Showing posts with label New Normal. Show all posts
Showing posts with label New Normal. Show all posts

October 29, 2020

Walau Sempat Galao, Tetap Jadi Bakpao

Hari ini adalah hari libur. Aku tidak memiliki rencana khusus untuk hari ini. Tadinya mau menyapu kamar tengah rumah kost, kalau mb Yenni, yang biasa bersih-bersih tidak datang lagi hari ini. Ternyata sebelum niat suci luhurku terwujud, tiba-tiba mbak Yenni muncul. YAY! 

Sambil menikmati sarapan, atau lebih tepatnya brunch karena sudah menjelang siang, aku menonton drama “Start-Up”. Weekend yang lalu episode 3 dan 4 sudah tayang, dan aku belum sempat menontonnya. Aku menonton episode 3, dan sukaaaaa! Untung penghuni kost yang lain lagi pada beredar, kalo tidak, mungkin pintuku sudah digedor atau dilempar bakiak karena terganggu suaraku yang ngakak kencang. 


Selesai episode 3, kantuk pun menyerang. Tidak melanjutkan episode 4, aku pun memilih leyeh-leyeh mengukur kasur. Siang tadi matahari bersinar terik. Dalam cuaca yang panas itu, aku tertidur dengan membiarkan jendela terbuka. Di masa pandemi ini aku memang mengurangi pemakaian AC dan lebih banyak membiarkan jendela terbuka, supaya udara tetap bersirkulasi dengan baik.


Aku terbangun oleh dering handphoneku yang ada di atas meja. Rupanya Mami menelpon. Biasa... wajib lapor. Sambil ngobrol dengan Mami, aku menyalakan laptop. Seperti biasa, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Dari A ke Z ke A lagi. 


“Papi mana? Lagi ngapain?”


“Sibuk di dapur, kaya’nya bikin pansit buat nanti malam”.


Mendengar Papi yang lagi sibuk menyiapkan pansit, aku jadi teringat dengan niatku untuk membuat bakpao. Apa hubungannya? Sama-sama “prakarya anak bangsa” hahaha


Sebenarnya sudah lama aku ingin mencoba membuat bakpao. Sudah tertunda dua bulan, tepung terigu pun sudah menganggur lama di lemari. Alasan cliche; gak mood. Ketika beberapa hari lalu berbelanja ke pasar, aku sudah membeli kertas roti sebagai alas bakpao. Jadi sudah siap-siap, apabila moodnya datang, bahan-bahannya sudah siap semua. Ternyata, si mood datangnya siang ini. Impulsif, as always.


Resep Bakpao


Selesai ngobrol via telepon dengan Papi Mami, hal pertama yang aku lakukan adalah menggoogle resep bakpao. Setelah memilih-milih, aku memutuskan memakai resep dan cara pembuatan bakpao sebagai berikut: 


Bahan-bahan: 

250 gram tepung terigu protein rendah (Cap Kunci Biru)

1 sdm gula pasir

150 mL air (suhu ruang)

1 sdm mentega putih (aku pakai margarine biasa)

1 sdt ragi (aku pakai Fermipan)

½ sdt garam 

Bahan isian (mesis, selai, keju, atau tumisan daging)


Alat-alat: 

Spatula

Wadah tempat mencampur adonan

Alas silikon (opsional)

Penggiling adonan (opsional)

Kukusan

Kain bersih


Cara Membuat:

  1. Campurkan tepung terigu (diayak) dan ragi. 

  2. Campurkan air dan gula pasir, aduk sampai gula larut.

  3. Masukkan larutan air gula ke dalam campuran tepung dan ragi sedikit-sedikit, sambil diaduk dengan spatula sampai merata.

  4. Setelah tercampur rata, uleni adonan sampai kalis. Bisa dilakukan di wadah tadi, atau dengan alasan silikon (silicon mat). Sebenarnya bisa menggunakan media apa saja, selama permukaannya cukup licin dan bersih. Menguleni adonan dilakukan dengan gerakan seperti mencuci pakaian. Lakukan kurang lebih selama 15 menit, atau sampai adonan kalis. Adonan telah kalis apabila adonan tidak lagi menempel pada wadah, terlihat padu, terasa mantap, kenyal, dan gampang dibentuk.

  5. Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi delapan atau sepuluh bagian, sesuai selera. Bulat-bulatkan, tutup dengan kain bersih supaya tidak mengering.

  6. Ambil satu bulatan, pipihkan dengan penggiling adonan (rolling pin). Karena tidak punya, aku menggunakan botol kaca yang sudah dicuci bersih permukaannya. Lalu, dengan tangan, pipihkan bagian tepi adonan, dan bagian tengah dibiarkan tetap tebal. 

