February 10, 2026

Freelancing Untuk Pemula: Ketika Hidup Memaksaku Memilih

Freelancing untuk pemula


Kisah ini berawal dari kontrak kerjaku yang berakhir. Agak paradoks memang, dari satu pintu yang tertutup, ternyata membuka banyak pintu lain yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan. Pintu yang membuat aku mulai mencari dan belajar tentang dunia freelancing untuk pemula.  

Aku masih ingat betul masa-masa awal menjadi ibu rumah tangga saja. Dua minggu pertama santai banget, happy rasanya gak perlu packing dan traveling. Aku punya waktu sangat luang untuk membereskan rumah yang selama ini dibiarkan "apa adanya". Yang paling aku syukuri, aku dan MasBodjo gak lagi jauh-jauhan; kami bisa habiskan lebih waktu bersama tanpa harus terpisah kota. 

Namun setelah sebulan berlalu, kegelisahan mulai muncul. Makin sering mencet kalkulator, padahal hasilnya ya sama dengan pencetan kemarin hahaha. Makin sering kirim lamaran pekerjaan, tapi belum ada yang nyangkut. Yang pasti, mulai setengah hati kalau lihat lowongan pekerjaan yang bikin beda domisili sama suami. 

April 2025 aku menerima email bahwa aku lulus kualifikasi sebagai Bilingual Indonesian Team untuk Data Annotation Tech. Waktu itu aku cuman mikir, yang penting ada yang dikerjakan dan aku bisa tetap di Yogya. That simple! Ternyata email itu menandai milestone di mana aku memulai karier freelance dari nol. 

Perjalanan ini mengajarkan aku bahwa freelance dan kerja remote bukan hanya soal belajar hal baru. Switching carrier di usia 40an bukan hal yang mudah. Aku belajar lebih mengenal diri sendiri. Aku juga belajar beradaptasi, mengelola ekspektasi, dan membangun rasa percaya diri.   

Pengalaman hidupku mengajarkan kalau setiap orang punya garis start dan track yang berbeda, maka oleh dari sebab itu, ojo dibanding-bandingke! Namun ada saja masa di mana aku merasa sangat tertinggal, apalagi kalau lihat update medsos. 

Lewat blog ini, aku ingin berbagi cerita, pelajaran, dan pengalaman, yang semoga bisa menemani siapa pun yang juga sedang berada di fase awal merintis karier freelance dan remote work.

Apa Itu Freelancing & Kenapa Cocok untuk Pemula?

Freelancing adalah model kerja di mana pekerjaan itu dilakukan secara mandiri dan tidak terikat secara penuh waktu pada satu perusahaan tertentu. Pelakunya disebut freelancer atau pekerja lepas. 

Freelancing cocok untuk orang yang membutuhkan atau mengutamakan fleksibilitas jam kerja dan tidak terikat pada jam kantor konvensional. Fleksibilitas inilah yang menjadikan freelancing populer di kalangan fresh graduate, pelajar, mahasiswa, bahkan generasi freshcare seperti aku. 

Menariknya lagi, konsep kerja remote untuk pemula ini bisa dimulai dengan modal minim: skill, laptop, dan koneksi internet. Sambil jalan, kita bisa membangun portfolio dan memilih bidang dan proyek yang benar-benar kita suka dan kuasai. 

Menurutku model kerja seperti ini juga sangat cocok untuk orang yang mempertimbangkan pindah jalur karier. Kita bisa test drive dulu sebelum menemukan bidang baru yang benar-benar cocok. Kalau masih bekerja, kamu bisa pakai waktu setelah jam kerja untuk ikut kursus dan mengasah skillmu atau mengerjakan proyek dari klien. 

Satu lagi yang paling seru: freelancing tidak punya plafon gaji. Semakin skill kita terasah, semakin banyak proyek dan klien yang ditangani, maka portfolio pun akan semakin solid. Peluang untuk mendapatkan klien premium dengan bayaran lebih tinggi pun terbuka lebar. 

Tantangan Freelancing Untuk Pemula

Walaupun fleksibilitas kerja freelance terdengar begitu menggiurkan, namun aslinya ada banyak sekali tantangan yang kuhadapi ketika mau memulai freelancing. "Pokoknya, mulai aja dulu!" Yeah, memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun sejujurnya ya netizen yang terhormat, memang itulah yang aku lakukan: memaksa diri untuk memulai. 

Pastinya ada rasa ragu, takut (dan sedih) karena merasa belum punya skill yang menjual, merasa sudah kalah jauh dan bingung gimana cara mengejar ketertinggalan. Well, di situlah letak permasalahannya. Karena hidup bukan pertandingan, tapi sebuah perjalanan, maka berhentilah membandingkan dirimu dengan para penghuni LinkedIn dan Instagram!

Lalu bagaimana cara mengatasi kendala freelance pemula ini? Jawabannya sederhana: mulai saja dengan apa yang kamu bisa. Tidak perlu menunggu sampai jadi ahli tingkat dewa untuk mengambil langkah pertama. Beranikan diri melamar pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang kamu miliki.



Mulai aja dulu
Mulai Aja Dulu, Masukkan Lamaranmu Sekarang!


Rajin-rajin cek lowongan di berbagai job portal, dan LAMAR! Yang sejaman denganku mungkin pernah mengalami masa-masa memfotokopi ijazah dan transkrip, legalisir, ngeprint surat lamaran, beli amplop gede, dan kirim lamaran lewat kantor pos. Itu aja kita jabanin, apalagi ini, yang mana melamar pekerjaan hanyalah sejauh klik. 

