Showing posts with label Tentang Memasak. Show all posts
Showing posts with label Tentang Memasak. Show all posts

October 29, 2020

Walau Sempat Galao, Tetap Jadi Bakpao

Hari ini adalah hari libur. Aku tidak memiliki rencana khusus untuk hari ini. Tadinya mau menyapu kamar tengah rumah kost, kalau mb Yenni, yang biasa bersih-bersih tidak datang lagi hari ini. Ternyata sebelum niat suci luhurku terwujud, tiba-tiba mbak Yenni muncul. YAY! 

Sambil menikmati sarapan, atau lebih tepatnya brunch karena sudah menjelang siang, aku menonton drama “Start-Up”. Weekend yang lalu episode 3 dan 4 sudah tayang, dan aku belum sempat menontonnya. Aku menonton episode 3, dan sukaaaaa! Untung penghuni kost yang lain lagi pada beredar, kalo tidak, mungkin pintuku sudah digedor atau dilempar bakiak karena terganggu suaraku yang ngakak kencang. 


Selesai episode 3, kantuk pun menyerang. Tidak melanjutkan episode 4, aku pun memilih leyeh-leyeh mengukur kasur. Siang tadi matahari bersinar terik. Dalam cuaca yang panas itu, aku tertidur dengan membiarkan jendela terbuka. Di masa pandemi ini aku memang mengurangi pemakaian AC dan lebih banyak membiarkan jendela terbuka, supaya udara tetap bersirkulasi dengan baik.


Aku terbangun oleh dering handphoneku yang ada di atas meja. Rupanya Mami menelpon. Biasa... wajib lapor. Sambil ngobrol dengan Mami, aku menyalakan laptop. Seperti biasa, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Dari A ke Z ke A lagi. 


“Papi mana? Lagi ngapain?”


“Sibuk di dapur, kaya’nya bikin pansit buat nanti malam”.


Mendengar Papi yang lagi sibuk menyiapkan pansit, aku jadi teringat dengan niatku untuk membuat bakpao. Apa hubungannya? Sama-sama “prakarya anak bangsa” hahaha


Sebenarnya sudah lama aku ingin mencoba membuat bakpao. Sudah tertunda dua bulan, tepung terigu pun sudah menganggur lama di lemari. Alasan cliche; gak mood. Ketika beberapa hari lalu berbelanja ke pasar, aku sudah membeli kertas roti sebagai alas bakpao. Jadi sudah siap-siap, apabila moodnya datang, bahan-bahannya sudah siap semua. Ternyata, si mood datangnya siang ini. Impulsif, as always.


Resep Bakpao


Selesai ngobrol via telepon dengan Papi Mami, hal pertama yang aku lakukan adalah menggoogle resep bakpao. Setelah memilih-milih, aku memutuskan memakai resep dan cara pembuatan bakpao sebagai berikut: 


Bahan-bahan: 

250 gram tepung terigu protein rendah (Cap Kunci Biru)

1 sdm gula pasir

150 mL air (suhu ruang)

1 sdm mentega putih (aku pakai margarine biasa)

1 sdt ragi (aku pakai Fermipan)

½ sdt garam 

Bahan isian (mesis, selai, keju, atau tumisan daging)


Alat-alat: 

Spatula

Wadah tempat mencampur adonan

Alas silikon (opsional)

Penggiling adonan (opsional)

Kukusan

Kain bersih


Cara Membuat:

  1. Campurkan tepung terigu (diayak) dan ragi. 

  2. Campurkan air dan gula pasir, aduk sampai gula larut.

  3. Masukkan larutan air gula ke dalam campuran tepung dan ragi sedikit-sedikit, sambil diaduk dengan spatula sampai merata.

  4. Setelah tercampur rata, uleni adonan sampai kalis. Bisa dilakukan di wadah tadi, atau dengan alasan silikon (silicon mat). Sebenarnya bisa menggunakan media apa saja, selama permukaannya cukup licin dan bersih. Menguleni adonan dilakukan dengan gerakan seperti mencuci pakaian. Lakukan kurang lebih selama 15 menit, atau sampai adonan kalis. Adonan telah kalis apabila adonan tidak lagi menempel pada wadah, terlihat padu, terasa mantap, kenyal, dan gampang dibentuk.

  5. Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi delapan atau sepuluh bagian, sesuai selera. Bulat-bulatkan, tutup dengan kain bersih supaya tidak mengering.

  6. Ambil satu bulatan, pipihkan dengan penggiling adonan (rolling pin). Karena tidak punya, aku menggunakan botol kaca yang sudah dicuci bersih permukaannya. Lalu, dengan tangan, pipihkan bagian tepi adonan, dan bagian tengah dibiarkan tetap tebal. 

  7. Isi bagian tengah adonan dengan bahan yang disukai. Aku menggunakan mesis Ceres, keju, dan selai mixed berry sebagai isian. Disesuaikan dengan isi kulkas atau bahan yang tersedia saja.

  8. Tutup adonan, bulatkan dengan hati-hati. Beri alas kertas roti. Kalau tidak ada kertas roti, kertas cupcake juga bisa.

  9. Susun adonan bakpao di wadah kukusan. 

  10. Lakukan langkah tersebut untuk seluruh bulatan. 

  11. Setelah selesai, tutup wadah kukusan dengan kain bersih, biarkan selama 15 - 20 menit, tergantung cuaca ketika membuat. Apabila cuaca panas atau hangat, 15 menit sudah cukup. 

