Sunday, October 11, 2020

Drakor Class

Berawal dari ajakan dan ‘seretan’ dua orang teman, yang dulu sempat menjadi teman seatap ketika di Bandung, aku pun kembali melakukan kesukaan tulis-menulis. Suatu sejarah yang panjang sebetulnya, karena sempat terhenti di tengah jalan cukup lama. Blog yang dulu sering diisi dengan berbagai tulisan, mulai yang retjeh sampai yang curhat anonim --saking anonimnya, yang menulis pun lupa itu lagi bahas apa siapa dan kenapa-- sempat mati suri selama bertahun-tahun.

Beberapa kali aku pernah mencoba aktif lagi menulis. Saking seringnya mencoba, sampai-sampai aku sempat menamai blog ku “50 First Posts”. Tapi selalu saja ada halangannya. Intinya mah lupa aja kalau ada blog yang menanti untuk disambangi. 

Pertama kali menulis lagi ketika mengikuti tantangan menulis di akun IG 30HariBercerita tahun 2019. Ketika itu tidak penuh menulis selama 30 hari, namun salah satu postinganku di-repost oleh admin. Hoho… rasanya kaya’ jadi juara kelas! Bangga pisan euy! 


Sayangnya setelah 30HariBercerita usai, kegiatan menulis tadi tidak kulanjutkan, sampai kemudian ketemu lagi dengan tantangan 30HariBercerita di tahun 2020. Tantangan ini memang diadakan setiap awal tahun saja. Di sini malah terjadi penurunan prestasi. Semakin banyak hari bolong menulisnya, dan tidak ada satupun tulisan yang direpost.


Ketika itu aku di’seret’ oleh kak Risna untuk ikutan gabung di komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional. Komunitas ini adalah bagian dari komunitas yang lebih besar lagi, yaitu Institut Ibu Profesional. Aku pun memutuskan untuk menuruti ajakan bergabung. Sadar diri, aku selalu butuh komunitas atau lingkungan yang membuat aku semangat buat menulis lagi. Kalau ada teman kan rasanya lebih seru gitu. 


Di KLIP ini berlaku sistem gugur. Apabila kita tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan, dengan jumlah postingan minimal, kemudian jumlah kata minimal, sebagai indikatornya, maka kita akan gugur sebagai peserta dan tidak bisa melanjut. Berbekal keengganan didera rasa tengsin kalau gugur, maka aku pun berusaha memenuhi syarat-syarat tersebut. Pestasi sekali rasanya, sejak Januari sama sekarang, hanya di bulan Februari aku tidak mencapai target minimal, sehingga sampai sekarang masih terdaftar sebagai peserta aktif di KLIP 2020.


Melalui komunitas KLIP aku berkenalan dengan teman-teman baru. Selain sama-sama suka menulis, kami memiliki kesamaan lain yaitu hobi menonton drama Korea. Korea Selatan pastinya, bukan Korea Utara. Kami tergabung dalam suatu grup WA bertajuk “Drakor dan Literasi”. 


Banyak pandangan miring tentang hobi menonton drakor ini. Dianggap sumber dosa lah, tidak berfaedah dan buang waktu lah, bikin kecanduan lah, dan lain sejenisnya. Sebenarnya ini masalah pilihan, dan masalah selera, jadi tidak perlu dibahas juga. Tidak akan ada titik temunya. Sama seperti membandingkan mana yang lebih enak, es cendol atau ketoprak. 


Dalam grup “Drakor dan Literasi” ini, kami tidak sekadar membicarakan kisah-kisah dalam drama dan para oppa tampan lalu menghalu bersama. Tentu saja kami pun melakukannya. Tapi yang benar saja, wanita cerdas mana yang tahan ngomongin tampang lelaki 24 jam sehari? Mungkin ada, tapi sudah jelas, itu bukan kami.


Dari grup “Drakor dan Literasi” ini aku mengenal dan banyak belajar dari wanita-wanita hebat. Wanita super yang jagoan multi tasking. Dalam kesibukan mereka bekerja, mengurus rumah tangga dan keluarga, apalagi di masa pandemi ini ketika anak-anak sekolah dari rumah dan orang tua juga bertugas sebagai guru, mereka masih punya waktu untuk menulis. Beberapa dari mereka malah sudah, baru saja, dan akan segera menerbitkan buku ataupun antologi. 


Entah dari mana para emak ini memperoleh energi ekstra. Mengurus pekerjaan dan keluarga, beberapa punya tugas menjadi admin di komunitas KLIP, tetap bisa menulis secara rutin setiap hari, bahkan bisa menghasilkan dua atau tiga tulisan dalam satu hari, plus masih menyempatkan diri menikmati drakor, yang sering kali dilakukan sambil mengerjakan tugas rumah tangga. Satu hal yang aku yakin, mereka digerakkan oleh rasa cinta. Cinta pada keluarga, suami dan anak-anak, cinta pada dunia menulis, dan cinta pada dunia drama Korea yang penuh warna.


Menjadi bagian dari komunitas KLIP, khususnya Drakor dan Literasi, aku sering kali merasa terintimidasi sekaligus terinspirasi. Aku, yang menulis masih sambil lalu dan pengabdi badge KLIP ini, merasa seperti ikan kecil di kolam besar, yang isinya banyak sekali ikan-ikan besar. Kalau biasanya ikan kecil jadi mangsa ikan besar, tapi di kolam yang ini, ikan kecil justru ‘diberi makan’ dan disemangati oleh para ikan besar. Dan sampai sekarang pun si ikan kecil ini tetap masih suka ngaso dan belum kencang berenangnya hahahaha


Aku senang sekali dan sungguh merasa terberkati bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-teman grup Drakor dan Literasi ini. Kami berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan profesi. Namun, dalam drakor, kami bersaudara #bucin_united

Dari teman komunitas, menjadi teman berbagi yang saling mendukung dalam menghadapi berbagai badai kehidupan #tssaahh


Bulan Juni yang lalu, kami membuat Tantangan Menulis 30 Topik Kokoriyaan. Topiknya macam-macam, mulai dari review film atau drama Korea, kuliner Korea, aktor/aktris dan KPop idol favorit, sampai tempat-tempat yang ingin dikunjungi apabila suatu saat berkesempatan mengunjungi negara gingseng itu. Ternyata menjadi sangat menarik, ketika satu topik bisa dibahas dari berbelas sudut pandang cerita. Topik yang sulit buat yang satu, bisa jadi diselesaikan oleh yang lain "sambil merem" hahaha


Meneruskan hobi menulis seputar kokoriyaan ini, kami pun membuat blog bersama, yang diberi nama "www.drakorclass.com". Suatu proyek bersama, dari sebuah wacana dan pembahasan melalui chatting dan sesi zooming, lalu “diseriusin” dan kemudian diwujudkan dengan kolaborasi yang luar biasa. Berbagi tugas, dan setiap orang mengambil bagian sesuai bidang keahlian masing-masing. 