Memang kondisi setiap kita berbeda-beda, tapi membebani diri dengan ekspektasi besar tidak pernah jadi solusi. Prinsipku: cari, seleksi, lamar, lupakan! Eh.. ini soal melamar kerjaan lho yaaa, bukan yang lain. 

Intinya, coba-coba adalah koentji! Lama-lama kita akan terbiasa mencoba. Kita akan semakin mengerti apa yang dibutuhkan dan how this freelancing world operates

Kenapa Virtual Assistant dan Kenapa SEO?

Selama bekerja sebagai profesional, aku sudah pernah mencicipi berbagai bidang bisnis; mulai dari sektor humanitarian (non-profit), sektor swasta, sampai jadi konsultan di dinas pemerintahan. Meskipun berpindah-pindah sektor, namun ada satu benang merah yang selalu ada, yaitu administrasi. 

Aku terbiasa menyusun jadwal pekerjaan, membuat presentasi, menyiapkan dokumen, hingga menyusun laporan. Aku juga punya kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik. Berbekal dua kemampuan itu, aku pun membidik satu bidang: Virtual Assistant.  

Apa itu Virtual Assistant?

Virtual Assistant (VA) adalah seorang profesional yang menyediakan jasa untuk mendukung suatu bisnis dari jarak jauh atau secara remote. Biasanya, seorang VA itu paling sering pegang urusan administratif. Tapi sebenarnya bidang kerja VA itu ada banyak sekali, tergantung apa yang jadi kebutuhan klien dalam menjalankan bisnisnya.  

Aku mulai melamar berbagai lowongan untuk Virtual Assistant (VA). Dari proses itulah aku menyadari bahwa meskipun esensi pekerjaannya sama, namun cara kerja dan 'kemasan' dunia remote work ini ternyata cukup berbeda.  

Mulailah aku mencari kelas-kelas online. Tentu saja, cari yang gratis dulu, namanya juga professional job seeker hahaha. Dari beberapa kelas online dan webinar yang aku ikuti, aku paling cocok dengan kelas Indri Ariadna. Sistemnya self-paced tanpa jadwal kursus yang mengikat, dan mentor-mentornya-- shout out buat Mbak Indri dan Mbak Gita!-- selalu hands-on membimbing para peserta. Dari sinilah aku belajar skill baru, dan bagaimana mengemas dan menggunakan skill lamaku di dunia freelancing.

Di salah satu kelas VA yang aku ikuti, peserta diminta mengerjakan tiga studi kasus dari bidang yang berbeda: content creation, support services & administration excellence, dan SEO strategy. Setelah mengerjakan ketiga studi kasus itu, aku menemukan bahwa aku lebih berminat dengan hal teknis seperti SEO daripada menyusun jadwal meeting dan traveling klien. 

Kenapa SEO dan Kenapa SEO VA?

Dari sekian banyak hal berbau teknis, kenapa SEO (Search Engine Optimization) yang aku jajaki? Karena kita berada di era digital, di mana semua bisnis ingin 'nampil' di Google, dan SEO adalah koentji! So, selama internet dan Google masih ada, jasa dan keahlian ini akan terus dibutuhkan. 

Nah, sebagai pemula, posisi SEO VA merupakan pintu masuk yang paling pas. Namanya juga pemula, gak mungkin dong ujug-ujug kita jadi ahli strategi kata kunci. Untuk menjadi SEO VA, kita harus belajar dan menguasai hal-hal teknis yang mendasar, seperti riset kata kunci atau mengaudit konten. Esensinya sih mirip-mirip tugas admin. Buat yang suka keteraturan dan mengurusi detail printilan, maka SEO VA adalah cara terbaik buat belajar industri digital sambil menghasilkan cuan!

Langkah Nyata Merubah Ragu Menjadi Maju!


Langkah Praktis Untuk Menjadi Freelancer


1. Pilih Skill Utama

Ragu? Bingung? I know those feelings pretty well! Tapi ya gak bisa lama-lama, karena gaya hidup butuh biaya hahaha 

Pilih satu skill utama yang mau kamu jajaki. Gak perlu pakai pusing. Cara paling mudah, buat list semua hal yang pernah kamu lakukan, baik pekerjaan maupun dalam organisasi atau komunitas yang kamu ikuti. Temukan benang merahnya. 

Kamu suka menulis? Kamu bisa eksplor dunia content writing. Kamu suka kepo dan meluruskan urusan orang? Kamu bisa eksplor dunia personal assistant. Kamu suka riset, ulik data dan angka? Yuk, bareng aku, kita eksplor dunia SEO. 

Intinya, kamu harus memilih satu titik awal sebagai pijakan pertama. Saranku, pilih yang hambatannya paling ringan: pilih bidang yang memang kamu sukai dan sudah kamu kuasai basic skill-nya. Dengan begitu, energi tidak habis terkuras untuk kenalan dengan hal yang sama sekali baru, dan bisa fokus ke pendalaman materi. 

Jangan terlalu lama merenungkan: gimana kalau ternyata aku salah bidang? Ya gak apa-apa, pindah jalur saja! Waktu kita nggak akan terbuang sia-sia kok, karena kita sebenarnya sedang mengasah dan menajamkan kemampuan. Kita jadi lebih mengenal diri kita dan tahu apa yang benar-benar kita mau. Jadi, nikmati saja prosesnya. 

