Showing posts with label KLIP Writing Challenge. Show all posts
Showing posts with label KLIP Writing Challenge. Show all posts

September 7, 2020

Serupa Tapi Tak Sama

Penulis drama Korea pada umumnya punya kreatifitas tanpa batas. Apa aja bisa dijadikan cerita. Tokoh-tokohnya bisa datang dari berbagai latar belakang pekerjaan, bangsa, dan budaya. Bahkan bisa juga datang dari planet lain atau dunia lain. Dunia paralel, bersinggungan, sampai tegak lurus pun bisa mereka ciptakan. 

Selain itu, industri perfilman Korea Selatan juga sangat produktif. Bahkan di masa pandemi ini, bisa dikatakan setiap bulan selalu ada judul drama baru yang tayang. Dalam setahun, bisa ada puluhan drama baru yang diproduksi. Jadi wajar saja, walaupun para writernim itu sungguh kreatif, tetap saja ada banyak drama-drama Korea yang memiliki kesamaan atau kemiripan tema, 

Belum banyak koleksi drama Korea yang kutonton sejak 2019. Ya namanya juga penonton (dan penulis) un-ambisius. Binge watching cuman mampu dijabanin weekend, dari pagi sampai sore. Itu pun kalau lagi mood. Sudah lewat lah masa-masa berjaya ketika raga masih mampu binge watching 2 x 24 jam. Sekarang, binge watching pangkal kapal oleng dan masuk angin. Dari koleksi yang sedikit itu, ada dua drama yang memiliki tema serupa, yaitu “Her Private Life” (2019) dan “What’s Wrong With Secretary Kim?” (2018) Kebetulan yang menjadi lead female dalam kedua drama tersebut adalah aktris yang sama, Park Min Young.


Poster Drama "Her Private Life" dan "What's Wrong With Secretary Kim?"
(sumber: Wikipedia)


Drama HPL dan WWWSK sama-sama bergenre romance comedy. Untuk seorang romance junkie, menonton kedua drama ini sungguh memuaskan jiwa, karena bergelimang kisah kasih asmara. 


Keduanya mengisahkan hubungan asmara antara rekan sekerja, yang akibat pekerjaan membuat mereka sering bersama-sama kemudian jatuh cinta. Pada HPL, Ryan Gold (Kim Jae Wook) adalah manajer sebuah galeri seni, dan Deok Mi adalah kuratornya. Sedang pada WWWSK, Lee Young Joon (Park Seo Joon) adalah Vice President dari sebuah perusahaan besar, dan Kim Mi So adalah sekretarisnya. Tidak hanya tokoh utamanya, rekan-rekan sekerja mereka yang lain juga terlibat kisah asmara, yang menjadi pemanis dalam kedua drama. 


Para tokoh utama dalam kedua drama sama-sama mengalami trauma masa kecil, yang terus terbawa hingga mereka dewasa. Ryan kecil tidak bisa mengingat wajah ibu kandungnya. Ia hanya bisa merasakan sesuatu yang magis, sesuatu dari ingatan masa kecilnya, ketika melihat lukisan karya Lee Sol. Deok Mi mengalami trauma akibat kecelakaan di masa kecil yang merenggut nyawa adiknya. Akibatnya, secara tidak sadar Deok Mi menghapus masa sebelum kecelakaan itu dari memorinya, sehingga Deok Mi tidak ingat kalau dia pernah punya seorang adik. 


Young Joon dan Mi So kecil sama-sama menjadi korban penculikan dari seorang wanita jahat. Selama mereka disekap, Young Joon selalu menghibur dan melindungi Mi So. Ketika dewasa, mereka sama-sama mengalami trauma. Young Joon yang ‘phobia’ dengan sentuhan, dan Mi So yang phobia laba-laba.  


Pertemuan mereka di masa dewasa pada akhirnya mengembalikan memori dan melengkapi potongan-potongan puzzle yang hilang dalam hidup mereka. Mereka mampu menghadapinya karena mereka sudah punya teman untuk berbagi. Intinya, mereka saling menyembuhkan.


Walaupun WWWSK telah lebih dahulu tayang, namun aku lebih dahulu menonton HPL, lalu terserang dejavu parah, lalu jatuh cinta ‘malabab’ sama Kim Jae Wook. Mungkin kalau kondisinya dibalik, bisa jadi ngebucinnya jadi ke Park Seo Joon yak.. haha Ah tapi nggak juga.. Memang banyak persamaan antara kedua drama tadi, tapi tetap saja, yang serupa itu pasti tidak sama. 


Pada kedua drama ini, para tokoh utamanya adalah teman masa kecil. Ini salah satu ke-klise-an yang paling sering ditemukan dalam drama Korea. Bedanya, di WWWSK, Young Joon sudah mengenali Mi So sejak awal. Bahkan Young Joon memang dengan sengaja melacak keberadaan Mi So. Ketika Mi So melamar ke salah satu perusahaan milik keluarga Young Joon, ia malah diminta untuk menjadi sekretaris Vice President, padahal Mi So tidak punya pendidikan dan pengalaman yang sesuai. Mula-mula Mi So kesulitan menjalankan tugasnya, tapi kalimat Young Joon di masa awal yang berat itu membuat Mi So termotivasi, Mi So terus belajar dan berusaha, sehingga akhirnya ia berhasil menjadi sekretaris yang diandalkan penuh oleh Young Joon. 


