Showing posts with label Tentang Menulis. Show all posts
Showing posts with label Tentang Menulis. Show all posts

December 20, 2020

KLIP 2020 dan Harapan untuk KLIP 2021

Annyeong…

Hari ini adalah hari terakhir setoran Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk tahun 2020. Tahun ini adalah pertama sekalinya aku ikut serta dalam komunitas KLIP. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar tentang komunitas ini dari kk Risna, dan tahun ini, kk Risna berhasil ‘menyeret’ku untuk ikut dalam pusaran literasi ini. 


Aku sudah pernah menuliskan tentang kisah perjalananku dalam menulis dalam postinganku di bulan Oktober yang lalu yang berjudul “Tantangan yang Menyenangkan”. Aku yang tadinya menulis kapan tahu, menulis karena ikutan event (itupun jarang lengkap), akhirnya memberanikan diri bergabung dengan sebuah komunitas literasi. 


Dari KLIP aku belajar untuk rutin menulis. Memang buat manusia berkarakter moody kaya’ aku ini, aku membutuhkan komunitas untuk bisa tetap termotivasi. Harus ada contoh yang bikin aku terhenyak, tercubit, terpukau, terperangah, lalu belajar untuk meniru. Intinya harus ada pembanding, sehingga aku bisa mengikuti jejak teman-teman yang sudah berhasil. 


Sejauh ini sistem “reward and punishment” cukup berhasil membuatku tetap menulis. Walaupun mengklaim diri sebagai pengabdi badge, tapi aku sendiri tidak mengingat jelas berapa badge warna apa yang berhasil kukumpulkan. Namun yang pasti, aku belum tereliminasi hingga hari terakhir KLIP 2020 ini. Buatku itu sungguh merupakan prestasi! (Dan kopernya bisa disimpan kembali haha)


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi. Betapa mereka produktif menulis, dengan tidak meninggalkan tugas utamanya. Dalam kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan, mereka tetap menyediakan waktu untuk menulis. Menulis adalah “me time” buat teman-temanku yang keren-keren ini.


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang ternyata memiliki kesenangan yang sama denganku, yaitu menonton drama Korea. Kegemaran menonton drama Korea, yang sering dipandang negatif bagi sebagian orang, justru membuat kami semakin produktif. Drama Korea menjadi inspirasi dan sumber ilmu yang tidak habis-habisnya. Dan semakin produktif lagi ketika kami menyatukan keimpulsifan kami dalam bentuk sebuah blog bareng bertajuk Drakor Class. Sejak blog ini mengudara tanggal 10 Oktober 2020, tak henti-hentinya aku, kami semua, belajar hal baru. Semoga saja kami bisa membesarkan ‘anak’ kami ini dengan baik dan benar. 


Dari KLIP aku bertemu dengan my long lost twin, Rijo Tobing. Entah kenapa, kami sering sekali ‘dituduh’ sebagai anak kembar. Bukan hanya di masa awal, namun makin ke sini, justru makin sering sebutan mirip dan kembar ini membahana. Mulai dari tampang sampai suara. Bahkan salah satu teman di Drakor Class pernah menyangka bahwa dia sedang chat dengan Rijo ketika aku menghubunginya lewat wapri. Dan nyadarnya itu setelah percakapan berlangsung beberapa lama hahahaha 


Sebutan kembar ini sungguh menguntungkan buatku, karena Rijo ini seorang novelist sementara aku seorang ‘moodist’ hihi. Aku pernah ‘dituduh’ sebagai “yang selalu menulis ribuan kata”, dan dengan senang hati aku kembali mengulang fakta bahwa itu bukan aku tapi ‘kembaran’ku. Lucunya, kehidupanku sebenarnya pernah beririsan dengan Rijo. Aku mengenal orang-orang di sekitarnya, dan Rijo mengenal orang-orang di sekitarku. Namun entah bagaimana, kami tidak pernah bertemu atau berkenalan secara langsung. Semoga saja tahun depan kami bisa bertemu raga dan makan Bebek Kaleyo bersama. 

 

Intinya, ada banyak sekali manfaat, pengalaman, pelajaran, dan kebahagiaan yang kudapatkan ketika aku bergabung dengan KLIP. I must say, it is one of the best decisions I made this year. 


Harapan tentang KLIP ke depan? Semoga saja KLIP tetap mengudara, berjaya di darat (luring) dan di udara (daring). Semoga para admin, pengurus, penggagas, penggiat dalam KLIP diberkahi dengan tenaga dan inspirasi yang tak habis-habisnya, untuk membagikan ilmu dan menularkan semangat berliterasi, menjadi saluran berkat dan kebaikan bagi lebih banyak orang.  


