Thursday, August 27, 2020

Rekaman Sendirian

 “...dan Dwi, kamu yang lead untuk bagian Alto ya… nanti kirim rekamannya, yang lain tinggal ikuti saja”


Aku yang sedari tadi hanya "passive mode ON” mendengarkan para anggota senior berpendapat dan berdebat sambil browsing Instagram, seketika tersadar dan kembali menjejak ke bumi. Ketika itu Immanuel Choir, paduan suara yang aku ikuti, sedang mengadakan sesi zoom untuk membahas rencana kami membuat sebuah bentuk sederhana “virtual choir”. Rencana ini muncul dari kerinduan setiap anggota untuk melayani melalui lagu pujian paduan suara. Semenjak akhir Maret, yaitu ketika ibadah tidak lagi diadakan di gedung-gedung gereja, otomatis kegiatan dan pelayan paduan suara gerejawi pun terhenti. 


“Virtual Choir” adalah penggabungan dan sinkronisasi dari beberapa rekaman orang per orang yang bernyanyi, yang didasarkan pada sebuah partitur yang sama, sehingga menjadi sebuah paduan suara. Sederhananya, setiap anggota paduan suara membuat rekaman masing-masing menyanyikan bagian mereka (Sopran - Alto - Tenor - Bass), lalu rekaman ini digabungkan. 


Tantangan membuat virtual choir ini ada banyak. Pertama, anggota paduan suara tidak terbiasa bernyanyi sendirian. There’s a reason why only a few of us become soloists. Kedua, paduan suara (seharusnya) sangat tergantung pada seorang conductor atau pemimpin paduan suara. Dia lah yang memegang kemudi, menentukan apakah kita “berjalan” dengan cepat atau lambat, dengan lembut atau keras, dengan berapi-api atau menghiba. Jadi tidak mudah ketika kita harus bernyanyi tanpa komando dan hanya mengandalkan iringan musik. 


Ketiga, masalah teknis. Idealnya kita membutuhkan dua gadget dan satu headset. Gadget pertama untuk memainkan musik, yang kita dengarkan dengan headset, dan gadget kedua untuk merekam kita bernyanyi. Belum lagi setiap gadget punya kualitas rekaman yang berbeda-beda. Belum lagi demam panggung (walau sebenarnya tanpa panggung dan penonton), grogi, dan sebagainya. Belum lagi, setiap kali salah, kita harus mengulang rekaman mulai dari awal. Dan itu membuat aku baru ingat harus mengosongkan sebagian besar memori handphone-ku. 


Aku pun mulai mempelajari lagu “Panis Angelicus” yang akan kami bawakan. Ketika di Medan, aku sudah pernah membawakan lagu ini bersama Paduan Suara di gerejaku. Ketika itu kami menyanyikannya dalam ibadah Paskah dan dalam bahasa Latin. Butuh latihan beberapa minggu untuk menghafal liriknya. Kalau tidak dihafal, atau setidaknya mampu mengucapkannya dengan benar, maka kita tidak akan bisa konsentrasi pada komando dari conductor karena sibuk memelototi partitur untuk membaca liriknya. 


Kali ini, Immanuel Choir akan membawakannya dalam bahasa Batak. Buatku, membawakan lagu paduan suara dalam bahasa Batak itu hampir sama tingkat kesulitannya dengan bahasa Latin. Bahasa Batak memiliki pengucapan yang khas, tidak selalu sama dengan penulisannya. Selain harus kembali belajar mengucapkan dan menghafalkan liriknya, aku juga masih harus belajar aransemen, yang sedikit berbeda dengan yang pernah aku nyanyikan. 


Aku mengenal betul kelemahanku bernyanyi. Selain nafas pendek dan pengucapan R yang tidak sempurna, kadang-kadang aku tidak tepat menyanyikan not tertentu. Misalnya, ‘la’ dibunyikan ‘so’, dan ‘do’ dibunyikan ‘di’. Karena itu, aku meminta bantuan seorang teman di Medan. Namanya Aprilia, biasa kami panggil Lia. Lia adalah pianis paduan suara kami di Medan. Aku mengirimkan partitur ke Lia, dan minta tolong Lia untuk memainkan notasi untuk suara Alto, sehingga aku bisa memastikan nada ku sudah tepat. 


Satu hal lagi yang kulakukan untuk menolong aku menyanyikan lagu ini adalah dengan mencari sejarah dan makna lagu “Panis Angelicus” ini. Pengertian akan sebuah lagu akan sangat membantu kita untuk menghayatinya, sehingga kita dapat menyuarakan pesan yang diinginkan oleh pembuat lagu tersebut. Dengan penghayatan yang tepat, orang yang mendengarkannya akan dapat merasakan makna lagu tersebut, meskipun tidak mengerti arti liriknya.    


Setelah mengumpulkan segenap bahan dan beberapa hari latihan, aku mulai merekam suaraku untuk bagian Alto. Cepat atau lambat toh harus direkam, jadi mari kita coba dulu lakukan satu kali. Lalu dua kali.


Ketika mendengarkan hasilnya…. well… let me just say.... that… apparently... listening to all those marvelous soloists and choir singing Panis Angelicus, over and over and over again, wouldn’t make you a better singer. Been there, am doing that!


No comments: