Kisah ini berawal dari kontrak kerjaku yang berakhir. Agak paradoks memang, dari satu pintu yang tertutup, ternyata membuka banyak pintu lain yang sebelumnya tak pernah aku bayangkan. Pintu yang membuat aku mulai mencari dan belajar tentang dunia freelancing untuk pemula.
Aku masih ingat betul masa-masa awal menjadi ibu rumah tangga saja. Dua minggu pertama santai banget, happy rasanya gak perlu packing dan traveling. Aku punya waktu sangat luang untuk membereskan rumah yang selama ini dibiarkan "apa adanya". Yang paling aku syukuri, aku dan MasBodjo gak lagi jauh-jauhan; kami bisa habiskan lebih waktu bersama tanpa harus terpisah kota.
Namun setelah sebulan berlalu, kegelisahan mulai muncul. Makin sering mencet kalkulator, padahal hasilnya ya sama dengan pencetan kemarin hahaha. Makin sering kirim lamaran pekerjaan, tapi belum ada yang nyangkut. Yang pasti, mulai setengah hati kalau lihat lowongan pekerjaan yang bikin beda domisili sama suami.
April 2025 aku menerima email bahwa aku lulus kualifikasi sebagai Bilingual Indonesian Team untuk Data Annotation Tech. Waktu itu aku cuman mikir, yang penting ada yang dikerjakan dan aku bisa tetap di Yogya. That simple! Ternyata email itu menandai milestone di mana aku memulai karier freelance dari nol.
Perjalanan ini mengajarkan aku bahwa freelance dan kerja remote bukan hanya soal belajar hal baru. Switching carrier di usia 40an bukan hal yang mudah. Aku belajar lebih mengenal diri sendiri. Aku juga belajar beradaptasi, mengelola ekspektasi, dan membangun rasa percaya diri.
Pengalaman hidupku mengajarkan kalau setiap orang punya garis start dan track yang berbeda, maka oleh dari sebab itu, ojo dibanding-bandingke! Namun ada saja masa di mana aku merasa sangat tertinggal, apalagi kalau lihat update medsos.
Lewat blog ini, aku ingin berbagi cerita, pelajaran, dan pengalaman, yang semoga bisa menemani siapa pun yang juga sedang berada di fase awal merintis karier freelance dan remote work.
Apa Itu Freelancing & Kenapa Cocok untuk Pemula?
Freelancing adalah model kerja di mana pekerjaan itu dilakukan secara mandiri dan tidak terikat secara penuh waktu pada satu perusahaan tertentu. Pelakunya disebut freelancer atau pekerja lepas.
Freelancing cocok untuk orang yang membutuhkan atau mengutamakan fleksibilitas jam kerja dan tidak terikat pada jam kantor konvensional. Fleksibilitas inilah yang menjadikan freelancing populer di kalangan fresh graduate, pelajar, mahasiswa, bahkan generasi freshcare seperti aku.
Menariknya lagi, konsep kerja remote untuk pemula ini bisa dimulai dengan modal minim: skill, laptop, dan koneksi internet. Sambil jalan, kita bisa membangun portfolio dan memilih bidang dan proyek yang benar-benar kita suka dan kuasai.
Menurutku model kerja seperti ini juga sangat cocok untuk orang yang mempertimbangkan pindah jalur karier. Kita bisa test drive dulu sebelum menemukan bidang baru yang benar-benar cocok. Kalau masih bekerja, kamu bisa pakai waktu setelah jam kerja untuk ikut kursus dan mengasah skillmu atau mengerjakan proyek dari klien.
Satu lagi yang paling seru: freelancing tidak punya plafon gaji. Semakin skill kita terasah, semakin banyak proyek dan klien yang ditangani, maka portfolio pun akan semakin solid. Peluang untuk mendapatkan klien premium dengan bayaran lebih tinggi pun terbuka lebar.
Tantangan Freelancing Untuk Pemula
Walaupun fleksibilitas kerja freelance terdengar begitu menggiurkan, namun aslinya ada banyak sekali tantangan yang kuhadapi ketika mau memulai freelancing. "Pokoknya, mulai aja dulu!" Yeah, memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun sejujurnya ya netizen yang terhormat, memang itulah yang aku lakukan: memaksa diri untuk memulai.
