August 16, 2020

Pijat di Masa Pandemi

Salah satu kesukaanku adalah dipijat. Kesukaan ini bukan sesuatu yang rutin atau terjadwal. Tergantung kebutuhan juga, Kalau sedang masuk angin parah, baru pulang dari perjalanan luar kota, atau ada bagian otot ku yang tertarik atau keseleo karena saking lasaknya diri ini, maka aku segera menghubungi tukang pijat untuk datang ke rumah. Pernah juga beberapa kali aku mencoba pijat di pusat refleksi atau perawatan tubuh. Tapi aku lebih nyaman melakukannya di rumah. 

Kesukaan dipijat ini sudah berlangsung sejak lama. Waktu kecil dulu, Mami ku pasti akan memijat aku atau abangku kalau kami demam atau flu. Biasanya Mami akan membalurkan minyak dengan bawang merah ke tubuh kami lalu dipijat.     

Aku tidak ingat apakah ketika SMP sampai SMA aku sering dipijat. Waktu kuliah, beberapa kali aku memanggil mak pijat ke kos. Aku ingat ketika itu hari pertama aku mengikuti kursus mengendarai mobil. Kaki rasanya mau copot akibat selama hampir dua jam belajar menginjak pedal gas, rem, dan klos. Belum lagi stress nya karena baru kali pertama. Ketika memijat, si mak pijat bilang otot kaki sampai paha ku tegang semua seperti ditarik. 


Selama bekerja di Bireuen, aku pernah mencoba beberapa tukang pijat. Sekali, aku sedang main ke staff house pria, dan mereka sedang memanggil tukang pijat. Bapak ini tunarungu, beliau adalah salah satu penerima bantuan pada program NGO kami. Memang dasar doyan dipijat, aku pun ikut mengantri. Bapak ini keahliannya memijat refleksi, dan dia punya semacam tongkat kecil dari logam sebagai alat bantunya. Akhirnya tiba giliranku. Mula-mula masih terasa menyenangkan, sampai si bapak mulai memakai alat bantunya. Tongkat besi itu digelindingkan di tulang kering dan telapak kaki, rasanya sakit tak terkata. “Pak, udah pak, gak usah pakai itu” kataku. Si bapak tak bergeming, santai saja melanjutkan terapi nya. Akhirnya ‘derita’ itu pun berakhir. Kemudian aku ‘mengadu’ pada temanku tentang derita ku tadi. Dia tertawa dan bilang, “Bapak itu kan tunarungu, mau kamu menjerit kaya’ apa juga gak dengar dia”. #tepokjidat


Sejak tahun 2013, kami punya langganan tukang pijat namanya Bu Misna. Bu Misna bukan lagi sekadar tukang pijat, tapi beliau sudah seperti keluarga bagi kami. Kami ikut berduka ketika suaminya meninggal karena sakit. Kami ikut berbahagia ketika beliau menikahkan putrinya yang kedua, kemudian yang ketiga. Setiap Idul Fitri dan Idul Adha, juga setiap keluarga Bu Misna mengadakan syukuran, keluarga kami pasti akan mendapatkan berkat berupa kiriman lontong sayur, rendang ayam, tauco, lengkap dengan kue basah dan kue kering. Semuanya hasil masakan Bu Misna. 


Kalau soal kualitas pijatan, Bu Misna ini paling mantap, tak ada bandingnya. Segala urusan keseleo, salah urat, masuk angin, sakit perut, bisa diamankannya. Satu keistimewaan Bu Misna, setiap memijat dia akan ‘ribut’ mengeluarkan angin. Kadang-kadang ada orang yang tidak suka dan terganggu dengan suara-suara yang dikeluarkannya. Kalau aku sih tidak masalah, yang penting badanku terasa nyaman lagi.


Sejak masa pandemi, tepatnya sejak akhir Maret tahun ini, aku tidak lagi melakukan kesukaan ini. Selain aku pun menghindari kontak khususnya dengan orang asing, usaha-usaha jasa pijat seperti GoMassage dan tempat-tempat refleksi pun menghentikan operasinya. 


Hari Kamis yang lalu, aku terjatuh di depan kamar mandi. Karena buru-buru, aku tidak memperhatikan bahwa aku tidak menjejak pada keset kaki tapi langsung menginjak keramik. Akibatnya aku pun tergelincir dan jatuh terduduk. Untung saja tidak bertumpu pada lutut atau persendian lain. Tetapi bagian depan kaki kiriku memar, karena menjadi tumpuan ketika jatuh dengan cepat. Namun aku harus tetap ke kantor karena sudah ada jadwal pertemuan. 


Setelah selesai bekerja, selesai mandi (dengan ekstra hati-hati), aku mengompres kaki ku dengan es batu, lalu membalurkan minyak urut. Untung saja malam itu aku tidak demam. Aku mulai mencari jasa pijat mana yang sudah beroperasi. Akhirnya ketemu satu jasa pijat keluarga di Instagram. Para terapisnya menjalani rapid test secara berkala, dan menjalankan protokol kesehatan ketika bekerja. Testimoninya pun cukup meyakinkan. Harganya sebenarnya cukup mahal untuk ku, namun apa boleh buat, efek jatuh harus segera dibereskan. Kalau tidak, semakin lama akan semakin menyakitkan.


Karena Jumat dan Sabtu aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau dijadwal ulang, maka akhirnya aku memesan untuk sesi pijat hari ini. Senin kan libur, jadi aku punya waktu ekstra untuk istirahat. 


Sebelum pijat, aku harus menyiapkan ‘lapangan upacara’ dulu. Ini bedanya dibandingkan pijat di pusat perawatan tubuh. Kita tidak perlu menyiapkan apa-apa, bawa badan sama uang saja hehe Kamarku tidak besar, sehingga aku harus menggeser meja kerja, supaya cukup ruang untuk meletakkan kasur di lantai. 


