August 7, 2020

Penyembahan yang Benar (Catatan PA Immanuel Choir)

Hari ini, sebagaimana rutin dilakukan setiap minggu kedua dan keempat setiap bulan, Immanuel Choir melakukan PA atau Pendalaman Alkitab melalui fasilitas zoom. Kegiatan ini baru-baru saja dibuat, PA hari ini adalah yang kali yang ketiga. Senang juga rasanya bisa bertemu dan berbagi cerita dengan teman-teman walaupun hanya lewat layar.

Topik hari ini adalah tentang Penyembahan yang Benar. Ayat renungan diambil dari Mazmur 149 : 3 - 6. 

(3) Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! (4) Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. (5) Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka! (6) Biarlah pujian pengagungan Allah ada dalam kerongkongan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka.

Renungan dibawakan oleh Ibu Agus Theresia Napitupulu br. Siahaan. Aku belum pernah mendengarkan renungan yang dibawakan oleh Ibu Theresia. Renungan tadi cukup berkesan, dibawakan dengan santai, bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, namun terstruktur.  

Aku mencatat beberapa hal yang menjadi inti dari renungan atas perikop tadi.

1. Orang-orang yang menjadi anggota Paduan Suara adalah orang yang 'beruntung', karena mereka (kita) dipersiapkan menjadi penyembah-penyembah Tuhan yang benar. Dan di dalam penyembahan yang benar, ada kuasa yang dahsyat. 

2. Untuk menjadi penyembah yang benar, maka kita harus menjadi orang yang benar. Salah satu karakter orang benar menurut Mazmur 1: 2 adalah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Kita selayaknya menyediakan waktu khusus, setiap hari, untuk berdoa, membaca Alkitab, dan merenungkan Firman Tuhan. Dengan bergaul setiap hari dengan Tuhan, maka kita akan semakin mengenal Dia, semakin mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita.

3. Dalam Mazmur 147 :1 dikatakan bahwa bermazmur bagi Tuhan itu baik, indah, dan layak. Oleh karena itu, hendaklah nyanyian yang kita kumandangkan sebagai puji-pujian bagi Tuhan tidak menjadi rutinitas semata. Namun kita harus melakukannya dengan hati yang siap dan sungguh, sehingga pujian kita berkenan dan menyukakan hati Tuhan. 

4. Seperti apa hati yang berkenan kepada Tuhan? Tuhan berkenan apabila kita memuji Tuhan dengan rendah hati dan kesalehan (Mazmur 149 : 4). Rendah hati artinya tidak sombong dengan bakat suara atau kemampuan bernyanyi yang diberikan oleh Tuhan, namun menggunakan talenta tersebut untuk memuji dan memuliakanNya. Kesalehan artinya tingkah laku kita, hati jiwa dan pikiran kita, adalah sesuai dengan Firman Tuhan.

5. Pada ayat ke-6 dari perikop di atas, dikatakan bahwa ketika kita bernyanyi, kita harus memiliki "pedang bermata dua", yaitu Firman Tuhan, di dalam hati kita. Karena Firman Tuhan hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun, yang mampu memisahkan jiwa dan roh; sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Apakah yang ada di dalam hati kita itu kehendak kedagingan kita, atau kehendak Tuhan. Tidak ada suatu apapun yang tersembunyi di hadapanNya. (Ibrani 4 : 12)

6. Dalam Amos 5 : 23 dikatakan bahwa Tuhan berkenan pada nyanyian kita apabila kita melakukan keadlian dan kebenaran, taat, setia, dan memegang teguh Firman Tuhan sebagai kebenaran. Hendaklah kita menjadikan keadlian dan kebenaran menjadi "gaya hidup". 


Kesimpulan dari beberapa poin di atas adalah sebagai umat Tuhan, lebih khusus lagi sebagai pelayanNya, kita harus memastikan hati, jiwa, pikiran, dan perbuatan kita, senantiasa seturut dengan Firman Tuhan. Dalam keseharian kita, setiap saat kita dihadapkan dengan hal-hal yang merupakan "ibadah", maka jadikanlah semua "ibadah" kita adalah untuk Tuhan. Termasuk ketika kita bernyanyi dalam Paduan Suara. Hati kita harus bersungguh-sungguh mempersembahkannya untuk Tuhan, sehingga baik kita yang menyanyikan dan orang-orang yang mendengarkannya akan diberkati, dan lebih lagi mengenal kuasa dan kebaikan Tuhan. 

Kiranya Tuhan memampukan aku untuk menyanyi bagi Dia selama aku hidup, dan bermazmur bagi NamaNya selagi aku ada. 

Read more…

August 6, 2020

Merdeka itu Terbatas

Kata yang paling sering disandingkan dengan “merdeka” adalah “hak”. Orang yang merdeka berhak untuk bicara. Orang yang merdeka berhak untuk menentukan pilihannya, berhak melakukan apa yang diinginkannya, berhak mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Namun sangat jarang kata “merdeka” disandingkan dengan kata “tanggung-jawab”.