  7. Isi bagian tengah adonan dengan bahan yang disukai. Aku menggunakan mesis Ceres, keju, dan selai mixed berry sebagai isian. Disesuaikan dengan isi kulkas atau bahan yang tersedia saja.

  8. Tutup adonan, bulatkan dengan hati-hati. Beri alas kertas roti. Kalau tidak ada kertas roti, kertas cupcake juga bisa.

  9. Susun adonan bakpao di wadah kukusan. 

  10. Lakukan langkah tersebut untuk seluruh bulatan. 

  11. Setelah selesai, tutup wadah kukusan dengan kain bersih, biarkan selama 15 - 20 menit, tergantung cuaca ketika membuat. Apabila cuaca panas atau hangat, 15 menit sudah cukup. 

  12. Siapkan kukusan, beri air kurang lebih 1L. Tidak perlu banyak, pastikan saja jumlah cukup untuk mengukus selama 10 menit. Panaskan kukusan sampai air mendidih sempurna.

  13. Letakkan wadah di atas kukusan, lapisi tutup kukusan dengan kain bersih supaya uap air tidak menetes ke atas adonan.

  14. Kukus dengan api sedang selama 10 menit. 

  15. Setelah 10 menit, matikan api kompor. Biarkan kukusan tetap tertutup selama lima menit. 

  16. Bakpao siap disantap.


Resep dan cara pembuatannya bisa dilihat di video ini (sumber: YouTube).





Pengalaman Pertama Membuat Bakpao


Pada dasarnya aku memang senang memasak (tapi tidak senang mencuci piring wajan dan teman-temannya). Aku bahkan sempat berjualan brownies selama beberapa bulan setelah lulus kuliah. Selama hidup merantau, aku juga sering memasak sendiri. Pernah mencoba memasak tongseng, namun menu andalan adalah ikan kukus, gampil surampil! Sekali pernah juga mencoba memasak kue choco lava. Tetapi seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamaku membuat bakpao sendiri.


Kalau biasanya aku menggunakan mixer, maka sekali ini, adonan harus diuleni secara manual. Seperti banyak hal lain di atas bumi ini, ternyata menguleni adonan pun memang membutuhkan keahlian yang datang dari pengalaman. 


Aku sempat merasa panik ketika setelah mengulen 15 menit, adonanku tidak menunjukkan tanda-tanda kekalisan sama sekali. Masih menempel di wadah dan tanganku. Sempat galau juga, sedih. Masa’ harus dibuang sih adonannya. Karena adonan yang ‘cair’, tidak akan menghasilkan bakpao yang utuh. Lalu aku menggoogle lagi, bagaimana cara mengatasi adonan yang tidak kalis. 


Caranya ada dua. Pertama, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil terus diuleni, sampai adonan kalis. Kedua, olesi tangan dengan margarin, supaya adonan tidak menempel di tangan. Puji Tuhan, setelah empat kali menambahkan kurang lebih 1 sdm tepung, akhirnya adonanku kalis juga dan siap untuk dibagi lalu diisi. YAY!


Pelajaran Hari Ini


Ada beberapa tips yang aku dapatkan dan pelajari selama membuat bakpao:


  1. Pastikan ragi yang digunakan aktif. Apabila ragi masih baru dibuka, biasanya ragi masih aktif. Tetapi apabila kita sudah memakai sebagian ragi sebelumnya, perlu dipastikan dulu apakah ragi yang tersisa masih aktif. 

Caranya adalah dengan mencampurkan ragi (banyaknya sesuai resep) dengan 50 mL air hangat dan 1 sdt gula (disebut campuran biang). Setelah dicampur, tutup wadah lalu biarkan selama 15 menit. Apabila campuran biang kemudian berbusa naik, berarti ragi masih aktif, dan campuran biang dapat langsung digunakan pada adonan. Apabila tidak, maka ragi sudah tidak aktif dan tidak dapat digunakan lagi. Lengkapnya bisa dilihat di video ini.


  1. Aku mencari tahu kenapa adonanku lama sekali kalisnya. Disinyalir, air yang kugunakan terlalu banyak. Kembali lagi, ini tergantung pengalaman. Tipsnya, air dimasukkan sedikit-sedikit sambil mencampur adonan. Jadi banyaknya air yang dibutuhkan tidak selalu persis dengan resep, karena hal ini juga tergantung dari jenis dan kualitas tepung.
    Cara menyiasatinya adalah dengan menambahkan terlebih dulu 70% air dari resep yang ditentukan ke dalam adonan (tetap dimasukkan sedikit demi sedikit). Lalu amati selama proses mengulen.  Apabila adonan sudah tercampur dengan baik, berarti air tidak perlu ditambahkan lagi, walaupun belum habis sesuai resep. Apabila air sudah terlanjur dimasukkan semua, maka bisa menggunakan cara seperti kusebutkan di atas, yaitu menambahkan tepung, sampai adonan kalis.