2. Ambil Langkah Terstruktur, Bukan Serabutan

Setelah memilih, langkah selanjutnya adalah mulai belajar freelance dari nol secara terstruktur. Pilih media belajar yang paling nyaman buatmu: bisa lewat kursus online (seperti yang sedang aku jalani sekarang),  nonton tutorial di YouTube, atau yang paling manjur: praktik langsung. Meskipun kita mulai dari nol, bukan berarti kita berjalan tanpa arah. 

Lalu, bagaimana cara memilih tempat kursus yang tepat? Kalau cara aku: ikuti dulu kelas-kelas gratis atau ekonomis. Dari situ kita bisa tes ombak, metode mengajar dan media belajar mana yang paling cocok buat kita. Profil mentor memang penting, tapi lebih penting lagi kamu nyambung atau nggak sama metodenya, dan apakah kamu nyaman dengan komunitasnya. 

Sekali lagi, jangan takut salah pilih, tapi jangan asal memilih! Semakin cepat kita memulai prosesnya, semakin cepat pula kita tahu bidang dan kelas mana yang benar-benar "klik" buat kita. 

3. Bangun Portfolio 

Ini adalah hal yang baru buatku. Dulu, aku cuman butuh CV untuk melamar pekerjaan. Namun di dunia freelancing dan remote work, portfolio memegang peranan yang krusial.

Apa bedanya CV dan portfolio? CV atau Curriculum Vitae berisi informasi tentang latar belakang: pendidikan, pengalaman, dan skill. Sementara, portfolio adalah bukti nyata hasil pekerjaan kita. Lewat portfolio, calon klien jadi bisa tahu gimana kita mengaplikasikan ilmu dan skill yang kita jembreng di CV tadi.  

Tantangan selanjutnya: gimana caranya punya portfolio sementara kita belum punya jam terbang? Jawabannya adalah dengan membangun portfolio freelance pemula. Kamu nggak harus nunggu dapat klien besar dulu buat punya portfolio. Ada banyak "jalan ninja" yang bisa kamu tempuh: 
  • Blog pribadi: Tulisanmu di blog bisa jadi bukti skill menulis atau SEO-mu. Belum punya blog? Ya bikin! Educate yourself, deh ah!
  • Dummy project: Buat proyek simulasi. Ada banyak website yang bisa bantu kamu, seperti Goodbrief.io atau Fakeclients.com. Atau kamu bisa juga minta bantuan chatGPT untuk membuatkan brief dummy project. Teknologi dimanfaatkan dong, jangan cuman diajak curhat (eeaaa...). 
  • Volunteer & Internship: Rajin-rajinlah browsing media sosial seperti LinkedIn atau Facebook Group untuk memantau aktivitas komunitas freelancing dan remote work. Peluang magang sering muncul di situ. Mungkin secara materi belum seberapa, namun kamu bisa dapat testimoni dan bukti kerja nyata sebagai modal awal membangun portfolio.  

4. Mulai Cari Klien

Ilmu sudah punya. Portfolio sudah mantap. Sekarang saatnya kita jemput bola!

Cara mencari klien buat freelance pemula yang paling umum adalah dengan mendaftar di platform freelance, seperti Upwork dan Fiverr. Di situ ada banyak sekali lowongan pekerjaan freelance dari berbagai bidang dan level kemampuan. 

Maksimalkan media sosial. Aktiflah di komunitas online atau LinkedIn. Kadang klien datangnya bukan dari kolom vacancy, tapi dari obrolan santai atau referensi teman. 

Mulailah bangun branding supaya orang tahu kamu lagi fokus di mana. Update profil LinkedIn, sesekali share hasil belajarmu atau tips yang kamu rasa bermanfaat. Intinya, buat orang lain ngerti: "Oh, si Dwi lagi belajar jadi SEO VA, tah."

Realita Freelancing: Tidak Seindah Reels Instagram

Beberapa kali aku melihat reels di Instagram dengan caption: "POV: Kerja 2 jam di pinggir pantai, dapet gaji kantoran sebulan!" atau "Sambil rebahan, kamu bisa dapat cuan!". Dengar ya kisanak, itu halu!

Realita freelance tidak se-magic konten yang cuma 7 detik itu. Aku merasakan sendiri kalau pengalaman freelancing pemula itu isinya bukan cuma santai-santai, pesona kerja di cafe sambil nongki atau sambil mantai di Bali. 


Work From Anywhere
Work From Anywhere!


Freelancing juga soal: 
  • Disiplin mengatur waktu, karena nggak ada bos yang mengawasi.
  • Pusing menghadapi deadline, yang tetap mengejar walau kamu sedang mantai di Bali!
  • Skill negosiasi, kamu harus belajar bagaimana caranya agar klien menghargai kemampuanmu.
  • Multitasking, apalagi buat ibu rumah tangga, harus pintar membagi waktu antara keluarga dan kerja. 

Jadi, jangan terkecoh dengan jargon "rebahan dapat cuan" tadi. Freelance itu tetap kerja nyata, bukan sulap bukan sihir. Butuh strategi yang matang, niat belajar yang tinggi, dan mental yang kuat menjalani prosesnya. Namun perjalan ini sangat bisa dinikmati kalau kita tahu langkah-langkah benarnya. 

Freelancing Untuk Pemula Itu Marathon, Bukan Sprint

Kita sudah bahas banyak hal. Mulai dari tantangan freelancing, langkah praktis untuk memulai, belajar secara terstruktur, sampai trik "jalan ninja" untuk membangun portfolio dan mencari klien. Memang membangun karier di dunia freelance dan remote work itu adalah sebuah marathon, bukan sprint. Ini bukan tentang kecepatan, namun tentang konsistensi dan daya tahan. 