Ketika masih SMA, aku sering merasa kesal karena merasa tidak mendapatkan kebebasan seperti yang dimiliki teman-temanku. Kalau mau nonton atau jalan sama teman-teman, harus jelas pergi dengan siapa, kegiatannya apa saja, dan pulangnya bagaimana. Kalau sudah malam, tidak boleh naik kendaraan umum (taksi sekalipun); berdua saja tidak boleh apalagi sendiri. Papi akan menjemputku dimanapun aku saat itu berada. Sebagai abege, kesal kan yaa... kan pengen kaya’ teman-teman yang kaya’nya “dewasa” banget gitu... bawa kendaraan sendiri, atau naik taksi, atau apalah, pokoknya selain di antar jemput. Paling “sedih”nya lagi, suatu kali teman-teman ku pada bolos bimbel, terus pergi main. Aku kan pengen ikut juga. Tapi kalo sampai bolos bimbel, nanti kan bakal ketahuan. Pertama karena Papi menjemputku setiap sore, dan kedua, karena bimbel ku mengirimkan raport bulanan ke rumah.

Sedemikian “tidak merdeka”nya aku, sampai-sampai, ketika aku dan teman sebangku ku menetapkan kampus impian kami, dengan hati-hati dia bertanya, “Kau yakin diizinkan merantau ke Pulau Jawa??”

Berbanding terbalik dengan urusan “jalan sama teman-teman”, untuk urusan pendidikan (dan kemudian pekerjaan), Papi dan Mami memberikan kemerdekaan seluas-luasnya kepada anak-anaknya. Terserah mau kuliah di mana, kota mana, jurusan apa. Sama hal nya untuk urusan pekerjaan, terserah mau kerja di mana, dari Sabang sampe Merauke, Kutub Utara sampai Kutub Selatan.

Ketika mulai merantau, di situlah aku mulai merasakan “merdeka” yang kuidam-idamkan. Bebas mau jalan ke mall, bebas mau nonton ke bioskop, bebas perginya mau bareng siapa pun, dan bebas pulang jam berapa saja yang aku mau. Dengan catatan, selama orang tua tidak tahu hihihi

Mula-mula rasanya luar biasa. Seru! Bagaikan serial TV remaja Amerika. Tapi lama-lama aku mulai terhanyut. Saking merdekanya, aku lebih banyak memilih untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan bermalas-malasan. Kemudian satu persatu teman-teman menyelesaikan masa perkuliahan mereka, sementara aku masih mengulang beberapa mata kuliah. Sampai peringatan itu datang, bahwa aku sudah mendekati batas akhir masa perkuliahan.

Di situlah aku belajar, in a hard way, bahwa merdeka itu artinya bertanggung jawab. Aku harus memperbaiki kesalahan yang kulakukan selama masa awal kemerdekaan itu. Dirusak sendiri, ya diperbaikinya juga sendiri. Sendiri dalam arti tidak pakai jalan pintas, atau koneksi sana sini, selain berusaha dan mengejar ketertinggalan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Puji Tuhan, dengan doa, usaha, dan pertolongan banyak orang, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.

Kemerdekaan itu berbeda bagi setiap orang. Buat ku, merdeka adalah bebas jalan-jalan sama teman kapan saja kemana saja dengan siapa saja. Tapi buat seorang sepupuku, merdeka itu adalah bebas mau kuliah di kota mana saja, karena ketika itu dia tidak diizinkan merantau, sehingga ketika lulus kuliah dia berusaha keras mendapatkan pekerjaan di luar kota. (Lucunya, sepupu ku ini malah sangat ‘merdeka’ untuk urusan gaul dan jalan sama teman-teman.)

Kemerdekaan itu dinamis dan ekskalatif. Hal yang kita anggap merdeka di satu masa, tiba-tiba menjadi tidak seberapa merdeka.  Kita terus menerus menginginkan yang lebih dan lebih lagi.

Kemerdekaan itu terbatas. Batasannya adalah ketika kemerdekaan kita bertemu dengan kemerdekaan orang lain. Seperti sebuah lingkaran yang saling bersinggungan. Semakin besar kemerdekaan yang kita tuntut, maka semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan agar kemerdekaan kita tidak menggangu kemerdekaan orang lain.

Apapun bentuknya, kemerdekaan yang kita miliki saat ini haruslah kita syukuri, dengan selalu berusaha untuk menjalankannya dengan bertanggung jawab.


Read more…

August 5, 2020

Forgiven and or Forgotten (?)

Konon katanya, tiga kalimat yang paling sulit diucapkan adalah: “Maaf”, “Tolong”, dan “Terima kasih”.  Kalau mau di-ranking, mungkin “Maaf” adalah yang pertama, “Terima kasih” itu kedua, dan “Tolong” itu yang ketiga.

Maaf bisa berarti memaafkan, atau meminta maaf. Keduanya sama sulitnya. Ada yang lebih sulit lagi, yaitu memaafkan dan melupakan.

Suatu ketika aku sedang duduk bersama seorang teman satu komunitas yang sudah jauh lebih senior. Ketika itu kami sedang sama-sama menunggu jemputan. Sama-sama bosan mengoprek isi gadget, kami pun mengobrol ngalor ngidul. Mula-mula bicara tentang kegiatan kami di komunitas tersebut. Kalau pembicaraan sudah lebih dari tiga puluh menit, sudah bisa dipastikan bakalan masuk ke topik “ngomongin orang”. Sebenarnya “ngomongin orang” ini gak selalu salah, selama yang dibahas adalah hal-hal baik dan hal-hal yang yang sudah jelas status kebenarannya.

