Showing posts with label Review Drakor. Show all posts
Showing posts with label Review Drakor. Show all posts

August 31, 2020

Ahjussi Idola

Membahas tentang budaya Korea Selatan ini seakan tidak ada habisnya. Bukan aku tak cinta sama negara dan budaya sendiri. Indonesia tetap tanah air beta. Ini hanya masalah selera. Setiap kita suka akan sesuatu, pasti kita akan mengoprek mengulas mengupas tuntas sesuatu itu, yes no?


Pada postingan sebelumnya aku menulis tentang Kim Mi Kyung, ahjumma idola yang dijuluki The Empress oleh publik Korea Selatan. Tidak lengkap bahas ahjumma kalau belum bahas ahjussi juga. 


“Ahjussi” merupakan panggilan kekerabatan dalam bahasa Korea yang artinya paman atau Oom. Secara umum, ini adalah panggilan kepada laki-laki yang lebih tua, yang segenerasi dengan orangtua kita. Salah satu ahjussi yang menjadi favoritku dalam drama Korea adalah Son Hyun Joo


Ahjussi Idola, Son Hyun Joo - sumber: IDNtimes)

Pertama sekali aku menonton kemampuan akting ahjussi yang satu ini adalah ketika ia bermain dalam drama “Criminal Minds” (2017), yang merupakan remake dari serial tv Amerika yang berjudul sama. Dalam drama ini berperan sebagai Kang Ki Hyung, team leader dari sekelompok profiler di NCI (National Criminal Investigation). Walaupun Ki Hyung tampak dingin dan tanpa ekspresi, namun sesungguhnya ia sangat peduli pada setiap anggota tim yang dipimpinnya. Kalau dalam versi Amerikanya, Ki Hyung ini serupa Aaron Hotchner (Thomas Gibson). Berhubung aku sangat suka dengan “Criminal Minds” versi Amerika, maka sosok Aaron Hotchner cukup melekat di benakku. Dan menurutku, Son Hyun Joo berhasil memerankan karakter “Aaron Hotchner” dengan sangat baik.


Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Itaewon Class” (2020), dimana ia berperan sebagai Park Seung Yeol, ayah dari Park Sae Ro Yi (Park Seo Joon). Walaupun Park Seung Yeol hanya muncul dalam tiga episode, tapi karakter ini meninggalkan kesan yang cukup dalam sebagai ayah yang sangat mencintai keluarganya. Scene ketika Park Seo Ro Yi bertemu dengan ayahnya di dalam mimpi berhasil membuat aku menonton dengan layar laptop yang tampak kabur. 


Berperan sebagai ayah Park Seo Joon dalam drama "Itaewon Class" (2020)
sumber: idntimes


Sejak memulai debutnya di tahun 1990, Son Hyun Joo sudah bermain dalam lebih dari 50 judul film dan drama. Selain “Criminal Minds” (2017) dan Itaweon Class” (2020), Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Signal” (2016) dan “Justice” (2019). Diantara banyak film dan drama tersebut, dua yang paling dikenal dan menjadi hits, dimana Son Hyun Joo menjadi pemeran utama, adalah drama “The Chaser” (2012) dan film “Hide and Seek” (2013). “The Chaser” (2012) sendiri memenangkan dua penghargaan Grand Prize (Daesang) dalam dua ajang perfilman di Korea Selatan, dan Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik atas perannya dalam drama tersebut. 


Son Hyun Joo tidak hanya memenangkan berbagai penghargaan di tingkat nasional, namun juga di ajang perfilman internasional. Pada tahun 2017, Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik dalam 39th Moscow International Film Festival atas perannya dalam film “Ordinary Person” (2017). 


Poster drama "The Good Detective" (2020)
sumber: dailyasia.com


Drama terbarunya adalah “The Good Detective” (2020), dimana ia berperan sebagai Kang Do Chang, seorang polisi detektif senior. Dalam drama ini, sekali lagi Son Hyun Joo membuktikan kepiawaiannya berakting, memerankan Kang Do Chang yang menjadi panutan dan mentor bagi para detektif junior, walaupun secara pangkat, dia masih setara bahkan di bawah mereka. Kang Do Chang menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan integritas yang tinggi, dan memperlakukan setiap tersangka dengan baik. Falsafahnya “Hate the sin, not the sinners”.





Read more…

August 25, 2020

Misteri Pembunuhan Berantai -- Review Drama "Train" (2020)

Tema dunia paralel bukan hal yang baru di dunia perdrakoran. Tema dunia paralel ini sering disandingkan dengan tema time traveling. Menurutku ini sebenarnya dua hal yang berbeda. 

Time traveling artinya si tokoh “melompat” ke periode waktu yang berbeda, apakah ke masa lalu atau ke masa depan, namun pada “dunia” yang sama. Sementara dunia paralel mengisahkan dua (atau lebih) kehidupan yang berjalan bersamaan pada periode yang bersamaan juga. Jadi orang-orangnya sama, usia sama, nama sama, tetapi “dunia” nya berbeda. Kejadian, karakter, latar belakang, situasi, suasana, semua berbeda. Aku melihat “dunia paralel” ini seperti dunia alternatif dari kehidupan yang kita miliki saat ini, seperti pilihan berganda saja; plan A plan B dan plan C. 


Sebelumnya sudah ada beberapa drama yang juga menggunakan tema dunia paralel yang sama. Salah satunya, yang paling baru dan paling hits (walaupun ratingnya tidak hits #monmaap_para_bucin), adalah “The King: Eternal Monarch” (2020), yang merupakan drama pertama Lee Min Ho setelah selesai masa wajib militer. 


Drama “Train” (2020) ini adalah drama bertema dunia paralel pertama yang aku tonton lengkap seluruh episode mulai awal sampai final. Memang niat sih… Ceritanya sebagai usaha menyeimbangkan kebucinan dan ke-romance-junkie-an, maka aku memutuskan untuk menonton drama yang bergenre misteri-fantasi-thriller ini.


