July 15, 2020

Menonton Drakor On-going VS Completed, Sama Serunya!

Industri hiburan Korea adalah industri yang sangat aktif. Sejak awal, industri ini memang ditujukan untuk mejadi medium promosi budaya Korea Selatan. Selain menjadi sumber pemasukan, ternyata industri ini pun mengatrol aspek-aspek ekonomi yang lain. Coba ngaku, siapa aja dari parajajaran bucin internasional yang pengen berkunjung ke lokasi-lokasi shooting drama kesukaan? Atau, yang jadi suka jajan tteobokki, pengen nyobain jajjangmyeon dan segala jenis ramyeon?  

Drama Korea ini tidak ada habis-habisnya. Satu judul itu biasanya terdiri dari 16 episode, walaupun ada juga yang 12 episode, atau di atas 20 episode. Berarti rata-rata tayang selama 8 minggu atau 2 bulanan. Dan itu tidak pernah putus, terus saja silih berganti. Kerap sekali aku menerima update dari situs-situs perkoriyaan tentang drama Korea; setiap akhir bulan, mereka akan mengupdate drama apa yang akan main bulan depan atau dua bulan kemudian, setiap jelang akhir tahun, mereka akan mengupdate drama apa yang akan main sepanjang tahun depan, dan kapan jadwal tayangnya. Luar biasa kan?

Dan yang hebatnya lagi, drama Korea produksi dari tahun jebot juga masih saja diminati para penggemar drakor. Bahkan baru saja aku lihat di salah satu aplikasi streaming drakor, mereka menayangkan Winter Sonata (2002), dan juga menayangkan Oh My Baby (2020). Itu range nya 18 tahun lho! Selama 18 tahun itu, entah berapa ratus bahkan ribu judul drama Korea yang sudah diproduksi. Jadi apabila berkehendak masuk ke dunia drakorian, tidak perlu gundah apalagi galau bakalan kekurangan bahan tontonan. So little time so many drakor!

Secara umum (pisan) Drakor itu terbagi atas dua jenis. Pertama, drakor yang sedang tayang (on going). Kedua, drakor yang sudah rampung tayang (completed). Biasanya pada masa yang bersamaan aku menonton minimal satu drama on-going, dan minimal satu drama completed. Saat ini, aku sedang menonton dua drama on-going, “It’s Okay Not To Be Okay” nya Kim Soo-hyun, dan “Dinner Mate” nya Song Seung-heong, yang baru saja selesai tayang kemarin, dan satu drama completed yaitu “Sky Castle”. 


Poster Drakor Dinner Mate (sumber: wikipedia.com)


Poster Drama "It's Okay Not To Be Okay" (sumber: https://kpopchart.net/)


Poster Drakor "Sky Castle" (sumber: imdb.com)

Berdasarkan pengalamanku, masing-masing punya sisi plus dan minus, masing-masing memiliki tantangan dan keseruan yang berbeda, antara lain:


Drama on-going

Sisi Plus:

- Melatih kesabaran, karena sungguh dibutuhkan kesabaran untuk menantikan kelanjutan cerita drama, yang biasanya diputus ketika ‘lagi seru-serunya’.

- Melatih kesetiaan. Ada banyak tantangan ketika mulai menonton sebuah drama, mulai dari cerita yang gak nyambung, time line yang lumpat sana sini, aktor-aktris yang kurang penghayatan dan kurang terasa chemistry-nya, dan sebagainya. Dibutuhkan kesetiaan untuk melewati berbagai tantangan tersebut hingga berhasil menonton drama tersebut sampai selesai. Hm... antara kesetiaan, atau kebucinan yang hakiki.

- Terhindar dari kegiatan binge watching. Jatahnya cuman dua episode dalam seminggu.

Sisi Minus:

- Tak jarang mengalami yang namanya “kehampaan” selama menanti penayangan episode terbaru. Belum lagi kalau terjadi penundaan ... huaah... rasanya hampir tak tertahankan (ok.. lebay). Aku mengalaminya ketika menonton drama “Crash Landing On You”, dimana drama ini mengalami dua kali (catat, ya... dua kali, jendral!!) penundaan. Tetapi, di situ lah engkau diuji, kisanak! 

-  Rentan godaan buat nge-ship pasangan di drama buat jadi pasangan beneran di dunia nyata. Kok minus? Karena kemungkinan besar mengakibatkan patah hati, secara hal ini jarang banget bisa kejadian. Dan lebih patah hati lagi, ketika mereka udah jadi pasangan beneran di kehidupan nyata, namun kemudian pisah atau cerai.

Tips: 

Bagi yang anti spoiler, kuncinya adalah menjauhi akun-akun resmi aktor/aktris dan stasiun TV yang menayangkan drama tersebut, dan memastikan menonton drama tersebut tepat pada saat hari dan jam penayangannya.


Drama completed

Sisi Plus:

- Banyak review dan rekomendasi tentang drama tersebut. Berdasarkan itu, kita bisa pilih-pilih mau menonton drama yang mana. Apakah mau percaya review dan rating netizen, atau mau mengadu peruntungan sendiri? Sok atuh lah!