Mulai dari persiapan memilih nama, menyiapkan website dan hostingnya, membuat akses bagi setiap kontributor, menyiapkan fitur, membuat logo dan desain grafis lainnya, mengumpulkan foto dan profil, menyiapkan akun email dan medsos, dan tentu saja, menulis artikel untuk postingan perdana, Tidak ada yang sungkan bertanya, dan tidak ada yang enggan membagi ilmu. Tidak ada rebutan lapak; dimana ada yang lowong, sedapat mungkin yang mampu akan membantu. Sama-sama ingin maju, dan ingin maju bersama-sama. 


Tampilan Website www.drakorclass.com



Puncaknya, pada tanggal 10 Oktober 2020, resmilah www.drakorclass.com mengudara. Situs ini adalah ‘anak’ kami bersama. Seperti orang tua pada anaknya, kami pun punya harapan besar terhadap situs ini. Tentu saja harapan harus dibarengi dengan “asupan gizi”, supaya si anak tumbuh besar, kuat dan sehat. Mudah-mudahan kami tetap bisa sehati dalam membesarkan ‘anak’ kami ini.



Para Kontributor DrakorClass.com (sumber: www.drakorclass.com)


Kata siapa nonton drakor cuman bikin halu? Buat kami, drakor adalah sarana menambah ilmu. Melalui www.drakorclass.com, kami berbagi tulisan-tulisan yang terinspirasi dari drama Korea.

Jadi, buat yang masih berpikir bahwa menonton drakor hanyalah tindakan sia-sia, tidak produktif, dan hanyalah menjadi sumber dosa, kaya’nya kamu mainnya kurang jauh. Karena kami “bucin” penuh totalitas, tanpa melupakan prioritas.

Sunday, October 4, 2020

Penciptaan Hawa - Catatan Khotbah Minggu

sumber: https://adollar3eighty.wordpress.com/

Perikop : Kejadian 2 : 18 - 25

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, q  yang sepadan dengan dia 1 ." 
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan r  dan segala burung di udara. s  Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan t  manusia itu kepada tiap-tiap makhluk u  yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong v  yang sepadan dengan dia. 
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur w  nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 
2:22 Dan dari rusuk x  yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku y . Ia akan dinamai z  perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. a 
2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya 2  dan bersatu b  dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. c  
2:25 Mereka keduanya telanjang, d  manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.


Dalam perikop ini dikisahkan tentang penciptaan Hawa, perempuan pertama, yang dijadikan Tuhan dari tulang rusuk Adam. Ada banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari perikop ini. 


Kita sudah sangat sering mendengar pandangan filosofis tentang kisah penciptaan ini. Hawa tidak diciptakan dari tulang kepala sehingga menjadi “kepala”, atau tulang kaki sehingga menjadi “bawahan”, atau tulang tangan sehingga menjadi “pekerja”. Hawa diciptakan dari tulang rusuk sehingga menjadi sosok yang dekat di hati, sosok yang dilindungi, sosok yang mendampingi.  Dengan kata lain, sejak awal penciptaan, sangat jelas bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan itu sebagai partner, dimana perempuan dimaksudkan sebagai penolong yang sepadan.


Secara dunia, penolong ini bisa saja posisinya di atas, karena lebih mampu atau lebih berkuasa, sehingga bisa memberikan pertolongan. Bisa juga dikonotasikan di bawah, yaitu sebagai asisten. Namun, kembali lagi ke perikop tersebut, posisi yang sejak awal diberikan Tuhan adalah “sepadan”.  Nilai-nilai ini lah yang kemudian bergeser secara budaya, atau secara dunia.


Kalimat Adam, yaitu “tulang dari tulangku, daging dari dagingku” tidak gampang kita mengerti secara logika. Adam memandang Hawa sebagai tulangnya, sebagai dagingnya. Artinya Adam memandang Hawa sebagai bagian dari dirinya, bagian dari hidupnya. Adam adalah Hawa, Hawa adalah Adam. Tidak hanya setara, namun mereka adalah sama. 


Sebagaimana Adam memandang Hawa, demikianlah seharusnya kita memandang sesama manusia. Kita memandang sesama manusia sebagai bagian dari hidup kita, sebagai ciptaan Tuhan yang hidup bersama-sama di dalam satu dunia. Sudut pandang ini akan membuat kita mampu menerima keadaan sesama kita, mampu mengasihi mereka, 


Seperti yang disebutkan sebelumnya, nilai-nilai tersebut telah berubah, telah bergeser, seturut budaya manusia. Persoalannya adalah selalu saja manusia itu ingin lebih berkuasa daripada yang lain. Siapapun pelakunya, siapapun korbannya, perilaku ini sesungguhnya sangat merendahkan martabat manusia. Sebagai orang Kristen, sebagai murid Kristus, kita harus mengembalikan nilai-nilai itu kepada ‘grand design’, kepada ‘blue print’ yang sudah ditetapkan Tuhan sejak awal.


Bagaimana penerapannya? Nilai-nilai itu harus dimulai dari lingkungan yang paling kecil,yaitu keluarga.


