Showing posts with label Cerita Hari Ini. Show all posts
Showing posts with label Cerita Hari Ini. Show all posts

December 18, 2020

Annyeonghaseyo Chingudeul Episode Finale 2020

Annyeonghaseyo!

Sebagaimana biasanya hari Jumat, hari ini adalah hari yang panjang dan lumayan sibuk. Walaupun di rumah saja karena hari ini aku WFH, kegiatan sudah dimulai dari pagi dan baru berakhir pukul 10, dan ditutup dengan kegiatan menulis. 

Bulan Desember adalah bulan istimewa di KLIP, dengan 20 setoran saja sudah bisa mendapatkan badge Outstanding. Berhubung aku memang memiliki kecenderungan modis, alias modal diskon, maka ‘diskon’ ala KLIP ini pun termasuk salah satu yang aku kejar haha


Hari ini pekerjaan kantor agak ‘rungsing’ karena banyak diisi dengan koordinasi via telepon dan via WhatsApp. Apalagi kemarin aku baru saja survei lapangan ke Cigudeg, dan besok akan ke luar kota lagi. Maka hari ini adalah harinya melakukan koordinasi ke sana dan kemari, pasca dan pra survei. 


Yang paling istimewa hari ini adalah acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”, IG Live Drakor Class. Hari ini adalah episode ketujuh, yang adalah episode terakhir untuk tahun 2020. Setelah beberapa episode ‘kursi panas’ sebagai host ditempati oleh RiRi Couple-nya Drakor Class, yaitu Cha Ree dan Cho Rijo, kemudian Cho Rijo, dan Lendyagasshi, maka episode ini, aku kembali mendudukinya. Setelah beberapa minggu bisa santuy nonton IG Live sambil rebahan, kali ini aku kembali sibuk dengan persiapan dan eksekusinya. 


Pada episode kali ini, Drakor Class menghadirkan tiga orang classmate. Dengan penampilan ketiga classmate ini, maka bisa dikatakan seluruh kontributor Drakor Class sudah tampil di acara IG Live. Eh, ada satu orang yang belum ding… Sudah dijadwalkan sebenarnya untuk tampil di episode ke-6, namun karena ada kepentingan keluarga, akhirnya harus ditunda dulu deh penampilannya.  


Sejak hari Sabtu yang lalu aku sudah menghubungi ketiga teman yang menjadi classmate, yaitu Nastiti, Rosy, dan Gita. Harus dihubungi jauh-jauh hari, karena mereka bertiga memiliki kesibukan yang cukup menyita waktu juga. Nastiti mengikuti beberapa komunitas yang banyak tugas-tugasnya, Rosy yang tinggal di kota berzona WITA sehingga harus menyesuaikan waktu dengan kita yang di WIB, dan Gita yang punya usaha kuliner yang biasanya tutup setelah jam makan malam. 


Awalnya sih mau bahas film dan drama Korea. Namun setelah diskusi dengan Nastiti, kaya’nya kurang pas kalau fokus hanya di film. Nas lalu mengusulkan untuk membahas literasi Korea, karena memang Nas suka membaca dan mengoleksi beberapa novel karya penulis Korea. Wah, ide brilian! Karena sepanjang Drakor Class mengudara, kami belum pernah membahas tentang literasi Korea. Akhirnya dirumuskan untuk episode kali ini, kami akan membahas tentang sinema (film dan drama) dan literasi Korea. 


Persiapannya sih sama seperti acara IG Live sebelumnya. Aku menyiapkan daftar pertanyaan untuk para classmate, lalu para classmate memberikan feedback mereka, kemudian kami mengadakan rehearsal sehari sebelum hari H, yaitu gladi resik melalui video call. Seserius itu? Iyaaa… kami seserius itu hahaha Gladi resik (GR) ini penting untuk melatih komunikasi host dan classmate juga. Jadi ketika ‘manggung’, tidak kagok atau canggung lagi. 