Pastinya ada rasa ragu, takut (dan sedih) karena merasa belum punya skill yang menjual, merasa sudah kalah jauh dan bingung gimana cara mengejar ketertinggalan. Well, di situlah letak permasalahannya. Karena hidup bukan pertandingan, tapi sebuah perjalanan, maka berhentilah membandingkan dirimu dengan para penghuni LinkedIn dan Instagram!
Lalu bagaimana cara mengatasi kendala freelance pemula ini? Jawabannya sederhana: mulai saja dengan apa yang kamu bisa. Tidak perlu menunggu sampai jadi ahli tingkat dewa untuk mengambil langkah pertama. Beranikan diri melamar pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang kamu miliki.
 |
| Mulai Aja Dulu, Masukkan Lamaranmu Sekarang! |
Rajin-rajin cek lowongan di berbagai job portal, dan LAMAR! Yang sejaman denganku mungkin pernah mengalami masa-masa memfotokopi ijazah dan transkrip, legalisir, ngeprint surat lamaran, beli amplop gede, dan kirim lamaran lewat kantor pos. Itu aja kita jabanin, apalagi ini, yang mana melamar pekerjaan hanyalah sejauh klik.
Memang kondisi setiap kita berbeda-beda, tapi membebani diri dengan ekspektasi besar tidak pernah jadi solusi. Prinsipku: cari, seleksi, lamar, lupakan! Eh.. ini soal melamar kerjaan lho yaaa, bukan yang lain.
Intinya, coba-coba adalah koentji! Lama-lama kita akan terbiasa mencoba. Kita akan semakin mengerti apa yang dibutuhkan dan how this freelancing world operates.
Kenapa Virtual Assistant dan Kenapa SEO?
Selama bekerja sebagai profesional, aku sudah pernah mencicipi berbagai bidang bisnis; mulai dari sektor humanitarian (non-profit), sektor swasta, sampai jadi konsultan di dinas pemerintahan. Meskipun berpindah-pindah sektor, namun ada satu benang merah yang selalu ada, yaitu administrasi.
Aku terbiasa menyusun jadwal pekerjaan, membuat presentasi, menyiapkan dokumen, hingga menyusun laporan. Aku juga punya kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik. Berbekal dua kemampuan itu, aku pun membidik satu bidang: Virtual Assistant.
Apa itu Virtual Assistant?
Virtual Assistant (VA) adalah seorang profesional yang menyediakan jasa untuk mendukung suatu bisnis dari jarak jauh atau secara remote. Biasanya, seorang VA itu paling sering pegang urusan administratif. Tapi sebenarnya bidang kerja VA itu ada banyak sekali, tergantung apa yang jadi kebutuhan klien dalam menjalankan bisnisnya.
Aku mulai melamar berbagai lowongan untuk Virtual Assistant (VA). Dari proses itulah aku menyadari bahwa meskipun esensi pekerjaannya sama, namun cara kerja dan 'kemasan' dunia remote work ini ternyata cukup berbeda.
Mulailah aku mencari kelas-kelas
online. Tentu saja, cari yang gratis dulu, namanya juga
professional job seeker hahaha. Dari beberapa kelas
online dan webinar yang aku ikuti, aku paling cocok dengan kelas
Indri Ariadna. Sistemnya
self-paced tanpa jadwal kursus yang mengikat, dan mentor-mentornya--
shout out buat Mbak
Indri dan Mbak
Gita!-- selalu
hands-on membimbing para peserta. Dari sinilah aku belajar
skill baru, dan bagaimana mengemas dan menggunakan
skill lamaku di dunia
freelancing.
Di salah satu kelas VA yang aku ikuti, peserta diminta mengerjakan tiga studi kasus dari bidang yang berbeda: content creation, support services & administration excellence, dan SEO strategy. Setelah mengerjakan ketiga studi kasus itu, aku menemukan bahwa aku lebih berminat dengan hal teknis seperti SEO daripada menyusun jadwal meeting dan traveling klien.
Kenapa SEO dan Kenapa SEO VA?
Dari sekian banyak hal berbau teknis, kenapa SEO (Search Engine Optimization) yang aku jajaki? Karena kita berada di era digital, di mana semua bisnis ingin 'nampil' di Google, dan SEO adalah koentji! So, selama internet dan Google masih ada, jasa dan keahlian ini akan terus dibutuhkan.
