Sunday, November 29, 2020

Presentasi di Masa Pandemi

Semasa sekolah, aku bukan murid yang pemalu juga, tetapi aku juga bukan si banci tampil yang selalu ada di setiap event sekolahan. Yaa... cukup cukup saja lah. Ada tapi bukan pemain utama. 

Kalau urusan presentasi, lain lagi kisahnya. Aku ingat waktu SMP ada tugas menirukan iklan (coba ya… entah apalah target pembelajaran sehingga kami harus menirukan iklan). Sungguh kugagal melakukannya. Padahal tiap hari juga ada iklan di tv, ya kan. Diminta menirukan satu saja, aku kagok luar biasa. 

Masih ingat juga ketika SMA ada tugas kelompok untuk mempresentasikan suatu negara. Kelompokku mendapatkan tugas untuk negara Afrika. Dalam satu kelompok ada lima orang, ada yang presentasi bagian ekonominya, budayanya, dan aku lupa aku bagian apanya. Ketika berdiri di depan, aku ingat sekali tanganku pucat pasi dan mendingin. Kalau kuingat-ingat lagi, presentasinya pun benar-benar seadanya. Lebih mirip bercerita, atau menerangkan kembali. Tapi yang kuingat ya itu, groginya seubun-ubun. 


Ketika di kampus, gaya presentasi sudah berbeda. Di sini lah pertama kali aku mengenal Power Point. Tetapi presentasi kami tidak banyak. Itu pun kebanyakan di depan asisten dosen, paling banyak 3 orang.  


Kalau soal bicara di depan orang banyak, di kampus lah aku belajar melakukannya. Aku samakan saja lah dalam hal ini soal public speaking dan presentasi, karena intinya kita menyampaikan sesuatu di depan sebuah forum. 


Selama setahun dalam masa panjangku di kampus, aku menjadi salah satu pengurus PMK, yaitu seksi Intern. Seksi intern ini hampir setiap Jumat berdiri di depan untuk memberikan pengumuman. Harus kuakui, aku tidak memanfaatkan kesempatan belajar itu dengan baik, tetapi karena tugas itu, aku mulai bisa bicara di depan orang banyak. Ya.. masih grogi lah dikit. Grogi grogi jambu.


Ketika masuk ke dunia kerja, di situlah aku belajar presentasi yang sesungguhnya. Pekerjaan di LSM itu melibatkan banyak sekali stakeholder, sehingga kerap diadakan pertemuan, dan dalam tiap pertemuan, seringnya ada presentasi. Aku ingat sekali presentasi yang kulakukan pertama sekali adalah di depan para guru-guru SD.Ketika itu kami sedang mengerjakan proyek WASH yang didanai oleh UNICEF. Seorang staff UNICEF bernama Fiona mengajarkanku satu teknik presentasi, yaitu menggunakan keycard. 


Ketika kita presentasi, kita harus melihat pada peserta. Melakukan komunikasi dan kontak mata dengan mereka, sehingga kita bisa melihat reaksi mereka terhadap apa yang kita sampaikan. Buatku pantangan besar kalau kita semata-mata membaca apa yang tertulis pada slide. Kalau itu sih namanya bukan presentasi, tapi mari membaca bersama. 


Karena kita tidak melihat ke layar, maka kita membutuhkan keycard. Isinya adalah poin-poin penting yang mau kita sampaikan dari setiap slide. Satu tips, kartu harus dinomori sesuai nomor slide. Just incase kartunya jatuh dan berceceran, kita tetap bisa mengurutkannya sesuai slide.


Isi presentasi, gaya bahasa, dan diksi yang kita gunakan harus disesuaikan dengan peserta. Sekali itu aku sedang berhadapan dengan guru-guru SD. Hal yang paling mereka banggakan adalah murid-muridnya. Seminggu sebelum aku melakukan presentasi di depan guru-gurunya, aku presentasi di depan murid-murid mereka. Maka ketika itu aku menampilkan foto-foto dari hasil presentasi dimana murid-murid kelihatan antusias. Guru-gurunya bangga sekali ketika melihat foto anak muridnya terpampang besar-besar di layar. Untungnya aku punya foto dari setiap sekolah. Kalau nggak, ntar ada yang pundung


Kemampuanku presentasi dan public speaking berkembang selama bekerja di Aceh, seturut dengan banyaknya pertemuan-pertemuan yang kami lakukan. Setelah aku pindah ke Medan, aku hampir tidak pernah melakukan presentasi maupun public speaking. Kalaupun ada, hanya satu atau dua kali. Dan selama masa kerja di Jakarta ini, aku semakin tidak punya kesempatan untuk mengasah keterampilan ini.