Read more…

November 13, 2020

Cerita dari IG Live Drakor Class ke-2

Holla!

Hari ini adalah hari Jumat yang panjang, hari yang diisi dengan (sok) banyak kesibukan. Padahal sebetulnya biasa-biasanya, cuman emang akunya yang apa-apa selalu banyak persiapan yang antahapaja. Anehnya, sudah begitu, aku punya kebiasaan bersiap di detik-detik terakhir atau mepet dengan waktu. Masih penganut “the power of deadline” hehe

Event yang paling besar dan paling istimewa hari ini adalah acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul”nya Drakor Class. Kali ini aku kembali menjadi host, dan yang jadi classmate alias narasumber adalah Rani dan Litha. Tema kali ini adalah “Drakor dan Penulis Buku Antologi”, dan baik Rani maupun Litha telah menjadi kontributor pada beberapa antologi. Beberapa??? Oh maaf… itu namanya underestimate, apalagi buat aku yang menulis saja masih sulit. Rani sudah punya enam antologi, dan Litha empat belas. Itu yang sudah diterbitkan lho ya… belum lagi yang masih proses terbit. 


Poster Acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" (sumber: www.drakorclass.com)

Seperti biasa, kami melakukan rehearsal sehari sebelum acara. Hari Kamis siang, kami bertiga bersama dua orang ‘penasihat’, yaitu kak Risna dan Lendy, melakukan latihan untuk acara tersebut melalui WA Video Call. Sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang kurang lebih seputaran tema: sejak kapan menulis, sejak kapan nonton drakor, apa efek drakor bagi seorang penulis, dan saran bagi para pemirsa. 

Ketika rehearsal, kami banyak mendapatkan kritik dan saran dari para penasihat (gomawo uri beloved classmates). Tadinya aku lebih fokus pada proses pembuatan antologi itu sendiri, namun setelah mendapatkan masukan, akhirnya proses itu tetap dibahas, namun porsinya diperkecil. Kita lebih banyak cerita tentang ide penulisan, tentang antologi yang sudah diterbitkan, dan proses penulisannya. Dan akhirnya latihan pun selesailah dengan bahagia dan kelelahan (buatku). Kaya’nya waktu itu aku belum makan, atau sarapannya telat sehingga tadinya belum lapar, namun seiring waktu jadinya kelaparan hihihi

Terus terang setelah rehearsal, aku agak galau membayangkan bagaimana nanti jalannya acara, karena kedua classmateku ini punya karakter yang berbeda. Rani lebih pendiam, sehingga aku harus lebih aktif bertanya dan mengarahkan pembicaraan. Litha lebih talkative, sehingga aku… harus mengerem diriku supaya tidak terjerumus lalu mengubah tema acara menjadi bucin united hahahaha

Namun ternyata, pada hari H, kegalauanku tak beralasan. Mungkin karena kami sudah rehearsal, ketika kami ON AIR, Rani menjadi lebih santai dan cair. Aku tidak repot-repot mengarahkan apapun, kami bisa mengobrol dengan enak seputaran penulisan antologi. Bahkan kalau kuingat-ingat, ada beberapa hal yang kami bahas ketika rehearsal, tapi tidak disinggung pada pelaksanaan; demikian pula sebaliknya, ada hal-hal baru yang baru disebutkan ketika acara berjalan. Dan thanks to teman-teman DC, mereka aktif sekali memberikan pertanyaan, sehingga host pelupa ini tidak kehabisan bahan hahaha Gomawo, gaeess…. #kecup_atu-atu

Ketika sesi ngobrol dengan Rani selesai, aku melirik waktu sudah pukul satu siang lewat beberapa menit. Hmm… kalau dengan Rani saja waktu setengah jam bisa berlalu begitu cepat, apa kabar nih dengan Litha? Padahal harus ada bagian penutup pula lagi, belum lagi kesan dan pesan. 

Ternyata semesta berbicara. Ketika baru terhubung beberapa menit dengan Rani… eh Litha (waktu latihan kebolak balik sejuta kali, untung waktu ON AIR cuman satu kali kejadian hihihi), tiba-tiba koneksi internetku “batuk”. Toeengg… offline! Aku buru-buru mengecek WiFi, dan syukurlah lampu indikatornya biru, bukan merah. Berarti tadi ada si komo lewat. Ternyata ‘sengsara’ membawa nikmat. Karena gangguan teknis beberapa menit itu, waktu ‘manggung’ jadi reset lagi menjadi maksimum 1 jam. YAY!

