Showing posts with label Drakor dan Literasi. Show all posts
Showing posts with label Drakor dan Literasi. Show all posts

December 18, 2020

Annyeonghaseyo Chingudeul Episode Finale 2020

Annyeonghaseyo!

Sebagaimana biasanya hari Jumat, hari ini adalah hari yang panjang dan lumayan sibuk. Walaupun di rumah saja karena hari ini aku WFH, kegiatan sudah dimulai dari pagi dan baru berakhir pukul 10, dan ditutup dengan kegiatan menulis. 

Bulan Desember adalah bulan istimewa di KLIP, dengan 20 setoran saja sudah bisa mendapatkan badge Outstanding. Berhubung aku memang memiliki kecenderungan modis, alias modal diskon, maka ‘diskon’ ala KLIP ini pun termasuk salah satu yang aku kejar haha


Hari ini pekerjaan kantor agak ‘rungsing’ karena banyak diisi dengan koordinasi via telepon dan via WhatsApp. Apalagi kemarin aku baru saja survei lapangan ke Cigudeg, dan besok akan ke luar kota lagi. Maka hari ini adalah harinya melakukan koordinasi ke sana dan kemari, pasca dan pra survei. 


Yang paling istimewa hari ini adalah acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”, IG Live Drakor Class. Hari ini adalah episode ketujuh, yang adalah episode terakhir untuk tahun 2020. Setelah beberapa episode ‘kursi panas’ sebagai host ditempati oleh RiRi Couple-nya Drakor Class, yaitu Cha Ree dan Cho Rijo, kemudian Cho Rijo, dan Lendyagasshi, maka episode ini, aku kembali mendudukinya. Setelah beberapa minggu bisa santuy nonton IG Live sambil rebahan, kali ini aku kembali sibuk dengan persiapan dan eksekusinya. 


Pada episode kali ini, Drakor Class menghadirkan tiga orang classmate. Dengan penampilan ketiga classmate ini, maka bisa dikatakan seluruh kontributor Drakor Class sudah tampil di acara IG Live. Eh, ada satu orang yang belum ding… Sudah dijadwalkan sebenarnya untuk tampil di episode ke-6, namun karena ada kepentingan keluarga, akhirnya harus ditunda dulu deh penampilannya.  


Sejak hari Sabtu yang lalu aku sudah menghubungi ketiga teman yang menjadi classmate, yaitu Nastiti, Rosy, dan Gita. Harus dihubungi jauh-jauh hari, karena mereka bertiga memiliki kesibukan yang cukup menyita waktu juga. Nastiti mengikuti beberapa komunitas yang banyak tugas-tugasnya, Rosy yang tinggal di kota berzona WITA sehingga harus menyesuaikan waktu dengan kita yang di WIB, dan Gita yang punya usaha kuliner yang biasanya tutup setelah jam makan malam. 


Awalnya sih mau bahas film dan drama Korea. Namun setelah diskusi dengan Nastiti, kaya’nya kurang pas kalau fokus hanya di film. Nas lalu mengusulkan untuk membahas literasi Korea, karena memang Nas suka membaca dan mengoleksi beberapa novel karya penulis Korea. Wah, ide brilian! Karena sepanjang Drakor Class mengudara, kami belum pernah membahas tentang literasi Korea. Akhirnya dirumuskan untuk episode kali ini, kami akan membahas tentang sinema (film dan drama) dan literasi Korea. 


Persiapannya sih sama seperti acara IG Live sebelumnya. Aku menyiapkan daftar pertanyaan untuk para classmate, lalu para classmate memberikan feedback mereka, kemudian kami mengadakan rehearsal sehari sebelum hari H, yaitu gladi resik melalui video call. Seserius itu? Iyaaa… kami seserius itu hahaha Gladi resik (GR) ini penting untuk melatih komunikasi host dan classmate juga. Jadi ketika ‘manggung’, tidak kagok atau canggung lagi. 


Ketika GR, biasanya classmate masih “demam panggung”, apalagi kebanyakan kami belum pernah tampil live di depan kamera. Tentu saja dalam setiap GR, aku punya pengamat dan komentator yang selalu siap sedia memberikan input, yaitu Kak Risna dan Lendy. Dalam setiap GR, biasanya akan muncul ide-ide pertanyaan atau topik yang akan dibahas, sehingga biasanya setiap GR aku akan sibuk membuat catatan, dan kk Risna dan Lendy akan sibuk “merusuh” hahahaha.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah flyer yang didesain oleh Manda. Ketika jadwal, tema, host dan classmate sudah fixed, maka semua informasi itu 'disetorkan' kepada Manda, bersama foto-foto para 'tersangka' hahaha Tidak pakai lama, Manda akan segera meproduksi flyer, dan siap ditayangkan di berbagai medsos Drakor Class. 



Flyer "Annyeonghaseyo Chingudeul" Episode Finale 2020 
(sumber: Instagram Drakor Class)


Latihan atau GR Kamis malam itu berjalan dengan lancar. Terus terang aku agak gentar, karena di luar dugaanku, ketiga classmate memiliki kecintaan yang amat sangat pada hobi mereka masing-masing, sehingga malah aku merasa kurang informasi. Dibandingkan aku, mereka bertiga telah lebih dulu menonton drakor, dan koleksi drakor dan filmnya sudah buuanyaaaakk. Kuatirnya besok malahan hostnya yang kelihatan bengong dan demam panggung hahaha

Hari H pun tiba. Satu jam sebelum acara, aku kembali bersiap-siap, membuka berbagai catatan, membuat berbagai catatan. Pukul delapan malam pun tiba, panggung pun dibuka!

Bahagianya aku karena kekuatiranku tidak terjadi. Baik Nas, Rosy, maupun Gita tampil lebih baik, lebih cair, dan lebih lancar dibandingkan GR. Luar biasa, keren banget! Informasi yang mereka sampaikan juga sangat menarik, sehingga tanpa terasa, episode hari ini mengambil dua sesi, alias 2 jam, yang sangat menyenangkan. 

Ketika direnungkan, memang pandemi telah membuat aku berani mencoba hal baru, membuat aku belajar banyak hal baru. Dan menjadi host Drakor Class adalah pengalaman yang sangat berharga buatku. Tidak saja aku belajar keterampilan baru, mulai dari public speaking, sampai mengoperasikan fitur Instagram. Aku juga belajar merencanakan acara seperti IG Live ini, dan lebih 'rempong' lagi ketika bersama-sama teman-teman Drakor Class kami merencanakan event "Crash Landing on KDrama" bersama KCC Indonesia, dimana aku menjadi moderator. Dan satu hal yang lebih istimewa lagi, dengan menjadi host, aku semakin mengenal teman-teman yang menjadi classmate secara lebih dekat.  

Semoga saja di tahun 2021, Drakor Class bisa tetap dan terus menjadi rumah yang nyaman bagi kami dan banyak orang lagi untuk sama-sama belajar, berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan.  

Read more…

October 11, 2020

Drakor Class

Berawal dari ajakan dan ‘seretan’ dua orang teman, yang dulu sempat menjadi teman seatap ketika di Bandung, aku pun kembali melakukan kesukaan tulis-menulis. Suatu sejarah yang panjang sebetulnya, karena sempat terhenti di tengah jalan cukup lama. Blog yang dulu sering diisi dengan berbagai tulisan, mulai yang retjeh sampai yang curhat anonim --saking anonimnya, yang menulis pun lupa itu lagi bahas apa siapa dan kenapa-- sempat mati suri selama bertahun-tahun.

