November 10, 2020

Satu Bulan Bersama Drakor Class

www.drakorclass.com


“Annyeonghaseyo, Chingudeul.,,”

Bisa jadi, selama tiga puluh hari terakhir ini, kedua kata itu jadi kata yang paling melekat di benakku. Hari ini uri blog keroyokan genap berumur 1 bulan, dan selama 30 hari itu pula aku dan teman-teman Drakor Class bagaikan punya ‘mainan baru’ dan belajar banyak hal baru.


Seperti pernah aku tuliskan di sini dan di sini, Drakor Class adalah blog yang berisi tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, blog bersama yang dimiliki oleh 21 kontributor. 


Kami punya dua kesamaan, yaitu suka menulis, dan suka menonton drama Korea. Namun, sudah pasti, tidak semudah itu menyatukan 21 orang untuk berjalan bersama-sama. Harus ada rasa saling pengertian, harus ada rasa saling membutuhkan. Dan yang paling penting, harus ada kesamaan kepentingan. Dan buatku, kepentingan kami yang paling utama, yang harus didapat melalui Drakor Class, adalah “bersenang-senang”. 


Pikiran kita adalah sesuatu yang sangat kuat pengaruhnya. Ketika tujuan kita melakukan sesuatu adalah untuk bersenang-senang, maka kita akan lebih menikmati setiap prosesnya.Ketika kita menikmati prosesnya, kemungkinan untuk mencapai hasil yang baik itu lebih besar. Teorinya begitu, dan karena Drakor Class, aku sudah membuktikan teori itu. 


Thanks to Drakor Class aku belajar banyak hal baru. Aku belajar menulis lebih baik, lebih terstruktur dan mengikuti pakem-pakem penulisan dalam blog yang profesional. Satu lagi pengalaman baru adalah menjadi host untuk acara IG Live Drakor Class. 


Aku tidak suka tampil. Jangankan tampil, difoto aja gak suka. Selfie? Apa itu?? Kaya’nya setiap kali berfoto, mau difoto mau selfie, beungeut ini selalu tak terkendali. Tapi ada saatnya aku akan senang-senang saja tampil, senang-senang saja difoto. Biasa.. Karakter Gemini kan gitu… dua karakter yang bertolak belakang dalam satu pikiran. 


Kenapa aku bisa jadi host? Sebenarnya, karena aku mengajukan diriku menjadi admin IG, dan acaranya menggunakan platform IG, maka itu sudah seperti otomatis saja. Like….”duh!” 


Di samping itu, ada alasan lain. Aku menghindari kursi panas narasumber hahaha Apalah yang mau kukatakan kalau aku duduk di situ sebagai seorang yang suka menulis dan beraliran mood-is ini?? 


Ketika aku melakukannya, kuanggap saja kami sedang sesi zoom bulanan seperti biasa. Dua hal yang sangat membantu adalah pertama, aku tidak berada di depan panggung di hadapan banyak orang, dan kedua, aku punya lawan bicara sambil bertatap muka. Jadi rasanya seperti sedang video call saja. Sebelum memulai acara, aku sampaikan kepada Kak Risna, yang saat itu menjadi “classmate” atau tamuku yang pertama. Aku bilang kalau untuk acara pertama ini, aku tidak peduli berapa orang yang nonton, aku tidak peduli berapa follower yang bertambah, aku hanya mau bersenang-senang. 


Satu lagi yang membuatku menikmati tugas sebagai host adalah aku jadi mengenal teman-teman Drakor Class lebih dekat. Aku senang mendengar cerita mereka tentang keluarganya, tentang karyanya, tentang bahagianya. 


Dan menurutku mindset seperti itu sangat membantuku untuk menjalankan tugas sebagai host dengan santai dan rileks. Dan dari feedback teman-teman Drakor Class, I was not bad for a first timer. YAY!


Namun, sayangnya aku tidak selalu berhasil mengendalikan pikiranku seperti itu. Sering kali kita, aku, tidak bisa memalingkan mata dari angka-angka yang menjadi indikator kesuksesan. Padahal definisi dan indikator itu kita sendiri yang menciptakan. 


Grup Drakor Class, atau dulu kami sebut Drakor dan Literasi, ini memang unik. Semuanya terasa cepat, semuanya sangat impulsif. Satu ide, ditangkap, lalu digodok. Ide-ide yang sepertinya dilontarkan sambil lalu, kemudian dicoba-coba (dengan serius), eh… terus jadi. Mulai dari sebuah grup menulis, 30 topik tantangan, lalu menjadi blog bersama. Dari medsos yang tadinya hanya jadi aksesoris, namun malah menjadi salah satu tools untuk mencapai tujuan, sehingga muncul acara IG live, lalu muncul YouTube, lalu muncul TikTok. Dan sebuah buku antologi yang menjadi wacana 2021.  


Menurutku kami di dalam Drakor Class membawa keahlian kami masing-masing ke dalam grup ini, lalu saling mengisi, saling melengkapi. Seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota, dan setiap anggota punya makna. 


Selamat Ulang Bulan, Drakor Class. 