Siapa sangka, justru masa pandemi ini yang membuka kesempatan aku untuk kembali berlatih. 


Flyer Acara Pertemuan Online Komunitas Hallyu oleh KCC Indonesia

Ketika itu, seorang teman sekelas di Drakor Class membagikan informasi tentang pertemuan online komunitas Hallyu yang diadakan oleh Korean Cultural Centre di Indonesia (kcc.id). ini adalah kesempatan Drakor Class untuk menunjukkan keberadaan kami, memperkenalkan DC, dan memperluas jaringan ke sesama komunitas Hallyu. Sungguh sayang sekali untuk dilewatkan. Walaupun waktunya sangat singkat, namun kami berhasil mendaftar dan menyelesaikan slide presentasi berisi profil singkat tentang Drakor Class. 


Oh iya, kk Risna membuat catatan tentang acara pertemuan online komunitas Hallyu ini. Ceritanya bisa dibaca di sini ya.


Acara berlangsung hari Sabtu pukul 14.30. Slide presentasi baru selesai pukul 10.30, lalu aku tinggalkan untuk difinalkan oleh teman-teman DC, karena aku harus ke kantor untuk bertemu seorang vendor. Untung tidak berlangsung lama, pukul 12.30 aku sudah ada di rumah lagi. Aku belum bisa juga menyiapkan diri untuk presentasi, karena setiap Sabtu siang adalah jadwal PA keluarga kami. Aku sudah berpesan bahwa aku akan ada acara zoom pukul 14.30, maka pukul 14.15 acara PA kami selesai, dan aku bisa bersiap sebentar untuk acara kcc.id.


Presentasi yang kulakukan di masa pandemi ini berbeda dengan yang biasanya kulakukan, karena dilakukan secara online. Kalau biasanya aku berhadapan langsung dengan peserta, kali ini tidak. Aku hanya melihat ke layar monitor. 


Berbeda dengan webinar atau meeting online, ketika kita melakukan presentasi, maka setiap orang atau peserta -- atau bahkan disetel oleh admin -- akan secara otomatis mematikan mic nya. Maka kita tidak akan mendengarkan suara apapun, kecuali suara kita sendiri. Bayangkan ketika melakukannya sendiri di kamar, di depan monitor. Apalagi ketika itu aku sedang menampilkan slide presentasi kami, jadi aku tidak bisa melihat peserta. Gamang! Aku bahkan sempat agak lost di tengah-tengah presentasi. Aku tahu orang-orang pasti sedang melihat ke slide presentasi, tapi karena faktor kebiasaan, maka aku berbicara sambil melihat ke kamera hahaha Padahal mungkin tidak ada efeknya, aku tidak bisa melakukan kontak mata juga dengan peserta. 


Sebagai evaluasi, ada beberapa hal yang tidak kusampaikan dalam acara tersebut, padahal sudah kusiapkan pada catatanku. Namun kata kak Risna, yang juga ikut dalam pertemuan itu, presentasiku sudah baik, mengingat aku tidak punya waktu untuk bersiap, kecuali sepanjang acara sambil menunggu giliran. 


Aku senang sekali karena kami berhasil memanfaatkan momen pertemuan itu untuk memperkenalkan Drakor Class. Dan kelihatannya usaha kami cukup berhasil, karena MC dari kcc.id memberikan komentar di akhir presentasi kami, bahwa ternyata ada komunitas seperti Drakor Class. Kelihatannya mereka cukup terkesan dengan apa yang kami lakukan. Mudah-mudahan saja hal ini membuka peluang untuk bekerjasama. 


