August 19, 2020

Choco Lava by Choco Lova'

Salah satu jenis makanan favoritku adalah segala sesuatu yang berbahan dasar coklat, apalagi coklat hitam atau dark chocolate.

Aku sangat suka coklat batangan dalam segala variannya, milk, cashew, mint, chili, fruit, liquor, dan tentunya dark chocolate. Semakin tinggi persennya, semakin sedap! Eh, tidak termasuk white chocolate ya... buatku, itu bukan coklat. Warnanya aja putih...  nyaru itu mah. Abangku pasti membawakanku segepok coklat setiap kali dia pulang atau berkunjung ke Bandung ketika aku masih kuliah. Joseph, teman sejurusanku, memberikan sebungkus Milo Bar, yang segede dosa itu, sebagai tanda resminya pertemanan kami. Sahabatku, Andre, memberikan aku coklat pada hari Valentine, karena katanya, “lu kan gak doyan bunga”.

Aku juga sangat suka roti dengan meses dan selai coklat. Roti sobek dari bakery favorit di Medan (masih bisa membayangkan rasa coklatnya yang lummerrr) sampai roti sobek Sari Roti. Untuk meses, pilihan favoritku adalah Ceres. Betapa bahagianya ketika Ceres mengeluarkan varian “dark chocolate”. YAY! Kalau selai coklat mah, apa aja suka. Nutella, Crumpy, Ovomaltine, Hersey’s, sampai Morin dan Mariza. Kemarin aku baru saja memesan selai coklat Negro Brand lewat sebuah akun IG jastip makanan Bandung. Beberapa teman merekomendasikan selai-selai Negro Brand ini, katanya sedap sangat. Penasaran juga pengen mencoba.

Kalau untuk minuman atau sebangsanya, aku juga sangat suka hot chocolate dan eskrim coklat. Khusus untuk coklat dalam bentuk eskrim, aku hanya suka varian dark chocolate, karena pahit coklatnya lebih nyata. Kalau hot chocolate, aku suka semuanya. Mulai dari yang instan sachetan, sampai hasil racikan gerai yang mana aja. Dulu waktu masih kuliah, sesekali pas lagi ada duit, atau pas dikunjungi ortu (baik ortu sendiri atau ortu teman hehehe) nongkrong di Cafe Oh La La demi segelas hot chocolate nya yang sedapp...

Satu lagi yang aku paling suka adalah kue coklat. Ketika masih SD sampai SMP, ketika ulang tahun masih dirayakan dengan tepuk tangan dan tiup lilin bersama keluarga besar, Ompungku selalu membelikan tart “Devil’s Cake” dari bakery favorit tadi. Itu isinya coklaaatt melulu. Semua cake nya rasa coklat, dibagi tiga layer. Setiap layer dikasih selai coklat. Dan sebagai finishing, seluruh permukaannya ditutup dengan lapisan coklat. Beneran pesta!!

Aku juga sangat suka brownies. Ketika kuliah di Bandung, aku belajar membuat brownies bersama teman-teman  The Navigators. Ketika itu kami mengumpulkan dana dengan cara berjualan brownies. Hampir setiap hari membuat dan memanggang brownies untuk dagangan, akhirnya suatu hari aku dan temanku, Maria, membuat brownies untuk kami makan berdua hahaha

Keterampilan membuat brownies ini sempat kujadikan sumber penghasilan. Ketika baru lulus, sambil melamar kerja dan menunggu panggilan interview, aku berjualan brownies di warnet seorang teman. Lumayan juga, aku sampai punya pelanggan tetap. Namanya Ruth. Kata petugas warnet, Ruth bisa menghabiskan sampai enam potong brownies setiap kali ‘ngetem’ di warnet itu. Karena dapat pekerjaan di Bireuen, aku tidak lagi melanjutkan usaha brownies ku. Terakhir sekali aku ‘berdagang’ brownies adalah ketika membuatkan kue ultah untuk Angel, teman gerejaku.

Kemarin, seorang teman di WAG Stosa Girls membagikan sebuah video Tiktok tentang resep kue chocolava. Bahannya mudah di dapat, cara membuatnya pun gampang. Bahan utamanya adalah minuman instan Chocolatos. Sebagian besar bahan-bahannya sudah tersedia di kosan, kecuali gula. Boleh juga nih, buat mengisi hari libur besok.


Tadi sore sebelum pulang aku mampir ke 'indoapril' untuk membeli gula, dan sekalian mengangkut beberapa bahan untuk membuat kue lainnya, seperti soda kue, baking powder, dan fermipan. Rencananya pengen bikin martabak. Isi coklat tentu saja.

Selagi leyeh-leyeh sehabis mandi, sambil mikir menu makan malam, tiba-tiba aku terniat untuk membuat si chocolava malam ini. Langsung ke dapur, memanaskan kukusan, lalu membuat adonan. Tidak sampai sepuluh menit, adonan sudah jadi. Adonan aku tuang ke dalam cangkir keramik tahan panas, masing-masing setengah penuh. Lumayan dapat tiga cangkir. Siap untuk dikukus. Sedikit uji nyali juga eksperimen sekali ini, karena indikator tabung gas sudah mendekati angka NOL, alias sudah mau habis hihihi


Sebelum - Sesudah (dok.pribadi)

Petunjuk pembuatan di video itu cukup jelas. Kecuali satu, yaitu durasi mengkukus. Petunjuknya cuman “tidak terlalu lama, tapi tidak terlalu sebentar”. Okeh baik!

Lalu aku mengkukus sekitar 8 menit, kok tampilannya kurang meyakinkan. Akhirnya aku lanjutkan sampai 12 menit. Aku keluarkan satu cangkir, lalu menyendok untuk mencoba. Ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Lavanya sudah matang menjadi kue. Aku langsung membuat mental note, kalau bikin ini lagi, mengkukusnya cukup 7 menit. 


Chocolava with NO lava. Teksturnya sudah ok, rasanya apalagi. (dok.pribadi)

Secara tekstur, kue nya sudah sama dengan chocolava yang pernah kucoba. Apalagi rasanya... sedap... Tidak sampai sepuluh menit, aku menuntaskan seluruh isi cangkir. It’s so sinfully yummy!