Ketika GR, biasanya classmate masih “demam panggung”, apalagi kebanyakan kami belum pernah tampil live di depan kamera. Tentu saja dalam setiap GR, aku punya pengamat dan komentator yang selalu siap sedia memberikan input, yaitu Kak Risna dan Lendy. Dalam setiap GR, biasanya akan muncul ide-ide pertanyaan atau topik yang akan dibahas, sehingga biasanya setiap GR aku akan sibuk membuat catatan, dan kk Risna dan Lendy akan sibuk “merusuh” hahahaha.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah flyer yang didesain oleh Manda. Ketika jadwal, tema, host dan classmate sudah fixed, maka semua informasi itu 'disetorkan' kepada Manda, bersama foto-foto para 'tersangka' hahaha Tidak pakai lama, Manda akan segera meproduksi flyer, dan siap ditayangkan di berbagai medsos Drakor Class. 



Flyer "Annyeonghaseyo Chingudeul" Episode Finale 2020 
(sumber: Instagram Drakor Class)


Latihan atau GR Kamis malam itu berjalan dengan lancar. Terus terang aku agak gentar, karena di luar dugaanku, ketiga classmate memiliki kecintaan yang amat sangat pada hobi mereka masing-masing, sehingga malah aku merasa kurang informasi. Dibandingkan aku, mereka bertiga telah lebih dulu menonton drakor, dan koleksi drakor dan filmnya sudah buuanyaaaakk. Kuatirnya besok malahan hostnya yang kelihatan bengong dan demam panggung hahaha

Hari H pun tiba. Satu jam sebelum acara, aku kembali bersiap-siap, membuka berbagai catatan, membuat berbagai catatan. Pukul delapan malam pun tiba, panggung pun dibuka!

Bahagianya aku karena kekuatiranku tidak terjadi. Baik Nas, Rosy, maupun Gita tampil lebih baik, lebih cair, dan lebih lancar dibandingkan GR. Luar biasa, keren banget! Informasi yang mereka sampaikan juga sangat menarik, sehingga tanpa terasa, episode hari ini mengambil dua sesi, alias 2 jam, yang sangat menyenangkan. 

Ketika direnungkan, memang pandemi telah membuat aku berani mencoba hal baru, membuat aku belajar banyak hal baru. Dan menjadi host Drakor Class adalah pengalaman yang sangat berharga buatku. Tidak saja aku belajar keterampilan baru, mulai dari public speaking, sampai mengoperasikan fitur Instagram. Aku juga belajar merencanakan acara seperti IG Live ini, dan lebih 'rempong' lagi ketika bersama-sama teman-teman Drakor Class kami merencanakan event "Crash Landing on KDrama" bersama KCC Indonesia, dimana aku menjadi moderator. Dan satu hal yang lebih istimewa lagi, dengan menjadi host, aku semakin mengenal teman-teman yang menjadi classmate secara lebih dekat.  

Semoga saja di tahun 2021, Drakor Class bisa tetap dan terus menjadi rumah yang nyaman bagi kami dan banyak orang lagi untuk sama-sama belajar, berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan.  

Read more…

November 13, 2020

Cerita dari IG Live Drakor Class ke-2

Holla!

Hari ini adalah hari Jumat yang panjang, hari yang diisi dengan (sok) banyak kesibukan. Padahal sebetulnya biasa-biasanya, cuman emang akunya yang apa-apa selalu banyak persiapan yang antahapaja. Anehnya, sudah begitu, aku punya kebiasaan bersiap di detik-detik terakhir atau mepet dengan waktu. Masih penganut “the power of deadline” hehe

Event yang paling besar dan paling istimewa hari ini adalah acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul”nya Drakor Class. Kali ini aku kembali menjadi host, dan yang jadi classmate alias narasumber adalah Rani dan Litha. Tema kali ini adalah “Drakor dan Penulis Buku Antologi”, dan baik Rani maupun Litha telah menjadi kontributor pada beberapa antologi. Beberapa??? Oh maaf… itu namanya underestimate, apalagi buat aku yang menulis saja masih sulit. Rani sudah punya enam antologi, dan Litha empat belas. Itu yang sudah diterbitkan lho ya… belum lagi yang masih proses terbit. 