Tentu saja sesi kedua itu tidak sampai 1 jam. Namun, kami jadi lebih leluasa untuk mengobrol, dan menyampaikan pesan, tips dan saran, serta menyampaikan bagian penutup. Leluasa dalam arti aku terhindarkan dari ancaman berkeringat jagung sambil menatap nanar pada stopwatch dan hitungan mundur di layar IG Live hiahahahaa

Lagi-lagi aku merasa sangat beruntung dapat kesempatan menjadi host dalam acara ini. Banyak sekali hal yang kudapatkan, selain pengalaman menjadi host tentunya. Aku belajar banyak hal dari Rani dan Litha. Aku belajar dari bagaimana mereka sangat mencintai dunia menulis, dan ketika kita menyukai dan mencintai sesuatu, kita pasti akan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu itu. Bukan masalah berapa lama waktu yang kita habiskan untuk melakukannya, tetapi kualitas ketika kita melakukannya, yang akan menjadi sumber penyemangat, mood booster, yang luar biasa. 

Masih banyak hal lain yang aku pelajari dari kedua classmateku nan jagoan ini. Lengkapnya akan aku tuliskan di blog Drakor Class ya. Namun hal yang terpenting yang kupelajari adalah “lakukan saja”. Tidak perlu terlalu jauh berpikir; apakah orang suka membacanya, apakah nanti begini atau begitu. Tetap saja konsisten menulis, dan yang terpenting harus diniatkan. Karena menulis sesungguh-sungguhnya adalah apresiasi bagi diri sendiri.

Update: Tulisan tentang acara "Annyeonghaseyo Chingudeul" episode "Drakor dan Penulis Buku Antologi" ini bisa dibaca blog Drakor Class: IG Live Drakor Class Eps. 2


Read more…

November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Read more…

November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me

Read more…

October 27, 2020

Tantangan yang Menyenangkan

sumber: drakorclass.com


Tadinya...

Aku tidak pernah merasa bisa menulis. 

Ketika SMP, Guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis cerpen. Tugasnya per kelompok. Jadi cerpen-cerpen tadi dibundel menjadi satu buku. Tentu saja aku mengumpulkan tugas itu pada waktunya. Apakah aku berhasil menulis cerpen? Hmm... aku berhasil mengetiknya... mengetik ketika Papiku membacakan cerpen karangannya hihi

Ketika SMA, sebagaimana kebanyakan abege seusiaku, aku menulis buku harian atau diary. Cukup sering juga aku menulisnya. Hampir setiap hari. Isinya tentang kejadian sehari-hari, dan, tentu saja, tentang anak lelaki. Aku tidak gampang menceritakan apapun kepada siapapun, sehingga buku harian adalah jalan paling aman. Aman?? Ternyata tidak juga! Teman sebangkuku pernah mencuri buku harianku karena dia penasaran dengan isi hati dan kepalaku. Dia mengaku sebulan kemudian. Sambil minta maaf dia bilang, "Habis kau tidak pernah mau cerita siiihhh...." Hahahaha... Oh masa muda... betapa lucunya. 

Ketika kuliah, aku masih rajin menulis buku harian. Dan anak lelaki itu, yang namanya tidak perlu disebut, menjadi topik tetap di buku harianku bahkan sampai kuliah tahun pertama... atau kedua... ya sekitar itu lah. Aku masih simpan semua buku harian itu, sampai akhirnya pulang kembali ke Medan. Kalau ditanya sekarang, entah dimana lah sekarang rimbanya buku-buku harianku itu.

Akhir tahun 90an, tahun kedua perkuliahan, aku mengenal dunia internet, khususnya mIRC. Aku mengenal banyak sekali teman-teman baru, dengan berbagai tingkah polah, pendidikan, dan profesinya. Sungguh aku melihat 'keajaiban' dunia dalam bentuk lain hahaha

Awal tahun 2000, sekitar 2001 2002 mungkin, muncul tren yang namanya blog. Berhubung komunitasku adalah manusia-manusia dunia maya, tentu saja aku pun terkena dampak tren ini. Dua orang sahabat mIRCku, bluem00n dan grenluv (tentu saja itu nickname mereka), sudah punya blog, dibuatkan oleh gebetan masing-masing (haduu haduuu.... berasa masuk pusaran waktu gak sih....) Secara aku tak punya gebetan ketika itu, aku pun membujuk salah satu teman untuk membuatkanku blog. Maka resmilah pada bulan Juli 2002, blog pertamaku mengudara. Sejak itu aku rutin menulis di blog, dan tidak lagi menulis buku harian. 