- Bisa mengatur jadwal menonton kapan saja kita mau. Mau menonton setiap hari atau setiap weekend, bebas saja. Namun, ini pun bisa menimbulkan sisi minus.

Sisi Minus:

- Rentan terpapar binge watching, alias nonton marathon sepanjang hari, sepanjang malam, bahkan dilanjut sampai bergadang, atas nama penasaran. Maka besoknya alamat bangun kesiangan, atau hidup bagaikan zombie seharian.

- Spoiler nya banyak, mulai dari YouTube, Instagram, meme beneran, meme plesetan, sampai orang-orang yang sudah menonton dan “secara tidak sengaja” menceritakan bagian yang belum kita tonton.

Tips:  

Kalau drama on-going itu melatih kesabaran, maka drama completed ini melatih kedisiplinan. Disiplin untuk mengatur waktu menonton agar tidak sampai lupa masak dan mengangkat jemuran.


Kalau kamu, lebih suka menonton drama yang on-going atau completed nih? Teman-teman di grup Drakor dan Literasi juga punya pilihan masing-masing . Simak cerita mereka di sini:

1.  Rijo : "Surat terbuka untuk salah satu male lead favorit sepanjang masa"

2. Lala : "You complete me.."

3. Ima : "Dari Sebuah Cerita, Aku Butuh Kepastian"

4. Gita : "On Going Makes Me Crazy"

5. Rosy : "Kenapa On Going Kalau Bisa Completed"

6. Lendyagasshi : "Drama Ongoing : Once Again"

7. RaniRTyas : "Dari on going ke marathon"

8. DK : "7 Alasan Drama Korea On Going Lebih Asyik Ditonton"

9. Asri : "Semua Unik, Semua Asyik"

10. Lithaetr : "King Maker The change of destiny"

11. Risna: "Balada nonton drakor on going"

12. Nadya : "Ongoing yang Kaya akan Manfaat"

Read more…

July 14, 2020

Kisah Dalam Sepiring Tongseng (Bagian Akhir)

Pertama kali aku mencicipi tongseng adalah tahun 1997 di Kota Bandung. Ada sebuah restoran bernama RM. Banyumas, yang letaknya di sudut pertemuan Jl. Dago dan Jl. Dipatiukur. Di depannya ada sebuah pangganan sate. Ketika itu kost ku terletak di Jl. Dipatiukur, jadi aku sering melewati persimpangan ini. Beberapa kali ketika melewati restoran ini, pegawainya sedang membakar sate, menebarkan aroma yang membangkitkan selera.  Setelah beberapa kali kejadian, dan mumpung Mami masih di Bandung, aku pun mengajak Mami untuk makan di situ. Selain sate, mereka juga menyediakan beberapa menu lain. Tetapi yang menarik perhatian ku adalah tongseng, karena aku belum pernah mencobanya. Kami pun memesan tongseng kambing 1 porsi.

Tampak Depan RM Banyumas di Simpang Dago dulu. Sekarang sudah lebih modern.
(sumber: https://id.openrice.com/)

Hidangan di RM Banyumas, Sate dan Tongseng (sumber: https://id.foursquare.com/v/rumah-makan--banyumas/)


Setelah aku coba, ternyata enak! Sate nya juga enak. Potongan dagingnya cukup besar, dengan saus kacang yang asli dan banyak, acar bawang yang royal, dan kecap manis yang kental. Sebanding kualitas dan rasanya dengan harga yang cukup mahal untuk kantong anak kost tahun 1997 (kalau anak kost jaman sekarang ya gak tau juga ya... ). Karena harganya yang mahal namun masakannya yang enak pakai banget, RM Banyumas ini menjadi salah satu tempat yang aku kunjungi pada hari-hari istimewa. Misalnya, ketika Papi Mami berkunjung, ketika abang atau saudaraku datang berkunjung, atau merayakan selesainya ujian akhir semester. Pernah suatu kali aku pengen banget makan tongseng, padahal uang pas-pasan. Akhirnya aku membeli setengah porsi saja hihi Seru ya kalau mengingat masa-masa itu. Beberapa kali aku berkunjung ke Kota Bandung, aku selalu mampir ke RM Banyumas ini untuk makan tongseng dan sate.

Berdasarkan artikel yang kubaca di situs Kompas dan Liputan6, dipercaya bahwa daerah pertama penghasil tongseng adalah Kecamatan Klego, Boyolali, Jawa Tengah. Dari Klego, kuliner tongseng menyebar hingga seluruh Indonesia. Kisahnya, pada abad ke-18 sampai 19, banyak saudagar Timur Tengah datang berdagang di Nusantara. Kegemaran mereka adalah menyantap daging kambing, yang kemudian ditularkan ke masyarakat lokal. Mulanya adalah sate, yang terinspirasi dari kebab. Setelah daging habis diolah menjadi sate, maka bagian yang tersisa diolah menjadi gulai, yang menggunakan bumbu rempah dan santan yang kental. Pada masa itu mulai berproduksi pabrik gula pasir, gula merah, dan kecap. Hal ini memberikan inspirasi masyarakat di selatan Jawa meracik menu baru, dengan menumis kembali kuah gulai, hingga terciptalah tongseng. Penamaan tongseng diambil dari kata ‘oseng-oseng’, dimana tongseng dibuat dengan mengoseng daging yang dicampur dengan kecap, bumbu, irisan tomat, dan kubis.