Semoga kita bisa terus bergandengan, sambil terus bersenang-senang!

Let’s enjoy this ride!


Read more…

November 4, 2020

Another Note to Self

Hari ini aku senang sekali. Salah satu tulisanku di blog, yang juga kusetorkan ke grup KLIP Non Fiksi, mendapatkan apresiasi dari mbak Shanty, sang ketua kelas (sepertinya demikian). Tulisanku menjadi tulisan pilihan nonfiksi minggu ini

Aku jadi senang dan terharu karena beberapa alasan. Pertama, karena aku tidak menyangka tulisanku dibaca dengan serius hahaha. Terharu karena ternyata tulisanku layak dibaca dan dipajang. Sejujurnya masih ada terselip rasa gak pede, yang merasa mbak Shanty memang akan menunjukkan semua karya anak-anak kelas nonfiksi, jadi tunggu saja giliran masing-masing. But anyway, let’s not spoil the fun. Yang jelas, apresiasi tadi membuatku semakin semangat untuk menulis.

Tulisanku adalah surat untuk diriku yang berusia 14 tahun. Aku berusaha mengingat-ingat, kenapa aku pilih tema itu ya? Aku ingat ketika itu aku harus memastikan aku mencapai 20 setoran di bulan Oktober untuk KLIP. Secara lagi gak ada ide, seperti biasa, google to the rescue.

 

Kata kunci: “Free writing prompts” 


Hasilnya macam-macam. Mulai dari ide tulisan selama bulan Oktober (dan ada daftar yang berbeda untuk setiap bulan), ide menulis selama 365 hari, sampai ide sesuai jenis tulisan; free writing, nonfiksi, dan lain-lain. Jumlahnya juga macam-macam, mulai dari 13, 60, sampai 700 ide! Tinggal pilih saja.


Sepertinya banyak sekali ya ide yang bisa kita caplok. Masa’ dari 700 ide, satu pun gak bisa. Ternyata gak segampang itu juga. Ide yang diberikan juga tidak selalu dengan mudah dikembangkan.


Misalnya, dua contoh nih ya…


“Tuliskan tentang sebuah karakter yang membuat perubahan hidup yang dramatis demi mengejar impian terpendam”


“Tuliskan tentang sebuah pertandingan antara hidup dan mati”


Yassallaam… #apuskeringatjagung


Memang benar, itu ide baru, aku gak pernah kepikiran nulis tentang dua topik itu. Dan mungkin gak bakalan pernah. Makanya aku gak bisa menulis fiksi from scratch. Eh, belum pernah dicoba juga sebenarnya hehe


Tapi untuk mengembangkan ide seperti yang dua itu juga gak semudah itu kan, bambang?? Coba kita ambil contoh yang pertama.

 

Pertama, harus ditentukan dulu, karakternya perempuan apa laki-laki. Bagaimana sifat-sifatnya, wataknya. Bagaimana ini-itu-anu-apa-nya. 


Kedua. Bicara perubahan hidup, berarti harus ditentukan dari hidup yang bagaimana menjadi bagaimana. Nah lho… mikirin satu aja belum nemu, ini udah disuruh dua. Hahaha


Akhirnya di salah satu website aku menemukan ide ini: “Tulislah surat kepada dirimu yang berumur 14 tahun”. Hmmm.. menarik. 


Umur 14 tahun adalah umur peralihan, dari anak-anak menjadi remaja. Menjelang SMA atau baru kelas 1 SMA. Seperti ulat dalam kepompong yang sedang berproses menjadi kupu-kupu, dan sudah keluar setengah bagian. Setengah diri ingin terbang bebas, setengah diri masih butuh kehangatan dan kenyamanan dari kepompong. 


Menulisnya tidak sulit, karena aku sendiri sebagai objeknya. Aku masih ingat apa yang menjadi kegalauanku, apa yang menjadi asumsi-asumsiku. Apa yang menjadi cita-citaku, angan-anganku. Tinggal membandingkannya dengan kondisi saat ini, dan mengingat kembali berbagai proses yang aku lalui. 


Kalau dirimang-rimangi, mungkin kalau dahulu benar-benar ada orang yang bicara kepadaku seperti suratku tadi, belum tentu juga aku percaya. Well, tergantung orangnya siapa sih… 


Ketika kita mengingat masa lalu, masa muda, masa remaja, tak jarang kita ingin kembali dan mengulang beberapa bagian. Undo, redo. Kata “seandainya” menjadi 'koentji'. Dan penyesalan adalah sesuatu yang sangat pribadi. 


Aku pernah menonton sebuah acara motivasi di televisi. Si Bapak motivator, yang dulu sangat terkenal di negara +62 ini, pernah membahas soal kesalahan yang kita lakukan selama hidup. 


“Kalau diberikan kesempatan untuk mengulang waktu, apakah saya akan melakukan kesalahan yang sama?”


Jawaban si Bapak adalah: “Iya. Saya akan tetap melakukan kesalahan dan mengambil tindakan yang sama. Tapi saya akan melakukannya lebih cepat”.