Di akhir acara, presentasi kami dari Drakor Class mendapatkan hadiah sebagai salah satu presentasi terbaik. YAY! Rasanya tidak sia-sia kami tektok-an sepanjang pagi untuk menyusun lima lembar slide tersebut, mulai dari kerangka isi sampai finalisasinya. Selain itu, kami bisa pakai slide tersebut apabila ada acara lain yang sejenis.


Seru juga ternyata pengalaman melakukan presentasi secara online. Semoga saja apabila ada kesempatan lagi, aku sudah bisa mempersiapkan diri dan melakukannya dengan lebih baik. 



Sunday, November 15, 2020

Review Film "The Mirror Has Two Faces" (1996)

Film ini dirilis tahun 1996. Film bergenre komedi romantis, yang dibintangi oleh Barbra Streisand dan Jeff Bridges. Selain menjadi pemeran utama, Barbra Streisand juga menjadi produser dan sutradara dari film ini. Jelas Streisand bukan yang pertama melakukan hal seperti ini. Tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana sebagai pemain, utama pulak, juga harus menjadi sutradara. Dengan kata lain, dia harus mendalami setiap peran, ya gak sih? Hebat euy!

Aku lupa kapan pertama sekali aku menonton film ini. Tapi yang jelas, beberapa hari yang lalu aku baru saja menontonnya untuk ke-387 kalinya. Tentu lebay, tapi itu lah saking seringnya aku menonton film ini. 

Kenapa aku sampai nonton berkali-kali? Padahal endingnya kan udah tahu ya… Mungkin karena aku sejatinya seorang romance junkie hihi Film-film romance, apalagi romance comedy, selalu membuat hatiku bahagia. Meskipun kedua pemeran utamanya tidak selalu berakhir bersama, setidaknya mereka akan menyelesaikannya baik-baik, tidak bermusuhan, tidak ada prahara yang tak berkesudahan. Pokoknya bahagia. Selain itu, memang aku bukan fansnya Barbra Streisand. Namun, secara ada Jeff Bridges dan Pierce Brosnan, well… tentu saja film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, bukan? 


Satu lagi yang bikin suka banget dengan film ini adalah soundtracknya, yang menjadi lagu penutup, yaitu “I Foundly Found Someone” yang dinyanyikan duet oleh Bryan Adams dan Barbra Streisand.


Kembali ke film tadi.



Poster "The Mirror Has Two Faces" (sumber: Amazon)


Film ini mengisahkan tentang Rose Morgan (Barbra Streisand), seorang profesor English Literature di Universitas Columbia. Rose hidup berdua dengan ibunya, Hannah (Lauren Baccal), mantan artis yang cantik namun reseh. Rose mempunyai seorang saudara perempuan, Claire (Mimi Rogers) yang juga cantik.


Hidup dikelilingi orang-orang cantik, Rose selalu merasa dirinya tidak cantik dan tidak istimewa. Pernah suatu kali Rose jatuh cinta dengan seorang pria bernama Alex (Pierce Brosnan). Namun ketika Rose mengenalkan Alex kepada Claire, Alex malah jatuh cinta kepada Claire, lalu mereka menikah. Padahal Rose sebenarnya memiliki banyak kualitas yang istimewa. Rose adalah dosen favorit, kelasnya selalu penuh berisi. Para mahasiswa bahkan rela duduk atau berdiri di tangga, demi ikut mendengarkan kuliahnya. 


Gregory Larkin juga seorang profesor di Universitas Columbia. Ia adalah seorang dosen Matematika yang sangat pintar, namun mendadak bodoh dan lemah hati kalau urusan wanita. Gregory sering sekali dikecewakan dan ditinggalkan oleh wanita-wanita yang hanya menggunakannya untuk kepuasan fisik mereka semata. Gregory sangat ingin memiliki pasangan untuk berbagi hidup. Akhirnya Gregory memasang iklan untuk menemukan pasangan, yang bunyinya kira-kira: “Seorang pria, profesor di Universitas Columbia, mencari seorang wanita yang punya kesamaan minat dan berniat untuk menjalin hubungan. Harus memiliki gelar PhD, dan berusia lebih dari tiga puluh lima tahun. Penampilan fisik TIDAK PENTING!” 