Terapis datang lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Namanya Bu Ningsih. Beliau menggunakan masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja, dan selama bekerja tidak banyak berbicara. Untungnya hanya aku penghuni kosan, sehingga selama di pijat, aku bisa membuka jendela dan pintu kamar, memastikan udara selalu bergerak. Setelah selesai pijat, aku menyemprotkan air disinfectant ke seluruh penjuru kamar, dan membungkus semua sprei dan kain alas yang digunakan untuk dimasukkan ke laundry.


Pelan-pelan, kita akan menemukan cara baru untuk menjalankan berbagai kegiatan seperti dulu. Selama kita tetap berusaha menerapkan protokol kesehatan, menjaga kebersihan, dan mempertahankan imunitas tubuh. Kita harus beradaptasi dengan cara yang baru, cara yang benar. Karena hidup harus terus berjalan.

Read more…

August 15, 2020

Ahjumma Idola

Kekuatan dan keunggulan drama Korea terletak pada banyak hal. Mulai dari kreativitas penulis cerita yang seakan tanpa batas, totalitas para aktor dan aktris, teknologi sinematografi yang canggih, lokasi pengambilan di negara-negara eksotis (dengan mengangkut seluruh crew!), sampai marketing yang taktis dan strategis. 

Hal yang paling aku nikmati dari setiap drama Korea adalah jalan cerita dan setting yang mendetail, serta penghayatan para pemerannya. Artinya, bukan hanya para pemeran utama, namun para pemeran pembantu pun memegang peranan penting. Mereka benar-benar berfungsi sebagai ‘support’, bersinergi bersama para pemeran utama, membangun sebuah chemistry, sehingga berhasil menyajikan drama yang merasuk hingga ke hati.

Ada beberapa aktor dan aktris senior yang langganan menjadi pemeran pembantu dalam drama Korea. Walaupun bukan pemeran utama, namun kekuatan akting mereka sungguh meninggalkan kesan. Salah satu aktris senior yang paling sering muncul dan menjadi favoritku adalah Kim Mi Kyung. 


Kim Mi Kyung - Ahjumma Idola (sumber: AsianWiki)


Karier Kim Mi Kyung di dunia akting sudah dimulai sejak tahun 1985. Ketika itu, dan hingga saat ini, Kim Mi Kyung tergabung sebagai anggota aktif dari salah satu grup teater terbesar di Korea Selatan, Yeonwoo Mudae. Tidak heran kalau ia memiliki kemampuan akting yang mengesankan. 


Kim Mi Kyung adalah salah satu aktris senior Korea Selatan yang paling aktif. Ahjumma kelahiran tahun 1963 ini telah main dalam lebih dari lima puluh drama dan film dengan berbagai peran. Publik Korea Selatan menjulukinya “The Empress”. Mungkin julukan ini diberikan karena Mi Kyung paling sering berperan sebagai ibu dari pemeran utama. 


Sebagai ibu, Mi Kyung selalu tampil sangat natural. Ibu yang cerewet, suka rese’ dan kepo dengan kehidupan asmara anaknya, dan ibu yang sangat menyayangi keluarga. 


Pertama sekali aku menonton aktingnya adalah ketika Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Deok Mi di drama Her Private Life (2019). Ibu Deok Mi sangat menentang kegiatan Deok Mi sebagai fangirl, karena Deok Mi pernah sampai terluka dan patah tangannya ketika menonton konser idolanya. Ibu Deok Mi khawatir hobi Deok Mi ini akan membuat Deok Mi sulit mendapatkan pasangan. Laki-laki mana yang mau bersaing dengan KPop idol?


Deok Mi malah membalikkan ‘serangan’ ibunya, dengan menunjukkan fakta bahwa hobi fangirling nya ini didapatkannya secara genetik. Ibu Deok Mi punya kegemaran merajut, seluruh rumah mereka dipenuhi dengan hasil rajutan ibunya, dan semenjak kecil, ibunya selalu memakaikan baju-baju hasil rajutan pada Deok Mi. 


"Haduu haduu.... cakepnya calon mantu kuu..."
Ryan Gold dan ibu Deok Mi
(sumber: http://www.whatsupkpop.com)

Adegan yang paling berkesan adalah ketika ibu Deok Mi mengaku kepada Ryan (Kim Jae Wook) bahwa foto, poster, dan segala benda tentang Cha Si An, idola Deok Mi, yang ada di segala penjuru apartemen Deok Mi, adalah miliknya. Sementara, ibu nya bahkan tidak bisa menyebutkan nama si tokoh idola itu hahaha Hal itu dilakukannya semata-mata supaya Ryan tidak ilfil kepada Deok Mi. Betapa leganya si ibu ketika Ryan ternyata tidak keberatan, bahkan hobi itu membuatnya semakin cinta sama Deok Mi. Aaawww…. so sweet kali Ryan-oppa… #bucindetected


Tokoh lain yang diperankan Mi Kyung yang juga cukup berkesan adalah sebagai Mi Sook, ibu dari Kim Ji Young dalam film Korea “Kim Ji Young: Born 1982” (2019). Mi Sook sangat bangga kepada dua orang anak perempuannya dan selalu ada untuk mereka. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang salah hanya dengan mendengar suara putrinya di telepon. Adegan yang berkesan buatku adalah ketika Mi Sook marah sekali kepada suaminya, yang hanya memperhatikan anak laki-laki mereka yang bungsu. Buat Mi Sook, kedua putri mereka pun berhak atas perhatian yang sama besar dan sama istimewanya, apalagi ketika itu, Ji Young sedang menderita depresi. 