Memang benar, keadaan kita yang seperti sekarang ini adalah hasil dari proses panjang yang sudah kita lewati. Segala kesalahan, penyesalan, kekalahan, dan penderitaan. Juga kebahagiaan, kesuksesan, keberhasilan, dan kemenangan. Apabila kita mengubah satu kisah saja, belum tentu keadaannya akan menjadi seperti yang kita alami sekarang. Bisa lebih baik, dan bisa lebih buruk. Masih misteri. 


Tapi kalau kita lakukan persis sama, maka hasilnya adalah seperti kita sekarang. Ketika kita melakukan segala kesalahan itu lebih cepat, maka kita punya waktu lebih banyak untuk memperbaiki atau bangkit kembali.


Benarkah?


Menurutku itu pun masih misteri. Karena kalau kita melakukan sesuatu lebih cepat, maka lingkungan di sekitar kita belum tentu ikutan tambah cepat. Tidak ada hal yang berjalan sendiri, semua berkaitan, bersebab-akibat. Karena masih misteri, maka tidak perlu dipikirkan lebih lanjut soal mengulang waktu ini. Completely useless.

 

Satu hal yang merupakan ‘note to self’ dalam surat itu (eh, sebenarnya seluruh tulisan itu adalah note to self yak… haha) adalah bagian terakhir. Salah satu ‘mantra’ yang menolongku untuk tetap optimis. 


“Apapun yang terjadi, kita akan baik-baik saja”.    


Tulisan ini kututup dengan sebuah lagu berjudul "Dear Younger Me" dari band MercyMe. (sumber: YouTube)



Dear younger me
Where do I start
If I could tell you everything that I have learned so far
Then you could be
One step ahead
Of all the painful memories still running thru my head
I wonder how much different things would be
Dear younger me,
Dear younger me
I cannot decide
Do I give some speech about how to get the most out of your life
Or do I go deep
And try to change
The choices that you'll make cuz they're choices that made me
Even though I love this crazy life
Sometimes I wish it was a smoother ride
Dear younger me, dear younger me
If I knew then what I know now
Condemnation would've had no power
My joy my pain would've never been my worth
If I knew then what I know now
Would've not been hard to figure out
What I would've changed if I had heard
Dear younger me
It's not your fault
You were never meant to carry this beyond the cross
Dear younger me
You are holy
You are righteous
You are one of the redeemed
Set apart a brand new heart
You are free indeed

Every mountain every valley
Thru each heartache you will see
Every moment brings you closer
To who you were meant to be
Dear younger me, dear younger me

Read more…

November 3, 2020

Halu itu Pilihan

Hello, November! 

Haha… telat ya, harusnya kemarin bilang “Hello!”nya. Tapi karena kemarin sudah posting untuk blog Drakor Class, maka gak bikin tulisan di blog sendiri lagi (gayaa... kaya' yang rajin aja...). 

Kemarin itu merupakan hari Minggu yang lumayan sibuk buatku. Dari pagi sudah mandi, karena mau ikut ibadah secara online, lalu melanjutkan menulis postingan untuk Drakor Class (DC), sorenya sepupuku "menculik" buat menemaninya jalan-jalan sore, dan malamnya sesi zoom dengan teman-teman DC. 

Seperti pernah kusebutkan, menulis untuk DC ini beda setelannya dengan menulis di blog sendiri. Menulis di blog keroyokan ini ada pressure tersendiri, karena ada nama bersama yang disandang. Setiap kali menulis, rasanya seperti menyusun skripsi. Mencari data sebanyak-banyaknya dan dari sumber terpercaya. “Membongkar” YouTube dan Wikipedia. Menonton drama dan episode yang menjadi topik bahasan berulang-ulang. Hasilnya, kemarin aku berhasil ‘menyetorkan’ tulisanku yang ketiga untuk DC. YAY! 


Tulisan pertama, aku membahas profile Cho Seung Woo. Feedback yang kudapat, isinya lebih lengkap dari Wikipedia! Aku tersenyum senang sekaligus meringis. Senyum karena aku tahu, iya, memang lebih lengkap dari halaman Cho Seung Woo di Wikipedia. Karena aku menggunakannya sebagai salah satu sumber, maka aku sampai hampir hafal isinya. Meringis karena hmm… pengennya menulis sesuatu yang santai dan damai, tapi karena isinya data semua, jadilah skripsi mode ON. 


Sesungguhnya ada niat ‘terselubung’ di balik tulisanku yang lebih mirip biografi itu. Aku mau menunjukkan bahwa para selebritis Korea ini bukan sekadar wajah tampan, bahkan yang dioperasi plastik sekalipun. Well, semua orang tentu senang melihat wajah yang cantik dan tampan, penampilan yang menarik, tubuh yang proporsional, who doesn’t? 

Aku mau menunjukkan bahwa selain segala ketampanan dan cap "plastik" itu, mereka adalah pekerja keras. Totalitasnya tinggi, berprestasi, dan layak untuk dijadikan panutan. Tentu saja tidak semua. Selalu ada kekecualian. 