Claire mengirimkan biodata Rose untuk menjawab iklan itu, dan Gregory tertarik. Singkat cerita, mereka bertemu dan menemukan banyak kecocokan. Gregory merasa nyaman karena bisa bicara tentang apa saja, bahkan tentang matematika, dengan Rose. Rose mengajarkannya banyak hal, termasuk bagaimana metoda mengajar yang baik, supaya mahasiswa tidak bosan dan mengantuk di kelas. Gregory merasa Rose lah yang dia cari. Dimana hubungan tidak berdasarkan kebutuhan fisik semata -- bahkan hubungan fisik tidak pernah terjadi di antara mereka-- namun karena kecocokan intelektual. Merasa telah menemukan pasangan yang dia cari-cari selama ini. Gregory pun melamar Rose, dan Rose menerimanya.


Gregory tidak tahu, bahwa sebenarnya Rose membutuhkan hubungan fisik itu. Rose adalah sosok yang mencintai romantisme dengan segala “huru-hara”nya. Gregory terlalu sibuk dengan keyakinannya bahwa hubungan fisik akan merusakkan semua kecocokan yang mereka miliki, seperti yang terjadi pada hubungannya sebelumnya. Gregory sibuk membentengi dirinya dari segala daya tarik fisik dan seksual, yang malah membuat Rose sedih dan patah hati. Padahal, sebenarnya tanpa sadar Gregory telah menunjukkan perhatian tulus kepada Rose. Gregory memperhatikan dan mengingat setiap detil kebiasaan Rose, dan hal itu membuat Rose jatuh cinta padanya. Karena suatu kesalahpahaman, Rose menyerah dari hubungan mereka, lalu pulang ke rumah ibunya. 


Rose merasa perasaan rendah dirinya, merasa diri buruk rupa, timbul akibat apa kata-kata yang dilontarkan ibunya kepadanya sejak dia kecil. Suatu pagi, setelah malamnya Rose kembali ke rumah Hannah akibat suatu kesalahpahaman dengan Gregory, suaminya, Hannah dan Rose akhirnya bicara hati ke hati.  Hannah minta maaf pada Rose, dan berkata, “Tidak ada orang tua yang dengan sengaja menyakiti hati anak-anaknya”. Aawww….. #terharu


Setelah sesi hati ke hati ibu-anak, Rose seperti mendapatkan kepercayaan diri. Rose mulai membenahi dirinya. Rajin berolahraga, makan makanan sehat, dan mempercantik diri. Kebetulan selama tiga bulan itu Gregory mendapatkan kesempatan menjadi dosen tamu di Eropa, sehingga selama itu pula mereka tidak bertemu. 


Selama tiga bulan itu, Gregory terus memikirkan Rose. Sayangnya Rose tidak mau menjawab satupun telepon atau pesan dari Gregory. Gregory tidak tahan dan akhirnya pulang lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Ketika menemukan Rose yang ‘baru’, Gregory merasa shock, dan merasa ‘tertipu’. Namun Rose membalikkan kata-katanya, “Kalau penampilan fisik tidak penting, jadi apa bedanya kalau aku menjadi cantik?”


Ditinggalkan oleh Rose, awalnya Gregory santai saja. Bahkan dia merasa ini kisah bersama Rose yang kemudian berakhir ini bisa dijadikan bahan studi untuk buku terbarunya. Namun, itu tak bertahan lama. Gregory jadi uring-uringan dan emosional. Untuk pertama kalinya, Gregory menyadari dan mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Rose.


sumber: Pinterest/Mematic.net


Lalu bagaimana akhir dari kisah ini? Apakah Rose bersedia menerima Gregory kembali? Mungkin kita sudah bisa menebak ya, karena seperti kusampaikan di awal tadi, romcom sejatinya berakhir bahagia. 


Ketika menuliskan ini, aku jadi kepikiran. Kenapa judulnya “Mirror Has Two Faces” ya? Hmm.. mungkin harus nonton lagi untuk ke-388 kalinya.