Mi Sook berusaha menenangkan Ji Young, putrinya
(sumber: besoksore.com)



Ada banyak lagi drama dan film dimana Kim Mi Kyung berperan sebagai ibu. Salah satunya adalah drama yang sedang tayang, “Was It Love?” (2020), dimana Mi Kyung berperan sebagai ibu dari Noh Ae Jung. Aktingnya sebagai ibu tidak usah diragukan lagi. Semoga saja setelah ini Mi Kyung dapat kesempatan menunjukkan kemampuan aktingnya memerankan karakter-karakter lain.

Read more…

August 12, 2020

Moon Sang-tae, The Beautiful Soul Oppa

“Jangan menangis, Gang-tae”, kata Sang-tae sambil memeluk adiknya yang sudah banjur air mata. Layar laptop mulai tampak kabur karena aku pun otomatis banjur air mata menonton cuplikan scene penutup dari drama Korea “It’s Okay to Not Be Okay” (2020). Drama tentang kisah cinta sepasang anak manusia dengan tumbuh besar dengan luka batin, Moon Gang-tae dan Ko Moon-young. 


Poster Drama Korea "It's Okay To Not Be Okay" (sumber: Kpop Chart)


Moon Gang-tae (Kim Soo-hyun) dibesarkan dengan kewajiban untuk menjaga dan melindungi kakak laki-lakinya, Moon Sang-tae (Oh Jung-se), yang menderita autis. Di usia yang masih sangat muda, Moon bersaudara telah kehilangan kedua orang tua mereka. Sejak saat itu, hidup Gang-tae hanya berpusat pada kakaknya. Seumur hidupnya dia harus mengalah dan mengesampingkan kebutuhan dan keinginannya, meredam, menyimpan, bahkan memalsukan emosi demi Sang-tae, yang sangat sensitif perasaannya.  

Ko Moon-young (Seo Yea-ji) adalah seorang penulis buku cerita anak-anak yang terkenal. Moon Sang-tae adalah penggemarnya. Moon-young mengalami trauma masa kecil. Dibesarkan di sebuah rumah besar bak istana, namun dingin tanpa cinta. Ketika dewasa, Moon-young menderita gangguan kepribadian anti sosial. Bertindak semaunya, dan punya kecintaan pada benda tajam. 

Drama ini tidak lepas dari ke-klise-an drama Korea. Gang-tae dan Moon-young adalah teman masa kecil. Moon-young adalah cinta pertama Gang-tae. Sejak kematian ibu mereka, Moon bersaudara pergi meninggalkan kampung halaman, dan tinggal berpindah-pindah kota. Sampai suatu saat, setelah mereka dewasa, Gang-tae dan Moon-young bertemu kembali. 

Kisah cinta mereka dipenuhi pengingkaran dan belenggu masa lalu. Namun sesungguhnya mereka saling melengkapi, saling memulihkan. Gang-tae menjadi peredam (safety pin) bagi Moon-young yang emosinya meledak-ledak. Moon-young menjadi pemicu bagi Gang-tae untuk mulai berani mengekspresikan perasaan yang selama ini diredamnya. 

Kisah cinta yang berakhir manis dan bahagia. Chemistry-nya, haduh… tingkat dewa! Pemuas jiwa si penggila romansa. Namun, buatku, bintang lapangan yang sesungguhnya adalah Moon Sang-tae, the beautiful soul oppa. 

Moon Bersaudara - Sang-tae dan Gang-tae (sumber: Soompi)

Penderita autis memiliki respon yang berbeda dibandingkan orang pada umumnya. Untuk rangsangan yang sama, bisa jadi mereka sangat sensitif, atau malah tidak responsif sama sekali. Sebagai seorang penderita autis, Moon Sang-tae harus belajar mengenali bentuk-bentuk emosi yang umum itu. Ia belajar mengenalinya dari mengingat bentuk raut wajah, seperti apa itu bahagia, marah, sedih, dan sebagainya, dimana salah satu keistimewaan penderita autis adalah mereka memiliki daya ingat yang kuat. 

Sang-tae sulit berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial, sehingga sejak kecil dia jadi korban perundungan. Sang-tae dipandang sebagai si lemah yang harus selalu dijaga dan dilindungi. Tapi dalam kisah ini, justru kita bisa belajar banyak dari seorang Sang-tae.

Sang-tae tidak mengenali emosi sama seperti orang pada umumnya. Buat Sang-tae, yang ada hanyalah salah atau benar. Bohong itu salah, dan jujur itu benar. Sang-tae sangat benci dengan kebohongan, dan karena itu ia selalu menyampaikan pendapatnya dengan jujur dan apa adanya. No sugarcoating. No “spik-spik nabi”. Sang-tae hanya akan menyajikan fakta, bukan rekayasa. 

Sang-tae tidak mau menjadi beban orang lain. Dia tidak suka kalau adiknya memperlakukannya seperti anak-anak. Sang-tae tahu dia adalah manusia dewasa, dan selalu berusaha untuk mandiri. Bepergian seorang diri, melakukan berbagai pekerjaan rumah, sampai mengumpulkan uang dengan cara bekerja. Sang-tae bercita-cita membeli sebuah mobil karavan, sehingga mereka tidak perlu repot-repot packing setiap kali harus pindah kota “untuk menghindari kupu-kupu”. Bukan sekedar cita-cita lho. Sang-tae bekerja dengan data, sehingga tahu persis berapa jumlah uang yang harus dikumpulkannya. 

Sang-tae adalah seorang profesional, dan dia mencintai pekerjaannya. Sang-tae terbuka menerima kritikan atas karyanya. Dia menerima apa yang menjadi kelemahannya, dan mau belajar untuk memperbaiki kelemahan tersebut, sehingga hasil karyanya pun menjadi lebih baik. Walaupun sulit, dia tidak mau meniru karya orang lain. “Kalau meniru, berarti itu bukan karyaku yang sesungguhnya” kata Sangtae.

