July 7, 2020

Asam di Gunung, Garam di Laut - Edisi Mari Memasak (Bagian 3 - fin)

Setelah berhasil belanja ikan, sayur, dan buah-buahan online, selanjutnya aku akan belanja alat masak. Semenjak tinggal di kost ini, aku sangat hati-hati membeli barang. Pengalaman ketika bekerja di Bireuen. Datang dengan dua koper, dan pulang dengan dua koper... plus satu mobil L300 penuh. Kulkas, TV, dispenser, karpet... dan entah apa lagi. Itu pun sudah sebagian diwariskan kepada teman-teman di sana. Gak lagi dah. Aku pun memutuskan untuk membeli barang yang "sungguh sungguh perlu" (kalau "perlu", semuanya juga kita perlu yeekaann). "Sungguh sungguh perlu" ini diartikan sebagai barang yang aku beli karena fungsinya tidak dapat digantikan oleh yang lain. Misalnya, kukusan.

Belanja online dan belanja offline itu buatku sama saja godaannya. Karakter Gemini ya begini ini. Dua sisi yang berseberangan dalam satu pikiran. Kepribadian ganda. Kadang-kadang sangat impulsif sehingga membeli tanpa pikir panjang, tapi sering juga overthinking mempertimbangkan pilihan antara lima jenis kukusan, yang setelah berhasil memilih satu, ternyata tersedia di sepuluh jenis vendor. Aku harus ottokeee???

Akhirnya setelah lelah membrowsing tiga market place dan membandingkan entah berapa vendor, aku berhasil juga menyelesaikan transaksi. YAY!! Aku sudah mengatur jadwal pengiriman agar tiba di hari Sabtu.

Dan hari yang dinanti-nantikan itu pun tiba. Menjelang sore, pak kurir menelpon mengabarkan sudah tiba di depan rumah kost. Bahagianya... sudah terbayang ikan steam yang akan jadi santapan nanti malam.

Unboxing!

Kukusan Idaman (dok.pribadi)

Kukusan ini bukan kukusan terbaik yang ada. Kriteria ku lebih ke fungsi, bahan, dan ukurannya. Kalau sudah masuk minimum requirement, bungkus! Harganya murah meriah. Aku senang dengan tutupnya yang terbuat dari kaca, jadi bisa intip-intip makanan sudah bagaimana penampakannya. Bahannya stainless steel, agak tipis, tapi tak apalah. Kata Mami, yang penting jangan sampai gosong. Nanti pancinya bolong! Hihi

Aku langsung mengambil piring untuk mengukur. Halah... ternyata kegedean piringnya! Padahal kukusan yang kubeli ukuran 28 cm. Ya gosah nangis, neng... siapa suruh ngukur piring pakai jengkal gak pakai penggaris.

Arghh... Impian menikmati makan malam dengan menu ikan steam pun pupus sudah. Ya sudahlah. Sebagai gantinya, dengan bermodal frying pan dan mentega, aku masak ikan panggang saja. Gak tahu juga berapa lama seharusnya ikan ini dimasak, pakai feeling saja.. kalau warnanya sudah putih, kulitnya sudah kering, berarti sudah masak lah itu.. :p

Pagi ini, sudah diniatkan. Tidak bisa tidak, hari ini harus jadi nih makan ikan steam. Sepulang kerja, aku pun mampir ke pasar, membeli piring tahan panas. “Pokoknya bisa buat mengkukus ya pak...”, pesanku pada si penjual. Kami bertransaksi, dan piring pun berpindah tangan, YAY!

Sesampainya di rumah, segera aku keluarkan ikan dari freezer. Dibiarkan sampai dagingnya terasa melembut. Kemudian diberi pengalaman berupa asam dan garam. Berhubung nantinya akan di steam, aku tambahkan bawang putih dan irisan jahe. Lalu ikan kembali ke kulkas, dimarinasi sampai saat memasak nanti.

Sekitar sejam kemudian, aku mulai menyiapkan bahan dan alat yang dibutuhkan. Langkah pertama adalah merebus air di kukusan. Sambil menunggu air mendidih, bahan-bahan pun disiapkan.

Ikan kukus atau segala masakan kukus adalah metoda memasak yang paling simple dan sehat menurutku. Tinggal potong-potong bahannya, cuci bersih, gabung dalam satu wadah, beri bumbu sesuai selera, kukus. Gampang kan? Tidak perlu pakai tameng supaya tidak terkena cipratan minyak, atau membolak balik supaya matang merata, atau diaduk-aduk supaya santan tidak pecah. Tinggal cetekin kompor, tunggu sampai matang, selesai.

Ikan kembung banjar yang tadi sudah dimarinasi aku keluarkan dari kulkas, kucuci sekali lagi (kadang-kadang bagian ini bisa di-skip juga, tergantung selera aja. Bebas!) Ikan kususun di piring tahan panas yang baru dibeli tadi sore. Piring ini sekaligus piring saji, jadi tidak perlu dipindahkan lagi. Kemudian aku tambahkan irisan jahe, bawang putih, irisan cabe rawit, tomat, dan daun bawang. Karena di kulkas masih ada tahu, aku masukkan dua tahu yang sudah dipotong kecil. Sebagai bumbu penyedap, aku tambahkan satu sendok makan kecap ikan, satu sendok makan minyak wijen, dan satu sendok makan saus tiram. Ketika air di kukusan sudah mendidih, ikan pun bisa mulai dikukus. Pasang timer 25 menit. Capcus!