  12. Siapkan kukusan, beri air kurang lebih 1L. Tidak perlu banyak, pastikan saja jumlah cukup untuk mengukus selama 10 menit. Panaskan kukusan sampai air mendidih sempurna.

  13. Letakkan wadah di atas kukusan, lapisi tutup kukusan dengan kain bersih supaya uap air tidak menetes ke atas adonan.

  14. Kukus dengan api sedang selama 10 menit. 

  15. Setelah 10 menit, matikan api kompor. Biarkan kukusan tetap tertutup selama lima menit. 

  16. Bakpao siap disantap.


Resep dan cara pembuatannya bisa dilihat di video ini (sumber: YouTube).





Pengalaman Pertama Membuat Bakpao


Pada dasarnya aku memang senang memasak (tapi tidak senang mencuci piring wajan dan teman-temannya). Aku bahkan sempat berjualan brownies selama beberapa bulan setelah lulus kuliah. Selama hidup merantau, aku juga sering memasak sendiri. Pernah mencoba memasak tongseng, namun menu andalan adalah ikan kukus, gampil surampil! Sekali pernah juga mencoba memasak kue choco lava. Tetapi seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamaku membuat bakpao sendiri.


Kalau biasanya aku menggunakan mixer, maka sekali ini, adonan harus diuleni secara manual. Seperti banyak hal lain di atas bumi ini, ternyata menguleni adonan pun memang membutuhkan keahlian yang datang dari pengalaman. 


Aku sempat merasa panik ketika setelah mengulen 15 menit, adonanku tidak menunjukkan tanda-tanda kekalisan sama sekali. Masih menempel di wadah dan tanganku. Sempat galau juga, sedih. Masa’ harus dibuang sih adonannya. Karena adonan yang ‘cair’, tidak akan menghasilkan bakpao yang utuh. Lalu aku menggoogle lagi, bagaimana cara mengatasi adonan yang tidak kalis. 


Caranya ada dua. Pertama, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil terus diuleni, sampai adonan kalis. Kedua, olesi tangan dengan margarin, supaya adonan tidak menempel di tangan. Puji Tuhan, setelah empat kali menambahkan kurang lebih 1 sdm tepung, akhirnya adonanku kalis juga dan siap untuk dibagi lalu diisi. YAY!


Pelajaran Hari Ini


Ada beberapa tips yang aku dapatkan dan pelajari selama membuat bakpao:


  1. Pastikan ragi yang digunakan aktif. Apabila ragi masih baru dibuka, biasanya ragi masih aktif. Tetapi apabila kita sudah memakai sebagian ragi sebelumnya, perlu dipastikan dulu apakah ragi yang tersisa masih aktif. 

Caranya adalah dengan mencampurkan ragi (banyaknya sesuai resep) dengan 50 mL air hangat dan 1 sdt gula (disebut campuran biang). Setelah dicampur, tutup wadah lalu biarkan selama 15 menit. Apabila campuran biang kemudian berbusa naik, berarti ragi masih aktif, dan campuran biang dapat langsung digunakan pada adonan. Apabila tidak, maka ragi sudah tidak aktif dan tidak dapat digunakan lagi. Lengkapnya bisa dilihat di video ini.


  1. Aku mencari tahu kenapa adonanku lama sekali kalisnya. Disinyalir, air yang kugunakan terlalu banyak. Kembali lagi, ini tergantung pengalaman. Tipsnya, air dimasukkan sedikit-sedikit sambil mencampur adonan. Jadi banyaknya air yang dibutuhkan tidak selalu persis dengan resep, karena hal ini juga tergantung dari jenis dan kualitas tepung.
    Cara menyiasatinya adalah dengan menambahkan terlebih dulu 70% air dari resep yang ditentukan ke dalam adonan (tetap dimasukkan sedikit demi sedikit). Lalu amati selama proses mengulen.  Apabila adonan sudah tercampur dengan baik, berarti air tidak perlu ditambahkan lagi, walaupun belum habis sesuai resep. Apabila air sudah terlanjur dimasukkan semua, maka bisa menggunakan cara seperti kusebutkan di atas, yaitu menambahkan tepung, sampai adonan kalis.

  2. Ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya adonan bakpao mulus. Pertama, gula dilarutkan dengan air sebelum dicampur ke adonan. Kedua, ayak tepung terigu sebelum digunakan supaya tidak ada bagian yang bergerindil. Ketiga, teknik mengulen juga menentukan mulus tidaknya adonan. Ini membutuhkan pengalaman tentunya. Istilahnya mah, tergantung tangan.


  1. Mentega putih digunakan untuk mendapatkan warna bakpao yang putih bersih dan cantik. Berhubung tidak punya mentega putih, aku menggunakan margarine biasa. Secara rasa tetap enak dan warnanya juga tetap bagus; tidak putih bersih tetapi broken white. 


  1. Karena iklim di negara +62 cenderung panas atau hangat, maka sebaiknya menggunakan air dingin. Supaya gula larut, gunakan sedikit air panas atau hangat, sampai larut, lalu tambahkan air dingin. Apabila air terlalu hangat, maka ragi akan terlalu cepat mengembang. 

  2. Jangan terlalu lama mendiamkan adonan (overproofing), kalau terlalu lama, bakpao akan mengkerut ketika dikukus. Semakin hangat/panas cuaca, semakin singkat waktu untuk proofing. 