Poster Drama "Train" (2020) -- sumber: AsianWiki


Dikisahkan seorang detektif bernama Seo Do Won (Yoon Si Yoon) yang dikenal selalu berusaha keras memecahkan kasus-kasus yang ditugaskan kepadanya. Sekali ini, Do Won sedang memecahkan kasus pembunuhan berantai. Polisi menemukan empat jenazah yang sudah menjadi kerangka di lintasan kereta api di stasiun Mugyeong, yang sudah ditutup sejak tahun 2015. Kasus ini ternyata membuka kembali kasus pembunuhan, yang selama ini disangka Do Won pelakunya adalah ayahnya.  Namun karena ayahnya meninggal karena tabrak lari di malam yang sama dengan kejadian pembunuhan itu, maka polisi menganggap kasus itu selesai. 


Ketika menyelidiki kasus pembunuhan berantai tadi, Do Won menemukan beberapa keanehan. Misalnya, pada koper yang menjadi barang bukti, ditemukan sebuah selebaran undangan untuk menghadiri ibadah di sebuah gereja. Sementara gereja tersebut sudah tutup sejak tahun 2015. Lebih anehnya lagi, pendeta yang fotonya tercantum di selebaran tersebut, ketika dicari datanya, ternyata sudah meninggal karena sakit kanker. Padahal selebaran tersebut bertanggal beberapa hari yang lalu.  


Keanehan tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari kemudian polisi kembali menemukan jenazah dalam sebuah koper di lintasan kereta api stasiun Mugyeong. Dari penyelidikan, polisi menemukan identitas korban dan mengabarkan kejadian ini kepada nenek korban. Tidak disangka, beberapa hari kemudian, si korban datang ke kantor polisi, masih hidup dan segar bugar. Jadi siapa jenazah yang tersimpan di ruang otopsi itu?


Penyelidikan kasus ini telah membuat Do Won kehilangan Han Seo Kyung, wanita yang dicintainya. Han Seo Kyung sendiri adalah putri dari korban pembunuhan yang ditimpakan pada ayah Do Won. Seo Kyung menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh pelaku, ketika dia memergoki pelaku sedang membuang koper, yang berisi jenazah. Hal ini membuat Do Won semakin termotivasi untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. 


Pada suatu malam, Do Won menemukan sumber keanehan, yaitu sebuah dunia paralel. Pada saat yang sama, Do Won ‘paralel’ pun menemukan dunia Do Won. Jadi tanpa mereka sadari, mereka telah bertukar tempat. 


Di dunia paralel, Do Won menemukan bahwa orang-orang yang dikasihinya, yaitu ayahnya dan Han Seo Kyung, ternyata masih hidup. Kasus yang terkait dengan ayah Do Won juga terjadi di dunia itu. Ayahnya tetap dianggap sebagai pelaku kejahatan, dan telah menjalani hukuman di penjara. Namun di dalam dunia paralel itu, hubungan Do Won dan Han Seo Kyung bukanlah sebagai kekasih. Ini seperti versi lain dari kisah hidupnya, dan dia bertekad untuk tetap tinggal di dunia itu, agar tetap dapat bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya, walaupun dalam bentuk hubungan yang berbeda. Do Won berusaha memecahkan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di dunia asal nya, yang diduga pelaku berasal dari dunia paralel ini. Pada saat yang sama, Do Won berusaha melindungi Seo Kyung, sesuatu yang tidak mampu dilakukannya di dunia asalnya. 


Kisah ini cukup menarik, karena beberapa pemeran utamanya bisa dibilang memainkan dua tokoh; orang yang sama, namun memiliki karakter yang berbeda. Tidak sulit bagi kita untuk membedakan yang mana siapa, karena tampilan mereka dibuat berbeda. Gaya rambut, gaya berpakaian, sampai pada perbedaan sorot mata dan bahasa tubuh. Sekali lagi, aku dibuat kagum oleh penghayatan peran para oppa dan eonni Korea ini. 



Tokoh yang sama dengan karakter yang berbeda
sumber: koalasplayground.com

Memang pada kisah ini ada bagian yang ‘bolong’ di sana sini. Misalnya, tidak jelas dikisahkan bagaimana si pelaku awalnya menemukan ‘gerbang’ perpindahan dunia. Proses perpindahan dari satu dunia ke dunia lain ini juga tidak jelas, selain perpindahan itu bisa hanya terjadi apabila hujan, hanya pada malam hari sekitar pukul 9.30, dan hanya dengan menggunakan kereta nomor 8210 jurusan stasiun Mugyeong. Tidak jelas juga si pelaku ini datang dari dunia yang mana, karena pada bagian penutup episode akhir, dan juga pengakuan pelaku, mengesankan ada lebih dari dua dunia paralel yang dijalaninya. 

Secara keseluruhan kisah ini cukup menarik untuk ditonton. Karena drama ini bergenre thriller, tentu saja terdapat adegan kekerasan atau kekejaman, yang untungnya tidak terlalu banyak. Episode terakhir, yaitu episode 12, merupakan bagian yang paling krusial, dimana pada episode ini diceritakan apa yang sebenarnya terjadi, yang melatarbelakangi semua kisah yang kita saksikan sejak episode 1 sampai 11.  


Satu pesan moral yang bisa diambil dari drama ini adalah kita tidak bisa mengubah atau lari dari masa lalu kita. Meskipun kita diberi akses masuk ke dunia paralel, ternyata akhir kisahnya sama saja, yang berbeda hanya proses dan waktunya. Maka yang perlu kita lakukan adalah “move on”, melanjutkan hidup, mempersiapkan masa depan, menerima kenyataan dan bukan malah sibuk berusaha untuk mengubahnya.


