Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts

December 20, 2020

KLIP 2020 dan Harapan untuk KLIP 2021

Annyeong…

Hari ini adalah hari terakhir setoran Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk tahun 2020. Tahun ini adalah pertama sekalinya aku ikut serta dalam komunitas KLIP. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar tentang komunitas ini dari kk Risna, dan tahun ini, kk Risna berhasil ‘menyeret’ku untuk ikut dalam pusaran literasi ini. 


Aku sudah pernah menuliskan tentang kisah perjalananku dalam menulis dalam postinganku di bulan Oktober yang lalu yang berjudul “Tantangan yang Menyenangkan”. Aku yang tadinya menulis kapan tahu, menulis karena ikutan event (itupun jarang lengkap), akhirnya memberanikan diri bergabung dengan sebuah komunitas literasi. 


Dari KLIP aku belajar untuk rutin menulis. Memang buat manusia berkarakter moody kaya’ aku ini, aku membutuhkan komunitas untuk bisa tetap termotivasi. Harus ada contoh yang bikin aku terhenyak, tercubit, terpukau, terperangah, lalu belajar untuk meniru. Intinya harus ada pembanding, sehingga aku bisa mengikuti jejak teman-teman yang sudah berhasil. 


Sejauh ini sistem “reward and punishment” cukup berhasil membuatku tetap menulis. Walaupun mengklaim diri sebagai pengabdi badge, tapi aku sendiri tidak mengingat jelas berapa badge warna apa yang berhasil kukumpulkan. Namun yang pasti, aku belum tereliminasi hingga hari terakhir KLIP 2020 ini. Buatku itu sungguh merupakan prestasi! (Dan kopernya bisa disimpan kembali haha)


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi. Betapa mereka produktif menulis, dengan tidak meninggalkan tugas utamanya. Dalam kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan, mereka tetap menyediakan waktu untuk menulis. Menulis adalah “me time” buat teman-temanku yang keren-keren ini.


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang ternyata memiliki kesenangan yang sama denganku, yaitu menonton drama Korea. Kegemaran menonton drama Korea, yang sering dipandang negatif bagi sebagian orang, justru membuat kami semakin produktif. Drama Korea menjadi inspirasi dan sumber ilmu yang tidak habis-habisnya. Dan semakin produktif lagi ketika kami menyatukan keimpulsifan kami dalam bentuk sebuah blog bareng bertajuk Drakor Class. Sejak blog ini mengudara tanggal 10 Oktober 2020, tak henti-hentinya aku, kami semua, belajar hal baru. Semoga saja kami bisa membesarkan ‘anak’ kami ini dengan baik dan benar. 


Dari KLIP aku bertemu dengan my long lost twin, Rijo Tobing. Entah kenapa, kami sering sekali ‘dituduh’ sebagai anak kembar. Bukan hanya di masa awal, namun makin ke sini, justru makin sering sebutan mirip dan kembar ini membahana. Mulai dari tampang sampai suara. Bahkan salah satu teman di Drakor Class pernah menyangka bahwa dia sedang chat dengan Rijo ketika aku menghubunginya lewat wapri. Dan nyadarnya itu setelah percakapan berlangsung beberapa lama hahahaha 


Sebutan kembar ini sungguh menguntungkan buatku, karena Rijo ini seorang novelist sementara aku seorang ‘moodist’ hihi. Aku pernah ‘dituduh’ sebagai “yang selalu menulis ribuan kata”, dan dengan senang hati aku kembali mengulang fakta bahwa itu bukan aku tapi ‘kembaran’ku. Lucunya, kehidupanku sebenarnya pernah beririsan dengan Rijo. Aku mengenal orang-orang di sekitarnya, dan Rijo mengenal orang-orang di sekitarku. Namun entah bagaimana, kami tidak pernah bertemu atau berkenalan secara langsung. Semoga saja tahun depan kami bisa bertemu raga dan makan Bebek Kaleyo bersama. 

 

Intinya, ada banyak sekali manfaat, pengalaman, pelajaran, dan kebahagiaan yang kudapatkan ketika aku bergabung dengan KLIP. I must say, it is one of the best decisions I made this year. 