Sementara pada drama HPL, Ryan Gold dan Deok Mi pada mulanya ‘bermusuhan’. Ketika pemilik galeri meletakkan jabatan sebagai manajer, Deok Mi berharap dia lah yang mendapatkan posisi itu. Ternyata pemilik malah merekrut seorang seniman dari Amerika. Di masa awal, mereka sempat berselisih paham sampai-sampai Ryan memecat Deok Mi. Sadar dia membutuhkan keahlian Deok Mi, Ryan pun membujuk Deok Mi untuk bekerja kembali di galeri. Kemudian karena kepentingan pekerjaan, Ryan dan Deok Mi pura-pura menjadi pasangan, dan akhirnya mereka benar-benar saling jatuh cinta, dan tidak mau lagi pura-pura, tapi menjadi pasangan beneran. Setelah mereka menjadi pasangan, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya mereka adalah teman masa kecil. Yang duluan menyadari justru orang-orang di sekitar mereka, yaitu orang tua Deok Mi dan Eun Gi, “kembaran” Deok Mi.   


Ternyata dari tema yang serupa, detail penyajiannya bisa berjuta rupa. Walaupun kisahnya dibelokkan ke kiri lalu ke kanan lalu putar balik kemudian lurus, yang namanya kisah cinta wajib harus mesti bikin bahagia. 


Read more…

August 26, 2020

Gelombang Hallyu di Hatiku

Aku mengenal drama Korea semenjak awal tahun 2000. Sebenarnya bukan spesifik menggemari drama Korea sih… lebih tepatnya ketika itu aku dan teman-teman kost di Bandung ikut gelombang trend “Meteor Garden” dengan F4 nya. Masih ingat ketika itu ikut daftar antrian meminjam CD Meteor Garden, milik kakak seorang teman, demi bisa menonton versi aslinya. Asli dalam arti tidak di sulih suara ke dalam bahasa Indonesia. 

Menyoal urusan sulih suara ini, menurutku tidak semua film enak ditonton atau didengarkan tidak dalam bahasa aslinya. Apalagi kalau suara aktor atau aktris nya tidak cocok dengan karakter tokoh yang diperankan suaranya. Rasanya janggal. Ada sih beberapa yang aku suka versi sulih suaranya, antara lain beberapa kartun Jepang seperti Doraemon dan Sailormoon, kartun Spongebob Squarepants, telenovela sampai tahun 2000an (seperti Betty La Fea, Alicia, Maria Belen). 

Khusus untuk telenovela Asia, mulai dari Jepang, Thailand, Korea, Mandarin, aku jauh lebih bisa menikmati bila menontonnya dalam bahasa asli. Tentu saja dengan terjemahan… Yasallam kalau gak pakai terjemahan. Sudah bisa dipastikan menontonnya mirip dengan anak kecil yang gak bisa baca terus sok pegang buku. Liat gambar doang hihihi


Ok kembali ke topik.


Di jaman itu, aku hanya menonton dua drama Korea secara lengkap, yaitu "Endless Love/Autumn in My Heart" (2000) dan (sepertinya) "Friends" (2002). Ada beberapa yang lain, seperti "Hotelier" (2001) dan "Winter Sonata" (2002), tetapi aku tidak menonton dengan lengkap. Ketika itu memang belum berminat saja mungkin ya…


Sebelum aku menyatakan ‘comeback’ ke dunia drakor, sebenarnya sebelumnya teman-temanku sudah sering banget membahas berbagai drama Korea. Kalau yang mendengar bahasan mereka tidak mengikuti drakor, pasti akan mengira mereka sedang membahas suatu kejadian yang nyata. Mungkin akan mengira mereka sedang menggunjingkan sepasang kekasih atau sebuah keluarga. Padahal itu lagi ngomongin drakor doang! Tapi waktu itu aku belum tertarik sama sekali. 


Akhir Februari 2019, tiba-tiba aku kepengin aja lagi nonton drakor. Benar-benar impulsif. Nanya ke bLub, temanku yang drakorian (terlihat nyata dari berbagai postingan di medsos). Mula-mula, sarannya adalah “Jangan dicoba, ntar candu!” Namun aku yakinkan gak bakalan candu. Dan benar saja sih, sampai sekarang aku masih pada level sangat menikmati tapi tidak candu drakor. bLub menyarankan aku menonton “My Love From The Star” (2013-2014). Kemudian dilanjut lagi dengan judul-judul lainnya, sampai sekarang. Dan sejak saat itu pula, aku mulai ikut bergabung dengan teman-temanku ketika membahas drakor. 


Dua orang di antara teman-teman sesama drakorian ini, ternyata adalah penggemar KPop. Sebut saja mereka Matahari dan Bulan. Ketika membahas KPop, mereka lebih gegap gempita lagi. Wajah-wajah sumringah penuh ke-halu-an. Aku pun jadi penasaran lagi. Kuperhatikan medsos kedua temanku ini penuh dengan postingan tentang BTS. Ternyata mereka berdua adalah ARMY alias fans nya BTS. Mereka juga ikut acara-acara gathering ARMY setempat, nonton bareng ARMY, dan sejenisnya. Apalagi Bulan, modal banget jadi ARMY. Bulan sampai bela-belain menonton konser BTS di Singapore, dan punya koleksi album serta merchandise asli BTS. 