Niat itu juga sejalan dengan misi aku dan teman-temanku ketika kami membuat Drakor Class. Salah satu tujuannya adalah menunjukkan bahwa dari hobi menonton drama Korea, kita bisa mendapatkan ilmu tentang banyak hal. Ilmu yang kami dapatkan inilah yang kemudian kami bagikan kepada orang lain dalam bentuk tulisan. 


Tulisanku kedua, lagi-lagi tentang profil aktor Korea. Kali ini aku menulis tentang Lee Jae Wook. Aktor baru, rookie istilahnya. Memulai debut di tahun 2018, dan sudah menuai prestasi. Walaupun sedapat mungkin aku menambahkan bumbu manis manja ala bucin, namun tetap saja, panjang dan penuh data. Itu juga karena jam terbang Lee Jae Wook juga belum tinggi, kalau tidak, mungkin "nasib"nya akan kurang lebih seperti Cho Seung Woo hahaha


Kalau dirimang-rimangi (bahasa Batak: direnung-renungkan), semua itu saling terkait. Aku ngefans dengan Lee Jae Wook karena kemampuan aktingnya, ketampanan, dan cute awkwardnessnya. Saat ini, aku sedang menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol” karena Lee Jae Wook pertama sekali menjadi pemeran utama di situ. 


Salah satu tokoh dalam drama itu adalah Goo Ra Ra, seorang pianis, yang sedang membangun kembali hidupnya dengan membuka kursus piano, sehingga dalam drama ini, musik klasik menjadi salah satu faktor penguat cerita. Dalam setiap episode, setidaknya kita akan disuguhi satu musik klasik.


Satu hal tentang drama Korea, mereka menyusun cerita dengan sangat detail. Hampir tidak ada unsur yang berdiri sendiri, biasanya selalu mengisyaratkan sesuatu. Aku, yang pada dasarnya memang penikmat musik, jadinya penasaran apa hubungan lagu-lagu klasik itu dengan jalan cerita drama tersebut.


Dari rasa penasaran itu, aku pun mencari tahu tentang beberapa lagu klasik yang dimainkan di drama itu. Ternyata banyak sekali cerita yang menarik dalam sejarah panjang lagu-lagu klasik tadi. Dari situ, aku pun menghasilkan tulisanku yang ketiga. Kalau tidak karena menonton drama “DoDoSolSolLaLaSol”, aku rasa gak bakalan aku kenal dengan Martini dan lagu “Plaisir d’Amour”, atau Erik Satie dan lagu “Je Te Veux”. 


Ketika mengobrol lewat aplikasi zoom dengan teman-teman DC, sempat terbahas lagi tentang sentimen negatif tentang penggemar drama Korea. Ya…. sekali lagi menurutku itu masalah selera, sih. Aku tidak berhak mengomentari apa yang membuat orang lain bahagia, sebagaimana aku pun (sebenarnya) tidak perlu menjelaskan apa yang membuat aku bahagia. Yang penting, selama bahagia kita tidak terjadi di atas derita orang lain, maka kita semua akan baik-baik saja.


Memang dari beberapa segi, bisa saja menonton drama ini menjadi sumber dosa. Aku tidak akan masuk ke ranah itu, karena menurutku dosa adalah sesuatu yang sangat pribadi. Hanya kita dan Dia yang tahu.


Dunia ini penuh keberagaman, tinggal kita memilih yang mana yang layak dijadikan pilihan. Melalui tulisan-tulisanku di Drakor Class, aku sedang menceritakan pilihanku, bahwa ke"halu"an ini memiliki alasan.


Read more…

October 29, 2020

Walau Sempat Galao, Tetap Jadi Bakpao

Hari ini adalah hari libur. Aku tidak memiliki rencana khusus untuk hari ini. Tadinya mau menyapu kamar tengah rumah kost, kalau mb Yenni, yang biasa bersih-bersih tidak datang lagi hari ini. Ternyata sebelum niat suci luhurku terwujud, tiba-tiba mbak Yenni muncul. YAY! 

Sambil menikmati sarapan, atau lebih tepatnya brunch karena sudah menjelang siang, aku menonton drama “Start-Up”. Weekend yang lalu episode 3 dan 4 sudah tayang, dan aku belum sempat menontonnya. Aku menonton episode 3, dan sukaaaaa! Untung penghuni kost yang lain lagi pada beredar, kalo tidak, mungkin pintuku sudah digedor atau dilempar bakiak karena terganggu suaraku yang ngakak kencang. 


Selesai episode 3, kantuk pun menyerang. Tidak melanjutkan episode 4, aku pun memilih leyeh-leyeh mengukur kasur. Siang tadi matahari bersinar terik. Dalam cuaca yang panas itu, aku tertidur dengan membiarkan jendela terbuka. Di masa pandemi ini aku memang mengurangi pemakaian AC dan lebih banyak membiarkan jendela terbuka, supaya udara tetap bersirkulasi dengan baik.


Aku terbangun oleh dering handphoneku yang ada di atas meja. Rupanya Mami menelpon. Biasa... wajib lapor. Sambil ngobrol dengan Mami, aku menyalakan laptop. Seperti biasa, kami bertukar cerita tentang banyak hal. Dari A ke Z ke A lagi. 