Setelah banyak membandingkan resep, akhirnya aku memilih satu resep tongseng dari “jungjungan”ku dalam hal masak-memasak, yaitu reseptongseng ayam ala Mbak Endang pemilik situs Just Try and Taste. Situs ini sangat informatif, tidak hanya resep yang diberikan, tetapi langkah-langkah pembuatan, serta sering juga diselipkan tips dari mbak Endang. Setelah mencatat bahan yang dibutuhkan, hari Sabtu aku sempatkan berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan.

Tongseng Ayam ala JTT (sumber: Just Try & Taste)

Sebagai mana menulis dan menonton drakor, memasak pun harus dilakukan dengan perasaan. Dengan mengikuti perasaan, maka aku memodifikasi resep dari JTT. Aku tidak menggunakan 5 rawit, tetapi cukup 2 saja. Dan ternyata itu adalah langkah yang sangat tepat. Pakai 2 rawit saja ternyata sudah jinjja pedass!

Tongseng buatanku (dok.pribadi)


Tongseng ditambahin brokoli (dok.pribadi)

Ketika sudah matang, sebelum menambahkan sayur-sayuran, tongseng kubagi menjadi 3 porsi.  2 porsi aku simpan untuk persediaan besok, dan 1 porsi difinalkan dengan menambahkan tomat dan daun bawang. Karena aku tidak terlalu suka kol, kuganti saja dengan letuce, yang memang masih ada stok nya di kulkas. Lebih enak pastinya. Letuce juga bisa diganti dengan brokoli lho... tidak kalah enaknya. Sebelum dicampurkan ke dalam tongseng, brokoli direbus atau dikukus dulu setengah matang.

Besok masak apa lagi ya?


Read more…

July 12, 2020

Kisah Dalam Sepiring Tongseng (Bagian Awal)

Kamis lalu, setelah menyelesaikan urusan di salah satu bank BUMN, aku mampir ke sebuah toko bahan pangan yang terletak di seberang bank tersebut. Toko itu kecil saja, ukuran ruko 1 pintu. Berderet manja bersama sebuah toko ATK dan binatu. Toko ini menyediakan bahan pangan berupa daging ayam segar, daging ayam dan bebek beku, telur, dan berbagai produk makanan beku, seperti bakso, sosis, nugget, dan makanan siap saji. Walaupun tidak banyak, toko ini juga menjual bumbu-bumbu masak siap pakai dan makanan ringan. Ini adalah kunjunganku kali kedua. Pada kunjungan pertama aku hanya membeli telur Omega3. Untuk kualitas yang sama, harga yang mereka berikan relatif murah dibanding swalayan ternama. Seperti biasa, aku strolling dulu melihat produk apa lagi yang mereka sediakan di situ. Selama berada di toko itu, aku perhatikan beberapa pembeli datang khusus untuk membeli produk ayam segar. Ternyata cukup banyak peminatnya, berarti kualitasnya terjamin, dan harganya bersaing.

Pada kunjungan kedua ini, aku membeli daging ayam beku, 1kg telur curah (karena telur Omega3 tidak ada stok), 1 bungkus sosis ayam CHAMP, dan ketumbar. Daging ayam yang aku pilih adalah fillet paha tanpa tulang. Aku memilih produk ini karena lebih praktis untuk berbagai masakan, tidak ada bagian yang terbuang, dan lebih berlemak daripada daging bagian dada. Karena lemak adalah rasa, demikian kata seorang chef yang kanal YouTube nya kupantengin siang tadi.

Fillet Paha Ayam dari CP Chicken. (sumber: primafreshmart.com)

Sampai di kost, aku segera mencairkan daging tadi sampai mencapai keadaan cukup lunak untuk dipisah-pisahkan. Caranya adalah dengan merendamnya di dalam wadah berisi air, tanpa membuka plastik pembungkusnya. Ketika sudah cukup lunak, aku membaginya dalam lima bagian yang kurang lebih sama, membungkus satu-persatu dengan plastik gula, dan menyimpannya di freezer. Sambil melakukan semua proses ini, aku mikir-mikir, enaknya fillet ayam ini di masak apa ya. Songong bener gak siiihh, kaya’ yang udah biasa masak sebuku resep aja hahaha

Terakhir kali aku belanja sayur dan bumbu sudah lebih seminggu yang lalu. Secara dalam seminggu ini aku memasak hampir setiap hari, maka bahan yang tersedia tidak banyak. Rempah hanya ada bawang putih dan sedikit jahe. Selain itu ada kecap manis, kecap ikan, saus tiram, minyak wijen. Kaldu jamur dan ketumbar. Sayuran dan dua potong tahu.


Hasil Googling - 799 + 1.992 Resep "Enak dan Sederhana" (dok.pribadi)

Aku mulai browsing untuk mencari inspirasi, menu apa yang bisa kubuat dengan bahan dan alat yang ada. Hasilnya, hanya di situs cookpad saja, ada 799 plus 1.922 resep masakan berbahan fillet paha ayam yang katanya "enak" dan "sederhana". Ok baique... 