Sebenarnya keberadaan KPop di Indonesia udah dari kapan tahu. Boyband Super Junior sepertinya sudah langganan datang ke tanah air. Bahkan BTS sudah pernah konser di Jakarta tahun 2017. Tetapi ya memang aku gak berminat saja ketika itu.


Ada satu momen lagi yang bikin aku penasaran sama KPop. Ketika itu aku dan teman-temanku merayakan ulang tahun salah satu teman dengan karaokean. Lalu saat tiba gilirannya, Matahari menyanyikan lagu-lagu Blackpink. Fasih aja dia nyanyi dalam bahasa Korea, ditambah ngikutin koreo mereka. 


Maka aku mulai cari-cari tentang KPop, khususnya BTS, Blackpink, dan, lagi-lagi atas saran bLub, EXO. Selain nonton Music Videonya, aku juga menonton klip-klip buatan fans mereka. Setelah menonton banyak video dan mendengarkan lagu-lagu, dan juga membaca kisah-kisah tentang grup KPop, ternyata aku paling suka dengan BTS. Seperti yang kutuliskan pada postinganku yang ini, mereka adalah bukti nyata usaha dan kerja keras tidak mengkhianati hasil. 


Kesukaan ku pada KPop tidak terbatas pada boyband saja. Aku juga suka Zico dan beberapa penyanyi yang kukenal dari lagu mereka yang menjadi soundtrack drama, seperti Lee Chan Sol, Sondia, dan Kim Feel. 


Penikmat drakor, penyuka KPop, punya bias aktor maupun KPop idol, suka tiba-tiba ngomong “jinjja” dan “daebak”... Hmm, udah bisa dibilang resmi menjadi ‘korban’ hallyu wave dong yaa.... 𝩀


Read more…

August 22, 2020

BTS - Tujuh Jagoan "Anti Peluru"

Dulu, aku merasa heran ketika menonton sebuah liputan di infotainment tentang JKT48, sebuah grup beranggotakan gadis-gadis imut Indonesia dan Jepang beraliran JPop. Yang mengherankan bukan 30-an orang membernya dengan talenta yang luar biasa. Tetapi para wota atau fans mereka yang juga luar biasa. Luar biasa fanatiknya! 

Jadi infotainment tersebut sedang meliput Theater JKT48, sebuah teater yang secara eksklusif menjadi tempat pertunjukan JKT48 dan ‘sister group’ mereka. Ketika diwawancara, salah satu wota mereka bilang kalau dia menonton setiap pertunjukan JKT48 di teater itu. Bahkan kadang-kadang 2 pertunjukan dalam satu hari. Belum lagi yang membeli setiap album mereka, bahkan memborongnya, demi mendapatkan tiket Handshake Event, demi bisa bertemu langsung dan berinteraksi dengan para member JKT48. Belum lagi yang mengumpulkan berbagai merchandise original JKT48. Belum lagi yang menghafal setiap lagu mereka, lengkap dengan “chanting”nya. 

Para wota sejati ini bukan gadis kecil imut dan lucuk. Tapi mereka adalah pria-pria yang tampak gahar, yang tampilannya lebih mirip fans fanatik salah satu klub bola di negeri ini. Lebih terlongo lagi ketika aku mendengar pengakuan salah satu wota sejati ini. “Mendengarkan lagu-lagu JKT48, melihat mereka perform, gw merasa masalah gw ilang dan hidup jadi indah”. Ketika itu, aku cuman ngekeh mencibir, sambil berkata dalam hati, “Cemm betuuul ajaa….”


Lama sesudah itu, tepatnya tahun 2019. Ketika itu aku baru-baru saja comeback ke dunia drakorian. Suatu ketika, aku memperhatikan medsos dua orang teman, yang juga penggemar drakor. Mereka sering kali memposting sesuatu tentang BTS, dan kalau sudah ketemu, mereka akan membahas BTS dengan sangat seru nya. Aku jadi penasaran, siapa sih BTS ini? Lalu aku mulai mencari tahu tentang BTS, lagu-lagu dan kisah perjalanan karier mereka. 


BTS adalah kependekan dari Bangtan Sonyeondan, yang secara harafiah berarti “Bulletproof Boy Scouts”. Grup boyband KPop bentukan agensi kecil bernama Big Hit Entertainment yang beranggotakan tujuh orang pria muda Korea, yaitu Kim Seok Jin (Jin), Min Yoon Gi (Suga), Jung Ho Seok (J-Hope), Kim Nam Joon (Rap Monster - RM), Park Ji Min (Jimin), Kim Tae Hyung (V), dan Jeon Jung Kook (Jungkook - JK). 


Penampilan BTS pada saat debut tahun 2013
JK - RM - Jimin - JHope - Jin - Suga - V
(sumber: http://hearty-sweetheart.blogspot.com/)


Grup ini memulai debutnya di tahun 2013. Sejak saat itu, mereka telah menghasilkan setidaknya 23 album (termasuk mini album dan Japan version), serta memperoleh banyak penghargaan dan berbagai prestasi di bidang musik. Perjalanan karier mereka tidak berjalan mulus begitu saja, tapi melalui begitu banyak tantangan. Namun, mereka berhasil mengatasinya bersama-sama sebagai sebuah grup, sehingga saat ini, mereka menjadi grup boyband yang paling sukses dan yang paling berpengaruh di dunia.