Beberapa kali aku pernah mencoba aktif lagi menulis. Saking seringnya mencoba, sampai-sampai aku sempat menamai blog ku “50 First Posts”. Tapi selalu saja ada halangannya. Intinya mah lupa aja kalau ada blog yang menanti untuk disambangi. 

Pertama kali menulis lagi ketika mengikuti tantangan menulis di akun IG 30HariBercerita tahun 2019. Ketika itu tidak penuh menulis selama 30 hari, namun salah satu postinganku di-repost oleh admin. Hoho… rasanya kaya’ jadi juara kelas! Bangga pisan euy! 


Sayangnya setelah 30HariBercerita usai, kegiatan menulis tadi tidak kulanjutkan, sampai kemudian ketemu lagi dengan tantangan 30HariBercerita di tahun 2020. Tantangan ini memang diadakan setiap awal tahun saja. Di sini malah terjadi penurunan prestasi. Semakin banyak hari bolong menulisnya, dan tidak ada satupun tulisan yang direpost.


Ketika itu aku di’seret’ oleh kak Risna untuk ikutan gabung di komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional. Komunitas ini adalah bagian dari komunitas yang lebih besar lagi, yaitu Institut Ibu Profesional. Aku pun memutuskan untuk menuruti ajakan bergabung. Sadar diri, aku selalu butuh komunitas atau lingkungan yang membuat aku semangat buat menulis lagi. Kalau ada teman kan rasanya lebih seru gitu. 


Di KLIP ini berlaku sistem gugur. Apabila kita tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan, dengan jumlah postingan minimal, kemudian jumlah kata minimal, sebagai indikatornya, maka kita akan gugur sebagai peserta dan tidak bisa melanjut. Berbekal keengganan didera rasa tengsin kalau gugur, maka aku pun berusaha memenuhi syarat-syarat tersebut. Pestasi sekali rasanya, sejak Januari sama sekarang, hanya di bulan Februari aku tidak mencapai target minimal, sehingga sampai sekarang masih terdaftar sebagai peserta aktif di KLIP 2020.


Melalui komunitas KLIP aku berkenalan dengan teman-teman baru. Selain sama-sama suka menulis, kami memiliki kesamaan lain yaitu hobi menonton drama Korea. Korea Selatan pastinya, bukan Korea Utara. Kami tergabung dalam suatu grup WA bertajuk “Drakor dan Literasi”. 


Banyak pandangan miring tentang hobi menonton drakor ini. Dianggap sumber dosa lah, tidak berfaedah dan buang waktu lah, bikin kecanduan lah, dan lain sejenisnya. Sebenarnya ini masalah pilihan, dan masalah selera, jadi tidak perlu dibahas juga. Tidak akan ada titik temunya. Sama seperti membandingkan mana yang lebih enak, es cendol atau ketoprak. 


Dalam grup “Drakor dan Literasi” ini, kami tidak sekadar membicarakan kisah-kisah dalam drama dan para oppa tampan lalu menghalu bersama. Tentu saja kami pun melakukannya. Tapi yang benar saja, wanita cerdas mana yang tahan ngomongin tampang lelaki 24 jam sehari? Mungkin ada, tapi sudah jelas, itu bukan kami.


Dari grup “Drakor dan Literasi” ini aku mengenal dan banyak belajar dari wanita-wanita hebat. Wanita super yang jagoan multi tasking. Dalam kesibukan mereka bekerja, mengurus rumah tangga dan keluarga, apalagi di masa pandemi ini ketika anak-anak sekolah dari rumah dan orang tua juga bertugas sebagai guru, mereka masih punya waktu untuk menulis. Beberapa dari mereka malah sudah, baru saja, dan akan segera menerbitkan buku ataupun antologi. 


Entah dari mana para emak ini memperoleh energi ekstra. Mengurus pekerjaan dan keluarga, beberapa punya tugas menjadi admin di komunitas KLIP, tetap bisa menulis secara rutin setiap hari, bahkan bisa menghasilkan dua atau tiga tulisan dalam satu hari, plus masih menyempatkan diri menikmati drakor, yang sering kali dilakukan sambil mengerjakan tugas rumah tangga. Satu hal yang aku yakin, mereka digerakkan oleh rasa cinta. Cinta pada keluarga, suami dan anak-anak, cinta pada dunia menulis, dan cinta pada dunia drama Korea yang penuh warna.


Menjadi bagian dari komunitas KLIP, khususnya Drakor dan Literasi, aku sering kali merasa terintimidasi sekaligus terinspirasi. Aku, yang menulis masih sambil lalu dan pengabdi badge KLIP ini, merasa seperti ikan kecil di kolam besar, yang isinya banyak sekali ikan-ikan besar. Kalau biasanya ikan kecil jadi mangsa ikan besar, tapi di kolam yang ini, ikan kecil justru ‘diberi makan’ dan disemangati oleh para ikan besar. Dan sampai sekarang pun si ikan kecil ini tetap masih suka ngaso dan belum kencang berenangnya hahahaha


Aku senang sekali dan sungguh merasa terberkati bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-teman grup Drakor dan Literasi ini. Kami berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan profesi. Namun, dalam drakor, kami bersaudara #bucin_united

Dari teman komunitas, menjadi teman berbagi yang saling mendukung dalam menghadapi berbagai badai kehidupan #tssaahh


Bulan Juni yang lalu, kami membuat Tantangan Menulis 30 Topik Kokoriyaan. Topiknya macam-macam, mulai dari review film atau drama Korea, kuliner Korea, aktor/aktris dan KPop idol favorit, sampai tempat-tempat yang ingin dikunjungi apabila suatu saat berkesempatan mengunjungi negara gingseng itu. Ternyata menjadi sangat menarik, ketika satu topik bisa dibahas dari berbelas sudut pandang cerita. Topik yang sulit buat yang satu, bisa jadi diselesaikan oleh yang lain "sambil merem" hahaha


Meneruskan hobi menulis seputar kokoriyaan ini, kami pun membuat blog bersama, yang diberi nama "www.drakorclass.com". Suatu proyek bersama, dari sebuah wacana dan pembahasan melalui chatting dan sesi zooming, lalu “diseriusin” dan kemudian diwujudkan dengan kolaborasi yang luar biasa. Berbagi tugas, dan setiap orang mengambil bagian sesuai bidang keahlian masing-masing. 


Mulai dari persiapan memilih nama, menyiapkan website dan hostingnya, membuat akses bagi setiap kontributor, menyiapkan fitur, membuat logo dan desain grafis lainnya, mengumpulkan foto dan profil, menyiapkan akun email dan medsos, dan tentu saja, menulis artikel untuk postingan perdana, Tidak ada yang sungkan bertanya, dan tidak ada yang enggan membagi ilmu. Tidak ada rebutan lapak; dimana ada yang lowong, sedapat mungkin yang mampu akan membantu. Sama-sama ingin maju, dan ingin maju bersama-sama. 


Tampilan Website www.drakorclass.com



Puncaknya, pada tanggal 10 Oktober 2020, resmilah www.drakorclass.com mengudara. Situs ini adalah ‘anak’ kami bersama. Seperti orang tua pada anaknya, kami pun punya harapan besar terhadap situs ini. Tentu saja harapan harus dibarengi dengan “asupan gizi”, supaya si anak tumbuh besar, kuat dan sehat. Mudah-mudahan kami tetap bisa sehati dalam membesarkan ‘anak’ kami ini.