Ada satu hal lagi yang membuat drama ini menarik sekaligus agak menyebalkan buatku. Menurut artikel yang kubaca, peran ini tadinya ditawarkan kepada Kim Jae Wook, tapi ditolak. Maka sepanjang menonton drama ini, sulit sekali bagi ku untuk tidak membayangkan apabila Jae Wook yang menjadi tokoh Seo Do Won… hiksss…  #bucin_halu


Siapakah sebenarnya pelaku kejahatan tersebut? Dan apa sebenarnya alasan melakukan pembunuhan berantai? Apakah Do Won bersatu kembali lagi dengan Seo Kyung? Sok atuh capcuss langsung tonton drama nya di Viu Premium.


Read more…

August 18, 2020

Review Drama "Was It Love?" (2020)

Dalam kehidupan ini, yang berlaku adalah hukum sebab akibat. Segala akibat ada karena sebab. Kamu masuk angin karena tidur telat. Kamu tidur telat karena nonton drakor yang lagi hits pisan sampai larut. Kamu maksa nonton drakor yang lagi hits pisan sampai larut karena gak mau kena ranjau spoiler setiap kali akses medsos. Kok nontonnya malam banget? Soalnya nulis dulu, kejar setoran di KLIP. Kok nulisnya malam banget? Karena tadi siang kerja. Kerja apa belanja online?? Hehehe

Demikianlah hampir segala aspek kehidupan kita terjadi seperti sebuah efek domino. One thing leads to another. Hal-hal yang kita lakukan saat ini sedikit banyak pastinya mempengaruhi keadaan di masa yang akan datang. Memang tidak mungkin kita sanggup memikirkan semua konsekuensi dari tindakan yang kita ambil. Tidak ada seorangpun yang bisa tahu apa yang terjadi lima menit bahkan lima detik ke depan, apalagi berbelas tahun. Namun tetap saja kita harus memikirkan baik-baik setiap tindakan yang kita pilih. 


Idealnya setiap pilihan kita pikirkan dengan tenang, dengan hati dan kepala yang dingin, sehingga kita bisa objektif menilai situasi. Kenyataannya tidak selalu kondisi ideal itu terjadi. Namun, yang paling bahaya adalah ketika kita  mengambil pilihan dan membuat keputusan berdasarkan sebuah asumsi. Seperti yang terjadi pada kisah drama Korea “Was It Love?” (2020)


Poster "Was It Love?" (2020) - sumber: AsianWiki



“Was It Love” mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal, Noh Ae-jung (Song Ji-hyo) membesarkan putri tunggalnya, Noh Ha-nee (Um Chae-young). Selama empat belas tahun, Noh Ae-jung melakukan semuanya sendiri, dia menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ha-nee. Segala pekerjaan dilakukannya, bekerja rangkap sana sini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, tanpa bantuan siapapun selain ibunya, Choi Hyang-ja (Kim Mi-kyung -- sang Ahjumma Idola). Noh Ae-jung tidak punya waktu untuk kehidupan pribadinya, apalagi urusan asmara. Hidupnya hanya untuk Ha-nee. 


Noh Ae-jung bekerja di sebuah perusahaan film yang berada di ambang kebangkrutan. Boss perusahaan tersebut pergi begitu saja meninggalkan perusahaan yang terlilit hutang. Rupanya boss yang jahat itu telah menjebak Noh Ae-jung, sehingga tanpa diketahuinya, Noh Ae-jung menandatangani persetujuan sebagai penjamin pinjaman perusahaan. Akibatnya Noh Ae-jung menjadi bulan-bulanan boss mafia ganteng, Koo Pa-do (Kim Min-joon). 


Dalam kekalutan, Noh Ae-jung menemukan sebuah kontrak hak produksi atas naskah yang merupakan karya perdana dari seorang penulis terkenal dengan nama pena Cheon Eok-man. Itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan. Untuk mewujudkannya, Noh Ae-jung harus berusaha super duper ekstra keras, karena Koo Pa-do menuntut film itu harus mesti wajib dibintangi oleh aktor ternama, Ryu Jin. 


Ternyata Cheon Eok-man, yang selama ini wajahnya tidak pernah dipublikasikan, adalah pria dari masa lalu Noh Ae-jung. Empat belas tahun lamanya mereka tidak bertemu. Nama asli penulis adalah Oh Dae-o (Son Hu-jun), dan dia adalah kekasih Noh Ae-jung selama di kampus dulu. 


Pertemuan itu membuka banyak kenangan lama. Oh Dae-o ternyata masih menyimpan tanda tanya besar kenapa dulu Noh Ae-jung meninggalkan dirinya. Noh Ae-jung pun masih menyimpan sakit hati terhadap Oh Dae-o. Semua itu terjadi karena asumsi mereka masing-masing terhadap kejadian-kejadian empat belas tahun yang lalu. 


Ketika kuliah, Oh Dae-o mengalami masalah keuangan dalam keluarga, sehingga ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya kuliahnya. Namun Oh Dae-o tidak menceritakan masalah ini kepada kekasihnya. Dia takut Noh Ae-jung akan meninggalkannya kalau tahu masalah yang sebenarnya.


Oh Dae-o terus bekerja keras mengumpulkan biaya hidup, sehingga tidak punya waktu dan perhatian lagi untuk Noh Ae-jung. Lama-lama Noh Ae-jung merasa Oh Dae-o semakin jauh, dan mereka semakin sering bertengkar. Noh Ae-jung merasa hubungan mereka semakin sulit dipertahankan. 


Suatu malam Noh Ae-jung datang ke apartemen Oh Dae-o, dan menyaksikan sesuatu yang membuat Noh Ae-jung sakit hati. Hal itu seakan menjadi puncak dari kebimbangan Noh Ae-jung terhadap hubungan mereka. Merasa hubungan mereka tidak bisa dipertahankan lagi, Noh Ae-jung pun pergi tanpa meminta penjelasan dari Oh Dae-o. 


