memanfaatkan kesempatan belajar itu dengan baik, tetapi karena tugas itu, aku mulai bisa bicara di depan orang banyak. Ya.. masih grogi lah dikit. Grogi grogi jambu.


Ketika masuk ke dunia kerja, di situlah aku belajar presentasi yang sesungguhnya. Pekerjaan di LSM itu melibatkan banyak sekali stakeholder, sehingga kerap diadakan pertemuan, dan dalam tiap pertemuan, seringnya ada presentasi. Aku ingat sekali presentasi yang kulakukan pertama sekali adalah di depan para guru-guru SD.Ketika itu kami sedang mengerjakan proyek WASH yang didanai oleh UNICEF. Seorang staff UNICEF bernama Fiona mengajarkanku satu teknik presentasi, yaitu menggunakan keycard. 


Ketika kita presentasi, kita harus melihat pada peserta. Melakukan komunikasi dan kontak mata dengan mereka, sehingga kita bisa melihat reaksi mereka terhadap apa yang kita sampaikan. Buatku pantangan besar kalau kita semata-mata membaca apa yang tertulis pada slide. Kalau itu sih namanya bukan presentasi, tapi mari membaca bersama. 


Karena kita tidak melihat ke layar, maka kita membutuhkan keycard. Isinya adalah poin-poin penting yang mau kita sampaikan dari setiap slide. Satu tips, kartu harus dinomori sesuai nomor slide. Just incase kartunya jatuh dan berceceran, kita tetap bisa mengurutkannya sesuai slide.


Isi presentasi, gaya bahasa, dan diksi yang kita gunakan harus disesuaikan dengan peserta. Sekali itu aku sedang berhadapan dengan guru-guru SD. Hal yang paling mereka banggakan adalah murid-muridnya. Seminggu sebelum aku melakukan presentasi di depan guru-gurunya, aku presentasi di depan murid-murid mereka. Maka ketika itu aku menampilkan foto-foto dari hasil presentasi dimana murid-murid kelihatan antusias. Guru-gurunya bangga sekali ketika melihat foto anak muridnya terpampang besar-besar di layar. Untungnya aku punya foto dari setiap sekolah. Kalau nggak, ntar ada yang pundung


Kemampuanku presentasi dan public speaking berkembang selama bekerja di Aceh, seturut dengan banyaknya pertemuan-pertemuan yang kami lakukan. Setelah aku pindah ke Medan, aku hampir tidak pernah melakukan presentasi maupun public speaking. Kalaupun ada, hanya satu atau dua kali. Dan selama masa kerja di Jakarta ini, aku semakin tidak punya kesempatan untuk mengasah keterampilan ini.


Siapa sangka, justru masa pandemi ini yang membuka kesempatan aku untuk kembali berlatih. 


Flyer Acara Pertemuan Online Komunitas Hallyu oleh KCC Indonesia

Ketika itu, seorang teman sekelas di Drakor Class membagikan informasi tentang pertemuan online komunitas Hallyu yang diadakan oleh Korean Cultural Centre di Indonesia (kcc.id). ini adalah kesempatan Drakor Class untuk menunjukkan keberadaan kami, memperkenalkan DC, dan memperluas jaringan ke sesama komunitas Hallyu. Sungguh sayang sekali untuk dilewatkan. Walaupun waktunya sangat singkat, namun kami berhasil mendaftar dan menyelesaikan slide presentasi berisi profil singkat tentang Drakor Class. 


Oh iya, kk Risna membuat catatan tentang acara pertemuan online komunitas Hallyu ini. Ceritanya bisa dibaca di sini ya.


Acara berlangsung hari Sabtu pukul 14.30. Slide presentasi baru selesai pukul 10.30, lalu aku tinggalkan untuk difinalkan oleh teman-teman DC, karena aku harus ke kantor untuk bertemu seorang vendor. Untung tidak berlangsung lama, pukul 12.30 aku sudah ada di rumah lagi. Aku belum bisa juga menyiapkan diri untuk presentasi, karena setiap Sabtu siang adalah jadwal PA keluarga kami. Aku sudah berpesan bahwa aku akan ada acara zoom pukul 14.30, maka pukul 14.15 acara PA kami selesai, dan aku bisa bersiap sebentar untuk acara kcc.id.