Lagu-lagu BTS sering kali bertemakan konflik sosial, khususnya yang sering dialami oleh anak muda seusia mereka. Misalnya lagu “N.O.” merupakan kritik terhadap sistem edukasi di Korea Selatan yang terlalu kompetitif. Lagu “Bapsae/Silver spoon/Try Hard” merupakan kritik terhadap generasi yang lebih tua, yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap generasi muda, dan mengajak generasi muda untuk menjadi diri mereka sendiri. Melalui lagu ini mereka juga mengajak kaum “silver spoon”, yaitu mereka yang datang dari keluarga pas-pasan, untuk mengejar kesuksesan kaum “gold spoon”, dengan usaha dan kerja keras. 


Tidak hanya mengkritik generasi yang lebih tua, BTS pun mengkritik generasinya melalui lagu “Spine Breaker”, yang menyindir anak muda yang memaksa orang tua mereka membelikan barang-barang mahal, supaya mereka diterima dalam pergaulan. Sesuai dengan namanya “Bulletproof” atau ‘anti peluru’, yang diartikan sebagai mereka mampu melawan dan menghadapi segala tekanan tadi, dan terus maju dengan tetap mempertahankan identitas mereka, dan menularkan konsep ini kepada para penggemarnya.


BTS ikut menulis dan memproduksi lagu-lagu yang mereka bawakan. Lagu-lagu mereka selalu memberikan semangat dan mengingatkan kita untuk tidak menyerah, memberikan inspirasi agar kita mencintai dan menerima diri kita sendiri. Seiring dengan waktu, lagu-lagu mereka semakin “dewasa” dan sarat makna. Hal ini juga sejalan dengan semakin beratnya perjuangan dan tantangan yang mereka hadapi, yang berbanding lurus dengan ketenaran yang mereka dapatkan. 


Penampilan BTS bersama beberapa artis internasional lainnya
di panggung Grammy Award 2020
(sumber: Newsweek.com)


Lagu-lagu BTS yang sarat akan makna itu tidak hanya bersumber dari pengalaman dan pengamatan mereka, namun juga dari berbagai literatur sebagai referensi. Salah satunya adalah album Map of The Soul: Persona, yang dirilis tahun 2019. Album ini terinspirasi dari buku “Jung’s Map Of The Soul: An Introduction” oleh Dr. Murray Stein. Buku ini membahas teori psikologi Carl Jung tentang lapisan-lapisan yang menjadi bagian dari identitas kita sebagai manusia, mulai dari konsep “persona”, “shadow”, hingga “ego”. Melalui album ini, BTS ingin mengangkat sebuah tema “Siapakah diri saya yang sebenarnya?”


Pada tahun 2018, BTS mendapatkan penghargaan dari UNICEF, dan mereka mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan pidato di depan Majelis Umum PBB (klik di sini untuk melihat videonya). BTS dipilih karena melalui kampanye “Love Myself”, mereka dipandang telah mendukung usaha untuk meningkatkan kesempatan dan pemberdayaan bagi anak muda. Melalui kampanyenya, BTS menyuarakan bahwa semua potensi manusia berasal dari mencintai dan menghargai diri sendiri, dimana pesan ini sejalan dengan tujuan UNICEF. 


BTS di depan Majelis Umum PBB (sumber: Cleo Sg)

Ada banyak lagu BTS yang aku suka. Saat ini aku paling suka dengan lagunya yang berjudul “Black Swan”, single pertama dari album BTS yang bertajuk "Maps of The Soul: 7". Art Film lagu “Black Swan” dibuka dengan sebuah quote dari Martha Graham, seorang penari dan koreografer asal Amerika Serikat, yaitu “A dancer dies twice -- once when they stop dancing, and the first death is the more painful.” Melalui lagu ini, BTS menyuarakan kekhawatiran mereka, bahwa mungkin suatu saat nanti mereka akan kehilangan passion terhadap musik. Simak salah satu liriknya dalam terjemahan bahasa Inggris: 

“If this can no longer resonate, No longer make my heart vibrate. Then like this may be how I die my first death. But what if that moment’s right now. Right now.”


Penampilan BTS ketika pertama kali membawakan lagu "Black Swan" secara live
dalam acara The Late Late Show With James Corden
(sumber: https://uskpopfest.com/)

Terbaru dari BTS, mereka merilis single yang berjudul “Dynamite”, yang liriknya sepenuhnya berbahasa Inggris. Sejak diluncurkan di YouTube, video musik “Dynamite” terus mencapai rekor-rekor baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah YouTube. Ketika video itu dirilis, dalam hitungan detik, video itu ditonton 3 juta orang. Dalam 21 menit, angka tersebut meroket hingga 10 juta, dan dalam 8 jam, angka tersebut makin melesat ke angka 50 juta. 