“Papi mana? Lagi ngapain?”


“Sibuk di dapur, kaya’nya bikin pansit buat nanti malam”.


Mendengar Papi yang lagi sibuk menyiapkan pansit, aku jadi teringat dengan niatku untuk membuat bakpao. Apa hubungannya? Sama-sama “prakarya anak bangsa” hahaha


Sebenarnya sudah lama aku ingin mencoba membuat bakpao. Sudah tertunda dua bulan, tepung terigu pun sudah menganggur lama di lemari. Alasan cliche; gak mood. Ketika beberapa hari lalu berbelanja ke pasar, aku sudah membeli kertas roti sebagai alas bakpao. Jadi sudah siap-siap, apabila moodnya datang, bahan-bahannya sudah siap semua. Ternyata, si mood datangnya siang ini. Impulsif, as always.


Resep Bakpao


Selesai ngobrol via telepon dengan Papi Mami, hal pertama yang aku lakukan adalah menggoogle resep bakpao. Setelah memilih-milih, aku memutuskan memakai resep dan cara pembuatan bakpao sebagai berikut: 


Bahan-bahan: 

250 gram tepung terigu protein rendah (Cap Kunci Biru)

1 sdm gula pasir

150 mL air (suhu ruang)

1 sdm mentega putih (aku pakai margarine biasa)

1 sdt ragi (aku pakai Fermipan)

½ sdt garam 

Bahan isian (mesis, selai, keju, atau tumisan daging)


Alat-alat: 

Spatula

Wadah tempat mencampur adonan

Alas silikon (opsional)

Penggiling adonan (opsional)

Kukusan

Kain bersih


Cara Membuat:

  1. Campurkan tepung terigu (diayak) dan ragi. 

  2. Campurkan air dan gula pasir, aduk sampai gula larut.

  3. Masukkan larutan air gula ke dalam campuran tepung dan ragi sedikit-sedikit, sambil diaduk dengan spatula sampai merata.

  4. Setelah tercampur rata, uleni adonan sampai kalis. Bisa dilakukan di wadah tadi, atau dengan alasan silikon (silicon mat). Sebenarnya bisa menggunakan media apa saja, selama permukaannya cukup licin dan bersih. Menguleni adonan dilakukan dengan gerakan seperti mencuci pakaian. Lakukan kurang lebih selama 15 menit, atau sampai adonan kalis. Adonan telah kalis apabila adonan tidak lagi menempel pada wadah, terlihat padu, terasa mantap, kenyal, dan gampang dibentuk.

  5. Adonan yang sudah kalis dibagi menjadi delapan atau sepuluh bagian, sesuai selera. Bulat-bulatkan, tutup dengan kain bersih supaya tidak mengering.

  6. Ambil satu bulatan, pipihkan dengan penggiling adonan (rolling pin). Karena tidak punya, aku menggunakan botol kaca yang sudah dicuci bersih permukaannya. Lalu, dengan tangan, pipihkan bagian tepi adonan, dan bagian tengah dibiarkan tetap tebal. 

  7. Isi bagian tengah adonan dengan bahan yang disukai. Aku menggunakan mesis Ceres, keju, dan selai mixed berry sebagai isian. Disesuaikan dengan isi kulkas atau bahan yang tersedia saja.

  8. Tutup adonan, bulatkan dengan hati-hati. Beri alas kertas roti. Kalau tidak ada kertas roti, kertas cupcake juga bisa.

  9. Susun adonan bakpao di wadah kukusan. 

  10. Lakukan langkah tersebut untuk seluruh bulatan. 

  11. Setelah selesai, tutup wadah kukusan dengan kain bersih, biarkan selama 15 - 20 menit, tergantung cuaca ketika membuat. Apabila cuaca panas atau hangat, 15 menit sudah cukup. 

  12. Siapkan kukusan, beri air kurang lebih 1L. Tidak perlu banyak, pastikan saja jumlah cukup untuk mengukus selama 10 menit. Panaskan kukusan sampai air mendidih sempurna.

  13. Letakkan wadah di atas kukusan, lapisi tutup kukusan dengan kain bersih supaya uap air tidak menetes ke atas adonan.

  14. Kukus dengan api sedang selama 10 menit. 

  15. Setelah 10 menit, matikan api kompor. Biarkan kukusan tetap tertutup selama lima menit. 

  16. Bakpao siap disantap.


Resep dan cara pembuatannya bisa dilihat di video ini (sumber: YouTube).





Pengalaman Pertama Membuat Bakpao


Pada dasarnya aku memang senang memasak (tapi tidak senang mencuci piring wajan dan teman-temannya). Aku bahkan sempat berjualan brownies selama beberapa bulan setelah lulus kuliah. Selama hidup merantau, aku juga sering memasak sendiri. Pernah mencoba memasak tongseng, namun menu andalan adalah ikan kukus, gampil surampil! Sekali pernah juga mencoba memasak kue choco lava. Tetapi seumur-umur, ini adalah pengalaman pertamaku membuat bakpao sendiri.