Oh Dae-o tidak percaya ketika Noh Ae-jung benar-benar meninggalkannya. Dia tidak mengerti apa yang membuat Noh Ae-jung pergi tanpa meninggalkan pesan, tidak mau menerima telepon atau membalas pesan dari Oh Dae-o. Pertanyaan ini lah yang terus menghantuinya selama empat belas tahun.  


Selama di kampus, Oh Dae-o dan Noh Ae-jung bersahabat dengan seorang senior mereka, Ryu Jin. Ryu Jin yang sama, yang kemudian menjadi aktor terkenal, dan diminta untuk membintangi film yang diproduseri Noh Ae-jung. Mereka bertiga selalu bersama. Mereka bahkan membuat proyek bareng di kampus, dengan Noh Ae-jung sebagai produser, Oh Dae-o sebagai sutradara dan penulis cerita, dan Ryu Jin sebagai aktor. 


Ketika hubungan mereka bermasalah, baik Noh Ae-jung maupun Oh Dae-o menjadikan Ryu Jin sebagai tempat curhat. Namun, mereka tidak pernah tahu, sebenarnya Ryu Jin sudah sejak awal menyimpan perasaan kepada Noh Ae-jung. Dan kemudian, Ryu Jin turut memperkeruh kesalahpahaman di antara mereka, dengan harapan bisa merebut hati Noh Ae-jung. 


Proyek film empat belas tahun kemudian telah menjadi reuni, yang membuka banyak luka lama. Ternyata butuh empat belas tahun bagi mereka untuk akhirnya saling jujur dan terbuka menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, dan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Pertemuan itu menimbulkan harapan sekaligus ketakutan baru. Tidak hanya bagi mereka bertiga, tapi juga bagi Ha Nee, putri Noh Ae-jung. Ha Nee berusaha mencari tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya. 


Noh Ae-jung adalah sosok wanita pejuang, yang tidak kenal menyerah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Hal itulah yang disukai Oh Dae-o dari Noh Ae-jung. Noh Ae-jung adalah satu-satunya orang yang percaya akan kemampuan dan mimpi Oh Dae-o untuk menjadi penulis terkenal. Namun, Noh Ae-jung merasa cintanya pada Oh Dae-o berat sebelah, sehingga Noh Ae-jung lebih banyak merasa dikecewakan. Dua orang yang saling mencintai, namun karena terlalu banyak asumsi, menyimpan masalahnya sendiri, tidak mau berbagi, akhirnya saling menyakiti. 


Oh Dae-o berasumsi Noh Ae-jung akan meninggalkannya kalau tahu masalah keuangan yang dialaminya. Akibatnya, Oh Dae-o tampak sibuk sendiri. Noh Ae-jung merasa sedih karena terus dikecewakan, merasa Oh Dae-o tidak lagi memperhatikan dirinya. Puncaknya Noh Ae-jung berasumsi bahwa Oh Dae-o telah berselingkuh. Asumsi yang berefek panjang, yang membuat Noh Ae-jung mengambil tindakan, suatu pilihan yang kemudian mempengaruhi banyak orang. 


Pilihan Noh Ae-jung membuat Ha Nee tidak mengenal siapa ayah kandungnya. Sudah lama Ha Nee memutuskan untuk tidak lagi bertanya tentang ayahnya, karena setiap kali dia bertanya, ibunya menjadi sedih. Namun sebenarnya Ha Nee menyimpan kerinduan akan sosok seorang ayah. Karena tidak punya ayah, Ha Nee menjadi sasaran perundungan di sekolah. Ha Nee yang mewarisi watak keras dan pejuang dari ibunya tentu tidak tinggal diam dan membalas perlakuan jahat yang diterimanya. Akibatnya, Ha Nee kerap berpindah-pindah sekolah. 


Drama ini awalnya berjalan lambat. Cukup lama sampai aku akhirnya menikmati jalan cerita dan mulai penasaran akan kelanjutan kisahnya. Dari semua pemain, aku paling suka dengan kemampuan akting aktris cilik, Um Chae-young, pemeran Noh Ha-nee. Istimewanya lagi, drama ini “menyuguhkan” empat oppa tampan sekaligus, yang berusaha merebut hati Noh Ae-jung. Favoritku adalah boss mafia, Kim Min-joon oppa. Cakepnya matang puun euy.. hahaha


Parade Empat Oppa Tampan
Son Ho-jun, Song Jong-ho, Koo Ja-sung, dan favoritku, Kim Min-joon
(sumber: zero-lite.com)


Drama ini sarat dengan pesan moral. Mengisahkan cinta orang tua yang begitu besar kepada anaknya, yang akan melakukan apa saja untuk melindungi mereka. Mengingatkan kita untuk tetap berjuang dan tidak melepaskan mimpi-mimpi kita. Tentang asumsi yang berujung menyakiti. Tentang hidup yang harus berbagi, karena kita tidak harus sendiri. 


Bagaimana kelanjutan kisah ini? Apakah si tiga sekawan berhasil memproduksi film dan menyelamatkan perusahaan Noh Ae-jung dari kebangkrutan? Siapakah ayah kandung Noh Ha-nee? Siapa kah yang akhirnya berhasil merebut hati Noh Ae-jung? Saksikan penayangannya setiap hari Rabu dan Kamis pukul 21.00 di Netflix.


Read more…

August 15, 2020

Ahjumma Idola

Kekuatan dan keunggulan drama Korea terletak pada banyak hal. Mulai dari kreativitas penulis cerita yang seakan tanpa batas, totalitas para aktor dan aktris, teknologi sinematografi yang canggih, lokasi pengambilan di negara-negara eksotis (dengan mengangkut seluruh crew!), sampai marketing yang taktis dan strategis. 

Hal yang paling aku nikmati dari setiap drama Korea adalah jalan cerita dan setting yang mendetail, serta penghayatan para pemerannya. Artinya, bukan hanya para pemeran utama, namun para pemeran pembantu pun memegang peranan penting. Mereka benar-benar berfungsi sebagai ‘support’, bersinergi bersama para pemeran utama, membangun sebuah chemistry, sehingga berhasil menyajikan drama yang merasuk hingga ke hati.