Asam di gunung, garam di laut, ngumpulnya bareng ikan di kukusan (dok,pribadi)

15 menit berlalu, wanginya mulai menyeruak. Wangi yang sangat familiar, mengingatkanku pada masakan Mami di rumah. Timer berbunyi, aku segera memeriksa kondisi ikan. Dicoba dulu pakai garpu, apakah daging ikan sudah matang sempurna. Ahhh... mantap! Tampilannya persis seperti yang ku bayangkan. Lengkap dengan genangan kaldu ikan dan aroma rempah. Haduuu haduu haduuu.... ku bahagia!

Ikan Kukus - Siap santap! (dok.pribadi) 

Ku keluarkan piring dari kukusan. Sambil menunggu ikan matang, tadi aku sudah memasak rebusan labu siam, yang akan disantap dengan cocolan sambel bawang. Dan malam ini, “Dinner Mate” will be my dinner mate. Ok, semua sudah siap. Song Seung-heon oppa, meogja!

Read more…

July 6, 2020

Drama Nan Candu

Bagi seorang natural born romance junkie, keberadaan drama Korea bagaikan makanan bagi jiwa. Kisah cinta sarat dilema dan letupan rindu, kegalauan ketika logika berlomba dengan rasa, penyangkalan yang berakibat penyesalan dan berakhir dengan pengakuan. Happy ending. Uh.. bahkan menuliskannya saja sudah membuatku setengah bahagia. I'm sold! Haha


Keberhasilan sebuah drama Korea dalam merebut hatiku sangat tergantung pada chemistry para tokohnya. Semakin kuat chemistry-nya, maka akan semakin halu lah penontonnya (baca: aku)

Jalan cerita aneh dan tidak masuk akal, terlalu lebay, jarak usia terlalu jauh, buatku tidak ada masalah. Namanya juga drama. Tapi kalau tidak ada chemistry, then it's a NO NO!

Selama hampir dua tahun menapaki jalur menuju drakorian, ada beberapa drama yang sangat berkesan dan berhasil membuat aku gagal move on. Kisah cintanya begitu nyata. Totalitas dan penghayatan aktor dan aktrisnya membuat mereka tampil dengan sangat meyakinkan, sehingga sesaat terlupa bahwa ini adalah drama semata.

Sebagaimana kelakuan orang yang gagal move on, aku tidak bisa (dan tidak mau) melepas ingatan akan manisnya kisah mereka di scene tertentu. Aku akan mengulang-ulangnya terus. Dan herannya, mau berapa kali pun aku mengulangnya, aku akan tetap mengalami kebahagian dan euphoria yang sama. Aneh ya... padahal kan udah tahu scene lengkapnya bagaimana haha

Tidak puas dengan mengulang scene tertentu, aku akan mencari video behind the scene (bts) nya. Berdasarkan pengalaman, video bts nya ini bahkan sering kali lebih manis daripada drama nya. Efeknya? Kronis!

Beberapa drama yang berhasil bikin aku gagal move on:

1. Her Private Life

Ryan Gold & Deok-mi (sumber: asianwiki.com)

Drama yang dibintangi oleh Kim Jae-wook dan Park Min-young ini berhasil membuat Jae-wook menjadi bias pertama dan utama.

Banyak scene dalam drama ini yang jadi favoritku. Yang aku paling suka adalah ketika Ryan Gold (Jae-wook) menyatakan perasaannya ke Deok-mi (Min-young). Cara mereka saling memandang itu seakan meneriakkan cinta.

Scene lain yang juga aku ulang berkali-kali adalah ketika Ryan Gold diajak ikutan piknik oleh ibunya Deok-mi, yang berakhir dengan mereka berfoto bersama. Kemudian ibu Deok-mi meminta Ryan dan Deo-mi berfoto berdua saja. Deok-mi mulanya menolak, lalu berjalan menjauh, tapi dengan cepat Ryan menarik bagian belakang blazer Deok-mi supaya mendekat. Aawwww... sweet bangeetttt...

Hasil perburuan video bts juga sungguh memuaskan. Aku paling suka dengan video pembuatan scene Ryan melamar Deok-mi. Di situ Ryan sampai terbawa emosi, sampai tidak bisa berkata-kata, lalu Deok-mi memeluk dan menenangkannya. Aawwww.... sweet kali puuuunn.

Aku menonton drama ini pertengahan tahun 2019, dan sudah pernah menuliskan reviewnya di sini. Sudah lama memang, namun sampai sekarang aku masih sering menonton ulang video-video cuplikan Her Private Life melalui YouTube.


2. Jealousy Incarnate

Kisah cinta antara Hwa-sin (Cho Jung-seok) seorang pembaca berita, dengan Pyo Na-ri (Gong Hyo-jin) seorang gadis pembawa ramalan cuaca. Kisah cinta penuh penantian. Kisah cinta penuh penyangkalan dan kegalauan. Drama yang bikin aku menderita second lead syndrome dua kali hahaha Sangat berkesan hingga aku menuliskan reviewnya di sini.

Chemistry mereka bikin aku mabuk. Setiap gerakan, cara memandang, gerakan alis, tarikan senyum di bibir, semua bikin ikutan cemas sampai gemas.

Pyo Na-ri dan Hwa-sin (sumber: Soompi)

Scene favoritku tentu saja ketika Hwa-sin akhirnya mengakui dan menyatakan perasaannya pada Pyo Na-ri. Bahkan ketika menuliskan ini, aku masih ingat sorot mata Hwa-sin yang memandang Na-ri dengan penuh cinta. Candu!