Kalau biasanya aku menggunakan mixer, maka sekali ini, adonan harus diuleni secara manual. Seperti banyak hal lain di atas bumi ini, ternyata menguleni adonan pun memang membutuhkan keahlian yang datang dari pengalaman. 


Aku sempat merasa panik ketika setelah mengulen 15 menit, adonanku tidak menunjukkan tanda-tanda kekalisan sama sekali. Masih menempel di wadah dan tanganku. Sempat galau juga, sedih. Masa’ harus dibuang sih adonannya. Karena adonan yang ‘cair’, tidak akan menghasilkan bakpao yang utuh. Lalu aku menggoogle lagi, bagaimana cara mengatasi adonan yang tidak kalis. 


Caranya ada dua. Pertama, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit, sambil terus diuleni, sampai adonan kalis. Kedua, olesi tangan dengan margarin, supaya adonan tidak menempel di tangan. Puji Tuhan, setelah empat kali menambahkan kurang lebih 1 sdm tepung, akhirnya adonanku kalis juga dan siap untuk dibagi lalu diisi. YAY!


Pelajaran Hari Ini


Ada beberapa tips yang aku dapatkan dan pelajari selama membuat bakpao:


  1. Pastikan ragi yang digunakan aktif. Apabila ragi masih baru dibuka, biasanya ragi masih aktif. Tetapi apabila kita sudah memakai sebagian ragi sebelumnya, perlu dipastikan dulu apakah ragi yang tersisa masih aktif. 

Caranya adalah dengan mencampurkan ragi (banyaknya sesuai resep) dengan 50 mL air hangat dan 1 sdt gula (disebut campuran biang). Setelah dicampur, tutup wadah lalu biarkan selama 15 menit. Apabila campuran biang kemudian berbusa naik, berarti ragi masih aktif, dan campuran biang dapat langsung digunakan pada adonan. Apabila tidak, maka ragi sudah tidak aktif dan tidak dapat digunakan lagi. Lengkapnya bisa dilihat di video ini.


  1. Aku mencari tahu kenapa adonanku lama sekali kalisnya. Disinyalir, air yang kugunakan terlalu banyak. Kembali lagi, ini tergantung pengalaman. Tipsnya, air dimasukkan sedikit-sedikit sambil mencampur adonan. Jadi banyaknya air yang dibutuhkan tidak selalu persis dengan resep, karena hal ini juga tergantung dari jenis dan kualitas tepung.
    Cara menyiasatinya adalah dengan menambahkan terlebih dulu 70% air dari resep yang ditentukan ke dalam adonan (tetap dimasukkan sedikit demi sedikit). Lalu amati selama proses mengulen.  Apabila adonan sudah tercampur dengan baik, berarti air tidak perlu ditambahkan lagi, walaupun belum habis sesuai resep. Apabila air sudah terlanjur dimasukkan semua, maka bisa menggunakan cara seperti kusebutkan di atas, yaitu menambahkan tepung, sampai adonan kalis.

  2. Ada beberapa cara yang harus dilakukan supaya adonan bakpao mulus. Pertama, gula dilarutkan dengan air sebelum dicampur ke adonan. Kedua, ayak tepung terigu sebelum digunakan supaya tidak ada bagian yang bergerindil. Ketiga, teknik mengulen juga menentukan mulus tidaknya adonan. Ini membutuhkan pengalaman tentunya. Istilahnya mah, tergantung tangan.


  1. Mentega putih digunakan untuk mendapatkan warna bakpao yang putih bersih dan cantik. Berhubung tidak punya mentega putih, aku menggunakan margarine biasa. Secara rasa tetap enak dan warnanya juga tetap bagus; tidak putih bersih tetapi broken white. 


  1. Karena iklim di negara +62 cenderung panas atau hangat, maka sebaiknya menggunakan air dingin. Supaya gula larut, gunakan sedikit air panas atau hangat, sampai larut, lalu tambahkan air dingin. Apabila air terlalu hangat, maka ragi akan terlalu cepat mengembang. 

  2. Jangan terlalu lama mendiamkan adonan (overproofing), kalau terlalu lama, bakpao akan mengkerut ketika dikukus. Semakin hangat/panas cuaca, semakin singkat waktu untuk proofing. 

  3. Ketika bakpao sudah masak, jangan langsung membuka tutup kukusan. Nanti bakpaonya ‘kaget’ lalu mengkerut. Buka sedikit penutup, biarkan uap keluar melalui celah. Kalau aku, karena kain tidak menyatu dengan tutup kukusan, dan bahannya cukup tebal , maka setelah matang, tutup kukusan dibuka, tetapi kain dibiarkan tetap menutup bakpao selama lima menit. 



Adonan Siap Untuk Dikukus (dok.pribadi)


Bakpao Baru Matang (dok. pribadi)


Alas yang bisa dikupas dengan gampang sebagai indikasi adonan bakpao berhasil. YAY!
(dok. pribadi)

Bakpao Isi Coklat. Yummy... (dok.pribadi)

Menyenangkan rasanya menikmati bakpao buatan sendiri. Bentuknya sih belum layak pamer, tetapi not bad lah untuk percobaan perdana. 