  2. Ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya adonan bakpao mulus. Pertama, gula dilarutkan dengan air sebelum dicampur ke adonan. Kedua, ayak tepung terigu sebelum digunakan supaya tidak ada bagian yang bergerindil. Ketiga, teknik mengulen juga menentukan mulus tidaknya adonan. Ini membutuhkan pengalaman tentunya. Istilahnya mah, tergantung tangan.


  1. Mentega putih digunakan untuk mendapatkan warna bakpao yang putih bersih dan cantik. Berhubung tidak punya mentega putih, aku menggunakan margarine biasa. Secara rasa tetap enak dan warnanya juga tetap bagus; tidak putih bersih tetapi broken white. 


  1. Karena iklim di negara +62 cenderung panas atau hangat, maka sebaiknya menggunakan air dingin. Supaya gula larut, gunakan sedikit air panas atau hangat, sampai larut, lalu tambahkan air dingin. Apabila air terlalu hangat, maka ragi akan terlalu cepat mengembang. 

  2. Jangan terlalu lama mendiamkan adonan (overproofing), kalau terlalu lama, bakpao akan mengkerut ketika dikukus. Semakin hangat/panas cuaca, semakin singkat waktu untuk proofing. 

  3. Ketika bakpao sudah masak, jangan langsung membuka tutup kukusan. Nanti bakpaonya ‘kaget’ lalu mengkerut. Buka sedikit penutup, biarkan uap keluar melalui celah. Kalau aku, karena kain tidak menyatu dengan tutup kukusan, dan bahannya cukup tebal , maka setelah matang, tutup kukusan dibuka, tetapi kain dibiarkan tetap menutup bakpao selama lima menit. 



Adonan Siap Untuk Dikukus (dok.pribadi)


Bakpao Baru Matang (dok. pribadi)


Alas yang bisa dikupas dengan gampang sebagai indikasi adonan bakpao berhasil. YAY!
(dok. pribadi)

Bakpao Isi Coklat. Yummy... (dok.pribadi)

Menyenangkan rasanya menikmati bakpao buatan sendiri. Bentuknya sih belum layak pamer, tetapi not bad lah untuk percobaan perdana. 


Memasak itu lagi-lagi soal perasaan; membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan semakin banyak latihan, niscaya hasilnya akan semakin memuaskan. 




Read more…

September 25, 2020

Belajar dari Esther (Catatan PA Immanuel Choir - 25092020)

Hari ini adalah hari Jumat ke-4 dalam bulan September. Seperti yang sudah disepakati, hari ini aku bersama para anggota Immanuel CHoir lainnya mengadakan kebaktian Pendalaman Alkitab via zoom. Total anggota yang ‘hadir’ tadi adalah 10 orang, plus satu orang tamu yaitu Pendeta Harland Sianturi dari GPdI Batubara. Luar biasa memang teknologi ini, sehingga jarak tidak lagi jadi penghalang untuk berkomunikasi. 


Tadi sempat dibahas juga tentang sedikitnya anggota IC yang mengikuti ibadah PA via zoom ini. Sebenarnya sebagai sebuah paduan suara, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan selama masa pandemi ini. Memang aku dan dua orang anggota Alto lainnya sempat berkumpul dan berlatih bersama. Tetapi ketika itu situasi Kota Jakarta belum seperti sekarang ini. Satu-satunya kegiatan yang bisa kami lakukan bersama-sama, dengan tetap menjaga kondisi kesehatan dan keamanan diri dan bersama, adalah dengan melakukan ibadah via zoom. Mungkin beberapa dari kami merasa ‘tidak nyaman’ karena tidak bisa langsung bertatap muka dan bersekutu. Tapi ya… menurutku kita semua tetap butuh bersekutu, tetap butuh berkomunikasi dengan teman-teman sepelayanan, dan persekutuan ini diperlukan untuk menyatukan hati setiap anggota dalam satu pelayanan. Saat ini, cara online lah yang paling efektif, sehingga kita mau tidak mau harus mulai beradaptasi. Menurutku hanya perkara sarana dan media, esensinya tetap sama, yaitu bersekutu dengan teman-teman seiman sepelayanan.