Para Kontributor DrakorClass.com (sumber: www.drakorclass.com)


Kata siapa nonton drakor cuman bikin halu? Buat kami, drakor adalah sarana menambah ilmu. Melalui www.drakorclass.com, kami berbagi tulisan-tulisan yang terinspirasi dari drama Korea.

Jadi, buat yang masih berpikir bahwa menonton drakor hanyalah tindakan sia-sia, tidak produktif, dan hanyalah menjadi sumber dosa, kaya’nya kamu mainnya kurang jauh. Karena kami “bucin” penuh totalitas, tanpa melupakan prioritas.

Read more…

September 16, 2020

Hwang Shi Mok, Si Lempang Jaya -- Drama "Stranger" (2017)

Beberapa hari ini disibukkan dengan pekerjaan survei dan persiapan untuk proyek cukup membuat aku lupa dengan hal-hal lain. Semacam sok sibuk lah ceritanya…hehe  Persiapan pekerjaan memang selalu membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.Persiapan, mungkin lebih tepatnya penjajagan, yang kami lakukan ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan, apakah kami akan melanjutkan ke tahap selanjutnya, atau melepas kesempatan, atau menunda melangkah namun dengan risiko akan kehilangan kesempatan. Buat aku yang pada dasarnya adalah seorang peragu dan penakut, hal ini cukup menjadi beban pikiran selama beberapa hari terakhir. Aku merasa prosesorku kurang canggih untuk menganalisa semua data yang kudapatkan sehubungan dengan pekerjaan ini.

Saking jadi beban pikirannya, aku sampai tidak punya energi untuk menonton drama Korea “Stranger” (2017), yang mengisahkan kehidupan seorang jaksa bernama Hwang Shi Mok (Cho Seung Woo) dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Padahal, bagaikan orang pacaran yang baru jadian, aku lagi sayang-sayangnya dan kangen-kangennya sama uri Cho Seung Woo oppa yang jadi lead male di drama ini.


Poster Drama "Stranger" (2017) - sumber: IDNTimes

Hwang Shi Mok menderita sebuah penyakit dimana pendengarannya hipersensitif terhadap bunyi dengan frekuensi tertentu. Hal ini tidak hanya mengganggu kesehatan Hwang Shi Mok, tapi juga mempengaruhi kehidupan sosialnya. Shi Mok muda dianggap seperti psikopat, suka mengamuk dan memukul teman-teman di sekolah. Padahal itu dia lakukan karena tidak tahan akan sakit yang ditimbulkan ketika mendengarkan bunyi tertentu yang muncul saat itu. Akhirnya Shi Mok menjalani operasi untuk menyembuhkan penyakitnya. Efek samping dari operasi ini, Hwang Shi Mok kehilangan kemampuan untuk berempati dan bersosialisasi. 


Efek samping ini justru membuat Hwang Shi Mok mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang jaksa dengan baik. Shi Mok fokus hanya kepada fakta, pada kebenaran dan keadilan. Shi Mok tidak mengenal dan tidak mengerti apa itu basa-basi, sugar coating, spik spik nabi. Bukan berarti Shi Mok tidak mampu bernegosiasi. Namun dia melakukannya dengan perhitungan yang logis, berdasarkan fakta (as always), dan bukan berdasarkan perasaan suka atau tidak suka atau untuk mengambil keuntungan. 


Ketika membongkar sebuah kasus yang diduga erat kaitannya dengan skandal korupsi di level pejabat-pejabat pemerintahan, Shi Mok bekerja sama dengan seorang letnan polisi wanita bernama Han Yeo Jin (Bae Doo Na). Shi Mok dan Lt. Han benar-benar tim yang kompak. Mereka memiliki cara pandang yang sama terhadap kebenaran dan keadilan. Mereka sama-sama pekerja keras, pintar, dan ahli di bidangnya masing-masing. Mereka berdua juga sama-sama ‘barang langka’ di tempat kerjanya masing-masing. Dan mereka berdua juga saling melengkapi. Hwang Shi Mok yang tidak peka ini bahkan tidak menyadari bahwa bahasa tubuhnya berbeda ketika berhadapan dengan Lt. Han. Sungguh, sebagai penonton, betapa aku sangat menahan diri untuk tidak menggigit layar laptop karena gemaasss dengan kelakuan Shi Mok yang gak sadar situasi ini.



Lt. Han dan Hwang Shi Mok - One True Couple (sumber: Dramabeans)


Karakter Hwang Shi Mok yang cool (beneran cool alias dingin) dan lempang jaya ini sungguh bikin aku kagum, gemas, penasaran, sampai kasmaran. Shi Mok tidak pernah basa-basi, tidak pernah merasa perlu memasang topeng bermuka dua dan bermulut manis. Tetapi jangan salah, sebagai seorang bawahan, Shi Mok sangat menghormati para atasannya. Dia melakukan semua perintah atasannya dan melaksanakan mandat dengan sebaik-baiknya, selama itu tidak menentang nilai-nilai kebenaran dan keadilan. 

Shi Mok bisa menyingkirkan semua hal yang menyangkut rasa, yang biasanya akan mendistorsi logika. Hal yang mungkin dianggap sebagai kekurangan dan telah membuat Shi Mok dijauhi bahkan dibenci banyak orang, justru membuat Shi Mok berhasil membongkar dan menyelesaikan banyak kasus kejahatan. Dia tidak peduli apakah dia punya teman atau tidak, apakah orang senang padanya atau tidak. Itu tidak penting. Justru dia menikmati kesendiriannya. “Kekurangan” itu membuat Shi Mok mampu menganalisa banyak hal yang diamatinya, karena dia tidak sibuk memikirkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kasus tersebut. 


Walaupun sepertinya hidup Shi Mok sepi dan menyedihkan, tetapi ada saatnya aku ingin bisa seperti Shi Mok. Apa adanya, tidak butuh menyenangkan siapapun atau menjaga-jaga perasaan siapapun, semua berdasarkan logika, mampu menganalisa data dan fakta dan menemukan korelasinya. Karena pada dasarnya, kebenaran itu membebaskan. 


Bukan hanya karakter yang diperankannya yang bikin aku jatuh cinta pada Cho Seung Woo, tetapi juga kemampuan aktingnya. Dari potongan-potongan behind the scene yang kutemukan di YouTube, dan juga interview pada beberapa talk show, Cho Seung Woo punya karakter yang rame dan ceria. Namun dia mampu memerankan Shi Mok yang tampangnya datar senantiasa. Mungkin setiap kali sutradara berteriak “CUT!”, maka Seung Woo langsung ngakak untuk melemaskan otot-otot wajahnya dan menyalurkan energi berlebih dalam tubuhnya. 


CUT!! Maka keluar lah aslinya (sumber: pinterest)

Buat aku yang pecandu romansa ini, kisah di drama “Stranger” ini menyuguhkan sebuah romansa dalam bentuk yang berbeda. Cho Seung Woo mampu menampilkan karakter seorang Shi Mok yang tidak sadar bahwa dia punya reaksi dan bahasa tubuh yang berbeda terhadap Lt. Han. Biasanya Shi Mok akan menghindar atau menepis atau menunjukkan tidak suka bila disentuh orang lain, tetapi hal ini tidak berlaku dengan Lt. Han. Bahkan dia membalas ajakan fist bump dari Lt. Han. Bagaimana Shi Mok menelepon Lt. Han untuk menyampaikan apa penyebab kolega mereka dibunuh dan itu bukan karena Lt. Han, sehingga dia tidak perlu merasa bersalah. 