  3. Ketika bakpao sudah masak, jangan langsung membuka tutup kukusan. Nanti bakpaonya ‘kaget’ lalu mengkerut. Buka sedikit penutup, biarkan uap keluar melalui celah. Kalau aku, karena kain tidak menyatu dengan tutup kukusan, dan bahannya cukup tebal , maka setelah matang, tutup kukusan dibuka, tetapi kain dibiarkan tetap menutup bakpao selama lima menit. 



Adonan Siap Untuk Dikukus (dok.pribadi)


Bakpao Baru Matang (dok. pribadi)


Alas yang bisa dikupas dengan gampang sebagai indikasi adonan bakpao berhasil. YAY!
(dok. pribadi)

Bakpao Isi Coklat. Yummy... (dok.pribadi)

Menyenangkan rasanya menikmati bakpao buatan sendiri. Bentuknya sih belum layak pamer, tetapi not bad lah untuk percobaan perdana. 


Memasak itu lagi-lagi soal perasaan; membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan semakin banyak latihan, niscaya hasilnya akan semakin memuaskan. 




Read more…

September 12, 2020

Beda Tangan Beda Rasa

Dalam keluarga intiku, yaitu Papi Mami Abang Kakak Ipar dan Ponakan, hampir semua bisa masak, kecuali ponakanku. Dan di antara kami berlima, aku lah yang paling jarang memasak. Jatahku adalah mencuci piring dan wajan. Yaa, sesekali kalau para chef lagi malas masuk dapur, maka tibalah giliranku untuk memasak mie instan buat kami serumah. 

Sebagaimana keterampilan lain, memasak pun ala bisa karena biasa. Memasak merupakan olah rasa. Semakin sering kita  mempraktekkannya, semakin peka lah perasaan kita terhadap masakan tersebut. Oleh sebab itu, sering sekali resep-resep masakan, yang mana biasanya ditulis oleh orang-orang yang sering dan jago masak, takaran bahan bumbu sering memakai satuan “secukupnya” atau “sesuai selera”. 

Selama merantau ke ibukota, masakan rumah adalah satu hal yang aku paling rindukan. Ada banyak menu favoritku. Semur ayam, ikan mas arsik, daging kecap, sambel goreng ati, nasi goreng, bahkan ayam goreng masakan Mami. Ayam goreng masakan mami itu cuman dimarinasi asam dan garam, lalu digoreng. Disantap panas-panas bersama nasi putih, sambal kecap, dan telur dadar. Ohmagaaa…


Sabtu yang lalu, aku sudah belanja di tukang sayur langganan. Sehari sebelumnya aku memesan ikan nila dan ayam satu ekor. Ditambah lagi sayuran dan bumbu, maka sebenarnya kulkas penuh dengan bahan makanan. Tapi sudah seminggu ini aku hilang minat untuk memasak. Lihat kompor saja malas, apalagi membayangkan harus mengupas bawang, mencuci berbagai wajan piring dan perabotan lain, dan membuang sampahnya ke tempat sampah besar di depan kost. itu hanya demi seporsi dua porsi makanan. Jadi aku lebih memilih makan gado-gado di dekat kantor untuk makan siang, atau nungguin tukang sate atau nasi goreng buat makan malam. 


Namun hari ini, aku ‘kesambet’ jadi semangat masak. Mumpung lagi kesambet, sekalian aja lah dimasak semua ayam yang seekor itu. Biar sekalian kupas bawang dan giling bumbunya. Kebetulan aku lagi kangen sama ayam semur buatan Mami. Sebelum masak, aku menelpon Mami dulu untuk konsultasi resep dan cara memasaknya. Seperti biasa, Mami memulai tutorialnya dengan kalimat, “Gampang kali itu masaknya…. “ Ok baique.


Setelah mendapatkan resep ayam semur dari Mami, aku pun mempersiapkan bahan-bahan. Atas nasihat teman seperdrakoran ku yang bijaksana, yaitu “mumpung lagi semangat, masak aja semua ayam yang seekor itu”, aku juga berencana memasak ayam ungkep. Jadi ayam yang satu ekor itu aku bagi dua, masing-masing lima potong. Aku mulai memasak sekitar pukul satu, dan sekitar pukul tiga, semuanya sudah hampir matang. 


Ketika mencicipi semur, rasanya berbeda dengan yang kuingat. Aku pun mengadu pada Mami, “kok beda sih??” Jawab Mami, “Beda tangan ya beda rasa”. Hiks.


Ayam Semur, ditambah "lauk" telur, tahu, dan kentang (dok.pribadi)

Rebusan Ayam Ungkep (dok.pribadi)

Setelah mendingin, semur dan ayam ungkep tadi kumasukkan ke dalam wadah bertutup, lalu masuk kulkas. Besok-besok tinggal menghangatkan atau menggoreng saja.


Pertanyaan berikutnya muncul. Malam ini makan apa? Rasanya sudah ‘kenyang’ menghirup aroma semur dan bumbu ungkep seharian. Tapi kalau makan mie instan, rasanya kok “lame” banget ya…


Sambil mencuci piring dan wajan, aku mendapatkan ide ketika menyaring air rebusan ayam ungkep. Ketika kucicipi, air rebusan itu rasanya mirip kuah soto. Aku jadi ingat, aku masih punya mie raja atau ong te mie, yang dikirim Papi dari Medan. Sambil memanaskan kuah, aku bongkar kulkas, lihat sayuran mana yang sudah hampir "expired". Ternyata masih ada lettuce. Bagian luarnya sudah mulai membusuk, namun sebagian besar bagian dalamnya masih sangat bagus. Maka langsung saja kubuang bagian yang busuk, sisanya kucuci lalu dipotong-potong.