Orang tua hendaklah memberikan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk berkembang sebagai pribadi yang utuh. Orang tua hendaklah tidak membeda-bedakan atau mengistimewakan perlakuan terhadap anak perempuan terhadap anak laki-laki, atau sebaliknya. 


Demikian pula sebagai suami dan istri. Perikop tersebut di atas menjadi pondasi dalam membangun pernikahan di dalam Tuhan. Sebagaimana Adam dan Hawa, suami dan istri adalah partner, mereka adalah sama, dan bersama-sama membangun sebuah keluarga yang berkenan kepada Tuhan. Ketika suami dan istri menerapkan nilai-nilai ini dalam menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawab mereka dalam sebuah keluarga, maka anak-anak pun akan menirunya, sebab orang tua adalah figur contoh bagi si anak. 


Berangkat dari keluarga, kita membawa perilaku ini ke lingkungan yang lebih besar lagi, yaitu dunia. Sehingga kita mampu hidup berdampingan dengan orang lain, dan menjadi berkat di tengah-tengah kehidupan bersama dengan sesama ciptaan Tuhan.


Thursday, October 1, 2020

When I (someday) go to Busan...

Salah satu kegemaranku yang tertahan selama pandemi ini adalah jalan-jalan. Tahun lalu kami sekeluarga sudah merancang-rancang agenda jalan-jalan. Namun akibat pandemi, batal sempurna. 

Aku cukup beruntung karena diberi kesempatan dan rezeki mengunjungi segelintir negara tetangga dengan tujuan liburan bersama keluarga. Biasanya paling tidak kami akan menghabiskan waktu satu minggu untuk liburan. Namun tidak selalu seberuntung itu. Negara dengan kunjungan tersingkat adalah Korea Selatan. Secara tanggalan sih 5 hari, yang termasuk sampai di Incheon menjelang tengah malam, dan harus berangkat lagi subuh-subuh. Sama aja boong kan yak… secara jalan-jalan efektifnya cuman 3 hari. Karena hanya tiga hari, maka tempat wisata yang kami kunjungi pun tidak banyak. Antara lain Korean Demilitarized Zone (DMZ) dan Everland Theme Park. Ketika itu aku belum jadi penggemar drakor, dan korean wave belum sedahsyat sekarang. Jadi aku tidak punya banyak referensi juga selain drama Winter Sonata. Mungkin kalau sekarang mengunjungi DMZ, walaupun tempatnya gak sama, tapi pasti bakalan terbayang-bayang scene pertemuan dan perpisahan Capt. Ri dan Yun Se Ri lalu mengharu biru.


Sekarang, setelah menonton lebih banyak drama dan film Korea, aku merasa agak menyesal kenapa dulu gak lebih lama jalan-jalan di sana, dan udah gitu yang didatangi bukan lokasi-lokasi romantis #halah 


Eh, tapi menurutku, Seoul itu sendiri terasa romantis. Kotanya sangat modern, namun cantik dan apik. Banyak instalasi seni yang dipajang di tempat umum. Dan memang Korea Selatan memiliki banyak galeri dan museum seni yang pasti menarik untuk dikunjungi. Hanya di Kota Seoul saja ada setidaknya empat museum seni yang besar, antara lain Lotte Museum of Art di Lotte World Tower, dan National Museum of Modern Contemporary Art (MMCA), yang juga ada di tiga kota lainnya. 



"The Wave", instalasi seni paling hip yang terpasang di SMTown
(sumber: merahputih.com)


Sebenarnya ada banyak sekali tempat-tempat yang menarik dan ingin kukunjungi di Korea Selatan. Mulai dari Nami Island sampai Jeju Island. Mulai dari merasakan suasana Korea di masa Dinasti Joseon di Bukchon Hanok Village, sampai wisata halu ke SMTown yang jadi surganya KPop lovers. Ya siapa tahu tiba-tiba bersirobok pandang dengan Jin BTS yang lagi belanja aqua ke indoapril setempat… #haludimulai


Tapi salah satu yang paling bikin penasaran adalah Kota Busan. Kenapa Busan? Soalnya yaa..


Pertama, Busan adalah kota asalnya Gong Yoo dan dua orang member BTS, yaitu Jongkook dan Jimin. Tidak hanya mereka bertiga, namun ada sederet nama tenar “Busan boys” lainnya. Sebut saja para oppa tampan jagoan akting seperti Lee Joon Gi, Park Hae Jin, Kang Ha Neul, dan Nam Joo Hyuk. KPop star seperti I.N Stray Kids, Woozie Seventeen, dan Kang Daniel, yang tahun 2019 terpilih menjadi Duta Promosi Kota Busan. Gak kalah juga aktris dan idols cantik. Salah satunya Jeon Mi Do, yang memerankan Chae Song Hwa si dokter cantik pujaan empat oppa dokter tampan, juga berasal dari Busan. Jadi penasaran, kaya’ apa sih kota tempat para gantengs dan cantiks ini berasal? Apakah segantengs dan secantiks mereka juga? Huumm…. #haluberlanjut



Gong Yoo dan Jong Kook BTS, uri Busan Boys (sumber: allkpop)

Kedua, aku penasaran dengan dialeknya. Katanya sih Jimin BTS sering menggunakan dialek itu. Dalam beberapa drama juga sering menampilkan tokoh dengan dialek Busan. Sayangnya aku tidak bisa membedakan seperti apa yang namanya dialek Busan, kecuali dalam drama The King: Eternal Monarch, yaitu pada dialek yang digunakan Jo Eun Sup, yang dikisahkan berasal dari Busan. Mungkin kalau (minimal) seminggu beredar di sana, akhirnya aku bisa membedakannya, atau bahkan menirukannya hihi 


Ketiga, ternyata di Busan banyak tujuan wisata yang menarik. Kalau Seoul mungkin lebih seru dengan hiruk pikuk keramaian dan kehidupan modernnya, maka Busan punya suasana yang lebih santai dan tenang. Aku membayangkannya seperti Kota Yogyakarta. 