Hwang Shi Mok's First Smile... Uwuwuwuuu (sumber: Dramabeans)


Kalau di drama romcom biasanya puncaknya adalah first kiss, maka di drama ini, puncaknya adalah “first smile”. Dan senyum Hwang Shi Mok yang sungguh langka itu bisa terjadi oleh karena seorang Lt. Han. Gemasss!!


Read more…

September 2, 2020

Bukan "Plastik" Biasa

Tanpa terasa, tantangan menulis “30 Days with Koriya” di grup Drakor dan Literasi sudah masuk ke bulan terakhir. Semenjak di mulai di bulan Juni, aku dan teman-teman grup Drakor sudah menuliskan 25 topik tulisan seputar Korea. Tidak melulu tentang drama dan film Korea, tetapi juga makanan, bahasa, budaya, dan tentuk tidak ketinggalan, KPop. 

Bulan September ini adalah bulan terakhir. Masih ada 5 topik lagi yang akan dikupas tuntas bersama. Kalau dipikir-pikir, sungguh mengagumkan ya, 1 topik bisa dibahas dan dituliskan dari belasan sudut pandang dan gaya tulisan yang berbeda. 


Kali ini, topiknya adalah Idol yang menjadi aktor/aktris, atau artis yang full package. Kalau bicara artis Korea full package, wah… daftarnya panjang! Sebagaimana berkali-kali tersurat dan tersirat dalam postinganku, tidak hanya visual mereka yang menggoda “iman”, namun para artis Korea ini pun serba bisa. 


Kelebihan visual mereka ini sering dituduh publik sebagai “plastik” alias hasil operasi dokter kecantikan. Pertama, tidak semua artis Korea melakukan operasi plastik. Banyak juga yang sudah ganteng atau cantik bawaan orok. Kedua, sesungguhnya hal itu pun mereka lakukan demi totalitas dalam profesinya sebagai artis. Dibalik tampilan visualnya, mereka punya banyak sekali kemampuan. Mulai dari kemampuan berseni peran, nyanyi, nari, main musik, MC, sampai menjadi model atau bintang iklan. Selain uri Jae-uck oppa, artis Korea serba bisa lain yang menjadi favoritku adalah Cho Jung-seok. 


Cho Jung-seok memulai kariernya sebagai pemain teater. Dia bermain dalam banyak drama musikal, di antaranya “Hedwig and The Angry Inch” dan “Amadeus”. 


Pertama sekali aku menyaksikan kemampuan akting Cho Jung-seok, dan terpesona, adalah dalam drama “Don’t Dare to Dream”. Akting Cho Jung-seok memerankan pria sombong gengsi menggalau bikin mabuk kepayang. Chemistry Cho Jung-seok dan Gong Hyo-jin merasuk sampai ke hati. Sorot matanya, gerakan tubuhnya, ohh my heaarrtt…


Setelah drama, aku lanjutkan dengan menonton filmnya. Ketika itu bertepatan ada tantangan di grup Drakor untuk mengulas film “EXIT” yang dibintangi Cho Jung-seok. Di situ pun kembali aku kagum dengan kemampuan aktingnya. 


Sejak tayang perdana, popularitas film yang dibintangi Cho Jung-seok dan Yoona SNSD ini terus melesat tinggi. Ketika penonton film tersebut menembus angka 9 juta, Cho Jung-seok dan Yoona SNSD mengucapkan terima kasih kepada para penggemarnya dengan mengunggah video mereka menari dengan iringan lagu “Superhero” yang menjadi OST film "EXIT". Walaupun tidak seluwes Yoona, tetapi Jo Jung-seok bisa mengimbanginya dengan gaya menari yang dramatis dan lucu.


“Gong”nya adalah di drama Hospital Playlist. Di situ Cho Jung-seok menunjukkan tidak hanya kemampuan aktingnya sebagai dokter bedah dan orangtua tunggal, namun dalam hampir setiap episode penonton dapat menikmati kemampuannya olah vokal dan bermain musik dalam sebuah band.


Drama “Hospital Playlist” ini memang spesial. Dalam drama ini pun kita bisa melihat keserbabisaan para artis Korea. Tidak hanya Cho Jung-seok, tetapi empat “dokter” lainnya pun memiliki kemampuan vokal dan bermain musik. Ternyata chemistry mereka berlima tidak hanya klop sebagai sahabat dan rekan sejawat, tetapi juga sebagai grup band. Ketika drama berakhir, Cho Jung-seok bersama empat rekan lainnya, yaitu Yoo Yeon-seok, Jung Kyung-ho, Kim Dae-myung, dan Jeon Mi-do, meresmikan band yang tadinya hanya ada dalam drama, dan memulai debut band yang mereka beri nama “Mido & Parasol”.

Selain kemampuan di bidang seni, tidak sedikit juga dari artis Korea, baik KPop idols maupun aktor/aktris yang mempunyai prestasi dalam bidang akademis. Kim Nam-joon (RM) BTS memiliki IQ 148, meraih nilai TOEIC 850, dan menguasai bahasa Inggris dengan belajar secara otodidak. RM sering menjadi juru bicara BTS setiap mereka tampil di ajang internasional. Kyuhyun, member termuda Super Junior, menyelesaikan program S2 nya di jurusan Postmodern Music di Universitas Kyunghee. 


Lee Seung-gi meraih gelar sarjana di jurusan International Trade and Commerce di Universitas Dongguk, dan meraih “Special Achievement Award”. Lalu Seung-gi melanjutkan studi S2 di Universitas yang sama, tidak satu tetapi dua jurusan, yaitu Trade Theory dan Finance and Cultural Contents. 


Kim Tae Hee, yang juga istri dari Rain, meraih gelar sarjana di jurusan Fashion Design dari Universitas Nasional Seoul, salah satu universitas paling bergengsi di Korea Selatan. Selama kuliah di sana, Kim Tae-hee pernah menjadi ketua klub ski wanita. 


Semakin banyak membaca dan menyaksikan karya mereka, semakin kagum aku dengan para artis Korea ini. Suatu bukti bahwa mereka memang lebih dari sekadar “plastik”.


Read more…

August 8, 2020

My Jae-wook

Oppa adalah panggilan kekeluargaan dalam bahasa Korea, digunakan oleh seorang perempuan untuk memanggil laki-laki yang lebih tua dalam kisaran 10 tahun. Kalau di budaya kita, mungkin sama dengan panggilan abang, aa’ atau mas. Dan sebagaimana dalam budaya kita juga, panggilan “oppa” juga mengisyaratkan kedekatan (maupun ke-sok-dekat-an) dengan orang tersebut. 