Perjalannya pasti tidak selalu mulus, dan wajar saja kalau sesekali kita merasa ragu dan khawatir. That is okay; khawatir itu artinya kita peduli. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini adalah sebuah progress dan proses yang nyata. 

Perjalananku sendiri pun masih sangat panjang. Aku masih harus terus belajar untuk melatih dan menajamkan kemampuanku di dunia SEO Virtual Assistant. 

Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat atau merasa sedang di fase perjuangan yang sama, yuk terus ikuti tulisanku selanjutnya. Aku akan berbagi lebih banyak soal pengalaman, jatuh bangun, hingga tips seputar karier SEO VA yang sedang kutekuni ini. Mari kita tumbuh bersama!

Read more…

April 30, 2025

Dewpré Night Purple Cream, Krim Malam Ungu yang Bikin Unyu

Wanita sering disebut makhluk paling rempes, riweuh, dan ribet. Jujur saja, di usia 40-an ini aku mulai mengamini anggapan itu. Tubuh perlahan berubah, fokus dan daya ingat mulai melemah, dan persendian mulai sering protes.

Yang paling terasa, tentu saja perubahan di kulit wajah. Ada masa ketika aku betah berlama-lama di depan cermin. Sekarang? Kadang justru malas menatap terlalu lama. Garis halus seperti muncul diam-diam, tekstur kulit terasa berbeda, dan wajah yang dulu terasa “baik-baik saja” kini mulai minta perhatian lebih.

Dari titik itu aku mulai mempertimbangkan menambahkan satu langkah penting: krim malam untuk usia 40-an yang mampu bekerja selaras dengan perubahan kulit dewasa.

Harus ku akui, aku bukan tipe yang rajin melakukan ritual skincare berlapis-lapis. Kulitku cenderung bandel dan tidak terlalu sensitif, jadi selama bertahun-tahun aku merasa cukup dengan perawatan dasar. Membersihkan wajah dan memakai pelembab sudah terasa aman. Sampai akhirnya, usia mulai memberi sinyal halus tapi konsisten.

Bukan karena ingin melawan usia, tapi karena ingin tetap merasa nyaman dengan diri sendiri. Ketika itu aku sadar, kulit juga perlu diperlakukan dengan cara yang berbeda—lebih penuh perhatian, lebih sadar kebutuhan. Bukan berlebihan, tapi cukup.

Manfaat Krim Malam Untuk Kulit Dewasa

Saat kita tidur, kulit sebenarnya sedang bekerja keras. Proses regenerasi sel berlangsung lebih aktif, produksi kolagen meningkat, dan kulit berada dalam kondisi paling reseptif. Inilah alasan mengapa perawatan malam memegang peran penting.

Krim malam dirancang untuk mendukung proses alami tersebut. Kandungannya umumnya lebih fokus pada hidrasi, perbaikan skin barrier, dan perawatan tanda-tanda penuaan. Bukan hasil instan, tapi efeknya terasa perlahan dan konsisten.

Di usia matang, kulit cenderung kehilangan kelembaban lebih cepat. Tanpa perawatan malam yang tepat, kulit bisa terasa kering, kusam, dan kurang elastis saat bangun pagi. Krim malam membantu menjaga kondisi kulit agar tetap nyaman dan seimbang.

Buatku pribadi, memakai krim malam juga menjadi penanda bahwa hari sudah selesai. Ada rasa menutup hari dengan merawat diri, meski sederhana. Ritual kecil yang ternyata punya dampak besar.

Bertemu Dengan Dewpré Night Purple Cream


Dewpre Night Purple Creme


Ketika memutuskan mencari krim malam, aku tidak ingin yang terlalu ribet. Tekstur berat dan aroma menyengat bukan pilihanku. Aku ingin produk yang terasa nyaman, masuk akal, dan bisa dipakai jangka panjang.

Di tengah pencarian itu, aku menemukan Dewpré Night Purple Cream. Jujur, warna ungunya langsung menarik perhatian. Tapi tentu saja, kemasan cantik saja tidak cukup.

Dewpré adalah brand lokal Indonesia yang menggabungkan teknologi Korea dengan pemahaman terhadap kulit dan cuaca Indonesia. Tagline mereka, “Best ingredients with Korea beauty knowledge for Indonesian skin and weather”, terasa relevan dengan kebutuhanku.

Night Purple Cream sendiri merupakan produk yang diproduksi langsung di Korea Selatan. Meski begitu, Dewpré memastikan produknya telah memenuhi standar Indonesia, termasuk BPOM, sertifikasi halal, dan uji dermatologi

Ini penting banget, karena krim malam yang aman BPOM memberi rasa tenang karena formulasi dan prosesnya telah melalui pengawasan resmi, terutama untuk pemakaian rutin jangka panjang. Dewpré Night Purple Cream juga telah mengantongi sertifikasi halal. Pastinya krim malam halal memberi rasa aman tambahan, bukan hanya untuk kulit, tapi juga ketenangan hati.


Kandungan yang Bekerja Saat Kita Tidur


Kandungan Dewpre Night Purple Cream

Dewpré Night Purple Cream dibekali kombinasi bahan aktif yang cukup lengkap. Salah satu andalannya adalah 6x Ceramide dan Kolagen yang membantu menjaga elastisitas dan kelembutan kulit. Di kulit dewasa, fungsi ini terasa sangat krusial.

Kandungan 4x Probiotik membantu menjaga keseimbangan kulit dari dalam. Kulit yang seimbang biasanya lebih tahan terhadap stres dan perubahan lingkungan. Ini terasa penting untuk kulit yang mulai lebih sensitif terhadap kelelahan.