Harapan tentang KLIP ke depan? Semoga saja KLIP tetap mengudara, berjaya di darat (luring) dan di udara (daring). Semoga para admin, pengurus, penggagas, penggiat dalam KLIP diberkahi dengan tenaga dan inspirasi yang tak habis-habisnya, untuk membagikan ilmu dan menularkan semangat berliterasi, menjadi saluran berkat dan kebaikan bagi lebih banyak orang.  


Read more…

December 18, 2020

Annyeonghaseyo Chingudeul Episode Finale 2020

Annyeonghaseyo!

Sebagaimana biasanya hari Jumat, hari ini adalah hari yang panjang dan lumayan sibuk. Walaupun di rumah saja karena hari ini aku WFH, kegiatan sudah dimulai dari pagi dan baru berakhir pukul 10, dan ditutup dengan kegiatan menulis. 

Bulan Desember adalah bulan istimewa di KLIP, dengan 20 setoran saja sudah bisa mendapatkan badge Outstanding. Berhubung aku memang memiliki kecenderungan modis, alias modal diskon, maka ‘diskon’ ala KLIP ini pun termasuk salah satu yang aku kejar haha


Hari ini pekerjaan kantor agak ‘rungsing’ karena banyak diisi dengan koordinasi via telepon dan via WhatsApp. Apalagi kemarin aku baru saja survei lapangan ke Cigudeg, dan besok akan ke luar kota lagi. Maka hari ini adalah harinya melakukan koordinasi ke sana dan kemari, pasca dan pra survei. 


Yang paling istimewa hari ini adalah acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”, IG Live Drakor Class. Hari ini adalah episode ketujuh, yang adalah episode terakhir untuk tahun 2020. Setelah beberapa episode ‘kursi panas’ sebagai host ditempati oleh RiRi Couple-nya Drakor Class, yaitu Cha Ree dan Cho Rijo, kemudian Cho Rijo, dan Lendyagasshi, maka episode ini, aku kembali mendudukinya. Setelah beberapa minggu bisa santuy nonton IG Live sambil rebahan, kali ini aku kembali sibuk dengan persiapan dan eksekusinya. 


Pada episode kali ini, Drakor Class menghadirkan tiga orang classmate. Dengan penampilan ketiga classmate ini, maka bisa dikatakan seluruh kontributor Drakor Class sudah tampil di acara IG Live. Eh, ada satu orang yang belum ding… Sudah dijadwalkan sebenarnya untuk tampil di episode ke-6, namun karena ada kepentingan keluarga, akhirnya harus ditunda dulu deh penampilannya.  


Sejak hari Sabtu yang lalu aku sudah menghubungi ketiga teman yang menjadi classmate, yaitu Nastiti, Rosy, dan Gita. Harus dihubungi jauh-jauh hari, karena mereka bertiga memiliki kesibukan yang cukup menyita waktu juga. Nastiti mengikuti beberapa komunitas yang banyak tugas-tugasnya, Rosy yang tinggal di kota berzona WITA sehingga harus menyesuaikan waktu dengan kita yang di WIB, dan Gita yang punya usaha kuliner yang biasanya tutup setelah jam makan malam. 


Awalnya sih mau bahas film dan drama Korea. Namun setelah diskusi dengan Nastiti, kaya’nya kurang pas kalau fokus hanya di film. Nas lalu mengusulkan untuk membahas literasi Korea, karena memang Nas suka membaca dan mengoleksi beberapa novel karya penulis Korea. Wah, ide brilian! Karena sepanjang Drakor Class mengudara, kami belum pernah membahas tentang literasi Korea. Akhirnya dirumuskan untuk episode kali ini, kami akan membahas tentang sinema (film dan drama) dan literasi Korea. 


Persiapannya sih sama seperti acara IG Live sebelumnya. Aku menyiapkan daftar pertanyaan untuk para classmate, lalu para classmate memberikan feedback mereka, kemudian kami mengadakan rehearsal sehari sebelum hari H, yaitu gladi resik melalui video call. Seserius itu? Iyaaa… kami seserius itu hahaha Gladi resik (GR) ini penting untuk melatih komunikasi host dan classmate juga. Jadi ketika ‘manggung’, tidak kagok atau canggung lagi. 