Ada beberapa aktor dan aktris senior yang langganan menjadi pemeran pembantu dalam drama Korea. Walaupun bukan pemeran utama, namun kekuatan akting mereka sungguh meninggalkan kesan. Salah satu aktris senior yang paling sering muncul dan menjadi favoritku adalah Kim Mi Kyung. 


Kim Mi Kyung - Ahjumma Idola (sumber: AsianWiki)


Karier Kim Mi Kyung di dunia akting sudah dimulai sejak tahun 1985. Ketika itu, dan hingga saat ini, Kim Mi Kyung tergabung sebagai anggota aktif dari salah satu grup teater terbesar di Korea Selatan, Yeonwoo Mudae. Tidak heran kalau ia memiliki kemampuan akting yang mengesankan. 


Kim Mi Kyung adalah salah satu aktris senior Korea Selatan yang paling aktif. Ahjumma kelahiran tahun 1963 ini telah main dalam lebih dari lima puluh drama dan film dengan berbagai peran. Publik Korea Selatan menjulukinya “The Empress”. Mungkin julukan ini diberikan karena Mi Kyung paling sering berperan sebagai ibu dari pemeran utama. 


Sebagai ibu, Mi Kyung selalu tampil sangat natural. Ibu yang cerewet, suka rese’ dan kepo dengan kehidupan asmara anaknya, dan ibu yang sangat menyayangi keluarga. 


Pertama sekali aku menonton aktingnya adalah ketika Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Deok Mi di drama Her Private Life (2019). Ibu Deok Mi sangat menentang kegiatan Deok Mi sebagai fangirl, karena Deok Mi pernah sampai terluka dan patah tangannya ketika menonton konser idolanya. Ibu Deok Mi khawatir hobi Deok Mi ini akan membuat Deok Mi sulit mendapatkan pasangan. Laki-laki mana yang mau bersaing dengan KPop idol?


Deok Mi malah membalikkan ‘serangan’ ibunya, dengan menunjukkan fakta bahwa hobi fangirling nya ini didapatkannya secara genetik. Ibu Deok Mi punya kegemaran merajut, seluruh rumah mereka dipenuhi dengan hasil rajutan ibunya, dan semenjak kecil, ibunya selalu memakaikan baju-baju hasil rajutan pada Deok Mi. 


"Haduu haduu.... cakepnya calon mantu kuu..."
Ryan Gold dan ibu Deok Mi
(sumber: http://www.whatsupkpop.com)

Adegan yang paling berkesan adalah ketika ibu Deok Mi mengaku kepada Ryan (Kim Jae Wook) bahwa foto, poster, dan segala benda tentang Cha Si An, idola Deok Mi, yang ada di segala penjuru apartemen Deok Mi, adalah miliknya. Sementara, ibu nya bahkan tidak bisa menyebutkan nama si tokoh idola itu hahaha Hal itu dilakukannya semata-mata supaya Ryan tidak ilfil kepada Deok Mi. Betapa leganya si ibu ketika Ryan ternyata tidak keberatan, bahkan hobi itu membuatnya semakin cinta sama Deok Mi. Aaawww…. so sweet kali Ryan-oppa… #bucindetected


Tokoh lain yang diperankan Mi Kyung yang juga cukup berkesan adalah sebagai Mi Sook, ibu dari Kim Ji Young dalam film Korea “Kim Ji Young: Born 1982” (2019). Mi Sook sangat bangga kepada dua orang anak perempuannya dan selalu ada untuk mereka. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah hanya dengan mendengar suara putrinya di telepon. Adegan yang berkesan buatku adalah ketika Mi Sook marah sekali kepada suaminya, yang hanya memperhatikan anak laki-laki mereka yang bungsu. Buat Mi Sook, kedua putri mereka pun berhak atas perhatian yang sama besar dan sama istimewanya, apalagi ketika itu, Ji Young sedang menderita depresi. 


Mi Sook berusaha menenangkan Ji Young, putrinya
(sumber: besoksore.com)



Ada banyak lagi drama dan film dimana Kim Mi Kyung berperan sebagai ibu. Salah satunya adalah drama yang sedang tayang, “Was It Love?” (2020), dimana Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Noh Ae Jung. Aktingnya sebagai ibu tidak usah diragukan lagi. Semoga saja setelah ini Mi Kyung dapat kesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya memerankan karakter-karakter lain.

Read more…

August 12, 2020

Moon Sang-tae, The Beautiful Soul Oppa

“Jangan menangis, Gang-tae”, kata Sang-tae sambil memeluk adiknya yang sudah banjur air mata. Layar laptop mulai tampak kabur karena aku pun otomatis banjur air mata menonton cuplikan scene penutup dari drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” (2020). Drama tentang kisah cinta sepasang anak manusia dengan tumbuh besar dengan luka batin, Moon Gang-tae dan Ko Moon-young. 


Poster Drama Korea "It's Okay To Not Be Okay" (sumber: Kpop Chart)


Moon Gang-tae (Kim Soo-hyun) dibesarkan dengan kewajiban untuk menjaga dan melindungi kakak laki-lakinya, Moon Sang-tae (Oh Jung-se), yang menderita autis. Di usia yang masih sangat muda, Moon bersaudara telah kehilangan kedua orang tua mereka. Sejak saat itu, hidup Gang-tae hanya berpusat pada kakaknya. Seumur hidupnya dia harus mengalah dan mengesampingkan kebutuhan dan keinginannya, meredam, menyimpan, bahkan memalsukan emosi demi Sang-tae, yang sangat sensitif perasaannya.  