Renungan, yang dibawakan oleh Tante Esther M. Sidjabat, diambil dari Esther 2 : 1 - 18. Melalui perikop ini, kami belajar dari kisah Esther, seorang wanita biasa yang diangkat Tuhan menjadi Ratu.


sumber: Vimeo


Dari renungan tadi, ada enam hal yang dapat kita pelajari dari hidup Esther:


  1. Esther adalah seorang penurut, ia mengikuti pimpinan Roh Tuhan, dan menyiapkan hatinya untuk mengikuti apapun yang menjadi kehendak Tuhan. Demikian pula dalam kehidupan kita, hendaknya kita menjadi anak yang menurut kepada kehendak Bapa, dan menyiapkan hati kita untuk apapun yang direncanakan Tuhan terjadi dalam hidup kita. Dan yakin, bahwa Tuhan pun telah menyiapkan dan memperlengkapi kita untuk apapun yang menjadi rencanaNya atas hidup kita.


  1. Dalam perikop dikisahkan Esther dibimbing oleh Hegai. Dalam kehidupan kita, Hegai dapat kita ibaratkan sebagai Roh Kudus yang membimbing kita. Kita membutuhkan Roh Kudus sebagai penuntun dalam menjalani hidup kita.


  1. Esther memiliki kepribadian yang membuat semua orang menyayanginya. Demikian pula kita sebagai pengikut Kristus, kita harus selalu berusaha agar keberadaan kita menjadi berkat bagi orang lain. Untuk itu kita harus belajar untuk merendahkan diri dan menjadi pelayan bagi sesama, dan memohon kepada Tuhan untuk memampukan kita untuk melakukannya.


  1. Esther mengalami perkenanan Raja. Aplikasinya, kita harus berusaha agar hidup kita beroleh perkenanan Raja, yaitu Tuhan kita. Caranya dengan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tidak sulit, semuanya dapat kita ketahui dan pelajari dari FirmanNya. Tentang hal ini, aku teringat pada ‘khotbah’ si Abang di suatu malam ketika kami sedang berkumpul di Medan akhir tahun kemarin. Dia bilang, mengenal Tuhan itu seperti orang pacaran saja, seperti orang lagi pedekate. Kalau kita lagi pedekate, pasti kita selalu ingin tahu tentang orang itu, kalau kita terima surat dari dia, kita pasti baca berulang-ulang sampai hafal titik komanya. Kita selalu ingin bertemu, selalu ingin berbicara dengannya sampai lupa waktu. Demikian juga dengan mengenal Tuhan dan kehendakNya. Caranya adalah membaca “surat-surat”Nya berulang-ulang, berbicara denganNya, mendekat dan bergaul akrab dengan Dia. 


  1. Butuh waktu satu tahun bagi Esther untuk bersiap sebelum bertemu dengan Raja. Aplikasinya, sebelum melayani Tuhan, kita harus selalu mempersiapkan diri dan hati kita. Karena Tuhan tidak melihat apa yang kita tampilkan, namun Dia melihat hati kita ketika melakukannya. 


  1. Raja mengadakan perjamuan karena merasa bahagia dan bersukacita karena keberadaan Esther. Aplikasinya, Tuhan juga akan merasa sangat bahagia dan bersukacita apabila melihat anak-anakNya melakukan hal yang berkenan kepada Nya, sehingga Ia mencurahkan berkat-berkatNya (=pesta perjamuan) bagi dunia. Marilah kita umat Kristen dengan setia memuji menyembah Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepadaNya, sehingga Tuhan akan memberkati kota yang kita diami dengan berlimpah-limpah. 


Tuhan yang baik akan menjawab doa kita ketika kita menyampaikan permohonan kita dengan hati yang bersungguh-sungguh. Meskipun kita adalah manusia yang berdosa, mungkin masa lalu kita kelam, namun bila kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, Dia akan pakai kita untuk memuliakan NamaNya.


Segelap apapun dunia ini, sekacau apapun kelakuan dan moral manusia di masa-masa ini, semenakutkan apapun masa depan itu, namun percayalah, Kemuliaan dan Kehadian Tuhan akan tetap ada di antara kita. Seperti janjiNya, Dia akan senantiasa melindungi kita. Dia akan berjalan menyertai kita, Dia tidak akan membiarkan kita, dan tidak akan meninggalkan kita.