Para member BTS mengakui karena menggunakan bahasa Inggris, lagu ini membuat mereka keluar dari zona nyaman. Melalui lagu ini, mereka ingin memberikan energi dan semangat kepada para penggemar dan semua orang yang mendengarkan lagu ini. Mereka ingin menghibur dan menyenangkan para penggemarnya, dan ingin agar mereka tidak merasa sendiri di tengah situasi sulit saat ini. 


Buatku, BTS bukan sekadar tujuh pria dengan visual menawan hati dan jiwa, yang punya banyak talenta, jagoan nulis lagu dan nyanyi sambil nari tanpa kehilangan pitch. Juga bukan sekadar lagu-lagu dan video klip yang keren dan sarat makna, yang sudah pasti direncanakan dengan konsep matang dan mendetail. Walaupun belum pantas menyebut diri sebagai ARMY sejati (Adorable Representative MC of Youth -- fans club BTS), tetapi aku sangat menggemari dan mengagumi karya serta totalitas mereka sebagai seniman. Mereka adalah bukti nyata bahwa usaha dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. 


BTS ketika menghadiri Grammy Award 2020
JK - V - Suga - Jin - Jimin - RM - JHope
(sumber: Forbes)


Di masa awal aku mendengarkan lagu-lagu mereka dan menonton video klip mereka di YouTube, aku hanya bisa mengingat RM, karena RM adalah member yang paling ukuran tubuhnya paling tinggi. Tapi selain itu, aku tidak bisa membedakan yang mana namanya Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan JK. Sekarang?? Jangan tanya… Sambil merem pun aku bisa membedakan siapa yang sedang nyanyi, nge-rap, bahkan lagi ketawa! Ok lebay. 


Ketika lelah dengan rutinitas pekerjaan dan butuh mood booster, maka aku akan memasang lagu-lagunya BTS. Ketika menutup hari, sambil beristirahat aku akan menonton video-video dan variety show BTS, sebagai “my daily dose of oppa”. Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan wota fanatik tadi. Seandainya aku ketemu dengan dia, aku mau bilang, “I feel you, brother!”


Read more…

August 15, 2020

Ahjumma Idola

Kekuatan dan keunggulan drama Korea terletak pada banyak hal. Mulai dari kreativitas penulis cerita yang seakan tanpa batas, totalitas para aktor dan aktris, teknologi sinematografi yang canggih, lokasi pengambilan di negara-negara eksotis (dengan mengangkut seluruh crew!), sampai marketing yang taktis dan strategis. 

Hal yang paling aku nikmati dari setiap drama Korea adalah jalan cerita dan setting yang mendetail, serta penghayatan para pemerannya. Artinya, bukan hanya para pemeran utama, namun para pemeran pembantu pun memegang peranan penting. Mereka benar-benar berfungsi sebagai ‘support’, bersinergi bersama para pemeran utama, membangun sebuah chemistry, sehingga berhasil menyajikan drama yang merasuk hingga ke hati.

Ada beberapa aktor dan aktris senior yang langganan menjadi pemeran pembantu dalam drama Korea. Walaupun bukan pemeran utama, namun kekuatan akting mereka sungguh meninggalkan kesan. Salah satu aktris senior yang paling sering muncul dan menjadi favoritku adalah Kim Mi Kyung. 


Kim Mi Kyung - Ahjumma Idola (sumber: AsianWiki)


Karier Kim Mi Kyung di dunia akting sudah dimulai sejak tahun 1985. Ketika itu, dan hingga saat ini, Kim Mi Kyung tergabung sebagai anggota aktif dari salah satu grup teater terbesar di Korea Selatan, Yeonwoo Mudae. Tidak heran kalau ia memiliki kemampuan akting yang mengesankan. 


Kim Mi Kyung adalah salah satu aktris senior Korea Selatan yang paling aktif. Ahjumma kelahiran tahun 1963 ini telah main dalam lebih dari lima puluh drama dan film dengan berbagai peran. Publik Korea Selatan menjulukinya “The Empress”. Mungkin julukan ini diberikan karena Mi Kyung paling sering berperan sebagai ibu dari pemeran utama. 


Sebagai ibu, Mi Kyung selalu tampil sangat natural. Ibu yang cerewet, suka rese’ dan kepo dengan kehidupan asmara anaknya, dan ibu yang sangat menyayangi keluarga. 


Pertama sekali aku menonton aktingnya adalah ketika Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Deok Mi di drama Her Private Life (2019). Ibu Deok Mi sangat menentang kegiatan Deok Mi sebagai fangirl, karena Deok Mi pernah sampai terluka dan patah tangannya ketika menonton konser idolanya. Ibu Deok Mi khawatir hobi Deok Mi ini akan membuat Deok Mi sulit mendapatkan pasangan. Laki-laki mana yang mau bersaing dengan KPop idol?


Deok Mi malah membalikkan ‘serangan’ ibunya, dengan menunjukkan fakta bahwa hobi fangirling nya ini didapatkannya secara genetik. Ibu Deok Mi punya kegemaran merajut, seluruh rumah mereka dipenuhi dengan hasil rajutan ibunya, dan semenjak kecil, ibunya selalu memakaikan baju-baju hasil rajutan pada Deok Mi. 