Poster Acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" (sumber: www.drakorclass.com)

Seperti biasa, kami melakukan rehearsal sehari sebelum acara. Hari Kamis siang, kami bertiga bersama dua orang ‘penasihat’, yaitu kak Risna dan Lendy, melakukan latihan untuk acara tersebut melalui WA Video Call. Sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang kurang lebih seputaran tema: sejak kapan menulis, sejak kapan nonton drakor, apa efek drakor bagi seorang penulis, dan saran bagi para pemirsa. 

Ketika rehearsal, kami banyak mendapatkan kritik dan saran dari para penasihat (gomawo uri beloved classmates). Tadinya aku lebih fokus pada proses pembuatan antologi itu sendiri, namun setelah mendapatkan masukan, akhirnya proses itu tetap dibahas, namun porsinya diperkecil. Kita lebih banyak cerita tentang ide penulisan, tentang antologi yang sudah diterbitkan, dan proses penulisannya. Dan akhirnya latihan pun selesailah dengan bahagia dan kelelahan (buatku). Kaya’nya waktu itu aku belum makan, atau sarapannya telat sehingga tadinya belum lapar, namun seiring waktu jadinya kelaparan hihihi

Terus terang setelah rehearsal, aku agak galau membayangkan bagaimana nanti jalannya acara, karena kedua classmateku ini punya karakter yang berbeda. Rani lebih pendiam, sehingga aku harus lebih aktif bertanya dan mengarahkan pembicaraan. Litha lebih talkative, sehingga aku… harus mengerem diriku supaya tidak terjerumus lalu mengubah tema acara menjadi bucin united hahahaha

Namun ternyata, pada hari H, kegalauanku tak beralasan. Mungkin karena kami sudah rehearsal, ketika kami ON AIR, Rani menjadi lebih santai dan cair. Aku tidak repot-repot mengarahkan apapun, kami bisa mengobrol dengan enak seputaran penulisan antologi. Bahkan kalau kuingat-ingat, ada beberapa hal yang kami bahas ketika rehearsal, tapi tidak disinggung pada pelaksanaan; demikian pula sebaliknya, ada hal-hal baru yang baru disebutkan ketika acara berjalan. Dan thanks to teman-teman DC, mereka aktif sekali memberikan pertanyaan, sehingga host pelupa ini tidak kehabisan bahan hahaha Gomawo, gaeess…. #kecup_atu-atu

Ketika sesi ngobrol dengan Rani selesai, aku melirik waktu sudah pukul satu siang lewat beberapa menit. Hmm… kalau dengan Rani saja waktu setengah jam bisa berlalu begitu cepat, apa kabar nih dengan Litha? Padahal harus ada bagian penutup pula lagi, belum lagi kesan dan pesan. 

Ternyata semesta berbicara. Ketika baru terhubung beberapa menit dengan Rani… eh Litha (waktu latihan kebolak balik sejuta kali, untung waktu ON AIR cuman satu kali kejadian hihihi), tiba-tiba koneksi internetku “batuk”. Toeengg… offline! Aku buru-buru mengecek WiFi, dan syukurlah lampu indikatornya biru, bukan merah. Berarti tadi ada si komo lewat. Ternyata ‘sengsara’ membawa nikmat. Karena gangguan teknis beberapa menit itu, waktu ‘manggung’ jadi reset lagi menjadi maksimum 1 jam. YAY!

Tentu saja sesi kedua itu tidak sampai 1 jam. Namun, kami jadi lebih leluasa untuk mengobrol, dan menyampaikan pesan, tips dan saran, serta menyampaikan bagian penutup. Leluasa dalam arti aku terhindarkan dari ancaman berkeringat jagung sambil menatap nanar pada stopwatch dan hitungan mundur di layar IG Live hiahahahaa

Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung dapat kesempatan menjadi host dalam acara ini. Banyak sekali hal yang kudapatkan, selain pengalaman menjadi host tentunya. Aku belajar banyak hal dari Rani dan Litha. Aku belajar dari bagaimana mereka sangat mencintai dunia menulis, dan ketika kita menyukai dan mencintai sesuatu, kita pasti akan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu itu. Bukan masalah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukannya, tetapi kualitas ketika kita melakukannya, yang akan menjadi sumber penyemangat, mood booster, yang luar biasa. 