3. Hospital Playlist

Drama tentang persahabatan lima orang dokter spesialis yang hobi musik. Kisah cintanya banyak, bikin romance junkie semacam aku ini bahagia luar biasa.

Setidaknya ada tujuh video kompilasi kisah cinta Ahn Jeong-won (Yoo Yeon-seok) dan Jang Gye-wool (Shin Hyun-bin), alias Winter Garden couple, yang kutonton melalui YouTube. Padahal isinya scene yang itu itu juga haha Tapi tetap saja, rasanya ikut bahagia melihat mereka akhirnya bersama.

Tidak hanya kisah cinta asmara yang bikin aku gagal move on. Scene latihan band pertama juga aku ulang berkali-kali.

Ketika itu Seong-hwa (Jeon Mi-do) menjadi vokalis, padahal (ceritanya) tone deaf. Seong-hwa bernyanyi dengan sungguh fals nya, sampai Ik-joon (Cho Jung-seok), Joon-wan (Jung Kyung-ho), dan Seok-hyung (Kim Dae-myung) berkali-kali terhenyak dan memandang tak percaya. Kemudian saking kesalnya mereka berhenti main, dan Seong-hwa tampak bingung dengan tampang gak bersalah 🤣🤣

Hospital Playlist - Latihan Band Pertama (sumber: dramabeans.com)

Drama Hospital Playlist ini memang istimewa. Menyajikan berbagai kisah cinta yang bermacam bentuknya. Akibatnya, aku masih gagal move on sampai sekarang. Masih terus berburu video-video cuplikan, bts, sampai segala bentuk interview mereka berlima. Tak sabar rasanya menunggu season kedua.

Read more…

July 5, 2020

Unboxing! -- Episode Mari Memasak (Bagian 2)

Akibat “himpitan keadaan” (pandemi dan kebutuhan makanan sehat... udah masuk generasi 4.0 euy, harus mulai mawas diri hihi) maka aku pun memutuskan untuk bergiat memasak. Maka hari Jumat yang lalu, setelah paginya aku menerima paket ikan kembung banjar yang super duper keren, siangnya aku menantikan paket belanjaan sayuran dan buah. Pengalaman belanja sayuran dan buah secara online ini pun merupakan pengalaman pertama untukku.

Sungguh situasi pandemi ini selain menghentikan banyak kegiatan, namun harus diakui, telah membuka banyak kesempatan. Salah satunya dengan semakin banyaknya lapak-lapak pedagang online. Hari gini belanja sayur-mayur, daging, ikan, dan berbagai kebutuhan dapur bukan lagi perkara sulit. Semua tersedia secara online. Mau langsung ke penjualnya, atau mau beli di swalayan langganan, atau merasa lebih aman dan nyaman transaksi di market place? Semua bisa, semua tersedia.

Saking banyaknya pilihan, maka aku yang apa-apa pake hati dan cenderung overthinking ini pun kumat. Ada kali' seminggu browsing di Instagram, cari-cari review, baca testimoni. Makin banyak dibaca, makin bingung milihnya euy! Penjual yang ini pilihan sayurnya banyak, buahnya gak terlalu. Kalau yang ini, hmm.. kaya’nya gak ada di market place, harus menghubungi langsung, lewat web, atau unduh aplikasi. Kalau yang anu, selain menyediakan sayur, buah, juga menyediakan sembako. Tapi harganya kok lebih mahal ya... Haiisshhh!

Akhirnya aku merumuskan beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk memilih penjual online selama masa pandemi ini. Tidak hanya untuk sayur dan buah, tapi bisa diterapkan untuk penjual produk apa saja.

  1. Jenis barang yang dijual . Semakin lengkap semakin baik. One stop shop. Selain menghemat ongkos kirim (beberapa penjual memberikan pengiriman gratis dengan syarat minimum belanja), hal ini juga berarti kita hanya berurusan atau bertemu dengan satu kurir. 
  2. Harga barang. Kalau untuk sayur-sayuran, harganya sih relatif sama. Biasanya harga sayur berbanding lurus dengan kualitasnya, kecuali lagi promo. Sayuran hidroponik dan organik lebih mahal daripada yang konvensional. Keuntungannya, sayuran hidroponik dan organik lebih tahan lama. Kalau soal rasa, itu kembali ke persoalan selera. Karena itu aku lebih fokus pada harga sembako, seperti minyak, saus, kecap, dan sejenisnya.
  3. Memiliki outlet di market place. Aku merasa lebih aman dan nyaman saja berbelanja melalui market place. Ada pihak ketiga yang menjamin transaksi berjalan dengan baik dan benar. Jalur komunikasi juga bisa melalui market place, jadi tidak perlu lewat japri. Bahkan ada beberapa market place yang tidak menyarankan user melakukan transaksi di luar sistem.
  4. Rekomendasi teman. Pengalaman adalah guru yang terbaik, apalagi pengalaman orang lain. Maka bisa jadi walaupun tidak punya outlet di market place, aku akan memilih penjual tersebut, karena direkomendasikan oleh teman yang kupercaya penilaiannya. 

Setelah mensurvey, memilah, dan memilih, ternyata ada beberapa penjual sayuran dan sembako yang masuk ke dalam kriteria tersebut. Selanjutnya aku memilih satu nama yang paling familiar, dan melakukan transaksi melalui market place.