Read more…

August 18, 2020

Review Drama "Was It Love?" (2020)

Dalam kehidupan ini, yang berlaku adalah hukum sebab akibat. Segala akibat ada karena sebab. Kamu masuk angin karena tidur telat. Kamu tidur telat karena nonton drakor yang lagi hits pisan sampai larut. Kamu maksa nonton drakor yang lagi hits pisan sampai larut karena gak mau kena ranjau spoiler setiap kali akses medsos. Kok nontonnya malam banget? Soalnya nulis dulu, kejar setoran di KLIP. Kok nulisnya malam banget? Karena tadi siang kerja. Kerja apa belanja online?? Hehehe

Demikianlah hampir segala aspek kehidupan kita terjadi seperti sebuah efek domino. One thing leads to another. Hal-hal yang kita lakukan saat ini sedikit banyak pastinya mempengaruhi keadaan di masa yang akan datang. Memang tidak mungkin kita sanggup memikirkan semua konsekuensi dari tindakan yang kita ambil. Tidak ada seorangpun yang bisa tahu apa yang terjadi lima menit bahkan lima detik ke depan, apalagi berbelas tahun. Namun tetap saja kita harus memikirkan baik-baik setiap tindakan yang kita pilih. 


Idealnya setiap pilihan kita pikirkan dengan tenang, dengan hati dan kepala yang dingin, sehingga kita bisa objektif menilai situasi. Kenyataannya tidak selalu kondisi ideal itu terjadi. Namun, yang paling bahaya adalah ketika kita  mengambil pilihan dan membuat keputusan berdasarkan sebuah asumsi. Seperti yang terjadi pada kisah drama Korea “Was It Love?” (2020)


Poster "Was It Love?" (2020) - sumber: AsianWiki



“Was It Love” mengisahkan perjuangan seorang ibu tunggal, Noh Ae-jung (Song Ji-hyo) membesarkan putri tunggalnya, Noh Ha-nee (Um Chae-young). Selama empat belas tahun, Noh Ae-jung melakukan semuanya sendiri, dia menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ha-nee. Segala pekerjaan dilakukannya, bekerja rangkap sana sini demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, tanpa bantuan siapapun selain ibunya, Choi Hyang-ja (Kim Mi-kyung -- sang Ahjumma Idola). Noh Ae-jung tidak punya waktu untuk kehidupan pribadinya, apalagi urusan asmara. Hidupnya hanya untuk Ha-nee. 


Noh Ae-jung bekerja di sebuah perusahaan film yang berada di ambang kebangkrutan. Boss perusahaan tersebut pergi begitu saja meninggalkan perusahaan yang terlilit hutang. Rupanya boss yang jahat itu telah menjebak Noh Ae-jung, sehingga tanpa diketahuinya, Noh Ae-jung menandatangani persetujuan sebagai penjamin pinjaman perusahaan. Akibatnya Noh Ae-jung menjadi bulan-bulanan boss mafia ganteng, Koo Pa-do (Kim Min-joon). 


Dalam kekalutan, Noh Ae-jung menemukan sebuah kontrak hak produksi atas naskah yang merupakan karya perdana dari seorang penulis terkenal dengan nama pena Cheon Eok-man. Itu adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan. Untuk mewujudkannya, Noh Ae-jung harus berusaha super duper ekstra keras, karena Koo Pa-do menuntut film itu harus mesti wajib dibintangi oleh aktor ternama, Ryu Jin. 


Ternyata Cheon Eok-man, yang selama ini wajahnya tidak pernah dipublikasikan, adalah pria dari masa lalu Noh Ae-jung. Empat belas tahun lamanya mereka tidak bertemu. Nama asli penulis adalah Oh Dae-o (Son Hu-jun), dan dia adalah kekasih Noh Ae-jung selama di kampus dulu. 


Pertemuan itu membuka banyak kenangan lama. Oh Dae-o ternyata masih menyimpan tanda tanya besar kenapa dulu Noh Ae-jung meninggalkan dirinya. Noh Ae-jung pun masih menyimpan sakit hati terhadap Oh Dae-o. Semua itu terjadi karena asumsi mereka masing-masing terhadap kejadian-kejadian empat belas tahun yang lalu. 


Ketika kuliah, Oh Dae-o mengalami masalah keuangan dalam keluarga, sehingga ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya kuliahnya. Namun Oh Dae-o tidak menceritakan masalah ini kepada kekasihnya. Dia takut Noh Ae-jung akan meninggalkannya kalau tahu masalah yang sebenarnya.


Oh Dae-o terus bekerja keras mengumpulkan biaya hidup, sehingga tidak punya waktu dan perhatian lagi untuk Noh Ae-jung. Lama-lama Noh Ae-jung merasa Oh Dae-o semakin jauh, dan mereka semakin sering bertengkar. Noh Ae-jung merasa hubungan mereka semakin sulit dipertahankan. 


Suatu malam Noh Ae-jung datang ke apartemen Oh Dae-o, dan menyaksikan sesuatu yang membuat Noh Ae-jung sakit hati. Hal itu seakan menjadi puncak dari kebimbangan Noh Ae-jung terhadap hubungan mereka. Merasa hubungan mereka tidak bisa dipertahankan lagi, Noh Ae-jung pun pergi tanpa meminta penjelasan dari Oh Dae-o. 


Oh Dae-o tidak percaya ketika Noh Ae-jung benar-benar meninggalkannya. Dia tidak mengerti apa yang membuat Noh Ae-jung pergi tanpa meninggalkan pesan, tidak mau menerima telepon atau membalas pesan dari Oh Dae-o. Pertanyaan ini lah yang terus menghantuinya selama empat belas tahun.  


Selama di kampus, Oh Dae-o dan Noh Ae-jung bersahabat dengan seorang senior mereka, Ryu Jin. Ryu Jin yang sama, yang kemudian menjadi aktor terkenal, dan diminta untuk membintangi film yang diproduseri Noh Ae-jung. Mereka bertiga selalu bersama. Mereka bahkan membuat proyek bareng di kampus, dengan Noh Ae-jung sebagai produser, Oh Dae-o sebagai sutradara dan penulis cerita, dan Ryu Jin sebagai aktor. 


Ketika hubungan mereka bermasalah, baik Noh Ae-jung maupun Oh Dae-o menjadikan Ryu Jin sebagai tempat curhat. Namun, mereka tidak pernah tahu, sebenarnya Ryu Jin sudah sejak awal menyimpan perasaan kepada Noh Ae-jung. Dan kemudian, Ryu Jin turut memperkeruh kesalahpahaman di antara mereka, dengan harapan bisa merebut hati Noh Ae-jung. 


Proyek film empat belas tahun kemudian telah menjadi reuni, yang membuka banyak luka lama. Ternyata butuh empat belas tahun bagi mereka untuk akhirnya saling jujur dan terbuka menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi, dan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Pertemuan itu menimbulkan harapan sekaligus ketakutan baru. Tidak hanya bagi mereka bertiga, tapi juga bagi Ha Nee, putri Noh Ae-jung. Ha Nee berusaha mencari tahu siapa sebenarnya ayah kandungnya. 