Masih banyak hal lain yang aku pelajari dari kedua classmateku nan jagoan ini. Lengkapnya akan aku tuliskan di blog Drakor Class ya. Namun hal yang terpenting yang kupelajari adalah “lakukan saja”. Tidak perlu terlalu jauh berpikir; apakah orang suka membacanya, apakah nanti begini atau begitu. Tetap saja konsisten menulis, dan yang terpenting harus diniatkan. Karena menulis sesungguh-sungguhnya adalah apresiasi bagi diri sendiri.

Update: Tulisan tentang acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" episode "Drakor dan Penulis Buku Antologi" ini bisa dibaca blog Drakor Class: IG Live Drakor Class Eps. 2


Read more…

November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Read more…

November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me

Read more…

October 29, 2020

Walau Sempat Galao, Tetap Jadi Bakpao

Hari ini adalah hari libur. Aku tidak memiliki rencana khusus untuk hari ini. Tadinya mau menyapu kamar tengah rumah kost, kalau mb Yenni, yang biasa bersih-bersih tidak datang lagi hari ini. Ternyata sebelum niat suci luhurku terwujud, tiba-tiba mbak Yenni muncul. YAY! 

Sambil menikmati sarapan, atau lebih tepatnya brunch karena sudah menjelang siang, aku menonton drama “Start-Up”. Weekend yang lalu episode 3 dan 4 sudah tayang, dan aku belum sempat menontonnya. Aku menonton episode 3, dan sukaaaaa! Untung penghuni kost yang lain lagi pada beredar, kalo tidak, mungkin pintuku sudah digedor atau dilempar bakiak karena terganggu suaraku yang ngakak kencang. 


Selesai episode 3, kantuk pun menyerang. Tidak melanjutkan episode 4, aku pun memilih leyeh-leyeh mengukur kasur. Siang tadi matahari bersinar terik. Dalam cuaca yang panas itu, aku tertidur dengan membiarkan jendela terbuka. Di masa pandemi ini aku memang mengurangi pemakaian AC dan lebih banyak membiarkan jendela terbuka, supaya udara tetap bersirkulasi dengan baik.


Aku terbangun oleh dering handphoneku yang ada di atas meja. Rupanya Mami menelpon. Biasa... wajib lapor. Sambil ngobrol dengan Mami, aku menyalakan laptop. Seperti biasa, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Dari A ke Z ke A lagi. 


“Papi mana? Lagi ngapain?”


“Sibuk di dapur, kaya’nya bikin pansit buat nanti malam”.


Mendengar Papi yang lagi sibuk menyiapkan pansit, aku jadi teringat dengan niatku untuk membuat bakpao. Apa hubungannya? Sama-sama “prakarya anak bangsa” hahaha


Sebenarnya sudah lama aku ingin mencoba membuat bakpao. Sudah tertunda dua bulan, tepung terigu pun sudah menganggur lama di lemari. Alasan cliche; gak mood. Ketika beberapa hari lalu berbelanja ke pasar, aku sudah membeli kertas roti sebagai alas bakpao. Jadi sudah siap-siap, apabila moodnya datang, bahan-bahannya sudah siap semua. Ternyata, si mood datangnya siang ini. Impulsif, as always.


Resep Bakpao


Selesai ngobrol via telepon dengan Papi Mami, hal pertama yang aku lakukan adalah menggoogle resep bakpao. Setelah memilih-milih, aku memutuskan memakai resep dan cara pembuatan bakpao sebagai berikut: 


Bahan-bahan: 

250 gram tepung terigu protein rendah (Cap Kunci Biru)

1 sdm gula pasir

150 mL air (suhu ruang)

1 sdm mentega putih (aku pakai margarine biasa)

1 sdt ragi (aku pakai Fermipan)

½ sdt garam 

Bahan isian (mesis, selai, keju, atau tumisan daging)


Alat-alat: 

Spatula

Wadah tempat mencampur adonan

Alas silikon (opsional)

Penggiling adonan (opsional)

Kukusan

Kain bersih


Cara Membuat:

  1. Campurkan tepung terigu (diayak) dan ragi. 

  2. Campurkan air dan gula pasir, aduk sampai gula larut.

  3. Masukkan larutan air gula ke dalam campuran tepung dan ragi sedikit-sedikit, sambil diaduk dengan spatula sampai merata.