Memasak itu lagi-lagi soal perasaan; membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Dengan semakin banyak latihan, niscaya hasilnya akan semakin memuaskan. 




Read more…

October 27, 2020

Tantangan yang Menyenangkan

sumber: drakorclass.com


Tadinya...

Aku tidak pernah merasa bisa menulis. 

Ketika SMP, Guru Bahasa Indonesia memberikan tugas menulis cerpen. Tugasnya per kelompok. Jadi cerpen-cerpen tadi dibundel menjadi satu buku. Tentu saja aku mengumpulkan tugas itu pada waktunya. Apakah aku berhasil menulis cerpen? Hmm... aku berhasil mengetiknya... mengetik ketika Papiku membacakan cerpen karangannya hihi

Ketika SMA, sebagaimana kebanyakan abege seusiaku, aku menulis buku harian atau diary. Cukup sering juga aku menulisnya. Hampir setiap hari. Isinya tentang kejadian sehari-hari, dan, tentu saja, tentang anak lelaki. Aku tidak gampang menceritakan apapun kepada siapapun, sehingga buku harian adalah jalan paling aman. Aman?? Ternyata tidak juga! Teman sebangkuku pernah mencuri buku harianku karena dia penasaran dengan isi hati dan kepalaku. Dia mengaku sebulan kemudian. Sambil minta maaf dia bilang, "Habis kau tidak pernah mau cerita siiihhh...." Hahahaha... Oh masa muda... betapa lucunya. 

Ketika kuliah, aku masih rajin menulis buku harian. Dan anak lelaki itu, yang namanya tidak perlu disebut, menjadi topik tetap di buku harianku bahkan sampai kuliah tahun pertama... atau kedua... ya sekitar itu lah. Aku masih simpan semua buku harian itu, sampai akhirnya pulang kembali ke Medan. Kalau ditanya sekarang, entah dimana lah sekarang rimbanya buku-buku harianku itu.

Akhir tahun 90an, tahun kedua perkuliahan, aku mengenal dunia internet, khususnya mIRC. Aku mengenal banyak sekali teman-teman baru, dengan berbagai tingkah polah, pendidikan, dan profesinya. Sungguh aku melihat 'keajaiban' dunia dalam bentuk lain hahaha

Awal tahun 2000, sekitar 2001 2002 mungkin, muncul tren yang namanya blog. Berhubung komunitasku adalah manusia-manusia dunia maya, tentu saja aku pun terkena dampak tren ini. Dua orang sahabat mIRCku, bluem00n dan grenluv (tentu saja itu nickname mereka), sudah punya blog, dibuatkan oleh gebetan masing-masing (haduu haduuu.... berasa masuk pusaran waktu gak sih....) Secara aku tak punya gebetan ketika itu, aku pun membujuk salah satu teman untuk membuatkanku blog. Maka resmilah pada bulan Juli 2002, blog pertamaku mengudara. Sejak itu aku rutin menulis di blog, dan tidak lagi menulis buku harian. 

Aku menulis di blog hampir setiap hari, paling tidak sekali seminggu. Blogku berisi kejadian sehari-hari. Kejadian apa, di mana, dan dengan siapa. Sesekali isinya adalah umpatan atau luapan kekesalan. Bagian yang ini, selalu anonim. Baik detail kejadian apa, di mana, dan dengan siapa. Saking anonimnya, ketika membaca beberapa postinganku di masa itu, aku sama sekali tidak punya clue apa yang membuat aku misuh-misuh sampai segitunya. 

Lewat dunia blog ini aku mengenal teman-teman baru lagi. Di masa itu, banyak yang mencantumkan link 'teman-teman' blognya di bagian side bar. Gini-gini, link blogku pernah tercantum di blog nya Raditya Dika lho... Bukan karena dia suka baca tulisanku, tetapi emang kebiasaan aja dia menambahkan link setiap orang yang meninggalkan komentar di blognya :p

Ketika itu aku menulis untuk diri sendiri. Aku tidak pernah menulis supaya dibaca orang lain. Sehingga ketika ada seorang temanku mengaku membaca satu postinganku lalu membaca seluruh postinganku sebelumnya, aku jadi malu hahaha Malu karena menurutku isinya ntahapa! Ya namanya pun menulis buat diri sendiri... Tapi terselip rasa senang dan bangga juga. Wah... tulisan aing ada yang baca euy... hihihi... Kemudian menulis pun terasa lebih seru dan menyenangkan.

Setelah lulus dan pindah ke Medan, aku mulai jarang menulis di blog. Selama tahun 2005, aku hanya menulis 5 kali. Selama tahun 2006, hanya 2 kali. Setelah itu, blogku pun mati suri. Sempat mencoba memulai menulis lagi dengan membuat akun blog baru tahun 2008. Dalam hitungan bulan, mati suri tanpa meninggalkan kesan, karena semua tulisan hanya nangkring di draft. 


Kemudian...