Sang-tae dengan berani memutuskan untuk tidak lagi melarikan diri dari kenyataan. Ia berusaha melawan ketakutan dan menghadapi traumanya. Siapapun pasti sulit melakukannya, namun Sang-tae berani memaksa dirinya untuk menemukan ‘pintu’, dan keluar dari trauma masa lalunya.

Sang-tae tidak mengerti apa itu autis. Yang dia tahu dia adalah seorang kakak yang berkewajiban melindungi adiknya dan harus dapat diandalkan. Sang-tae sayang sekali pada Gang-tae, dan dia merasa adiknya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari ibu mereka. Walaupun Gang-tae berusaha ‘menipu’ mata kakaknya dengan selalu menutupi perasaan dengan senyum, namun mata hati Sang-tae lebih tajam. Sang-tae tahu kalau jiwa sang adik sedang sakit.  

Sang-tae sempat terlihat egois, seakan-akan dia ingin menguasai Gang-tae. Bukan itu sebenarnya alasannya. Penderita autis sulit menerima perubahan, dan dia merasakan perubahan pada Gang-tae. Lebih marah lagi ketika Gang-tae menutupinya dengan kebohongan. Dia merasa ditinggalkan. Tapi, ketika melihat Gang-tae tersenyum dalam tidurnya, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dia pun mengerti bahwa sang adik bahagia. Apa yang ditakutkan Sang-tae tidak terjadi. Dia tidak kehilangan adiknya, malahan mendapatkan satu ‘adik’ lagi, yaitu Moon-young. Mereka bertiga telah menjadi satu keluarga.

Keluarga ditandai dengan foto bersama (sumber: Kanal247)

Sang-tae menunjukkan cintanya yang tulus dengan sederhana. Tidak ada yang terlalu kecil atau terlalu besar. Sang-tae membagi bonus yang diperolehnya sebagai uang jajan untuk Gang-tae dan Moon-young. Padahal mungkin untuk Gang-tae, apalagi Moon-young, jumlahnya sangat kecil. Ketika Moon-young tidak mau makan, Gang-tae datang membawakan makanan kesukaannya, kemudian membujuk, bahkan ‘memperdaya’ dan menyuapi Moon-young supaya mau makan. 

Sang-tae menghormati setiap bentuk kehidupan, menyayangi benda-benda. Dia mengucapkan salam kepada semua orang yang ditemuinya, bahkan kepada tumbuhan dan hewan. 

Cinta Sang-tae adalah cinta yang membebaskan. Sang-tae menghargai adiknya sebagai pribadi yang terpisah, sebagai pribadi yang dewasa. Sang-tae tahu adiknya tidak akan pernah sanggup melepaskannya. Karena itu, Sang-tae lah yang membebaskan Gang-tae dari beban tanggung jawab atas dirinya. Caranya dengan menunjukkan kepada adiknya bahwa dia mampu mandiri. Dia sudah punya pekerjaan dan sedang membangun kehidupan. 

Ah, rasanya tak cukup kata-kata menggambarkan Sang-tae, sang pribadi yang istimewa. Tak bosan-bosan aku menonton aktingnya. Salut untuk pemerannya, Oh Jung-se, yang punya penghayatan luar biasa. 

Dari drama ini, kita bisa belajar bahwa setiap orang punya tantangan dan perjuangan masing-masing. Bahwa keluarga adalah yang terutama, dan keluarga harus bersama. Walau sering bertengkar atau berselisih paham, tapi keluarga harus saling memaafkan dan saling menguatkan.

Drama “It’s Okay To Not Be Okay” ini berakhir hari Minggu kemarin. Namun aku sudah rindu menyaksikan lagi kisah mereka bertiga. Gang-tae yang ganteng, Moon-young yang manis, dan Sang-tae yang penuh cinta. 

Read more…

August 9, 2020

Drama "Sky Castle" (2018) - Ambisi Membutakan Hati

Sky Castle (2018) adalah drama Korea satire yang mengisahkan tentang keluarga-keluarga kaya, dimana orangtua sangat berambisi dan dengan segala cara memastikan anak-anaknya diterima di perguruan tinggi ternama. Dan yang berperan paling besar untuk memastikan terwujudnya ambisi sebuah keluarga adalah sang ibu. Selain mewujudkan ambisi pendidikan anak, mereka juga harus selalu mendukung karier suami, agar mencapai dan tetap bertahan di posisi yang bergengsi.

Super Moms di Drama Sky Castle (sumber: Wikipedia)

Cerita itu berkembang di sekitar empat keluarga yang tinggal di sebuah komplek perumahan elite dan eksklusif bernama Sky Castle. Mereka adalah keluarga sukses, kaya, memiliki pekerjaan dan jabatan yang terhormat. Anak-anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah yang terkenal pula. Kehidupan mereka serba cukup, tidak kekurangan apapun. Kelihatannya begitu. Tapi setiap keluarga punya ceritanya sendiri, punya ‘rahasia’nya sendiri.


Setiap Keluarga Punya Cerita (sumber: dreamers.id)


Tokoh utama dalam kisah ini adalah Han Seo-jin (Yum Jung-ah). Suaminya, Kang Joon-sang (Jung Joon-ho) adalah seorang dokter bedah ortopedi yang terkenal. Mertuanya juga seorang dokter, dan keluarga besar bercita-cita agar Kang Yeo-so (Kim Hye-yoon), putri sulung mereka, nantinya pun akan menjadi dokter. 


Aku sangat terkesan dengan karakter Han Seo-jin. Bukan terkesan sehingga ingin mencontoh, tapi terkesan sehingga aku kasihan melihat kehidupannya yang dibutakan ambisi, dipenuhi dengan intrik dan strategi. Semua itu hanya demi “dipandang” sebagai manusia. 