Terdapat juga 3x Hyaluronic Acid dan Trehalose. Kombinasi ini bekerja menjaga hidrasi kulit sepanjang malam. Kulit terasa lebih lembap tanpa sensasi lengket yang mengganggu.

Niacinamide dan Arbutin membantu memperkuat skin barrier serta meratakan warna kulit. Sementara itu, Bakuchiol berperan sebagai alternatif lembut untuk membantu mengurangi tanda penuaan. Ditambah rose flower water yang memberikan efek menenangkan, baik untuk kulit maupun pikiran sebelum tidur.

Skincare Sebagai Bentuk Berdamai

Aku mulai melihat skincare dari sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi soal tampil sempurna atau mengejar kulit tanpa cela. Skincare, khususnya krim malam, menjadi cara berdamai dengan perubahan.

Aku tidak berharap bangun tidur lalu terlihat sepuluh tahun lebih muda. Yang aku cari adalah kulit yang terasa nyaman, tidak ketarik, dan tidak terlihat lelah. Dewpré Night Purple Cream masuk ke kategori itu.

Teksturnya cukup rich tapi cepat menyerap. Dipakai sebelum tidur, tidak membuat wajah terasa “tertutup” atau berat. Buatku, ini penting karena kualitas tidur jauh lebih berharga daripada sekadar hasil visual.

Ada kepuasan kecil ketika bangun pagi dan kulit terasa lembab serta segar. Bukan dramatis, tapi konsisten. Dan di usia ini, konsistensi jauh lebih penting daripada janji instan.

Perubahan Kecil yang Terasa Nyata

Aku mencoba menggunakan Dewpré Night Purple Cream secara rutin selama kurang lebih tiga minggu. Rutinitasku cukup sederhana: double cleansing, toner, pelembab, lalu krim malam. Tidak ada tambahan step berlebihan.

Di minggu pertama, perubahan paling terasa adalah tingkat kelembaban kulit. Wajah terasa lebih nyaman saat bangun pagi, tanpa rasa kering di area pipi dan sekitar mulut. Ini hal kecil, tapi signifikan.

Memasuki minggu kedua, tekstur kulit terasa lebih halus saat disentuh. Makeup tipis di pagi hari juga lebih menempel dengan baik. Garis halus memang tidak menghilang, tapi tampak lebih samar.

Di minggu ketiga, aku menyadari kulit terlihat lebih segar meski jam tidur sedang kurang ideal. Well, in this economy, deadline telah menjadi santapan sehari-hari. But surprisingly, kulitku tetap terasa oke saat bangun pagi. 

Ini bukan efek ajaib. Nggak lebay, nggak instan—tapi cukup konsisten, bikin aku percaya kalau krim malam ini memang kerja. Perawatan simpel yang masuk akal buat kehidupan sehari-hari.

Cara Menggunakan Krim Malam yang Benar dan Optimal

Banyak orang mengira krim malam cukup dioles lalu selesai. Padahal, cara menggunakan krim malam yang benar sangat berpengaruh pada hasil yang dirasakan kulit.

Langkah pertama tentu saja membersihkan wajah secara menyeluruh. Double cleansing menjadi kunci agar kulit benar-benar siap menerima nutrisi. Ini tahap yang tidak sebaiknya dilewatkan. Untuk memastikan kulitku bersih dan terawat dengan baik, aku menggunakan Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam yang memiliki pH 5.5, sesuai dengan kulit kita. 

Wajah sudah bersih, nih. Gak lupa aku pakai  Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad yang berfungsi sebagai toner. 15 menit sudah cukup untuk memastikan kulitku tenang dan gak ngamuk setelah seharian beraktivitas. 

Supaya makin lengkap, setelahnya aku pakai Dewpré Aloe Pro Gel. Tekstur gelnya yang ringan membuat kulit terasa sejuk dan auto moist banget!

Jangan lupa ya, beri jeda sekitar beberapa menit agar setiap produk yang kamu gunakan menyerap dengan baik. Kulit yang tenang akan menerima setiap produk perawatan yang kita gunakan dengan lebih optimal.

Step terakhir, ambil Dewpré Night Purple Cream secukupnya. Ini adalah bagian penting dari cara menggunakan krim malam yang benar, karena aplikasi yang terlalu tebal justru tidak membuat hasil lebih maksimal.

Aplikasikan merata ke wajah dan leher. Pijat ringan dengan gerakan ke atas. Setelah itu, biarkan si ungu bekerja sepanjang malam.

Perawatan yang Masuk Akal

Di usia matang, memilih skincare bukan lagi soal tren, tapi kecocokan dan kenyamanan. Dewpré Night Purple Cream menawarkan pendekatan yang realistis untuk perawatan malam, tanpa klaim berlebihan. Jika kamu sedang mencari krim malam yang nyaman dipakai rutin dan terasa bekerja perlahan, produk ini layak masuk pertimbangan.

Night Purple Cream dan produk Dewpré lainnya mudah ditemukan di berbagai marketplace resmi. Harganya pun relatif terjangkau untuk kualitas dan formulasi yang ditawarkan. Tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan kulit masing-masing. Pada akhirnya, skincare terbaik tetap dimulai dari kebiasaan sederhana. Konsisten merawat kulit, makan dengan seimbang, dan tidur cukup. Krim malam hanyalah pelengkap, tapi pelengkap yang bisa membuat kita merasa lebih baik dengan diri sendiri.