Noh Ae-jung adalah sosok wanita pejuang, yang tidak kenal menyerah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Hal itulah yang disukai Oh Dae-o dari Noh Ae-jung. Noh Ae-jung adalah satu-satunya orang yang percaya akan kemampuan dan mimpi Oh Dae-o untuk menjadi penulis terkenal. Namun, Noh Ae-jung merasa cintanya pada Oh Dae-o berat sebelah, sehingga Noh Ae-jung lebih banyak merasa dikecewakan. Dua orang yang saling mencintai, namun karena terlalu banyak asumsi, menyimpan masalahnya sendiri, tidak mau berbagi, akhirnya saling menyakiti. 


Oh Dae-o berasumsi Noh Ae-jung akan meninggalkannya kalau tahu masalah keuangan yang dialaminya. Akibatnya, Oh Dae-o tampak sibuk sendiri. Noh Ae-jung merasa sedih karena terus dikecewakan, merasa Oh Dae-o tidak lagi memperhatikan dirinya. Puncaknya Noh Ae-jung berasumsi bahwa Oh Dae-o telah berselingkuh. Asumsi yang berefek panjang, yang membuat Noh Ae-jung mengambil tindakan, suatu pilihan yang kemudian mempengaruhi banyak orang. 


Pilihan Noh Ae-jung membuat Ha Nee tidak mengenal siapa ayah kandungnya. Sudah lama Ha Nee memutuskan untuk tidak lagi bertanya tentang ayahnya, karena setiap kali dia bertanya, ibunya menjadi sedih. Namun sebenarnya Ha Nee menyimpan kerinduan akan sosok seorang ayah. Karena tidak punya ayah, Ha Nee menjadi sasaran perundungan di sekolah. Ha Nee yang mewarisi watak keras dan pejuang dari ibunya tentu tidak tinggal diam dan membalas perlakuan jahat yang diterimanya. Akibatnya, Ha Nee kerap berpindah-pindah sekolah. 


Drama ini awalnya berjalan lambat. Cukup lama sampai aku akhirnya menikmati jalan cerita dan mulai penasaran akan kelanjutan kisahnya. Dari semua pemain, aku paling suka dengan kemampuan akting aktris cilik, Um Chae-young, pemeran Noh Ha-nee. Istimewanya lagi, drama ini “menyuguhkan” empat oppa tampan sekaligus, yang berusaha merebut hati Noh Ae-jung. Favoritku adalah boss mafia, Kim Min-joon oppa. Cakepnya matang puun euy.. hahaha


Parade Empat Oppa Tampan
Son Ho-jun, Song Jong-ho, Koo Ja-sung, dan favoritku, Kim Min-joon
(sumber: zero-lite.com)


Drama ini sarat dengan pesan moral. Mengisahkan cinta orang tua yang begitu besar kepada anaknya, yang akan melakukan apa saja untuk melindungi mereka. Mengingatkan kita untuk tetap berjuang dan tidak melepaskan mimpi-mimpi kita. Tentang asumsi yang berujung menyakiti. Tentang hidup yang harus berbagi, karena kita tidak harus sendiri. 


Bagaimana kelanjutan kisah ini? Apakah si tiga sekawan berhasil memproduksi film dan menyelamatkan perusahaan Noh Ae-jung dari kebangkrutan? Siapakah ayah kandung Noh Ha-nee? Siapa kah yang akhirnya berhasil merebut hati Noh Ae-jung? Saksikan penayangannya setiap hari Rabu dan Kamis pukul 21.00 di Netflix.


Read more…

August 16, 2020

Pijat di Masa Pandemi

Salah satu kesukaanku adalah dipijat. Kesukaan ini bukan sesuatu yang rutin atau terjadwal. Tergantung kebutuhan juga, Kalau sedang masuk angin parah, baru pulang dari perjalanan luar kota, atau ada bagian otot ku yang tertarik atau keseleo karena saking lasaknya diri ini, maka aku segera menghubungi tukang pijat untuk datang ke rumah. Pernah juga beberapa kali aku mencoba pijat di pusat refleksi atau perawatan tubuh. Tapi aku lebih nyaman melakukannya di rumah. 

Kesukaan dipijat ini sudah berlangsung sejak lama. Waktu kecil dulu, Mami ku pasti akan memijat aku atau abangku kalau kami demam atau flu. Biasanya Mami akan membalurkan minyak dengan bawang merah ke tubuh kami lalu dipijat.     

Aku tidak ingat apakah ketika SMP sampai SMA aku sering dipijat. Waktu kuliah, beberapa kali aku memanggil mak pijat ke kos. Aku ingat ketika itu hari pertama aku mengikuti kursus mengendarai mobil. Kaki rasanya mau copot akibat selama hampir dua jam belajar menginjak pedal gas, rem, dan klos. Belum lagi stress nya karena baru kali pertama. Ketika memijat, si mak pijat bilang otot kaki sampai paha ku tegang semua seperti ditarik. 


Selama bekerja di Bireuen, aku pernah mencoba beberapa tukang pijat. Sekali, aku sedang main ke staff house pria, dan mereka sedang memanggil tukang pijat. Bapak ini tunarungu, beliau adalah salah satu penerima bantuan pada program NGO kami. Memang dasar doyan dipijat, aku pun ikut mengantri. Bapak ini keahliannya memijat refleksi, dan dia punya semacam tongkat kecil dari logam sebagai alat bantunya. Akhirnya tiba giliranku. Mula-mula masih terasa menyenangkan, sampai si bapak mulai memakai alat bantunya. Tongkat besi itu digelindingkan di tulang kering dan telapak kaki, rasanya sakit tak terkata. “Pak, udah pak, gak usah pakai itu” kataku. Si bapak tak bergeming, santai saja melanjutkan terapi nya. Akhirnya ‘derita’ itu pun berakhir. Kemudian aku ‘mengadu’ pada temanku tentang derita ku tadi. Dia tertawa dan bilang, “Bapak itu kan tunarungu, mau kamu menjerit kaya’ apa juga gak dengar dia”. #tepokjidat


Sejak tahun 2013, kami punya langganan tukang pijat namanya Bu Misna. Bu Misna bukan lagi sekadar tukang pijat, tapi beliau sudah seperti keluarga bagi kami. Kami ikut berduka ketika suaminya meninggal karena sakit. Kami ikut berbahagia ketika beliau menikahkan putrinya yang kedua, kemudian yang ketiga. Setiap Idul Fitri dan Idul Adha, juga setiap keluarga Bu Misna mengadakan syukuran, keluarga kami pasti akan mendapatkan berkat berupa kiriman lontong sayur, rendang ayam, tauco, lengkap dengan kue basah dan kue kering. Semuanya hasil masakan Bu Misna. 