Han Seo-jin memiliki nama asli Kwak Mi-hyang, datang dari keluarga miskin, dengan ayah seorang pedagang darah sapi, yang sukanya mabuk. Mi-hyang benci sekali dengan kemiskinan dan nasib buruknya ini, dan melakukan berbagai cara, mengatur strategi, supaya ia bisa meninggalkan kemiskinan itu, dan mendapatkan strata sosial yang tinggi. 


Strategi pertama adalah merebut Kang Joon-sang dari kekasihnya, lalu kemudian menikah dengan Joon-sang. Ia mengganti namanya menjadi Seo-jin, dan mengarang kisah bahwa ia bergelar master dari Australia dan keluarganya bertempat tinggal di sana. Selain suami dan mertuanya, tidak ada yang mengetahui kebohongan ini, bahkan kedua anaknya. Sedemikian Seo-jin menutupi masa lalunya, kebohongan demi kebohongan demi membentuk image yang diinginkan. Sampai dikisahkan ia membayar dua orang untuk berlaku sebagai orang tuanya, ketika mereka sekeluarga berkunjung ke Australia.  


Tindakannya sudah pasti salah. Namanya pun bohong. Tetapi Seo-jin melakukannya supaya anak-anaknya tidak malu dengan masa lalu ibunya, tidak malu memiliki kakek seorang pemabuk dan pedagang darah sapi. Seo-jin tidak mau anak-anaknya seperti dirinya yang malu dengan kondisi keluarganya. Ia ingin anak-anaknya percaya diri, karena yakin mereka datang dari bibit keturunan yang super duper bergengsi. 


Kebohongan Seo-jin ini mungkin berhasil mengelabui banyak orang, tetapi tidak mertua dan suaminya. Karena aslinya datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, maka Seo-jin harus terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari ibu mertuanya. Kegagalan pertama adalah ketika ia tidak mampu memberikan keturunan laki-laki. Karena itu, ia harus memastikan agar Kang Yeo-so, putri sulungnya, diterima di jurusan kedokteran Seoul National University. Itu adalah kesempatan Seo-jin yang terakhir supaya diterima dan diakui oleh ibu mertuanya. 


Tindakan Seo-jin untuk memastikan Yeo-so diterima di SNU berbuntut panjang dan ruwet, sampai Seo-jin dihadapkan dengan berbagai pilihan yang serba salah. Bagaikan makan buah simalakama, apapun pilihannya akan mendatangkan akibat yang buruk. 


Beberapa kali tampak Seo-jin berperang dengan hati nuraninya. Dia tidak tega ketika melihat anak orang lain yang jelas tidak bersalah dijadikan kambing hitam, sehingga seluruh keluarga harus menderita dan si anak kehilangan masa depan. Tetapi apabila dia buka suara tentang apa yang sesungguhnya terjadi, artinya dia juga mengungkapkan kecurangan yang melibatkan putri kesayangannya. Seo-jin tidak sanggup mengorbankan masa depan Yeo-so yang sudah dirancang sejak dia balita. 


Sebenarnya “hitung-hitungan” Seo-jin lebih dari itu. Bukan sekadar digerakkan oleh rasa cintanya yang begitu besar kepada putrinya. Namun ia juga tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau sampai putrinya gagal dan tidak diterima di kedokteran SNU. Mungkin mertuanya akan mengusirnya, suaminya akan menceraikannya, dan Seo-jin akan kehilangan semua kekayaan dan status sosial yang selama ini dinikmatinya, yang sudah susah payah diusahakannya. 


Sejak awal, ambisi lah yang telah membutakan Seo-jin. Ia begitu ingin meninggalkan dan melupakan masa lalunya, miskin dan menderita. Segala apa yang dilakukannya -- menikah dengan Joon-sang, mendidik dua putrinya dengan disiplin tinggi, menggunakan jasa tutor seharga ratusan juta agar Yeo-so diterima di kedokteran SNU -- semua ini sebetulnya demi memastikan status sosial untuk dirinya sendiri. Pikirannya terus dipenuhi strategi, sibuk mengintip posisi ‘lawan’. Pasti hidupnya tidak pernah tenang. Sungguh melelahkan.  


Aku teringat pada seorang teman, senior di masa kuliah dulu. Ketika itu dia bercerita kalau baru saja diputuskan oleh pacarnya, yang tidak lama setelah lulus mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Sementara si teman ini masih di Bandung, menyelesaikan kuliahnya, sambil mengajar di sebuah bimbingan belajar kecil. Pacarnya merasa dia tidak punya ambisi dalam hidup. Tidak berusaha mengejar kelulusan dengan cepat, supaya segera dapat pekerjaan di perusahaan besar. Ternyata belakangan diketahui pacarnya ini terpesona dengan seorang manajer di perusahaan tempatnya bekerja; muda, tampan, berjabatan, dan kaya. Kata temanku, “Aku bukannya tidak pernah punya ambisi. Tapi aku lelah dengan ambisi.” 


Ketika SMA, dia belajar keras supaya bisa masuk kampus kami, walaupun untuk itu harus merantau. Merantau artinya biaya ekstra bagi orang tua, yang memiliki enam orang anak. Namun karena ambisi, dia meyakinkan orang tuanya, dan berjanji akan mencukupkan dengan berapapun biaya yang dikirimkan. Kuliah tahun kedua, dia mendapat kabar bahwa ibunya sedang mengandung anak ketujuh. Rasanya dia ingin marah, tapi dia tahu tindakannya itu salah. Dan sejak tahun kedua itu pula, uang bulanan pun berhenti, dan dia harus mengusahakan sendiri biaya hidupnya. Karena punya hobi main bola, ia pun bergabung dengan tim bola di kampus, dan berharap dari situ dia juga akan memperoleh penghasilan. Tetapi pada suatu pertandingan, ia terjatuh dan kaki nya patah. Sejak itu ia tidak bisa bermain bola secara profesional lagi.