Presentasi yang kulakukan di masa pandemi ini berbeda dengan yang biasanya kulakukan, karena dilakukan secara online. Kalau biasanya aku berhadapan langsung dengan peserta, kali ini tidak. Aku hanya melihat ke layar monitor. 


Berbeda dengan webinar atau meeting online, ketika kita melakukan presentasi, maka setiap orang atau peserta -- atau bahkan disetel oleh admin -- akan secara otomatis mematikan mic nya. Maka kita tidak akan mendengarkan suara apapun, kecuali suara kita sendiri. Bayangkan ketika melakukannya sendiri di kamar, di depan monitor. Apalagi ketika itu aku sedang menampilkan slide presentasi kami, jadi aku tidak bisa melihat peserta. Gamang! Aku bahkan sempat agak lost di tengah-tengah presentasi. Aku tahu orang-orang pasti sedang melihat ke slide presentasi, tapi karena faktor kebiasaan, maka aku berbicara sambil melihat ke kamera hahaha Padahal mungkin tidak ada efeknya, aku tidak bisa melakukan kontak mata juga dengan peserta. 


Sebagai evaluasi, ada beberapa hal yang tidak kusampaikan dalam acara tersebut, padahal sudah kusiapkan pada catatanku. Namun kata kak Risna, yang juga ikut dalam pertemuan itu, presentasiku sudah baik, mengingat aku tidak punya waktu untuk bersiap, kecuali sepanjang acara sambil menunggu giliran. 


Aku senang sekali karena kami berhasil memanfaatkan momen pertemuan itu untuk memperkenalkan Drakor Class. Dan kelihatannya usaha kami cukup berhasil, karena MC dari kcc.id memberikan komentar di akhir presentasi kami, bahwa ternyata ada komunitas seperti Drakor Class. Kelihatannya mereka cukup terkesan dengan apa yang kami lakukan. Mudah-mudahan saja hal ini membuka peluang untuk bekerjasama. 


Di akhir acara, presentasi kami dari Drakor Class mendapatkan hadiah sebagai salah satu presentasi terbaik. YAY! Rasanya tidak sia-sia kami tektok-an sepanjang pagi untuk menyusun lima lembar slide tersebut, mulai dari kerangka isi sampai finalisasinya. Selain itu, kami bisa pakai slide tersebut apabila ada acara lain yang sejenis.


Seru juga ternyata pengalaman melakukan presentasi secara online. Semoga saja apabila ada kesempatan lagi, aku sudah bisa mempersiapkan diri dan melakukannya dengan lebih baik. 



Sunday, November 15, 2020

Review Film "The Mirror Has Two Faces" (1996)

Film ini dirilis tahun 1996. Film bergenre komedi romantis, yang dibintangi oleh Barbra Streisand dan Jeff Bridges. Selain menjadi pemeran utama, Barbra Streisand juga menjadi produser dan sutradara dari film ini. Jelas Streisand bukan yang pertama melakukan hal seperti ini. Tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana sebagai pemain, utama pulak, juga harus menjadi sutradara. Dengan kata lain, dia harus mendalami setiap peran, ya gak sih? Hebat euy!

Aku lupa kapan pertama sekali aku menonton film ini. Tapi yang jelas, beberapa hari yang lalu aku baru saja menontonnya untuk ke-387 kalinya. Tentu lebay, tapi itu lah saking seringnya aku menonton film ini. 

Kenapa aku sampai nonton berkali-kali? Padahal endingnya kan udah tahu ya… Mungkin karena aku sejatinya seorang romance junkie hihi Film-film romance, apalagi romance comedy, selalu membuat hatiku bahagia. Meskipun kedua pemeran utamanya tidak selalu berakhir bersama, setidaknya mereka akan menyelesaikannya baik-baik, tidak bermusuhan, tidak ada prahara yang tak berkesudahan. Pokoknya bahagia. Selain itu, memang aku bukan fansnya Barbra Streisand. Namun, secara ada Jeff Bridges dan Pierce Brosnan, well… tentu saja film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, bukan? 