Kalau soal kualitas pijatan, Bu Misna ini paling mantap, tak ada bandingnya. Segala urusan keseleo, salah urat, masuk angin, sakit perut, bisa diamankannya. Satu keistimewaan Bu Misna, setiap memijat dia akan ‘ribut’ mengeluarkan angin. Kadang-kadang ada orang yang tidak suka dan terganggu dengan suara-suara yang dikeluarkannya. Kalau aku sih tidak masalah, yang penting badanku terasa nyaman lagi.


Sejak masa pandemi, tepatnya sejak akhir Maret tahun ini, aku tidak lagi melakukan kesukaan ini. Selain aku pun menghindari kontak khususnya dengan orang asing, usaha-usaha jasa pijat seperti GoMassage dan tempat-tempat refleksi pun menghentikan operasinya. 


Hari Kamis yang lalu, aku terjatuh di depan kamar mandi. Karena buru-buru, aku tidak memperhatikan bahwa aku tidak menjejak pada keset kaki tapi langsung menginjak keramik. Akibatnya aku pun tergelincir dan jatuh terduduk. Untung saja tidak bertumpu pada lutut atau persendian lain. Tetapi bagian depan kaki kiriku memar, karena menjadi tumpuan ketika jatuh dengan cepat. Namun aku harus tetap ke kantor karena sudah ada jadwal pertemuan. 


Setelah selesai bekerja, selesai mandi (dengan ekstra hati-hati), aku mengompres kaki ku dengan es batu, lalu membalurkan minyak urut. Untung saja malam itu aku tidak demam. Aku mulai mencari jasa pijat mana yang sudah beroperasi. Akhirnya ketemu satu jasa pijat keluarga di Instagram. Para terapisnya menjalani rapid test secara berkala, dan menjalankan protokol kesehatan ketika bekerja. Testimoninya pun cukup meyakinkan. Harganya sebenarnya cukup mahal untuk ku, namun apa boleh buat, efek jatuh harus segera dibereskan. Kalau tidak, semakin lama akan semakin menyakitkan.


Karena Jumat dan Sabtu aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau dijadwal ulang, maka akhirnya aku memesan untuk sesi pijat hari ini. Senin kan libur, jadi aku punya waktu ekstra untuk istirahat. 


Sebelum pijat, aku harus menyiapkan ‘lapangan upacara’ dulu. Ini bedanya dibandingkan pijat di pusat perawatan tubuh. Kita tidak perlu menyiapkan apa-apa, bawa badan sama uang saja hehe Kamarku tidak besar, sehingga aku harus menggeser meja kerja, supaya cukup ruang untuk meletakkan kasur di lantai. 


Terapis datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Namanya Bu Ningsih. Beliau menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, dan selama bekerja tidak banyak berbicara. Untungnya hanya aku penghuni kosan, sehingga selama di pijat, aku bisa membuka jendela dan pintu kamar, memastikan udara selalu bergerak. Setelah selesai pijat, aku menyemprotkan air disinfectant ke seluruh penjuru kamar, dan membungkus semua sprei dan kain alas yang digunakan untuk dimasukkan ke laundry.


Pelan-pelan, kita akan menemukan cara baru untuk menjalankan berbagai kegiatan seperti dulu. Selama kita tetap berusaha menerapkan protokol kesehatan, menjaga kebersihan, dan mempertahankan imunitas tubuh. Kita harus beradaptasi dengan cara yang baru, cara yang benar. Karena hidup harus terus berjalan.

Read more…

August 15, 2020

Ahjumma Idola

Kekuatan dan keunggulan drama Korea terletak pada banyak hal. Mulai dari kreativitas penulis cerita yang seakan tanpa batas, totalitas para aktor dan aktris, teknologi sinematografi yang canggih, lokasi pengambilan di negara-negara eksotis (dengan mengangkut seluruh crew!), sampai marketing yang taktis dan strategis. 

Hal yang paling aku nikmati dari setiap drama Korea adalah jalan cerita dan setting yang mendetail, serta penghayatan para pemerannya. Artinya, bukan hanya para pemeran utama, namun para pemeran pembantu pun memegang peranan penting. Mereka benar-benar berfungsi sebagai ‘support’, bersinergi bersama para pemeran utama, membangun sebuah chemistry, sehingga berhasil menyajikan drama yang merasuk hingga ke hati.

Ada beberapa aktor dan aktris senior yang langganan menjadi pemeran pembantu dalam drama Korea. Walaupun bukan pemeran utama, namun kekuatan akting mereka sungguh meninggalkan kesan. Salah satu aktris senior yang paling sering muncul dan menjadi favoritku adalah Kim Mi Kyung. 


Kim Mi Kyung - Ahjumma Idola (sumber: AsianWiki)


Karier Kim Mi Kyung di dunia akting sudah dimulai sejak tahun 1985. Ketika itu, dan hingga saat ini, Kim Mi Kyung tergabung sebagai anggota aktif dari salah satu grup teater terbesar di Korea Selatan, Yeonwoo Mudae. Tidak heran kalau ia memiliki kemampuan akting yang mengesankan. 


Kim Mi Kyung adalah salah satu aktris senior Korea Selatan yang paling aktif. Ahjumma kelahiran tahun 1963 ini telah main dalam lebih dari lima puluh drama dan film dengan berbagai peran. Publik Korea Selatan menjulukinya “The Empress”. Mungkin julukan ini diberikan karena Mi Kyung paling sering berperan sebagai ibu dari pemeran utama. 


Sebagai ibu, Mi Kyung selalu tampil sangat natural. Ibu yang cerewet, suka rese’ dan kepo dengan kehidupan asmara anaknya, dan ibu yang sangat menyayangi keluarga. 


Pertama sekali aku menonton aktingnya adalah ketika Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Deok Mi di drama Her Private Life (2019). Ibu Deok Mi sangat menentang kegiatan Deok Mi sebagai fangirl, karena Deok Mi pernah sampai terluka dan patah tangannya ketika menonton konser idolanya. Ibu Deok Mi khawatir hobi Deok Mi ini akan membuat Deok Mi sulit mendapatkan pasangan. Laki-laki mana yang mau bersaing dengan KPop idol?


Deok Mi malah membalikkan ‘serangan’ ibunya, dengan menunjukkan fakta bahwa hobi fangirling nya ini didapatkannya secara genetik. Ibu Deok Mi punya kegemaran merajut, seluruh rumah mereka dipenuhi dengan hasil rajutan ibunya, dan semenjak kecil, ibunya selalu memakaikan baju-baju hasil rajutan pada Deok Mi. 


