February 8, 2024

Kenalan dengan Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam

Dari sekian banyak anugerah yang aku punya, salah satu yang sangat aku syukuri adalah kulitku yang so-so ini. So-so dalam arti gak terlalu ‘badak’ sehingga aku masih harus ingat untuk tetap merawatnya, dan juga gak terlalu sensitif sehingga aku harus menghabiskan setidaknya 10 jam sehari untuk merawatnya. 

Salah satu efek dari ke-so-so-an ini adalah aku suka bereksperimen dengan skincare dan kosmetik dari berbagai brand. Jadi, ketika aku menang lomba reels dari Drakor Class, happy banget karena hadiahnya adalah kosmetik Multi Vita Balm dari sebuah brand lokal rasa internasional yang sudah lama bikin aku penasaran: Dewpré

Ternyata ok banget! Cocok lahir batin! Cocok di kulitku, dan kemasannya yang praktis bikin gampang buat dibawa kemana-mana. 


Jadi makin penasaran sama produk-produk Dewpré lainnya. Setelah browsing, akhirnya aku memilih dua produk Dewpré yang menurutku paling aman untuk aku coba: Tea Tree 5.5 Cleansing Foam dan Aloe Pro Gel. Kali ini, aku mau bahas cleansing foam dulu dah…

Dewpré, Brand Lokal Rasa Internasional

Selidik punya selidik, ternyata brand ini adalah diproduksi oleh PT Cosmax Indonesia. Sesuai tagline-nya “Best ingredients with Korea beauty knowledge for Indonesian skin and weather”, Dewpré menggabungkan teknologi Korea dan Indonesia untuk mendapatkan produk yang telah disesuaikan dengan cuaca dan kulit masyarakat Indonesia. Desain dan kemasan diimpor dari Korea, namun formula diproduksi di Indonesia.

Karena ditujukan untuk pemakaian masyarakat Indonesia, maka sudah tentu Dewpré memastikan produk-produknya selalu lulus pada semua izin yang berlaku di Indonesia, seperti BPOM, notifikasi Halal, dan pastinya teruji secara dermatologis. 

Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam 

Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam

Kenapa sih namanya Tea Tree 5.5? Karena pembersih wajah, yang tersertifikasi vegan, lulus uji BPOM dan dermatologis ini, diformulasikan dengan tea tree oil dan sesuai dengan pH kulit 5.5. 


Kesan pertama, kemasannya bagus deh! Paduan warna putih dan hijau muda yang lembut. Klasik tapi tetap menarik. Walaupun tidak menggunakan kotak sebagai kemasan luar, namun produk ini tetap aman dari kebocoran dan kontaminasi lain karena menggunakan segel di bagian dalam.  


Segel di bagian dalam memastikan aman dari kebocoran dan kontaminasi



Komposisi lengkap Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam tertera dengan jelas pada kemasannya, dengan empat komposisi jagoan sebagai berikut:

  1. Tea Tree Oil berguna untuk mengobati jerawat, mengatasi kulit kemerahan, dan mengurangi produksi minyak berlebih

  2. Camellia Sinensis Leaf berfungsi untuk menjaga kelembaban kulit, mencerahkan kulit, dan menjaga Kesehatan kulit

  3. Glycerin, berfungsi untuk membantu pemulihan masalah pada kulit

  4. Quillaja Saponaria berfungsi mengatasi masalah kulit


Pada kemasan tercantum komposisi lengkap Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam

Biasanya produk-produk yang mengandung tea tree oil kerap beraroma tajam dan bikin kulit berasa kesat. Tapi produk yang satu ini tidak lho… Aromanya lembut dengan tekstur gel yang ringan sehingga mudah diaplikasikan. Busanya tipis aja, gak bikin lengket dan mudah dibasuh dengan air. Setelahnya wajah terasa bersih tapi tetap lembab, jauh dari sensasi ketarik dan kaku kaya’ kanebo kering. Dan yang paling penting, gak bikin kulitku breakout!


Penggunaannya praktis, mudah, dan hemat. Cukup tuangkan sedikit ke telapak tangan, beri sedikit air lalu gosok hingga berbusa. Setelahnya aplikasikan pada wajah yang sudah dibasahi air sambil dipijat perlahan dengan gerakan memutar selama lima menit untuk hasil maksimal. 


Tekstur gel dan aroma yang lembut bikin nyaman ketika digunakan

Dengan penggunaan yang tepat dan konsisten, Dewpré Tea Tree 5.5 Cleansing Foam tidak hanya akan membersihkan kulit wajah dengan lembut, namun juga menjaga kelembabannya, serta membantu untuk menenangkan dan mengatasi berbagai permasalahan kulit.  

Harga Terjangkau dan Mudah Didapatkan

Tea Tree 5.5 Cleansing Foam dan berbagai produk Dewpré lainnya dapat dengan mudah didapatkan melalui toko resminya di berbagai marketplace.  Dengan berbagai kualitas unggulan, produk ini dibandrol dengan harga cukup terjangkau. Apalagi sekarang lagi ada promo nih, jadi capcuss langsung check-out, gaesss....  


Read more…

January 7, 2024

Odading si Bolang Baling

Malam minggu malam yang panjang. Iya benar... apalagi kalau gak kemana-mana, dan menghabiskan waktu dengan nonton film romcom di Netflix, disambung drama Korea teranyar di Prime Video, sambil ngemil kacang bali kiriman Big Ompung dari Medan. 