Lalu aku tanya ke paraemak di grup alumni stosa, yang setiap hari masak buat pasukannya. Tanya juga ke kakak iparku, yang hobi masak dan punya koleksi alat masak yang bikin sirik. Setelah menerima berbagai informasi, maka dengan menimbang (kemampuan), mengingat (pengalaman), dan memperhatikan (bahan yang diperlukan), maka aku memutuskan untuk memasak.... tongseng! 

Read more…

July 11, 2020

YouTube, Andalan Para Bucin

Dua hal yang paling bikin aku halu dari Halyu adalah drama Korea dan KPop. Kalau untuk drama, sudah tentu yang bergenre  romance. Ya kalau nonton drama genre zombie terus halu, malah bikin makin serem gak sih? Kalau untuk KPop, tentu saja Bangtan Sonyeondan (BTS).

Ada beberapa drama yang bikin aku halu permanen, seperti yang pernah kubahas di tulisanku di sini. Chemistry para pemainnya membuat aku gagal move on. Bucin maksimal. Kalau sudah begitu, aku akan berburu video-video mereka di YouTube. Mulai dari potongan adegan tertentu, video ‘behind the scene’, press conference ketika launching, interview ketika promo sekaligus fan meeting, sampai video ketika mereka bermain games Jenga atau yang lainnya, yang juga untuk tujuan promo. Bahkan kalau aktor yang aku suka ternyata tampil di variety show, maka aku juga bakalan bela-belain nonton acaranya, walaupun sebenarnya aku gak suka nonton variety show.

Begitu juga halnya dengan kegemaran akan BTS atau Bangtan Boys. Sebagai ARMY kurang modal, dimana beli album belum sanggup apalagi nonton konser, tentu saja YouTube menjadi andalan untuk memenuhi hasrat kebucinan.

Awalnya aku tidak punya channel YouTube favorit sebagai tempat lahan perburuan. Namanya juga anak baru hehe Biasanya aku akan memasukkan kata kunci lalu memilih video yang terlihat paling menarik dari daftar yang ditampilkan YouTube. Namun seiring waktu, ternyata ada beberapa channel YouTube yang menjadi langganan untuk menyalurkan ke-halu-an, antara lain:


1. tvN Drama

Berhubung kebanyakan drama yang aku suka itu adalah produksi tvN, seperti “Her Private Life”, atau yang sedang tayang “It’s Okay to Be Not Okay”, maka channel ini akan menjadi langganan untuk melihat video-video seputar drama yang aku suka, khususnya press conference dan video pembuatan atau ‘behind the scene’. Memang tidak pakai subtitle yang aku mengerti, tapi itu tidak penting. Tidak selalu perlu kata-kata untuk menangkap rasa #bucindetected


2. The Swoon

Channel ini sebenarnya tergolong baru, usianya masih 1 tahunan. Channel ini menjadi andalan untuk menonton video interview para pemeran drama yang aku suka. Biasanya mereka menjawab pertanyaan yang diberikan fans sambil bermain Jenga atau misi rahasia. Selain itu, kita juga bisa menonton potongan-potongan adegan favorit, dan video behind the scene nya, dan banyak lagi. Intinya, barang siapa yang gagal move on, niscaya akan semakin terpuruk dalam ke-gagal-move-on-an nya. 


3. Big Hit Labels dan BANGTAN-TV

Big Hit adalah manajemen yang membawahi BTS. Jadi tidak hanya video tentang BTS, tetapi juga seluruh artis yang berada di bawah manajemen Big Hit, seperti TXT atau Tomorrow X Together dan Seventeen. Nah, kalau BANGTAN-TV, maka sesuai namanya, isinya hanya membahas BTS saja. Mulai dari Music Video, video latihan koreo atau rehearsal konser atau show, dan banyak lagi. 


4. The Kdramaholic

Berbeda dengan empat channel yang kusebut di atas, yang satu ini bukan channel resmi. Aku menemukan nya  ketika menonton drama “Her Private Life” dan mencari video-video tentang Kim Jae-wook. Kelihatannya aku dan pemilik channel ini memiliki bias yang sama, secara isi channel nya adalah video Jae-wook semata. Kebayang kan betapa bahagianya aku ketika menemukan channel ini. ❤


Read more…

July 10, 2020

Paduan Suara yang Istimewa

Salah satu hobi ku adalah mendengarkan musik dan bernyanyi. Tuhan mengaruniakan telinga yang peka nada dan tidak tone deaf seperti Dokter Seong-hwa. Walaupun demikian, ini tidak berarti orang lain suka mendengarkanku bermain musik atau bernyanyi. Namun ada cara lain yang bisa kulakukan untuk menyalurkan kesenanganku ini, yaitu melalui Paduan Suara. Dalam Paduan Suara, aku akan bernyanyi bersama-sama dengan orang lain. Masing-masing anggota Paduan Suara memiliki bagian dan tanggung jawab atas bagian dari satu lagu, untuk dipelajari, dilatih, sehingga dapat dinyanyikan dengan baik. Sehingga ketika setiap orang menyanyikan bagiannya, maka suara itu akan menyatu, berpadu membentuk suatu harmoni.