Mie Kuah Soto, Dengan Ayam, Telur, dan Potongan Lettuce (dok.pribadi)

Maka malam ini, aku makan soto mie, dengan daging ayam dan telur, dan potongan lettuce. Ketika kucoba, rasanya agak asin. Aku teringat gaya Hwang Shi Mok Geomsa di drama Stranger, yang selalu menambahkan sedikit air putih ke dalam mie kuahnya yang keasinan. Hmm... kucoba, dan ...... berhasil!! Meogja! 


Read more…

August 19, 2020

Choco Lava by Choco Lova'

Salah satu jenis makanan favoritku adalah segala sesuatu yang berbahan dasar coklat, apalagi coklat hitam atau dark chocolate.

Aku sangat suka coklat batangan dalam segala variannya, milk, cashew, mint, chili, fruit, liquor, dan tentunya dark chocolate. Semakin tinggi persennya, semakin sedap! Eh, tidak termasuk white chocolate ya... buatku, itu bukan coklat. Warnanya aja putih...  nyaru itu mah. Abangku pasti membawakanku segepok coklat setiap kali dia pulang atau berkunjung ke Bandung ketika aku masih kuliah. Joseph, teman sejurusanku, memberikan sebungkus Milo Bar, yang segede dosa itu, sebagai tanda resminya pertemanan kami. Sahabatku, Andre, memberikan aku coklat pada hari Valentine, karena katanya, “lu kan gak doyan bunga”.

Aku juga sangat suka roti dengan meses dan selai coklat. Roti sobek dari bakery favorit di Medan (masih bisa membayangkan rasa coklatnya yang lummerrr) sampai roti sobek Sari Roti. Untuk meses, pilihan favoritku adalah Ceres. Betapa bahagianya ketika Ceres mengeluarkan varian “dark chocolate”. YAY! Kalau selai coklat mah, apa aja suka. Nutella, Crumpy, Ovomaltine, Hersey’s, sampai Morin dan Mariza. Kemarin aku baru saja memesan selai coklat Negro Brand lewat sebuah akun IG jastip makanan Bandung. Beberapa teman merekomendasikan selai-selai Negro Brand ini, katanya sedap sangat. Penasaran juga pengen mencoba.

Kalau untuk minuman atau sebangsanya, aku juga sangat suka hot chocolate dan eskrim coklat. Khusus untuk coklat dalam bentuk eskrim, aku hanya suka varian dark chocolate, karena pahit coklatnya lebih nyata. Kalau hot chocolate, aku suka semuanya. Mulai dari yang instan sachetan, sampai hasil racikan gerai yang mana aja. Dulu waktu masih kuliah, sesekali pas lagi ada duit, atau pas dikunjungi ortu (baik ortu sendiri atau ortu teman hehehe) nongkrong di Cafe Oh La La demi segelas hot chocolate nya yang sedapp...

Satu lagi yang aku paling suka adalah kue coklat. Ketika masih SD sampai SMP, ketika ulang tahun masih dirayakan dengan tepuk tangan dan tiup lilin bersama keluarga besar, Ompungku selalu membelikan tart “Devil’s Cake” dari bakery favorit tadi. Itu isinya coklaaatt melulu. Semua cake nya rasa coklat, dibagi tiga layer. Setiap layer dikasih selai coklat. Dan sebagai finishing, seluruh permukaannya ditutup dengan lapisan coklat. Beneran pesta!!

Aku juga sangat suka brownies. Ketika kuliah di Bandung, aku belajar membuat brownies bersama teman-teman  The Navigators. Ketika itu kami mengumpulkan dana dengan cara berjualan brownies. Hampir setiap hari membuat dan memanggang brownies untuk dagangan, akhirnya suatu hari aku dan temanku, Maria, membuat brownies untuk kami makan berdua hahaha

Keterampilan membuat brownies ini sempat kujadikan sumber penghasilan. Ketika baru lulus, sambil melamar kerja dan menunggu panggilan interview, aku berjualan brownies di warnet seorang teman. Lumayan juga, aku sampai punya pelanggan tetap. Namanya Ruth. Kata petugas warnet, Ruth bisa menghabiskan sampai enam potong brownies setiap kali ‘ngetem’ di warnet itu. Karena dapat pekerjaan di Bireuen, aku tidak lagi melanjutkan usaha brownies ku. Terakhir sekali aku ‘berdagang’ brownies adalah ketika membuatkan kue ultah untuk Angel, teman gerejaku.

Kemarin, seorang teman di WAG Stosa Girls membagikan sebuah video Tiktok tentang resep kue chocolava. Bahannya mudah di dapat, cara membuatnya pun gampang. Bahan utamanya adalah minuman instan Chocolatos. Sebagian besar bahan-bahannya sudah tersedia di kosan, kecuali gula. Boleh juga nih, buat mengisi hari libur besok.


Tadi sore sebelum pulang aku mampir ke 'indoapril' untuk membeli gula, dan sekalian mengangkut beberapa bahan untuk membuat kue lainnya, seperti soda kue, baking powder, dan fermipan. Rencananya pengen bikin martabak. Isi coklat tentu saja.