Ketika GR, biasanya classmate masih “demam panggung”, apalagi kebanyakan kami belum pernah tampil live di depan kamera. Tentu saja dalam setiap GR, aku punya pengamat dan komentator yang selalu siap sedia memberikan input, yaitu Kak Risna dan Lendy. Dalam setiap GR, biasanya akan muncul ide-ide pertanyaan atau topik yang akan dibahas, sehingga biasanya setiap GR aku akan sibuk membuat catatan, dan kk Risna dan Lendy akan sibuk “merusuh” hahahaha.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah flyer yang didesain oleh Manda. Ketika jadwal, tema, host dan classmate sudah fixed, maka semua informasi itu 'disetorkan' kepada Manda, bersama foto-foto para 'tersangka' hahaha Tidak pakai lama, Manda akan segera meproduksi flyer, dan siap ditayangkan di berbagai medsos Drakor Class. 



Flyer "Annyeonghaseyo Chingudeul" Episode Finale 2020 
(sumber: Instagram Drakor Class)


Latihan atau GR Kamis malam itu berjalan dengan lancar. Terus terang aku agak gentar, karena di luar dugaanku, ketiga classmate memiliki kecintaan yang amat sangat pada hobi mereka masing-masing, sehingga malah aku merasa kurang informasi. Dibandingkan aku, mereka bertiga telah lebih dulu menonton drakor, dan koleksi drakor dan filmnya sudah buuanyaaaakk. Kuatirnya besok malahan hostnya yang kelihatan bengong dan demam panggung hahaha

Hari H pun tiba. Satu jam sebelum acara, aku kembali bersiap-siap, membuka berbagai catatan, membuat berbagai catatan. Pukul delapan malam pun tiba, panggung pun dibuka!

Bahagianya aku karena kekuatiranku tidak terjadi. Baik Nas, Rosy, maupun Gita tampil lebih baik, lebih cair, dan lebih lancar dibandingkan GR. Luar biasa, keren banget! Informasi yang mereka sampaikan juga sangat menarik, sehingga tanpa terasa, episode hari ini mengambil dua sesi, alias 2 jam, yang sangat menyenangkan. 

Ketika direnungkan, memang pandemi telah membuat aku berani mencoba hal baru, membuat aku belajar banyak hal baru. Dan menjadi host Drakor Class adalah pengalaman yang sangat berharga buatku. Tidak saja aku belajar keterampilan baru, mulai dari public speaking, sampai mengoperasikan fitur Instagram. Aku juga belajar merencanakan acara seperti IG Live ini, dan lebih 'rempong' lagi ketika bersama-sama teman-teman Drakor Class kami merencanakan event "Crash Landing on KDrama" bersama KCC Indonesia, dimana aku menjadi moderator. Dan satu hal yang lebih istimewa lagi, dengan menjadi host, aku semakin mengenal teman-teman yang menjadi classmate secara lebih dekat.  

Semoga saja di tahun 2021, Drakor Class bisa tetap dan terus menjadi rumah yang nyaman bagi kami dan banyak orang lagi untuk sama-sama belajar, berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan.  

Read more…

November 13, 2020

Cerita dari IG Live Drakor Class ke-2

Holla!

Hari ini adalah hari Jumat yang panjang, hari yang diisi dengan (sok) banyak kesibukan. Padahal sebetulnya biasa-biasanya, cuman emang akunya yang apa-apa selalu banyak persiapan yang antahapaja. Anehnya, sudah begitu, aku punya kebiasaan bersiap di detik-detik terakhir atau mepet dengan waktu. Masih penganut “the power of deadline” hehe

Event yang paling besar dan paling istimewa hari ini adalah acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul”nya Drakor Class. Kali ini aku kembali menjadi host, dan yang jadi classmate alias narasumber adalah Rani dan Litha. Tema kali ini adalah “Drakor dan Penulis Buku Antologi”, dan baik Rani maupun Litha telah menjadi kontributor pada beberapa antologi. Beberapa??? Oh maaf… itu namanya underestimate, apalagi buat aku yang menulis saja masih sulit. Rani sudah punya enam antologi, dan Litha empat belas. Itu yang sudah diterbitkan lho ya… belum lagi yang masih proses terbit. 