Belakangan ini mager maksimal kalau sudah menyangkut urusan yang menuntut usaha untuk keluar dari unit. Sama urusan yang di dalam unit aja mager, apalagi di luar, cuy! Cuaca yang gak kondusif adalah salah satu biang kerok kemageran ini. Sejak akhir Desember, Jakarta mulai akrab dengan mendung, hujan, dan, unfortunately, banjir. Menambah keriuhan ibukota yang sudah akrab sangat dengan polusi, cuaca pun ikutan menggalau. Mendung yang tidak berarti hujan, dan panas yang mendadak hujan. Galau merana bagai remaja putus cinta. 

Namun hari ini, mau gak mau harus menembus kemacetan ibukota demi kemaslahatan diri sendiri. Urusan tidak akan beres sendiri toh? 

Kelar berurusan, menjelang sore aku kembali ke tempat tinggal dengan kendaraan umum. Turunnya di halte dekat kompleks. Langit mulai gelap. Mendung. Angin semilir dingin. Kalau sudah begini, paling enak ngapain?? Yak benaarrr.. makan gorengan! 

Menjelang sore, biasanya satu persatu pedagang kaki lima sekitaran kompleks mulai membuka lapak. Jenis makanan dan dagangan yang ditawarkan cukup lengkap. Mulai gorengan sampai dimsum, bakso bakar sampai sate padang, bahkan mille crepes juga ada, lho! Hmm... mungkin nanti aku bikin tulisan tentang makanan kaki lima pinggir kompleks deh. Bisa jadi berapa artikel tuuh...

Kembali ke niat makan gorengan. 

Salah satu menu gorengan yang ditawarkan, sekaligus menjadi favoritku, adalah odading. Kue asin manis ini biasanya didagangkan sepaket dengan rekan-rekan sejawatnya, seperti cakwe, donat, dan onde-onde. 

Menurut sebuah sumber, odading sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Alkisah seorang anak kecil Belanda merengek minta dibelikan roti goreng yang tidak bernama. Ibunya penasaran kue apa yang diminta si anak. Lalu si ibu memanggil seorang penjaja kue keliling. Melihat roti goreng yang menjadi sumber rengekan si anak, si ibu heran lalu berkata, "O, dat ding?" yang artinya "O, benda itu?". Si penjaja kue menceritakan kejadian ini kepada orang-orang di kampung, bahwa kue yang tak bernama itu disebut odading oleh orang Belanda yang membeli dagangannya. Istilah itu menjadi populer dan terus melekat sampai sekarang. 

Kue ini sebenarnya sudah kukenal sejak aku kecil, namun di Medan sebutannya bukan odading. Istilah odading sendiri aku kenal ketika tinggal di Bandung. Di Medan kue ini disebut dengan kue bohong. Ketika kutanya, kata Mami disebut begitu karena bagian tengahnya kosong, padahal bentuknya yang besar mengesankan di dalam ada isiannya. Kue hoax dong ya... hihihi


Kue bohong, cakwe, dan rekan-rekannya (sumber: Facebook Makanmana)


Ternyata odading ini memang memiliki banyak sebutan. Disinyalir, aslinya kue ini aslinya bernama han cim piang atau han chim peng, dibawa oleh keturunan Tionghoa sampai ke Indonesia. Kalau di Medan disebut kue bohong, maka di Jakarta disebut kue bantal. Geser ke Yogyakarta, namanya ganti menjadi galundeng. Melipir dikit ke Solo, namanya ganti menjadi gembukan. Sampai di Semarang, eh namanya ganti lagi menjadi bolang-baling, yang diduga berasal dari proses penggorengan kue ini yang dilakukan dengan membolak-balik adonan. Banyak kali sebutannya, ya... KTP nya pasti nembak! 😛

Sambil berjalan menuju gerbang kompleks, mataku memindai cepat deretan lapak dagangan. Yay... ternyata lapak odading favorit sudah mulai dagang. Istimewanya si odading ini, adonannya diolah di tempat. Jadi kita bisa nontonin kang odadingnya bikin adonan, memotong-motong, mengisi, lalu menggoreng sampai jadi odading. (Ketika atraksi tukang odading menjadi menarik, disitulah kau menyadari betapa recehnya dirimu.)

Lapak odading ini sistemnya touch screen, gaes... alias kita tinggal menyentuh kaca gerobak si abang sambil menunjuk varian yang kita mau. Aku memilih odading kosongan, isi coklat, dan isi kacang hijau. Aromanya sungguh menggoda karena fresh from the wajan. Mendung dingin gini, pasti enak banget disantap dengan kopi panas. 

Mungkin bahan dasarnya sama, tapi odading yang ini tidak berbohong. Well... setidaknya tidak semua. Ada yang bohong karena kosong, tapi ada juga yang jujur karena ada isiannya. Etapi isinya dikit sih... 😜


Kue bohong isi ketan, kudapan khas Medan (sumber: Betamakan)


Walaupun tidak ada yang pakai isian, tapi ada satu varian kue bohong Medan yang tidak kutemukan di Jakarta. Kalau di Medan, ada varian kue bohong yang diisi ketan. Bukan diisikan kedalamnya sebenarnya. Mungkin lebih tepat olahan ketan dengan tepian adonan kue bohong. Ketannya terasa krenyes-krenyes karena ikut digoreng. Ini. Enak. Pakai. Banget! 