"Haduu haduu.... cakepnya calon mantu kuu..."
Ryan Gold dan ibu Deok Mi
(sumber: http://www.whatsupkpop.com)

Adegan yang paling berkesan adalah ketika ibu Deok Mi mengaku kepada Ryan (Kim Jae Wook) bahwa foto, poster, dan segala benda tentang Cha Si An, idola Deok Mi, yang ada di segala penjuru apartemen Deok Mi, adalah miliknya. Sementara, ibu nya bahkan tidak bisa menyebutkan nama si tokoh idola itu hahaha Hal itu dilakukannya semata-mata supaya Ryan tidak ilfil kepada Deok Mi. Betapa leganya si ibu ketika Ryan ternyata tidak keberatan, bahkan hobi itu membuatnya semakin cinta sama Deok Mi. Aaawww…. so sweet kali Ryan-oppa… #bucindetected


Tokoh lain yang diperankan Mi Kyung yang juga cukup berkesan adalah sebagai Mi Sook, ibu dari Kim Ji Young dalam film Korea “Kim Ji Young: Born 1982” (2019). Mi Sook sangat bangga kepada dua orang anak perempuannya dan selalu ada untuk mereka. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah hanya dengan mendengar suara putrinya di telepon. Adegan yang berkesan buatku adalah ketika Mi Sook marah sekali kepada suaminya, yang hanya memperhatikan anak laki-laki mereka yang bungsu. Buat Mi Sook, kedua putri mereka pun berhak atas perhatian yang sama besar dan sama istimewanya, apalagi ketika itu, Ji Young sedang menderita depresi. 


Mi Sook berusaha menenangkan Ji Young, putrinya
(sumber: besoksore.com)



Ada banyak lagi drama dan film dimana Kim Mi Kyung berperan sebagai ibu. Salah satunya adalah drama yang sedang tayang, “Was It Love?” (2020), dimana Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Noh Ae Jung. Aktingnya sebagai ibu tidak usah diragukan lagi. Semoga saja setelah ini Mi Kyung dapat kesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya memerankan karakter-karakter lain.

Read more…

August 12, 2020

Moon Sang-tae, The Beautiful Soul Oppa

“Jangan menangis, Gang-tae”, kata Sang-tae sambil memeluk adiknya yang sudah banjur air mata. Layar laptop mulai tampak kabur karena aku pun otomatis banjur air mata menonton cuplikan scene penutup dari drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” (2020). Drama tentang kisah cinta sepasang anak manusia dengan tumbuh besar dengan luka batin, Moon Gang-tae dan Ko Moon-young. 


Poster Drama Korea "It's Okay To Not Be Okay" (sumber: Kpop Chart)


Moon Gang-tae (Kim Soo-hyun) dibesarkan dengan kewajiban untuk menjaga dan melindungi kakak laki-lakinya, Moon Sang-tae (Oh Jung-se), yang menderita autis. Di usia yang masih sangat muda, Moon bersaudara telah kehilangan kedua orang tua mereka. Sejak saat itu, hidup Gang-tae hanya berpusat pada kakaknya. Seumur hidupnya dia harus mengalah dan mengesampingkan kebutuhan dan keinginannya, meredam, menyimpan, bahkan memalsukan emosi demi Sang-tae, yang sangat sensitif perasaannya.  

Ko Moon-young (Seo Yea-ji) adalah seorang penulis buku cerita anak-anak yang terkenal. Moon Sang-tae adalah penggemarnya. Moon-young mengalami trauma masa kecil. Dibesarkan di sebuah rumah besar bak istana, namun dingin tanpa cinta. Ketika dewasa, Moon-young menderita gangguan kepribadian anti sosial. Bertindak semaunya, dan punya kecintaan pada benda tajam. 

Drama ini tidak lepas dari ke-klise-an drama Korea. Gang-tae dan Moon-young adalah teman masa kecil. Moon-young adalah cinta pertama Gang-tae. Sejak kematian ibu mereka, Moon bersaudara pergi meninggalkan kampung halaman, dan tinggal berpindah-pindah kota. Sampai suatu saat, setelah mereka dewasa, Gang-tae dan Moon-young bertemu kembali. 

Kisah cinta mereka dipenuhi pengingkaran dan belenggu masa lalu. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi, saling memulihkan. Gang-tae menjadi peredam (safety pin) bagi Moon-young yang emosinya meledak-ledak. Moon-young menjadi pemicu bagi Gang-tae untuk mulai berani mengekspresikan perasaan yang selama ini diredamnya. 

Kisah cinta yang berakhir manis dan bahagia. Chemistry-nya, haduh… tingkat dewa! Pemuas jiwa si penggila romansa. Namun, buatku, bintang lapangan yang sesungguhnya adalah Moon Sang-tae, the beautiful soul oppa. 

Moon Bersaudara - Sang-tae dan Gang-tae (sumber: Soompi)

Penderita autis memiliki respon yang berbeda dibandingkan orang pada umumnya. Untuk rangsangan yang sama, bisa jadi mereka sangat sensitif, atau malah tidak responsif sama sekali. Sebagai seorang penderita autis, Moon Sang-tae harus belajar mengenali bentuk-bentuk emosi yang umum itu. Ia belajar mengenalinya dari mengingat bentuk raut wajah, seperti apa itu bahagia, marah, sedih, dan sebagainya, dimana salah satu keistimewaan penderita autis adalah mereka memiliki daya ingat yang kuat. 