Read more…

August 29, 2020

Pengaruh Gen Terhadap Kesehatan

 Selama masa pandemi ini, sering sekali diadakan webinar, baik yang gratis maupun berbayar. Webinar ini menggantikan seminar, yang sebelumnya diadakan secara tatap muka langsung. Topiknya pun bermacam-macam, mulai dari kesehatan, hukum, manajemen, wirausaha, sampai kelas memasak dan make-up. Dari antara banyak webinar itu, yang paling sering aku ikuti adalah topik tentang kesehatan dan manajemen. Apalagi seorang sepupuku, Christin, adalah dokter spesialis gizi yang kerap menjadi narasumber. Christin selalu membagikan informasi tentang webinar dimana dia terlibat melalui WA Grup Keluarga Tobing. Semua webinar yang dibagikan Christin tidak hanya gratis, bahkan kadang-kadang ada hadiah bagi peserta.

Sekali waktu, Christin membagikan ke WAG tentang webinar dengan topik “How To Treat Heart Disease Based On Gene”. Webinar ini diadakan oleh RS. Jantung Diagram, bekerja sama dengan KALBE dan nutriGen-Me. Topik ini cukup menarik, sehingga cukup banyak dari keluarga kami yang mengikutinya. Apalagi dua orang Uda dan Amangboruku sudah pernah mendapat serangan jantung. Mereka sudah pasang ring dan bypass. Puji Tuhan, sampai saat ini mereka baik-baik saja.


Sebagaimana topiknya, webinar ini membahas seputar penyakit jantung dan terapi yang tepat sehubungan dengan gen yang dimiliki oleh masing-masing orang. Wah, aku baru tahu, ternyata Christin sudah bersertifikat untuk membaca hasil pemeriksaan gen. Hebat euy! 


Sebagai awam, kita sering bertanya-tanya. Kenapa ya kalau aku minum kopi, padahal sedikiiit saja, tapi jantung udah deg-degan gak karuan? Padahal, ada orang yang minum kopi bergelas-gelas, hidupnya santai aja tuh. Seperti tidak ada pengaruh sama sekali. Atau mungkin juga kita khawatir, ketika dari keluarga ayah ada bawaan sakit jantung, dan dari keluarga ibu bawaan diabetes, terus sebagai keturunannya, kita harus ottokee?


Dalam webinar ini Christin menjelaskan bahwa masing-masing orang memiliki penerimaan atau respon yang berbeda terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu tergantung gen yang dimiliki setiap orang. Tipe nya ada macam-macam. Sudah pasti aku tidak menghafalnya...hehehe Perbedaan tipe gen ini mempengaruhi bagaimana penerimaan kita terhadap sesuatu. 


Kita ambil saja satu contoh. Untuk menurunkan resiko serangan jantung, maka kita harus menurunkan kadar homosistein di dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan mengonsumsi folat. Nah, kemampuan menyerap folat ini bisa berbeda untuk tiap orang. Orang dengan tipe X apabila mengonsumsi makanan yang mengandung 400 mb folat, maka seluruh tubuhnya akan menyerap dan menggunakan. Namun orang dengan tipe Y, mungkin hanya mampu menyerap dan menggunakan 200 mg folat. Sehingga orang dengan tipe Y ini harus menemukan cara untuk menambah asupan folat yang diserap oleh tubuhnya, misalnya dengan menambah konsumsi makanan yang mengandung folat.


Hal yang sama juga dapat diaplikasikan pada penyerapan sodium dan berbagai vitamin. 


Masalahnya, sangat jarang kita yang tahu dengan jelas kita memiliki gen yang seperti apa dan apa pengaruhnya. Ternyata ada test nya lho. Harganya memang cukup mahal, harga promosi saja dibanderol 8 juta Rupiah. Namun, pemeriksaan genetik yang komprehensif ini dapat dipandang sebagai suatu investasi. Sebab, ternyata banyak sekali hal yang bisa kita antisipasi, apabila kita tahu tipe gen dan kromosom kita.


Dalam webinar tadi ada salah satu peserta yang menanyakan, apabila dari garis keturunan ayah dan ibu membawa turunan penyakit tertentu, apakah itu artinya keturunannya akan menderita penyakit tersebut? Jawabannya, belum tentu. Namun, karena ada faktor genetik tadi, resiko si anak/keturunan menderita penyakit tertentu tadi lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Oleh sebab itu, si anak tersebut harus lebih banyak melakukan tindakan-tindakan pencegahan.


Mengikuti webinar ini, aku mencatat beberapa poin untuk menjadi pengingat. Pertama, kita harus mengenal tubuh kita dengan baik. Pemeriksaan genetik sudah jelas lebih akurat, namun tanpa itu pun, kita harus jeli mengenali reaksi diri kita terhadap sesuatu. Kedua, lebih baik mencegah daripada mengobati. Pencegahan terbaik adalah memiliki gaya hidup yang sehat dan teratur, baik jasmani maupun rohani.