Aku menulis di blog hampir setiap hari, paling tidak sekali seminggu. Blogku berisi kejadian sehari-hari. Kejadian apa, di mana, dan dengan siapa. Sesekali isinya adalah umpatan atau luapan kekesalan. Bagian yang ini, selalu anonim. Baik detail kejadian apa, di mana, dan dengan siapa. Saking anonimnya, ketika membaca beberapa postinganku di masa itu, aku sama sekali tidak punya clue apa yang membuat aku misuh-misuh sampai segitunya. 

Lewat dunia blog ini aku mengenal teman-teman baru lagi. Di masa itu, banyak yang mencantumkan link 'teman-teman' blognya di bagian side bar. Gini-gini, link blogku pernah tercantum di blog nya Raditya Dika lho... Bukan karena dia suka baca tulisanku, tetapi emang kebiasaan aja dia menambahkan link setiap orang yang meninggalkan komentar di blognya :p

Ketika itu aku menulis untuk diri sendiri. Aku tidak pernah menulis supaya dibaca orang lain. Sehingga ketika ada seorang temanku mengaku membaca satu postinganku lalu membaca seluruh postinganku sebelumnya, aku jadi malu hahaha Malu karena menurutku isinya ntahapa! Ya namanya pun menulis buat diri sendiri... Tapi terselip rasa senang dan bangga juga. Wah... tulisan aing ada yang baca euy... hihihi... Kemudian menulis pun terasa lebih seru dan menyenangkan.

Setelah lulus dan pindah ke Medan, aku mulai jarang menulis di blog. Selama tahun 2005, aku hanya menulis 5 kali. Selama tahun 2006, hanya 2 kali. Setelah itu, blogku pun mati suri. Sempat mencoba memulai menulis lagi dengan membuat akun blog baru tahun 2008. Dalam hitungan bulan, mati suri tanpa meninggalkan kesan, karena semua tulisan hanya nangkring di draft. 


Kemudian...

Beberapa kali aku mencoba menulis lagi di blog. Saking seringnya, bahkan aku sempat menamai blog ku "50 First Posts". Gagal maning gagal maning. 
Dan ketika menuliskan ini, aku baru menyadari bahwa, selain untuk keperluan pekerjaan, aku tidak pernah menggunakan media menulis lain, selain buku harian dan blog.  

Tidak tahu kenapa, tahun 2019, aku membaca postingan seorang teman kostku ketika di Bandung tentang 30 Hari Bercerita (30HBC)  di Instagram. Aku tertarik untuk ikut. Setelah bertanya kepadanya, aku pun memutuskan untuk ikut. Padahal kan merasa gak bisa nulis ya... udah gitu gak rajin nulis ya... Trus? Ntahlah... pengen ikut aja gitu. Saya mah gitu anaknya... impulsif.

Sekali ini, aku menulis dengan sadar bahwa tulisanku bisa diakses oleh lebih banyak orang, paling tidak oleh teman-temanku yang terhubung di Instagram. Bukan hanya teman, tapi juga sanak saudara. Menulis pun jadi lebih berhati-hati. Tidak hanya untuk event 30HBC saja sih, tetapi secara umum aku memang tidak suka menulis hal-hal yang terlalu pribadi di ruang publik. 

Ketika itu aku kembali menemukan keseruan dan kebahagiaan menulis. Tidak ada syarat atau bentuk tulisan tertentu yang harus diikuti dalam 30HBC. Sesekali admin akan memberikan tema, atau template yang harus kita ikuti. Itu juga kalau mau. Intinya mah, mari menulis bersama-sama selama 30 hari pertama di awal tahun. 

Setelah event 30HBC selesai, aku kembali berhenti menulis. Benar-benar berhenti. Tidak ada blog, tidak ada buku harian, tidak ada apapun. Postingan medsos pun hampir tidak ada. Kenapa? Just because. Hashtag impulsif.

Sekarang...

Tahun 2020 ini adalah tahun paling produktif buatku dalam hal menulis. Sungguh suatu pencapaian yang tak pernah terbayangkan. 

Di awal tahun ini, aku kembali ikut event 30 HBC. Kemudian seorang teman kost yang lain, Kak Risna, mengajakku untuk bergabung di Komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Kata kk Risna, dia melihat potensiku dalam menulis. 

Awalnya aku ragu, takutnya tidak terikuti lalu mandeg di tengah jalan. Malu-maluin aja. Tetapi tahun 2020 ini adalah tahun dimana aku memulai banyak sekali hal baru. Merantau, hidup di kota yang baru, pekerjaan baru. Jadi kenapa tidak? Maka aku pun bergabung dengan KLIP.