Read more…

January 4, 2024

Hidangan Tahun Baru ala Ompung Boru

SELAMAT TAHUN BARU 2024!!

Akhirnya... 
Setelah tidur musim dingin nan berkepanjangan, akhirnya hari ini blog ini tahun baruan juga... huhuy!

Aku sudah mulai ngeblog dari sejak jaman masih kuliah, sudah beberapa presiden yang lalu. Berganti alamat blog beberapa kali. Temanya sesuai mood saja, sesuai apa yang lagi terpikir demi mengejar setoran hahaha Namanya juga penulis aliran moodis 😎

Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku mulai (semakin) jarang menulis setelah mulai mengecap dunia per-podcast-an. Podcast terasa lebih simple dan ringkes. Tinggal mangap. 

Tahun baru adalah momen untuk membuka lembaran baru, memulai babak baru. Oleh karena itu, di awal tahun ini aku mengambil langkah iman untuk kembali menulis. Semoga bisa bertahan untuk terus melangkah ya, dwi....

Pergantian tahun dirayakan dengan berbagai tradisi. Pada umumnya tradisi ini erat kaitannya dengan berkumpul. Berkumpul dengan keluarga. Berkumpul dengan orang-orang di pusat kota, memandang langit bersama. 

Aku sendiri tumbuh besar dengan sebuah tradisi pergantian tahun yang sepertinya cukup umum di keluarga Batak. Setiap tanggal 31 Desember malam, keluarga kami akan berkumpul bersama keluarga besar dari Papi di rumah Ompung. Papi adalah anak tertua dari tujuh bersaudara. Jadi kalau ngumpul, rameeee dah! 

Kami akan merapat ke rumah Ompung sekitar pukul 10 malam. Sampai di sana, Ompung Boru (Nenek) sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama. Walaupun sudah pasti lagi mengantuk berat, mau tidak mau aku harus mengikuti komando Mami untuk ikut bantuin Ompung beberes dan menyiapkan ini itu.  

Hidangan di rumah Ompung selalu sedap. Ompung Mamak, panggilan aku dan abangku untuk nenek kami, memang jago masak. Segala-gala bisa dimasak Ompung Mamak. Khas ibu jaman dulu yang punya anak banyak, sudah pasti kreatif tak terperi. Setiap ke rumah Ompung, kami pasti menemukan makanan kecil atau kue-kue olahan Ompung Mamak, mulai dari rengginang, kerupuk udang, sampai godok-godok (ini pisang kematengan terus diolah sama tepung terus digoreng). Belum lagi berbagai menu masakan khas Batak. Just name it, she'd cooked it!

Nah, setiap momen pergantian tahun, ada satu hidangan yang selalu ada. 
Ompung akan memasak ketupat lengkap dengan rendang sapi.


Ketupat Ketan dan Rendang. Dynamite Duo! (sumber: bomanta.com)


Ketupat di Medan berbeda dengan ketupat di Jakarta atau Bandung. Di Medan, yang namanya ketupat terbuat dari ketan atau pulut kalo kata orang Medan. Hal ini baru kuketahui in a hard way ketika aku pindah ke Bandung untuk kuliah. Aku masih sangat ingat semangatnya aku ketika mendengar temanku menyediakan ketupat di rumahnya, tapi lebih ingat lagi sama kekecewaanku ketika tahu ketupatnya bukan dari ketan. Dalam hati aku mengesal, "Ini mah lontong, bukan ketupat, woi!" Hiks...

Ketupat Medan terbuat dari ketan, yang dimasak dengan santan yang kental, sehingga rasanya menjadi perpaduan antara asin, manis, dan gurih. Lihat saja resepnya (yang akan kusertakan di akhir tulisan); 1 liter kentan dimasak dengan santan dari 2 butir kelapa yang cukup tua. Kalau mau lebih mantep lagi, sebelum diolah ketan direndam dulu dalam santan dari 1 butir kelapa. Sudah, buang saja kalkulator kalori itu, juragan! 

Ketupat ketan di Medan relatif mudah ditemukan. Tidak perlu menunggu lebaran atau tahun baru, ketupat bisa ditemukan di lapak jajanan pasar.

Ketupat biasanya dikonsumsi dengan rendang sapi, tapi sebenarnya ketupat tetap enak tanpa tambahan lauk apapun.

Kembali ke kisah tahun baru di rumah Ompung. 

Menjelang pukul 12 malam, Ompung akan memulai ibadah keluarga. Ketika ibadah masih berlangsung, waktu akan berganti ditandai dengan dentang lonceng gereja yang tak jauh dari rumah Ompung. Ini sebagai perlambang bahwa kami  mengakhiri tahun yang lama dan mengawali tahun yang baru dengan penyertaan Tuhan. 

Tidak seperti keluarga Batak pada umumnya, kami tidak punya acara curhat atau 'mandokhata', yang ada adalah makan ketupat dan rendang bersama!

Tahun baru kali ini, walaupun tidak pulang ke Medan dan sendiri saja di ibukota, aku tetap melalui pergantian tahun dengan tradisi doa bersama. Tentu tidak dengan keluarga besar Tobing, tapi dengan Papi dan Mami, thanks to technology.  

