Showing posts with label Challenge_Topik 12. Show all posts
Showing posts with label Challenge_Topik 12. Show all posts

October 29, 2020

Walau Sempat Galao, Tetap Jadi Bakpao

Hari ini adalah hari libur. Aku tidak memiliki rencana khusus untuk hari ini. Tadinya mau menyapu kamar tengah rumah kost, kalau mb Yenni, yang biasa bersih-bersih tidak datang lagi hari ini. Ternyata sebelum niat suci luhurku terwujud, tiba-tiba mbak Yenni muncul. YAY! 

Sambil menikmati sarapan, atau lebih tepatnya brunch karena sudah menjelang siang, aku menonton drama “Start-Up”. Weekend yang lalu episode 3 dan 4 sudah tayang, dan aku belum sempat menontonnya. Aku menonton episode 3, dan sukaaaaa! Untung penghuni kost yang lain lagi pada beredar, kalo tidak, mungkin pintuku sudah digedor atau dilempar bakiak karena terganggu suaraku yang ngakak kencang. 


Selesai episode 3, kantuk pun menyerang. Tidak melanjutkan episode 4, aku pun memilih leyeh-leyeh mengukur kasur. Siang tadi matahari bersinar terik. Dalam cuaca yang panas itu, aku tertidur dengan membiarkan jendela terbuka. Di masa pandemi ini aku memang mengurangi pemakaian AC dan lebih banyak membiarkan jendela terbuka, supaya udara tetap bersirkulasi dengan baik.


Aku terbangun oleh dering handphoneku yang ada di atas meja. Rupanya Mami menelpon. Biasa... wajib lapor. Sambil ngobrol dengan Mami, aku menyalakan laptop. Seperti biasa, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Dari A ke Z ke A lagi. 


“Papi mana? Lagi ngapain?”


“Sibuk di dapur, kaya’nya bikin pansit buat nanti malam”.


Mendengar Papi yang lagi sibuk menyiapkan pansit, aku jadi teringat dengan niatku untuk membuat bakpao. Apa hubungannya? Sama-sama “prakarya anak bangsa” hahaha


Sebenarnya sudah lama aku ingin mencoba membuat bakpao. Sudah tertunda dua bulan, tepung terigu pun sudah menganggur lama di lemari. Alasan cliche; gak mood. Ketika beberapa hari lalu berbelanja ke pasar, aku sudah membeli kertas roti sebagai alas bakpao. Jadi sudah siap-siap, apabila moodnya datang, bahan-bahannya sudah siap semua. Ternyata, si mood datangnya siang ini. Impulsif, as always.


Resep Bakpao


Selesai ngobrol via telepon dengan Papi Mami, hal pertama yang aku lakukan adalah menggoogle resep bakpao. Setelah memilih-milih, aku memutuskan memakai resep dan cara pembuatan bakpao sebagai berikut: 


Bahan-bahan: 

250 gram tepung terigu protein rendah (Cap Kunci Biru)

1 sdm gula pasir

150 mL air (suhu ruang)

1 sdm mentega putih (aku pakai margarine biasa)

1 sdt ragi (aku pakai Fermipan)

½ sdt garam 

Bahan isian (mesis, selai, keju, atau tumisan daging)


Alat-alat: 

Spatula

Wadah tempat mencampur adonan

Alas silikon (opsional)

Penggiling adonan (opsional)

Kukusan

Kain bersih


Cara Membuat:

  1. Campurkan tepung terigu (diayak) dan ragi. 

  2. Campurkan air dan gula pasir, aduk sampai gula larut.

  3. Masukkan larutan air gula ke dalam campuran tepung dan ragi sedikit-sedikit, sambil diaduk dengan spatula sampai merata.

  4. Setelah tercampur rata, uleni adonan sampai kalis. Bisa dilakukan di wadah tadi, atau dengan alasan silikon (silicon mat). Sebenarnya bisa menggunakan media apa saja, selama permukaannya cukup licin dan bersih. Menguleni adonan dilakukan dengan gerakan seperti mencuci pakaian. Lakukan kurang lebih selama 15 menit, atau sampai adonan kalis. Adonan telah kalis apabila adonan tidak lagi menempel pada wadah, terlihat padu, terasa mantap, kenyal, dan gampang dibentuk.

  5. Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi delapan atau sepuluh bagian, sesuai selera. Bulat-bulatkan, tutup dengan kain bersih supaya tidak mengering.

  6. Ambil satu bulatan, pipihkan dengan penggiling adonan (rolling pin). Karena tidak punya, aku menggunakan botol kaca yang sudah dicuci bersih permukaannya. Lalu, dengan tangan, pipihkan bagian tepi adonan, dan bagian tengah dibiarkan tetap tebal. 