Read more…

April 3, 2024

Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad, Menenangkan Tanpa Menghanyutkan

Beberapa hari ini cuaca di Yogya makin makin aja. Sepertinya bukan di Yogya saja ya, dari cerita Papi Mami dan teman-teman di kota lain, kaya'nya cuaca lagi galau. Panas dan hujan silih berganti tanpa jadwal yang pasti. Konon pancaroba sih.. tapi antahlah bos... Bukan bermaksud mengeluh sih, tapi yaaa... ya gitu deh hihihi

Hari ini diawali dengan langit cerah ceria. Dengan pedenya dong ai mengeluarkan jemuran. Siang bolong, lagi seru-serunya WFH, eeeh... mendadak hujan dong! Hujan panas, karena langit masih sangat terang. Buru-buru masukin jemuran.

Kemarin lain lagi. Hujannya turun lalu naik... eh, maksudnya berhenti. Lalu turun lagi, gak lama berhenti lagi. Gitu aja terus, sampai kapok memindahkan jemuran berkali-kali.  

Gak jarang juga cuaca panas seharian. Walaupun hati senang karena jemuran kering semua (hmm... ini kok terindikasi ai terobsesi jemuran ya...) namun tetap terselip cemas karena kulit jadi kering dan kadang terasa gatal. Untuk mengatasinya aku memperbanyak konsumsi air putih, dan menggunakan produk skincare yang membersihkan dan melembabkan kulit. 

Salah satu produk yang aku gunakan adalah Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad. Apa tuh? Nah... baca kalian sampai habis ulasanku ini ya... Kalau setelahnya macam agak ada pertanyaan, terus sampaikan aja di kolom komen yak...

Produk baru dari Dewpré 

Jadi... Carrot Cica Water Calming Pad ini adalah produk baru dari brand Dewpré. Buat yang belum kenal atau pengen kenalan lagi sama brand yang satu ini, sini sini aku kasih tahu. 

Dewpré adalah brand lokal Indonesia yang menggabungkan teknologi dari Korea dan Indonesia, untuk mendapatkan produk terbaik yang telah disesuaikan dengan cuaca dan kulit masyarakat Indonesia, sesuai tagline-nya: 

“Best ingredients with Korea beauty knowledge
for Indonesian skin and weather”


Ada dua macam produksi Dewpré. Pertama adalah produk yang diproduksi di Indonesia oleh PT Cosmax Indonesia, seperti Tea Tree 5.5 Cleansing Foam dan Dewpré Aloe Pro GelKedua adalah produk yang diproduksi dan diimpor langsung dari Korea Selatan, seperti Multi Vita Balm dan Carrot Cica Water Calming Pad. 

Ditujukan untuk pemakaian masyarakat Indonesia, Dewpré selalu memastikan produk-produknya lulus semua izin yang berlaku di Indonesia, seperti BPOM, sertifikasi Halal, dan pastinya teruji secara dermatologis. 


Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad

Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad

Produk ini diformulasikan untuk membantu membersihkan sisa kotoran, debu, dan make up dari kulit wajah dan leher. Setiap kemasan terdiri atas 40 lembar pad, yang masing-masing telah mengandung toner yang diperkaya dengan antioksidan untuk melembabkan dan menenangkan kulit. 

Bahan dasar produk ini bukan air biasa, namun menggunakan Centella Asiatica Leaf Water atau Cica Water. Centella Asiatica (cica) atau tanaman pegagan memiliki kandungan flavanoid dan asam amino tinggi yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kulit. Ekstrak cica akan memberikan efek menenangkan pada kulit, menjaga kelembaban kulit, dan mencegah penuaan dini pada kulit. 

Tidak hanya ekstrak cica, ada banyak lagi komposisi jagoan yang terkandung dalam produk ini, yaitu:
  • Carrot Root Extract (Jeju Island) dan Carrot Seed Oil (Europe): mengurangi peradangan pada kulit, menstimulasi produksi kolagen, dan memberikan efek antioksidan pada kulit
  • Asiaticoside, Asiatic Acid, Madecassoide, Madecassic Acid: meningkatkan kelembaban kulit dan menghambat peradangan
  • Niacinamide: mencerahkan kulit
  • Adenosine: menunda penuaan dini pada kulit
  • Sodium Hyaluronate: mempercepat penyembuhan luka pada kulit
  • Panthenol: menjaga kehalusan kulit
Komposisi lengkap dari Dewpré Carrot Cica Water Calming Pad adalah sebagai berikut:
Centella Asiatica Leaf Water, Butylene Glycol, Niacinamide, Daucus Carota Sativa (Carrot) Seed Oil, Glycerin, Centella Asiatica Extract, Calophyllum Tacamahaca Seed Extract, 1,2-Hexanediol , Panthenol, Carica Papaya (Papaya) Fruit Extract, Saccharum Officinarum (Sugarcane) Extract, Allantoin, Madecassic Acid, Asiaticoside, Asiatic Acid, Daucus Carota Sativa   (Carrot) Root Extract, Sodium Hyaluronate, Melia Azadirachta Flower Extract, Chamomilla Recutita (Matricaria) Extract, Portulaca Oleracea Extract, Houttuynia Cordata Extract, Olea Europaea (Olive) Leaf Extract, Calophyllum Inophyllum Seed Oil, Melaleuca Alternifolia (Tea Tree) Leaf Oil , Ethylhexylglycerin, Madecassoside, Mentha Piperita (Peppermint) Oil, Adenosine, Laminaria Japonica Extract.

Cara Pakai

As alwaysDewpré selalu memastikan produk tersegel dengan baik pada kotak kemasan dan di bagian dalamnya, sehingga tetap aman dari kebocoran dan kontaminasi lainnya.