Selagi leyeh-leyeh sehabis mandi, sambil mikir menu makan malam, tiba-tiba aku terniat untuk membuat si chocolava malam ini. Langsung ke dapur, memanaskan kukusan, lalu membuat adonan. Tidak sampai sepuluh menit, adonan sudah jadi. Adonan aku tuang ke dalam cangkir keramik tahan panas, masing-masing setengah penuh. Lumayan dapat tiga cangkir. Siap untuk dikukus. Sedikit uji nyali juga eksperimen sekali ini, karena indikator tabung gas sudah mendekati angka NOL, alias sudah mau habis hihihi


Sebelum - Sesudah (dok.pribadi)

Petunjuk pembuatan di video itu cukup jelas. Kecuali satu, yaitu durasi mengkukus. Petunjuknya cuman “tidak terlalu lama, tapi tidak terlalu sebentar”. Okeh baik!

Lalu aku mengkukus sekitar 8 menit, kok tampilannya kurang meyakinkan. Akhirnya aku lanjutkan sampai 12 menit. Aku keluarkan satu cangkir, lalu menyendok untuk mencoba. Ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lavanya sudah matang menjadi kue. Aku langsung membuat mental note, kalau bikin ini lagi, mengkukusnya cukup 7 menit. 


Chocolava with NO lava. Teksturnya sudah ok, rasanya apalagi. (dok.pribadi)

Secara tekstur, kue nya sudah sama dengan chocolava yang pernah kucoba. Apalagi rasanya... sedap... Tidak sampai sepuluh menit, aku menuntaskan seluruh isi cangkir. It’s so sinfully yummy!

Read more…

August 2, 2020

Demi Konten!

Akhir bulan Juli kemarin, grup WA Perempuan IA-Sumut tiba-tiba lebih ramai dari biasanya. Rencananya pengurus mau bikin event zoom tentang masak-memasak untuk awal Agustus. Jadi para anggota diajak untuk mengirimkan video memasak menu favorit dengan durasi maksimum 5 menit, dengan mengusung tema “healthy and simple”. Hidangan yang mudah dibuat, bahan mudah diperoleh, dan yang terutama sehat. Hidangannya bisa berupa pembuka , utama, pencuci mulut, minuman, ataupun kudapan. Nantinya akan dihadirkan koki tamu untuk memberikan komentar pada hidangan-hidangan tersebut.


Hal ini terinspirasi dari kenyataan bahwa selama masa pandemi dan di rumah saja ini, aktifitas para ibu dan remaja putri pun putra untuk bereksperimen di dapur mengalami peningkatan yang pesat. Setidaknya ada lima orang teman dan keluarga ku yang memulai bisnis kuliner semenjak masa pandemi ini, yang awalnya berangkat dari kesukaan berkreasi dengan mencoba berbagai menu, dan mempostingnya di media sosial. Setiap hari, lini masa ku di berbagai media sosial dipenuhi foto-foto masakan karya mereka. 


Ketika seorang kakak alumni mengajak aku untuk ikut mengirimkan video, aku nanya, “Kalau french toast, masuk hidangan apa tuh? Kudapan?” Niatnya mah cuman mau meramai-ramaikan forum bahasan. Biasalah, tim hore. Dan kebetulan ketika itu aku baru membuat french toast untuk sarapan pagi. Kadang-kadang aku juga membuatnya untuk snack sore, bahkan untuk makan malam. Tergantung pengennya kapan. 


Pembahasan kami hanya sampai di situ. Besoknya, tiba-tiba nama ku sudah dimasukkan daftar untuk peserta kriteria hidangan pembuka, dengan menu french toast. Bengong dong eikeeh…. Langsung angkat suara, protes! Bukan apa-apa, malu-maluin aja menayangkan aib sendiri. Menjawab protesku, si kakak senior, yang juga bernama Dwi, menjawab santai, “Halah.. Kebanyakan mikir si Dwi ini…” #jleb


Ok baiklah! Saya ikut!


Aku ingat waktu itu tanggal 24 Juli. Batas akhir pengiriman video adalah 29 Juli. French toast itu pada dasarnya adalah roti tawar yang dibalur kocokan telur, lalu nantinya bisa dimakan bersama olesan madu, mayones, bahkan sambal botolan. Memasaknya mudah dan bahan-bahannya juga biasanya selalu tersedia di rumah. Saking mudahnya, mental cinderella yang mendarah daging ini pun berpikir, “Ah, masih ada beberapa hari. Sekalian aja video-in pas bikin sarapan.”


Sarapan demi sarapan berlalu, hingga tibalah kita di hari yang dinanti-nantikan itu, tenggat waktu Rabu tanggal 29 Juli. Cek persediaan. Susu sudah dibeli beberapa hari lalu. Telur masih ada delapan butir. Bubuk kayu manis, margarin, semua lengkap. Roti tawar tinggal empat lembar. Hm…. baiklah, kita tunggu saja abang Sari Roti yang biasanya lewat sore hari. 


Tunggu punya tunggu, si abang gak lewat-lewat juga. Mau jalan ke indoapril terdekat, sudah kesorean. Ya sudahlah, mari kita lanjutkan misi membuat video memasak ini dengan apa yang ada. Toh menunya emang mudah dan gampang. Aman lah itu. Demikian pikir ku.


Aku mulai menyiapkan bahan-bahan. Meja kerja ku kosongkan, lalu semua bahan-bahan kususun di atasnya. Kusiapkan musik sebagai background, yaitu OST Dinner Mate. Kontekstual dong! 