Ko Moon-young (Seo Yea-ji) adalah seorang penulis buku cerita anak-anak yang terkenal. Moon Sang-tae adalah penggemarnya. Moon-young mengalami trauma masa kecil. Dibesarkan di sebuah rumah besar bak istana, namun dingin tanpa cinta. Ketika dewasa, Moon-young menderita gangguan kepribadian anti sosial. Bertindak semaunya, dan punya kecintaan pada benda tajam. 

Drama ini tidak lepas dari ke-klise-an drama Korea. Gang-tae dan Moon-young adalah teman masa kecil. Moon-young adalah cinta pertama Gang-tae. Sejak kematian ibu mereka, Moon bersaudara pergi meninggalkan kampung halaman, dan tinggal berpindah-pindah kota. Sampai suatu saat, setelah mereka dewasa, Gang-tae dan Moon-young bertemu kembali. 

Kisah cinta mereka dipenuhi pengingkaran dan belenggu masa lalu. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi, saling memulihkan. Gang-tae menjadi peredam (safety pin) bagi Moon-young yang emosinya meledak-ledak. Moon-young menjadi pemicu bagi Gang-tae untuk mulai berani mengekspresikan perasaan yang selama ini diredamnya. 

Kisah cinta yang berakhir manis dan bahagia. Chemistry-nya, haduh… tingkat dewa! Pemuas jiwa si penggila romansa. Namun, buatku, bintang lapangan yang sesungguhnya adalah Moon Sang-tae, the beautiful soul oppa. 

Moon Bersaudara - Sang-tae dan Gang-tae (sumber: Soompi)

Penderita autis memiliki respon yang berbeda dibandingkan orang pada umumnya. Untuk rangsangan yang sama, bisa jadi mereka sangat sensitif, atau malah tidak responsif sama sekali. Sebagai seorang penderita autis, Moon Sang-tae harus belajar mengenali bentuk-bentuk emosi yang umum itu. Ia belajar mengenalinya dari mengingat bentuk raut wajah, seperti apa itu bahagia, marah, sedih, dan sebagainya, dimana salah satu keistimewaan penderita autis adalah mereka memiliki daya ingat yang kuat. 

Sang-tae sulit berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial, sehingga sejak kecil dia jadi korban perundungan. Sang-tae dipandang sebagai si lemah yang harus selalu dijaga dan dilindungi. Tapi dalam kisah ini, justru kita bisa belajar banyak dari seorang Sang-tae.

Sang-tae tidak mengenali emosi sama seperti orang pada umumnya. Buat Sang-tae, yang ada hanyalah salah atau benar. Bohong itu salah, dan jujur itu benar. Sang-tae sangat benci dengan kebohongan, dan karena itu ia selalu menyampaikan pendapatnya dengan jujur dan apa adanya. No sugarcoating. No “spik-spik nabi”. Sang-tae hanya akan menyajikan fakta, bukan rekayasa. 

Sang-tae tidak mau menjadi beban orang lain. Dia tidak suka kalau adiknya memperlakukannya seperti anak-anak. Sang-tae tahu dia adalah manusia dewasa, dan selalu berusaha untuk mandiri. Bepergian seorang diri, melakukan berbagai pekerjaan rumah, sampai mengumpulkan uang dengan cara bekerja. Sang-tae bercita-cita membeli sebuah mobil karavan, sehingga mereka tidak perlu repot-repot packing setiap kali harus pindah kota “untuk menghindari kupu-kupu”. Bukan sekedar cita-cita lho. Sang-tae bekerja dengan data, sehingga tahu persis berapa jumlah uang yang harus dikumpulkannya. 

Sang-tae adalah seorang profesional, dan dia mencintai pekerjaannya. Sang-tae terbuka menerima kritikan atas karyanya. Dia menerima apa yang menjadi kelemahannya, dan mau belajar untuk memperbaiki kelemahan tersebut, sehingga hasil karyanya pun menjadi lebih baik. Walaupun sulit, dia tidak mau meniru karya orang lain. “Kalau meniru, berarti itu bukan karyaku yang sesungguhnya” kata Sangtae.

Sang-tae dengan berani memutuskan untuk tidak lagi melarikan diri dari kenyataan. Ia berusaha melawan ketakutan dan menghadapi traumanya. Siapapun pasti sulit melakukannya, namun Sang-tae berani memaksa dirinya untuk menemukan ‘pintu’, dan keluar dari trauma masa lalunya.

Sang-tae tidak mengerti apa itu autis. Yang dia tahu dia adalah seorang kakak yang berkewajiban melindungi adiknya dan harus dapat diandalkan. Sang-tae sayang sekali pada Gang-tae, dan dia merasa adiknya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu mereka. Walaupun Gang-tae berusaha ‘menipu’ mata kakaknya dengan selalu menutupi perasaan dengan senyum, namun mata hati Sang-tae lebih tajam. Sang-tae tahu kalau jiwa sang adik sedang sakit.  

Sang-tae sempat terlihat egois, seakan-akan dia ingin menguasai Gang-tae. Bukan itu sebenarnya alasannya. Penderita autis sulit menerima perubahan, dan dia merasakan perubahan pada Gang-tae. Lebih marah lagi ketika Gang-tae menutupinya dengan kebohongan. Dia merasa ditinggalkan. Tapi, ketika melihat Gang-tae tersenyum dalam tidurnya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dia pun mengerti bahwa sang adik bahagia. Apa yang ditakutkan Sang-tae tidak terjadi. Dia tidak kehilangan adiknya, malahan mendapatkan satu ‘adik’ lagi, yaitu Moon-young. Mereka bertiga telah menjadi satu keluarga.

Keluarga ditandai dengan foto bersama (sumber: Kanal247)

Sang-tae menunjukkan cintanya yang tulus dengan sederhana. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar. Sang-tae membagi bonus yang diperolehnya sebagai uang jajan untuk Gang-tae dan Moon-young. Padahal mungkin untuk Gang-tae, apalagi Moon-young, jumlahnya sangat kecil. Ketika Moon-young tidak mau makan, Gang-tae datang membawakan makanan kesukaannya, kemudian membujuk, bahkan ‘memperdaya’ dan menyuapi Moon-young supaya mau makan. 