Segel pada kemasan untuk mencegah kebocoran dan kontaminasi

Pad ini bentuknya bulat, serupa kapas muka biasa, dan sudah mengandung toner. Pad memiliki dua permukaan, yaitu permukaan halus dan permukaan bertesktur. Cukup tebal namun lembut sehingga meminimalkan gesekan dengan kulit. 

Permukaan pad yang bertekstur halus


Aku menggunakan produk ini setelah membersihkan wajah dengan Tea Tree 5.5 Cleansing Foam. Caranya, kita ambil pad atau kapas bulatnya menggunakan pinset yang sudah disediakan. Setelah itu, tempelkan pad yang bersisi halus pada pipi kiri dan kanan, dahi, dan dagu. Oh iya, produk ini tidak untuk digunakan di bagian mata, ya... 

Biarkan pad melekat selama minimal 5 menit dan maksimal 15 menit untuk hasil yang maksimal. Jadi prinsipnya produk ini berfungsi seperti sheet mask, namun lebih praktis. Setelahnya, tepuk-tepuk lembut kulit wajah dan leher supaya essence lebih menyerap, kemudian lanjutkan dengan tabir surya untuk pemakaian pagi atau siang hari. 

Setelahnya, kulitku terasa lebih lembab, tidak terasa lengket, dan yang penting tidak ada sensasi cekit-cekit. Aromanya juga natural dan tidak mengganggu. Pokoknya bikin tenang dan nyaman. 

Jangan lupa, setiap selesai mengambil pad, langsung tutup kembali 'stoples'nya, supaya gak masuk angin alias mengering.  

Memang produk ini tidak ditujukan untuk eksfoliasi. Namuuun.... berhubung aku penasaran dan suka bereksperimen, dan juga kulitku so-so aja, gak sensitif tapi gak badak juga, dan juga berhubung aku tahu banget kalau Dewpré selalu menggunakan bahan-bahan alami yang berkualitas juara jadi gak kuatir bakalan bikin break-out atau sejenisnya, jadi aku coba-coba membersihkan wajahku menggunakan pad yang bertekstur.

Setelah membersihkan wajah, aku usapkan pad pelan aja dengan gerakan keluar, untuk menarik kotoran di pipi, dahi, leher, sampai ke belakang telinga. Hasilnya? Weeww... ternyata masih ada lho sisa kotoran dan debu yang berhasil diangkat sama si pad. Happy sekaligus malu sendiri, kok jorok kali, wak!

Mudah-mudahan Dewpré segera bikin produk serupa untuk eksfoliasi ya... plus anti-aging, plus anti anti lainnya, termasuk anti mahal hahaha

Sisa kotoran dan debu yang melekat.. yaiks :(

Harga Terjangkau dan Mudah Didapatkan

Carrot Cica Water Calming Pad dan berbagai produk Dewpré lainnya dapat dengan mudah kamu dapatkan di toko resminya di Shopee dan berbagai marketplace lainnya. Jadi kebahagiaan memiliki kulit yang bersih dan lembab dengan rasa tenang dan nyaman bisa segera kamu miliki juga. And u know what, ketenangan yang satu ini sama sekali tidak menghanyutkan (dompetmu), karena lagi ada promo launching nih, gaes... So, buruan check-out berbagai produk andalan dari Dewpré. 

Read more…

February 16, 2024

Dewpré Aloe Pro Gel, Lidah Buaya untuk Seluruh Keluarga

 Another posting on my blog… YAY!

Segala sesuatunya berawal dengan niat, baik niat terpendam maupun niat mendadak, pokoknya diawali dengan niat. (Maka waspadalah… waspadalah!!) Tapi ya gak cukup diniatkan, harus juga dilakukan. Maka hari ini aku berhasil memaksa diriku untuk menyalakan laptop dan mulai menulis.


Kali ini aku mau cerita soal lidah yang tak bertulang, lidah buaya 😛 


Sudah sejak lama lidah buaya digunakan untuk merawat kecantikan dan kesehatan. Tanaman ini gampang tumbuh serta tidak membutuhkan banyak perawatan. Di rumah Medan, lidah buaya tumbuh subur. Secara berkala, Mami menggunakannya untuk perawatan rambut. 


Caranya mudah saja. Pilih lidah buaya yang segar, potong dan keluarkan getahnya. Bisa juga dengan membelah lidah buaya secara melintang, lalu kita gunakan bagian dagingnya yang transparan. Getah dan daging ini dapat dioleskan atau digosok-gosokkan langsung pada rambut atau wajah sebagai masker. Diamkan sekitar 15 menit, atau bisa juga semalaman (kalau betah), kemudian cuci bersih menggunakan shampo atau pencuci wajah. 


Getah dan Daging Lidah Buaya (sumber: Innalar.com)

Meskipun banyak manfaatnya, namun untuk sebagian orang penggunaan lidah buaya segar ini menimbulkan beberapa efek samping, seperti rasa gatal atau kemerahan pada kulit. Untuk menghindari hal-hal yang ganggu kaya’ begini, kamu pastikan dulu apakah kamu cocok atau alergi menggunakannya ya… Oleskan sedikit ke area belakang telinga, lalu tunggu 5 sampai 10 menit, kalau-kalau timbul reaksi alergi seperti tadi. 


Hmm… Dipotong… diambil getahnya… digosok-gosok… ‘ngecek alergi… Semacam repot, yekan??