Jenis produk yang ditawarkan cukup lengkap dan beragam. Selain sayur dan buah, juga tersedia beras, telur, dan bumbu keperluan dapur. Yang menariknya lagi, penjual juga menyediakan paket masak dan paket jus. Jadi kita bisa membeli sesuai kebutuhan untuk memasak 1 atau 2 porsi saja. Juga ada paket makanan dan minuman yang bisa langsung dikonsumsi. 

Maka hari Kamis yang lalu, untuk pertama kalinya, aku pun belanja sayur dan buah secara online. Aku memilih sayur dan buah yang tahan lama. Seperti brokoli, labu siam, letuce, dan terong. Buahnya salak (lagi promo.. uhuuyy), nenas, dan alpukat. Sekalian aku tambahkan minyak goreng dan telur 1 paket. Karena aku bertransaksi melalui market place, maka cut off time nya adalah pukul 4 sore, dan barang akan dikirimkan besok antara pukul 09.00 – 13.00. Ongkos kirimnya sama untuk semua lokasi tujuan. Dan kebetulan lagi ada promo, karena total belanjaku lebih dari Rp. 120.000, ongkos kirimnya gratis. YAY!

Menjelang siang, ketika berkutat dengan angka-angka (maklum awal bulan), aku menerima telepon dari kurir. Paket ku telah tiba! Bahagianya hatiku menerima sebuah kardus besar dengan nama si penjual. Waduh, ternyata belanjaanku banyak juga ya. Unboxing, lalu telur dan semua sayur segera dimasukkan ke kulkas, buah-buahan kecuali alpukat langsung dicuci untuk segera disantap.

Paket telah tiba! (dok.pribadi)



Unboxing (dok.pribadi)


Shopping spree!! (dok.pribadi)

Sambil menata sayur ke dalam kulkas, aku mulai memikirkan menu apa yang akan kumasak dengan bahan-bahan ini. Aku teringat pada menu yang paling sering dimasak ibuku, yaitu brokoli dan ikan steam. Ah, berarti aku harus beli kukusan. Asyik... mari belanja lagi!


Read more…

July 4, 2020

Kisah Adaptasi Drama Korea

Salah satu hal yang paling kukagumi dari drama dan film Korea adalah para penulis ceritanya. Mereka seakan-akan tidak kenal batas kreatifitas. Tidak ada kisah yang tidak mungkin. Alien, zombie, sampai jurig. Time traveler, dunia paralel, sampai dunia komik. Beda usia 10 tahun atau 30 tahun?? Aah... itu mah sudah biasaaa... Di drama Korea, tokohnya ada yang berusia 400, bahkan 900 tahun.

Saking kreatifnya kisah-kisah drama Korea ini, tidak jarang kisahnya di-remake oleh negara-negara lain. Sebut saja negara Jepang, Tiongkok, Turki, Thailand, dan tentu saja tidak ketinggalan negara berflower +62 yang kita cintai ini.

Berikut dua drama Korea yang di-remake oleh negara lain:

Signal (2016)

Drama Korea ini mengisahkan  tentang Park Hae-young (Lee Je-hoon) seorang polisi profiler, yang berkomunikasi dengan Lee Jae-han (Cho Jin-woong), seorang polisi detektif melalui sebuah walkie-talkie tua. Uniknya, Lee Jae-han berasal dari tahun 2000. Dengan kemampuan Hae-young sebagai profiler, bersama mereka memecahkan sebuah berbagai kasus kriminal yang terjadi di masa Jae-han, sehingga mereka berhasil mengubah masa depan. Tentu saja mengubah takdir tidak mungkin tanpa konsekuensi.  Ketika ada yang terselamatkan, tentu saja ada yang harus dikorbankan.

Drama bergenre kriminal-misteri-thriller-fantasy ini (semua diborong gitu yak...) sukses meraih rating yang tinggi dan memenangkan beberapa penghargaan. Drama ini mengangkat sebuah kisah nyata, yang dikenal dengan “Pembunuh Berantai Hwaseong” yang terjadi di Hwaseong, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, selama tahun 1986 sampai dengan 1991. Pelakunya sendiri berhasil diindentifikasi oleh pihak kepolisian Korea Selatan pada September 2019, yaitu 33 tahun setelah kejahatan itu terjadi.   

Drama "Signal" - versi Korea dan versi Jepang
(sumber: hipwee.com/asianwiki.com)

Drama Korea Signal di-remake oleh Jepang menjadi drama yang berjudul sama, Signal (2018), yang dibintangi oleh Kentaro Sakaguchi. Kemudian dilanjutkan kisahnya ke dalam bentuk  film yang berjudul  Signal The Movie. Film ini rencananya akan dirilis tahun 2021.   

Selain drama Signal, ternyata ada sejumlah film dan drama Korea lain yang juga terinspirasi dari kasus Hwaseong, antara lain film Memories of Murder (2003), film Confession of Murder (2012), drama Gap-dong (2014), dan drama Tunner (2017). 


My Love From Another Star (2013)

Drama ini sangat berkesan buatku karena merupakan drama yang menandai comeback ku ke dunia perdrakoran. Drama ini dibintangi oleh Jun Ji-hyun dan Kim Soo-hyun, mengisahkan Do Min-joon, alien yang datang ke Bumi 400 tahun lalu, jatuh cinta dengan Cheon Song-yi, seorang artis.

Barangkali karena keunikan kisahnya, drama ini di-remake oleh salah satu stasiun televisi Thailand. Judul remake versi Thailand adalah “Likit Ruk Karm Duang Dao”, dimana karakter Do Min-joon diganti menjadi Achira, dan Cheon Song-yo menjadi Farada.  (sumber: hipwee.com).