Buat kamu yang suka kisah-kisah cinta berhujankan rindu bernafaskan asmara, capcuss langsung ke Netflix. Mumpung filmnya masih tayang.

Friday, November 13, 2020

Cerita dari IG Live Drakor Class ke-2

Holla!

Hari ini adalah hari Jumat yang panjang, hari yang diisi dengan (sok) banyak kesibukan. Padahal sebetulnya biasa-biasanya, cuman emang akunya yang apa-apa selalu banyak persiapan yang antahapaja. Anehnya, sudah begitu, aku punya kebiasaan bersiap di detik-detik terakhir atau mepet dengan waktu. Masih penganut “the power of deadline” hehe

Event yang paling besar dan paling istimewa hari ini adalah acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul”nya Drakor Class. Kali ini aku kembali menjadi host, dan yang jadi classmate alias narasumber adalah Rani dan Litha. Tema kali ini adalah “Drakor dan Penulis Buku Antologi”, dan baik Rani maupun Litha telah menjadi kontributor pada beberapa antologi. Beberapa??? Oh maaf… itu namanya underestimate, apalagi buat aku yang menulis saja masih sulit. Rani sudah punya enam antologi, dan Litha empat belas. Itu yang sudah diterbitkan lho ya… belum lagi yang masih proses terbit. 


Poster Acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" (sumber: www.drakorclass.com)

Seperti biasa, kami melakukan rehearsal sehari sebelum acara. Hari Kamis siang, kami bertiga bersama dua orang ‘penasihat’, yaitu kak Risna dan Lendy, melakukan latihan untuk acara tersebut melalui WA Video Call. Sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang kurang lebih seputaran tema: sejak kapan menulis, sejak kapan nonton drakor, apa efek drakor bagi seorang penulis, dan saran bagi para pemirsa. 

Ketika rehearsal, kami banyak mendapatkan kritik dan saran dari para penasihat (gomawo uri beloved classmates). Tadinya aku lebih fokus pada proses pembuatan antologi itu sendiri, namun setelah mendapatkan masukan, akhirnya proses itu tetap dibahas, namun porsinya diperkecil. Kita lebih banyak cerita tentang ide penulisan, tentang antologi yang sudah diterbitkan, dan proses penulisannya. Dan akhirnya latihan pun selesailah dengan bahagia dan kelelahan (buatku). Kaya’nya waktu itu aku belum makan, atau sarapannya telat sehingga tadinya belum lapar, namun seiring waktu jadinya kelaparan hihihi

Terus terang setelah rehearsal, aku agak galau membayangkan bagaimana nanti jalannya acara, karena kedua classmateku ini punya karakter yang berbeda. Rani lebih pendiam, sehingga aku harus lebih aktif bertanya dan mengarahkan pembicaraan. Litha lebih talkative, sehingga aku… harus mengerem diriku supaya tidak terjerumus lalu mengubah tema acara menjadi bucin united hahahaha

Namun ternyata, pada hari H, kegalauanku tak beralasan. Mungkin karena kami sudah rehearsal, ketika kami ON AIR, Rani menjadi lebih santai dan cair. Aku tidak repot-repot mengarahkan apapun, kami bisa mengobrol dengan enak seputaran penulisan antologi. Bahkan kalau kuingat-ingat, ada beberapa hal yang kami bahas ketika rehearsal, tapi tidak disinggung pada pelaksanaan; demikian pula sebaliknya, ada hal-hal baru yang baru disebutkan ketika acara berjalan. Dan thanks to teman-teman DC, mereka aktif sekali memberikan pertanyaan, sehingga host pelupa ini tidak kehabisan bahan hahaha Gomawo, gaeess…. #kecup_atu-atu

Ketika sesi ngobrol dengan Rani selesai, aku melirik waktu sudah pukul satu siang lewat beberapa menit. Hmm… kalau dengan Rani saja waktu setengah jam bisa berlalu begitu cepat, apa kabar nih dengan Litha? Padahal harus ada bagian penutup pula lagi, belum lagi kesan dan pesan. 