Poster Acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" (sumber: www.drakorclass.com)

Seperti biasa, kami melakukan rehearsal sehari sebelum acara. Hari Kamis siang, kami bertiga bersama dua orang ‘penasihat’, yaitu kak Risna dan Lendy, melakukan latihan untuk acara tersebut melalui WA Video Call. Sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang kurang lebih seputaran tema: sejak kapan menulis, sejak kapan nonton drakor, apa efek drakor bagi seorang penulis, dan saran bagi para pemirsa. 

Ketika rehearsal, kami banyak mendapatkan kritik dan saran dari para penasihat (gomawo uri beloved classmates). Tadinya aku lebih fokus pada proses pembuatan antologi itu sendiri, namun setelah mendapatkan masukan, akhirnya proses itu tetap dibahas, namun porsinya diperkecil. Kita lebih banyak cerita tentang ide penulisan, tentang antologi yang sudah diterbitkan, dan proses penulisannya. Dan akhirnya latihan pun selesailah dengan bahagia dan kelelahan (buatku). Kaya’nya waktu itu aku belum makan, atau sarapannya telat sehingga tadinya belum lapar, namun seiring waktu jadinya kelaparan hihihi

Terus terang setelah rehearsal, aku agak galau membayangkan bagaimana nanti jalannya acara, karena kedua classmateku ini punya karakter yang berbeda. Rani lebih pendiam, sehingga aku harus lebih aktif bertanya dan mengarahkan pembicaraan. Litha lebih talkative, sehingga aku… harus mengerem diriku supaya tidak terjerumus lalu mengubah tema acara menjadi bucin united hahahaha

Namun ternyata, pada hari H, kegalauanku tak beralasan. Mungkin karena kami sudah rehearsal, ketika kami ON AIR, Rani menjadi lebih santai dan cair. Aku tidak repot-repot mengarahkan apapun, kami bisa mengobrol dengan enak seputaran penulisan antologi. Bahkan kalau kuingat-ingat, ada beberapa hal yang kami bahas ketika rehearsal, tapi tidak disinggung pada pelaksanaan; demikian pula sebaliknya, ada hal-hal baru yang baru disebutkan ketika acara berjalan. Dan thanks to teman-teman DC, mereka aktif sekali memberikan pertanyaan, sehingga host pelupa ini tidak kehabisan bahan hahaha Gomawo, gaeess…. #kecup_atu-atu

Ketika sesi ngobrol dengan Rani selesai, aku melirik waktu sudah pukul satu siang lewat beberapa menit. Hmm… kalau dengan Rani saja waktu setengah jam bisa berlalu begitu cepat, apa kabar nih dengan Litha? Padahal harus ada bagian penutup pula lagi, belum lagi kesan dan pesan. 

Ternyata semesta berbicara. Ketika baru terhubung beberapa menit dengan Rani… eh Litha (waktu latihan kebolak balik sejuta kali, untung waktu ON AIR cuman satu kali kejadian hihihi), tiba-tiba koneksi internetku “batuk”. Toeengg… offline! Aku buru-buru mengecek WiFi, dan syukurlah lampu indikatornya biru, bukan merah. Berarti tadi ada si komo lewat. Ternyata ‘sengsara’ membawa nikmat. Karena gangguan teknis beberapa menit itu, waktu ‘manggung’ jadi reset lagi menjadi maksimum 1 jam. YAY!

Tentu saja sesi kedua itu tidak sampai 1 jam. Namun, kami jadi lebih leluasa untuk mengobrol, dan menyampaikan pesan, tips dan saran, serta menyampaikan bagian penutup. Leluasa dalam arti aku terhindarkan dari ancaman berkeringat jagung sambil menatap nanar pada stopwatch dan hitungan mundur di layar IG Live hiahahahaa

Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung dapat kesempatan menjadi host dalam acara ini. Banyak sekali hal yang kudapatkan, selain pengalaman menjadi host tentunya. Aku belajar banyak hal dari Rani dan Litha. Aku belajar dari bagaimana mereka sangat mencintai dunia menulis, dan ketika kita menyukai dan mencintai sesuatu, kita pasti akan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu itu. Bukan masalah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukannya, tetapi kualitas ketika kita melakukannya, yang akan menjadi sumber penyemangat, mood booster, yang luar biasa. 