"My Love From Another Star" dan versi remake "Kau yang Berasal dari Bintang"
(sumber: brilio.net/asianwiki.com/Sinemart Indonesia) 

Tidak hanya Thailand, Indonesia pun membuat versi remake-nya. Judul remake versi Indonesia adalah “Kau yang Berasal dari Bintang”, yang dibintangi oleh Nikita Willy dan Morgan Oey. (sumber: brilio.net)


Meskipun kreatifitas penulis cerita film dan drama Korea sepertinya tanpa batas, tetapi Korea pun membuat remake dari film, drama, maupun manga produksi negara lain. Salah satunya yang paling terkenal adalah "Boys Over Flower".

Poster "Boys Over Flowers" (sumber: wikipedia)

"Boys Over Flower" (2009) dibuat berdasarkan manga yang berjudul "Hana Yori Dango" yang ditulis oleh Yoko Kamio, yang mengisahkan tentang Makino Tsukushi, seorang gadis dari keluarga kelas pekerja, yang terlibat dengan F4, sebuah grup yang paling populer di sekolahnya. Grup ini terdiri dari 4 orang  pria ganteng yang datang dari keluarga kaya raya.

Dalam versi Korea, drama ini dibintangi oleh Ku Hye-sun sebagai Geum Jan-di (karakter Makino Tsukushi) dan Lee Min-ho sebagai Gu Jun-pyo, yang merupakan ketua F4. Anggota F4 lainnya diperankan oleh Kim Hyoon-jong, Kim Bum, dan Kim Joon.

Cover Hana Yori Dango Vol. 1 - Manga yang menginspirasi banyak drama
(sumber: wikipedia)

Selain "Boys Over Flower", manga “Hana Yori Dango” ini juga diadaptasi ke beberapa versi serial drama oleh negara lain. Yang pertama sekali memproduksinya adalah Taiwan, dengan serial drama yang berjudul “Meteor Garden” (2001). Pada masa itu, drama ini pun hits banget di Indonesia, hingga tak lama kemudian diadaptasi ke dalam bentuk sinetron, yang berjudul “Siapa Takut Jatuh Cinta”.  Sinetron dibintangi oleh Leony, Indra Bruggman, Jonathan Frizzy, Roger Danuarta, dan Steve Emmanuel.

Setelah Taiwan, Jepang sendiri memproduksi serial drama dengan judul sama pada tahun 2005, yang dilanjutkan dengan sequelnya di tahun 2007 dengan judul “Hana Yori Dango Returns”, dan tahun 2008 diadaptasi dalam bentuk film yang berjudul “Hana Yori Dango Final”. Kemudian Tiongkok mengadaptasi manga ini dengan memproduksi serial drama berjudul “Meteor Garden” (2018).


Tulisan ini kubuat setelah melakukan survey kecil-kecilan dari berbagai sumber situs berita, karena sebagian drama dan film tadi belum aku tonton, baik versi Korea, versi remake, maupun versi aslinya. Secara perjalanan ku menjadi drakorian pun baru berlangsung sejak awal tahun 2019, masih newbiew euy. Namun daftar di atas bolehlah dijadikan referensi untuk menambah koleksi tontonan selama masa pandemi.

Read more…

July 3, 2020

Ada yang Masuk Dapur tapi Bukan Rekaman -- Episode Mari Memasak (Bagian 1)

Hari ini aku punya pengalaman baru lagi. Hari ini aku menerima beberapa paket hasil online shopping ku. Bukan.. bukan baju, apalagi sepatu. (No) Thanks to pandemic self quarantie situation, sekarang daftar belanjaan online ku sudah merambah ke ikan, sayur-mayur, buah-buahan, dan peralatan memasak. Menarique bukan??

Jadi ceritanya sejak pertengahan bulan Juni, aku mulai menempati kamar kost. Sejak saat itu pula aku tidak punya akses ke masakan rumah. Sebelumnya aku tinggal di rumah Uda (Paman)ku, dan setiap hari di rumah tersedia berbagai menu sehat masakan Inanguda (Tante) ku.

Beberapa hari pertama, aku masih bisa menikmati masakan rumah. Beruntung aku punya teman yang baik, Tessa, yang mengirimkan sepaket makanan American delish. Isinya 4 potong square pizza, tuna ala Jamie Oliver, kue tiga rasa, dan chocolate cookies. Semuanya hasil masakan Tessa. Rasanya jangan ditanya, sedapnya merasuk ke jiwa karena dimasak dengan penuh cinta. Dan datangnya tepat di hari pertama aku menempati kamar kost. Jadi rasanya semacam bingkisan kost-warming gitu... haha

 ❤ Paket American Delish ala Tessa ❤

Kemudian minggu kemarin, seorang teman yang lain, Friska, mengirimi aku sepaket makanan, hasil masakannya juga. Kali ini Korean delish. Isinya jjajangmyeon, japchae, tteobokki, dan kimchi. Kata Friska, supaya semangat menulis topik per-Koriya-an. Aaaww... so sweet kali puuuunn...

❤ Paket Korean Delish ala Friska ❤

Mental note. Menerima kedua paket ini, aku merasa sungguh bahagia dan terharu. I am so blessed and loved. Tuhan selalu mengirimkan malaikat-malaikat tidak bersayap untuk menolong kita. Semoga saja suatu saat, bila Dia kasih kesempatan, aku pun siap meneruskan kebaikan yang aku terima.  