Pantai terbesar dan yang paling terkenal di Busan namanya Pantai Haeundae. Garis pantai sepanjang hampir 1.5 KM dan hamparan pasir selebar 30 - 50 meter. Setiap musim panas pantai ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun internasional. Sepanjang tahun, di pantai ini diadakan berbagai festival. Salah satunya yang paling populer adalah “Polar Bear Club”. Festival ini biasanya diadakan di bulan Januari, dimana orang-orang akan berenang di dalam air yang hampir membeku. 


Pantai Haeundae (sumber: Visit Korea) 

Tidak jauh dari Pantai Haeundae, yang suka akuarium bisa menyambangi SEA LIFE Busan Aquarium, yang merupakan salah satu akuarium terbaik yang ada di Korea. Dengan luas sekitar 3,6 Ha, dan tiga lantai di bawah tanah, SEA LIFE terdiri atas 8 zona yang masing-masing memiliki tema berbeda. Akuarium ini juga memiliki terowongan laut yang membuat kita seakan-akan berjalan di dasar lautan dengan dikelilingi oleh hewan-hewan laut. 


Kalau siang mainnya ke Pantai Haeundae, maka malamnya bisa main ke Pantai Gwangalli, yang disebut-sebut di lagu “When I go to Busan”-nya Jung Kyung Ho. Di sepanjang pantai ini banyak terdapat restoran dan tempat-tempat ngumpul lainnya. Dari pantai ini, kita bisa menyaksikan keindahan Jembatan Gwangan di malam hari, yang menampilkan atraksi lampu dua atau tiga kali setiap malam. 


Pantai Gwangalli dan Jembatan Gwangan di malam hari (sumber: Visit Korea)

Lalu ada yang namanya “Gamcheon Cultural Village”. Desanya unik dengan beraneka warna dan street art. Rumah-rumah bersusun bertangga-tangga, dan dinding-dindingnya dipenuhi dengan mural karya penduduk setempat. “Santorini” ala Korea. Aiih… aku bisa membayangkan kalau mengunjungi tempat ini bersama Mami, pasti Mami akan sibuk bergaya dan aku akan sibuk memfoto Mami di setiap mural atau karya seni atau rumah lucu yang kami temui. 


Salah satu spot di Desa Gamcheon (sumber: livingnomads.com)


Bukan liburan namanya kalau tidak pakai acara shopping. Wahai para penyuka belanja, ketahuilah, bahwa di Busan terdapat Department Store terbesar di dunia berdasarkan Guiness World Records. Namanya "Shinsegae Centum City". Tidak hanya buat belanja-belanja, tetapi banyak atraksi menarik lainnya di sini. Mulai dari golf range (4 lantai cuuyy….), ice rink, jjimjilbang atau spa gaya Korea, dan di lantai rooftop ada Zooraji, outdoor theme park yang bertema dinosaurus. 

Dan yang namanya shopping belum lengkap kalau gak mampir ke pasar tradisional. Di Busan ada yang namanya Pasar Gukje yang penuh dengan penjaja makanan dan barang-barang berkualitas dengan harga miring, dan di seberangnya ada Pasar Bupyeong atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kkangtong. Buat yang suka seafood, bisa menyambangi Pasar Jagalchi, yang merupakan pasar ikan terbesar di Korea Selatan.


Pasar Jagalchi ini pernah diulas juga oleh Youtuber Chris Raney. Jagalchi ini bukan pasar ikan biasa, tetapi merupakan gedung tujuh lantai. Di lantai dasar adalah yang kita sebut di sini pasar basah. Di lantai dua adalah restoran, dimana kita bisa memesan makanan dengan bahan segar yang dibeli dari lantai dasar. Sambil makan, kita bisa memandang ke arah pantai dan pelabuhan. Lantai 3 dan 4 adalah perkantoran, di lantai 5 restoran. Uniknya, di lantai 6 ada balai pernikahan (wedding hall), dan di lantai paling atas ada penginapan. Kebayang dong ya, kalau ditanya gitu... “Rencana pestanya dimana nih?” “Uhmm... oppa sudah pesan tempat di Pasar Ikan Jagalchi lantai 6”. Aseeeekkk…. #haluberkesinambungan


Ternyata banyak sekali tempat menarik dan kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan di Busan. Tidak sulit untuk mencapai kota ini, hanya membutuhkan 2 jam 40 menit perjalanan kereta api dari Seoul. Dan jadwalnya pun cukup banyak, hampir setiap 10 sampai 25 menit, ada kereta api dari Seoul menuju Busan. Hm… semoga tidak ada zombienya ya… etapi, kalau ada zombie, kemungkinan besar ada Gong Yoo juga dong… Huaa… dilema ini namanya… terus aku harus ottoke??


Friday, September 25, 2020

Belajar dari Esther (Catatan PA Immanuel Choir - 25092020)

Hari ini adalah hari Jumat ke-4 dalam bulan September. Seperti yang sudah disepakati, hari ini aku bersama para anggota Immanuel CHoir lainnya mengadakan kebaktian Pendalaman Alkitab via zoom. Total anggota yang ‘hadir’ tadi adalah 10 orang, plus satu orang tamu yaitu Pendeta Harland Sianturi dari GPdI Batubara. Luar biasa memang teknologi ini, sehingga jarak tidak lagi jadi penghalang untuk berkomunikasi. 


Tadi sempat dibahas juga tentang sedikitnya anggota IC yang mengikuti ibadah PA via zoom ini. Sebenarnya sebagai sebuah paduan suara, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan selama masa pandemi ini. Memang aku dan dua orang anggota Alto lainnya sempat berkumpul dan berlatih bersama. Tetapi ketika itu situasi Kota Jakarta belum seperti sekarang ini. Satu-satunya kegiatan yang bisa kami lakukan bersama-sama, dengan tetap menjaga kondisi kesehatan dan keamanan diri dan bersama, adalah dengan melakukan ibadah via zoom. Mungkin beberapa dari kami merasa ‘tidak nyaman’ karena tidak bisa langsung bertatap muka dan bersekutu. Tapi ya… menurutku kita semua tetap butuh bersekutu, tetap butuh berkomunikasi dengan teman-teman sepelayanan, dan persekutuan ini diperlukan untuk menyatukan hati setiap anggota dalam satu pelayanan. Saat ini, cara online lah yang paling efektif, sehingga kita mau tidak mau harus mulai beradaptasi. Menurutku hanya perkara sarana dan media, esensinya tetap sama, yaitu bersekutu dengan teman-teman seiman sepelayanan.