Masih banyak hal lain yang aku pelajari dari kedua classmateku nan jagoan ini. Lengkapnya akan aku tuliskan di blog Drakor Class ya. Namun hal yang terpenting yang kupelajari adalah “lakukan saja”. Tidak perlu terlalu jauh berpikir; apakah orang suka membacanya, apakah nanti begini atau begitu. Tetap saja konsisten menulis, dan yang terpenting harus diniatkan. Karena menulis sesungguh-sungguhnya adalah apresiasi bagi diri sendiri.

Update: Tulisan tentang acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" episode "Drakor dan Penulis Buku Antologi" ini bisa dibaca blog Drakor Class: IG Live Drakor Class Eps. 2


Read more…

November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Read more…

November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me

Read more…

October 26, 2020

Dear Dwi...

sumber: Toppr



Jakarta, 26 Oktober 2020


Dear Dwi, 


Selamat ulang tahun yang ke-14, sayangku.

Dan selamat atas kelulusanmu dari SMP St. Thomas. 

Mari ucapkan selamat tinggal pada rok biru, dan selamat datang pada rok abu-abu!


Aku rasa kamu sudah tahu mau melanjutkan ke SMA mana kan ya? Tidak perlu bingung atau ragu, kamu sudah mengambil pilihan yang tepat kok. Jadi, lulusan tahun 1994 itu adalah angkatan percobaan. Tidak lagi dengan sistem semester, melainkan caturwulan. Nantinya akan ada percobaan untuk sekolah hanya lima hari. Bocoran nih, sekolah pilihan kita tidak akan menjalankan program ini lho… hihi 


Gak usah kecewa dulu. Aku bilangin ya, sekolah lima hari itu berarti jam sekolah yang lebih panjang, karena jam pelajaran Sabtu dipindahkan ke lima hari yang lain. Maka sampai sore lah di sekolah, dan bukan buat ikutan kegiatan ekskul atau menunggu jadwal praktikum. Tapi belajar. Iya… duduk, mendengar, dan mencatat. Sampai menjelang sore. Mateng gak tuh?


Kalau gurunya santuy sih gak apa-apa. Tapi kalau gurunya semacam guru kita, siapa yang tahan cuy belajar siang-siang bolong sama mereka? 


Lebih anehnya lagi, program itu hanya berjalan sebentar. Namanya juga uji coba. Coba-coba kok sama anak, ya gak?


Sejak sekarang aku yakin kamu sudah membayangkan akan memilih jurusan apa ketika kuliah nanti. Masih tetap ingin jadi arsitek kan? Pilihan yang baik. Kamu memang punya kelebihan di bidang eksakta. Aku juga tahu, kalau ujian Sejarah, PPKN, atau IPS, kamu rasanya pengen garuk aspal saja kalau sudah harus menjawab soal essay. 


Nah, aku mau kasih tahu sama kamu. Kamu itu punya banyak sekali potensi. Beneran gak bohong! Dan di dunia ini, orang hidup butuh banyak kemampuan lain, tidak cuma berhitung. Karena itu, dari sekarang, jangan membatasi dirimu dan kemampuanmu, dan kamu harus berlatih menggali potensimu.


Pertama, coba tanya sama Mami dan Papi, kalau boleh kamu ikut tes kemampuan dan bakat di Biro Psikologi. Pilih yang sudah berpengalaman untuk melakukan tes serupa untuk remaja seusiamu. Mungkin kamu rasa itu tidak perlu dan mubazir ya, secara kamu sudah tahu kamu sukanya apa dan bakatnya apa. Percayalah, setelah bertahun-tahun tersesat di dunia kerja, let me tell you this, tes seperti itu bisa menjadi investasi. Tentu kamu tidak perlu menelan bulat-bulat hasil tes tersebut. Tapi aku yakin, test itu bisa memberikan pengalaman baru buatmu, dan membuka pengertian baru. Bisa jadi mereka mendeteksi suatu potensi yang tidak kamu sadari ada di dalam dirimu. Seru kan?