Sepanjang hidup yang baru memasuki Generasi 4.0 ini, ada dua paduan suara yang paling istimewa buatku, dimana aku tergabung menjadi anggotanya.


1.         St. Chronicles (Chro)

St. Chronicles, atau yang lebih sering kami sebut “Chro”, adalah Paduan Suara SMA St. Thomas 1, Medan. Chro merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah ku dulu. Tergabung dalam Chro merupakan salah satu hal yang istimewa yang kuingat dari sejarah masa SMA ku. Aku dan teman-teman, yaitu Chro Angkatan 3, adalah angkatan pertama yang mengikuti Festival Paduan Suara dan Vokal Group Antarsekolah setingkat SMA ketika itu, levelnya se-Kota Medan. Kami mendapatkan Juara 1 untuk kategori Paduan Suara. Padahal ketika itu kami tampil dengan kostum pinjaman, ke gedung dengan angkutan umum, tanpa guru pendamping. Prestasi itu sungguh membanggakan, dan membuat kami, Angkatan 3, cukup solid. Sampai sekarang pun sebagian besar dari kami masih tetap berkomunikasi.

Sampai sekarang Chro tetap eksis sebagai kegiatan ekskul di SMA St. Thomas 1 Medan. Beberapa kali aku pernah diundang juga oleh Chro untuk datang dan ngobrol-ngobrol dengan para anggota baru. Walaupun usia kami sangat jauh berbeda (bahkan mungkin aku seusia Mama mereka) tapi karena kami adalah satu keluarga besar Chro, maka panggilan Kakak-Adik tetaplah berlaku. Senang sekali rasanya kalau berkumpul dengan mereka. Rasanya muda terus haha

 

2.       Paduan Suara Gabungan Immanuel

Selama kuliah di Bandung dan bekerja di Kota Bireuen, aku tidak meneruskan kesukaan ber-Paduan Suara. Pernah suatu kali diajak oleh seorang pengurus gereja tempatku beribadah setiap Minggu untuk bergabung dalam Paduan Suara, tapi entah kenapa, aku tidak jadi bergabung.

Tahun 2011, setelah selesai proyek di Kota Bireuen, aku mendapat pekerjaan di Kota Medan. Sejak saat itu aku bergabung dengan paduan suara di gereja ku, HKBP Medan Kota. Namanya Paduan Suara Gabungan Immanuel, yang sering kami sebut dengan “Immanuel” saja.    

Immanuel, yang berdiri tahun 1993, adalah paduan suara yang cukup unik. Unik karena beranggotakan keluarga, yang terdiri dari Ayah Ibu dan anak-anaknya. Selain aku, Papi dan Mami juga anggota dari Immanuel. Mereka adalah salah satu anggota yang sudah bergabung sejak Immanuel didirikan. Dulu ketika masih SMA aku sering menunggui mereka latihan seusai kebaktian. 

Beberapa anggota yang ketika bergabung di awal masih berstatus lajang, ketika kemudian menikah, maka mereka akan membawa pasangannya, dan kemudian anak-anaknya, bergabung dalam Immanuel.  Jadi selama 27 tahun ini, anggota Immanuel sudah berkembang beranak-pinak. Selain karena faktor “kekeluargaan”, banyak juga anggota baru yang datang, sehingga makin lama Immanuel makin berkembang.

Tidak mudah mempertahankan suatu organisasi untuk bisa terus berjalan. Immanuel pun pernah mengalami masa-masa “paceklik”, masa-masa tanpa latihan dan tanpa pelayanan. Namun, sekitar tahun 2010 (atau mungkin beberapa tahun sebelumnya), Immanuel akhirnya bangkit. Mulai bergerak lagi. Mulai melayani lagi lewat lagu pujian.

25 Tahun PS Gab. Immanuel
"Aku Hendak Menyanyi Bagi Tuhan Selama Aku Hidup" - Mazmur 104 : 33
(dok. pribadi)

Tahun 2018, kami mengadakan syukuran untuk merayakan Paduan Suara Immanuel berulang tahun yang ke-25. Kalau biasanya yang mengurusi segala sesuatu adalah orang tua, sekali ini yang jadi panitia pelaksana adalah para anakmuda. Orangtua boleh duduk manis dan menikmati acara. Segala persiapan kami rencanakan dan jalankan dengan melibatkan semua anggota yang masih bergenre “anakmuda”. Sayangnya, ketika puncak acara, aku harus bertugas ke luar kota, sehingga hanya bisa menikmati lewat foto-foto. Sedih.

Acara tersebut berlangsung dengan sukses. Semua orang menikmati jalannya acara, dan walaupun ada friksi di sana sini, tetapi kepanitiaan ini tidak menghasilkan “barisan sakit hati”.