Nah, sebagai pemula, posisi SEO VA merupakan pintu masuk yang paling pas. Namanya juga pemula, gak mungkin dong ujug-ujug kita jadi ahli strategi kata kunci. Untuk menjadi SEO VA, kita harus belajar dan menguasai hal-hal teknis yang mendasar, seperti riset kata kunci atau mengaudit konten. Esensinya sih mirip-mirip tugas admin. Buat yang suka keteraturan dan mengurusi detail printilan, maka SEO VA adalah cara terbaik buat belajar industri digital sambil menghasilkan cuan!
Langkah Nyata Merubah Ragu Menjadi Maju!
1. Pilih Skill Utama
Ragu? Bingung? I know those feelings pretty well! Tapi ya gak bisa lama-lama, karena gaya hidup butuh biaya hahaha
Pilih satu
skill utama yang mau kamu jajaki. Gak perlu pakai pusing. Cara paling mudah, buat
list semua hal yang pernah kamu lakukan, baik pekerjaan maupun dalam organisasi atau
komunitas yang kamu ikuti. Temukan benang merahnya.
Kamu suka menulis? Kamu bisa eksplor dunia
content writing. Kamu suka kepo dan meluruskan urusan orang? Kamu bisa eksplor dunia
personal assistant. Kamu suka riset, ulik data dan angka? Yuk, bareng aku, kita eksplor dunia SEO.
Intinya, kamu harus memilih satu titik awal sebagai pijakan pertama. Saranku, pilih yang hambatannya paling ringan: pilih bidang yang memang kamu sukai dan sudah kamu kuasai basic skill-nya. Dengan begitu, energi tidak habis terkuras untuk kenalan dengan hal yang sama sekali baru, dan bisa fokus ke pendalaman materi.
Jangan terlalu lama merenungkan: gimana kalau ternyata aku salah bidang? Ya gak apa-apa, pindah jalur saja! Waktu kita nggak akan terbuang sia-sia kok, karena kita sebenarnya sedang mengasah dan menajamkan kemampuan. Kita jadi lebih mengenal diri kita dan tahu apa yang benar-benar kita mau. Jadi, nikmati saja prosesnya.
2. Ambil Langkah Terstruktur, Bukan Serabutan
Setelah memilih, langkah selanjutnya adalah mulai belajar
freelance dari nol secara terstruktur. Pilih media belajar yang paling nyaman buatmu: bisa lewat kursus
online (seperti yang
sedang aku jalani sekarang), nonton tutorial di YouTube, atau yang paling manjur: praktik langsung. Meskipun kita mulai dari nol, bukan berarti kita berjalan tanpa arah.
Lalu, bagaimana cara memilih tempat kursus yang tepat? Kalau cara aku: ikuti dulu kelas-kelas gratis atau ekonomis. Dari situ kita bisa tes ombak, metode mengajar dan media belajar mana yang paling cocok buat kita. Profil mentor memang penting, tapi lebih penting lagi kamu nyambung atau nggak sama metodenya, dan apakah kamu nyaman dengan komunitasnya.
Sekali lagi, jangan takut salah pilih, tapi jangan asal memilih! Semakin cepat kita memulai prosesnya, semakin cepat pula kita tahu bidang dan kelas mana yang benar-benar "klik" buat kita.
3. Bangun Portfolio
Ini adalah hal yang baru buatku. Dulu, aku cuman butuh CV untuk melamar pekerjaan. Namun di dunia
freelancing dan
remote work,
portfolio memegang peranan yang krusial.
Apa bedanya CV dan portfolio? CV atau Curriculum Vitae berisi informasi tentang latar belakang: pendidikan, pengalaman, dan skill. Sementara, portfolio adalah bukti nyata hasil pekerjaan kita. Lewat portfolio, calon klien jadi bisa tahu gimana kita mengaplikasikan ilmu dan skill yang kita jembreng di CV tadi.
Tantangan selanjutnya: gimana caranya punya portfolio sementara kita belum punya jam terbang? Jawabannya adalah dengan membangun portfolio freelance pemula. Kamu nggak harus nunggu dapat klien besar dulu buat punya portfolio. Ada banyak "jalan ninja" yang bisa kamu tempuh:
- Blog pribadi: Tulisanmu di blog bisa jadi bukti skill menulis atau SEO-mu. Belum punya blog? Ya bikin! Educate yourself, deh ah!