“Aku lelah dengan ambisi. Mimpi-mimpi ku kandas di tengah jalan. Sekarang aku jalani saja apa yang ada di hadapanku dengan sebaik-baiknya. Bisa bertahan sampai saat ini saja, aku sudah sangat bersyukur”


Ambisi yang sehat itu perlu, membuat kita selalu memacu diri supaya lebih baik, membuat kita memaksimalkan potensi diri. Namun ambisi yang buta akan merusakkan jiwa. Memakan hati dan pikiran kita perlahan-lahan. Lebih ‘gila’ lagi ketika ambisi kita itu berlaga dengan ambisi orang lain. Sudah pasti akan saling menghancurkan. Dan akhirnya kita disadarkan ambisi tidak mendatangkan kebahagiaan.

 

Ketika konsep diri kita diletakkan semata-mata pada penilaian orang lain, maka kita tidak akan pernah “selesai”. Seo-jin tidak mencintai dirinya yang miskin, dan dia sibuk membentuk image yang diyakininya akan diterima dan dihormati orang banyak. Mungkin kalau Seo-jin bisa menerima dirinya sebagai Kwak Mi-hyang, maka dia tidak perlu sibuk berstrategi merebut pacar orang, tidak perlu menderita dengan penghinaan mertuanya. Seo-jin tidak perlu membayar orang untuk menyamar menjadi orang tuanya, hanya karena takut anak-anaknya malu punya ibu yang datang dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, suatu konsep yang dia sendiri yang menanamkan.


Untuk menjamin bahagia, maka pengakuan yang paling kita butuhkan adalah dari diri sendiri. Self-love. Mensyukuri dan mencintai keberadaan diri. Kalau sudah punya self love, maka sudah pasti kita bisa mencintai orang lain dengan tulus.


Bagaimana akhir kisah Seo-jin dan para penghuni Sky Castle? Apakah Yeo-so berhasil diterima di kedokteran SNU? Apakah akhirnya orang baik menang dan orang jahat mendapatkan ganjaran? Penasaran? Samaa aku juga. Yuk ah, mau nonton episode terakhir nih. Semoga happy ending ya…


Read more…

August 8, 2020

My Jae-wook

Oppa adalah panggilan kekeluargaan dalam bahasa Korea, digunakan oleh seorang perempuan untuk memanggil laki-laki yang lebih tua dalam kisaran 10 tahun. Kalau di budaya kita, mungkin sama dengan panggilan abang, aa’ atau mas. Dan sebagaimana dalam budaya kita juga, panggilan “oppa” juga mengisyaratkan kedekatan (maupun ke-sok-dekat-an) dengan orang tersebut. 


Panggilan “oppa” semakin familiar dan mendunia seiring dengan gelombang budaya Korea. Seluruh fans drama korea dan KPop memanggil pujaan atau bias mereka dengan oppa, terlepas dari umur mereka. Tentu saja, aku termasuk salah satu pelakunya. Ah, gak penting umurnya berapa, yang penting tampan dan aku sukaaa haha


Daftar oppa kegemaranku bertambah seiring dengan bertambahnya judul drama yang kutonton. Totalitas dan penghayatan peran, chemistry yang bikin deg-degan sambil gigit bantal, sudah pasti membius hingga bikin membias. Daftar ku itu sifatnya dinamis, bertambah dengan urutan kadar pesona yang berubah-ubah. Tetapi yang paling istimewa, oppa nomor satu untuk (semoga) selamanya, adalah Kim Jae-wook.  


Kim Jae-wook sebagai "Ryan Gold" - Tampang Songong
(sumber: Pinterest)

Setiap membahas drama Korea atau apapun yang beraroma ke-Korea-an, pasti tidak bisa lepas dari oppa yang satu ini. Aku jatuh cinta pada Kim Jae-wook ketika menonton “Her Private Life” (HPL), dimana Jae-wook pertama kali menjadi lead male dalam drama bergenre romance-comedy. Dalam drama itu, Jae-wook berperan sebagai Ryan Gold. Kisah drama HPL itu sendiri sebenarnya biasa aja, bahkan cenderung klise. Namun ke-klise-an yang disajikan dengan manis itu membuat aku dejavu berkali-kali ketika menontonnya. Kepincut berat dengan karakter dingin namun romantis dengan sorot mata tajam dan senyum miring menggoda Ryan Gold, aku pun mencari tahu tentang pemerannya. 


Sebagai aktor, Jae-wook telah memerankan berbagai jenis karakter dalam berbagai jenis genre drama dan film. Pada film pertama yang diperankannya, “Antique”, dia berperan sebagai Min Seon-woo, seorang gay yang berprofesi sebagai bakery chef. Pada drama “Voice”, dia berperan sebagai Mo Tae-goo, seorang psikopat. Aku belum menonton drama ini, tetapi menurut berbagai review yang aku baca, Jae-wook sukses memerankan seorang psikopat, hingga image ini melekat padanya. Pada drama “The Guest”, dia berperan sebagai Choi Yoon, seorang pastor yang bisa mengusir setan. Dan pada drama “Her Private Life” dia berperan sebagai seorang pelukis yang jutek namun romantis. Perannya dalam drama HPL ini mendapatkan penghargaan sebagai “Best Male Asian Star” pada event Starhub Night of Stars 2019, yang menambah daftar penghargaan di bidang akting yang diperoleh Kim Jae-wook.


Berbagai "Wajah" Jae-wook.
Pembuat Waffle - Psikopat - Pengusaha Muda Nan Romantis
(sumber: id.castKo.com)


Selain film dan drama, Jae-wook juga berperan dalam drama musikal Korea. Tahun 2011, sebelum menjalankan wajib militer, Jae-wook, bergantian dengan tiga orang oppa tampan lainnya, yaitu Choi Jae-woong, Cho Jung-seok, dan Kim Dong-wan, main dalam “Hedwig and The Angry Inch”, yang diadaptasi dari drama Broadway berjudul sama. Drama ini mengisahkan tentang Hedwig Schmidt, seorang transgender yang menjadi vokalis band rock and roll bernama The Angry Inch. Lalu tahun 2018, Jae-wook berperan sebagai Mozart dalam drama musikal “Amadeus”. Dalam kedua drama ini, Jae-wook tidak hanya memperlihatkan kemampuan aktingnya, tapi juga kemampuan bernyanyi dan bermain musik.