Siapa tahu ada yang penasaran sama ketupat ketan ala Medan ini, berikut aku lampirkan resepnya. Tentu saja resep ini bukan hasil karyaku sendiri, tetapi aku ambil dari sini nih. Bahan-bahannya tidak banyak, cara memasaknya pun gampil. 

Bahan: 
1 ltr ketan putih
3 butir kelapa (pilih yang agak tua)
30 sarang ketupat 
secukupnya garam 
2 lbr daun pandan

  1. Cara membuat:
    1. Cuci bersih ketan dan rendam dengan air santan dari 1 butir kelapa kurang lebih 3 jam 
    2. Tiriskan beras ketan dan isikan ke sarang ketupat sampai penuh 3/4 
    3. Siapkan air santan dari 2 butir kelapa dalam 1 panci (ini kurang lebih 4 liter lah  ya...) dan taburi garam secukupnya. Masukan daun pandan yang sudah diikat simpul
    4. Setelah smua ketupat terisi masukkan ke dalam panci hingga terendam, masak hingga matang
    5. Sambil menunggu matang, tes rasa dari air santan yang belum menyusut saat direbus
    6. Ketupat yang sudah matang bisa dilihat dari bentuknya yang memadat.
    7. Kalau sudah matang, jangan lupa matikan api kompor, dan biarkan ketupat mendingin. 

Ingin mencoba dan memulai tradisi baru? Yuk!!

Read more…

December 20, 2020

KLIP 2020 dan Harapan untuk KLIP 2021

Annyeong…

Hari ini adalah hari terakhir setoran Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) untuk tahun 2020. Tahun ini adalah pertama sekalinya aku ikut serta dalam komunitas KLIP. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar tentang komunitas ini dari kk Risna, dan tahun ini, kk Risna berhasil ‘menyeret’ku untuk ikut dalam pusaran literasi ini. 


Aku sudah pernah menuliskan tentang kisah perjalananku dalam menulis dalam postinganku di bulan Oktober yang lalu yang berjudul “Tantangan yang Menyenangkan”. Aku yang tadinya menulis kapan tahu, menulis karena ikutan event (itupun jarang lengkap), akhirnya memberanikan diri bergabung dengan sebuah komunitas literasi. 


Dari KLIP aku belajar untuk rutin menulis. Memang buat manusia berkarakter moody kaya’ aku ini, aku membutuhkan komunitas untuk bisa tetap termotivasi. Harus ada contoh yang bikin aku terhenyak, tercubit, terpukau, terperangah, lalu belajar untuk meniru. Intinya harus ada pembanding, sehingga aku bisa mengikuti jejak teman-teman yang sudah berhasil. 


Sejauh ini sistem “reward and punishment” cukup berhasil membuatku tetap menulis. Walaupun mengklaim diri sebagai pengabdi badge, tapi aku sendiri tidak mengingat jelas berapa badge warna apa yang berhasil kukumpulkan. Namun yang pasti, aku belum tereliminasi hingga hari terakhir KLIP 2020 ini. Buatku itu sungguh merupakan prestasi! (Dan kopernya bisa disimpan kembali haha)


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi. Betapa mereka produktif menulis, dengan tidak meninggalkan tugas utamanya. Dalam kesibukan mengurus keluarga dan pekerjaan, mereka tetap menyediakan waktu untuk menulis. Menulis adalah “me time” buat teman-temanku yang keren-keren ini.


Dari KLIP aku mengenal teman-teman yang ternyata memiliki kesenangan yang sama denganku, yaitu menonton drama Korea. Kegemaran menonton drama Korea, yang sering dipandang negatif bagi sebagian orang, justru membuat kami semakin produktif. Drama Korea menjadi inspirasi dan sumber ilmu yang tidak habis-habisnya. Dan semakin produktif lagi ketika kami menyatukan keimpulsifan kami dalam bentuk sebuah blog bareng bertajuk Drakor Class. Sejak blog ini mengudara tanggal 10 Oktober 2020, tak henti-hentinya aku, kami semua, belajar hal baru. Semoga saja kami bisa membesarkan ‘anak’ kami ini dengan baik dan benar. 


Dari KLIP aku bertemu dengan my long lost twin, Rijo Tobing. Entah kenapa, kami sering sekali ‘dituduh’ sebagai anak kembar. Bukan hanya di masa awal, namun makin ke sini, justru makin sering sebutan mirip dan kembar ini membahana. Mulai dari tampang sampai suara. Bahkan salah satu teman di Drakor Class pernah menyangka bahwa dia sedang chat dengan Rijo ketika aku menghubunginya lewat wapri. Dan nyadarnya itu setelah percakapan berlangsung beberapa lama hahahaha 


Sebutan kembar ini sungguh menguntungkan buatku, karena Rijo ini seorang novelist sementara aku seorang ‘moodist’ hihi. Aku pernah ‘dituduh’ sebagai “yang selalu menulis ribuan kata”, dan dengan senang hati aku kembali mengulang fakta bahwa itu bukan aku tapi ‘kembaran’ku. Lucunya, kehidupanku sebenarnya pernah beririsan dengan Rijo. Aku mengenal orang-orang di sekitarnya, dan Rijo mengenal orang-orang di sekitarku. Namun entah bagaimana, kami tidak pernah bertemu atau berkenalan secara langsung. Semoga saja tahun depan kami bisa bertemu raga dan makan Bebek Kaleyo bersama. 