Tidak seperti sebelumnya, bergabung di KLIP membuat aku harus mengikuti beberapa aturan main, karena dalam komunitas ini berlaku sistem "award and punishment". "Award"nya adalah badge Good - Excellent - Outstanding, "punishment"nya adalah sistem gugur. 

Ternyata sistem "award and punishment" ini cukup ampuh buatku. Beberapa kali aku berhasil memperoleh badge Outstanding, walaupun seringnya badge Good atau Excellent. Bahkan pernah satu kali tidak memperoleh badge apapun, karena tidak mencukupi jumlah minimal postingan. Rasanya malu-maluin aja. Kalimat saktinya adalah: "Masa' menulis 10 kali dalam sebulan aja 'gak bisa sih?" Kalau yang sekarang, kalimat saktinya adalah: "Masa' menulis 10 artikel dalam sebulan, yang masing-masing minimal 300 kata, 'gak bisa sih?" 

Dari komunitas KLIP, aku bertemu dengan teman-teman, para wanita hebat, yang memiliki hobi yang sama, yaitu menonton drama Korea. Ketika banyak sentimen negatif tentang hobi yang satu ini, kami justru menemukan banyak inspirasi dan ilmu yang bisa didapat dari drama Korea, yang kami salurkan dalam bentuk tulisan. Dari ide dan wacana iseng-iseng, kami pun akhirnya membuat blog bersama, yang diberi nama Drakor Class, yang resmi mengudara pada tanggal 10 Oktober 2020. Cerita selengkapnya boleh dibaca di sini.

Semenjak adanya Drakor Class, aku berusaha menulis dengan lebih teratur dan terstruktur. Isinya juga tidak boleh sembarangan, karena ada nama bersama yang disandang. Aku juga (masih harus) belajar banyak soal pengaturan tampilan suatu tulisan, mulai dari penempatan gambar, caption, dan lain-lain. Pengetahuanku masih jauh sekali dari teman-teman di Drakor Class, yang sudah punya jam terbang tinggi di dunia tulis-menulis dan blog. Aku seperti ikan kecil di kolam yang besar, yang dipenuhi ikan besar, yang siap membantu dan menyemangati si ikan kecil yang malas berenang ini :p

Sekarang aku menulis bukan lagi hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Tulisan menjadi salah satu cara berbagi berkat, berbagi manfaat, berbagi informasi, kepada orang lain yang membacanya. 

Sekarang menulis menjadi suatu tantangan. Tantangan yang menyenangkan.

Selamat Hari Blogger Nasional! 

Read more…

October 26, 2020

Dear Dwi...

sumber: Toppr



Jakarta, 26 Oktober 2020


Dear Dwi, 


Selamat ulang tahun yang ke-14, sayangku.

Dan selamat atas kelulusanmu dari SMP St. Thomas. 

Mari ucapkan selamat tinggal pada rok biru, dan selamat datang pada rok abu-abu!


Aku rasa kamu sudah tahu mau melanjutkan ke SMA mana kan ya? Tidak perlu bingung atau ragu, kamu sudah mengambil pilihan yang tepat kok. Jadi, lulusan tahun 1994 itu adalah angkatan percobaan. Tidak lagi dengan sistem semester, melainkan caturwulan. Nantinya akan ada percobaan untuk sekolah hanya lima hari. Bocoran nih, sekolah pilihan kita tidak akan menjalankan program ini lho… hihi 


Gak usah kecewa dulu. Aku bilangin ya, sekolah lima hari itu berarti jam sekolah yang lebih panjang, karena jam pelajaran Sabtu dipindahkan ke lima hari yang lain. Maka sampai sore lah di sekolah, dan bukan buat ikutan kegiatan ekskul atau menunggu jadwal praktikum. Tapi belajar. Iya… duduk, mendengar, dan mencatat. Sampai menjelang sore. Mateng gak tuh?


Kalau gurunya santuy sih gak apa-apa. Tapi kalau gurunya semacam guru kita, siapa yang tahan cuy belajar siang-siang bolong sama mereka? 


Lebih anehnya lagi, program itu hanya berjalan sebentar. Namanya juga uji coba. Coba-coba kok sama anak, ya gak?


Sejak sekarang aku yakin kamu sudah membayangkan akan memilih jurusan apa ketika kuliah nanti. Masih tetap ingin jadi arsitek kan? Pilihan yang baik. Kamu memang punya kelebihan di bidang eksakta. Aku juga tahu, kalau ujian Sejarah, PPKN, atau IPS, kamu rasanya pengen garuk aspal saja kalau sudah harus menjawab soal essay. 