"Haduu haduu.... cakepnya calon mantu kuu..."
Ryan Gold dan ibu Deok Mi
(sumber: http://www.whatsupkpop.com)

Adegan yang paling berkesan adalah ketika ibu Deok Mi mengaku kepada Ryan (Kim Jae Wook) bahwa foto, poster, dan segala benda tentang Cha Si An, idola Deok Mi, yang ada di segala penjuru apartemen Deok Mi, adalah miliknya. Sementara, ibu nya bahkan tidak bisa menyebutkan nama si tokoh idola itu hahaha Hal itu dilakukannya semata-mata supaya Ryan tidak ilfil kepada Deok Mi. Betapa leganya si ibu ketika Ryan ternyata tidak keberatan, bahkan hobi itu membuatnya semakin cinta sama Deok Mi. Aaawww…. so sweet kali Ryan-oppa… #bucindetected


Tokoh lain yang diperankan Mi Kyung yang juga cukup berkesan adalah sebagai Mi Sook, ibu dari Kim Ji Young dalam film Korea “Kim Ji Young: Born 1982” (2019). Mi Sook sangat bangga kepada dua orang anak perempuannya dan selalu ada untuk mereka. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah hanya dengan mendengar suara putrinya di telepon. Adegan yang berkesan buatku adalah ketika Mi Sook marah sekali kepada suaminya, yang hanya memperhatikan anak laki-laki mereka yang bungsu. Buat Mi Sook, kedua putri mereka pun berhak atas perhatian yang sama besar dan sama istimewanya, apalagi ketika itu, Ji Young sedang menderita depresi. 


Mi Sook berusaha menenangkan Ji Young, putrinya
(sumber: besoksore.com)



Ada banyak lagi drama dan film dimana Kim Mi Kyung berperan sebagai ibu. Salah satunya adalah drama yang sedang tayang, “Was It Love?” (2020), dimana Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Noh Ae Jung. Aktingnya sebagai ibu tidak usah diragukan lagi. Semoga saja setelah ini Mi Kyung dapat kesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya memerankan karakter-karakter lain.

Read more…

August 12, 2020

Moon Sang-tae, The Beautiful Soul Oppa

“Jangan menangis, Gang-tae”, kata Sang-tae sambil memeluk adiknya yang sudah banjur air mata. Layar laptop mulai tampak kabur karena aku pun otomatis banjur air mata menonton cuplikan scene penutup dari drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” (2020). Drama tentang kisah cinta sepasang anak manusia dengan tumbuh besar dengan luka batin, Moon Gang-tae dan Ko Moon-young. 


Poster Drama Korea "It's Okay To Not Be Okay" (sumber: Kpop Chart)


Moon Gang-tae (Kim Soo-hyun) dibesarkan dengan kewajiban untuk menjaga dan melindungi kakak laki-lakinya, Moon Sang-tae (Oh Jung-se), yang menderita autis. Di usia yang masih sangat muda, Moon bersaudara telah kehilangan kedua orang tua mereka. Sejak saat itu, hidup Gang-tae hanya berpusat pada kakaknya. Seumur hidupnya dia harus mengalah dan mengesampingkan kebutuhan dan keinginannya, meredam, menyimpan, bahkan memalsukan emosi demi Sang-tae, yang sangat sensitif perasaannya.  

Ko Moon-young (Seo Yea-ji) adalah seorang penulis buku cerita anak-anak yang terkenal. Moon Sang-tae adalah penggemarnya. Moon-young mengalami trauma masa kecil. Dibesarkan di sebuah rumah besar bak istana, namun dingin tanpa cinta. Ketika dewasa, Moon-young menderita gangguan kepribadian anti sosial. Bertindak semaunya, dan punya kecintaan pada benda tajam. 

Drama ini tidak lepas dari ke-klise-an drama Korea. Gang-tae dan Moon-young adalah teman masa kecil. Moon-young adalah cinta pertama Gang-tae. Sejak kematian ibu mereka, Moon bersaudara pergi meninggalkan kampung halaman, dan tinggal berpindah-pindah kota. Sampai suatu saat, setelah mereka dewasa, Gang-tae dan Moon-young bertemu kembali. 

Kisah cinta mereka dipenuhi pengingkaran dan belenggu masa lalu. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi, saling memulihkan. Gang-tae menjadi peredam (safety pin) bagi Moon-young yang emosinya meledak-ledak. Moon-young menjadi pemicu bagi Gang-tae untuk mulai berani mengekspresikan perasaan yang selama ini diredamnya. 

Kisah cinta yang berakhir manis dan bahagia. Chemistry-nya, haduh… tingkat dewa! Pemuas jiwa si penggila romansa. Namun, buatku, bintang lapangan yang sesungguhnya adalah Moon Sang-tae, the beautiful soul oppa. 

Moon Bersaudara - Sang-tae dan Gang-tae (sumber: Soompi)

Penderita autis memiliki respon yang berbeda dibandingkan orang pada umumnya. Untuk rangsangan yang sama, bisa jadi mereka sangat sensitif, atau malah tidak responsif sama sekali. Sebagai seorang penderita autis, Moon Sang-tae harus belajar mengenali bentuk-bentuk emosi yang umum itu. Ia belajar mengenalinya dari mengingat bentuk raut wajah, seperti apa itu bahagia, marah, sedih, dan sebagainya, dimana salah satu keistimewaan penderita autis adalah mereka memiliki daya ingat yang kuat. 

Sang-tae sulit berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial, sehingga sejak kecil dia jadi korban perundungan. Sang-tae dipandang sebagai si lemah yang harus selalu dijaga dan dilindungi. Tapi dalam kisah ini, justru kita bisa belajar banyak dari seorang Sang-tae.

Sang-tae tidak mengenali emosi sama seperti orang pada umumnya. Buat Sang-tae, yang ada hanyalah salah atau benar. Bohong itu salah, dan jujur itu benar. Sang-tae sangat benci dengan kebohongan, dan karena itu ia selalu menyampaikan pendapatnya dengan jujur dan apa adanya. No sugarcoating. No “spik-spik nabi”. Sang-tae hanya akan menyajikan fakta, bukan rekayasa. 

Sang-tae tidak mau menjadi beban orang lain. Dia tidak suka kalau adiknya memperlakukannya seperti anak-anak. Sang-tae tahu dia adalah manusia dewasa, dan selalu berusaha untuk mandiri. Bepergian seorang diri, melakukan berbagai pekerjaan rumah, sampai mengumpulkan uang dengan cara bekerja. Sang-tae bercita-cita membeli sebuah mobil karavan, sehingga mereka tidak perlu repot-repot packing setiap kali harus pindah kota “untuk menghindari kupu-kupu”. Bukan sekedar cita-cita lho. Sang-tae bekerja dengan data, sehingga tahu persis berapa jumlah uang yang harus dikumpulkannya. 