Temanku ini mulai bercerita tentang dua orang dalam komunitas kami yang aku kenal cukup dekat dengan nya, yaitu si Anu dan si Badu. “Aku sih gak mau ingat-ingat  masa lalu ya... pernah aku lagi butuh banget, terus ku hubungi si Anu. Tahu gak, gak mau lho dia bantu. Padahal, kan gak ada susahnya urusanku itu buat si Anu. Tinggal angkat telpon aja.” Lanjutnya “Kalau si Badu... ah, pernah sakit banget hatiku dibuatnya... masa’ kan... blablabla”. Sebentar dia terdiam, lalu berkata, “Tapi ya sudahlah, aku gak mau ingat-ingat lagi itu semua, namanya pun teman ya...”.

Aku geli mendengarkan kalimatnya. Untuk orang yang mengaku tidak mau mengingat, ternyata temanku ini mampu menjabarkan dengan sangat detail seluruh kejadian yang tidak mengenakkan itu. Pengen ketawa, tapi takut dosa :p

Katanya, memaafkan dan melupakan itu tidak bisa satu paket. Hanya bisa terjadi salah satu. Memaafkan, tapi tidak melupakan. Benarkah?

Memaafkan itu pilihan. Tidak ada orang yang tidak bisa memaafkan. Persoalannya hanyalah mau atau tidak mau.

Melupakan itu anugerah. Kita tidak bisa dengan sadar melupakan sesuatu. Namanya pun lupa. Biasanya malah semakin berusaha lupa, maka semakin lekat dalam ingatan.

Memaafkan sebaiknya disertai dengan melupakan. 

Memaafkan dan melupakan artinya bersedia memberikan kesempatan kedua, meskipun kesempatan itu disertai dengan berbagai rambu peringatan. Wajar saja, karena setiap orang belajar dari pengalaman.  Memaafkan dan melupakan artinya kita tidak mengungkit-ungkit masa lalu setiap kali ada kesempatan. Memaafkan dan melupakan artinya kita beradaptasi dengan kenyataan, menyesuaikan "setelan", untuk bisa terus berjalan.

Memaafkan dan melupakan itu faedahnya lebih besar untuk diri kita sendiri sebagai pelakunya.  Membuat hidup lebih ringan bahkan tanpa beban.

(Sebuah catatan bagi diri yang sedang belajar untuk memaafkan dan melupakan)


Read more…

August 4, 2020

Menuliskan Kapsul Waktu

Tadi malam Risna eonnie membagikan sebuah tautan kepadaku, disertai pertanyaan, “Ini kau bukan?”. Tautan itu membawa ku pada sebuah tulisan di blog Risna eonnie tentang percakapan nya dengan seorang “teman seperjuangan” sepuluh tahun yang lalu. Awalnya aku ragu, apakah teman seperjuangan itu aku. Memang beberapa kalimat mengindikasikan demikian, tapi kok meragukan ya... 


Aku terus membaca sampai ke kolom komentar. Si “teman seperjuangan” itu memberikan komentarnya. Fakta bahwa si “teman seperjuangan” ini tidak mau mencantumkan nama dan memilih anonymous sebenarnya sudah indikasi keras bahwa itu adalah aku hihi. Namun ketika Risna eonnie menjawab komentar itu dengan memanggilnya dengan sebutan “Cui”, then it is confirmed! Itu memang aku hahaha


Pada percakapan itu  kami membahas apa yang kami lakukan sepuluh tahun sebelumnya. Percakapan itu terjadi tahun 2010, berarti kami membahas kelakuan kami di tahun 2000. Man… we are talking about a serious ancient history here! LOL 


Risna eonni tidak banyak menuliskan detail tentang percakapan kami ketika itu, tapi yang pasti, kesimpulan dari percakapan itu adalah Risna eonni berniat lebih rajin menulis blog, dan aku, si teman seperjuangan, berniat untuk membuat blog baru dan menulis lagi. Ternyata butuh sepuluh tahun untuk aku merealisasikan niat itu, dan butuh sepuluh tahun bagi Risna eonni untuk menyeretku supaya menulis kembali hahaha 


Tahun 2010 adalah tahun terakhirku di Kota Bireuen. Masa di mana aku sedang menyiapkan rencana baru untuk masa depan. Masa yang penuh pergumulan dan kekesalan. Kesal pada orang-orang yang kuanggap tidak menghargai kerja keras para mantan atasanku. Kesal pada orang-orang yang kuanggap punya hidden agenda dibalik berbagai keputusan yang dibungkus dengan begitu apik. Kekesalan yang membuatku berpikir untuk segera mencari pekerjaan baru. Aku sempat menjalani proses interview via telepon dengan sebuah perusahaan yang berada di ujung lain dari Nusantara. Belum rezeki. Sampai akhirnya kontrak kerja ku berakhir (lebih tepatnya diakhiri) dan aku meninggalkan Kota Bireuen tanpa pekerjaan. 


Hanya dalam hitungan hari, aku mendapatkan pekerjaan baru di Kota Medan. Pekerjaan yang membawa ku pada suatu proses pembelajaran yang sama sekali baru. Proses dan pengalaman jatuh bangun yang tidak pernah terbayangkan. Proses yang membawaku sampai ke saat ini, ke tahun 2020, dimana aku kembali menyiapkan rencana baru untuk masa depan. 