Ternyata semesta berbicara. Ketika baru terhubung beberapa menit dengan Rani… eh Litha (waktu latihan kebolak balik sejuta kali, untung waktu ON AIR cuman satu kali kejadian hihihi), tiba-tiba koneksi internetku “batuk”. Toeengg… offline! Aku buru-buru mengecek WiFi, dan syukurlah lampu indikatornya biru, bukan merah. Berarti tadi ada si komo lewat. Ternyata ‘sengsara’ membawa nikmat. Karena gangguan teknis beberapa menit itu, waktu ‘manggung’ jadi reset lagi menjadi maksimum 1 jam. YAY!

Tentu saja sesi kedua itu tidak sampai 1 jam. Namun, kami jadi lebih leluasa untuk mengobrol, dan menyampaikan pesan, tips dan saran, serta menyampaikan bagian penutup. Leluasa dalam arti aku terhindarkan dari ancaman berkeringat jagung sambil menatap nanar pada stopwatch dan hitungan mundur di layar IG Live hiahahahaa

Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung dapat kesempatan menjadi host dalam acara ini. Banyak sekali hal yang kudapatkan, selain pengalaman menjadi host tentunya. Aku belajar banyak hal dari Rani dan Litha. Aku belajar dari bagaimana mereka sangat mencintai dunia menulis, dan ketika kita menyukai dan mencintai sesuatu, kita pasti akan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu itu. Bukan masalah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukannya, tetapi kualitas ketika kita melakukannya, yang akan menjadi sumber penyemangat, mood booster, yang luar biasa. 

Masih banyak hal lain yang aku pelajari dari kedua classmateku nan jagoan ini. Lengkapnya akan aku tuliskan di blog Drakor Class ya. Namun hal yang terpenting yang kupelajari adalah “lakukan saja”. Tidak perlu terlalu jauh berpikir; apakah orang suka membacanya, apakah nanti begini atau begitu. Tetap saja konsisten menulis, dan yang terpenting harus diniatkan. Karena menulis sesungguh-sungguhnya adalah apresiasi bagi diri sendiri.

Update: Tulisan tentang acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" episode "Drakor dan Penulis Buku Antologi" ini bisa dibaca blog Drakor Class: IG Live Drakor Class Eps. 2


Tuesday, November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Wednesday, November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me

Tuesday, November 3, 2020

Halu itu Pilihan

Hello, November! 

Haha… telat ya, harusnya kemarin bilang “Hello!”nya. Tapi karena kemarin sudah posting untuk blog Drakor Class, maka gak bikin tulisan di blog sendiri lagi (gayaa... kaya' yang rajin aja...). 

Kemarin itu merupakan hari Minggu yang lumayan sibuk buatku. Dari pagi sudah mandi, karena mau ikut ibadah secara online, lalu melanjutkan menulis postingan untuk Drakor Class (DC), sorenya sepupuku "menculik" buat menemaninya jalan-jalan sore, dan malamnya sesi zoom dengan teman-teman DC. 

Seperti pernah kusebutkan, menulis untuk DC ini beda setelannya dengan menulis di blog sendiri. Menulis di blog keroyokan ini ada pressure tersendiri, karena ada nama bersama yang disandang. Setiap kali menulis, rasanya seperti menyusun skripsi. Mencari data sebanyak-banyaknya dan dari sumber terpercaya. “Membongkar” YouTube dan Wikipedia. Menonton drama dan episode yang menjadi topik bahasan berulang-ulang. Hasilnya, kemarin aku berhasil ‘menyetorkan’ tulisanku yang ketiga untuk DC. YAY! 


Tulisan pertama, aku membahas profile Cho Seung Woo. Feedback yang kudapat, isinya lebih lengkap dari Wikipedia! Aku tersenyum senang sekaligus meringis. Senyum karena aku tahu, iya, memang lebih lengkap dari halaman Cho Seung Woo di Wikipedia. Karena aku menggunakannya sebagai salah satu sumber, maka aku sampai hampir hafal isinya. Meringis karena hmm… pengennya menulis sesuatu yang santai dan damai, tapi karena isinya data semua, jadilah skripsi mode ON. 