Harus diakui aku sendiri masih jauh dari gaya hidup sehat ini. Masih suka makan sembarangan, jarang olahraga, dan sering tidur larut (seperti malam ini). Namun pastinya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Semangat!


Read more…

August 24, 2020

Nyalon Perdana di Masa Pandemi Corona

 Sejak kecil aku tidak pernah memanjangkan rambut. Paling maksimal seleher; itu pun sungguh jarang terjadi. Biasanya aku selalu memotong pendek rambutku, kira-kira sebatas garis telinga, atau lebih pendek lagi.

Ketika masih di Bandung, aku tidak sulit menemukan salon atau juru pangkas rambut yang ahli memotong model rambut pendek. Awalnya aku tidak punya salon langganan, dan suka mencoba-coba salon, apalagi kalau lagi ada promo atau voucher discount. Tetapi menjelang akhir masa perkuliahan, ada satu salon yang menjadi favoritku, namanya Sunan Salon. Salon ini letaknya di Jl. Cisitu Lama, tidak jauh dari kost ku selama di Bandung. Bila ada kesempatan ke Bandung, aku berusaha menyempatkan diri untuk melakukan perawatan rambut di sana. 


Ketika pulang ke Medan, ternyata kebutuhan memotong pendek rambut ini tidak gampang dipenuhi. Entah kenapa, potongannya beda aja. Tidak memuaskan seperti di Bandung. Nanggung gitu. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Mas Bowo. 


Waktu itu aku diajak temanku ke salon langganannya, dimana Mas Bowo bekerja sebagai hair stylist. Pertama kali rambutku dipotong oleh Mas Bowo, aku langsung kepincut berat dan tak bisa lagi pindah ke lain hati. Kami memiliki pendapat yang sama, “rambut panjang itu membosankan” hihihi. Sejak saat itu Mas Bowo menjadi hair stylist idolaque. Mas Bowo sempat berpindah salon tiga atau empat kali, dan aku mengikuti kemana dia pindah. 


Dengan Mas Bowo ini, aku sudah mencapai titik kenyamanan, dimana aku bahkan tidak perlu mengatakan lagi model rambut yg aku inginkan. Tinggal duduk dan ‘menunggu nasib’. Sampai pernah sekali waktu, ketika Mas Bowo mulai berkarya, aku mengobrol dengan temanku yang barengan datang ke salon. Aku tidak memperhatikan lagi apa yang dilakukannya dengan rambutku. Lagi pula, aku harus melepas kacamata, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas. 


Ketika selesai, ternyata rambutku sudah super duper cepak. Mungkin panjang yang tersisa hanya sekitar 2 atau maksimum 3 cm. Aku sih bahagia-bahagia saja. Cepak artinya praktis dan ringkas, tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk bersisir. Dan memang dengan potongan cepak itu aku tidak perlu bersisir hahaha Tetapi Mami ku tidak terlalu sepakat. Memang beliau tidak mengatakan apa-apa ketika melihatku pulang dengan rambut tinggal “seadanya”, tapi Mami langsung mengangsurkan sepasang anting, “Nih pake!”. Yeah… action speaks louder than words hahaha


Terakhir sekali aku memotong rambutku adalah pertengahan bulan Maret yang lalu, di salon yang dekat dengan kantor. Boleh juga hasilnya. Namun semenjak pandemi, beberapa usaha harus tutup sementara, termasuk salon yang dekat kantor tadi. Sungguh perjuangan rasanya mengurus rambut yang menggondrong ini. Aku punya kebiasaan keramas setiap pagi. Maka selama masa pandemi ini, sehari bisa keramas dua sampai tiga kali, karena setiap bepergian keluar rumah, pulangnya pasti mandi dan keramas lagi. Aku juga tidak punya alat pengering rambut. Jadi, ketika rambut memanjang tak berbentuk dan sudah lebih mirip logonya versace, maka urusan pasca keramas menjadi sangat merepotkan. 


Akhirnya hari Minggu kemarin, ku tak tahan lagi. Ketika seorang teman mengajak ke salon langganannya, yang sudah dipastikannya mengikuti protokol kesehatan, aku pun langsung mengiyakan. 


Ternyata salon tersebut tidak terlalu jauh dari tempat kost. Sebelum masuk ke salon, setiap pelanggan wajib mencuci tangan dengan air dan sabun yang sudah disediakan di pintu masuk. Kemudian mereka akan mengukur suhu tubuh kita. O iya, satu lagi, pelanggan wajib menggunakan masker.