Sang-tae adalah seorang profesional, dan dia mencintai pekerjaannya. Sang-tae terbuka menerima kritikan atas karyanya. Dia menerima apa yang menjadi kelemahannya, dan mau belajar untuk memperbaiki kelemahan tersebut, sehingga hasil karyanya pun menjadi lebih baik. Walaupun sulit, dia tidak mau meniru karya orang lain. “Kalau meniru, berarti itu bukan karyaku yang sesungguhnya” kata Sangtae.

Sang-tae dengan berani memutuskan untuk tidak lagi melarikan diri dari kenyataan. Ia berusaha melawan ketakutan dan menghadapi traumanya. Siapapun pasti sulit melakukannya, namun Sang-tae berani memaksa dirinya untuk menemukan ‘pintu’, dan keluar dari trauma masa lalunya.

Sang-tae tidak mengerti apa itu autis. Yang dia tahu dia adalah seorang kakak yang berkewajiban melindungi adiknya dan harus dapat diandalkan. Sang-tae sayang sekali pada Gang-tae, dan dia merasa adiknya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu mereka. Walaupun Gang-tae berusaha ‘menipu’ mata kakaknya dengan selalu menutupi perasaan dengan senyum, namun mata hati Sang-tae lebih tajam. Sang-tae tahu kalau jiwa sang adik sedang sakit.  

Sang-tae sempat terlihat egois, seakan-akan dia ingin menguasai Gang-tae. Bukan itu sebenarnya alasannya. Penderita autis sulit menerima perubahan, dan dia merasakan perubahan pada Gang-tae. Lebih marah lagi ketika Gang-tae menutupinya dengan kebohongan. Dia merasa ditinggalkan. Tapi, ketika melihat Gang-tae tersenyum dalam tidurnya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dia pun mengerti bahwa sang adik bahagia. Apa yang ditakutkan Sang-tae tidak terjadi. Dia tidak kehilangan adiknya, malahan mendapatkan satu ‘adik’ lagi, yaitu Moon-young. Mereka bertiga telah menjadi satu keluarga.

Keluarga ditandai dengan foto bersama (sumber: Kanal247)

Sang-tae menunjukkan cintanya yang tulus dengan sederhana. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar. Sang-tae membagi bonus yang diperolehnya sebagai uang jajan untuk Gang-tae dan Moon-young. Padahal mungkin untuk Gang-tae, apalagi Moon-young, jumlahnya sangat kecil. Ketika Moon-young tidak mau makan, Gang-tae datang membawakan makanan kesukaannya, kemudian membujuk, bahkan ‘memperdaya’ dan menyuapi Moon-young supaya mau makan. 

Sang-tae menghormati setiap bentuk kehidupan, menyayangi benda-benda. Dia mengucapkan salam kepada semua orang yang ditemuinya, bahkan kepada tumbuhan dan hewan. 

Cinta Sang-tae adalah cinta yang membebaskan. Sang-tae menghargai adiknya sebagai pribadi yang terpisah, sebagai pribadi yang dewasa. Sang-tae tahu adiknya tidak akan pernah sanggup melepaskannya. Karena itu, Sang-tae lah yang membebaskan Gang-tae dari beban tanggung jawab atas dirinya. Caranya dengan menunjukkan kepada adiknya bahwa dia mampu mandiri. Dia sudah punya pekerjaan dan sedang membangun kehidupan. 

Ah, rasanya tak cukup kata-kata menggambarkan Sang-tae, sang pribadi yang istimewa. Tak bosan-bosan aku menonton aktingnya. Salut untuk pemerannya, Oh Jung-se, yang punya penghayatan luar biasa. 

Dari drama ini, kita bisa belajar bahwa setiap orang punya tantangan dan perjuangan masing-masing. Bahwa keluarga adalah yang terutama, dan keluarga harus bersama. Walau sering bertengkar atau berselisih paham, tapi keluarga harus saling memaafkan dan saling menguatkan.

Drama “It’s Okay To Not Be Okay” ini berakhir hari Minggu kemarin. Namun aku sudah rindu menyaksikan lagi kisah mereka bertiga. Gang-tae yang ganteng, Moon-young yang manis, dan Sang-tae yang penuh cinta. 

Read more…

August 9, 2020

Drama "Sky Castle" (2018) - Ambisi Membutakan Hati

Sky Castle (2018) adalah drama Korea satire yang mengisahkan tentang keluarga-keluarga kaya, dimana orangtua sangat berambisi dan dengan segala cara memastikan anak-anaknya diterima di perguruan tinggi ternama. Dan yang berperan paling besar untuk memastikan terwujudnya ambisi sebuah keluarga adalah sang ibu. Selain mewujudkan ambisi pendidikan anak, mereka juga harus selalu mendukung karier suami, agar mencapai dan tetap bertahan di posisi yang bergengsi.

Super Moms di Drama Sky Castle (sumber: Wikipedia)

Cerita itu berkembang di sekitar empat keluarga yang tinggal di sebuah komplek perumahan elite dan eksklusif bernama Sky Castle. Mereka adalah keluarga sukses, kaya, memiliki pekerjaan dan jabatan yang terhormat. Anak-anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah yang terkenal pula. Kehidupan mereka serba cukup, tidak kekurangan apapun. Kelihatannya begitu. Tapi setiap keluarga punya ceritanya sendiri, punya ‘rahasia’nya sendiri.


Setiap Keluarga Punya Cerita (sumber: dreamers.id)


Tokoh utama dalam kisah ini adalah Han Seo-jin (Yum Jung-ah). Suaminya, Kang Joon-sang (Jung Joon-ho) adalah seorang dokter bedah ortopedi yang terkenal. Mertuanya juga seorang dokter, dan keluarga besar bercita-cita agar Kang Yeo-so (Kim Hye-yoon), putri sulung mereka, nantinya pun akan menjadi dokter. 


Aku sangat terkesan dengan karakter Han Seo-jin. Bukan terkesan sehingga ingin mencontoh, tapi terkesan sehingga aku kasihan melihat kehidupannya yang dibutakan ambisi, dipenuhi dengan intrik dan strategi. Semua itu hanya demi “dipandang” sebagai manusia. 


Han Seo-jin memiliki nama asli Kwak Mi-hyang, datang dari keluarga miskin, dengan ayah seorang pedagang darah sapi, yang sukanya mabuk. Mi-hyang benci sekali dengan kemiskinan dan nasib buruknya ini, dan melakukan berbagai cara, mengatur strategi, supaya ia bisa meninggalkan kemiskinan itu, dan mendapatkan strata sosial yang tinggi. 