Ok, semua siap… bahan-bahan siap! Handphone siap! Mainkan! Begitu menekan tombol rekam, aku terdiam. Ini mau ngomong apa??? 


Ternyata, memasaknya memang gampang, sodara-sodara. Bikin konten videonya yang gak gampang! Hahahaha


Take 1. 

“Hai semua… pada kesempatan ini, saya akan membagikan resep french toast. Kita siapkan bahan-bahannya ya… Empat lembar roti tawar, lalu dua…….”


Lah, telurnya mana??? Giliiing… saking hebohnya menyiapkan bahan-bahan, lupa kalau telur masih di kulkas! Hahaha


Akhirnya setelah beberapa kali take, aku berhasil merampungkan video bagian pertama, yaitu menampilkan bahan-bahan yang akan digunakan. Aku pindah ke dapur untuk memvideokan cara memasak. Wajan datar sudah tersedia, bahan-bahan sudah, alat-alat sudah. 


Pertanyaan: Bagaimana cara merekamnya?? 


Aku tidak punya tripod, tongsis, atau sebangsanya. Akhirnya, positioning dulu. Cari entah apapun yang bisa dijadikan tumpuan, sandaran, dan penahan handphone. Botol madu, keranjang sendok, minuman sachetan, pokoknya segala yang ada diberdayakan! Lalu dikeker ke arah kompor. Aku pada dasarnya tidak suka difoto apalagi divideo, jadi cukuplah yang tampil dimaksimalkan pada bahan-bahan makanan. 


Ok… camera ready, action! 


Aku mulai proses memasak dengan memecahkan lalu mengocok telur, membubuhkan bubuk kayu manis, memanaskan wajan datar, memasukkan lembaran roti tawar ke dalam kocokan telur hingga merata, lalu memasaknya di wajan datar. Lagi seru-serunya, tiba-tiba terdengar suara “beep!” dari handphone ku. 


Ottokkeee… rekamannya otomatis mati karena memori sudah tidak cukup! Tidak ada pilihan lain, aku harus merelakan dua aplikasi dihapus sementara. 


Ketika bersiap mengulang rekaman, aku baru menyadari potensi masalah berikutnya. Rotinya cuman empat lembar, dan satu sudah dimasak. Akhirnya aku memutuskan untuk hanya menampilkan memasak dua lembar roti, tapi tetap menggunakan dua telur. Untung saja stok telur di kulkas masih cukup. 


Aku mengulang rekaman sekali lagi, dan kali ini dengan memperkecil resolusi gambar, supaya durasinya bisa lebih panjang. Ketika membuat video kedua, kembali lagi terjadi rekaman otomatis mati karena memori tidak cukup. Arrgghhh! 


Untuk mengulang lagi, tidak mungkin, rotinya habis hahahaha Aku lihat hasil rekaman pertama dan kedua tadi. Ternyata di rekaman kedua, proses memasaknya sudah lengkap. Maka kuputuskan tidak perlu mengulang, dan langsung membuat video bagian penutup saja, yaitu menampilkan hidangan french toast. Aku selesaikan memasak, dan merekam bagian terakhir.


Ternyata tidak mudah membuat video yang hanya berdurasi lima menit. Apalagi kalau harus merekam sendiri tanpa bantuan orang lain pun alat-alat memadai. Penuh perjuangan! Seluruh prosesnya sekitar satu setengah jam untuk menghasilkan lima menit. Itu belum termasuk masa menantikan abang Sari Roti lho.



Proses Memasak - Kenapa ada sumpit di situ neng?? LOL
(dok.pribadi)

Apakah masalahnya selesai sampai di sini? Tidak semudah itu, Malih!


Perjuanganku tadi menghasilkan tiga video, yaitu bagian awal menampilkan bahan, bagian tengah menampilkan proses memasak, dan bagian akhir menampilkan hasil masakan. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara menyatukan ketiga video tadi? Nah lho!


Aku tidak punya aplikasi atau software apapun untuk video editing. Tanya-tanya teman dan googling, akhirnya menemukan satu software gratis untuk video editing. Segera aku unduh dan pasang di laptop. Dengan sok paten (sebetulnya karena buru-buru mengejar batas waktu penyerahan video sih), aku skip bagian tutorial, dan langsung praktek. 


Ketika melakukan proses penggabungan video, apakah yang terjadi? Laptop ku mati mendadak! Memang belakangan ini laptop ku ini sering “pingsan” di tengah jalan. Biasanya karena kepanasan, atau terlalu banyak aplikasi berat yang berjalan. Maklumlah, dia sudah beranjak dewasa. 


Aku menyalakan laptop kembali, dan memulai lagi proses video editing. Gak pakai lama, laptop ku mati lagi! Hmm…. Kemudian aku kembali menyalakan laptop, lalu membaca keterangan di website software tadi. Oh baiklah… ternyata walaupun sistem nya mumpuni, tapi RAM dan lain-lainnya tidak. 


Aku kembali meng-google software apa yang mampu dijalankan oleh laptop kesayangan ini. Setelah dapat satu software yang direkomendasikan, aku unduh dan pasang di laptop. Lebih praktis, dan tidak lama aku sudah menyatukan ketiga video tadi. Hore! 