Nah, aku mau kasih tahu sama kamu. Kamu itu punya banyak sekali potensi. Beneran gak bohong! Dan di dunia ini, orang hidup butuh banyak kemampuan lain, tidak cuma berhitung. Karena itu, dari sekarang, jangan membatasi dirimu dan kemampuanmu, dan kamu harus berlatih menggali potensimu.


Pertama, coba tanya sama Mami dan Papi, kalau boleh kamu ikut tes kemampuan dan bakat di Biro Psikologi. Pilih yang sudah berpengalaman untuk melakukan tes serupa untuk remaja seusiamu. Mungkin kamu rasa itu tidak perlu dan mubazir ya, secara kamu sudah tahu kamu sukanya apa dan bakatnya apa. Percayalah, setelah bertahun-tahun tersesat di dunia kerja, let me tell you this, tes seperti itu bisa menjadi investasi. Tentu kamu tidak perlu menelan bulat-bulat hasil tes tersebut. Tapi aku yakin, test itu bisa memberikan pengalaman baru buatmu, dan membuka pengertian baru. Bisa jadi mereka mendeteksi suatu potensi yang tidak kamu sadari ada di dalam dirimu. Seru kan?


Kedua, jangan takut mencoba hal baru. Kamu itu bukan gak bisa, kamu cuman malas aja mencoba. Dan aku tahu, ini karena kamu takut gagal, ya kan?? Iya aku tahu, kamu malas mencoba karena takut gagal, takut diketawain, takut gak bisa menyelesaikan, takut apalah apalah. Kamu bisa kok. Di masa depan, kamu akhirnya memberanikan diri mencoba beberapa hal. Jadi aku pikir, sebaiknya kamu sudah berani mencoba sejak remaja. Jadi ketika dewasa, kamu sudah terbiasa melakukannya. 


Ketiga, segerakan belajar berenang, dan harus sampai bisa! Yes, you read it right. HARUS! Percayalah, berenang adalah salah satu olahraga yang akan sangat kamu nikmati. Tetapi kamu harus mengalahkan ketakutanmu akan air. Dan kita kembali lagi ke poin ketiga di atas. 


Keempat, rajinlah berolahraga. Ini pun salah satu bentuk investasi. Dan olahraga yang paling aman buat kita, sekaligus menyenangkan, adalah berenang. Jadi, sekali lagi ya… HARUS BISA!


Kelima, rajinlah menabung. Ingat gak dulu ketika SD setiap minggu kamu menabung lewat TABANAS di sekolah? Nah, lakukanlah itu lagi. Percayalah, setiap kebiasaan baik adalah sebuah investasi. Dan harus dimulai sejak masih muda. Semuda mungkin. 


Keenam, tidak usah cemas dengan rambutmu. Sekarang bentuknya memang menyemak merimba bagaikan logo versace. Suatu saat dia akan melurus. Percayalah. Kan aku sudah mengalaminya hehehe. Jadi hingga waktu itu tiba, rawat saja rambutmu sebaik-baiknya, ya.


Ketujuh, ikutilah satu atau dua kegiatan berorganisasi. Bukan sekadar jadi anggota, tapi usahakan lah terlibat lebih banyak dalam kepengurusan. Banyak keuntungan yang akan kamu dapatkan. Memang rasanya seperti menghabiskan waktu yang seharusnya untuk belajar. Supaya tidak sia-sia, maka kamu pun harus memanfaatkannya untuk belajar. Belajar mengenal jalannya sebuah organisasi, mengenal birokrasi, belajar negosiasi, mengenal sifat dan watak manusia. Dan yang terpenting, kamu bisa belajar membagi waktu dan belajar menempatkan prioritas. 


Kedelapan, berlatihlah untuk menampilkan diri. Teman-teman yang kamu lihat sangat pede itu, sebenarnya gak jago-jago amat. Sama-sama punya kekurangan dan kelebihan. Sama-sama suka merasa gak pede. Namun, mereka memilih untuk menampilkan diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Kembali lagi seperti yang aku bilang, kamu punya banyak potensi. Dengan berlatih untuk tampil, kamu bisa menemukan potensi kamu itu.


Kesembilan, dan ini yang terakhir, biasakanlah membaca dan menulis. Membaca buku apa saja, dan menulis tentang apa saja. Dengan membaca, kamu memperluas wawasanmu, membanyak kosakatamu dan pengetahuanmu tentang cara orang lain bercerita. Dengan menulis, kamu belajar mengungkapkan apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan, dalam bahasa dan cara yang bisa dimengerti oleh orang lain. 


Jalan kamu masih sangat panjang. Tidak usah panik, tidak usah khawatir. Karena aku tahu, biasanya kalau kamu panik, maka kamu akan semakin santai dan ujung-ujungnya tidak melakukan apa-apa. 