 

Intinya, ada banyak sekali manfaat, pengalaman, pelajaran, dan kebahagiaan yang kudapatkan ketika aku bergabung dengan KLIP. I must say, it is one of the best decisions I made this year. 


Harapan tentang KLIP ke depan? Semoga saja KLIP tetap mengudara, berjaya di darat (luring) dan di udara (daring). Semoga para admin, pengurus, penggagas, penggiat dalam KLIP diberkahi dengan tenaga dan inspirasi yang tak habis-habisnya, untuk membagikan ilmu dan menularkan semangat berliterasi, menjadi saluran berkat dan kebaikan bagi lebih banyak orang.  


Read more…

December 18, 2020

Annyeonghaseyo Chingudeul Episode Finale 2020

Annyeonghaseyo!

Sebagaimana biasanya hari Jumat, hari ini adalah hari yang panjang dan lumayan sibuk. Walaupun di rumah saja karena hari ini aku WFH, kegiatan sudah dimulai dari pagi dan baru berakhir pukul 10, dan ditutup dengan kegiatan menulis. 

Bulan Desember adalah bulan istimewa di KLIP, dengan 20 setoran saja sudah bisa mendapatkan badge Outstanding. Berhubung aku memang memiliki kecenderungan modis, alias modal diskon, maka ‘diskon’ ala KLIP ini pun termasuk salah satu yang aku kejar haha


Hari ini pekerjaan kantor agak ‘rungsing’ karena banyak diisi dengan koordinasi via telepon dan via WhatsApp. Apalagi kemarin aku baru saja survei lapangan ke Cigudeg, dan besok akan ke luar kota lagi. Maka hari ini adalah harinya melakukan koordinasi ke sana dan kemari, pasca dan pra survei. 


Yang paling istimewa hari ini adalah acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”, IG Live Drakor Class. Hari ini adalah episode ketujuh, yang adalah episode terakhir untuk tahun 2020. Setelah beberapa episode ‘kursi panas’ sebagai host ditempati oleh RiRi Couple-nya Drakor Class, yaitu Cha Ree dan Cho Rijo, kemudian Cho Rijo, dan Lendyagasshi, maka episode ini, aku kembali mendudukinya. Setelah beberapa minggu bisa santuy nonton IG Live sambil rebahan, kali ini aku kembali sibuk dengan persiapan dan eksekusinya. 


Pada episode kali ini, Drakor Class menghadirkan tiga orang classmate. Dengan penampilan ketiga classmate ini, maka bisa dikatakan seluruh kontributor Drakor Class sudah tampil di acara IG Live. Eh, ada satu orang yang belum ding… Sudah dijadwalkan sebenarnya untuk tampil di episode ke-6, namun karena ada kepentingan keluarga, akhirnya harus ditunda dulu deh penampilannya.  


Sejak hari Sabtu yang lalu aku sudah menghubungi ketiga teman yang menjadi classmate, yaitu Nastiti, Rosy, dan Gita. Harus dihubungi jauh-jauh hari, karena mereka bertiga memiliki kesibukan yang cukup menyita waktu juga. Nastiti mengikuti beberapa komunitas yang banyak tugas-tugasnya, Rosy yang tinggal di kota berzona WITA sehingga harus menyesuaikan waktu dengan kita yang di WIB, dan Gita yang punya usaha kuliner yang biasanya tutup setelah jam makan malam. 


Awalnya sih mau bahas film dan drama Korea. Namun setelah diskusi dengan Nastiti, kaya’nya kurang pas kalau fokus hanya di film. Nas lalu mengusulkan untuk membahas literasi Korea, karena memang Nas suka membaca dan mengoleksi beberapa novel karya penulis Korea. Wah, ide brilian! Karena sepanjang Drakor Class mengudara, kami belum pernah membahas tentang literasi Korea. Akhirnya dirumuskan untuk episode kali ini, kami akan membahas tentang sinema (film dan drama) dan literasi Korea. 


Persiapannya sih sama seperti acara IG Live sebelumnya. Aku menyiapkan daftar pertanyaan untuk para classmate, lalu para classmate memberikan feedback mereka, kemudian kami mengadakan rehearsal sehari sebelum hari H, yaitu gladi resik melalui video call. Seserius itu? Iyaaa… kami seserius itu hahaha Gladi resik (GR) ini penting untuk melatih komunikasi host dan classmate juga. Jadi ketika ‘manggung’, tidak kagok atau canggung lagi. 


Ketika GR, biasanya classmate masih “demam panggung”, apalagi kebanyakan kami belum pernah tampil live di depan kamera. Tentu saja dalam setiap GR, aku punya pengamat dan komentator yang selalu siap sedia memberikan input, yaitu Kak Risna dan Lendy. Dalam setiap GR, biasanya akan muncul ide-ide pertanyaan atau topik yang akan dibahas, sehingga biasanya setiap GR aku akan sibuk membuat catatan, dan kk Risna dan Lendy akan sibuk “merusuh” hahahaha.