Aku mengingat sebagian besar peristiwa dalam kurun waktu sepuluh tahun itu, tapi tidak mendetail. Aku ingat kekesalanku, tapi aku tidak ingat sekesal apa, kenapa, dan bagaimana, serta apa yang aku lakukan untuk mengatasinya. Aku ingat kegagalan dan keberhasilan ku, tapi aku tidak ingat hal-hal kecil yang membentuknya, menyusunnya, dan mengantarkannya menjadi sebuah kegagalan maupun keberhasilan. Aku terlalu malas untuk menuliskannya, terlalu lelah untuk menguraikan isi kepalaku dan menerjemahkannya dalam kata. 


Pernah beberapa kali aku mencoba untuk mengaktifkan blog ku dan mulai menulis lagi. Saking sering aku melakukannya, sampai aku pernah menamai blog ku “50 First Posts” hahaha Kalau di analisa lebih jauh (tsaahh), mungkin karena di masa itu aku tinggal di rumah, masih sering ngumpul sama teman-teman, jadi emosiku sudah tersalurkan, dan sudah kehabisan energi untuk menulis. Beda dengan sekarang, ketika aku kembali merantau, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. 


Seperti kata seorang rekan KLIP, menulis itu adalah tentang diri sendiri. Mengolah pikiran dengan perasaan sehingga menjadi tulisan. Pikiran dan perasaan yang kita gunakan ketika menuliskannya, bisa jadi tidak sama dengan pikiran dan perasaan yang tersampaikan ketika kita membacanya kembali. Pengalamanku kembali menulis selama hampir delapan bulan terakhir ini mengajarkan bahwa membaca tulisan ku kembali membuat aku bisa meninjau kembali apa yang terjadi, mendapatkan sudut pandang baru, dan membangkitkan keyakinan dan semangat baru.  


Sepuluh tahun sejak pembicaraan kami, Risna eonnie dan aku kembali menjadi teman seperjuangan. Teman seperjuangan menulis haha. Semoga tulisan Risna eonni dan aku hari ini menjadi kapsul waktu yang akan kami “buka” sepuluh tahun dari sekarang, ketika sedang mencari inspirasi untuk menulis di blog masing-masing. 


Read more…

August 3, 2020

Asumsi Potensi Distorsi

Hari ini aku bekerja dari kantor. Mengingat makin maraknya penyebaran virus Covid19, kalau bukan karena mau ketemu dengan tiga orang rekanan untuk membahas beberapa tawaran pekerjaan, sudah dipastikan aku tidak akan berniat untuk beranjak dari rumah kost ku. 


Kantor tempat aku bekerja menempati lantai tiga dari gedung kantor bersama itu. Namun setibanya di kantor, aku langsung masuk ke ruang rapat yang ada di lantai dasar, dan tidak masuk ke ruang kantor di lantai tiga. Kondisi pandemi ini membuatku secara tidak sadar menetapkan “kuota” jumlah orang lain, yang tidak serumah pun bukan keluarga, yang aku temui per hari. 


Bukan orang awak kalau gak telat. Jadwal pertemuan ditetapkan pukul 10 pagi. Dan pukul 10.15, dua dari mereka “masih di jalan”. Aku hanya berharap kiranya jalan yang sedang mereka lalui itu adalah menuju ke kantor ini dan bukan tempat lain. Untuk tidak membuang waktu, aku memulai saja pembicaraan dengan satu orang rekanan yang sudah tiba. 


Singkat kata singkat cerita, dua rekanan tadi tiba beberapa menit setelah pukul 11. Sudah bisa ku tebak, waktu pertemuan kami ini pasti akan melewati atau paling tidak mendekati jam makan siang. Dan benar saja, waktu sudah hampir pukul 1 siang ketika pembahasan kami mendekati akhir. 


Aku mengirimkan pesan WA kepada admin. Sebut saja dia Bunga.

“Bunga, tolong belikan nasi bungkus dari RM Padang Simple ya. Ada kan yang dekat sini. Untuk 4 orang.”


Bunga segera menjawab pesanku.

“Baik, Bu. Ada, Bu. Pesanannya apa saja, Bu?”


Aku tidak langsung menjawab pesan Bunga. Sekitar 10 menit kemudian, ketika aku akan membalasnya, tiba-tiba pegawai bagian umum datang ke ruang rapat. 

“Bu, apa saja pesanannya?”

Setelah menyampaikan pesanan kami, lalu aku bertanya lagi, “Sudah tahu kan pak belinya dimana?” 

“Iya Bu, tadi sudah dikasih tahu sama Bunga”.


Tidak lama kemudian, pesanan kami pun datang. Berhubung sudah lapar berat, tanpa banyak komentar kami pun langsung menyantap nasi bungkus tadi. Setelah selesai makan, sedikit basa basi, pertemuan pun berakhir.


Kemudian aku mengirim pesan lagi kepada Bunga. 

“Berapa belanja makannya tadi?”