Sesungguhnya ada niat ‘terselubung’ di balik tulisanku yang lebih mirip biografi itu. Aku mau menunjukkan bahwa para selebritis Korea ini bukan sekadar wajah tampan, bahkan yang dioperasi plastik sekalipun. Well, semua orang tentu senang melihat wajah yang cantik dan tampan, penampilan yang menarik, tubuh yang proporsional, who doesn’t? 

Aku mau menunjukkan bahwa selain segala ketampanan dan cap "plastik" itu, mereka adalah pekerja keras. Totalitasnya tinggi, berprestasi, dan layak untuk dijadikan panutan. Tentu saja tidak semua. Selalu ada kekecualian. 


Niat itu juga sejalan dengan misi aku dan teman-temanku ketika kami membuat Drakor Class. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan bahwa dari hobi menonton drama Korea, kita bisa mendapatkan ilmu tentang banyak hal. Ilmu yang kami dapatkan inilah yang kemudian kami bagikan kepada orang lain dalam bentuk tulisan. 


Tulisanku kedua, lagi-lagi tentang profil aktor Korea. Kali ini aku menulis tentang Lee Jae Wook. Aktor baru, rookie istilahnya. Memulai debut di tahun 2018, dan sudah menuai prestasi. Walaupun sedapat mungkin aku menambahkan bumbu manis manja ala bucin, namun tetap saja, panjang dan penuh data. Itu juga karena jam terbang Lee Jae Wook juga belum tinggi, kalau tidak, mungkin "nasib"nya akan kurang lebih seperti Cho Seung Woo hahaha


Kalau dirimang-rimangi (bahasa Batak: direnung-renungkan), semua itu saling terkait. Aku ngefans dengan Lee Jae Wook karena kemampuan aktingnya, ketampanan, dan cute awkwardnessnya. Saat ini, aku sedang menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol” karena Lee Jae Wook pertama sekali menjadi pemeran utama di situ. 


Salah satu tokoh dalam drama itu adalah Goo Ra Ra, seorang pianis, yang sedang membangun kembali hidupnya dengan membuka kursus piano, sehingga dalam drama ini, musik klasik menjadi salah satu faktor penguat cerita. Dalam setiap episode, setidaknya kita akan disuguhi satu musik klasik.


Satu hal tentang drama Korea, mereka menyusun cerita dengan sangat detail. Hampir tidak ada unsur yang berdiri sendiri, biasanya selalu mengisyaratkan sesuatu. Aku, yang pada dasarnya memang penikmat musik, jadinya penasaran apa hubungan lagu-lagu klasik itu dengan jalan cerita drama tersebut.


Dari rasa penasaran itu, aku pun mencari tahu tentang beberapa lagu klasik yang dimainkan di drama itu. Ternyata banyak sekali cerita yang menarik dalam sejarah panjang lagu-lagu klasik tadi. Dari situ, aku pun menghasilkan tulisanku yang ketiga. Kalau tidak karena menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol”, aku rasa gak bakalan aku kenal dengan Martini dan lagu “Plaisir d’Amour”, atau Erik Satie dan lagu “Je Te Veux”. 


Ketika mengobrol lewat aplikasi zoom dengan teman-teman DC, sempat terbahas lagi tentang sentimen negatif tentang penggemar drama Korea. Ya…. sekali lagi menurutku itu masalah selera, sih. Aku tidak berhak mengomentari apa yang membuat orang lain bahagia, sebagaimana aku pun (sebenarnya) tidak perlu menjelaskan apa yang membuat aku bahagia. Yang penting, selama bahagia kita tidak terjadi di atas derita orang lain, maka kita semua akan baik-baik saja.


Memang dari beberapa segi, bisa saja menonton drama ini menjadi sumber dosa. Aku tidak akan masuk ke ranah itu, karena menurutku dosa adalah sesuatu yang sangat pribadi. Hanya kita dan Dia yang tahu.


Dunia ini penuh keberagaman, tinggal kita memilih yang mana yang layak dijadikan pilihan. Melalui tulisan-tulisanku di Drakor Class, aku sedang menceritakan pilihanku, bahwa ke"halu"an ini memiliki alasan.