Kamu harus tahu, kamu termasuk orang yang diberkati dengan banyak sekali kebahagiaan. Karena itu, pakailah hidupmu untuk memaksimalkan talenta yang Tuhan beri. 


Baiklah… segitu dulu ya, semoga tidak kepanjangan dan membuat kamu bosan.

Kapan-kapan aku menulis lagi untukmu ya...

Sehat-sehat ya, sayangku. 

Ingat selalu, apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja. 


Peluk erat.


Dwi 

Read more…

October 11, 2020

Drakor Class

Berawal dari ajakan dan ‘seretan’ dua orang teman, yang dulu sempat menjadi teman seatap ketika di Bandung, aku pun kembali melakukan kesukaan tulis-menulis. Suatu sejarah yang panjang sebetulnya, karena sempat terhenti di tengah jalan cukup lama. Blog yang dulu sering diisi dengan berbagai tulisan, mulai yang retjeh sampai yang curhat anonim --saking anonimnya, yang menulis pun lupa itu lagi bahas apa siapa dan kenapa-- sempat mati suri selama bertahun-tahun.

Beberapa kali aku pernah mencoba aktif lagi menulis. Saking seringnya mencoba, sampai-sampai aku sempat menamai blog ku “50 First Posts”. Tapi selalu saja ada halangannya. Intinya mah lupa aja kalau ada blog yang menanti untuk disambangi. 

Pertama kali menulis lagi ketika mengikuti tantangan menulis di akun IG 30HariBercerita tahun 2019. Ketika itu tidak penuh menulis selama 30 hari, namun salah satu postinganku di-repost oleh admin. Hoho… rasanya kaya’ jadi juara kelas! Bangga pisan euy! 


Sayangnya setelah 30HariBercerita usai, kegiatan menulis tadi tidak kulanjutkan, sampai kemudian ketemu lagi dengan tantangan 30HariBercerita di tahun 2020. Tantangan ini memang diadakan setiap awal tahun saja. Di sini malah terjadi penurunan prestasi. Semakin banyak hari bolong menulisnya, dan tidak ada satupun tulisan yang direpost.


Ketika itu aku di’seret’ oleh kak Risna untuk ikutan gabung di komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional. Komunitas ini adalah bagian dari komunitas yang lebih besar lagi, yaitu Institut Ibu Profesional. Aku pun memutuskan untuk menuruti ajakan bergabung. Sadar diri, aku selalu butuh komunitas atau lingkungan yang membuat aku semangat buat menulis lagi. Kalau ada teman kan rasanya lebih seru gitu. 


Di KLIP ini berlaku sistem gugur. Apabila kita tidak memenuhi syarat yang sudah ditentukan, dengan jumlah postingan minimal, kemudian jumlah kata minimal, sebagai indikatornya, maka kita akan gugur sebagai peserta dan tidak bisa melanjut. Berbekal keengganan didera rasa tengsin kalau gugur, maka aku pun berusaha memenuhi syarat-syarat tersebut. Pestasi sekali rasanya, sejak Januari sama sekarang, hanya di bulan Februari aku tidak mencapai target minimal, sehingga sampai sekarang masih terdaftar sebagai peserta aktif di KLIP 2020.


Melalui komunitas KLIP aku berkenalan dengan teman-teman baru. Selain sama-sama suka menulis, kami memiliki kesamaan lain yaitu hobi menonton drama Korea. Korea Selatan pastinya, bukan Korea Utara. Kami tergabung dalam suatu grup WA bertajuk “Drakor dan Literasi”. 


Banyak pandangan miring tentang hobi menonton drakor ini. Dianggap sumber dosa lah, tidak berfaedah dan buang waktu lah, bikin kecanduan lah, dan lain sejenisnya. Sebenarnya ini masalah pilihan, dan masalah selera, jadi tidak perlu dibahas juga. Tidak akan ada titik temunya. Sama seperti membandingkan mana yang lebih enak, es cendol atau ketoprak. 


Dalam grup “Drakor dan Literasi” ini, kami tidak sekadar membicarakan kisah-kisah dalam drama dan para oppa tampan lalu menghalu bersama. Tentu saja kami pun melakukannya. Tapi yang benar saja, wanita cerdas mana yang tahan ngomongin tampang lelaki 24 jam sehari? Mungkin ada, tapi sudah jelas, itu bukan kami.


Dari grup “Drakor dan Literasi” ini aku mengenal dan banyak belajar dari wanita-wanita hebat. Wanita super yang jagoan multi tasking. Dalam kesibukan mereka bekerja, mengurus rumah tangga dan keluarga, apalagi di masa pandemi ini ketika anak-anak sekolah dari rumah dan orang tua juga bertugas sebagai guru, mereka masih punya waktu untuk menulis. Beberapa dari mereka malah sudah, baru saja, dan akan segera menerbitkan buku ataupun antologi. 