Ketika semua paket makanan itu habis, maka tidak ada pilihan lain, aku harus beli makanan dari luar. Paling sering sih beli nasi padang atau nasi warteg, baik untuk makan siang di kantor, maupun makan malam. Enak sih enak, tapi nasi nya itu lho... Porsi Galia! Apalagi aku paling pantang membuang makanan, sehingga mau sebanyak mana pun nasi, pasti aku habiskan #modus. Selain itu sayurannya juga terbatas, dan rentan basi. Belum lagi penyedap. Sekali dua kali sih masih tidak apa. Tapi kalau hampir setiap hari?  

Nah, rumah kost ku ini punya dapur bersama yang cukup lengkap. Ada kompor gas dua tungku, kulkas dua pintu, dispenser, dan bak cuci piring. Ukurannya pun lumayan lega. Memang dapur menjadi salah satu kriteria dalam memilih tempat kost, selain sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Setelah beberapa minggu memanfaatkan kompor dan kulkas hanya untuk menghangatkan makanan dan merebus mie instan, aku rasa sudah saatnya aku mulai menggunakannya untuk aktifitas yang lebih serius. Me-ma-sak.   

Dapur bersama di rumah kost. Dilengkapi exhaust fan di langit-langitnya. 

Dapur Tampak Sini

Dapur Tampak Sana


Sebagai alat masak, Inanguda sudah membekaliku dengan sebuah frying pan, dan itu sudah cukup untuk memulai. Selanjutnya tentu saja aku harus membeli bahan-bahan makanan. Karena aku masih menghindari pusat perbelanjaan, maka solusinya adalah belanja online. Langsung saja aku browsing di Instagram untuk mencari supplier ikan, daging, dan sayuran. Ternyata ada banyak! Banget! Pusing juga memilihnya.

Lalu aku teringat cerita Tessa tentang seorang temannya yang menjadi supplier ikan. Ikan segar tangkapan nelayan Ambon, dikirim dengan cargo pesawat terbang. Aku kirain harganya bakal bikin gemetaran, secara ikan laut selalu lebih mahal dari ikan air tawar. Ternyata tidak juga. Kata Tessa, harganya sama dengan di swalayan langganan. Akhirnya aku menghubungi Marini, sang suplier ikan. Jenis ikannya ada bermacam-macam. Tenggiri potongan, cakalang, kembung banjar, bobara atau kuwe, dan tuna. Setelah memilih-milih, akhirnya aku memesan ikan kembung banjar kualitas super. Benar-benar super,  4 ekor ikan per kg.

Kemarin Marini sudah menghubungiku, mengabarkan bahwa pesanan ikan sudah datang. Tadi pagi, aku mendapatkan pesan lagi bahwa ikan sudah dalam perjalanan menuju tempat kost ku. YAY!  

Pukul sembilan tadi pagi, kurir menelpon dan mengatakan sudah meninggalkan pesananku di depan rumah. Waduuh, main tinggalin aja nih si abang ojol. Untung gak digondol kucing. Aku bergegas ke depan rumah, dan lega menemukan paket ikan dalam keadaan baik-baik saja.

Kembung Banjar - Bandingkan besarnya dengan botol AQUA ukuran kecil


Dimarinasi asam garam - supaya ikannya banyak pengalaman

Sesampainya di rumah kost, aku buka bungkusan paket dan huwaaa.... bahagia sekali melihat empat ekor ikan kembung banjar, segar, mantap dan padat. Aku segera mengeluarkan satu ekor, dan yang tiga lagi kubungkus dan masuk ke freezer. Ikan yang satu aku bersihkan, potong dua, lalu dimarinasi dengan asam jeruk nipis dan garam. Kalau kata temanku Ikop, supaya ikannya banyak pengalaman (makan asam garam, get it?? :p) 

Hmm.... enaknya dimasak apa ya?  

Read more…

July 2, 2020

Realita vs Drama

Tanpa terasa, tepat sebulan Challenge Menulis 30 Topik Seputar Koriya berlangsung di grup WAG Drakor dan Literasi. Telah 10 topik per-Koriya-an yang dijadikan bahan tulisan oleh aku dan teman-teman segrup. Seru juga ketika membaca tulisan teman-teman. Setiap orang bercerita dengan sudut pandang dan gaya penulisan yang berbeda. Hitung saja, kalau per topik ada rata-rata 12 tulisan, berarti dalam sebulan ini saja kami menghasilkan 120 pembahasan per-Koriya-an. Dan masih ada 20 topik lagi yang menanti. Bisa jadi dikupas tuntas, atau dikecapin dan ditambah sambel dan kerupuk secukupnya haha

Setelah 10 topik berlalu, ternyata perjalanan ini tidak semakin gampang, Ferguso! Ketika harus membahas topik tentang acara variety show Korea, disitulah aku diuji. Kenapa diuji? Karena sesungguhnya betapa aku gak suka nonton variety show huhuhu Bahkan aku pernah menuliskannya sebagai salah satu tontonan setara drama Korea yang enggan aku tonton.

Ketika pembahasan tentang topik 11 ini mencuat dalam sesi zooming grup Drakor dan Literasi, ternyata bukan aku sendiri yang bergumul (#lebay) karena bahasan variety show. Salah satu teman seperdrakoran, Rijo Tobing, pun merasakan hal yang sama.