Aku simpan hasil penggabungan video. Ternyata formatnya bukan dalam format yang umum, jadi masih harus dikonversikan ke format lain, sesuai dengan medianya. Kita bisa memilih untuk tampilan di Instagram, YouTube, atau media sosial lainnya. Aku pilih saja untuk tampilan Instagram. Proses konversi dimulai. Lima menit kemudian, laptop ku mati lagi! 


Tarik napas panjang. Ah, sudahlah… Kasihan laptop ku, dipaksa kerja berat. Nanti dia “sakit” pula, kalau sampai butuh di”opname”, aku juga yang sedih. 


Aku pun menghubungi panitia, dan bilang kalau aku sudah menyelesaikan videoku, namun kesulitan untuk menggabungkannya. Panitia meminta aku mengirimkan lewat email saja, nanti mereka yang akan memfinalkan. Lega rasanya.


Poster Event "Cook With Us" (dok, IA-ITB Sumut)


Tadi siang, event zoom “Cook With Us in Healthy and Simple Way” pun berjalan dengan baik dan lancar. Wah, video dari peserta lain keren-keren euy! Pada niat bikinnya. Beneran deh video ku agak malu-maluin hihihi Seru juga bisa ‘ketemu’ dengan teman-teman, sekaligus belajar berbagai menu yang sehat dan mudah. Lebih seru lagi karena menghadirkan bintang tamu seorang Chef yang berpengalaman. Jadi kita bisa mendapatkan saran serta tanya jawab secara langsung. Acara tadi, bersama beberapa video memasak dari para peserta, bisa dilihat di link ini.


Setelah melakukan sendiri proses membuat video memasak ini, mulai dari persiapan bahan, menyusun konten, membuat rekaman, sampai (berusaha) mengedit, semakin aku sadari betapa sulitnya menghasilkan sebuah karya. Sungguh aku kagum pada semua pekerja film, YouTuber, vlogger, dan sebangsanya. Kalian keren!

Read more…

July 14, 2020

Kisah Dalam Sepiring Tongseng (Bagian Akhir)

Pertama kali aku mencicipi tongseng adalah tahun 1997 di Kota Bandung. Ada sebuah restoran bernama RM. Banyumas, yang letaknya di sudut pertemuan Jl. Dago dan Jl. Dipatiukur. Di depannya ada sebuah pangganan sate. Ketika itu kost ku terletak di Jl. Dipatiukur, jadi aku sering melewati persimpangan ini. Beberapa kali ketika melewati restoran ini, pegawainya sedang membakar sate, menebarkan aroma yang membangkitkan selera.  Setelah beberapa kali kejadian, dan mumpung Mami masih di Bandung, aku pun mengajak Mami untuk makan di situ. Selain sate, mereka juga menyediakan beberapa menu lain. Tetapi yang menarik perhatian ku adalah tongseng, karena aku belum pernah mencobanya. Kami pun memesan tongseng kambing 1 porsi.

Tampak Depan RM Banyumas di Simpang Dago dulu. Sekarang sudah lebih modern.
(sumber: https://id.openrice.com/)

Hidangan di RM Banyumas, Sate dan Tongseng (sumber: https://id.foursquare.com/v/rumah-makan--banyumas/)


Setelah aku coba, ternyata enak! Sate nya juga enak. Potongan dagingnya cukup besar, dengan saus kacang yang asli dan banyak, acar bawang yang royal, dan kecap manis yang kental. Sebanding kualitas dan rasanya dengan harga yang cukup mahal untuk kantong anak kost tahun 1997 (kalau anak kost jaman sekarang ya gak tau juga ya... ). Karena harganya yang mahal namun masakannya yang enak pakai banget, RM Banyumas ini menjadi salah satu tempat yang aku kunjungi pada hari-hari istimewa. Misalnya, ketika Papi Mami berkunjung, ketika abang atau saudaraku datang berkunjung, atau merayakan selesainya ujian akhir semester. Pernah suatu kali aku pengen banget makan tongseng, padahal uang pas-pasan. Akhirnya aku membeli setengah porsi saja hihi Seru ya kalau mengingat masa-masa itu. Beberapa kali aku berkunjung ke Kota Bandung, aku selalu mampir ke RM Banyumas ini untuk makan tongseng dan sate.

Berdasarkan artikel yang kubaca di situs Kompas dan Liputan6, dipercaya bahwa daerah pertama penghasil tongseng adalah Kecamatan Klego, Boyolali, Jawa Tengah. Dari Klego, kuliner tongseng menyebar hingga seluruh Indonesia. Kisahnya, pada abad ke-18 sampai 19, banyak saudagar Timur Tengah datang berdagang di Nusantara. Kegemaran mereka adalah menyantap daging kambing, yang kemudian ditularkan ke masyarakat lokal. Mulanya adalah sate, yang terinspirasi dari kebab. Setelah daging habis diolah menjadi sate, maka bagian yang tersisa diolah menjadi gulai, yang menggunakan bumbu rempah dan santan yang kental. Pada masa itu mulai berproduksi pabrik gula pasir, gula merah, dan kecap. Hal ini memberikan inspirasi masyarakat di selatan Jawa meracik menu baru, dengan menumis kembali kuah gulai, hingga terciptalah tongseng. Penamaan tongseng diambil dari kata ‘oseng-oseng’, dimana tongseng dibuat dengan mengoseng daging yang dicampur dengan kecap, bumbu, irisan tomat, dan kubis.