Kim Jae-wook sebagai Hedwig (sumber: Pinterest)


Kemampuan bermusik Jae-wook bukanlah hal yang baru. Ketika SMA, sebagai siswa baru dia mengikuti audisi band “Kaksital”, dan diterima. Jae-wook juga pernah mengikuti reality show “Akdong Club” di acara TV MBC. Namun ketika ditanya apakah dia bisa menari dan bernyanyi selayaknya KPop idols yang kita kenal sekarang, Jae-wook memilih untuk tetap dengan gaya musik rock nya, dan tidak meneruskan audisi. Ketika kuliah jurusan musik di Seoul Institute of The Arts, Jae-wook membentuk sebuah band bernama “Walrus”, yang masih ada sampai sekarang. 


Selain aktor dan pemusik, Kim Jae-wook juga seorang model. Tahun 2019, Kim Jae-wook turut diundang dalam salah satu ajang fashion terbesar dunia, “Paris Fashion Week”. Tidak sekedar melenggang di catwalk, tahun 2011, Jae-wook bersama beberapa orang model lainnya, menulis buku berjudul “Top Model”, sebuah kisah tentang pengalaman mereka dalam industri fashion. Karya terbaru Jae-wook, sebuah film dokumenter berjudul “My Margiela” (Martin Margiela : In His Own Words),  juga mencerminkan kecintaannya pada dunia fashion. Sayangnya yang dipublikasi masih teasernya #ihiks


Jae-wook dalam "My Margiela" (sumber: Instagram @jaeuck.kim)


Dari berbagai karyanya, kusimpulkan bahwa uri oppa Kim Jae-wook adalah seorang seniman. Tidak heran gayanya tampak nyentrik dan berbeda. Terkesan tidak jaim dan apa adanya. Seandainya suatu saat bisa bertemu langsung, apabila aku berhasil siuman karena pingsan akibat sempat lupa bernapas, maka aku cuman mau bilang, “Oppaa.. Mana drama baru nyaa??”

Read more…

August 7, 2020

Penyembahan yang Benar (Catatan PA Immanuel Choir)

Hari ini, sebagaimana rutin dilakukan setiap minggu kedua dan keempat setiap bulan, Immanuel Choir melakukan PA atau Pendalaman Alkitab melalui fasilitas zoom. Kegiatan ini baru-baru saja dibuat, PA hari ini adalah yang kali yang ketiga. Senang juga rasanya bisa bertemu dan berbagi cerita dengan teman-teman walaupun hanya lewat layar.

Topik hari ini adalah tentang Penyembahan yang Benar. Ayat renungan diambil dari Mazmur 149 : 3 - 6. 

(3) Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! (4) Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. (5) Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka! (6) Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka.

Renungan dibawakan oleh Ibu Agus Theresia Napitupulu br. Siahaan. Aku belum pernah mendengarkan renungan yang dibawakan oleh Ibu Theresia. Renungan tadi cukup berkesan, dibawakan dengan santai, bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, namun terstruktur.  

Aku mencatat beberapa hal yang menjadi inti dari renungan atas perikop tadi.

1. Orang-orang yang menjadi anggota Paduan Suara adalah orang yang 'beruntung', karena mereka (kita) dipersiapkan menjadi penyembah-penyembah Tuhan yang benar. Dan di dalam penyembahan yang benar, ada kuasa yang dahsyat. 

2. Untuk menjadi penyembah yang benar, maka kita harus menjadi orang yang benar. Salah satu karakter orang benar menurut Mazmur 1: 2 adalah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Kita selayaknya menyediakan waktu khusus, setiap hari, untuk berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkan Firman Tuhan. Dengan bergaul setiap hari dengan Tuhan, maka kita akan semakin mengenal Dia, semakin mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

3. Dalam Mazmur 147 :1 dikatakan bahwa bermazmur bagi Tuhan itu baik, indah, dan layak. Oleh karena itu, hendaklah nyanyian yang kita kumandangkan sebagai puji-pujian bagi Tuhan tidak menjadi rutinitas semata. Namun kita harus melakukannya dengan hati yang siap dan sungguh, sehingga pujian kita berkenan dan menyukakan hati Tuhan. 

4. Seperti apa hati yang berkenan kepada Tuhan? Tuhan berkenan apabila kita memuji Tuhan dengan rendah hati dan kesalehan (Mazmur 149 : 4). Rendah hati artinya tidak sombong dengan bakat suara atau kemampuan bernyanyi yang diberikan oleh Tuhan, namun menggunakan talenta tersebut untuk memuji dan memuliakanNya. Kesalehan artinya tingkah laku kita, hati jiwa dan pikiran kita, adalah sesuai dengan Firman Tuhan.

5. Pada ayat ke-6 dari perikop di atas, dikatakan bahwa ketika kita bernyanyi, kita harus memiliki "pedang bermata dua", yaitu Firman Tuhan, di dalam hati kita. Karena Firman Tuhan hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun, yang mampu memisahkan jiwa dan roh; sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Apakah yang ada di dalam hati kita itu kehendak kedagingan kita, atau kehendak Tuhan. Tidak ada suatu apapun yang tersembunyi di hadapanNya. (Ibrani 4 : 12)

6. Dalam Amos 5 : 23 dikatakan bahwa Tuhan berkenan pada nyanyian kita apabila kita melakukan keadlian dan kebenaran, taat, setia, dan memegang teguh Firman Tuhan sebagai kebenaran. Hendaklah kita menjadikan keadlian dan kebenaran menjadi "gaya hidup". 