Perkenalanku dengan Yeodongsaeng Rijo Tobing ini adalah salah satu faedah yang kudapatkan dari bergabung di KLIP. Kami memiliki marga yang sama, Lumbantobing. Sebagaimana umumnya orang Batak, maka perkenalan akan dilanjutkan dengan 2 pertanyaan wajib; turunan Ompung yang mana atau dari Desa mana, dan nomor urut ke berapa. Beruntungnya aku, Rijo sudah menjabarkan secuplik kisah Raja Lumbantobing ini di sini.

Rupa-rupanya, selain sama-sama bermarga Tobing, berambut pendek, dan berkacamata, kami juga sama-sama gak suka dan hampir gak pernah menonton variety show Korea. Dan ketika kami membahas lebih lanjut, kembali ku terkejut (#lebaylagi). Ternyata satu-satunya variety show yang kami tonton sampai habis pun sama, yaitu The Return of Superman yang bintang tamunya Lee Dong-wook.  Wah, gak heran netizen KLIP --begitu istilah Rijo-- suka menuduh kami kembar hihi

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan variety show. Kembali ini masalah selera. Hal yang paling aku suka ketika menonton drama dan mendengar lagu-lagu KPop adalah totalitas para hallyu star ketika menyuguhkan karyanya. Akting mereka, kisah dengan imajinasi tak terbatas, atau lirik lagu yang memberikan semangat. Maka ketika mereka hanya ngobrol-ngobrol, main game, atau diminta melakukan pekerjaan di luar kebiasaan mereka, dengan kata lain, menyajikan realita, maka aku pun kehilangan minat.

Sebagaimana kusebutkan sebelumnya, satu-satunya variety show yang kutonton adalah “The Return of Superman” yang menghadirkan Lee Dong-wook. Ketika itu aku baru-baru saja comeback ke dunia perdrakoran, dan “Goblin: The Lonely and Great God” adalah drama Korea kedua yang aku tonton. Drama ini cukup berkesan buatku. Bukan hanya kisah cintanya, tapi juga chemistry empat pemain utamanya, yaitu Gong Yoo, Kim Go-eun, Lee Dong-wook, dan Yoo In-na. Saking berkesannya, aku sering sekali mencari video-video di YouTube yang berhubungan dengan drama Goblin dan pemain-pemainnya, sampai akhirnya menemukan link episode variety show tersebut.

The Return of Superman sudah tayang sejak tahun 2013. Pada variety show ini, para selebriti, yang juga adalah seorang ayah, harus mengurusi anak-anaknya selama 48 jam tanpa bantuan orang lain. Selama 48 jam itu, sang ayah dan anak-anaknya harus melakukan tugas-tugas yang telah disiapkan oleh sang ibu. Terus sang ibu kemana? Selama 48 jam itu sang ibu diminta meninggalkan rumah dan menikmati waktu untuk bersantai sejenak, lepas dari rutinitas ibu rumah tangga. Sesekali teman para ayah ini, yang juga selebriti, akan datang berkunjung, dan menggantikan tugas sang ayah. Nah, pada episode yang kutonton ini, Lee Dong-wook menggantikan sang ayah, Lee Dong-gook, untuk mengasuh kelima (iya... lima) anaknya. Sebenarnya yang terutama adalah mengasuh tiga anak yang masih balita. Dua gadis kecil kembar, Lee Seol-ah dan Lee Soo-ah, dan si bungsu, Lee Si-an a.k.a. Daebak. Anak pertama dan kedua, Lee Jae-si dan Lee Jae-ah, juga kembar, sudah beranjak remaja. 


Lee Dong-wook dan Daebak / Lee Dong-gook dan Daebak

Walaupun biasanya aku tidak suka menonton variety show, tetapi nyatanya aku menonton episode tersebut sampai selesai. Bahkan tidak hanya satu, tapi ketiga episode yang menampilkan Lee Dong-wook kutonton sampai habis. Mungkin pesona Lee Dong-wook yang membuatku terpana haha Apalagi ketika Lee Dong-wook yang walaupun kewalahan, namun nampak sabar sekali mengurusi Daebak, dan si kembar Seol-ah dan Soo-ah. 


Kewalahan diganduli tiga balita. So cute!

Ternyata, dibalik mata sayu, wajah pucat, dan bibir merahnya, Lee Dong-wook adalah sosok ayah idaman.  Untuk sekali ini, aku tidak kehilangan minat pada realita.


Read more…

July 1, 2020

Kenal Lebih Dekat

Hari Jumat yang lalu, aku mendapatkan kehormatan menjadi narasumber dalam rubrik “Kenal Lebih Dekat” (KLD)  yang diadakan komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Awalnya, hari Kamis itu aku mendapatkan pesan WhatsApp dari mb' Dea Adhicita, yang menanyakan kesediakanku menjadi narasumber KLD. Reaksi ku spontan hairan dong yaa. Apa kabar gw jadi narsum, cuy?? Dibanding para peserta KLIP yang lain, howaahh... masih jauh lah jam terbang hamba. Belum ada prestasi yang patut membuat diri ini dikenali lebih dekat.

Rupa-rupanya mb' Dea ini selain memiliki kemampuan menulis, juga memiliki kemampuan luar biasa dalam merayu. Apalagi kalau sudah bawa-bawa Kim Jae-uck oppa, maka luluhlah hati hamba hahaha Akhirnya aku menyanggupi untuk menjadi narsum KLD.