Strategi pertama adalah merebut Kang Joon-sang dari kekasihnya, lalu kemudian menikah dengan Joon-sang. Ia mengganti namanya menjadi Seo-jin, dan mengarang kisah bahwa ia bergelar master dari Australia dan keluarganya bertempat tinggal di sana. Selain suami dan mertuanya, tidak ada yang mengetahui kebohongan ini, bahkan kedua anaknya. Sedemikian Seo-jin menutupi masa lalunya, kebohongan demi kebohongan demi membentuk image yang diinginkan. Sampai dikisahkan ia membayar dua orang untuk berlaku sebagai orang tuanya, ketika mereka sekeluarga berkunjung ke Australia.  


Tindakannya sudah pasti salah. Namanya pun bohong. Tetapi Seo-jin melakukannya supaya anak-anaknya tidak malu dengan masa lalu ibunya, tidak malu memiliki kakek seorang pemabuk dan pedagang darah sapi. Seo-jin tidak mau anak-anaknya seperti dirinya yang malu dengan kondisi keluarganya. Ia ingin anak-anaknya percaya diri, karena yakin mereka datang dari bibit keturunan yang super duper bergengsi. 


Kebohongan Seo-jin ini mungkin berhasil mengelabui banyak orang, tetapi tidak mertua dan suaminya. Karena aslinya datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, maka Seo-jin harus terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari ibu mertuanya. Kegagalan pertama adalah ketika ia tidak mampu memberikan keturunan laki-laki. Karena itu, ia harus memastikan agar Kang Yeo-so, putri sulungnya, diterima di jurusan kedokteran Seoul National University. Itu adalah kesempatan Seo-jin yang terakhir supaya diterima dan diakui oleh ibu mertuanya. 


Tindakan Seo-jin untuk memastikan Yeo-so diterima di SNU berbuntut panjang dan ruwet, sampai Seo-jin dihadapkan dengan berbagai pilihan yang serba salah. Bagaikan makan buah simalakama, apapun pilihannya akan mendatangkan akibat yang buruk. 


Beberapa kali tampak Seo-jin berperang dengan hati nuraninya. Dia tidak tega ketika melihat anak orang lain yang jelas tidak bersalah dijadikan kambing hitam, sehingga seluruh keluarga harus menderita dan si anak kehilangan masa depan. Tetapi apabila dia buka suara tentang apa yang sesungguhnya terjadi, artinya dia juga mengungkapkan kecurangan yang melibatkan putri kesayangannya. Seo-jin tidak sanggup mengorbankan masa depan Yeo-so yang sudah dirancang sejak dia balita. 


Sebenarnya “hitung-hitungan” Seo-jin lebih dari itu. Bukan sekadar digerakkan oleh rasa cintanya yang begitu besar kepada putrinya. Namun ia juga tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai putrinya gagal dan tidak diterima di kedokteran SNU. Mungkin mertuanya akan mengusirnya, suaminya akan menceraikannya, dan Seo-jin akan kehilangan semua kekayaan dan status sosial yang selama ini dinikmatinya, yang sudah susah payah diusahakannya. 


Sejak awal, ambisi lah yang telah membutakan Seo-jin. Ia begitu ingin meninggalkan dan melupakan masa lalunya, miskin dan menderita. Segala apa yang dilakukannya -- menikah dengan Joon-sang, mendidik dua putrinya dengan disiplin tinggi, menggunakan jasa tutor seharga ratusan juta agar Yeo-so diterima di kedokteran SNU -- semua ini sebetulnya demi memastikan status sosial untuk dirinya sendiri. Pikirannya terus dipenuhi strategi, sibuk mengintip posisi ‘lawan’. Pasti hidupnya tidak pernah tenang. Sungguh melelahkan.  


Aku teringat pada seorang teman, senior di masa kuliah dulu. Ketika itu dia bercerita kalau baru saja diputuskan oleh pacarnya, yang tidak lama setelah lulus mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sementara si teman ini masih di Bandung, menyelesaikan kuliahnya, sambil mengajar di sebuah bimbingan belajar kecil. Pacarnya merasa dia tidak punya ambisi dalam hidup. Tidak berusaha mengejar kelulusan dengan cepat, supaya segera dapat pekerjaan di perusahaan besar. Ternyata belakangan diketahui pacarnya ini terpesona dengan seorang manajer di perusahaan tempatnya bekerja; muda, tampan, berjabatan, dan kaya. Kata temanku, “Aku bukannya tidak pernah punya ambisi. Tapi aku lelah dengan ambisi.” 


Ketika SMA, dia belajar keras supaya bisa masuk kampus kami, walaupun untuk itu harus merantau. Merantau artinya biaya ekstra bagi orang tua, yang memiliki enam orang anak. Namun karena ambisi, dia meyakinkan orang tuanya, dan berjanji akan mencukupkan dengan berapapun biaya yang dikirimkan. Kuliah tahun kedua, dia mendapat kabar bahwa ibunya sedang mengandung anak ketujuh. Rasanya dia ingin marah, tapi dia tahu tindakannya itu salah. Dan sejak tahun kedua itu pula, uang bulanan pun berhenti, dan dia harus mengusahakan sendiri biaya hidupnya. Karena punya hobi main bola, ia pun bergabung dengan tim bola di kampus, dan berharap dari situ dia juga akan memperoleh penghasilan. Tetapi pada suatu pertandingan, ia terjatuh dan kaki nya patah. Sejak itu ia tidak bisa bermain bola secara profesional lagi.


“Aku lelah dengan ambisi. Mimpi-mimpi ku kandas di tengah jalan. Sekarang aku jalani saja apa yang ada di hadapanku dengan sebaik-baiknya. Bisa bertahan sampai saat ini saja, aku sudah sangat bersyukur”


Ambisi yang sehat itu perlu, membuat kita selalu memacu diri supaya lebih baik, membuat kita memaksimalkan potensi diri. Namun ambisi yang buta akan merusakkan jiwa. Memakan hati dan pikiran kita perlahan-lahan. Lebih ‘gila’ lagi ketika ambisi kita itu berlaga dengan ambisi orang lain. Sudah pasti akan saling menghancurkan. Dan akhirnya kita disadarkan ambisi tidak mendatangkan kebahagiaan.

 

Ketika konsep diri kita diletakkan semata-mata pada penilaian orang lain, maka kita tidak akan pernah “selesai”. Seo-jin tidak mencintai dirinya yang miskin, dan dia sibuk membentuk image yang diyakininya akan diterima dan dihormati orang banyak. Mungkin kalau Seo-jin bisa menerima dirinya sebagai Kwak Mi-hyang, maka dia tidak perlu sibuk berstrategi merebut pacar orang, tidak perlu menderita dengan penghinaan mertuanya. Seo-jin tidak perlu membayar orang untuk menyamar menjadi orang tuanya, hanya karena takut anak-anaknya malu punya ibu yang datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, suatu konsep yang dia sendiri yang menanamkan.