Sang-tae menghormati setiap bentuk kehidupan, menyayangi benda-benda. Dia mengucapkan salam kepada semua orang yang ditemuinya, bahkan kepada tumbuhan dan hewan. 

Cinta Sang-tae adalah cinta yang membebaskan. Sang-tae menghargai adiknya sebagai pribadi yang terpisah, sebagai pribadi yang dewasa. Sang-tae tahu adiknya tidak akan pernah sanggup melepaskannya. Karena itu, Sang-tae lah yang membebaskan Gang-tae dari beban tanggung jawab atas dirinya. Caranya dengan menunjukkan kepada adiknya bahwa dia mampu mandiri. Dia sudah punya pekerjaan dan sedang membangun kehidupan. 

Ah, rasanya tak cukup kata-kata menggambarkan Sang-tae, sang pribadi yang istimewa. Tak bosan-bosan aku menonton aktingnya. Salut untuk pemerannya, Oh Jung-se, yang punya penghayatan luar biasa. 

Dari drama ini, kita bisa belajar bahwa setiap orang punya tantangan dan perjuangan masing-masing. Bahwa keluarga adalah yang terutama, dan keluarga harus bersama. Walau sering bertengkar atau berselisih paham, tapi keluarga harus saling memaafkan dan saling menguatkan.

Drama “It’s Okay To Not Be Okay” ini berakhir hari Minggu kemarin. Namun aku sudah rindu menyaksikan lagi kisah mereka bertiga. Gang-tae yang ganteng, Moon-young yang manis, dan Sang-tae yang penuh cinta. 

Read more…

August 9, 2020

Drama "Sky Castle" (2018) - Ambisi Membutakan Hati

Sky Castle (2018) adalah drama Korea satire yang mengisahkan tentang keluarga-keluarga kaya, dimana orangtua sangat berambisi dan dengan segala cara memastikan anak-anaknya diterima di perguruan tinggi ternama. Dan yang berperan paling besar untuk memastikan terwujudnya ambisi sebuah keluarga adalah sang ibu. Selain mewujudkan ambisi pendidikan anak, mereka juga harus selalu mendukung karier suami, agar mencapai dan tetap bertahan di posisi yang bergengsi.

Super Moms di Drama Sky Castle (sumber: Wikipedia)

Cerita itu berkembang di sekitar empat keluarga yang tinggal di sebuah komplek perumahan elite dan eksklusif bernama Sky Castle. Mereka adalah keluarga sukses, kaya, memiliki pekerjaan dan jabatan yang terhormat. Anak-anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah yang terkenal pula. Kehidupan mereka serba cukup, tidak kekurangan apapun. Kelihatannya begitu. Tapi setiap keluarga punya ceritanya sendiri, punya ‘rahasia’nya sendiri.


Setiap Keluarga Punya Cerita (sumber: dreamers.id)


Tokoh utama dalam kisah ini adalah Han Seo-jin (Yum Jung-ah). Suaminya, Kang Joon-sang (Jung Joon-ho) adalah seorang dokter bedah ortopedi yang terkenal. Mertuanya juga seorang dokter, dan keluarga besar bercita-cita agar Kang Yeo-so (Kim Hye-yoon), putri sulung mereka, nantinya pun akan menjadi dokter. 


Aku sangat terkesan dengan karakter Han Seo-jin. Bukan terkesan sehingga ingin mencontoh, tapi terkesan sehingga aku kasihan melihat kehidupannya yang dibutakan ambisi, dipenuhi dengan intrik dan strategi. Semua itu hanya demi “dipandang” sebagai manusia. 


Han Seo-jin memiliki nama asli Kwak Mi-hyang, datang dari keluarga miskin, dengan ayah seorang pedagang darah sapi, yang sukanya mabuk. Mi-hyang benci sekali dengan kemiskinan dan nasib buruknya ini, dan melakukan berbagai cara, mengatur strategi, supaya ia bisa meninggalkan kemiskinan itu, dan mendapatkan strata sosial yang tinggi. 


Strategi pertama adalah merebut Kang Joon-sang dari kekasihnya, lalu kemudian menikah dengan Joon-sang. Ia mengganti namanya menjadi Seo-jin, dan mengarang kisah bahwa ia bergelar master dari Australia dan keluarganya bertempat tinggal di sana. Selain suami dan mertuanya, tidak ada yang mengetahui kebohongan ini, bahkan kedua anaknya. Sedemikian Seo-jin menutupi masa lalunya, kebohongan demi kebohongan demi membentuk image yang diinginkan. Sampai dikisahkan ia membayar dua orang untuk berlaku sebagai orang tuanya, ketika mereka sekeluarga berkunjung ke Australia.  


Tindakannya sudah pasti salah. Namanya pun bohong. Tetapi Seo-jin melakukannya supaya anak-anaknya tidak malu dengan masa lalu ibunya, tidak malu memiliki kakek seorang pemabuk dan pedagang darah sapi. Seo-jin tidak mau anak-anaknya seperti dirinya yang malu dengan kondisi keluarganya. Ia ingin anak-anaknya percaya diri, karena yakin mereka datang dari bibit keturunan yang super duper bergengsi. 


Kebohongan Seo-jin ini mungkin berhasil mengelabui banyak orang, tetapi tidak mertua dan suaminya. Karena aslinya datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, maka Seo-jin harus terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari ibu mertuanya. Kegagalan pertama adalah ketika ia tidak mampu memberikan keturunan laki-laki. Karena itu, ia harus memastikan agar Kang Yeo-so, putri sulungnya, diterima di jurusan kedokteran Seoul National University. Itu adalah kesempatan Seo-jin yang terakhir supaya diterima dan diakui oleh ibu mertuanya. 