Sang-tae sulit berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial, sehingga sejak kecil dia jadi korban perundungan. Sang-tae dipandang sebagai si lemah yang harus selalu dijaga dan dilindungi. Tapi dalam kisah ini, justru kita bisa belajar banyak dari seorang Sang-tae.

Sang-tae tidak mengenali emosi sama seperti orang pada umumnya. Buat Sang-tae, yang ada hanyalah salah atau benar. Bohong itu salah, dan jujur itu benar. Sang-tae sangat benci dengan kebohongan, dan karena itu ia selalu menyampaikan pendapatnya dengan jujur dan apa adanya. No sugarcoating. No “spik-spik nabi”. Sang-tae hanya akan menyajikan fakta, bukan rekayasa. 

Sang-tae tidak mau menjadi beban orang lain. Dia tidak suka kalau adiknya memperlakukannya seperti anak-anak. Sang-tae tahu dia adalah manusia dewasa, dan selalu berusaha untuk mandiri. Bepergian seorang diri, melakukan berbagai pekerjaan rumah, sampai mengumpulkan uang dengan cara bekerja. Sang-tae bercita-cita membeli sebuah mobil karavan, sehingga mereka tidak perlu repot-repot packing setiap kali harus pindah kota “untuk menghindari kupu-kupu”. Bukan sekedar cita-cita lho. Sang-tae bekerja dengan data, sehingga tahu persis berapa jumlah uang yang harus dikumpulkannya. 

Sang-tae adalah seorang profesional, dan dia mencintai pekerjaannya. Sang-tae terbuka menerima kritikan atas karyanya. Dia menerima apa yang menjadi kelemahannya, dan mau belajar untuk memperbaiki kelemahan tersebut, sehingga hasil karyanya pun menjadi lebih baik. Walaupun sulit, dia tidak mau meniru karya orang lain. “Kalau meniru, berarti itu bukan karyaku yang sesungguhnya” kata Sangtae.

Sang-tae dengan berani memutuskan untuk tidak lagi melarikan diri dari kenyataan. Ia berusaha melawan ketakutan dan menghadapi traumanya. Siapapun pasti sulit melakukannya, namun Sang-tae berani memaksa dirinya untuk menemukan ‘pintu’, dan keluar dari trauma masa lalunya.

Sang-tae tidak mengerti apa itu autis. Yang dia tahu dia adalah seorang kakak yang berkewajiban melindungi adiknya dan harus dapat diandalkan. Sang-tae sayang sekali pada Gang-tae, dan dia merasa adiknya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu mereka. Walaupun Gang-tae berusaha ‘menipu’ mata kakaknya dengan selalu menutupi perasaan dengan senyum, namun mata hati Sang-tae lebih tajam. Sang-tae tahu kalau jiwa sang adik sedang sakit.  

Sang-tae sempat terlihat egois, seakan-akan dia ingin menguasai Gang-tae. Bukan itu sebenarnya alasannya. Penderita autis sulit menerima perubahan, dan dia merasakan perubahan pada Gang-tae. Lebih marah lagi ketika Gang-tae menutupinya dengan kebohongan. Dia merasa ditinggalkan. Tapi, ketika melihat Gang-tae tersenyum dalam tidurnya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dia pun mengerti bahwa sang adik bahagia. Apa yang ditakutkan Sang-tae tidak terjadi. Dia tidak kehilangan adiknya, malahan mendapatkan satu ‘adik’ lagi, yaitu Moon-young. Mereka bertiga telah menjadi satu keluarga.

Keluarga ditandai dengan foto bersama (sumber: Kanal247)

Sang-tae menunjukkan cintanya yang tulus dengan sederhana. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar. Sang-tae membagi bonus yang diperolehnya sebagai uang jajan untuk Gang-tae dan Moon-young. Padahal mungkin untuk Gang-tae, apalagi Moon-young, jumlahnya sangat kecil. Ketika Moon-young tidak mau makan, Gang-tae datang membawakan makanan kesukaannya, kemudian membujuk, bahkan ‘memperdaya’ dan menyuapi Moon-young supaya mau makan. 

Sang-tae menghormati setiap bentuk kehidupan, menyayangi benda-benda. Dia mengucapkan salam kepada semua orang yang ditemuinya, bahkan kepada tumbuhan dan hewan. 

Cinta Sang-tae adalah cinta yang membebaskan. Sang-tae menghargai adiknya sebagai pribadi yang terpisah, sebagai pribadi yang dewasa. Sang-tae tahu adiknya tidak akan pernah sanggup melepaskannya. Karena itu, Sang-tae lah yang membebaskan Gang-tae dari beban tanggung jawab atas dirinya. Caranya dengan menunjukkan kepada adiknya bahwa dia mampu mandiri. Dia sudah punya pekerjaan dan sedang membangun kehidupan. 

Ah, rasanya tak cukup kata-kata menggambarkan Sang-tae, sang pribadi yang istimewa. Tak bosan-bosan aku menonton aktingnya. Salut untuk pemerannya, Oh Jung-se, yang punya penghayatan luar biasa. 