Satu lagi yang bikin suka banget dengan film ini adalah soundtracknya, yang menjadi lagu penutup, yaitu “I Foundly Found Someone” yang dinyanyikan duet oleh Bryan Adams dan Barbra Streisand.


Kembali ke film tadi.



Poster "The Mirror Has Two Faces" (sumber: Amazon)


Film ini mengisahkan tentang Rose Morgan (Barbra Streisand), seorang profesor English Literature di Universitas Columbia. Rose hidup berdua dengan ibunya, Hannah (Lauren Baccal), mantan artis yang cantik namun reseh. Rose mempunyai seorang saudara perempuan, Claire (Mimi Rogers) yang juga cantik.


Hidup dikelilingi orang-orang cantik, Rose selalu merasa dirinya tidak cantik dan tidak istimewa. Pernah suatu kali Rose jatuh cinta dengan seorang pria bernama Alex (Pierce Brosnan). Namun ketika Rose mengenalkan Alex kepada Claire, Alex malah jatuh cinta kepada Claire, lalu mereka menikah. Padahal Rose sebenarnya memiliki banyak kualitas yang istimewa. Rose adalah dosen favorit, kelasnya selalu penuh berisi. Para mahasiswa bahkan rela duduk atau berdiri di tangga, demi ikut mendengarkan kuliahnya. 


Gregory Larkin juga seorang profesor di Universitas Columbia. Ia adalah seorang dosen Matematika yang sangat pintar, namun mendadak bodoh dan lemah hati kalau urusan wanita. Gregory sering sekali dikecewakan dan ditinggalkan oleh wanita-wanita yang hanya menggunakannya untuk kepuasan fisik mereka semata. Gregory sangat ingin memiliki pasangan untuk berbagi hidup. Akhirnya Gregory memasang iklan untuk menemukan pasangan, yang bunyinya kira-kira: “Seorang pria, profesor di Universitas Columbia, mencari seorang wanita yang punya kesamaan minat dan berniat untuk menjalin hubungan. Harus memiliki gelar PhD, dan berusia lebih dari tiga puluh lima tahun. Penampilan fisik TIDAK PENTING!” 


Claire mengirimkan biodata Rose untuk menjawab iklan itu, dan Gregory tertarik. Singkat cerita, mereka bertemu dan menemukan banyak kecocokan. Gregory merasa nyaman karena bisa bicara tentang apa saja, bahkan tentang matematika, dengan Rose. Rose mengajarkannya banyak hal, termasuk bagaimana metoda mengajar yang baik, supaya mahasiswa tidak bosan dan mengantuk di kelas. Gregory merasa Rose lah yang dia cari. Dimana hubungan tidak berdasarkan kebutuhan fisik semata -- bahkan hubungan fisik tidak pernah terjadi di antara mereka-- namun karena kecocokan intelektual. Merasa telah menemukan pasangan yang dia cari-cari selama ini. Gregory pun melamar Rose, dan Rose menerimanya.


Gregory tidak tahu, bahwa sebenarnya Rose membutuhkan hubungan fisik itu. Rose adalah sosok yang mencintai romantisme dengan segala “huru-hara”nya. Gregory terlalu sibuk dengan keyakinannya bahwa hubungan fisik akan merusakkan semua kecocokan yang mereka miliki, seperti yang terjadi pada hubungannya sebelumnya. Gregory sibuk membentengi dirinya dari segala daya tarik fisik dan seksual, yang malah membuat Rose sedih dan patah hati. Padahal, sebenarnya tanpa sadar Gregory telah menunjukkan perhatian tulus kepada Rose. Gregory memperhatikan dan mengingat setiap detil kebiasaan Rose, dan hal itu membuat Rose jatuh cinta padanya. Karena suatu kesalahpahaman, Rose menyerah dari hubungan mereka, lalu pulang ke rumah ibunya. 