Tindakan Seo-jin untuk memastikan Yeo-so diterima di SNU berbuntut panjang dan ruwet, sampai Seo-jin dihadapkan dengan berbagai pilihan yang serba salah. Bagaikan makan buah simalakama, apapun pilihannya akan mendatangkan akibat yang buruk. 


Beberapa kali tampak Seo-jin berperang dengan hati nuraninya. Dia tidak tega ketika melihat anak orang lain yang jelas tidak bersalah dijadikan kambing hitam, sehingga seluruh keluarga harus menderita dan si anak kehilangan masa depan. Tetapi apabila dia buka suara tentang apa yang sesungguhnya terjadi, artinya dia juga mengungkapkan kecurangan yang melibatkan putri kesayangannya. Seo-jin tidak sanggup mengorbankan masa depan Yeo-so yang sudah dirancang sejak dia balita. 


Sebenarnya “hitung-hitungan” Seo-jin lebih dari itu. Bukan sekadar digerakkan oleh rasa cintanya yang begitu besar kepada putrinya. Namun ia juga tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai putrinya gagal dan tidak diterima di kedokteran SNU. Mungkin mertuanya akan mengusirnya, suaminya akan menceraikannya, dan Seo-jin akan kehilangan semua kekayaan dan status sosial yang selama ini dinikmatinya, yang sudah susah payah diusahakannya. 


Sejak awal, ambisi lah yang telah membutakan Seo-jin. Ia begitu ingin meninggalkan dan melupakan masa lalunya, miskin dan menderita. Segala apa yang dilakukannya -- menikah dengan Joon-sang, mendidik dua putrinya dengan disiplin tinggi, menggunakan jasa tutor seharga ratusan juta agar Yeo-so diterima di kedokteran SNU -- semua ini sebetulnya demi memastikan status sosial untuk dirinya sendiri. Pikirannya terus dipenuhi strategi, sibuk mengintip posisi ‘lawan’. Pasti hidupnya tidak pernah tenang. Sungguh melelahkan.  


Aku teringat pada seorang teman, senior di masa kuliah dulu. Ketika itu dia bercerita kalau baru saja diputuskan oleh pacarnya, yang tidak lama setelah lulus mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sementara si teman ini masih di Bandung, menyelesaikan kuliahnya, sambil mengajar di sebuah bimbingan belajar kecil. Pacarnya merasa dia tidak punya ambisi dalam hidup. Tidak berusaha mengejar kelulusan dengan cepat, supaya segera dapat pekerjaan di perusahaan besar. Ternyata belakangan diketahui pacarnya ini terpesona dengan seorang manajer di perusahaan tempatnya bekerja; muda, tampan, berjabatan, dan kaya. Kata temanku, “Aku bukannya tidak pernah punya ambisi. Tapi aku lelah dengan ambisi.” 


Ketika SMA, dia belajar keras supaya bisa masuk kampus kami, walaupun untuk itu harus merantau. Merantau artinya biaya ekstra bagi orang tua, yang memiliki enam orang anak. Namun karena ambisi, dia meyakinkan orang tuanya, dan berjanji akan mencukupkan dengan berapapun biaya yang dikirimkan. Kuliah tahun kedua, dia mendapat kabar bahwa ibunya sedang mengandung anak ketujuh. Rasanya dia ingin marah, tapi dia tahu tindakannya itu salah. Dan sejak tahun kedua itu pula, uang bulanan pun berhenti, dan dia harus mengusahakan sendiri biaya hidupnya. Karena punya hobi main bola, ia pun bergabung dengan tim bola di kampus, dan berharap dari situ dia juga akan memperoleh penghasilan. Tetapi pada suatu pertandingan, ia terjatuh dan kaki nya patah. Sejak itu ia tidak bisa bermain bola secara profesional lagi.


“Aku lelah dengan ambisi. Mimpi-mimpi ku kandas di tengah jalan. Sekarang aku jalani saja apa yang ada di hadapanku dengan sebaik-baiknya. Bisa bertahan sampai saat ini saja, aku sudah sangat bersyukur”


Ambisi yang sehat itu perlu, membuat kita selalu memacu diri supaya lebih baik, membuat kita memaksimalkan potensi diri. Namun ambisi yang buta akan merusakkan jiwa. Memakan hati dan pikiran kita perlahan-lahan. Lebih ‘gila’ lagi ketika ambisi kita itu berlaga dengan ambisi orang lain. Sudah pasti akan saling menghancurkan. Dan akhirnya kita disadarkan ambisi tidak mendatangkan kebahagiaan.

 

Ketika konsep diri kita diletakkan semata-mata pada penilaian orang lain, maka kita tidak akan pernah “selesai”. Seo-jin tidak mencintai dirinya yang miskin, dan dia sibuk membentuk image yang diyakininya akan diterima dan dihormati orang banyak. Mungkin kalau Seo-jin bisa menerima dirinya sebagai Kwak Mi-hyang, maka dia tidak perlu sibuk berstrategi merebut pacar orang, tidak perlu menderita dengan penghinaan mertuanya. Seo-jin tidak perlu membayar orang untuk menyamar menjadi orang tuanya, hanya karena takut anak-anaknya malu punya ibu yang datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, suatu konsep yang dia sendiri yang menanamkan.


Untuk menjamin bahagia, maka pengakuan yang paling kita butuhkan adalah dari diri sendiri. Self-love. Mensyukuri dan mencintai keberadaan diri. Kalau sudah punya self love, maka sudah pasti kita bisa mencintai orang lain dengan tulus.


Bagaimana akhir kisah Seo-jin dan para penghuni Sky Castle? Apakah Yeo-so berhasil diterima di kedokteran SNU? Apakah akhirnya orang baik menang dan orang jahat mendapatkan ganjaran? Penasaran? Samaa aku juga. Yuk ah, mau nonton episode terakhir nih. Semoga happy ending ya…


Read more…