Beberapa kali aku mencoba menulis lagi di blog. Saking seringnya, bahkan aku sempat menamai blog ku "50 First Posts". Gagal maning gagal maning. 
Dan ketika menuliskan ini, aku baru menyadari bahwa, selain untuk keperluan pekerjaan, aku tidak pernah menggunakan media menulis lain, selain buku harian dan blog.  

Tidak tahu kenapa, tahun 2019, aku membaca postingan seorang teman kostku ketika di Bandung tentang 30 Hari Bercerita (30HBC)  di Instagram. Aku tertarik untuk ikut. Setelah bertanya kepadanya, aku pun memutuskan untuk ikut. Padahal kan merasa gak bisa nulis ya... udah gitu gak rajin nulis ya... Trus? Ntahlah... pengen ikut aja gitu. Saya mah gitu anaknya... impulsif.

Sekali ini, aku menulis dengan sadar bahwa tulisanku bisa diakses oleh lebih banyak orang, paling tidak oleh teman-temanku yang terhubung di Instagram. Bukan hanya teman, tapi juga sanak saudara. Menulis pun jadi lebih berhati-hati. Tidak hanya untuk event 30HBC saja sih, tetapi secara umum aku memang tidak suka menulis hal-hal yang terlalu pribadi di ruang publik. 

Ketika itu aku kembali menemukan keseruan dan kebahagiaan menulis. Tidak ada syarat atau bentuk tulisan tertentu yang harus diikuti dalam 30HBC. Sesekali admin akan memberikan tema, atau template yang harus kita ikuti. Itu juga kalau mau. Intinya mah, mari menulis bersama-sama selama 30 hari pertama di awal tahun. 

Setelah event 30HBC selesai, aku kembali berhenti menulis. Benar-benar berhenti. Tidak ada blog, tidak ada buku harian, tidak ada apapun. Postingan medsos pun hampir tidak ada. Kenapa? Just because. Hashtag impulsif.

Sekarang...

Tahun 2020 ini adalah tahun paling produktif buatku dalam hal menulis. Sungguh suatu pencapaian yang tak pernah terbayangkan. 

Di awal tahun ini, aku kembali ikut event 30 HBC. Kemudian seorang teman kost yang lain, Kak Risna, mengajakku untuk bergabung di Komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP). Kata kk Risna, dia melihat potensiku dalam menulis. 

Awalnya aku ragu, takutnya tidak terikuti lalu mandeg di tengah jalan. Malu-maluin aja. Tetapi tahun 2020 ini adalah tahun dimana aku memulai banyak sekali hal baru. Merantau, hidup di kota yang baru, pekerjaan baru. Jadi kenapa tidak? Maka aku pun bergabung dengan KLIP.

Tidak seperti sebelumnya, bergabung di KLIP membuat aku harus mengikuti beberapa aturan main, karena dalam komunitas ini berlaku sistem "award and punishment". "Award"nya adalah badge Good - Excellent - Outstanding, "punishment"nya adalah sistem gugur. 

Ternyata sistem "award and punishment" ini cukup ampuh buatku. Beberapa kali aku berhasil memperoleh badge Outstanding, walaupun seringnya badge Good atau Excellent. Bahkan pernah satu kali tidak memperoleh badge apapun, karena tidak mencukupi jumlah minimal postingan. Rasanya malu-maluin aja. Kalimat saktinya adalah: "Masa' menulis 10 kali dalam sebulan aja 'gak bisa sih?" Kalau yang sekarang, kalimat saktinya adalah: "Masa' menulis 10 artikel dalam sebulan, yang masing-masing minimal 300 kata, 'gak bisa sih?" 

Dari komunitas KLIP, aku bertemu dengan teman-teman, para wanita hebat, yang memiliki hobi yang sama, yaitu menonton drama Korea. Ketika banyak sentimen negatif tentang hobi yang satu ini, kami justru menemukan banyak inspirasi dan ilmu yang bisa didapat dari drama Korea, yang kami salurkan dalam bentuk tulisan. Dari ide dan wacana iseng-iseng, kami pun akhirnya membuat blog bersama, yang diberi nama Drakor Class, yang resmi mengudara pada tanggal 10 Oktober 2020. Cerita selengkapnya boleh dibaca di sini.

Semenjak adanya Drakor Class, aku berusaha menulis dengan lebih teratur dan terstruktur. Isinya juga tidak boleh sembarangan, karena ada nama bersama yang disandang. Aku juga (masih harus) belajar banyak soal pengaturan tampilan suatu tulisan, mulai dari penempatan gambar, caption, dan lain-lain. Pengetahuanku masih jauh sekali dari teman-teman di Drakor Class, yang sudah punya jam terbang tinggi di dunia tulis-menulis dan blog. Aku seperti ikan kecil di kolam yang besar, yang dipenuhi ikan besar, yang siap membantu dan menyemangati si ikan kecil yang malas berenang ini :p

Sekarang aku menulis bukan lagi hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Tulisan menjadi salah satu cara berbagi berkat, berbagi manfaat, berbagi informasi, kepada orang lain yang membacanya. 

Sekarang menulis menjadi suatu tantangan. Tantangan yang menyenangkan.

Selamat Hari Blogger Nasional! 

Read more…