Panggilan “oppa” semakin familiar dan mendunia seiring dengan gelombang budaya Korea. Seluruh fans drama korea dan KPop memanggil pujaan atau bias mereka dengan oppa, terlepas dari umur mereka. Tentu saja, aku termasuk salah satu pelakunya. Ah, gak penting umurnya berapa, yang penting tampan dan aku sukaaa haha


Daftar oppa kegemaranku bertambah seiring dengan bertambahnya judul drama yang kutonton. Totalitas dan penghayatan peran, chemistry yang bikin deg-degan sambil gigit bantal, sudah pasti membius hingga bikin membias. Daftar ku itu sifatnya dinamis, bertambah dengan urutan kadar pesona yang berubah-ubah. Tetapi yang paling istimewa, oppa nomor satu untuk (semoga) selamanya, adalah Kim Jae-wook.  


Kim Jae-wook sebagai "Ryan Gold" - Tampang Songong
(sumber: Pinterest)

Setiap membahas drama Korea atau apapun yang beraroma ke-Korea-an, pasti tidak bisa lepas dari oppa yang satu ini. Aku jatuh cinta pada Kim Jae-wook ketika menonton “Her Private Life” (HPL), dimana Jae-wook pertama kali menjadi lead male dalam drama bergenre romance-comedy. Dalam drama itu, Jae-wook berperan sebagai Ryan Gold. Kisah drama HPL itu sendiri sebenarnya biasa aja, bahkan cenderung klise. Namun ke-klise-an yang disajikan dengan manis itu membuat aku dejavu berkali-kali ketika menontonnya. Kepincut berat dengan karakter dingin namun romantis dengan sorot mata tajam dan senyum miring menggoda Ryan Gold, aku pun mencari tahu tentang pemerannya. 


Sebagai aktor, Jae-wook telah memerankan berbagai jenis karakter dalam berbagai jenis genre drama dan film. Pada film pertama yang diperankannya, “Antique”, dia berperan sebagai Min Seon-woo, seorang gay yang berprofesi sebagai bakery chef. Pada drama “Voice”, dia berperan sebagai Mo Tae-goo, seorang psikopat. Aku belum menonton drama ini, tetapi menurut berbagai review yang aku baca, Jae-wook sukses memerankan seorang psikopat, hingga image ini melekat padanya. Pada drama “The Guest”, dia berperan sebagai Choi Yoon, seorang pastor yang bisa mengusir setan. Dan pada drama “Her Private Life” dia berperan sebagai seorang pelukis yang jutek namun romantis. Perannya dalam drama HPL ini mendapatkan penghargaan sebagai “Best Male Asian Star” pada event Starhub Night of Stars 2019, yang menambah daftar penghargaan di bidang akting yang diperoleh Kim Jae-wook.


Berbagai "Wajah" Jae-wook.
Pembuat Waffle - Psikopat - Pengusaha Muda Nan Romantis
(sumber: id.castKo.com)


Selain film dan drama, Jae-wook juga berperan dalam drama musikal Korea. Tahun 2011, sebelum menjalankan wajib militer, Jae-wook, bergantian dengan tiga orang oppa tampan lainnya, yaitu Choi Jae-woong, Cho Jung-seok, dan Kim Dong-wan, main dalam “Hedwig and The Angry Inch”, yang diadaptasi dari drama Broadway berjudul sama. Drama ini mengisahkan tentang Hedwig Schmidt, seorang transgender yang menjadi vokalis band rock and roll bernama The Angry Inch. Lalu tahun 2018, Jae-wook berperan sebagai Mozart dalam drama musikal “Amadeus”. Dalam kedua drama ini, Jae-wook tidak hanya memperlihatkan kemampuan aktingnya, tapi juga kemampuan bernyanyi dan bermain musik.


Kim Jae-wook sebagai Hedwig (sumber: Pinterest)


Kemampuan bermusik Jae-wook bukanlah hal yang baru. Ketika SMA, sebagai siswa baru dia mengikuti audisi band “Kaksital”, dan diterima. Jae-wook juga pernah mengikuti reality show “Akdong Club” di acara TV MBC. Namun ketika ditanya apakah dia bisa menari dan bernyanyi selayaknya KPop idols yang kita kenal sekarang, Jae-wook memilih untuk tetap dengan gaya musik rock nya, dan tidak meneruskan audisi. Ketika kuliah jurusan musik di Seoul Institute of The Arts, Jae-wook membentuk sebuah band bernama “Walrus”, yang masih ada sampai sekarang. 


Selain aktor dan pemusik, Kim Jae-wook juga seorang model. Tahun 2019, Kim Jae-wook turut diundang dalam salah satu ajang fashion terbesar dunia, “Paris Fashion Week”. Tidak sekedar melenggang di catwalk, tahun 2011, Jae-wook bersama beberapa orang model lainnya, menulis buku berjudul “Top Model”, sebuah kisah tentang pengalaman mereka dalam industri fashion. Karya terbaru Jae-wook, sebuah film dokumenter berjudul “My Margiela” (Martin Margiela : In His Own Words),  juga mencerminkan kecintaannya pada dunia fashion. Sayangnya yang dipublikasi masih teasernya #ihiks


Jae-wook dalam "My Margiela" (sumber: Instagram @jaeuck.kim)


Dari berbagai karyanya, kusimpulkan bahwa uri oppa Kim Jae-wook adalah seorang seniman. Tidak heran gayanya tampak nyentrik dan berbeda. Terkesan tidak jaim dan apa adanya. Seandainya suatu saat bisa bertemu langsung, apabila aku berhasil siuman karena pingsan akibat sempat lupa bernapas, maka aku cuman mau bilang, “Oppaa.. Mana drama baru nyaa??”

Read more…

August 1, 2020

IG dan Google, Paling Tahu yang Ku Mau!

Sebelum tahun 2019, aku hanya mengingat satu nama aktor drama Korea, yaitu Won Bin. Ketika itu, drama Won Bin yang aku tonton adalah Endless Love (Autumn in My Heart), dimana Won Bin sebagai second lead male memerankan tokoh Han Tae-seok. Walaupun drama Endless Love itu nge-hits banget, dan aku menontonnya dengan sepenuh hati dan mengharu-biru, namun nama Song Seung-heon dan Song Hye-kyo tidak melekat sama sekali, dan gak pengen tau juga mereka siapa dan kenapa. Padahal dua-duanya termasuk artis tenar  di dunia hiburan Korea.


Sejak tahun lalu, kesukaan ku akan suatu drama Korea sering kali berlanjut dengan kesukaan akan para pemerannya. Di masa awal aku mulai mengenal dunia perdrakoran, drama yang pertama kali bikin aku terpukau dengan pemerannya adalah “Goblin: The Great and Lonely God”. Butuh beberapa minggu sampai aku menemukan selera untuk menonton drama Korea lainnya. Drama berikutnya yang membuat lebih terpukau lagi dengan pemerannya adalah “Her Private Life”. (Setelah membahas berkali-kali tentang drama ini, baru aku sadari, ternyata efek dejavu-nya lah yang membuat aku terpukau, selain tentu saja chemistry kedua pemeran utama nya)


Setelah menonton kedua drama tadi, aku kepincut dengan pesona Gong Yoo yang berperan sebagai Goblin, dan Kim Jae-wook, yang berperan sebagai Ryan Gold. Aku mencari tahu tentang drama dan film lain yang mereka perankan. Dari hasil mencari-cari, aku jadi tahu bahwa mereka berdua punya suara bagus dan jago main piano. Bikin makin penasaran! Aku jadi pengen tahu lebih banyak lagi, tentang kehidupan pribadi mereka, keluarganya, pasangannya, pokoknya berita apa aja tentang mereka. 


Ternyata tidak semudah itu, Ferguso!