  7. Isi bagian tengah adonan dengan bahan yang disukai. Aku menggunakan mesis Ceres, keju, dan selai mixed berry sebagai isian. Disesuaikan dengan isi kulkas atau bahan yang tersedia saja.

  8. Tutup adonan, bulatkan dengan hati-hati. Beri alas kertas roti. Kalau tidak ada kertas roti, kertas cupcake juga bisa.

  9. Susun adonan bakpao di wadah kukusan. 

  10. Lakukan langkah tersebut untuk seluruh bulatan. 

  11. Setelah selesai, tutup wadah kukusan dengan kain bersih, biarkan selama 15 - 20 menit, tergantung cuaca ketika membuat. Apabila cuaca panas atau hangat, 15 menit sudah cukup. 

  12. Siapkan kukusan, beri air kurang lebih 1L. Tidak perlu banyak, pastikan saja jumlah cukup untuk mengukus selama 10 menit. Panaskan kukusan sampai air mendidih sempurna.

  13. Letakkan wadah di atas kukusan, lapisi tutup kukusan dengan kain bersih supaya uap air tidak menetes ke atas adonan.

  14. Kukus dengan api sedang selama 10 menit. 

  15. Setelah 10 menit, matikan api kompor. Biarkan kukusan tetap tertutup selama lima menit. 

  16. Bakpao siap disantap.


Resep dan cara pembuatannya bisa dilihat di video ini (sumber: YouTube).





Pengalaman Pertama Membuat Bakpao


Pada dasarnya aku memang senang memasak (tapi tidak senang mencuci piring wajan dan teman-temannya). Aku bahkan sempat berjualan brownies selama beberapa bulan setelah lulus kuliah. Selama hidup merantau, aku juga sering memasak sendiri. Pernah mencoba memasak tongseng, namun menu andalan adalah ikan kukus, gampil surampil! Sekali pernah juga mencoba memasak kue choco lava. Tetapi seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamaku membuat bakpao sendiri.


Kalau biasanya aku menggunakan mixer, maka sekali ini, adonan harus diuleni secara manual. Seperti banyak hal lain di atas bumi ini, ternyata menguleni adonan pun memang membutuhkan keahlian yang datang dari pengalaman. 


Aku sempat merasa panik ketika setelah mengulen 15 menit, adonanku tidak menunjukkan tanda-tanda kekalisan sama sekali. Masih menempel di wadah dan tanganku. Sempat galau juga, sedih. Masa’ harus dibuang sih adonannya. Karena adonan yang ‘cair’, tidak akan menghasilkan bakpao yang utuh. Lalu aku menggoogle lagi, bagaimana cara mengatasi adonan yang tidak kalis. 


Caranya ada dua. Pertama, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil terus diuleni, sampai adonan kalis. Kedua, olesi tangan dengan margarin, supaya adonan tidak menempel di tangan. Puji Tuhan, setelah empat kali menambahkan kurang lebih 1 sdm tepung, akhirnya adonanku kalis juga dan siap untuk dibagi lalu diisi. YAY!


Pelajaran Hari Ini


Ada beberapa tips yang aku dapatkan dan pelajari selama membuat bakpao:


  1. Pastikan ragi yang digunakan aktif. Apabila ragi masih baru dibuka, biasanya ragi masih aktif. Tetapi apabila kita sudah memakai sebagian ragi sebelumnya, perlu dipastikan dulu apakah ragi yang tersisa masih aktif. 

Caranya adalah dengan mencampurkan ragi (banyaknya sesuai resep) dengan 50 mL air hangat dan 1 sdt gula (disebut campuran biang). Setelah dicampur, tutup wadah lalu biarkan selama 15 menit. Apabila campuran biang kemudian berbusa naik, berarti ragi masih aktif, dan campuran biang dapat langsung digunakan pada adonan. Apabila tidak, maka ragi sudah tidak aktif dan tidak dapat digunakan lagi. Lengkapnya bisa dilihat di video ini.


  1. Aku mencari tahu kenapa adonanku lama sekali kalisnya. Disinyalir, air yang kugunakan terlalu banyak. Kembali lagi, ini tergantung pengalaman. Tipsnya, air dimasukkan sedikit-sedikit sambil mencampur adonan. Jadi banyaknya air yang dibutuhkan tidak selalu persis dengan resep, karena hal ini juga tergantung dari jenis dan kualitas tepung.
    Cara menyiasatinya adalah dengan menambahkan terlebih dulu 70% air dari resep yang ditentukan ke dalam adonan (tetap dimasukkan sedikit demi sedikit). Lalu amati selama proses mengulen.  Apabila adonan sudah tercampur dengan baik, berarti air tidak perlu ditambahkan lagi, walaupun belum habis sesuai resep. Apabila air sudah terlanjur dimasukkan semua, maka bisa menggunakan cara seperti kusebutkan di atas, yaitu menambahkan tepung, sampai adonan kalis.