Renungan, yang dibawakan oleh Tante Esther M. Sidjabat, diambil dari Esther 2 : 1 - 18. Melalui perikop ini, kami belajar dari kisah Esther, seorang wanita biasa yang diangkat Tuhan menjadi Ratu.


sumber: Vimeo


Dari renungan tadi, ada enam hal yang dapat kita pelajari dari hidup Esther:


  1. Esther adalah seorang penurut, ia mengikuti pimpinan Roh Tuhan, dan menyiapkan hatinya untuk mengikuti apapun yang menjadi kehendak Tuhan. Demikian pula dalam kehidupan kita, hendaknya kita menjadi anak yang menurut kepada kehendak Bapa, dan menyiapkan hati kita untuk apapun yang direncanakan Tuhan terjadi dalam hidup kita. Dan yakin, bahwa Tuhan pun telah menyiapkan dan memperlengkapi kita untuk apapun yang menjadi rencanaNya atas hidup kita.


  1. Dalam perikop dikisahkan Esther dibimbing oleh Hegai. Dalam kehidupan kita, Hegai dapat kita ibaratkan sebagai Roh Kudus yang membimbing kita. Kita membutuhkan Roh Kudus sebagai penuntun dalam menjalani hidup kita.


  1. Esther memiliki kepribadian yang membuat semua orang menyayanginya. Demikian pula kita sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu berusaha agar keberadaan kita menjadi berkat bagi orang lain. Untuk itu kita harus belajar untuk merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi sesama, dan memohon kepada Tuhan untuk memampukan kita untuk melakukannya.


  1. Esther mengalami perkenanan Raja. Aplikasinya, kita harus berusaha agar hidup kita beroleh perkenanan Raja, yaitu Tuhan kita. Caranya dengan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tidak sulit, semuanya dapat kita ketahui dan pelajari dari FirmanNya. Tentang hal ini, aku teringat pada ‘khotbah’ si Abang di suatu malam ketika kami sedang berkumpul di Medan akhir tahun kemarin. Dia bilang, mengenal Tuhan itu seperti orang pacaran saja, seperti orang lagi pedekate. Kalau kita lagi pedekate, pasti kita selalu ingin tahu tentang orang itu, kalau kita terima surat dari dia, kita pasti baca berulang-ulang sampai hafal titik komanya. Kita selalu ingin bertemu, selalu ingin berbicara dengannya sampai lupa waktu. Demikian juga dengan mengenal Tuhan dan kehendakNya. Caranya adalah membaca “surat-surat”Nya berulang-ulang, berbicara denganNya, mendekat dan bergaul akrab dengan Dia. 


  1. Butuh waktu satu tahun bagi Esther untuk bersiap sebelum bertemu dengan Raja. Aplikasinya, sebelum melayani Tuhan, kita harus selalu mempersiapkan diri dan hati kita. Karena Tuhan tidak melihat apa yang kita tampilkan, namun Dia melihat hati kita ketika melakukannya. 


  1. Raja mengadakan perjamuan karena merasa bahagia dan bersukacita karena keberadaan Esther. Aplikasinya, Tuhan juga akan merasa sangat bahagia dan bersukacita apabila melihat anak-anakNya melakukan hal yang berkenan kepada Nya, sehingga Ia mencurahkan berkat-berkatNya (=pesta perjamuan) bagi dunia. Marilah kita umat Kristen dengan setia memuji menyembah Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepadaNya, sehingga Tuhan akan memberkati kota yang kita diami dengan berlimpah-limpah. 


Tuhan yang baik akan menjawab doa kita ketika kita menyampaikan permohonan kita dengan hati yang bersungguh-sungguh. Meskipun kita adalah manusia yang berdosa, mungkin masa lalu kita kelam, namun bila kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, Dia akan pakai kita untuk memuliakan NamaNya.


Segelap apapun dunia ini, sekacau apapun kelakuan dan moral manusia di masa-masa ini, semenakutkan apapun masa depan itu, namun percayalah, Kemuliaan dan Kehadian Tuhan akan tetap ada di antara kita. Seperti janjiNya, Dia akan senantiasa melindungi kita. Dia akan berjalan menyertai kita, Dia tidak akan membiarkan kita, dan tidak akan meninggalkan kita.

Wednesday, September 23, 2020

Fanfic - Secuplik Stranger ala Saya

Wooohooo…. Ternyata “Challenge 30 Days with Koriya” sudah memasuki finale, sodara-sodara! Tinggal dua topik lagi, maka selesai sudah tantangan grup Drakor dan Literasi kali ini. Dan Topik ke-29 adalah “Fanfiction untuk ending drama yang dirasa agak menggantung”.

Sungguh merupakan suatu tantangan berat. Kenapa why? Karena because banyak alasan. Pertama, aku tidak bisa menulis fiksi, apakah itu cerpen, cerbung, cergam, dan segala cer lainnya. Imajinasi secukupnya, lebih terbiasa dengan visualisasi. Mungkin karena aku bukan tukang cerita yang baik dan benar ya, aku lebih cenderung menjadi pendengar. Soalnya kalau aku cerita, pasti terlalu deskriptif, sibuk menerangkan detail. Padahal pencerita mestinya bisa menyediakan ruang bagi pembacanya untuk ikut bermain.  

Kedua, aku jarang berimajinasi melanjutkan kisah-kisah drakor yang kutonton. Aku menerima mereka apa adanya hahaha Semua cerita dan karakter diterima dimaklumi dan dicoba untuk dinikmati, kecuali kalau para leadnya bermain kurang chemistry. Kalau sudah cerita no chemi… ke-bash-keun saja lah. 


Di antara momen yang sangat jarang terjadi itu, ada satu drama yang bikin aku geregetan gemas dan rasanya pengen ambil alih cerita dari writernim saat itu juga. Ok lebay. 