Persiapan yang tidak kalah penting adalah flyer yang didesain oleh Manda. Ketika jadwal, tema, host dan classmate sudah fixed, maka semua informasi itu 'disetorkan' kepada Manda, bersama foto-foto para 'tersangka' hahaha Tidak pakai lama, Manda akan segera meproduksi flyer, dan siap ditayangkan di berbagai medsos Drakor Class. 



Flyer "Annyeonghaseyo Chingudeul" Episode Finale 2020 
(sumber: Instagram Drakor Class)


Latihan atau GR Kamis malam itu berjalan dengan lancar. Terus terang aku agak gentar, karena di luar dugaanku, ketiga classmate memiliki kecintaan yang amat sangat pada hobi mereka masing-masing, sehingga malah aku merasa kurang informasi. Dibandingkan aku, mereka bertiga telah lebih dulu menonton drakor, dan koleksi drakor dan filmnya sudah buuanyaaaakk. Kuatirnya besok malahan hostnya yang kelihatan bengong dan demam panggung hahaha

Hari H pun tiba. Satu jam sebelum acara, aku kembali bersiap-siap, membuka berbagai catatan, membuat berbagai catatan. Pukul delapan malam pun tiba, panggung pun dibuka!

Bahagianya aku karena kekuatiranku tidak terjadi. Baik Nas, Rosy, maupun Gita tampil lebih baik, lebih cair, dan lebih lancar dibandingkan GR. Luar biasa, keren banget! Informasi yang mereka sampaikan juga sangat menarik, sehingga tanpa terasa, episode hari ini mengambil dua sesi, alias 2 jam, yang sangat menyenangkan. 

Ketika direnungkan, memang pandemi telah membuat aku berani mencoba hal baru, membuat aku belajar banyak hal baru. Dan menjadi host Drakor Class adalah pengalaman yang sangat berharga buatku. Tidak saja aku belajar keterampilan baru, mulai dari public speaking, sampai mengoperasikan fitur Instagram. Aku juga belajar merencanakan acara seperti IG Live ini, dan lebih 'rempong' lagi ketika bersama-sama teman-teman Drakor Class kami merencanakan event "Crash Landing on KDrama" bersama KCC Indonesia, dimana aku menjadi moderator. Dan satu hal yang lebih istimewa lagi, dengan menjadi host, aku semakin mengenal teman-teman yang menjadi classmate secara lebih dekat.  

Semoga saja di tahun 2021, Drakor Class bisa tetap dan terus menjadi rumah yang nyaman bagi kami dan banyak orang lagi untuk sama-sama belajar, berbagi ilmu dan berbagi kebahagiaan.  

Read more…

December 10, 2020

Drakor Class, Ulang Bulan ke-2

Annyeong…

Hari ini adalah tanggal 10 Desember 2020. Hari ini adalah hari peringatan Hak Asasi Manusia Sedunia. Terus, hari ini juga adalah hari ulang tahun Kang Daniel, salah satu Busan Boys yang adalah KPop idol. Tapi yang paling istimewa, hari ini genap dua bulan blog keroyokan Drakor Class mengudara. YAY!


Usia dua bulan masih belum apa-apa. Tapi dalam dua bulan, sudah banyak kisah yang kami lewati bersama. Yang pasti, kami makin (sok) sibuk, karena makin banyak kerjaan hahaha 


Setiap hari selalu ada postingan, syukurnya ada kk Risna yang selalu mengingatkan dan mengejar dan memastikan dan membagikan jadwal publish postingan di web. 


Tadinya moment twitteran dilakukan sekali seminggu, biasanya tiap Sabtu. Sekarang? Kaya’nya udah gak ada jadwal tertentu lagi deh hahaha Kalau lagi ada trending topic yang bisa disambung-sambungin, tiba-tiba ada yang nyamber aja di grup. “Aku twit tentang anu yaaa….” dan langsung mengambil alih kemudi akun twitter.


Sejauh ini, walaupun belum sempurna, aku bisa melihat bahwa sebagian besar kami punya rasa kepemilikan terhadap Drakor Class yang cukup tinggi. Ketika rembugan, semua memikirkan bagaimana supaya Drakor Class bisa tampil bagus. Bagaimana mengemas sesuatu agar terlihat lebih sedap dipandang, lebih sedap didengar, lebih meninggalkan kesan. Semua saling mengingatkan, khususnya mengingatkan bagaimana agar kami tetap menyebarkan konten dan vibe yang positif.


Aku tidak melihat ada yang mau menguasai panggung sendiri. Ketika yang satu menjadi PIC, yang lain akan ikut sumbangsih ide, bagaimana caranya supaya sesuatu itu menjadi lebih baik. Memberikan ide, memberikan tenaga dan waktu. Itu sudah merupakan hal yang luar biasa, karena sesungguhnya tidak ada ikatan apapun di antara kami. Well.. kecuali kk Risna dan Rijo yang bersepupu, dan dengan aku yang dulu teman kost di Bandung. Dan banyak di antara teman-teman yang berasal dari komunitas yang sama. Eh… banyak juga ya ikatannya hahaha 

Anyway, bisa dibilang selama hampir setahun ini, sesungguhnya kami semua hanya berkenalan dan berjumpa lewat dunia maya. 


Semuanya yang kami lakukan didasari dua alasan. Pertama, kami senang dengan dunia menulis. Kedua, kami senang dunia drakor. Dan Drakor Class merupakan perpaduan keduanya. 