“Totalnya delapan puluh ribu sekian sekian, Bu”


Aku mengernyit. Aku tahu harga di RM Padang Simple itu cukup mahal. Nasi bungkus pakai telur saja hampir dua puluh ribu rupiah. Kok empat bungkus nasi dengan ayam bakar plus nasi tambah dan air mineral botolan bisa cuman segitu?

“Yakin kamu? Kok murah banget???”


Ternyata oh ternyata… Nasi bungkus tadi bukan dibeli di RM Padang Simple yang ternama itu. Tapi di RM Padang yang tak jauh dari kantor, tempat aku sering beli makan siang. Aku pun bertanya lagi ke Bunga, “Kenapa belinya di situ??”


Penjelasan Bunga adalah dia bertanya kepada supir kantor, dimana rumah makan padang yang dekat kantor. Dan supir pun menunjuk RM Padang “Simple ala ala” yang jadi langgananku itu. 


Aku pun bertanya lagi, “Kan saya udah bilang, belinya di RM Padang Simple. Kenapa kamu cari rumah makan padang dekat kantor?”


Bunga menjawab, “Oh… saya gak baca bagian itu, Bu. Saya pikir yang penting rumah makan padang”.


Bijaksana sungguh.


Sebenarnya bukan masalah besar. Hanya persoalan nasi bungkus empat biji. Tapi buatku ini mengindikasikan permasalahan lain yang klasik namun krusial. Perkara komunikasi dan asumsi.



sumber: mamikos.com


Kalau di-break down atas beberapa point, permasalahannya bisa dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bunga tidak membaca pesanku dengan lengkap. 

  2. Bunga tidak tahu RM padang mana yang kumaksud, dan tidak tahu dimana RM padang di sekitar kantor. Tapi alih-alih bertanya atau mengklarifikasi kepadaku, Bunga malah nanya sama supir, yang sama sekali tidak terlibat dalam komunikasi kami. 

  3. Bunga meneruskan informasi tadi kepada pegawai bagian umum.

  4. Aku tidak memastikan kepada pegawai bagian umum bahwa dia sudah tahu bahwa yang kumaksud adalah RM Padang Simple, dan bukan RM Padang lain. 

  5. Aku tidak memperhatikan dengan benar nasi bungkus yang dibeli, karena biasanya kalo dari RM Padang Simple, di kertas pembungkus ada tertera logo. Aku terdistraksi oleh lapar yang mendera. 

  6. Akibatnya, ada empat orang yang gagal menikmati masakan padang yang super duper nikmat, dan sebagai gantinya mendapatkan masakan padang yang nikmat. (Karena makanan hanya ada dua jenis, yaitu enak dan enak banget)


Hal serupa sering terjadi dalam kehidupan kita. 


Kita sering tidak mendengarkan atau membaca suatu informasi yang kita terima dengan lengkap. Bisa jadi karena enggan, atau malas, atau memang ada gangguan pendengaran atau penglihatan. 


Karena tidak lengkap, kita tidak mengerti informasi yang kita terima. Mungkin kita memiliki pengetahuan yang terbatas tentang perkara yang sedang dibahas. Tapi kita tidak meminta klarifikasi dari sumber informasi pertama tadi. Bisa jadi karena enggan, atau malas, atau memang ada gangguan relasi. 


Lalu kita pun membuat asumsi sendiri. Atau tidak jarang kita bertanya kepada orang lain yang tidak ikut hadir dalam pembicaraan awal, yang tentu saja memberikan input sesuai asumsi nya sendiri. Tidak heran, secara dia juga tidak dengar langsung dari sumber pertama. 


Asumsi atas asumsi, potensi distorsi. Akibatnya, hasil akhir pun bisa meleset jauh dari tujuan awal. 


Komunikasi adalah sebuah keterampilan. Kemampuan untuk menyampaikan apa yang kita inginkan dan kita butuhkan, sehingga orang lain mengerti, dan kebutuhan kita pun terpenuhi.  


Komunikasi adalah proses dua arah. Kedua pihak harus berjalan pada koridor yang sama. Kita tidak bisa memaksa lawan bicara kita mengerti. Namun kita bisa memastikan kita menyampaikan informasi dengan lengkap. Kita bisa memastikan lawan bicara kita mengerti apa yang kita sampaikan dengan cara bertanya. 


Komunikasi bukan sekadar membuka suara. Komunikasi juga perkara kemauan dan kerendahan hati untuk mendengarkan lawan bicara.


Read more…

August 2, 2020

Demi Konten!

Akhir bulan Juli kemarin, grup WA Perempuan IA-Sumut tiba-tiba lebih ramai dari biasanya. Rencananya pengurus mau bikin event zoom tentang masak-memasak untuk awal Agustus. Jadi para anggota diajak untuk mengirimkan video memasak menu favorit dengan durasi maksimum 5 menit, dengan mengusung tema “healthy and simple”. Hidangan yang mudah dibuat, bahan mudah diperoleh, dan yang terutama sehat. Hidangannya bisa berupa pembuka , utama, pencuci mulut, minuman, ataupun kudapan. Nantinya akan dihadirkan koki tamu untuk memberikan komentar pada hidangan-hidangan tersebut.