Setelah banyak membandingkan resep, akhirnya aku memilih satu resep tongseng dari “jungjungan”ku dalam hal masak-memasak, yaitu reseptongseng ayam ala Mbak Endang pemilik situs Just Try and Taste. Situs ini sangat informatif, tidak hanya resep yang diberikan, tetapi langkah-langkah pembuatan, serta sering juga diselipkan tips dari mbak Endang. Setelah mencatat bahan yang dibutuhkan, hari Sabtu aku sempatkan berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan.

Tongseng Ayam ala JTT (sumber: Just Try & Taste)

Sebagai mana menulis dan menonton drakor, memasak pun harus dilakukan dengan perasaan. Dengan mengikuti perasaan, maka aku memodifikasi resep dari JTT. Aku tidak menggunakan 5 rawit, tetapi cukup 2 saja. Dan ternyata itu adalah langkah yang sangat tepat. Pakai 2 rawit saja ternyata sudah jinjja pedass!

Tongseng buatanku (dok.pribadi)


Tongseng ditambahin brokoli (dok.pribadi)

Ketika sudah matang, sebelum menambahkan sayur-sayuran, tongseng kubagi menjadi 3 porsi.  2 porsi aku simpan untuk persediaan besok, dan 1 porsi difinalkan dengan menambahkan tomat dan daun bawang. Karena aku tidak terlalu suka kol, kuganti saja dengan letuce, yang memang masih ada stok nya di kulkas. Lebih enak pastinya. Letuce juga bisa diganti dengan brokoli lho... tidak kalah enaknya. Sebelum dicampurkan ke dalam tongseng, brokoli direbus atau dikukus dulu setengah matang.

Besok masak apa lagi ya?


Read more…

July 12, 2020

Kisah Dalam Sepiring Tongseng (Bagian Awal)

Kamis lalu, setelah menyelesaikan urusan di salah satu bank BUMN, aku mampir ke sebuah toko bahan pangan yang terletak di seberang bank tersebut. Toko itu kecil saja, ukuran ruko 1 pintu. Berderet manja bersama sebuah toko ATK dan binatu. Toko ini menyediakan bahan pangan berupa daging ayam segar, daging ayam dan bebek beku, telur, dan berbagai produk makanan beku, seperti bakso, sosis, nugget, dan makanan siap saji. Walaupun tidak banyak, toko ini juga menjual bumbu-bumbu masak siap pakai dan makanan ringan. Ini adalah kunjunganku kali kedua. Pada kunjungan pertama aku hanya membeli telur Omega3. Untuk kualitas yang sama, harga yang mereka berikan relatif murah dibanding swalayan ternama. Seperti biasa, aku strolling dulu melihat produk apa lagi yang mereka sediakan di situ. Selama berada di toko itu, aku perhatikan beberapa pembeli datang khusus untuk membeli produk ayam segar. Ternyata cukup banyak peminatnya, berarti kualitasnya terjamin, dan harganya bersaing.

Pada kunjungan kedua ini, aku membeli daging ayam beku, 1kg telur curah (karena telur Omega3 tidak ada stok), 1 bungkus sosis ayam CHAMP, dan ketumbar. Daging ayam yang aku pilih adalah fillet paha tanpa tulang. Aku memilih produk ini karena lebih praktis untuk berbagai masakan, tidak ada bagian yang terbuang, dan lebih berlemak daripada daging bagian dada. Karena lemak adalah rasa, demikian kata seorang chef yang kanal YouTube nya kupantengin siang tadi.

Fillet Paha Ayam dari CP Chicken. (sumber: primafreshmart.com)

Sampai di kost, aku segera mencairkan daging tadi sampai mencapai keadaan cukup lunak untuk dipisah-pisahkan. Caranya adalah dengan merendamnya di dalam wadah berisi air, tanpa membuka plastik pembungkusnya. Ketika sudah cukup lunak, aku membaginya dalam lima bagian yang kurang lebih sama, membungkus satu-persatu dengan plastik gula, dan menyimpannya di freezer. Sambil melakukan semua proses ini, aku mikir-mikir, enaknya fillet ayam ini di masak apa ya. Songong bener gak siiihh, kaya’ yang udah biasa masak sebuku resep aja hahaha

Terakhir kali aku belanja sayur dan bumbu sudah lebih seminggu yang lalu. Secara dalam seminggu ini aku memasak hampir setiap hari, maka bahan yang tersedia tidak banyak. Rempah hanya ada bawang putih dan sedikit jahe. Selain itu ada kecap manis, kecap ikan, saus tiram, minyak wijen. Kaldu jamur dan ketumbar. Sayuran dan dua potong tahu.


Hasil Googling - 799 + 1.992 Resep "Enak dan Sederhana" (dok.pribadi)

Aku mulai browsing untuk mencari inspirasi, menu apa yang bisa kubuat dengan bahan dan alat yang ada. Hasilnya, hanya di situs cookpad saja, ada 799 plus 1.922 resep masakan berbahan fillet paha ayam yang katanya "enak" dan "sederhana". Ok baique... 

Lalu aku tanya ke paraemak di grup alumni stosa, yang setiap hari masak buat pasukannya. Tanya juga ke kakak iparku, yang hobi masak dan punya koleksi alat masak yang bikin sirik. Setelah menerima berbagai informasi, maka dengan menimbang (kemampuan), mengingat (pengalaman), dan memperhatikan (bahan yang diperlukan), maka aku memutuskan untuk memasak.... tongseng! 

Read more…