Di ulang bulan yang kedua ini kami mendapatkan hadiah yang sangat membahagiakan. Korean Cultural Centre Indonesia (KCCI) mengajak Drakor Class untuk berkolaborasi dalam salah satu acara mereka dalam rangka Korean Culture Day, yang kali ini mengangkat tema K-Drama.


Sebenarnya undangan untuk berkolaborasi itu sudah disampaikan sejak awal Desember. Di awal minggu ini kami sudah mendapatkan konsep acara dari KCCI, dan kami pun sudah melakukan dua kali zoom meeting untuk melakukan persiapan. Namun, tetap saja deg-degan; sebelum flyer acara secara resmi ditayangkan oleh KCCI, maka acara tersebut kami anggap belum resmi terselenggara. 


Hari ini, penantian pun berakhirlah. Tadi sore pukul 16.00 WIB, KCCI memposting flyer acara tersebut di akun Instagram mereka, dengan men-tag Drakor Class Ahhh… rasanya senang sekali. IT’S JUST SO EXCITING! 


Flyer Acara KCC Indonesia X Drakor Class (sumber: Instagram KCC.ID)



Tak menunggu lama, flyer tersebut segera kami posting kembali di akun Drakor Class dan akun medsos kami masing-masing. Dan seperti yang sudah bisa diduga, acara tersebut pun mengundang follower bagi akun Drakor Class. YAY!!


Pekerjaan belum selesai. Masih belum apa-apa. Masih banyak persiapan harus dilakukan menjelang hari H, yaitu Senin 14 Desember ini. Tapi melihat antusiasme teman-teman, aku yakin, sangat yakin, kami akan tampil membawa nama Drakor Class dengan baik hari Senin nanti. 


Selamat ulang bulan uri Drakor Class! 


Read more…

November 29, 2020

Presentasi di Masa Pandemi

Semasa sekolah, aku bukan murid yang pemalu juga, tetapi aku juga bukan si banci tampil yang selalu ada di setiap event sekolahan. Yaa... cukup cukup saja lah. Ada tapi bukan pemain utama. 

Kalau urusan presentasi, lain lagi kisahnya. Aku ingat waktu SMP ada tugas menirukan iklan (coba ya… entah apalah target pembelajaran sehingga kami harus menirukan iklan). Sungguh kugagal melakukannya. Padahal tiap hari juga ada iklan di tv, ya kan. Diminta menirukan satu saja, aku kagok luar biasa. 

Masih ingat juga ketika SMA ada tugas kelompok untuk mempresentasikan suatu negara. Kelompokku mendapatkan tugas untuk negara Afrika. Dalam satu kelompok ada lima orang, ada yang presentasi bagian ekonominya, budayanya, dan aku lupa aku bagian apanya. Ketika berdiri di depan, aku ingat sekali tanganku pucat pasi dan mendingin. Kalau kuingat-ingat lagi, presentasinya pun benar-benar seadanya. Lebih mirip bercerita, atau menerangkan kembali. Tapi yang kuingat ya itu, groginya seubun-ubun. 


Ketika di kampus, gaya presentasi sudah berbeda. Di sini lah pertama kali aku mengenal Power Point. Tetapi presentasi kami tidak banyak. Itu pun kebanyakan di depan asisten dosen, paling banyak 3 orang.  


Kalau soal bicara di depan orang banyak, di kampus lah aku belajar melakukannya. Aku samakan saja lah dalam hal ini soal public speaking dan presentasi, karena intinya kita menyampaikan sesuatu di depan sebuah forum. 


Selama setahun dalam masa panjangku di kampus, aku menjadi salah satu pengurus PMK, yaitu seksi Intern. Seksi intern ini hampir setiap Jumat berdiri di depan untuk memberikan pengumuman. Harus kuakui, aku tidak memanfaatkan kesempatan belajar itu dengan baik, tetapi karena tugas itu, aku mulai bisa bicara di depan orang banyak. Ya.. masih grogi lah dikit. Grogi grogi jambu.


Ketika masuk ke dunia kerja, di situlah aku belajar presentasi yang sesungguhnya. Pekerjaan di LSM itu melibatkan banyak sekali stakeholder, sehingga kerap diadakan pertemuan, dan dalam tiap pertemuan, seringnya ada presentasi. Aku ingat sekali presentasi yang kulakukan pertama sekali adalah di depan para guru-guru SD.Ketika itu kami sedang mengerjakan proyek WASH yang didanai oleh UNICEF. Seorang staff UNICEF bernama Fiona mengajarkanku satu teknik presentasi, yaitu menggunakan keycard. 


Ketika kita presentasi, kita harus melihat pada peserta. Melakukan komunikasi dan kontak mata dengan mereka, sehingga kita bisa melihat reaksi mereka terhadap apa yang kita sampaikan. Buatku pantangan besar kalau kita semata-mata membaca apa yang tertulis pada slide. Kalau itu sih namanya bukan presentasi, tapi mari membaca bersama. 


Karena kita tidak melihat ke layar, maka kita membutuhkan keycard. Isinya adalah poin-poin penting yang mau kita sampaikan dari setiap slide. Satu tips, kartu harus dinomori sesuai nomor slide. Just incase kartunya jatuh dan berceceran, kita tetap bisa mengurutkannya sesuai slide.