Hal ini terinspirasi dari kenyataan bahwa selama masa pandemi dan di rumah saja ini, aktifitas para ibu dan remaja putri pun putra untuk bereksperimen di dapur mengalami peningkatan yang pesat. Setidaknya ada lima orang teman dan keluarga ku yang memulai bisnis kuliner semenjak masa pandemi ini, yang awalnya berangkat dari kesukaan berkreasi dengan mencoba berbagai menu, dan mempostingnya di media sosial. Setiap hari, lini masa ku di berbagai media sosial dipenuhi foto-foto masakan karya mereka. 


Ketika seorang kakak alumni mengajak aku untuk ikut mengirimkan video, aku nanya, “Kalau french toast, masuk hidangan apa tuh? Kudapan?” Niatnya mah cuman mau meramai-ramaikan forum bahasan. Biasalah, tim hore. Dan kebetulan ketika itu aku baru membuat french toast untuk sarapan pagi. Kadang-kadang aku juga membuatnya untuk snack sore, bahkan untuk makan malam. Tergantung pengennya kapan. 


Pembahasan kami hanya sampai di situ. Besoknya, tiba-tiba nama ku sudah dimasukkan daftar untuk peserta kriteria hidangan pembuka, dengan menu french toast. Bengong dong eikeeh…. Langsung angkat suara, protes! Bukan apa-apa, malu-maluin aja menayangkan aib sendiri. Menjawab protesku, si kakak senior, yang juga bernama Dwi, menjawab santai, “Halah.. Kebanyakan mikir si Dwi ini…” #jleb


Ok baiklah! Saya ikut!


Aku ingat waktu itu tanggal 24 Juli. Batas akhir pengiriman video adalah 29 Juli. French toast itu pada dasarnya adalah roti tawar yang dibalur kocokan telur, lalu nantinya bisa dimakan bersama olesan madu, mayones, bahkan sambal botolan. Memasaknya mudah dan bahan-bahannya juga biasanya selalu tersedia di rumah. Saking mudahnya, mental cinderella yang mendarah daging ini pun berpikir, “Ah, masih ada beberapa hari. Sekalian aja video-in pas bikin sarapan.”


Sarapan demi sarapan berlalu, hingga tibalah kita di hari yang dinanti-nantikan itu, tenggat waktu Rabu tanggal 29 Juli. Cek persediaan. Susu sudah dibeli beberapa hari lalu. Telur masih ada delapan butir. Bubuk kayu manis, margarin, semua lengkap. Roti tawar tinggal empat lembar. Hm…. baiklah, kita tunggu saja abang Sari Roti yang biasanya lewat sore hari. 


Tunggu punya tunggu, si abang gak lewat-lewat juga. Mau jalan ke indoapril terdekat, sudah kesorean. Ya sudahlah, mari kita lanjutkan misi membuat video memasak ini dengan apa yang ada. Toh menunya emang mudah dan gampang. Aman lah itu. Demikian pikir ku.


Aku mulai menyiapkan bahan-bahan. Meja kerja ku kosongkan, lalu semua bahan-bahan kususun di atasnya. Kusiapkan musik sebagai background, yaitu OST Dinner Mate. Kontekstual dong! 


Ok, semua siap… bahan-bahan siap! Handphone siap! Mainkan! Begitu menekan tombol rekam, aku terdiam. Ini mau ngomong apa??? 


Ternyata, memasaknya memang gampang, sodara-sodara. Bikin konten videonya yang gak gampang! Hahahaha


Take 1. 

“Hai semua… pada kesempatan ini, saya akan membagikan resep french toast. Kita siapkan bahan-bahannya ya… Empat lembar roti tawar, lalu dua…….”


Lah, telurnya mana??? Giliiing… saking hebohnya menyiapkan bahan-bahan, lupa kalau telur masih di kulkas! Hahaha


Akhirnya setelah beberapa kali take, aku berhasil merampungkan video bagian pertama, yaitu menampilkan bahan-bahan yang akan digunakan. Aku pindah ke dapur untuk memvideokan cara memasak. Wajan datar sudah tersedia, bahan-bahan sudah, alat-alat sudah. 


Pertanyaan: Bagaimana cara merekamnya?? 


Aku tidak punya tripod, tongsis, atau sebangsanya. Akhirnya, positioning dulu. Cari entah apapun yang bisa dijadikan tumpuan, sandaran, dan penahan handphone. Botol madu, keranjang sendok, minuman sachetan, pokoknya segala yang ada diberdayakan! Lalu dikeker ke arah kompor. Aku pada dasarnya tidak suka difoto apalagi divideo, jadi cukuplah yang tampil dimaksimalkan pada bahan-bahan makanan. 


Ok… camera ready, action! 


Aku mulai proses memasak dengan memecahkan lalu mengocok telur, membubuhkan bubuk kayu manis, memanaskan wajan datar, memasukkan lembaran roti tawar ke dalam kocokan telur hingga merata, lalu memasaknya di wajan datar. Lagi seru-serunya, tiba-tiba terdengar suara “beep!” dari handphone ku. 


Ottokkeee… rekamannya otomatis mati karena memori sudah tidak cukup! Tidak ada pilihan lain, aku harus merelakan dua aplikasi dihapus sementara. 


Ketika bersiap mengulang rekaman, aku baru menyadari potensi masalah berikutnya. Rotinya cuman empat lembar, dan satu sudah dimasak. Akhirnya aku memutuskan untuk hanya menampilkan memasak dua lembar roti, tapi tetap menggunakan dua telur. Untung saja stok telur di kulkas masih cukup. 