  2. Ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya adonan bakpao mulus. Pertama, gula dilarutkan dengan air sebelum dicampur ke adonan. Kedua, ayak tepung terigu sebelum digunakan supaya tidak ada bagian yang bergerindil. Ketiga, teknik mengulen juga menentukan mulus tidaknya adonan. Ini membutuhkan pengalaman tentunya. Istilahnya mah, tergantung tangan.


  1. Mentega putih digunakan untuk mendapatkan warna bakpao yang putih bersih dan cantik. Berhubung tidak punya mentega putih, aku menggunakan margarine biasa. Secara rasa tetap enak dan warnanya juga tetap bagus; tidak putih bersih tetapi broken white. 


  1. Karena iklim di negara +62 cenderung panas atau hangat, maka sebaiknya menggunakan air dingin. Supaya gula larut, gunakan sedikit air panas atau hangat, sampai larut, lalu tambahkan air dingin. Apabila air terlalu hangat, maka ragi akan terlalu cepat mengembang. 

  2. Jangan terlalu lama mendiamkan adonan (overproofing), kalau terlalu lama, bakpao akan mengkerut ketika dikukus. Semakin hangat/panas cuaca, semakin singkat waktu untuk proofing. 

  3. Ketika bakpao sudah masak, jangan langsung membuka tutup kukusan. Nanti bakpaonya ‘kaget’ lalu mengkerut. Buka sedikit penutup, biarkan uap keluar melalui celah. Kalau aku, karena kain tidak menyatu dengan tutup kukusan, dan bahannya cukup tebal , maka setelah matang, tutup kukusan dibuka, tetapi kain dibiarkan tetap menutup bakpao selama lima menit. 



Adonan Siap Untuk Dikukus (dok.pribadi)


Bakpao Baru Matang (dok. pribadi)


Alas yang bisa dikupas dengan gampang sebagai indikasi adonan bakpao berhasil. YAY!
(dok. pribadi)

Bakpao Isi Coklat. Yummy... (dok.pribadi)

Menyenangkan rasanya menikmati bakpao buatan sendiri. Bentuknya sih belum layak pamer, tetapi not bad lah untuk percobaan perdana. 


Memasak itu lagi-lagi soal perasaan; membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan semakin banyak latihan, niscaya hasilnya akan semakin memuaskan. 




Read more…

July 4, 2020

Kisah Adaptasi Drama Korea

Salah satu hal yang paling kukagumi dari drama dan film Korea adalah para penulis ceritanya. Mereka seakan-akan tidak kenal batas kreatifitas. Tidak ada kisah yang tidak mungkin. Alien, zombie, sampai jurig. Time traveler, dunia paralel, sampai dunia komik. Beda usia 10 tahun atau 30 tahun?? Aah... itu mah sudah biasaaa... Di drama Korea, tokohnya ada yang berusia 400, bahkan 900 tahun.

Saking kreatifnya kisah-kisah drama Korea ini, tidak jarang kisahnya di-remake oleh negara-negara lain. Sebut saja negara Jepang, Tiongkok, Turki, Thailand, dan tentu saja tidak ketinggalan negara berflower +62 yang kita cintai ini.

Berikut dua drama Korea yang di-remake oleh negara lain:

Signal (2016)

Drama Korea ini mengisahkan  tentang Park Hae-young (Lee Je-hoon) seorang polisi profiler, yang berkomunikasi dengan Lee Jae-han (Cho Jin-woong), seorang polisi detektif melalui sebuah walkie-talkie tua. Uniknya, Lee Jae-han berasal dari tahun 2000. Dengan kemampuan Hae-young sebagai profiler, bersama mereka memecahkan sebuah berbagai kasus kriminal yang terjadi di masa Jae-han, sehingga mereka berhasil mengubah masa depan. Tentu saja mengubah takdir tidak mungkin tanpa konsekuensi.  Ketika ada yang terselamatkan, tentu saja ada yang harus dikorbankan.

Drama bergenre kriminal-misteri-thriller-fantasy ini (semua diborong gitu yak...) sukses meraih rating yang tinggi dan memenangkan beberapa penghargaan. Drama ini mengangkat sebuah kisah nyata, yang dikenal dengan “Pembunuh Berantai Hwaseong” yang terjadi di Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, selama tahun 1986 sampai dengan 1991. Pelakunya sendiri berhasil diindentifikasi oleh pihak kepolisian Korea Selatan pada September 2019, yaitu 33 tahun setelah kejahatan itu terjadi.   