Drama yang kumaksud adalah Stranger (2017), yang mengisahkan perjuangan seorang jaksa, Hwang Shi Mok, dan seorang polisi wanita, Lt. Han Yeo Jin, dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Shi Mok yang tidak mampu mengekspresikan emosi secara wajar sebagai efek samping dari operasi yang dijalaninya ketika masih kecil, dan Lt. Han yang ekspresif. 


Shi Mok memiliki reaksi dan bahasa tubuh yang berbeda terhadap Lt. Han dibanding dengan orang-orang lain. Sebagaimana kisah-kisah di romcom kegemaran, aku bisa membayangkan hal itu datang dari rasa nyaman dan aman yang dirasakannya ketika bersama-sama dengan Lt. Han. 


Sampai ada satu adegan yang paling bikin gemas. Seandainya drama Stranger bergenre romance dan bukan crime, tentunya nasib sudah berkata lain. 


Peringatan : tulisan selanjutnya mengandung spoiler. 


Ceritanya pada episode ke sekian, seorang jaksa bernama Young Eun Soo ditemukan mati dengan luka akibat benda tajam di apartemen seorang saksi kunci. Malam sebelumnya, Lt. Han mengundang Eun Soo untuk datang ke apartemennya dan ikut bergabung dengan acara makan malam tim mereka. Eun Soo sebenarnya ingin sekali ikut bergabung dalam tim kerja yang diketuai oleh Shi Mok tersebut, namun apa daya, Shi Mok tak suka #apasih. 


Dari hasil penyelidikan tim ini, ternyata tersangka pembunuhnya adalah salah satu dari yang hadir di acara makan malam di apartemen Lt. Han itu. Dengan kerjasama seluruh pihak, mereka berhasil menangkap si tersangka. Namun dari hasil interogasi Shi Mok, ternyata bukan si tersangka itu pelakunya. Lt. Han tidak ikut dalam proses itu, sehingga dia tidak tahu bahwa ternyata bukan si tersangka itu yang membunuh Eun Soo. 


Malamnya, dalam perjalan pulang ke rumah, Shi Mok menelepon Lt. Han. Pembicaraan sekali itu sangat personal. Mulai dari Lt. Han yang membahas tentang keadaan si tersangka yang tampak tidak bahagia dan bercerai dengan istrinya sejak kejadian anaknya meninggal dalam kecelakaan bus. Lalu, Shi Mok bilang biasanya kalau ada sesuatu terjadi pada anak, maka orang tuanya bisa jadi akan saling membenci. Nampaknya pendapat itu datang dari pengalaman pribadi Shi Mok, soalnya ketika Lt. Han menanyakan lebih lanjut, Shi Mok tidak mau menjawabnya. 


Hal ini membuat Lt. Han membahas tentang operasi yang dialami Shi Mok dan kenapa Shi Mok tidak pernah menceritakannya. Lt. Han mengetahui penyakit Shi Mok dari dokter di RS ketika Shi Mok tiba-tiba ditemukan pingsan setelah proses autopsi Eun Soo. Kata Shi Mok, “Itu gak penting”. Tapi Lt. Han meminta kalau besok-besok sakitnya datang lagi, Shi Mok kasih tahu dia. Setidaknya dia bisa membawa Shi Mok ke rumah sakit. Dan Lt, Han cuman mau memastikan kalau malam itu Shi Mok tidak merasa sakit lagi.


Membiarkan semua kalimat Lt. Han menggantung, kemudian Shi Mok memberitahu bahwa bukan si tersangka yang membunuh Jaksa Eun Soo. Jadi Lt. Han tidak perlu merasa bersalah karena telah mengundang Eun Soo malam itu, karena itu tidak ada hubungannya. Aku yakin Shi Mok ingin memastikan Lt. Han bisa tidur tenang malam itu.  


Dan adegan itu berakhir dengan ucapan “Selamat tidur”.


Ih, gak terima!! Kebayang kan betapa personalnya pembicaraan itu. Itu udah maksimalnya Shi Mok mungkin membuka diri dan nampak rapuh di depan orang lain. Dan kelihatannya itu juga dilakukannya tanpa sadar. Sama juga dengan Lt. Han, yang biasanya tampil kuat tegas dan berani, namun malam itu bicara dengan Shi Mok dengan mata bengkak dan suara sedih. Masa’ diakhiri dengan ucapan “Selamat tidur” doang…. 


Sekali ini otakku melanjutkan sendiri adegan dengan cerita versi sendiri.


Sambil bertelepon, Shi Mok mengarahkan langkahnya ke rumah Lt. Han. Mereka terus bicara di telepon, dan ketika sampai di rumah Lt. Han, Shi Mok melihat wajah Lt. Han yang bengkak abis nangis. Kemudian mereka sama-sama menutup telepon, lalu Shi Mok menyampaikan kisah terakhir, bahwa si tersangka bukanlah pelaku pembunuhan Eun Soo, sehingga Lt. Han tidak perlu merasa bersalah. Lt. Han lalu menangis lega. Namanya Lt. Han ya… tentu saja langsung otomatis memeluk Shi Mok. Lega karena lepas dari rasa bersalah, dan lega karena Shi Mok baik-baik saja. 


Shi Mok yang tidak terbiasa menunjukkan emosi ini pun seperti biasa pasang tampang datar, namun tidak menghindar. Dengan gerakan kaku khas Shi Mok, kemudian ia menyentuh punggung Lt. Han untuk menenangkannya. Tidak menepuk-nepuk seperti yang biasa dilakukan di drama lain, karena Shi Mok masih pemula di bidang demonstrasi perasaan seperti ini.


Naah… kalau begitu adegannya, penonton jadi bisa tidur pulas malam ini. 