Aku mengulang rekaman sekali lagi, dan kali ini dengan memperkecil resolusi gambar, supaya durasinya bisa lebih panjang. Ketika membuat video kedua, kembali lagi terjadi rekaman otomatis mati karena memori tidak cukup. Arrgghhh! 


Untuk mengulang lagi, tidak mungkin, rotinya habis hahahaha Aku lihat hasil rekaman pertama dan kedua tadi. Ternyata di rekaman kedua, proses memasaknya sudah lengkap. Maka kuputuskan tidak perlu mengulang, dan langsung membuat video bagian penutup saja, yaitu menampilkan hidangan french toast. Aku selesaikan memasak, dan merekam bagian terakhir.


Ternyata tidak mudah membuat video yang hanya berdurasi lima menit. Apalagi kalau harus merekam sendiri tanpa bantuan orang lain pun alat-alat memadai. Penuh perjuangan! Seluruh prosesnya sekitar satu setengah jam untuk menghasilkan lima menit. Itu belum termasuk masa menantikan abang Sari Roti lho.



Proses Memasak - Kenapa ada sumpit di situ neng?? LOL
(dok.pribadi)

Apakah masalahnya selesai sampai di sini? Tidak semudah itu, Malih!


Perjuanganku tadi menghasilkan tiga video, yaitu bagian awal menampilkan bahan, bagian tengah menampilkan proses memasak, dan bagian akhir menampilkan hasil masakan. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara menyatukan ketiga video tadi? Nah lho!


Aku tidak punya aplikasi atau software apapun untuk video editing. Tanya-tanya teman dan googling, akhirnya menemukan satu software gratis untuk video editing. Segera aku unduh dan pasang di laptop. Dengan sok paten (sebetulnya karena buru-buru mengejar batas waktu penyerahan video sih), aku skip bagian tutorial, dan langsung praktek. 


Ketika melakukan proses penggabungan video, apakah yang terjadi? Laptop ku mati mendadak! Memang belakangan ini laptop ku ini sering “pingsan” di tengah jalan. Biasanya karena kepanasan, atau terlalu banyak aplikasi berat yang berjalan. Maklumlah, dia sudah beranjak dewasa. 


Aku menyalakan laptop kembali, dan memulai lagi proses video editing. Gak pakai lama, laptop ku mati lagi! Hmm…. Kemudian aku kembali menyalakan laptop, lalu membaca keterangan di website software tadi. Oh baiklah… ternyata walaupun sistem nya mumpuni, tapi RAM dan lain-lainnya tidak. 


Aku kembali meng-google software apa yang mampu dijalankan oleh laptop kesayangan ini. Setelah dapat satu software yang direkomendasikan, aku unduh dan pasang di laptop. Lebih praktis, dan tidak lama aku sudah menyatukan ketiga video tadi. Hore! 


Aku simpan hasil penggabungan video. Ternyata formatnya bukan dalam format yang umum, jadi masih harus dikonversikan ke format lain, sesuai dengan medianya. Kita bisa memilih untuk tampilan di Instagram, YouTube, atau media sosial lainnya. Aku pilih saja untuk tampilan Instagram. Proses konversi dimulai. Lima menit kemudian, laptop ku mati lagi! 


Tarik napas panjang. Ah, sudahlah… Kasihan laptop ku, dipaksa kerja berat. Nanti dia “sakit” pula, kalau sampai butuh di”opname”, aku juga yang sedih. 


Aku pun menghubungi panitia, dan bilang kalau aku sudah menyelesaikan videoku, namun kesulitan untuk menggabungkannya. Panitia meminta aku mengirimkan lewat email saja, nanti mereka yang akan memfinalkan. Lega rasanya.


Poster Event "Cook With Us" (dok, IA-ITB Sumut)


Tadi siang, event zoom “Cook With Us in Healthy and Simple Way” pun berjalan dengan baik dan lancar. Wah, video dari peserta lain keren-keren euy! Pada niat bikinnya. Beneran deh video ku agak malu-maluin hihihi Seru juga bisa ‘ketemu’ dengan teman-teman, sekaligus belajar berbagai menu yang sehat dan mudah. Lebih seru lagi karena menghadirkan bintang tamu seorang Chef yang berpengalaman. Jadi kita bisa mendapatkan saran serta tanya jawab secara langsung. Acara tadi, bersama beberapa video memasak dari para peserta, bisa dilihat di link ini.


Setelah melakukan sendiri proses membuat video memasak ini, mulai dari persiapan bahan, menyusun konten, membuat rekaman, sampai (berusaha) mengedit, semakin aku sadari betapa sulitnya menghasilkan sebuah karya. Sungguh aku kagum pada semua pekerja film, YouTuber, vlogger, dan sebangsanya. Kalian keren!

Read more…

August 1, 2020

IG dan Google, Paling Tahu yang Ku Mau!

Sebelum tahun 2019, aku hanya mengingat satu nama aktor drama Korea, yaitu Won Bin. Ketika itu, drama Won Bin yang aku tonton adalah Endless Love (Autumn in My Heart), dimana Won Bin sebagai second lead male memerankan tokoh Han Tae-seok. Walaupun drama Endless Love itu nge-hits banget, dan aku menontonnya dengan sepenuh hati dan mengharu-biru, namun nama Song Seung-heon dan Song Hye-kyo tidak melekat sama sekali, dan gak pengen tau juga mereka siapa dan kenapa. Padahal dua-duanya termasuk artis tenar  di dunia hiburan Korea.