Rose merasa perasaan rendah dirinya, merasa diri buruk rupa, timbul akibat apa kata-kata yang dilontarkan ibunya kepadanya sejak dia kecil. Suatu pagi, setelah malamnya Rose kembali ke rumah Hannah akibat suatu kesalahpahaman dengan Gregory, suaminya, Hannah dan Rose akhirnya bicara hati ke hati.  Hannah minta maaf pada Rose, dan berkata, “Tidak ada orang tua yang dengan sengaja menyakiti hati anak-anaknya”. Aawww….. #terharu


Setelah sesi hati ke hati ibu-anak, Rose seperti mendapatkan kepercayaan diri. Rose mulai membenahi dirinya. Rajin berolahraga, makan makanan sehat, dan mempercantik diri. Kebetulan selama tiga bulan itu Gregory mendapatkan kesempatan menjadi dosen tamu di Eropa, sehingga selama itu pula mereka tidak bertemu. 


Selama tiga bulan itu, Gregory terus memikirkan Rose. Sayangnya Rose tidak mau menjawab satupun telepon atau pesan dari Gregory. Gregory tidak tahan dan akhirnya pulang lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Ketika menemukan Rose yang ‘baru’, Gregory merasa shock, dan merasa ‘tertipu’. Namun Rose membalikkan kata-katanya, “Kalau penampilan fisik tidak penting, jadi apa bedanya kalau aku menjadi cantik?”


Ditinggalkan oleh Rose, awalnya Gregory santai saja. Bahkan dia merasa ini kisah bersama Rose yang kemudian berakhir ini bisa dijadikan bahan studi untuk buku terbarunya. Namun, itu tak bertahan lama. Gregory jadi uring-uringan dan emosional. Untuk pertama kalinya, Gregory menyadari dan mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Rose.


sumber: Pinterest/Mematic.net


Lalu bagaimana akhir dari kisah ini? Apakah Rose bersedia menerima Gregory kembali? Mungkin kita sudah bisa menebak ya, karena seperti kusampaikan di awal tadi, romcom sejatinya berakhir bahagia. 


Ketika menuliskan ini, aku jadi kepikiran. Kenapa judulnya “Mirror Has Two Faces” ya? Hmm.. mungkin harus nonton lagi untuk ke-388 kalinya.


Buat kamu yang suka kisah-kisah cinta berhujankan rindu bernafaskan asmara, capcuss langsung ke Netflix. Mumpung filmnya masih tayang.

Friday, November 13, 2020

Cerita dari IG Live Drakor Class ke-2

Holla!

Hari ini adalah hari Jumat yang panjang, hari yang diisi dengan (sok) banyak kesibukan. Padahal sebetulnya biasa-biasanya, cuman emang akunya yang apa-apa selalu banyak persiapan yang antahapaja. Anehnya, sudah begitu, aku punya kebiasaan bersiap di detik-detik terakhir atau mepet dengan waktu. Masih penganut “the power of deadline” hehe

Event yang paling besar dan paling istimewa hari ini adalah acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul”nya Drakor Class. Kali ini aku kembali menjadi host, dan yang jadi classmate alias narasumber adalah Rani dan Litha. Tema kali ini adalah “Drakor dan Penulis Buku Antologi”, dan baik Rani maupun Litha telah menjadi kontributor pada beberapa antologi. Beberapa??? Oh maaf… itu namanya underestimate, apalagi buat aku yang menulis saja masih sulit. Rani sudah punya enam antologi, dan Litha empat belas. Itu yang sudah diterbitkan lho ya… belum lagi yang masih proses terbit. 


Poster Acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" (sumber: www.drakorclass.com)

Seperti biasa, kami melakukan rehearsal sehari sebelum acara. Hari Kamis siang, kami bertiga bersama dua orang ‘penasihat’, yaitu kak Risna dan Lendy, melakukan latihan untuk acara tersebut melalui WA Video Call. Sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang kurang lebih seputaran tema: sejak kapan menulis, sejak kapan nonton drakor, apa efek drakor bagi seorang penulis, dan saran bagi para pemirsa. 