  4. Setelah tercampur rata, uleni adonan sampai kalis. Bisa dilakukan di wadah tadi, atau dengan alasan silikon (silicon mat). Sebenarnya bisa menggunakan media apa saja, selama permukaannya cukup licin dan bersih. Menguleni adonan dilakukan dengan gerakan seperti mencuci pakaian. Lakukan kurang lebih selama 15 menit, atau sampai adonan kalis. Adonan telah kalis apabila adonan tidak lagi menempel pada wadah, terlihat padu, terasa mantap, kenyal, dan gampang dibentuk.

  5. Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi delapan atau sepuluh bagian, sesuai selera. Bulat-bulatkan, tutup dengan kain bersih supaya tidak mengering.

  6. Ambil satu bulatan, pipihkan dengan penggiling adonan (rolling pin). Karena tidak punya, aku menggunakan botol kaca yang sudah dicuci bersih permukaannya. Lalu, dengan tangan, pipihkan bagian tepi adonan, dan bagian tengah dibiarkan tetap tebal. 

  7. Isi bagian tengah adonan dengan bahan yang disukai. Aku menggunakan mesis Ceres, keju, dan selai mixed berry sebagai isian. Disesuaikan dengan isi kulkas atau bahan yang tersedia saja.

  8. Tutup adonan, bulatkan dengan hati-hati. Beri alas kertas roti. Kalau tidak ada kertas roti, kertas cupcake juga bisa.

  9. Susun adonan bakpao di wadah kukusan. 

  10. Lakukan langkah tersebut untuk seluruh bulatan. 

  11. Setelah selesai, tutup wadah kukusan dengan kain bersih, biarkan selama 15 - 20 menit, tergantung cuaca ketika membuat. Apabila cuaca panas atau hangat, 15 menit sudah cukup. 

  12. Siapkan kukusan, beri air kurang lebih 1L. Tidak perlu banyak, pastikan saja jumlah cukup untuk mengukus selama 10 menit. Panaskan kukusan sampai air mendidih sempurna.

  13. Letakkan wadah di atas kukusan, lapisi tutup kukusan dengan kain bersih supaya uap air tidak menetes ke atas adonan.

  14. Kukus dengan api sedang selama 10 menit. 

  15. Setelah 10 menit, matikan api kompor. Biarkan kukusan tetap tertutup selama lima menit. 

  16. Bakpao siap disantap.


Resep dan cara pembuatannya bisa dilihat di video ini (sumber: YouTube).





Pengalaman Pertama Membuat Bakpao


Pada dasarnya aku memang senang memasak (tapi tidak senang mencuci piring wajan dan teman-temannya). Aku bahkan sempat berjualan brownies selama beberapa bulan setelah lulus kuliah. Selama hidup merantau, aku juga sering memasak sendiri. Pernah mencoba memasak tongseng, namun menu andalan adalah ikan kukus, gampil surampil! Sekali pernah juga mencoba memasak kue choco lava. Tetapi seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamaku membuat bakpao sendiri.


Kalau biasanya aku menggunakan mixer, maka sekali ini, adonan harus diuleni secara manual. Seperti banyak hal lain di atas bumi ini, ternyata menguleni adonan pun memang membutuhkan keahlian yang datang dari pengalaman. 


Aku sempat merasa panik ketika setelah mengulen 15 menit, adonanku tidak menunjukkan tanda-tanda kekalisan sama sekali. Masih menempel di wadah dan tanganku. Sempat galau juga, sedih. Masa’ harus dibuang sih adonannya. Karena adonan yang ‘cair’, tidak akan menghasilkan bakpao yang utuh. Lalu aku menggoogle lagi, bagaimana cara mengatasi adonan yang tidak kalis. 


Caranya ada dua. Pertama, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil terus diuleni, sampai adonan kalis. Kedua, olesi tangan dengan margarin, supaya adonan tidak menempel di tangan. Puji Tuhan, setelah empat kali menambahkan kurang lebih 1 sdm tepung, akhirnya adonanku kalis juga dan siap untuk dibagi lalu diisi. YAY!