Kebanyakan artis-artis tanah air (tanah air siapapun kecuali Korea Selatan) kisah kehidupan pribadinya akan jadi bahasan di beberapa media pada saat yang bersamaan. Bahkan tidak jarang, si artis sendiri yang mengunggah kehidupan pribadinya di media sosial, yang kemudian diviralkan oleh segenap netizen yang budiman. Tidak demikian halnya dengan para artis Korea Selatan. Mereka sangat menutup kehidupan pribadinya dari publik dan penggemar. 


Para artis Korea Selatan lebih menjaga dan merahasiakan kehidupan pribadinya, khususnya hal yang menyangkut keluarga dan kehidupan asmaranya. Beberapa dari mereka bahkan tidak memiliki akun media sosial sama sekali, seperti Gong Yoo. Mereka sangat hati-hati untuk tidak banyak mencampurkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaan. Selain itu, agensi artis Korea juga dikenal menerapkan aturan ketat bagi para artisnya tentang berbagai hal, termasuk tentang akun media sosial dan hal-hal pribadi lainnya.


Sumber yang paling sering menjadi sumber berita tentang para artis Korea adalah Instagram. Aku mengikuti banyak akun-akun artis Korea dan beberapa agensi dan stasiun TV. Tidak hanya akunnya (apalagi karena beberapa oppa seperti Gong Yoo dan Hyun Bin tidak punya akun IG), aku juga mengikuti hastag-nya hahaha. Selain itu aku juga mengikuti akun-akun para fans berat para artis Korea. Jadi sudah bisa dibayangkan, isi timeline dan fitur “search” isinya adalah postingan tentang para oppa dan KPop star.  


Fitur Search di Instagram - 95% tentang artis Korea (dok. pribadi)



Dari Instagram aku dapat banyak berita tentang para artis ini. Tentang drama-nya, cuplikan behind the scene, sampai ke iklan yang mereka bintangi. Selain itu juga banyak berita dan foto-foto masa kecil atau masa remaja mereka, foto semasa wajib militer, foto sebelum oplas (hihihi), foto keluarga, sampai foto hewan kesayangan. Bahkan ada akun Instagram yang isinya adalah foto-foto Daeum dan Muryang, dua hewan peliharaan Jae-uck oppa. Sungguh fans yang berdedikasi!


Tapi ada juga sisi gak enaknya. Apalagi kalau lagi mengikuti drama yang sedang tayang. Biasanya aku berusaha “menjauh” dari Instagram, karena sudah dapat dipastikan ranjau spoiler berserakan haha 


Sumber lain adalah tautan rekomendasi dari Google. Mungkin karena saking sering meng-google berita tentang hallyu star dan drama nya hahaha Setiap kali membuka laman google, maka akan muncul sederet situs berita artis Korea, seperti Koreaboo, Soompi, dan Pinkvilla. Bahkan baru-baru ini aku menyadari betapa Google merancang mesin pencari nya dengan sedemikian rupa sehingga sangat ‘sensitif’ terhadap penggunanya. Baru aku mengetikkan kata pertama saja, bahkan suku kata pertama!, secara otomatis Google memunculkan rekomendasi beberapa link yang mengandung kata itu. Dan rekomendasi yang teratas dan terbanyak adalah yang berhubungan dengan drama Korea. Ngeri gak tuuh…



Dari satu suku kata, Google merekomendasikan empat judul drama Korea
(dok.pribadi)



Kesimpulannya, gak diragukan lagi dah... kalau soal update drakor dan kisah para oppa, Instagram dan Google paling tahu yang ku mau!

Read more…

July 28, 2020

Yang "Kedua", Sang Penggembira (Hati yang Terblender)

Karena menonton drama Korea adalah salah satu sumber bahagia, maka drama Korea yang kutonton wajib hukumnya berakhir bahagia. Bila tak berakhir bahagia, hempaskan saja. Atau, karang sendiri  aja akhir bahagia nya hihi


Bahagia artinya walaupun segala aral melintang menghalangi hubungan kisah kasih asmara antara lead male (pemeran utama pria) dengan lead female (pemeran utama wanita), niscaya di episode terakhir mereka akan bersama. Khususnya di tema cinta segitiga, seringkali kebahagiaan mereka terjadi di atas penderitaan si second lead (pemeran pembantu). 


Walaupun sesungguhnya sudah suratan nasib bahwa second lead tidak akan pernah mendapatkan hati sang pujaan, pernah gak sih sebagai penonton kamu merasa lebih berpihak sama si second lead, dan berharap kisah itu berakhir berbeda? Bahwa si second lead pun berhak atas akhir yang bahagia? 


“Penyakit” sedemikian disebut “Second Lead Syndrome”. Dari hasil membrowsing, aku menemukan definisi penyakit ini yang paling pas, sebagaimana dijabarkan di channel The Swoon di YouTube.


"Second Lead Syndrome" adalah suatu kondisi dimana si penderita lebih menyukai second lead daripada first lead, dan berharap sungguh-sungguh kiranya si second lead yang memperoleh hati wanita pujaan, walaupun berdasarkan tuntutan skenario itu adalah hal yang mustahil; dan ketika kisah berakhir sebagaimana yang sudah seharusnya, si penderita sulit menerima patah hati dan ketidakadilan yang dialami second lead. Tidak bisa disembuhkan, tidak ada obatnya, dan tentunya tidak masuk logika. 


Belum sah jadi drakorian kalo belum kena ‘penyakit’ yang satu ini hahaha


Ketika menonton drama “Jealousy Incarnate”, aku terpapar "Second Lead Syndrome". Bukan cuman satu kali, tapi dua kali! Drama ini cukup unik, di mana pada bagian awal, lead male-nya (uri Cho Jung-seok oppa) sempat berperan sebagai second lead.


Tidak mudah bagi Hwa-sin melihat kebersamaan Pyo Na Ri, wanita yang tiga tahun naksir dirinya, dengan Ko Jung-won, sahabatnya. Hwa-sin jadi menyadari perasaannya ke Pyo Na-ri. Mungkin awalnya semata karena tidak terima kehilangan fans. Rupanya lebih dari itu. Dan kesadaran itu menimbulkan penyesalan, hopeless, sedih, palak, dan juga rasa bersalah, karena sebagai sahabat, Hwa-sin seharusnya bahagia ketika Jung-won menemukan pasangannya. Semua rasa bercampur aduk, hati rasa diblender, sampe nangis beberapa kali tuh...


Kemudian, Hwa-sin menyatakan perasaannya pada Pyo Na-ri, Pyo Na-ri pun menyadari bahwa cintanya ke Hwa-sin masih terpatri abadi, dan memutuskan untuk berpisah dari Jung-won dan menerima cinta Hwa-sin. Dan aku pun kembali terpapar Second Lead Syndrome. 