Ketika rehearsal, kami banyak mendapatkan kritik dan saran dari para penasihat (gomawo uri beloved classmates). Tadinya aku lebih fokus pada proses pembuatan antologi itu sendiri, namun setelah mendapatkan masukan, akhirnya proses itu tetap dibahas, namun porsinya diperkecil. Kita lebih banyak cerita tentang ide penulisan, tentang antologi yang sudah diterbitkan, dan proses penulisannya. Dan akhirnya latihan pun selesailah dengan bahagia dan kelelahan (buatku). Kaya’nya waktu itu aku belum makan, atau sarapannya telat sehingga tadinya belum lapar, namun seiring waktu jadinya kelaparan hihihi

Terus terang setelah rehearsal, aku agak galau membayangkan bagaimana nanti jalannya acara, karena kedua classmateku ini punya karakter yang berbeda. Rani lebih pendiam, sehingga aku harus lebih aktif bertanya dan mengarahkan pembicaraan. Litha lebih talkative, sehingga aku… harus mengerem diriku supaya tidak terjerumus lalu mengubah tema acara menjadi bucin united hahahaha

Namun ternyata, pada hari H, kegalauanku tak beralasan. Mungkin karena kami sudah rehearsal, ketika kami ON AIR, Rani menjadi lebih santai dan cair. Aku tidak repot-repot mengarahkan apapun, kami bisa mengobrol dengan enak seputaran penulisan antologi. Bahkan kalau kuingat-ingat, ada beberapa hal yang kami bahas ketika rehearsal, tapi tidak disinggung pada pelaksanaan; demikian pula sebaliknya, ada hal-hal baru yang baru disebutkan ketika acara berjalan. Dan thanks to teman-teman DC, mereka aktif sekali memberikan pertanyaan, sehingga host pelupa ini tidak kehabisan bahan hahaha Gomawo, gaeess…. #kecup_atu-atu

Ketika sesi ngobrol dengan Rani selesai, aku melirik waktu sudah pukul satu siang lewat beberapa menit. Hmm… kalau dengan Rani saja waktu setengah jam bisa berlalu begitu cepat, apa kabar nih dengan Litha? Padahal harus ada bagian penutup pula lagi, belum lagi kesan dan pesan. 

Ternyata semesta berbicara. Ketika baru terhubung beberapa menit dengan Rani… eh Litha (waktu latihan kebolak balik sejuta kali, untung waktu ON AIR cuman satu kali kejadian hihihi), tiba-tiba koneksi internetku “batuk”. Toeengg… offline! Aku buru-buru mengecek WiFi, dan syukurlah lampu indikatornya biru, bukan merah. Berarti tadi ada si komo lewat. Ternyata ‘sengsara’ membawa nikmat. Karena gangguan teknis beberapa menit itu, waktu ‘manggung’ jadi reset lagi menjadi maksimum 1 jam. YAY!

Tentu saja sesi kedua itu tidak sampai 1 jam. Namun, kami jadi lebih leluasa untuk mengobrol, dan menyampaikan pesan, tips dan saran, serta menyampaikan bagian penutup. Leluasa dalam arti aku terhindarkan dari ancaman berkeringat jagung sambil menatap nanar pada stopwatch dan hitungan mundur di layar IG Live hiahahahaa

Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung dapat kesempatan menjadi host dalam acara ini. Banyak sekali hal yang kudapatkan, selain pengalaman menjadi host tentunya. Aku belajar banyak hal dari Rani dan Litha. Aku belajar dari bagaimana mereka sangat mencintai dunia menulis, dan ketika kita menyukai dan mencintai sesuatu, kita pasti akan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu itu. Bukan masalah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukannya, tetapi kualitas ketika kita melakukannya, yang akan menjadi sumber penyemangat, mood booster, yang luar biasa. 

Masih banyak hal lain yang aku pelajari dari kedua classmateku nan jagoan ini. Lengkapnya akan aku tuliskan di blog Drakor Class ya. Namun hal yang terpenting yang kupelajari adalah “lakukan saja”. Tidak perlu terlalu jauh berpikir; apakah orang suka membacanya, apakah nanti begini atau begitu. Tetap saja konsisten menulis, dan yang terpenting harus diniatkan. Karena menulis sesungguh-sungguhnya adalah apresiasi bagi diri sendiri.

Update: Tulisan tentang acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" episode "Drakor dan Penulis Buku Antologi" ini bisa dibaca blog Drakor Class: IG Live Drakor Class Eps. 2


Tuesday, November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Wednesday, November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me