Pelajaran Hari Ini


Ada beberapa tips yang aku dapatkan dan pelajari selama membuat bakpao:


  1. Pastikan ragi yang digunakan aktif. Apabila ragi masih baru dibuka, biasanya ragi masih aktif. Tetapi apabila kita sudah memakai sebagian ragi sebelumnya, perlu dipastikan dulu apakah ragi yang tersisa masih aktif. 

Caranya adalah dengan mencampurkan ragi (banyaknya sesuai resep) dengan 50 mL air hangat dan 1 sdt gula (disebut campuran biang). Setelah dicampur, tutup wadah lalu biarkan selama 15 menit. Apabila campuran biang kemudian berbusa naik, berarti ragi masih aktif, dan campuran biang dapat langsung digunakan pada adonan. Apabila tidak, maka ragi sudah tidak aktif dan tidak dapat digunakan lagi. Lengkapnya bisa dilihat di video ini.


  1. Aku mencari tahu kenapa adonanku lama sekali kalisnya. Disinyalir, air yang kugunakan terlalu banyak. Kembali lagi, ini tergantung pengalaman. Tipsnya, air dimasukkan sedikit-sedikit sambil mencampur adonan. Jadi banyaknya air yang dibutuhkan tidak selalu persis dengan resep, karena hal ini juga tergantung dari jenis dan kualitas tepung.
    Cara menyiasatinya adalah dengan menambahkan terlebih dulu 70% air dari resep yang ditentukan ke dalam adonan (tetap dimasukkan sedikit demi sedikit). Lalu amati selama proses mengulen.  Apabila adonan sudah tercampur dengan baik, berarti air tidak perlu ditambahkan lagi, walaupun belum habis sesuai resep. Apabila air sudah terlanjur dimasukkan semua, maka bisa menggunakan cara seperti kusebutkan di atas, yaitu menambahkan tepung, sampai adonan kalis.

  2. Ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya adonan bakpao mulus. Pertama, gula dilarutkan dengan air sebelum dicampur ke adonan. Kedua, ayak tepung terigu sebelum digunakan supaya tidak ada bagian yang bergerindil. Ketiga, teknik mengulen juga menentukan mulus tidaknya adonan. Ini membutuhkan pengalaman tentunya. Istilahnya mah, tergantung tangan.


  1. Mentega putih digunakan untuk mendapatkan warna bakpao yang putih bersih dan cantik. Berhubung tidak punya mentega putih, aku menggunakan margarine biasa. Secara rasa tetap enak dan warnanya juga tetap bagus; tidak putih bersih tetapi broken white. 


  1. Karena iklim di negara +62 cenderung panas atau hangat, maka sebaiknya menggunakan air dingin. Supaya gula larut, gunakan sedikit air panas atau hangat, sampai larut, lalu tambahkan air dingin. Apabila air terlalu hangat, maka ragi akan terlalu cepat mengembang. 

  2. Jangan terlalu lama mendiamkan adonan (overproofing), kalau terlalu lama, bakpao akan mengkerut ketika dikukus. Semakin hangat/panas cuaca, semakin singkat waktu untuk proofing. 

  3. Ketika bakpao sudah masak, jangan langsung membuka tutup kukusan. Nanti bakpaonya ‘kaget’ lalu mengkerut. Buka sedikit penutup, biarkan uap keluar melalui celah. Kalau aku, karena kain tidak menyatu dengan tutup kukusan, dan bahannya cukup tebal , maka setelah matang, tutup kukusan dibuka, tetapi kain dibiarkan tetap menutup bakpao selama lima menit. 



Adonan Siap Untuk Dikukus (dok.pribadi)


Bakpao Baru Matang (dok. pribadi)


Alas yang bisa dikupas dengan gampang sebagai indikasi adonan bakpao berhasil. YAY!
(dok. pribadi)

Bakpao Isi Coklat. Yummy... (dok.pribadi)

Menyenangkan rasanya menikmati bakpao buatan sendiri. Bentuknya sih belum layak pamer, tetapi not bad lah untuk percobaan perdana. 


Memasak itu lagi-lagi soal perasaan; membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan semakin banyak latihan, niscaya hasilnya akan semakin memuaskan. 




Read more…