Gank "Anakmuda" bersama Ompung kami, anggota Immanuel yang paling senior
(dok. pribadi)

Sebagian besar anggota Immanuel aku kenal semenjak aku masih SMA. Mereka adalah Ompung, Om, dan Tante, yang aku kenal dan mengenalku lebih dari setengah usia hidupku. Buat ku, juga Papi dan Mami, mereka sudah seperti keluarga. Ketika tahun 2019 Papi berulang tahun yang ke-70, kami tidak mengadakan pesta besar seperti yang biasa dilakukan orang-orang, tapi kami merayakannya dengan syukuran bersama keluarga Immanuel. Acaranya berlangsung sederhana, diadakan di gereja selepas kebaktian. Meskipun sederhana, rasanya sangat istimewa, karena merayakannya bersama orang-orang yang istimewa.

Read more…

July 9, 2020

Handphone Ku Sayang

Pagi ini aku menyempatkan diri untuk menyambangi beberapa bank. Tujuan utama sih untuk mengaktifkan satu rekening yang sudah dorman. Tetapi sekalian keluar, dan bank yang kutuju juga letaknya berdekatan, ya sudah sekalian saja disambangi untuk mencetak buku tabungan. Sempat khawatir juga apakah bisa diaktifkan tidak di cabang tempat rekening dibuka. Ternyata bisa kok, modal KTP, buku tabungan, dan kartu ATM tentu saja.

Di bank pertama, aku disambut oleh satpam. Beliau memakai masker dan sarung tangan. Lalu setelah permisi, beliau mengukur suhuku. “36 derajat ya bu”, katanya. Bank tampak sepi, tidak ada nasabah yang mengantri. Hanya satu orang bapak sedang melakukan transaksi di teller. Memang lebih baik begini ya. Beberapa bulan lalu bank menutup sebagian besar kantor cabangnya dan hanya membuka kantor utama, demi menerapkan physical distancing dan bekerja dari rumah. Tapi kenyataannya, kebijakan itu malah menyebabkan antrian panjang  dan kerumunan di bank. Sering kali antrian nasabah mengular sampai keluar gedung. Dengan bank kembali mengaktifkan kantor cabangnya, justru jaga jarak lebih dapat dilaksanakan.

Anyway...

Setelah selesai berurusan di bank, aku mampir ke toko seberang yang menjual ayam dan telur. Tadi sebelum berangkat sudah cek isi kulkas. Ikan tinggal satu ekor, telur tinggal dua butir. Dari kemarin sudah berniat membeli fillet paha ayam. Harganya pasti lebih mahal daripada ayam utuh. Tetapi sudah bersih tanpa tulang, sehingga tidak ada bagian yang terbuang. Sayangnya telur omega3 sedang kosong, sehingga aku membeli telur biasa saja. Dasar impulsif, begitu lihat tumpukan sosis, jadi pengen. Tak lama aku keluar dari toko tadi sambil menenteng 1 pack fillet paha ayam, 1 kg telur curah, 1 bungkus sosis ayam CHAMP, dan ketumbar. Beda ya neng sekarang belanjaannya hahaha

Ketika itu lah aku sadari ternyata sedari tadi aku tidak membawa handphone. Walaupun bukan anak milenial, tapi aku termasuk yang sangat lekat dengan benda satu ini. Tanpa dia kurasa hampa #halah

Sampai di rumah kost, aku menemukannya terletak di atas meja. Buka WA, sudah berpuluh pesan baru di grup Drakor dan Literasi, dan beberapa grup lainnya. Ketika hendak mengunduh sebuah gambar yang dikirimkan seorang teman, ups... ditolak euy. “Udah gak ada tempat woi!”, ceunah. Ok, aku kembali ke halaman awal dan membuka folder “Gallery”. Tidak bisa diakses, karena kepenuhan. Hmm... aku kembali lagi ke aplikasi WA. Wakss... tiba-tiba gak bisa dibuka juga! Saking penuhnya, bahkan aplikasi WA pun sudah tidak bisa diakses lagi. Dan entah kenapa, tiba-tiba kartu memori tambahan pun tidak terbaca. Ottokee??

Handphone kesayanganku ini memang sudah beranjak remaja. Tahun ini dia tepat berusia lima tahun. Kisah pertemuan kami ada sejarahnya. Tahun 2015, ketika itu aku dan seorang teman menghadiri sebuah pesta pernikahan. Seperti biasa, dengan handphone mengambil foto sebanyak-banyaknya dan mengirimkan update kepada teman-teman kami yang tidak bisa hadir. Setelah selesai acara, aku kembali menyalami pengantin dan permisi pulang. Sesampai di mobil, aku baru sadar. Handphone ku mana yak? Di cari di tas, tidak ada. Aku kembali ke ruang pesta, berharap masih menemukan handphone ku. Harapan hampa.

Akhirnya aku kembali ke mobil, dan berkata pada temanku, “Handphone ku hilang.” Karena aku membutuhkan handphone ini untuk komunikasi dalam bekerja, akhirnya tidak ada pilihan harus beli yang baru. Dari tempat pesta, kami langsung menuju mall terdekat.