Beungeut Aing di Flyer KLD

Ternyata menjadi narsum KLD ini membuat aku sendiri pun mengenali lebih dekat tentang kesukaan menulisku. Bahkan sejak mengisi form biodata narsum, yang juga mencakup beberapa pertanyaan seputar kegiatanku menulis. Salah satu pertanyaan yang harus kujawab adalah suka menulis tentang apa. Mungkin dalam pembahasanku dengan kak Risna dan teman-teman sesama peserta KLIP, pernah juga tercetus hal-hal yang sering jadi bahan tulisanku. Tapi belum pernah aku merumuskannya menjadi satu kalimat yang layak menjadi jawaban. Dan tidak berhenti di situ saja. Jawabanku untuk pertanyaan itu telah membuka calak pada pertanyaan lain, yang lagi-lagi membutuhkan pemikiran dan perenungan untuk menjawabnya dalam bentuk kalimat yang (mudah-mudahan) dimengerti.     


Menulis Tentang Rasa

Menjawab pertanyaan tadi, jawabanku adalah aku suka menulis tentang rasa. Aku jarang sekali menuliskan sesuatu yang tidak berdasarkan pengalamanku sendiri.

Lalu bagaimana inspirasi “rasa” ini didapatkan dan dituangkan?

Selalu lebih mudah menjabarkan sesuatu itu dengan contoh. Nah, dalam hal ini, aku ambil contoh ketika menuliskan review drama Korea. Maka ketika menontonnya, aku akan mikir, gimana ya perasaan si tokoh ini? Gimana ya kalau aku jadi dia? Senang? Sedih? Bahagia? Gemas? Cemas?

Contoh lain, ketika mengikuti event Nulis Bareng Stiletto, dimana setiap hari diberikan 1 topik. Maka aku akan mikir, apa ya kira-kira pengalamanku tentang topik ini, atau yang bisa dikaitkan dengan topik ini, dan bagaimana perasaanku ketika mengalaminya.

Bagaimana menuangkannya dalam tulisan? Tuliskan saja sebagaimana adanya yang dirasakan, dan apa yang menimbulkan perasaan itu. Ketika hati berdebar, tuliskan saja hati ku atau hatinya berdebar. Kenapa berdebar? Karena tatapan mata sosok yang di depanku membuat jiwa ini menggelepar. Kenapa menggelepar? Karena lupa bernapas, sehingga kurang oksigen. Ok baik, tuliskan!

Menjawab pertanyaan terakhir tadi membuatku teringat pada emailku pada Jesse, mantan boss yang kemudian menjadi sahabat. Membuka emailku, aku menulis begini: “Talking to you was like flying to the moon and dancing among the stars. It has consumed and at the same time recharged my energy”. 

Tentu inspirasinya sebagian datang dari lagu “Fly Me To The Moon”, dimana Jesse dan aku sama-sama penggemar lagu oldies. Aku menuliskan email itu setelah selesai curhat via telepon ke Jesse, sehingga merasa lelah karena emosi, tapi juga bahagia karena lega bisa bercerita.  Aku ingat pengalamanku suatu kali bersama teman-teman menyusuri hutan, berjalan mendaki menuju suatu air terjun. Melelahkan, tapi sampai di tujuan rasanya membahagiakan. Persis seperti itu yang kurasakan ketika itu. Terus kenapa jadi perjalanan terbang ke bulan? Ya biar dramatis aja. Saya kan anaknya suka dramaaaa LOL

Intinya, mau itu tentang Korea, atau topik apa saja, selalu aku akan mengaitkannya ke pengalaman dan perasaan. Yaa.. namanya juga natural born romance junkie.. segala-gala pake hati hihi

 

Pencapaian dan Target Dalam Menulis

Pengakuan adalah pencapaian. Ketika tulisanku dalam rangka “Challenge 30 Days With Koriya” dari grup KLIP Drakor dan Literasi menjadi Artikel Utama di Kompasiana, buatku itu adalah pencapaian yang membanggakan. Dapat label “Pilihan” aja sudah senang banget, apalagi jadi Artikel Utama.  Mengunggah tulisan ke Kompasiana buatku adalah suatu beban tersendiri. Selalu extra effort. Rasanya malu-maluin kalau nulisnya ngasal. Maka ketika “pengakuan” datang dari para penilai di Kompasiana,  rasanya sungguh bangga dan bahagia. Ternyata gw beneran bisa nulis yak... hahaha

Namun, sepanjang aku kembali menulis, pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika seorang sepupu dekat dan beberapa teman bilang kalau mereka suka dan adalah pembaca setia semua tulisanku di Instagram. Padahal mereka ini hampir gak pernah meninggalkan jejak di postinganku. Silent reader. Kata mereka, tulisanku terasa mengalir dari hati. Aaaawww....  Bahagianya tak terkata!

Kalau dibanding dengan teman-teman peserta KLIP lainnya, apalagi para senior, pencapaianku ini masih jauh lah. Namun, harus diakui, bahwa dengan bergabung dengan KLIP, membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi untuk bisa konsisten menulis seperti mereka. Aku juga belum punya target yang khusus, seperti menulis buku, atau kumpulan cerita. Widiih... kebayang juga gak pernah. Saat ini targetku adalah menjaga semangat dan komitmen untuk tetap menulis. Salah satunya adalah dengan mengikuti komunitas menulis seperti KLIP ini, dan mengikuti challenge atau event menulis.

 

Pengalaman menulis setiap hari sepanjang bulan April yang lalu membuat aku menemukan bahwa menulis dan membaca kembali tulisanku ternyata menjadi bentuk terapi tersendiri untukku. Maka hari ini, di hari pertama bulan Juli, aku menuliskannya untuk menjadi pengingat dan penyemangat. 

Read more…