Wednesday, September 16, 2020

Hwang Shi Mok, Si Lempang Jaya -- Drama "Stranger" (2017)

Beberapa hari ini disibukkan dengan pekerjaan survei dan persiapan untuk proyek cukup membuat aku lupa dengan hal-hal lain. Semacam sok sibuk lah ceritanya…hehe  Persiapan pekerjaan memang selalu membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.Persiapan, mungkin lebih tepatnya penjajagan, yang kami lakukan ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan, apakah kami akan melanjutkan ke tahap selanjutnya, atau melepas kesempatan, atau menunda melangkah namun dengan risiko akan kehilangan kesempatan. Buat aku yang pada dasarnya adalah seorang peragu dan penakut, hal ini cukup menjadi beban pikiran selama beberapa hari terakhir. Aku merasa prosesorku kurang canggih untuk menganalisa semua data yang kudapatkan sehubungan dengan pekerjaan ini.

Saking jadi beban pikirannya, aku sampai tidak punya energi untuk menonton drama Korea “Stranger” (2017), yang mengisahkan kehidupan seorang jaksa bernama Hwang Shi Mok (Cho Seung Woo) dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Padahal, bagaikan orang pacaran yang baru jadian, aku lagi sayang-sayangnya dan kangen-kangennya sama uri Cho Seung Woo oppa yang jadi lead male di drama ini.


Poster Drama "Stranger" (2017) - sumber: IDNTimes

Hwang Shi Mok menderita sebuah penyakit dimana pendengarannya hipersensitif terhadap bunyi dengan frekuensi tertentu. Hal ini tidak hanya mengganggu kesehatan Hwang Shi Mok, tapi juga mempengaruhi kehidupan sosialnya. Shi Mok muda dianggap seperti psikopat, suka mengamuk dan memukul teman-teman di sekolah. Padahal itu dia lakukan karena tidak tahan akan sakit yang ditimbulkan ketika mendengarkan bunyi tertentu yang muncul saat itu. Akhirnya Shi Mok menjalani operasi untuk menyembuhkan penyakitnya. Efek samping dari operasi ini, Hwang Shi Mok kehilangan kemampuan untuk berempati dan bersosialisasi. 


Efek samping ini justru membuat Hwang Shi Mok mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang jaksa dengan baik. Shi Mok fokus hanya kepada fakta, pada kebenaran dan keadilan. Shi Mok tidak mengenal dan tidak mengerti apa itu basa-basi, sugar coating, spik spik nabi. Bukan berarti Shi Mok tidak mampu bernegosiasi. Namun dia melakukannya dengan perhitungan yang logis, berdasarkan fakta (as always), dan bukan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka atau untuk mengambil keuntungan. 


Ketika membongkar sebuah kasus yang diduga erat kaitannya dengan skandal korupsi di level pejabat-pejabat pemerintahan, Shi Mok bekerja sama dengan seorang letnan polisi wanita bernama Han Yeo Jin (Bae Doo Na). Shi Mok dan Lt. Han benar-benar tim yang kompak. Mereka memiliki cara pandang yang sama terhadap kebenaran dan keadilan. Mereka sama-sama pekerja keras, pintar, dan ahli di bidangnya masing-masing. Mereka berdua juga sama-sama ‘barang langka’ di tempat kerjanya masing-masing. Dan mereka berdua juga saling melengkapi. Hwang Shi Mok yang tidak peka ini bahkan tidak menyadari bahwa bahasa tubuhnya berbeda ketika berhadapan dengan Lt. Han. Sungguh, sebagai penonton, betapa aku sangat menahan diri untuk tidak menggigit layar laptop karena gemaasss dengan kelakuan Shi Mok yang gak sadar situasi ini.



Lt. Han dan Hwang Shi Mok - One True Couple (sumber: Dramabeans)


Karakter Hwang Shi Mok yang cool (beneran cool alias dingin) dan lempang jaya ini sungguh bikin aku kagum, gemas, penasaran, sampai kasmaran. Shi Mok tidak pernah basa-basi, tidak pernah merasa perlu memasang topeng bermuka dua dan bermulut manis. Tetapi jangan salah, sebagai seorang bawahan, Shi Mok sangat menghormati para atasannya. Dia melakukan semua perintah atasannya dan melaksanakan mandat dengan sebaik-baiknya, selama itu tidak menentang nilai-nilai kebenaran dan keadilan. 

Shi Mok bisa menyingkirkan semua hal yang menyangkut rasa, yang biasanya akan mendistorsi logika. Hal yang mungkin dianggap sebagai kekurangan dan telah membuat Shi Mok dijauhi bahkan dibenci banyak orang, justru membuat Shi Mok berhasil membongkar dan menyelesaikan banyak kasus kejahatan. Dia tidak peduli apakah dia punya teman atau tidak, apakah orang senang padanya atau tidak. Itu tidak penting. Justru dia menikmati kesendiriannya. “Kekurangan” itu membuat Shi Mok mampu menganalisa banyak hal yang diamatinya, karena dia tidak sibuk memikirkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kasus tersebut. 


Walaupun sepertinya hidup Shi Mok sepi dan menyedihkan, tetapi ada saatnya aku ingin bisa seperti Shi Mok. Apa adanya, tidak butuh menyenangkan siapapun atau menjaga-jaga perasaan siapapun, semua berdasarkan logika, mampu menganalisa data dan fakta dan menemukan korelasinya. Karena pada dasarnya, kebenaran itu membebaskan. 


Bukan hanya karakter yang diperankannya yang bikin aku jatuh cinta pada Cho Seung Woo, tetapi juga kemampuan aktingnya. Dari potongan-potongan behind the scene yang kutemukan di YouTube, dan juga interview pada beberapa talk show, Cho Seung Woo punya karakter yang rame dan ceria. Namun dia mampu memerankan Shi Mok yang tampangnya datar senantiasa. Mungkin setiap kali sutradara berteriak “CUT!”, maka Seung Woo langsung ngakak untuk melemaskan otot-otot wajahnya dan menyalurkan energi berlebih dalam tubuhnya. 