Isi presentasi, gaya bahasa, dan diksi yang kita gunakan harus disesuaikan dengan peserta. Sekali itu aku sedang berhadapan dengan guru-guru SD. Hal yang paling mereka banggakan adalah murid-muridnya. Seminggu sebelum aku melakukan presentasi di depan guru-gurunya, aku presentasi di depan murid-murid mereka. Maka ketika itu aku menampilkan foto-foto dari hasil presentasi dimana murid-murid kelihatan antusias. Guru-gurunya bangga sekali ketika melihat foto anak muridnya terpampang besar-besar di layar. Untungnya aku punya foto dari setiap sekolah. Kalau nggak, ntar ada yang pundung


Kemampuanku presentasi dan public speaking berkembang selama bekerja di Aceh, seturut dengan banyaknya pertemuan-pertemuan yang kami lakukan. Setelah aku pindah ke Medan, aku hampir tidak pernah melakukan presentasi maupun public speaking. Kalaupun ada, hanya satu atau dua kali. Dan selama masa kerja di Jakarta ini, aku semakin tidak punya kesempatan untuk mengasah keterampilan ini.


Siapa sangka, justru masa pandemi ini yang membuka kesempatan aku untuk kembali berlatih. 


Flyer Acara Pertemuan Online Komunitas Hallyu oleh KCC Indonesia

Ketika itu, seorang teman sekelas di Drakor Class membagikan informasi tentang pertemuan online komunitas Hallyu yang diadakan oleh Korean Cultural Centre di Indonesia (kcc.id). ini adalah kesempatan Drakor Class untuk menunjukkan keberadaan kami, memperkenalkan DC, dan memperluas jaringan ke sesama komunitas Hallyu. Sungguh sayang sekali untuk dilewatkan. Walaupun waktunya sangat singkat, namun kami berhasil mendaftar dan menyelesaikan slide presentasi berisi profil singkat tentang Drakor Class. 


Oh iya, kk Risna membuat catatan tentang acara pertemuan online komunitas Hallyu ini. Ceritanya bisa dibaca di sini ya.


Acara berlangsung hari Sabtu pukul 14.30. Slide presentasi baru selesai pukul 10.30, lalu aku tinggalkan untuk difinalkan oleh teman-teman DC, karena aku harus ke kantor untuk bertemu seorang vendor. Untung tidak berlangsung lama, pukul 12.30 aku sudah ada di rumah lagi. Aku belum bisa juga menyiapkan diri untuk presentasi, karena setiap Sabtu siang adalah jadwal PA keluarga kami. Aku sudah berpesan bahwa aku akan ada acara zoom pukul 14.30, maka pukul 14.15 acara PA kami selesai, dan aku bisa bersiap sebentar untuk acara kcc.id.


Presentasi yang kulakukan di masa pandemi ini berbeda dengan yang biasanya kulakukan, karena dilakukan secara online. Kalau biasanya aku berhadapan langsung dengan peserta, kali ini tidak. Aku hanya melihat ke layar monitor. 


Berbeda dengan webinar atau meeting online, ketika kita melakukan presentasi, maka setiap orang atau peserta -- atau bahkan disetel oleh admin -- akan secara otomatis mematikan mic nya. Maka kita tidak akan mendengarkan suara apapun, kecuali suara kita sendiri. Bayangkan ketika melakukannya sendiri di kamar, di depan monitor. Apalagi ketika itu aku sedang menampilkan slide presentasi kami, jadi aku tidak bisa melihat peserta. Gamang! Aku bahkan sempat agak lost di tengah-tengah presentasi. Aku tahu orang-orang pasti sedang melihat ke slide presentasi, tapi karena faktor kebiasaan, maka aku berbicara sambil melihat ke kamera hahaha Padahal mungkin tidak ada efeknya, aku tidak bisa melakukan kontak mata juga dengan peserta. 


Sebagai evaluasi, ada beberapa hal yang tidak kusampaikan dalam acara tersebut, padahal sudah kusiapkan pada catatanku. Namun kata kak Risna, yang juga ikut dalam pertemuan itu, presentasiku sudah baik, mengingat aku tidak punya waktu untuk bersiap, kecuali sepanjang acara sambil menunggu giliran. 


Aku senang sekali karena kami berhasil memanfaatkan momen pertemuan itu untuk memperkenalkan Drakor Class. Dan kelihatannya usaha kami cukup berhasil, karena MC dari kcc.id memberikan komentar di akhir presentasi kami, bahwa ternyata ada komunitas seperti Drakor Class. Kelihatannya mereka cukup terkesan dengan apa yang kami lakukan. Mudah-mudahan saja hal ini membuka peluang untuk bekerjasama. 


Di akhir acara, presentasi kami dari Drakor Class mendapatkan hadiah sebagai salah satu presentasi terbaik. YAY! Rasanya tidak sia-sia kami tektok-an sepanjang pagi untuk menyusun lima lembar slide tersebut, mulai dari kerangka isi sampai finalisasinya. Selain itu, kami bisa pakai slide tersebut apabila ada acara lain yang sejenis.


Seru juga ternyata pengalaman melakukan presentasi secara online. Semoga saja apabila ada kesempatan lagi, aku sudah bisa mempersiapkan diri dan melakukannya dengan lebih baik. 



Read more…