Sejak tahun lalu, kesukaan ku akan suatu drama Korea sering kali berlanjut dengan kesukaan akan para pemerannya. Di masa awal aku mulai mengenal dunia perdrakoran, drama yang pertama kali bikin aku terpukau dengan pemerannya adalah “Goblin: The Great and Lonely God”. Butuh beberapa minggu sampai aku menemukan selera untuk menonton drama Korea lainnya. Drama berikutnya yang membuat lebih terpukau lagi dengan pemerannya adalah “Her Private Life”. (Setelah membahas berkali-kali tentang drama ini, baru aku sadari, ternyata efek dejavu-nya lah yang membuat aku terpukau, selain tentu saja chemistry kedua pemeran utama nya)


Setelah menonton kedua drama tadi, aku kepincut dengan pesona Gong Yoo yang berperan sebagai Goblin, dan Kim Jae-wook, yang berperan sebagai Ryan Gold. Aku mencari tahu tentang drama dan film lain yang mereka perankan. Dari hasil mencari-cari, aku jadi tahu bahwa mereka berdua punya suara bagus dan jago main piano. Bikin makin penasaran! Aku jadi pengen tahu lebih banyak lagi, tentang kehidupan pribadi mereka, keluarganya, pasangannya, pokoknya berita apa aja tentang mereka. 


Ternyata tidak semudah itu, Ferguso!


Kebanyakan artis-artis tanah air (tanah air siapapun kecuali Korea Selatan) kisah kehidupan pribadinya akan jadi bahasan di beberapa media pada saat yang bersamaan. Bahkan tidak jarang, si artis sendiri yang mengunggah kehidupan pribadinya di media sosial, yang kemudian diviralkan oleh segenap netizen yang budiman. Tidak demikian halnya dengan para artis Korea Selatan. Mereka sangat menutup kehidupan pribadinya dari publik dan penggemar. 


Para artis Korea Selatan lebih menjaga dan merahasiakan kehidupan pribadinya, khususnya hal yang menyangkut keluarga dan kehidupan asmaranya. Beberapa dari mereka bahkan tidak memiliki akun media sosial sama sekali, seperti Gong Yoo. Mereka sangat hati-hati untuk tidak banyak mencampurkan kehidupan pribadinya dengan pekerjaan. Selain itu, agensi artis Korea juga dikenal menerapkan aturan ketat bagi para artisnya tentang berbagai hal, termasuk tentang akun media sosial dan hal-hal pribadi lainnya.


Sumber yang paling sering menjadi sumber berita tentang para artis Korea adalah Instagram. Aku mengikuti banyak akun-akun artis Korea dan beberapa agensi dan stasiun TV. Tidak hanya akunnya (apalagi karena beberapa oppa seperti Gong Yoo dan Hyun Bin tidak punya akun IG), aku juga mengikuti hastag-nya hahaha. Selain itu aku juga mengikuti akun-akun para fans berat para artis Korea. Jadi sudah bisa dibayangkan, isi timeline dan fitur “search” isinya adalah postingan tentang para oppa dan KPop star.  


Fitur Search di Instagram - 95% tentang artis Korea (dok. pribadi)



Dari Instagram aku dapat banyak berita tentang para artis ini. Tentang drama-nya, cuplikan behind the scene, sampai ke iklan yang mereka bintangi. Selain itu juga banyak berita dan foto-foto masa kecil atau masa remaja mereka, foto semasa wajib militer, foto sebelum oplas (hihihi), foto keluarga, sampai foto hewan kesayangan. Bahkan ada akun Instagram yang isinya adalah foto-foto Daeum dan Muryang, dua hewan peliharaan Jae-uck oppa. Sungguh fans yang berdedikasi!


Tapi ada juga sisi gak enaknya. Apalagi kalau lagi mengikuti drama yang sedang tayang. Biasanya aku berusaha “menjauh” dari Instagram, karena sudah dapat dipastikan ranjau spoiler berserakan haha 


Sumber lain adalah tautan rekomendasi dari Google. Mungkin karena saking sering meng-google berita tentang hallyu star dan drama nya hahaha Setiap kali membuka laman google, maka akan muncul sederet situs berita artis Korea, seperti Koreaboo, Soompi, dan Pinkvilla. Bahkan baru-baru ini aku menyadari betapa Google merancang mesin pencari nya dengan sedemikian rupa sehingga sangat ‘sensitif’ terhadap penggunanya. Baru aku mengetikkan kata pertama saja, bahkan suku kata pertama!, secara otomatis Google memunculkan rekomendasi beberapa link yang mengandung kata itu. Dan rekomendasi yang teratas dan terbanyak adalah yang berhubungan dengan drama Korea. Ngeri gak tuuh…



Dari satu suku kata, Google merekomendasikan empat judul drama Korea
(dok.pribadi)



Kesimpulannya, gak diragukan lagi dah... kalau soal update drakor dan kisah para oppa, Instagram dan Google paling tahu yang ku mau!

Read more…