CUT!! Maka keluar lah aslinya (sumber: pinterest)

Buat aku yang pecandu romansa ini, kisah di drama “Stranger” ini menyuguhkan sebuah romansa dalam bentuk yang berbeda. Cho Seung Woo mampu menampilkan karakter seorang Shi Mok yang tidak sadar bahwa dia punya reaksi dan bahasa tubuh yang berbeda terhadap Lt. Han. Biasanya Shi Mok akan menghindar atau menepis atau menunjukkan tidak suka bila disentuh orang lain, tetapi hal ini tidak berlaku dengan Lt. Han. Bahkan dia membalas ajakan fist bump dari Lt. Han. Bagaimana Shi Mok menelepon Lt. Han untuk menyampaikan apa penyebab kolega mereka dibunuh dan itu bukan karena Lt. Han, sehingga dia tidak perlu merasa bersalah. 


Hwang Shi Mok's First Smile... Uwuwuwuuu (sumber: Dramabeans)


Kalau di drama romcom biasanya puncaknya adalah first kiss, maka di drama ini, puncaknya adalah “first smile”. Dan senyum Hwang Shi Mok yang sungguh langka itu bisa terjadi oleh karena seorang Lt. Han. Gemasss!!


Sunday, September 13, 2020

Balada Lontong Sayur

Salah satu makanan khas Medan yang menjadi favoritku adalah lontong sayur. Sajian ini sering menjadi menu istimewa di setiap Hari Raya, baik Lebaran, maupun Natal atau Tahun Baru. Yang namanya “sajian istimewa” biasanya hanya kita temui di hari-hari tertentu. Judulnya saja istimewa. Tapi tidak halnya dengan menu yang satu ini. Di Medan, sajian lontong sayur ini biasa dinikmati sehari-hari sebagai sarapan pagi. Selain lontong sayur, lapak yang sama biasanya akan menyediakan nasi gurih dan nasi putih beserta lauknya, seperti telur balado, telur dadar, ayam dan ikan goreng. Ada juga menu khas lain, yang kalau di Jakarta biasanya jadi cemilan, tapi di Medan menjadi menu sarapan pagi, yaitu lupis dan cenil berbalur kelapa parut dan siraman gula merah yang kental, dan ketan pisang goreng. Mungkin karena orang Medan doyan sekali makan menu yang satu ini, sekarang semakin banyak pedagang makanan yang menyediakan lontong sayur dan berbagai menu sarapan tadi pada malam hari. Sebutannya, Lontong Malam. Seru gak tuh… breakfast for dinner!

Di segala penjuru kota Medan, lapak-lapak pedagang lontong sayur ini gampang kita temukan. Kalau istilah orang Medan, “berserak”. Di sekitar rumahku saja, dalam radius 200 meter, ada setidaknya tiga lapak pedagang lontong sayur. Satu di seberang Lapangan Gajah Mada, satu di Jl. Sei Mencirim, satu lagi di dalam Pasar Peringgan. Bergeser sedikit lagi, minimal ada dua lapak lontong sayur lagi yang akan kita temukan. Sebenar-benarnya “berserak”.

Yang khas dari lontong sayur ala Medan ini adalah rasanya yang begitu kaya. Biasanya menu ini terdiri dari lontong (tentu saja) yang terbuat dari beras, kuah lodeh yang bersantan, bihun goreng, teri kacang, keripik kentang, serundeng, tauco, dan kadang-kadang ditambah dengan bumbu rendang. Sering juga ditambah dengan lauk berupa telur balado, perkedel kentang, ayam goreng, atau rendang. Kolaborasi berbagai bahan tadi lah yang membuat lontong sayur Medan menjadi lebih gurih dan lebih sedap dibandingkan lontong sayur daerah lainnya. 


Ada banyak sekali lapak lontong sayur yang terkenal di Medan, dan sering menjadi rekomendasi berbagai situs kuliner. Antara lain Lontong Kak Lin (update terakhir, sejak pandemi warung ini tidak dagang lagi), Lontong Bang Iwan, dan Lontong Warintek, Semua sudah pernah kucoba. Namun yang menjadi favoritku adalah Lontong Nenek, yang lapaknya di Pasar Peringgan, Kuahnya tidak terlalu kental, campurannya tidak terlalu banyak, jadi rasanya tidak terlalu ‘heboh’ namun tetap gurih dan khas. 


Selama merantau di ibukota, praktis aku tidak pernah lagi sarapan lontong sayur. Menu ini menjadi benar-benar istimewa buatku. Selama sembilan bulan terakhir, aku menikmati menu kesukaan ini hanya tiga kali. Beberapa kali aku melihat-lihat di menu GoFood, kira-kira dimana lapak lontong sayur Medan. Ternyata letaknya jauh dari kostku, dan kalaupun ada, fotonya tidak terlihat meyakinkan. 


Hari ini, setelah kebaktian online dan beberes kamar, aku keluar rumah untuk belanja beberapa kebutuhan seperti telur, roti, dan sabun cuci piring. Rencananya juga mau singgah di apotek untuk membeli vitamin. Ketika menuju apotek, aku memperhatikan sebuah restoran kecil bernama "Food Court Benhil 701" dengan spanduk besar di depannya “MASAKAN KHAS MELAYU DELI. SEDIA LONTONG SAYUR MEDAN, NASI SOTO AYAM, LUPIS, MIE REBUS”. 


Langkahku terhenti. Dengan mata berbinar, rasanya bahagia sekali membacanya. Siapa sangka, ternyata tidak jauh dari kost, ada yang jual lontong sayur Medan. Kebetulan tadi siang aku hanya memakan beberapa potong brownies, masih terhitung sarapan. Dengan langkah semangat aku masuk ke restoran tadi untuk makan siang. Wah, mereka memang menyediakan berbagai masakan khas Medan. Sungguh ingin aku pesan semuanya! Tapi akhirnya kupilih satu menu yang memang sudah lama aku idamkan, lontong sayur.



Lontong Sayur Idaman (dok.pribadi)


Rasanya sungguh tidak mengecewakan. Benar-benar lontong sayur Medan lengkap dengan aksesorisnya. Aku menikmati suap demi suap dengan penuh penghayatan, sampai habis tak bersisa. Nikmat tak terkata. Seperti pepatah Batak, “Tombus do na mangaranto i!”