Memang handphone ku yang hilang itu usianya pun beranjak remaja. Aku membelinya tahun 2011. Fisiknya masih bagus, tetapi kelihatannya dia mulai lelah. Dia mulai butuh waktu lebih lama untuk menampilkan aplikasi yang kuinginkan. Tetapi karena buatku handphone adalah kebutuhan dan bukan penampilan, maka selama masih bisa berfungsi dengan baik dan benar, aku tidak merasa butuh menggantinya dengan keluaran terbaru.

Hilangnya handphone tadi mungkin sebagai pertanda dan jalan bahwa akhirnya aku harus membeli handphone baru.

Ketika itu lah aku bertemu dengan handphone yang sekarang. Samsung A5 berwarna campagne gold. Manis dan tipis. Spesifikasinya juga cukup mumpuni, sudah menggunakan android versi terbaru (saat itu), quadcore dengan RAM 2 Gb. Walaupun harganya ketika itu cukup membuat tercekat, tapi kuharapkan dengan spesifikasi itu aku dapat memakainya untuk waktu yang lama.

Namun setahun belakangan ini dia mulai sering kliyengan. Sering sekali aku menerima pesan bahwa memori nya sudah kepenuhan. Tentu saja aplikasi WA beserta simpanan foto-foto menjadi tersangka utama. Sebenarnya secara berkala foto-foto aku pindahkan ke laptop, dan aku juga menggunakan kartu memori tambahan. Aku buka “Application Manager”, ternyata aplikasi WA dan foto tidak terlalu memakan banyak memori. Terus, ini kenapa?

Ah... Kelihatannya perkembangan teknologi yang demikian pesat ini mulai mengkhianati kami. Aplikasi-aplikasi jaman sekarang termasuk updatenya kelihatannya menuntut memori lebih. Tidak hanya memori, aplikasi-aplikasi itu pun mulai pilih-pilih spesifikasi. Tidak jarang aku menerima penolakan setiap berniat mengunduh suatu aplikasi. “Device is not compatible!” Huhuhu

Pengkhianatan ini tentu saja tidak kami gubris. Akibatnya, di handphone ku hanya ada satu aplikasi ojol (karena yang satu lagi walaupun bisa diunduh, tetapi setiap kali diakses, maka akan otomatis “menutup diri”) , WhatsApp, Instagram, YouTube, dan sisanya aplikasi bawaan dari handphone.  Selama masih bisa berfungsi dan memenuhi kebutuhanku, aku tidak berniat berpaling darinya.

Namun hari ini, ketika bahkan aplikasi WA tidak bisa diakses, hati ku mulai gamang. Aku mencoba mendelete sebagian besar foto. Mulanya WA bisa diakses, tapi kemudian, penuh lagi. Bingung kan ya... apa coba yang bisa nambah dalam hitungan dua menit?

Aku masuk ke bagian “Application Manager”, lalu membersihkan data-data dari setiap aplikasi, termasuk aplikasi WA. Dengan santainya aku klik “Clear Data”. Wosaahh... tiba-tiba berkurang sampai 1 Gb lebih! Dengan sedikit deg-degan, aku coba membuka aplikasi WA. Dan tercekat ketika aplikasi itu meminta aku memasukkan nomor handphone, dan seterusnya dan seterusnya. Mau nangis rasanya, ini apa lagi siiihh... Lalu, pada layar ada pesan lagi, kira-kira artinya begini “mau dimasukin lagi gak backup data lo?” Serta merta aku memilih OK. Maka, kembalilah data yang 1Gb lebih tadi hahaha Dan mengembalikan backup itu bukan proses yang sebentar, lebih dari dua jam aku rasa. Maka habislah waktu selama beberapa jam tadi hanya untuk menghapus dan mengembalikan data yang sama. Unfaedah maksimal.

Kemudian aku memutuskan memindahkan sebanyak mungkin foto-foto.  Dan setelah mengosongkan kurang lebih 1.5 Gb, akhirnya aku bisa mengakses kembali WhatsApp dengan tenang.  Apakah ini saatnya untuk mencari handphone tambatan hati yang baru? Ah, besok saja lah itu dipikirkan. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.


Read more…

July 8, 2020

Terima Bongkar Supaya Terima Pasang

Di suatu hari, aku terduduk berkisah-kisah dengan seorang teman yang kukenal sejak masa SMP. Berarti kurang lebih enam belas tahun kami saling mengenal. Ketika di bangku SMP, kami bukanlah teman dekat, walaupun selama 3 tahun itu kami ada di kelas yang sama. Kami baru dekat setelah bertemu kembali beberapa tahun yang lalu. Mungkin kami bisa jadi dekat karena saat ini kami berada di titik yang hampir sama, walaupun jalan yang kami tempuh untuk sampai ke titik ini sangat berbeda. Kami bicara tentang keengganan dan ketakutan kami, yang ternyata adalah mirip (agak segan kalau nyebut sama hihi)

Sesi ngobrol-ngobrol ini membuat aku bisa sedikit banyak membongkar isi kepala dan hati ku sendiri.

