Tuesday, November 3, 2020

Halu itu Pilihan

Hello, November! 

Haha… telat ya, harusnya kemarin bilang “Hello!”nya. Tapi karena kemarin sudah posting untuk blog Drakor Class, maka gak bikin tulisan di blog sendiri lagi (gayaa... kaya' yang rajin aja...). 

Kemarin itu merupakan hari Minggu yang lumayan sibuk buatku. Dari pagi sudah mandi, karena mau ikut ibadah secara online, lalu melanjutkan menulis postingan untuk Drakor Class (DC), sorenya sepupuku "menculik" buat menemaninya jalan-jalan sore, dan malamnya sesi zoom dengan teman-teman DC. 

Seperti pernah kusebutkan, menulis untuk DC ini beda setelannya dengan menulis di blog sendiri. Menulis di blog keroyokan ini ada pressure tersendiri, karena ada nama bersama yang disandang. Setiap kali menulis, rasanya seperti menyusun skripsi. Mencari data sebanyak-banyaknya dan dari sumber terpercaya. “Membongkar” YouTube dan Wikipedia. Menonton drama dan episode yang menjadi topik bahasan berulang-ulang. Hasilnya, kemarin aku berhasil ‘menyetorkan’ tulisanku yang ketiga untuk DC. YAY! 


Tulisan pertama, aku membahas profile Cho Seung Woo. Feedback yang kudapat, isinya lebih lengkap dari Wikipedia! Aku tersenyum senang sekaligus meringis. Senyum karena aku tahu, iya, memang lebih lengkap dari halaman Cho Seung Woo di Wikipedia. Karena aku menggunakannya sebagai salah satu sumber, maka aku sampai hampir hafal isinya. Meringis karena hmm… pengennya menulis sesuatu yang santai dan damai, tapi karena isinya data semua, jadilah skripsi mode ON. 


Sesungguhnya ada niat ‘terselubung’ di balik tulisanku yang lebih mirip biografi itu. Aku mau menunjukkan bahwa para selebritis Korea ini bukan sekadar wajah tampan, bahkan yang dioperasi plastik sekalipun. Well, semua orang tentu senang melihat wajah yang cantik dan tampan, penampilan yang menarik, tubuh yang proporsional, who doesn’t? 

Aku mau menunjukkan bahwa selain segala ketampanan dan cap "plastik" itu, mereka adalah pekerja keras. Totalitasnya tinggi, berprestasi, dan layak untuk dijadikan panutan. Tentu saja tidak semua. Selalu ada kekecualian. 


Niat itu juga sejalan dengan misi aku dan teman-temanku ketika kami membuat Drakor Class. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan bahwa dari hobi menonton drama Korea, kita bisa mendapatkan ilmu tentang banyak hal. Ilmu yang kami dapatkan inilah yang kemudian kami bagikan kepada orang lain dalam bentuk tulisan. 


Tulisanku kedua, lagi-lagi tentang profil aktor Korea. Kali ini aku menulis tentang Lee Jae Wook. Aktor baru, rookie istilahnya. Memulai debut di tahun 2018, dan sudah menuai prestasi. Walaupun sedapat mungkin aku menambahkan bumbu manis manja ala bucin, namun tetap saja, panjang dan penuh data. Itu juga karena jam terbang Lee Jae Wook juga belum tinggi, kalau tidak, mungkin "nasib"nya akan kurang lebih seperti Cho Seung Woo hahaha


Kalau dirimang-rimangi (bahasa Batak: direnung-renungkan), semua itu saling terkait. Aku ngefans dengan Lee Jae Wook karena kemampuan aktingnya, ketampanan, dan cute awkwardnessnya. Saat ini, aku sedang menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol” karena Lee Jae Wook pertama sekali menjadi pemeran utama di situ. 


Salah satu tokoh dalam drama itu adalah Goo Ra Ra, seorang pianis, yang sedang membangun kembali hidupnya dengan membuka kursus piano, sehingga dalam drama ini, musik klasik menjadi salah satu faktor penguat cerita. Dalam setiap episode, setidaknya kita akan disuguhi satu musik klasik.


Satu hal tentang drama Korea, mereka menyusun cerita dengan sangat detail. Hampir tidak ada unsur yang berdiri sendiri, biasanya selalu mengisyaratkan sesuatu. Aku, yang pada dasarnya memang penikmat musik, jadinya penasaran apa hubungan lagu-lagu klasik itu dengan jalan cerita drama tersebut.


Dari rasa penasaran itu, aku pun mencari tahu tentang beberapa lagu klasik yang dimainkan di drama itu. Ternyata banyak sekali cerita yang menarik dalam sejarah panjang lagu-lagu klasik tadi. Dari situ, aku pun menghasilkan tulisanku yang ketiga. Kalau tidak karena menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol”, aku rasa gak bakalan aku kenal dengan Martini dan lagu “Plaisir d’Amour”, atau Erik Satie dan lagu “Je Te Veux”. 


Ketika mengobrol lewat aplikasi zoom dengan teman-teman DC, sempat terbahas lagi tentang sentimen negatif tentang penggemar drama Korea. Ya…. sekali lagi menurutku itu masalah selera, sih. Aku tidak berhak mengomentari apa yang membuat orang lain bahagia, sebagaimana aku pun (sebenarnya) tidak perlu menjelaskan apa yang membuat aku bahagia. Yang penting, selama bahagia kita tidak terjadi di atas derita orang lain, maka kita semua akan baik-baik saja.


Memang dari beberapa segi, bisa saja menonton drama ini menjadi sumber dosa. Aku tidak akan masuk ke ranah itu, karena menurutku dosa adalah sesuatu yang sangat pribadi. Hanya kita dan Dia yang tahu.


Dunia ini penuh keberagaman, tinggal kita memilih yang mana yang layak dijadikan pilihan. Melalui tulisan-tulisanku di Drakor Class, aku sedang menceritakan pilihanku, bahwa ke"halu"an ini memiliki alasan.