Salon itu tidak terlalu besar, ku perkirakan sekitar 50 m2, namun bersih dan teratur. Maksimum hanya bisa melayani lima orang pelanggan. Posisi duduk sedemikian rupa, sehingga tidak ada pelanggan yang duduk bersebelahan. Di bagian tengah, ada dua set kursi-cermin yang saling berhadapan, dan tiga set lagi di letakkan di bagian sisi dinding, dan menghadap ke arah yang berbeda. Mereka menyediakan sepasang kursi di dekat pintu masuk, dan sebuah sofa di bagian dalam, untuk tempat menunggu bila diperlukan. Penyusunan kursi dan sofa ini pun diatur sedemikian rupa sehingga tetap ada jarak minimal satu meter dengan kursi pelanggan. Ruangan tersebut dilengkapi AC, namun mereka membuka pintu bagian belakang salon (area tempat mencuci rambut), untuk memastikan sirkulasi udara. 


Seluruh pekerja di salon itu menggunakan masker. Mereka bekerja dengan cepat, supaya pelanggan tidak terlalu lama berada di dalam salon. Mereka juga tidak banyak mengobrol dengan pelanggan maupun dengan sesama pekerja salon. Dan selama aku di sana, para pelanggan juga tidak banyak bersuara. Suatu hal yang jarang terjadi bukan? Mungkin karena pengaruh menggunakan masker, sehingga tidak nyaman untuk mengobrol. 


Ketika tiba giliranku, aku menunjukkan foto model rambut yang kuinginkan kepada si Aa’ (btw, aku memang lebih pas kalau yang memotong rambutku adalah pria), dan dia langsung bekerja. Tidak sampai satu jam, seluruh proses selesai dan aku sudah memperoleh ‘rambut baru’. Rasanya sungguh melegakan sekali. Selain mereka cepat bekerja untuk melayani pelanggan, mereka juga dengan cepat menyapu sampah guntingan rambut. Pantas saja salon itu tetap terlihat bersih. 


Secara keseluruhan, pengalaman nyalon perdana di masa pandemi ini cukup memuaskan. Memang hidup harus terus berlanjut. Kita harus dengan cepat beradaptasi dengan situasi yang baru ini, baik sebagai pelanggan maupun pemilik usaha. Baik sebagai pelanggan maupun pemilik usaha, kita perlu memastikan bahwa kita tetap menjalankan protokol kesehatan, menjaga kebersihan dan keamanan diri masing-masing. Dengan menjaga diri sendiri berarti kita juga ikut menjaga keamanan sesama. 


Semoga saja setelah pandemi ini usai, kita tetap bisa mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik ini. 


Read more…

August 16, 2020

Pijat di Masa Pandemi

Salah satu kesukaanku adalah dipijat. Kesukaan ini bukan sesuatu yang rutin atau terjadwal. Tergantung kebutuhan juga, Kalau sedang masuk angin parah, baru pulang dari perjalanan luar kota, atau ada bagian otot ku yang tertarik atau keseleo karena saking lasaknya diri ini, maka aku segera menghubungi tukang pijat untuk datang ke rumah. Pernah juga beberapa kali aku mencoba pijat di pusat refleksi atau perawatan tubuh. Tapi aku lebih nyaman melakukannya di rumah. 

Kesukaan dipijat ini sudah berlangsung sejak lama. Waktu kecil dulu, Mami ku pasti akan memijat aku atau abangku kalau kami demam atau flu. Biasanya Mami akan membalurkan minyak dengan bawang merah ke tubuh kami lalu dipijat.     

Aku tidak ingat apakah ketika SMP sampai SMA aku sering dipijat. Waktu kuliah, beberapa kali aku memanggil mak pijat ke kos. Aku ingat ketika itu hari pertama aku mengikuti kursus mengendarai mobil. Kaki rasanya mau copot akibat selama hampir dua jam belajar menginjak pedal gas, rem, dan klos. Belum lagi stress nya karena baru kali pertama. Ketika memijat, si mak pijat bilang otot kaki sampai paha ku tegang semua seperti ditarik. 