Untuk menjamin bahagia, maka pengakuan yang paling kita butuhkan adalah dari diri sendiri. Self-love. Mensyukuri dan mencintai keberadaan diri. Kalau sudah punya self love, maka sudah pasti kita bisa mencintai orang lain dengan tulus.


Bagaimana akhir kisah Seo-jin dan para penghuni Sky Castle? Apakah Yeo-so berhasil diterima di kedokteran SNU? Apakah akhirnya orang baik menang dan orang jahat mendapatkan ganjaran? Penasaran? Samaa aku juga. Yuk ah, mau nonton episode terakhir nih. Semoga happy ending ya…


Read more…

August 8, 2020

My Jae-wook

Oppa adalah panggilan kekeluargaan dalam bahasa Korea, digunakan oleh seorang perempuan untuk memanggil laki-laki yang lebih tua dalam kisaran 10 tahun. Kalau di budaya kita, mungkin sama dengan panggilan abang, aa’ atau mas. Dan sebagaimana dalam budaya kita juga, panggilan “oppa” juga mengisyaratkan kedekatan (maupun ke-sok-dekat-an) dengan orang tersebut. 


Panggilan “oppa” semakin familiar dan mendunia seiring dengan gelombang budaya Korea. Seluruh fans drama korea dan KPop memanggil pujaan atau bias mereka dengan oppa, terlepas dari umur mereka. Tentu saja, aku termasuk salah satu pelakunya. Ah, gak penting umurnya berapa, yang penting tampan dan aku sukaaa haha


Daftar oppa kegemaranku bertambah seiring dengan bertambahnya judul drama yang kutonton. Totalitas dan penghayatan peran, chemistry yang bikin deg-degan sambil gigit bantal, sudah pasti membius hingga bikin membias. Daftar ku itu sifatnya dinamis, bertambah dengan urutan kadar pesona yang berubah-ubah. Tetapi yang paling istimewa, oppa nomor satu untuk (semoga) selamanya, adalah Kim Jae-wook.  


Kim Jae-wook sebagai "Ryan Gold" - Tampang Songong
(sumber: Pinterest)

Setiap membahas drama Korea atau apapun yang beraroma ke-Korea-an, pasti tidak bisa lepas dari oppa yang satu ini. Aku jatuh cinta pada Kim Jae-wook ketika menonton “Her Private Life” (HPL), dimana Jae-wook pertama kali menjadi lead male dalam drama bergenre romance-comedy. Dalam drama itu, Jae-wook berperan sebagai Ryan Gold. Kisah drama HPL itu sendiri sebenarnya biasa aja, bahkan cenderung klise. Namun ke-klise-an yang disajikan dengan manis itu membuat aku dejavu berkali-kali ketika menontonnya. Kepincut berat dengan karakter dingin namun romantis dengan sorot mata tajam dan senyum miring menggoda Ryan Gold, aku pun mencari tahu tentang pemerannya. 


Sebagai aktor, Jae-wook telah memerankan berbagai jenis karakter dalam berbagai jenis genre drama dan film. Pada film pertama yang diperankannya, “Antique”, dia berperan sebagai Min Seon-woo, seorang gay yang berprofesi sebagai bakery chef. Pada drama “Voice”, dia berperan sebagai Mo Tae-goo, seorang psikopat. Aku belum menonton drama ini, tetapi menurut berbagai review yang aku baca, Jae-wook sukses memerankan seorang psikopat, hingga image ini melekat padanya. Pada drama “The Guest”, dia berperan sebagai Choi Yoon, seorang pastor yang bisa mengusir setan. Dan pada drama “Her Private Life” dia berperan sebagai seorang pelukis yang jutek namun romantis. Perannya dalam drama HPL ini mendapatkan penghargaan sebagai “Best Male Asian Star” pada event Starhub Night of Stars 2019, yang menambah daftar penghargaan di bidang akting yang diperoleh Kim Jae-wook.


Berbagai "Wajah" Jae-wook.
Pembuat Waffle - Psikopat - Pengusaha Muda Nan Romantis
(sumber: id.castKo.com)


Selain film dan drama, Jae-wook juga berperan dalam drama musikal Korea. Tahun 2011, sebelum menjalankan wajib militer, Jae-wook, bergantian dengan tiga orang oppa tampan lainnya, yaitu Choi Jae-woong, Cho Jung-seok, dan Kim Dong-wan, main dalam “Hedwig and The Angry Inch”, yang diadaptasi dari drama Broadway berjudul sama. Drama ini mengisahkan tentang Hedwig Schmidt, seorang transgender yang menjadi vokalis band rock and roll bernama The Angry Inch. Lalu tahun 2018, Jae-wook berperan sebagai Mozart dalam drama musikal “Amadeus”. Dalam kedua drama ini, Jae-wook tidak hanya memperlihatkan kemampuan aktingnya, tapi juga kemampuan bernyanyi dan bermain musik.


Kim Jae-wook sebagai Hedwig (sumber: Pinterest)


Kemampuan bermusik Jae-wook bukanlah hal yang baru. Ketika SMA, sebagai siswa baru dia mengikuti audisi band “Kaksital”, dan diterima. Jae-wook juga pernah mengikuti reality show “Akdong Club” di acara TV MBC. Namun ketika ditanya apakah dia bisa menari dan bernyanyi selayaknya KPop idols yang kita kenal sekarang, Jae-wook memilih untuk tetap dengan gaya musik rock nya, dan tidak meneruskan audisi. Ketika kuliah jurusan musik di Seoul Institute of The Arts, Jae-wook membentuk sebuah band bernama “Walrus”, yang masih ada sampai sekarang. 


Selain aktor dan pemusik, Kim Jae-wook juga seorang model. Tahun 2019, Kim Jae-wook turut diundang dalam salah satu ajang fashion terbesar dunia, “Paris Fashion Week”. Tidak sekedar melenggang di catwalk, tahun 2011, Jae-wook bersama beberapa orang model lainnya, menulis buku berjudul “Top Model”, sebuah kisah tentang pengalaman mereka dalam industri fashion. Karya terbaru Jae-wook, sebuah film dokumenter berjudul “My Margiela” (Martin Margiela : In His Own Words),  juga mencerminkan kecintaannya pada dunia fashion. Sayangnya yang dipublikasi masih teasernya #ihiks


Jae-wook dalam "My Margiela" (sumber: Instagram @jaeuck.kim)


Dari berbagai karyanya, kusimpulkan bahwa uri oppa Kim Jae-wook adalah seorang seniman. Tidak heran gayanya tampak nyentrik dan berbeda. Terkesan tidak jaim dan apa adanya. Seandainya suatu saat bisa bertemu langsung, apabila aku berhasil siuman karena pingsan akibat sempat lupa bernapas, maka aku cuman mau bilang, “Oppaa.. Mana drama baru nyaa??”

Read more…