Hal yang paling sulit kulakukan adalah mengambil komitmen, dan konsisten untuk menjaganya. Sehingga, ketika aku memilih sesuatu dimana aku harus mengambil komitmen, maka aku akan memilihnya dengan sangat hati-hati, dan cenderung untuk tidak melakukannya. Misalnya saat sesuatu tantangan atau hal baru dihadapkan padaku. Ketika itu seorang teman mengajak aku untuk bergabung di pusat kebugaran, cari gym buddy ceritanya. Maka aku langsung menolak, karena di pikiranku sudah jelas, “Ah, nanti pasti cuman semangat di awal, setelah itu males datang. Sayang banget nanti iurannya.”

Padahal kan seharusnya cara berpikirnya diganti menjadi “Wah, tawaran menarik ini. Mumpung ada teman, jadi pasti lebih semangat. Harus cari cara supaya tetap rutin ke gym, biar gak rugi udah bayar uang iuran mahal-mahal.”

Setelah ku renungkan lagi, mungkin sebenarnya yang  kutakutkan adalah ‘kekalahan’ ketika tidak berhasil memenuhi komitmen, karena aku tahu aku sulit untuk konsisten melakukan sesuatu. “Kekalahan” ini bisa berarti gagal, tidak mencapai target, ataupun dikritik. Apalagi kalau kritiknya pakai karet dua, alias pedasss. Walaupun ketika mengalaminya aku akan diam saja, tetapi di dalam hati sudah pasti defensif.

Kegagalan juga membuatku enggan mencoba dua kali. Tahun 2007, aku pernah mengajukan aplikasi untuk mendapatkan beasiswa. Ketika itu jalannya tampak sungguh menjanjikan. Aku bahkan sudah bertemu dan diwawancara secara informal oleh salah seorang penilai. Aku masih ingat kata-katanya, “Saya rasa kamu memenuhi syarat, tapi panel penilai kan ada lima orang, saya hanya 1 suara. Tapi saya yakin kok kamu bisa.” Berbunga-bunga lah hati ini, seperti sudah bisa membayangkan akan belajar dan hidup di negara impian.

Tunggu punya tunggu, tak ada kabar berita. Sampai akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada si penilai ini tentang hasil seleksi. Jawabannya pun masih kuingat jelas, “Sayang sekali kamu tidak lulus. Saya juga heran ketika nama kamu tidak ada di daftar pelamar yang lulus saringan untuk wawancara.” Lahh... kenapa jadi elu yang heran, bambang?? Bukannya situ panitia?? Oh baiklah...  Dan setelah itu aku tidak pernah lagi melamar untuk beasiswa apapun. Kapok.

Alih-alih berusaha supaya tidak ‘kalah’ dengan merubah strategi atau berjuang lebih keras, atau berusaha untuk lebih konsisten menjaga komitmen, maka yang aku lakukan adalah memilih untuk tidak mengambil komitmen. Atau, aku akan memilih komitmen yang mudah, yang aku tahu aku bisa memenuhinya tanpa banyak usaha ektra.

Memang hal yang wajar ketika kita memilih medan pertempuran kita. Tetapi bedanya, aku memilih pertempuran yang membuat aku tetap ada di zona aman dan nyaman. Tidak perlu berdarah-darah terseok-seok demi mencapai garis finish. I’m playing safe.

Biasanya, yang bermain aman ini sulit untuk bergerak maju. Tetapi, percaya atau tidak, si pemain aman ini biasanya juga gak keberatan untuk tidak bergerak maju. Tidak punya ambisi. Pengen sih pengen, tapi ya kalau gak dapat juga gak apapa. Kan main aman.

Di awal tahun 2020 ini, aku mengambil keputusan untuk memulai hidup di perantauan. Tidak gampang  meninggalkan sarang yang nyaman itu, but I did it. Sejak saat itu pula aku belajar untuk mengambil komitmen satu demi satu.

Aku juga belajar menerima “kekalahan”. Bahwa gagal itu perkara biasa, gak usah diratapi berlama-lama. Harus bangkit lagi dan berdiri. Pasang lagi jiwa dan hati yang sudah porak-poranda. Kalau tak sanggup berlari, ya sudah jalan saja. Yang penting harus bergerak. Orang hidup pasti punya masalah. Karena yang gak punya masalah cuman orang gila dan orang mati. Jadi dihadapi saja. Tanya Tuhanmu, pakai hatimu, pakai otakmu, dan tetaplah berjalan.  

Menuliskannya kaya’ enak ya... Padahal melakukannya sama sekali bukan perkara mudah. Bad habits die hard. Butuh latihan. Porsinya pelan-pelan dinaikkan, sehingga lama-lama akan menjadi kebiasaan.

Salah satu latihan adalah dengan mulai membiasakan diri untuk menulis lagi, dan mengambil komitmen untuk ikut KLIP. Belajar mengalahkan sifat moody, dan memaksa diri memeras otak untuk menulis, demi bisa menyetor tulisan sesuai topik dan deadline yang sudah disepakati bersama.  Masa’ kalah sih sama emak-emak di grup Drakor dan Literasi, yang harus urus anak urus suami urus kerjaan, trus masih tetap bisa menjaga komitmen menulis setiap hari. Malu sama keyboard, cuuyy... hahaha

Sudah kubilang, teman-teman grup Drakor dan Literasi itu mengintimidasi sekaligus menginspirasi  ku. Saranghae, chingudeul!

Read more…