Dari drama ini, kita bisa belajar bahwa setiap orang punya tantangan dan perjuangan masing-masing. Bahwa keluarga adalah yang terutama, dan keluarga harus bersama. Walau sering bertengkar atau berselisih paham, tapi keluarga harus saling memaafkan dan saling menguatkan.

Drama “It’s Okay To Not Be Okay” ini berakhir hari Minggu kemarin. Namun aku sudah rindu menyaksikan lagi kisah mereka bertiga. Gang-tae yang ganteng, Moon-young yang manis, dan Sang-tae yang penuh cinta. 

Read more…

August 6, 2020

Merdeka itu Terbatas

Kata yang paling sering disandingkan dengan “merdeka” adalah “hak”. Orang yang merdeka berhak untuk bicara. Orang yang merdeka berhak untuk menentukan pilihannya, berhak melakukan apa yang diinginkannya, berhak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Namun sangat jarang kata “merdeka” disandingkan dengan kata “tanggung-jawab”.

Ketika masih SMA, aku sering merasa kesal karena merasa tidak mendapatkan kebebasan seperti yang dimiliki teman-temanku. Kalau mau nonton atau jalan sama teman-teman, harus jelas pergi dengan siapa, kegiatannya apa saja, dan pulangnya bagaimana. Kalau sudah malam, tidak boleh naik kendaraan umum (taksi sekalipun); berdua saja tidak boleh apalagi sendiri. Papi akan menjemputku dimanapun aku saat itu berada. Sebagai abege, kesal kan yaa... kan pengen kaya’ teman-teman yang kaya’nya “dewasa” banget gitu... bawa kendaraan sendiri, atau naik taksi, atau apalah, pokoknya selain di antar jemput. Paling “sedih”nya lagi, suatu kali teman-teman ku pada bolos bimbel, terus pergi main. Aku kan pengen ikut juga. Tapi kalo sampai bolos bimbel, nanti kan bakal ketahuan. Pertama karena Papi menjemputku setiap sore, dan kedua, karena bimbel ku mengirimkan raport bulanan ke rumah.

Sedemikian “tidak merdeka”nya aku, sampai-sampai, ketika aku dan teman sebangku ku menetapkan kampus impian kami, dengan hati-hati dia bertanya, “Kau yakin diizinkan merantau ke Pulau Jawa??”

Berbanding terbalik dengan urusan “jalan sama teman-teman”, untuk urusan pendidikan (dan kemudian pekerjaan), Papi dan Mami memberikan kemerdekaan seluas-luasnya kepada anak-anaknya. Terserah mau kuliah di mana, kota mana, jurusan apa. Sama hal nya untuk urusan pekerjaan, terserah mau kerja di mana, dari Sabang sampe Merauke, Kutub Utara sampai Kutub Selatan.

Ketika mulai merantau, di situlah aku mulai merasakan “merdeka” yang kuidam-idamkan. Bebas mau jalan ke mall, bebas mau nonton ke bioskop, bebas perginya mau bareng siapa pun, dan bebas pulang jam berapa saja yang aku mau. Dengan catatan, selama orang tua tidak tahu hihihi

Mula-mula rasanya luar biasa. Seru! Bagaikan serial TV remaja Amerika. Tapi lama-lama aku mulai terhanyut. Saking merdekanya, aku lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan bermalas-malasan. Kemudian satu persatu teman-teman menyelesaikan masa perkuliahan mereka, sementara aku masih mengulang beberapa mata kuliah. Sampai peringatan itu datang, bahwa aku sudah mendekati batas akhir masa perkuliahan.

Di situlah aku belajar, in a hard way, bahwa merdeka itu artinya bertanggung jawab. Aku harus memperbaiki kesalahan yang kulakukan selama masa awal kemerdekaan itu. Dirusak sendiri, ya diperbaikinya juga sendiri. Sendiri dalam arti tidak pakai jalan pintas, atau koneksi sana sini, selain berusaha dan mengejar ketertinggalan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Puji Tuhan, dengan doa, usaha, dan pertolongan banyak orang, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.

Kemerdekaan itu berbeda bagi setiap orang. Buat ku, merdeka adalah bebas jalan-jalan sama teman kapan saja kemana saja dengan siapa saja. Tapi buat seorang sepupuku, merdeka itu adalah bebas mau kuliah di kota mana saja, karena ketika itu dia tidak diizinkan merantau, sehingga ketika lulus kuliah dia berusaha keras mendapatkan pekerjaan di luar kota. (Lucunya, sepupu ku ini malah sangat ‘merdeka’ untuk urusan gaul dan jalan sama teman-teman.)

Kemerdekaan itu dinamis dan ekskalatif. Hal yang kita anggap merdeka di satu masa, tiba-tiba menjadi tidak seberapa merdeka.  Kita terus menerus menginginkan yang lebih dan lebih lagi.

Kemerdekaan itu terbatas. Batasannya adalah ketika kemerdekaan kita bertemu dengan kemerdekaan orang lain. Seperti sebuah lingkaran yang saling bersinggungan. Semakin besar kemerdekaan yang kita tuntut, maka semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan agar kemerdekaan kita tidak menggangu kemerdekaan orang lain.

Apapun bentuknya, kemerdekaan yang kita miliki saat ini haruslah kita syukuri, dengan selalu berusaha untuk menjalankannya dengan bertanggung jawab.


Read more…