- Dummy project: Buat proyek simulasi. Ada banyak website yang bisa bantu kamu, seperti Goodbrief.io atau Fakeclients.com. Atau kamu bisa juga minta bantuan chatGPT untuk membuatkan brief dummy project. Teknologi dimanfaatkan dong, jangan cuman diajak curhat (eeaaa...).
- Volunteer & Internship: Rajin-rajinlah browsing media sosial seperti LinkedIn atau Facebook Group untuk memantau aktivitas komunitas freelancing dan remote work. Peluang magang sering muncul di situ. Mungkin secara materi belum seberapa, namun kamu bisa dapat testimoni dan bukti kerja nyata sebagai modal awal membangun portfolio.
4. Mulai Cari Klien
Ilmu sudah punya. Portfolio sudah mantap. Sekarang saatnya kita jemput bola!
Cara mencari klien buat
freelance pemula yang paling umum adalah dengan mendaftar di
platform freelance, seperti
Upwork dan
Fiverr. Di situ ada banyak sekali lowongan pekerjaan
freelance dari berbagai bidang dan level kemampuan.
Maksimalkan media sosial. Aktiflah di komunitas online atau LinkedIn. Kadang klien datangnya bukan dari kolom vacancy, tapi dari obrolan santai atau referensi teman.
Mulailah bangun branding supaya orang tahu kamu lagi fokus di mana. Update profil LinkedIn, sesekali share hasil belajarmu atau tips yang kamu rasa bermanfaat. Intinya, buat orang lain ngerti: "Oh, si Dwi lagi belajar jadi SEO VA, tah."
Realita Freelancing: Tidak Seindah Reels Instagram
Beberapa kali aku melihat reels di Instagram dengan caption: "POV: Kerja 2 jam di pinggir pantai, dapet gaji kantoran sebulan!" atau "Sambil rebahan, kamu bisa dapat cuan!". Dengar ya kisanak, itu halu!
Realita freelance tidak se-magic konten yang cuma 7 detik itu. Aku merasakan sendiri kalau pengalaman freelancing pemula itu isinya bukan cuma santai-santai, pesona kerja di cafe sambil nongki atau sambil mantai di Bali.
 |
| Work From Anywhere! |
Freelancing juga soal:
- Disiplin mengatur waktu, karena nggak ada bos yang mengawasi.
- Pusing menghadapi deadline, yang tetap mengejar walau kamu sedang mantai di Bali!
- Skill negosiasi, kamu harus belajar bagaimana caranya agar klien menghargai kemampuanmu.
- Multitasking, apalagi buat ibu rumah tangga, harus pintar membagi waktu antara keluarga dan kerja.
Jadi, jangan terkecoh dengan jargon "rebahan dapat cuan" tadi. Freelance itu tetap kerja nyata, bukan sulap bukan sihir. Butuh strategi yang matang, niat belajar yang tinggi, dan mental yang kuat menjalani prosesnya. Namun perjalan ini sangat bisa dinikmati kalau kita tahu langkah-langkah benarnya.
Freelancing Untuk Pemula Itu Marathon, Bukan Sprint
Kita sudah bahas banyak hal. Mulai dari tantangan freelancing, langkah praktis untuk memulai, belajar secara terstruktur, sampai trik "jalan ninja" untuk membangun portfolio dan mencari klien. Memang membangun karier di dunia freelance dan remote work itu adalah sebuah marathon, bukan sprint. Ini bukan tentang kecepatan, namun tentang konsistensi dan daya tahan.
Perjalannya pasti tidak selalu mulus, dan wajar saja kalau sesekali kita merasa ragu dan khawatir. That is okay; khawatir itu artinya kita peduli. Setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini adalah sebuah progress dan proses yang nyata.
Perjalananku sendiri pun masih sangat panjang. Aku masih harus terus belajar untuk melatih dan menajamkan kemampuanku di dunia SEO Virtual Assistant.
Kalau kamu merasa tulisan ini bermanfaat atau merasa sedang di fase perjuangan yang sama, yuk terus ikuti tulisanku selanjutnya. Aku akan berbagi lebih banyak soal pengalaman, jatuh bangun, hingga tips seputar karier SEO VA yang sedang kutekuni ini. Mari kita tumbuh bersama!
0 Comments:
Post a Comment