Memang aku bahagia ketika Hwa-sin dan Pyo Na-ri akhirnya bisa bersama. Tapi… tapi…apa salah Jung-won sih?? Secara fisik, Jung-won lebih ganteng, lebih tinggi, juga lebih kaya. Secara kepribadian juga gak kalah. Dia lebih baik, lebih sopan, gak kasar dan semena-mena sama Pyo Na-ri (macam Hwa-sin yang sok ganteng walau memang ganteng #bucindetected), selalu mendukung karier Pyo Na-ri, dan mempertahankan Pyo Na-ri di depan emaknya yang julid itu. Kurang apa coba?? Iya…. kurang cinta #ihiks


Pada akhirnya, Jung-won bisa menerima kenyataan bahwa cinta Pyo Na-ri bukan untuknya. Jung-won menunjukkan kebesaran hatinya sebagai seorang sahabat bagi Hwa-sin, dan ketulusan cintanya pada Pyo Na-ri. Tuh kaaan.... baik banget kaaan.... Rasanya pengen meluk dan bilang ke Jung-won, "Sini bang, sama adek aja, gak usah dekat-dekat sama mereka berdua!" Dan ternyata ini memang salah satu gejala penyakit "Second Lead Syndrome" ini hahaha



Salah satu gejala "Second Lead Syndrome". Been there done that! 
(sumber: Pinterest/kdramafighting.blogspot.com)


Drama ini adalah salah satu yang membuatku baper berkepanjangan. Butuh waktu cukup lama juga untuk move on dari drama ini. Menonton drama ini mengingatkanku pada rasa hati terblender yang kualami ketika aku menjadi second lead, ketika aku menjadi si hopeless itu. 


Aku tidak bisa ingat apa awalnya, tapi tiba-tiba aku jadi sering berbalas komentar dan pesan di medsos dengan seorang senior di kampus. Dari berbalas komentar, dia mengirimkan aku sebuah cd kompilasi mp3 Andrea Bocelli. Dikirim ke rumah, dibungkus dengan koran terbitan Aceh. Terbitan beberapa hari lalu. Ternyata kami sama-sama bertugas di Aceh, tapi beda kota. Setelah itu, cd kompilasi berlanjut dengan keripik pisang, yang berlanjut dengan roti pisang coklat, yang berlanjut dengan pertemuan dan jalan bareng beberapa kali. Awalnya ketemu ramean, lalu ketemu bertiga, lalu berdua. Bicara tentang A ke Z balik ke A. 


Demikianlah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Tidak ada pernyataan, apalagi perayaan. Walaupun aku merasa tidak wajar kalau seusia kami hanya cari teman ngobrol, tapi aku pun tidak melakukan usaha apa-apa untuk memperjelasnya. 


Sampai akhirnya aku menemukan bahwa dia sudah punya pacar melalui sebuah postingan di medsos. Rasanya kesal sekali. Kesal karena sebagai teman aku harus tahu dari medsos. Tidak ada perasaan lain, hanya sampai sebatas kesal. Dan itu kusampaikan kepadanya. “Canggih bener ya gw harus tahu dari medsos!” Dia menanggapi protes ku dengan tertawa. 


Tak lama setelah aku tahu dia sudah punya pacar, dia pun pindah ke Jakarta karena mendapatkan pekerjaan baru. Kami tetap sering berkomunikasi, tidak ada yang berubah.  


Kemudian kekesalan berikutnya datang. Dia akan menikah, dan aku kembali tahu dari sepupunya, yang juga temanku. Malam sebelum pesta, aku masih bertemu dengan dia dalam rangka pekerjaan (ketika itu kami sedang terlibat dalam proyek yang sama). Tidak berdua saja untungnya. Dan ketika kutanya kenapa tidak cerita, dia cuman senyam-senyum saja. "Besok datang ya.."katanya di akhir pertemuan kami malam itu.


Besoknya aku datang ke pesta itu bersama teman-teman. Kami langsung menuju bagian gedung untuk pesta nasional. Pengantin belum naik, masih di acara adat. Aku duduk tidak jauh dari pelaminan. Tak lama, pengantin naik, dan bersiap untuk prosesi. Aku pun berdiri dan bertepuk tangan bersama para undangan lain untuk menyambut pengantin baru.


Ketika kulihat mereka berdua berjalan bersama menuju pelaminan, tiba-tiba saja hati ku penuh, air mata ku jatuh. Benar-benar di luar kesadaran. Persis adegan yang paling aku suka di drama-drama korea, ketika air mata jatuh begitu saja.  Perasaan rasanya bercampur aduk. Mixed feelings. Mirip-mirip lah dengan yang dirasakan Hwa Sin.. hahaha


Tentu saja aku bahagia karena temanku akhirnya menikah. Tapi di situ juga aku merasa tersengat oleh kenyataan bahwa ternyata aku menyimpan perasaan dan harapan. Ah, kenapa dulu gak dikejar ya. Kenapa dulu tidak mengambil langkah duluan dan bukannya menunggu pertanyaan. Kenapa tidak digunakan ketika banyak sekali kesempatan, sehingga mungkin kalau dulu lebih agresif, lebih usaha, bisa jadi saat ini aku yang ada di sampingnya. Dan banyak kenapa lain yang tidak akan berkesudahan.


Sepulang dari pesta itu aku sudah kembali berpijak pada kenyataan. Walaupun hati yang terblender ini tidak bisa pulih begitu saja, tapi setidaknya sudah bisa bernafas lega. Sudah menerima, dan dengan tulus ikhlas mendoakan mereka bahagia selamanya. 

Read more…

July 21, 2020

Her Private Life, My Dejavu

Seorang teman pernah bilang begini, “Gw gak ngerti ya kenapa pada suka nonton drama Korea. Ceritanya gak masuk akal. Mana ada manusia tertukar jiwanya, lalu bisa balik lagi.” Lalu si teman pun melanjutkan berbagai adegan drama tak masuk akal lainnya.


Aku punya dua hal untuk menjawab temanku ini. Pertama, itu masalah selera. Berbeda adalah hal biasa. Kedua, kisah drama pada umumnya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kisah cinta segitiga, perjuangan hidup, persaingan dunia kerja, sampai trauma masa lalu. Ketika menonton drama, kita merasa seakan-akan dejavu, kaya’ pengen bilang, “Aku tahu rasanya!!” Bikin baper.


Sayangnya, tidak seperti drama, kejadian nyata tidak selamanya berakhir bahagia, Di sini lah salah satu letak daya pikatnya. Drama seakan-akan memberikan ‘alternative ending’ pada kisah nyata tadi. 


Beberapa kali ketika menonton drama aku pun merasa dejavu. Kadang-kadang satu adegan kecil saja bisa bikin aku seketika terhenyak, dan seakan terlempar ke masa lalu. Dan ini terjadi ketika menonton drama “Her Private Life” dan kemudian drama “What’s Wrong With Secretary Kim”.


Poster "Her Private Life" dan "What's Wrong With Secretary Kim?"
(sumber: dramaslot.com)



Dalam kedua drama ini, Park Min Young menjadi pemeran utama wanita. Drama “Her Private Life” ia berpasangan dengan Kim Jae Wook, dan dalam drama “What’s Wrong With Secretary Kim” dengan Park Seo Joon. Kedua drama ini sama-sama mengisahkan hubungan asmara antara dua orang rekan sekerja. Dan bukan sekadar rekan sekerja, tapi antara atasan dengan bawahan. 


Di kedua drama ini, mereka (awalnya) merahasiakan hubungan mereka dari teman-teman sekerja di kantor, walaupun di drama "Her Private Life", mereka merahasiakannya untuk alasan yang berbeda. Bertukar pesan di depan semua orang, sehingga membuat senyum-senyum seharian. Hal ini membuatku teringat lagi pada kejadian belasan tahun lalu, ketika aku masih bekerja di Kota Bireuen untuk sebuah NGO.