Kesimpulan dari beberapa poin di atas adalah sebagai umat Tuhan, lebih khusus lagi sebagai pelayanNya, kita harus memastikan hati, jiwa, pikiran, dan perbuatan kita, senantiasa seturut dengan Firman Tuhan. Dalam keseharian kita, setiap saat kita dihadapkan dengan hal-hal yang merupakan "ibadah", maka jadikanlah semua "ibadah" kita adalah untuk Tuhan. Termasuk ketika kita bernyanyi dalam Paduan Suara. Hati kita harus bersungguh-sungguh mempersembahkannya untuk Tuhan, sehingga baik kita yang menyanyikan dan orang-orang yang mendengarkannya akan diberkati, dan lebih lagi mengenal kuasa dan kebaikan Tuhan. 

Kiranya Tuhan memampukan aku untuk menyanyi bagi Dia selama aku hidup, dan bermazmur bagi NamaNya selagi aku ada. 

Read more…

August 6, 2020

Merdeka itu Terbatas

Kata yang paling sering disandingkan dengan “merdeka” adalah “hak”. Orang yang merdeka berhak untuk bicara. Orang yang merdeka berhak untuk menentukan pilihannya, berhak melakukan apa yang diinginkannya, berhak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Namun sangat jarang kata “merdeka” disandingkan dengan kata “tanggung-jawab”.

Ketika masih SMA, aku sering merasa kesal karena merasa tidak mendapatkan kebebasan seperti yang dimiliki teman-temanku. Kalau mau nonton atau jalan sama teman-teman, harus jelas pergi dengan siapa, kegiatannya apa saja, dan pulangnya bagaimana. Kalau sudah malam, tidak boleh naik kendaraan umum (taksi sekalipun); berdua saja tidak boleh apalagi sendiri. Papi akan menjemputku dimanapun aku saat itu berada. Sebagai abege, kesal kan yaa... kan pengen kaya’ teman-teman yang kaya’nya “dewasa” banget gitu... bawa kendaraan sendiri, atau naik taksi, atau apalah, pokoknya selain di antar jemput. Paling “sedih”nya lagi, suatu kali teman-teman ku pada bolos bimbel, terus pergi main. Aku kan pengen ikut juga. Tapi kalo sampai bolos bimbel, nanti kan bakal ketahuan. Pertama karena Papi menjemputku setiap sore, dan kedua, karena bimbel ku mengirimkan raport bulanan ke rumah.

Sedemikian “tidak merdeka”nya aku, sampai-sampai, ketika aku dan teman sebangku ku menetapkan kampus impian kami, dengan hati-hati dia bertanya, “Kau yakin diizinkan merantau ke Pulau Jawa??”

Berbanding terbalik dengan urusan “jalan sama teman-teman”, untuk urusan pendidikan (dan kemudian pekerjaan), Papi dan Mami memberikan kemerdekaan seluas-luasnya kepada anak-anaknya. Terserah mau kuliah di mana, kota mana, jurusan apa. Sama hal nya untuk urusan pekerjaan, terserah mau kerja di mana, dari Sabang sampe Merauke, Kutub Utara sampai Kutub Selatan.

Ketika mulai merantau, di situlah aku mulai merasakan “merdeka” yang kuidam-idamkan. Bebas mau jalan ke mall, bebas mau nonton ke bioskop, bebas perginya mau bareng siapa pun, dan bebas pulang jam berapa saja yang aku mau. Dengan catatan, selama orang tua tidak tahu hihihi

Mula-mula rasanya luar biasa. Seru! Bagaikan serial TV remaja Amerika. Tapi lama-lama aku mulai terhanyut. Saking merdekanya, aku lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan bermalas-malasan. Kemudian satu persatu teman-teman menyelesaikan masa perkuliahan mereka, sementara aku masih mengulang beberapa mata kuliah. Sampai peringatan itu datang, bahwa aku sudah mendekati batas akhir masa perkuliahan.

Di situlah aku belajar, in a hard way, bahwa merdeka itu artinya bertanggung jawab. Aku harus memperbaiki kesalahan yang kulakukan selama masa awal kemerdekaan itu. Dirusak sendiri, ya diperbaikinya juga sendiri. Sendiri dalam arti tidak pakai jalan pintas, atau koneksi sana sini, selain berusaha dan mengejar ketertinggalan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Puji Tuhan, dengan doa, usaha, dan pertolongan banyak orang, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.

Kemerdekaan itu berbeda bagi setiap orang. Buat ku, merdeka adalah bebas jalan-jalan sama teman kapan saja kemana saja dengan siapa saja. Tapi buat seorang sepupuku, merdeka itu adalah bebas mau kuliah di kota mana saja, karena ketika itu dia tidak diizinkan merantau, sehingga ketika lulus kuliah dia berusaha keras mendapatkan pekerjaan di luar kota. (Lucunya, sepupu ku ini malah sangat ‘merdeka’ untuk urusan gaul dan jalan sama teman-teman.)

Kemerdekaan itu dinamis dan ekskalatif. Hal yang kita anggap merdeka di satu masa, tiba-tiba menjadi tidak seberapa merdeka.  Kita terus menerus menginginkan yang lebih dan lebih lagi.

Kemerdekaan itu terbatas. Batasannya adalah ketika kemerdekaan kita bertemu dengan kemerdekaan orang lain. Seperti sebuah lingkaran yang saling bersinggungan. Semakin besar kemerdekaan yang kita tuntut, maka semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan agar kemerdekaan kita tidak menggangu kemerdekaan orang lain.

Apapun bentuknya, kemerdekaan yang kita miliki saat ini haruslah kita syukuri, dengan selalu berusaha untuk menjalankannya dengan bertanggung jawab.


Read more…