Kedua, jangan takut mencoba hal baru. Kamu itu bukan gak bisa, kamu cuman malas aja mencoba. Dan aku tahu, ini karena kamu takut gagal, ya kan?? Iya aku tahu, kamu malas mencoba karena takut gagal, takut diketawain, takut gak bisa menyelesaikan, takut apalah apalah. Kamu bisa kok. Di masa depan, kamu akhirnya memberanikan diri mencoba beberapa hal. Jadi aku pikir, sebaiknya kamu sudah berani mencoba sejak remaja. Jadi ketika dewasa, kamu sudah terbiasa melakukannya. 


Ketiga, segerakan belajar berenang, dan harus sampai bisa! Yes, you read it right. HARUS! Percayalah, berenang adalah salah satu olahraga yang akan sangat kamu nikmati. Tetapi kamu harus mengalahkan ketakutanmu akan air. Dan kita kembali lagi ke poin ketiga di atas. 


Keempat, rajinlah berolahraga. Ini pun salah satu bentuk investasi. Dan olahraga yang paling aman buat kita, sekaligus menyenangkan, adalah berenang. Jadi, sekali lagi ya… HARUS BISA!


Kelima, rajinlah menabung. Ingat gak dulu ketika SD setiap minggu kamu menabung lewat TABANAS di sekolah? Nah, lakukanlah itu lagi. Percayalah, setiap kebiasaan baik adalah sebuah investasi. Dan harus dimulai sejak masih muda. Semuda mungkin. 


Keenam, tidak usah cemas dengan rambutmu. Sekarang bentuknya memang menyemak merimba bagaikan logo versace. Suatu saat dia akan melurus. Percayalah. Kan aku sudah mengalaminya hehehe. Jadi hingga waktu itu tiba, rawat saja rambutmu sebaik-baiknya, ya.


Ketujuh, ikutilah satu atau dua kegiatan berorganisasi. Bukan sekadar jadi anggota, tapi usahakan lah terlibat lebih banyak dalam kepengurusan. Banyak keuntungan yang akan kamu dapatkan. Memang rasanya seperti menghabiskan waktu yang seharusnya untuk belajar. Supaya tidak sia-sia, maka kamu pun harus memanfaatkannya untuk belajar. Belajar mengenal jalannya sebuah organisasi, mengenal birokrasi, belajar negosiasi, mengenal sifat dan watak manusia. Dan yang terpenting, kamu bisa belajar membagi waktu dan belajar menempatkan prioritas. 


Kedelapan, berlatihlah untuk menampilkan diri. Teman-teman yang kamu lihat sangat pede itu, sebenarnya gak jago-jago amat. Sama-sama punya kekurangan dan kelebihan. Sama-sama suka merasa gak pede. Namun, mereka memilih untuk menampilkan diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Kembali lagi seperti yang aku bilang, kamu punya banyak potensi. Dengan berlatih untuk tampil, kamu bisa menemukan potensi kamu itu.


Kesembilan, dan ini yang terakhir, biasakanlah membaca dan menulis. Membaca buku apa saja, dan menulis tentang apa saja. Dengan membaca, kamu memperluas wawasanmu, membanyak kosakatamu dan pengetahuanmu tentang cara orang lain bercerita. Dengan menulis, kamu belajar mengungkapkan apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan, dalam bahasa dan cara yang bisa dimengerti oleh orang lain. 


Jalan kamu masih sangat panjang. Tidak usah panik, tidak usah khawatir. Karena aku tahu, biasanya kalau kamu panik, maka kamu akan semakin santai dan ujung-ujungnya tidak melakukan apa-apa. 


Kamu harus tahu, kamu termasuk orang yang diberkati dengan banyak sekali kebahagiaan. Karena itu, pakailah hidupmu untuk memaksimalkan talenta yang Tuhan beri. 


Baiklah… segitu dulu ya, semoga tidak kepanjangan dan membuat kamu bosan.

Kapan-kapan aku menulis lagi untukmu ya...

Sehat-sehat ya, sayangku. 

Ingat selalu, apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja. 


Peluk erat.


Dwi 

Read more…

October 4, 2020

Penciptaan Hawa - Catatan Khotbah Minggu

sumber: https://adollar3eighty.wordpress.com/

Perikop : Kejadian 2 : 18 - 25

2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, q  yang sepadan dengan dia 1 ." 
2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan r  dan segala burung di udara. s  Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan t  manusia itu kepada tiap-tiap makhluk u  yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 
2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong v  yang sepadan dengan dia. 
2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur w  nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 
2:22 Dan dari rusuk x  yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 
2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku y . Ia akan dinamai z  perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. a 
2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya 2  dan bersatu b  dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. c  
2:25 Mereka keduanya telanjang, d  manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.