Selama bekerja di Bireuen, aku pernah mencoba beberapa tukang pijat. Sekali, aku sedang main ke staff house pria, dan mereka sedang memanggil tukang pijat. Bapak ini tunarungu, beliau adalah salah satu penerima bantuan pada program NGO kami. Memang dasar doyan dipijat, aku pun ikut mengantri. Bapak ini keahliannya memijat refleksi, dan dia punya semacam tongkat kecil dari logam sebagai alat bantunya. Akhirnya tiba giliranku. Mula-mula masih terasa menyenangkan, sampai si bapak mulai memakai alat bantunya. Tongkat besi itu digelindingkan di tulang kering dan telapak kaki, rasanya sakit tak terkata. “Pak, udah pak, gak usah pakai itu” kataku. Si bapak tak bergeming, santai saja melanjutkan terapi nya. Akhirnya ‘derita’ itu pun berakhir. Kemudian aku ‘mengadu’ pada temanku tentang derita ku tadi. Dia tertawa dan bilang, “Bapak itu kan tunarungu, mau kamu menjerit kaya’ apa juga gak dengar dia”. #tepokjidat


Sejak tahun 2013, kami punya langganan tukang pijat namanya Bu Misna. Bu Misna bukan lagi sekadar tukang pijat, tapi beliau sudah seperti keluarga bagi kami. Kami ikut berduka ketika suaminya meninggal karena sakit. Kami ikut berbahagia ketika beliau menikahkan putrinya yang kedua, kemudian yang ketiga. Setiap Idul Fitri dan Idul Adha, juga setiap keluarga Bu Misna mengadakan syukuran, keluarga kami pasti akan mendapatkan berkat berupa kiriman lontong sayur, rendang ayam, tauco, lengkap dengan kue basah dan kue kering. Semuanya hasil masakan Bu Misna. 


Kalau soal kualitas pijatan, Bu Misna ini paling mantap, tak ada bandingnya. Segala urusan keseleo, salah urat, masuk angin, sakit perut, bisa diamankannya. Satu keistimewaan Bu Misna, setiap memijat dia akan ‘ribut’ mengeluarkan angin. Kadang-kadang ada orang yang tidak suka dan terganggu dengan suara-suara yang dikeluarkannya. Kalau aku sih tidak masalah, yang penting badanku terasa nyaman lagi.


Sejak masa pandemi, tepatnya sejak akhir Maret tahun ini, aku tidak lagi melakukan kesukaan ini. Selain aku pun menghindari kontak khususnya dengan orang asing, usaha-usaha jasa pijat seperti GoMassage dan tempat-tempat refleksi pun menghentikan operasinya. 


Hari Kamis yang lalu, aku terjatuh di depan kamar mandi. Karena buru-buru, aku tidak memperhatikan bahwa aku tidak menjejak pada keset kaki tapi langsung menginjak keramik. Akibatnya aku pun tergelincir dan jatuh terduduk. Untung saja tidak bertumpu pada lutut atau persendian lain. Tetapi bagian depan kaki kiriku memar, karena menjadi tumpuan ketika jatuh dengan cepat. Namun aku harus tetap ke kantor karena sudah ada jadwal pertemuan. 


Setelah selesai bekerja, selesai mandi (dengan ekstra hati-hati), aku mengompres kaki ku dengan es batu, lalu membalurkan minyak urut. Untung saja malam itu aku tidak demam. Aku mulai mencari jasa pijat mana yang sudah beroperasi. Akhirnya ketemu satu jasa pijat keluarga di Instagram. Para terapisnya menjalani rapid test secara berkala, dan menjalankan protokol kesehatan ketika bekerja. Testimoninya pun cukup meyakinkan. Harganya sebenarnya cukup mahal untuk ku, namun apa boleh buat, efek jatuh harus segera dibereskan. Kalau tidak, semakin lama akan semakin menyakitkan.


Karena Jumat dan Sabtu aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau dijadwal ulang, maka akhirnya aku memesan untuk sesi pijat hari ini. Senin kan libur, jadi aku punya waktu ekstra untuk istirahat. 


Sebelum pijat, aku harus menyiapkan ‘lapangan upacara’ dulu. Ini bedanya dibandingkan pijat di pusat perawatan tubuh. Kita tidak perlu menyiapkan apa-apa, bawa badan sama uang saja hehe Kamarku tidak besar, sehingga aku harus menggeser meja kerja, supaya cukup ruang untuk meletakkan kasur di lantai. 


Terapis datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Namanya Bu Ningsih. Beliau menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, dan selama bekerja tidak banyak berbicara. Untungnya hanya aku penghuni kosan, sehingga selama di pijat, aku bisa membuka jendela dan pintu kamar, memastikan udara selalu bergerak. Setelah selesai pijat, aku menyemprotkan air disinfectant ke seluruh penjuru kamar, dan membungkus semua sprei dan kain alas yang digunakan untuk dimasukkan ke laundry.


Pelan-pelan, kita akan menemukan cara baru untuk menjalankan berbagai kegiatan seperti dulu. Selama kita tetap berusaha menerapkan protokol kesehatan, menjaga kebersihan, dan mempertahankan imunitas tubuh. Kita harus beradaptasi dengan cara yang baru, cara yang benar. Karena hidup harus terus berjalan.

Read more…