Entah dari mana para emak ini memperoleh energi ekstra. Mengurus pekerjaan dan keluarga, beberapa punya tugas menjadi admin di komunitas KLIP, tetap bisa menulis secara rutin setiap hari, bahkan bisa menghasilkan dua atau tiga tulisan dalam satu hari, plus masih menyempatkan diri menikmati drakor, yang sering kali dilakukan sambil mengerjakan tugas rumah tangga. Satu hal yang aku yakin, mereka digerakkan oleh rasa cinta. Cinta pada keluarga, suami dan anak-anak, cinta pada dunia menulis, dan cinta pada dunia drama Korea yang penuh warna.


Menjadi bagian dari komunitas KLIP, khususnya Drakor dan Literasi, aku sering kali merasa terintimidasi sekaligus terinspirasi. Aku, yang menulis masih sambil lalu dan pengabdi badge KLIP ini, merasa seperti ikan kecil di kolam besar, yang isinya banyak sekali ikan-ikan besar. Kalau biasanya ikan kecil jadi mangsa ikan besar, tapi di kolam yang ini, ikan kecil justru ‘diberi makan’ dan disemangati oleh para ikan besar. Dan sampai sekarang pun si ikan kecil ini tetap masih suka ngaso dan belum kencang berenangnya hahahaha


Aku senang sekali dan sungguh merasa terberkati bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-teman grup Drakor dan Literasi ini. Kami berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, agama, dan profesi. Namun, dalam drakor, kami bersaudara #bucin_united

Dari teman komunitas, menjadi teman berbagi yang saling mendukung dalam menghadapi berbagai badai kehidupan #tssaahh


Bulan Juni yang lalu, kami membuat Tantangan Menulis 30 Topik Kokoriyaan. Topiknya macam-macam, mulai dari review film atau drama Korea, kuliner Korea, aktor/aktris dan KPop idol favorit, sampai tempat-tempat yang ingin dikunjungi apabila suatu saat berkesempatan mengunjungi negara gingseng itu. Ternyata menjadi sangat menarik, ketika satu topik bisa dibahas dari berbelas sudut pandang cerita. Topik yang sulit buat yang satu, bisa jadi diselesaikan oleh yang lain "sambil merem" hahaha


Meneruskan hobi menulis seputar kokoriyaan ini, kami pun membuat blog bersama, yang diberi nama "www.drakorclass.com". Suatu proyek bersama, dari sebuah wacana dan pembahasan melalui chatting dan sesi zooming, lalu “diseriusin” dan kemudian diwujudkan dengan kolaborasi yang luar biasa. Berbagi tugas, dan setiap orang mengambil bagian sesuai bidang keahlian masing-masing. 


Mulai dari persiapan memilih nama, menyiapkan website dan hostingnya, membuat akses bagi setiap kontributor, menyiapkan fitur, membuat logo dan desain grafis lainnya, mengumpulkan foto dan profil, menyiapkan akun email dan medsos, dan tentu saja, menulis artikel untuk postingan perdana, Tidak ada yang sungkan bertanya, dan tidak ada yang enggan membagi ilmu. Tidak ada rebutan lapak; dimana ada yang lowong, sedapat mungkin yang mampu akan membantu. Sama-sama ingin maju, dan ingin maju bersama-sama. 


Tampilan Website www.drakorclass.com



Puncaknya, pada tanggal 10 Oktober 2020, resmilah www.drakorclass.com mengudara. Situs ini adalah ‘anak’ kami bersama. Seperti orang tua pada anaknya, kami pun punya harapan besar terhadap situs ini. Tentu saja harapan harus dibarengi dengan “asupan gizi”, supaya si anak tumbuh besar, kuat dan sehat. Mudah-mudahan kami tetap bisa sehati dalam membesarkan ‘anak’ kami ini.



Para Kontributor DrakorClass.com (sumber: www.drakorclass.com)


Kata siapa nonton drakor cuman bikin halu? Buat kami, drakor adalah sarana menambah ilmu. Melalui www.drakorclass.com, kami berbagi tulisan-tulisan yang terinspirasi dari drama Korea.

Jadi, buat yang masih berpikir bahwa menonton drakor hanyalah tindakan sia-sia, tidak produktif, dan hanyalah menjadi sumber dosa, kaya’nya kamu mainnya kurang jauh. Karena kami “bucin” penuh totalitas, tanpa melupakan prioritas.

Read more…