Dalam perikop ini dikisahkan tentang penciptaan Hawa, perempuan pertama, yang dijadikan Tuhan dari tulang rusuk Adam. Ada banyak sekali hal yang dapat kita pelajari dari perikop ini. 


Kita sudah sangat sering mendengar pandangan filosofis tentang kisah penciptaan ini. Hawa tidak diciptakan dari tulang kepala sehingga menjadi “kepala”, atau tulang kaki sehingga menjadi “bawahan”, atau tulang tangan sehingga menjadi “pekerja”. Hawa diciptakan dari tulang rusuk sehingga menjadi sosok yang dekat di hati, sosok yang dilindungi, sosok yang mendampingi.  Dengan kata lain, sejak awal penciptaan, sangat jelas bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan itu sebagai partner, dimana perempuan dimaksudkan sebagai penolong yang sepadan.


Secara dunia, penolong ini bisa saja posisinya di atas, karena lebih mampu atau lebih berkuasa, sehingga bisa memberikan pertolongan. Bisa juga dikonotasikan di bawah, yaitu sebagai asisten. Namun, kembali lagi ke perikop tersebut, posisi yang sejak awal diberikan Tuhan adalah “sepadan”.  Nilai-nilai ini lah yang kemudian bergeser secara budaya, atau secara dunia.


Kalimat Adam, yaitu “tulang dari tulangku, daging dari dagingku” tidak gampang kita mengerti secara logika. Adam memandang Hawa sebagai tulangnya, sebagai dagingnya. Artinya Adam memandang Hawa sebagai bagian dari dirinya, bagian dari hidupnya. Adam adalah Hawa, Hawa adalah Adam. Tidak hanya setara, namun mereka adalah sama. 


Sebagaimana Adam memandang Hawa, demikianlah seharusnya kita memandang sesama manusia. Kita memandang sesama manusia sebagai bagian dari hidup kita, sebagai ciptaan Tuhan yang hidup bersama-sama di dalam satu dunia. Sudut pandang ini akan membuat kita mampu menerima keadaan sesama kita, mampu mengasihi mereka, 


Seperti yang disebutkan sebelumnya, nilai-nilai tersebut telah berubah, telah bergeser, seturut budaya manusia. Persoalannya adalah selalu saja manusia itu ingin lebih berkuasa daripada yang lain. Siapapun pelakunya, siapapun korbannya, perilaku ini sesungguhnya sangat merendahkan martabat manusia. Sebagai orang Kristen, sebagai murid Kristus, kita harus mengembalikan nilai-nilai itu kepada ‘grand design’, kepada ‘blue print’ yang sudah ditetapkan Tuhan sejak awal.


Bagaimana penerapannya? Nilai-nilai itu harus dimulai dari lingkungan yang paling kecil,yaitu keluarga.


Orang tua hendaklah memberikan kesempatan yang sama dan seluas-luasnya bagi anak-anak untuk berkembang sebagai pribadi yang utuh. Orang tua hendaklah tidak membeda-bedakan atau mengistimewakan perlakuan terhadap anak perempuan terhadap anak laki-laki, atau sebaliknya. 


Demikian pula sebagai suami dan istri. Perikop tersebut di atas menjadi pondasi dalam membangun pernikahan di dalam Tuhan. Sebagaimana Adam dan Hawa, suami dan istri adalah partner, mereka adalah sama, dan bersama-sama membangun sebuah keluarga yang berkenan kepada Tuhan. Ketika suami dan istri menerapkan nilai-nilai ini dalam menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawab mereka dalam sebuah keluarga, maka anak-anak pun akan menirunya, sebab orang tua adalah figur contoh bagi si anak. 


Berangkat dari keluarga, kita membawa perilaku ini ke lingkungan yang lebih besar lagi, yaitu dunia. Sehingga kita mampu hidup berdampingan dengan orang lain, dan menjadi berkat di tengah-tengah kehidupan bersama dengan sesama ciptaan Tuhan.


Read more…