Drama "Signal" - versi Korea dan versi Jepang
(sumber: hipwee.com/asianwiki.com)

Drama Korea Signal di-remake oleh Jepang menjadi drama yang berjudul sama, Signal (2018), yang dibintangi oleh Kentaro Sakaguchi. Kemudian dilanjutkan kisahnya ke dalam bentuk  film yang berjudul  Signal The Movie. Film ini rencananya akan dirilis tahun 2021.   

Selain drama Signal, ternyata ada sejumlah film dan drama Korea lain yang juga terinspirasi dari kasus Hwaseong, antara lain film Memories of Murder (2003), film Confession of Murder (2012), drama Gap-dong (2014), dan drama Tunner (2017). 


My Love From Another Star (2013)

Drama ini sangat berkesan buatku karena merupakan drama yang menandai comeback ku ke dunia perdrakoran. Drama ini dibintangi oleh Jun Ji-hyun dan Kim Soo-hyun, mengisahkan Do Min-joon, alien yang datang ke Bumi 400 tahun lalu, jatuh cinta dengan Cheon Song-yi, seorang artis.

Barangkali karena keunikan kisahnya, drama ini di-remake oleh salah satu stasiun televisi Thailand. Judul remake versi Thailand adalah “Likit Ruk Karm Duang Dao”, dimana karakter Do Min-joon diganti menjadi Achira, dan Cheon Song-yo menjadi Farada.  (sumber: hipwee.com).

"My Love From Another Star" dan versi remake "Kau yang Berasal dari Bintang"
(sumber: brilio.net/asianwiki.com/Sinemart Indonesia) 

Tidak hanya Thailand, Indonesia pun membuat versi remake-nya. Judul remake versi Indonesia adalah “Kau yang Berasal dari Bintang”, yang dibintangi oleh Nikita Willy dan Morgan Oey. (sumber: brilio.net)


Meskipun kreatifitas penulis cerita film dan drama Korea sepertinya tanpa batas, tetapi Korea pun membuat remake dari film, drama, maupun manga produksi negara lain. Salah satunya yang paling terkenal adalah "Boys Over Flower".

Poster "Boys Over Flowers" (sumber: wikipedia)

"Boys Over Flower" (2009) dibuat berdasarkan manga yang berjudul "Hana Yori Dango" yang ditulis oleh Yoko Kamio, yang mengisahkan tentang Makino Tsukushi, seorang gadis dari keluarga kelas pekerja, yang terlibat dengan F4, sebuah grup yang paling populer di sekolahnya. Grup ini terdiri dari 4 orang  pria ganteng yang datang dari keluarga kaya raya.

Dalam versi Korea, drama ini dibintangi oleh Ku Hye-sun sebagai Geum Jan-di (karakter Makino Tsukushi) dan Lee Min-ho sebagai Gu Jun-pyo, yang merupakan ketua F4. Anggota F4 lainnya diperankan oleh Kim Hyoon-jong, Kim Bum, dan Kim Joon.

Cover Hana Yori Dango Vol. 1 - Manga yang menginspirasi banyak drama
(sumber: wikipedia)

Selain "Boys Over Flower", manga “Hana Yori Dango” ini juga diadaptasi ke beberapa versi serial drama oleh negara lain. Yang pertama sekali memproduksinya adalah Taiwan, dengan serial drama yang berjudul “Meteor Garden” (2001). Pada masa itu, drama ini pun hits banget di Indonesia, hingga tak lama kemudian diadaptasi ke dalam bentuk sinetron, yang berjudul “Siapa Takut Jatuh Cinta”.  Sinetron dibintangi oleh Leony, Indra Bruggman, Jonathan Frizzy, Roger Danuarta, dan Steve Emmanuel.

Setelah Taiwan, Jepang sendiri memproduksi serial drama dengan judul sama pada tahun 2005, yang dilanjutkan dengan sequelnya di tahun 2007 dengan judul “Hana Yori Dango Returns”, dan tahun 2008 diadaptasi dalam bentuk film yang berjudul “Hana Yori Dango Final”. Kemudian Tiongkok mengadaptasi manga ini dengan memproduksi serial drama berjudul “Meteor Garden” (2018).


Tulisan ini kubuat setelah melakukan survey kecil-kecilan dari berbagai sumber situs berita, karena sebagian drama dan film tadi belum aku tonton, baik versi Korea, versi remake, maupun versi aslinya. Secara perjalanan ku menjadi drakorian pun baru berlangsung sejak awal tahun 2019, masih newbiew euy. Namun daftar di atas bolehlah dijadikan referensi untuk menambah koleksi tontonan selama masa pandemi.

Read more…