NGO tempat ku bekerja tidak besar. Pada masa awal beroperasi, hanya ada 1 orang staf internasional dan 5 orang staff nasional. Seiring waktu, jumlah staf pun bertambah. Karena jumlah staf nasional tidak banyak, maka sering kali kami juga berperan sebagai penerjemah bagi para staf internasional. Aku termasuk salah seorang yang paling sering dapat tugas tambahan tadi. 


Sebut saja dia si Abang. Abang berasal dari salah satu negara balkan. Di antara semua staf internasional yang bertugas di Kota Bireuen, aku paling sering mendampingi Abang untuk menjadi telinga dan juru bicara. Di luar pekerjaan, kami sering mengobrol tentang apa saja. Aku selalu senang mendengarkan ceritanya tentang negara asalnya, tentang perang yang dulu terjadi di sana, dan perjalanan kariernya di NGO, yang berawal dari menjadi staf nasional seperti aku.  


Setelah beberapa bulan di Kota Bireuen, Abang pindah ke kantor Medan. Entah siapa yang memulai, sejak itu kami sering bertukar kabar lewat SMS, email, dan telepon. Masa itu belum ada android, belum kenal WhatsApp apalagi video call. Pembicaraan bukan hanya pekerjaan, tapi juga hal-hal kecil, remeh temeh keseharian. Kami juga sering bergosip tentang pekerjaan. Abang adalah teman bergosip yang menyenangkan haha


Setiap kali aku pulang ke Medan, maka pasti kami janjian untuk ketemu lalu ngobrol seharian. Kami sama-sama suka oldies, suka nonton film (Abang ngefans berat sama Sharon Stone) dan yang paling hakiki, we laugh at the same joke.  


Sampai suatu saat, Abang menyatakan perasaannya. Walaupun sempat bingung ( I didn’t see it coming at all -- kemungkinan karena aku yang bego aja sih.. haha) akhirnya aku menerima, karena ternyata ai juga sukaaa…hihi. Dan kami sepakat untuk merahasiakan hubungan kami. Alasan utama adalah, walaupun tidak langsung, Abang adalah atasanku. 


Sejak saat itu, komunikasi semakin intens. Setiap hari, sepanjang hari. Kalau kami kebetulan sedang ada di kantor yang sama karena pekerjaan, kami sering SMS-an dari ruangan masing-masing. Tentu saja di depan semua orang kami menjaga kelakuan supaya tidak ketahuan.


Pernah sekali hampir ketahuan. Ketika itu, sudah selesai makan malam, aku lagi pacaran via SMS sambil nonton TV dengan teman serumah, yang juga teman sekantor. Melihatku senyum-senyum terus sambil SMS-an, dia penasaran lalu merebut hp ku “Dari siapa sih??”. Jantung rasanya mau copot! Si kepo ini sempat membaca kencang-kencang dua kata pertama, sebelum aku merebut kembali hp dari tangannya. Hampir saja!


Sebenarnya buat teman-teman kantor, bukan hal yang aneh kalau aku SMS atau teleponan dengan si Abang, karena ketika Abang masih di kantor Bireuen, mereka pun sering melihat kami mengobrol lama. Mereka tahu kami dekat, tapi mereka tidak tahu sedekat apa hahaha 

 

Ada satu adegan di drama “Her Private Life” yang membuat aku dejavu. Ketika sedang piknik dengan orangtua Deok Mi, ibu Deok Mi ingin mereka berfoto bersama. Setelah selesai foto-foto berempat, ibu Deok Mi menyuruh Ryan dan Deok Mi berfoto berdua. Deok Mi langsung menolak dan hendak berjalan menjauh, namun Ryan menarik blazer Deok Mi sehingga kembali ke posisinya, yaitu di sebelah Ryan. 


Aku langsung dejavu ke kejadian serupa.


Ceritanya ini kami sudah jadian, dan Abang sedang tugas ke kantor Bireuen. Aku membantunya membalas beberapa email tentang pekerjaan. Kami menggunakan meja staff lain yang sedang ke lapangan, yang lebih besar ukurannya dari mejaku. Kami duduk bersebelahan, berbagi satu laptop, membaca email bersama, lalu Abang mendiktekan jawabannya dan aku mengetikkan. Sesekali kami berdiskusi tentang isi email, atau istilah yang digunakan. Secara kami sama-sama bukan native speaker, sesekali harus buka primbon juga. (Udah jelaslah ini emang pinter-pinteran si Abang aja buat kamuflase, padahal apa lah susahnya dia menjawab email-email itu). 


Tiba-tiba hp Abang bunyi. Ternyata dari Field Manager di Kantor Banda Aceh. Aku langsung bangun dari kursi dan beranjak menjauh. Eh… si Abang menarik bajuku, menahan aku pergi, sehingga aku mau tidak mau (tapi pasti mau) balik lagi duduk di sebelahnya, menunggu si Abang yang masih bicara ditelepon. Untung saja di sekitar kami tidak ada orang lain. Fiiuuhh!


Semua kisah ada akhirnya. Tidak seperti Ryan - Deok Mi, Young Joon - Mi So, dan sederet pasangan drama Korea lainnya, kisah kami punya akhir yang berbeda. 


Tidak bisa kubahasakan kenyamananku dengan Abang. Aku bisa bicara apa saja, membahas apa saja. Karena awalnya kami berteman, maka tidak perlu jaim-jaiman. Abang ini lucu dan romantis. Dia selalu membuat aku tertawa, selalu membuat aku merasa istimewa. So loved. Namun, aku tahu hubungan ini pasti sulit dilanjutkan, mengingat nature pekerjaan si Abang yang akan sering berpindah negara. Belum lagi urusan perbedaan suku, bangsa, ini dan itu. Waktu itu aku terlalu takut untuk berjuang. Daripada ditunda, disegerakan saja sakitnya. 


Dua tahun di Indonesia, Abang pindah ke negara lain untuk pekerjaan baru. Beberapa bulan sebelum Abang pindah, aku mengakhiri hubungan kami. 


Ketika itu Abang akan pulang ke negaranya untuk home leave selama 3 minggu. Beberapa hari sebelum Abang berangkat, aku sampaikan keinginanku untuk mengakhiri hubungan kami. Dan itu bukan kali pertama. Aku rasa akhirnya Abang bisa mengerti alasanku. Ketika pulang, Abang menjawab permintaanku itu dengan SMS yang sampai sekarang dan mungkin sampai kapanpun aku ingat. 


Abang: Can we still be friends?

Aku : Will you always love me?

Abang: Yes.

Aku: Then yes, we will always be friends.


Bodoh dan egois ya… tapi sudahlah.. Namanya juga anak muda hahaha


Setelah itu, Abang tetap mengirimkan SMS setiap hari, setidaknya mengucapkan selamat pagi. Sesekali bertelepon, dan Abang tetap jadi teman bergosip yang setia. Tidak jadi aneh, tidak jadi canggung, walaupun tentu saja tidak seintens dulu. Kadang-kadang aku kesambet entah apa, terus kumat, mancing-mancing ‘kekeruhan’. Abang akan langsung nge-cut dan tidak terpancing dengan kegilaanku.  


Sampai sekarang kami masih berteman baik. Berkirim email, mengucapkan selamat ulang tahun, mengupdate kabar tentang pekerjaan dan kehidupan. 


Tidak ada sesal, tidak ada sejuta kenapa. Bahagia walaupun tidak bersama. 


Read more…