Kalau aku mah sukanya yang segera, praktis, dan tentu saja ekonomis. Pokoknya sat-set! Jaman jigeum ada banyak brand perawatan kulit yang menawarkan produk varian aloe vera. Salah satunya dan yang paling anyar aku cobain adalah Dewpré Aloe Pro Gel.

Kenalan dulu sama Dewpré


Mungkin masih banyak kita yang belum kenal sama brand yang satu ini. Dewpré berasal dari dua kata dalam dua bahasa; dew yang dalam bahasa Inggris berarti embun, dan pré yang dalam bahasa Perancis berarti rumput. 

“Like Dew, Like Showers on New Grass”


Menggunakan bahan-bahan dari alam, Dewpré menggabungkan teknologi Korea dan Indonesia untuk mendapatkan produk yang telah disesuaikan dengan cuaca dan kulit masyarakat Indonesia. Desain dan kemasan diimpor dari Korea, namun formula diproduksi di Indonesia. 


Ditujukan untuk pemakaian masyarakat Indonesia, Dewpré selalu memastikan produk-produknya lulus semua izin yang berlaku di Indonesia, seperti BPOM, sertifikasi Halal, dan pastinya teruji secara dermatologis. 

Dewpré Aloe Pro Gel

Kemasan Dewpré Aloe Pro Gel

Produk yang ini tidak sekadar mengandung lidah buaya. Diformulasikan secara khusus dengan 92% Aloe Barbadensis Leaf Extracts, produk berbentuk gel ini juga mengandung antara lain propolis, panthenol, cica, dan sodium hyaluronate yang dapat menyejukkan, menenangkan kulit kemerahan, meningkatkan hidrasi, dan melembabkan kulit wajah serta area tubuh lainnya. 

Sesuai dengan yang tertera pada kemasan, lengkapnya produk ini terbuat dari Aloe Barbadensis Leaf Extract, Methyl Gluceth-10, 1.2 Hexanediol, Pentylene Glycol, Panthenol, Propolis Extract, Carbomer, Allantoin, Ammonium Acryloyldimethyltaurate/VP Copolymer, Potassium Hydroxide, Polyglyceryl-10 Laurate, Propanediol, Ethylhexylglycerin, Plumeria Alba Flower Oil, Water, Disodium, EDTA, Tocopherol, Butylene Glycol, Centella Asiatica Extract, Sodium Hyaluronate, Eugenia Caryophyllus (Clove) Leaf Oil, Salix Alba (Willow) Bark  Extract, Rosmarinus Officinalis (Rosemary) Leaf Water, Galactomyces Ferment Filtrate, Brassica Oleracea Italica Extract, Camellia Sinensis Leaf Extract, Glycerin, Methylpropanediol, Curcuma Longa (Turmeric) Root Extract. 


Widiihh… kurang lengkap dan alami apalagi tuuhh… Tidak hanya lidah buaya dan cica atau daun pegagan, tetapi juga menggunakan berbagai bahan alami lainnya seperti minyak daun cengkih, kulit pohon dedalu atau willow, dan ekstrak berbagai tumbuhan seperti rosemary, brokoli, daun teh hijau, dan kunyit. Natural to the max


Apa saja komposisi jagoan dari produk Dewpré yang satu ini? Yuk simak…

  1. 92 % Aloe Bardensis berfungsi melembabkan kulit, mengurangi peradangan pada kulit, dan peremajaan kulit.
  2. Propolis, memiliki manfaat menyembuhkan luka pada kulit
  3. Panthenol berfungsi mengatasi iritasi pada kulit.
  4. Cica berguna sebagai penyembuh berbagai macam masalah kulit, dapat mengatasi jerawat, dan menghindari kulit
  5. Sodium Hyaluronate, untuk mengurangi peradangan pada kulit
  6. Salix Alba Bark Extract membantu memperbaiki kondisi kulit yang rusak
  7. Galactomyces Ferment Filtrate membantu mencerahkan kulit dan memelihara Kesehatan kulit.


Dengan tekstur gel yang ringan dan sejuk, kandungan nutrisi Dewpré Aloe Pro Gel dapat menembus lapisan epidermis kulit untuk membuat kulit terasa sehat, lembut, dan kenyal. Produk ini dapat diaplikasikan untuk wajah dan juga ke seluruh tubuh.


Aku menggunakan produk ini sebagai pelembab wajah. Setiap habis cuci muka dengan Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam, aku mengaplikasikan produk ini ke seluruh wajah, leher, dan juga bagian belakang telinga. Apalagi kalau habis beraktivitas seharian, tuh… Ketempelan gel aloe vera yang satu ini, rasanya auto sejuk dan kulit terasa moist banget! 


Kemasan Dewpré Aloe Pro Gel yang disertai segel pengaman

Kemasannya praktis dan aman, karena Dewpré selalu memastikan produk tersegel dengan baik di bagian dalamnya. Dewpré Aloe Pro Gel aman digunakan tidak hanya oleh orang dewasa, namun juga buat para remaja. Hemat banget kaaan… Tidak perlu beli seabrek produk, cukup satu Dewpré Aloe Pro Gel ini untuk melembabkan kulit orang serumah!


Harga Terjangkau dan Mudah Didapatkan

Dewpré Aloe Pro Gel dan berbagai produk Dewpré lainnya dapat dengan mudah didapatkan melalui toko resminya di berbagai marketplace.  Dengan berbagai kualitas unggulan, produk ini dibandrol dengan harga cukup terjangkau. Mumpung lagi promo nih, hayuk gaess langsung check-out aja berbagai produk andalan dari Dewpré.  


“Best ingredients with Korea beauty knowledge for Indonesian skin and weather!”

Read more…