Wednesday, July 1, 2020

Kenal Lebih Dekat

Hari Jumat yang lalu, aku mendapatkan kehormatan menjadi narasumber dalam rubrik “Kenal Lebih Dekat” (KLD)  yang diadakan komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP).

Awalnya, hari Kamis itu aku mendapatkan pesan WhatsApp dari mb' Dea Adhicita, yang menanyakan kesediakanku menjadi narasumber KLD. Reaksi ku spontan hairan dong yaa. Apa kabar gw jadi narsum, cuy?? Dibanding para peserta KLIP yang lain, howaahh... masih jauh lah jam terbang hamba. Belum ada prestasi yang patut membuat diri ini dikenali lebih dekat.

Rupa-rupanya mb' Dea ini selain memiliki kemampuan menulis, juga memiliki kemampuan luar biasa dalam merayu. Apalagi kalau sudah bawa-bawa Kim Jae-uck oppa, maka luluhlah hati hamba hahaha Akhirnya aku menyanggupi untuk menjadi narsum KLD.


Beungeut Aing di Flyer KLD

Ternyata menjadi narsum KLD ini membuat aku sendiri pun mengenali lebih dekat tentang kesukaan menulisku. Bahkan sejak mengisi form biodata narsum, yang juga mencakup beberapa pertanyaan seputar kegiatanku menulis. Salah satu pertanyaan yang harus kujawab adalah suka menulis tentang apa. Mungkin dalam pembahasanku dengan kak Risna dan teman-teman sesama peserta KLIP, pernah juga tercetus hal-hal yang sering jadi bahan tulisanku. Tapi belum pernah aku merumuskannya menjadi satu kalimat yang layak menjadi jawaban. Dan tidak berhenti di situ saja. Jawabanku untuk pertanyaan itu telah membuka calak pada pertanyaan lain, yang lagi-lagi membutuhkan pemikiran dan perenungan untuk menjawabnya dalam bentuk kalimat yang (mudah-mudahan) dimengerti.     


Menulis Tentang Rasa

Menjawab pertanyaan tadi, jawabanku adalah aku suka menulis tentang rasa. Aku jarang sekali menuliskan sesuatu yang tidak berdasarkan pengalamanku sendiri.

Lalu bagaimana inspirasi “rasa” ini didapatkan dan dituangkan?

Selalu lebih mudah menjabarkan sesuatu itu dengan contoh. Nah, dalam hal ini, aku ambil contoh ketika menuliskan review drama Korea. Maka ketika menontonnya, aku akan mikir, gimana ya perasaan si tokoh ini? Gimana ya kalau aku jadi dia? Senang? Sedih? Bahagia? Gemas? Cemas?

Contoh lain, ketika mengikuti event Nulis Bareng Stiletto, dimana setiap hari diberikan 1 topik. Maka aku akan mikir, apa ya kira-kira pengalamanku tentang topik ini, atau yang bisa dikaitkan dengan topik ini, dan bagaimana perasaanku ketika mengalaminya.

Bagaimana menuangkannya dalam tulisan? Tuliskan saja sebagaimana adanya yang dirasakan, dan apa yang menimbulkan perasaan itu. Ketika hati berdebar, tuliskan saja hati ku atau hatinya berdebar. Kenapa berdebar? Karena tatapan mata sosok yang di depanku membuat jiwa ini menggelepar. Kenapa menggelepar? Karena lupa bernapas, sehingga kurang oksigen. Ok baik, tuliskan!

Menjawab pertanyaan terakhir tadi membuatku teringat pada emailku pada Jesse, mantan boss yang kemudian menjadi sahabat. Membuka emailku, aku menulis begini: “Talking to you was like flying to the moon and dancing among the stars. It has consumed and at the same time recharged my energy”. 

Tentu inspirasinya sebagian datang dari lagu “Fly Me To The Moon”, dimana Jesse dan aku sama-sama penggemar lagu oldies. Aku menuliskan email itu setelah selesai curhat via telepon ke Jesse, sehingga merasa lelah karena emosi, tapi juga bahagia karena lega bisa bercerita.  Aku ingat pengalamanku suatu kali bersama teman-teman menyusuri hutan, berjalan mendaki menuju suatu air terjun. Melelahkan, tapi sampai di tujuan rasanya membahagiakan. Persis seperti itu yang kurasakan ketika itu. Terus kenapa jadi perjalanan terbang ke bulan? Ya biar dramatis aja. Saya kan anaknya suka dramaaaa LOL

Intinya, mau itu tentang Korea, atau topik apa saja, selalu aku akan mengaitkannya ke pengalaman dan perasaan. Yaa.. namanya juga natural born romance junkie.. segala-gala pake hati hihi

 

Pencapaian dan Target Dalam Menulis

Pengakuan adalah pencapaian. Ketika tulisanku dalam rangka “Challenge 30 Days With Koriya” dari grup KLIP Drakor dan Literasi menjadi Artikel Utama di Kompasiana, buatku itu adalah pencapaian yang membanggakan. Dapat label “Pilihan” aja sudah senang banget, apalagi jadi Artikel Utama.  Mengunggah tulisan ke Kompasiana buatku adalah suatu beban tersendiri. Selalu extra effort. Rasanya malu-maluin kalau nulisnya ngasal. Maka ketika “pengakuan” datang dari para penilai di Kompasiana,  rasanya sungguh bangga dan bahagia. Ternyata gw beneran bisa nulis yak... hahaha

Namun, sepanjang aku kembali menulis, pencapaian yang paling membanggakan adalah ketika seorang sepupu dekat dan beberapa teman bilang kalau mereka suka dan adalah pembaca setia semua tulisanku di Instagram. Padahal mereka ini hampir gak pernah meninggalkan jejak di postinganku. Silent reader. Kata mereka, tulisanku terasa mengalir dari hati. Aaaawww....  Bahagianya tak terkata!

Kalau dibanding dengan teman-teman peserta KLIP lainnya, apalagi para senior, pencapaianku ini masih jauh lah. Namun, harus diakui, bahwa dengan bergabung dengan KLIP, membuat aku terintimidasi sekaligus terinspirasi untuk bisa konsisten menulis seperti mereka. Aku juga belum punya target yang khusus, seperti menulis buku, atau kumpulan cerita. Widiih... kebayang juga gak pernah. Saat ini targetku adalah menjaga semangat dan komitmen untuk tetap menulis. Salah satunya adalah dengan mengikuti komunitas menulis seperti KLIP ini, dan mengikuti challenge atau event menulis.

 

Pengalaman menulis setiap hari sepanjang bulan April yang lalu membuat aku menemukan bahwa menulis dan membaca kembali tulisanku ternyata menjadi bentuk terapi tersendiri untukku. Maka hari ini, di hari pertama bulan Juli, aku menuliskannya untuk menjadi pengingat dan penyemangat. 

No comments: