September 2, 2020

Bukan "Plastik" Biasa

Tanpa terasa, tantangan menulis “30 Days with Koriya” di grup Drakor dan Literasi sudah masuk ke bulan terakhir. Semenjak di mulai di bulan Juni, aku dan teman-teman grup Drakor sudah menuliskan 25 topik tulisan seputar Korea. Tidak melulu tentang drama dan film Korea, tetapi juga makanan, bahasa, budaya, dan tentuk tidak ketinggalan, KPop. 

Bulan September ini adalah bulan terakhir. Masih ada 5 topik lagi yang akan dikupas tuntas bersama. Kalau dipikir-pikir, sungguh mengagumkan ya, 1 topik bisa dibahas dan dituliskan dari belasan sudut pandang dan gaya tulisan yang berbeda. 


Kali ini, topiknya adalah Idol yang menjadi aktor/aktris, atau artis yang full package. Kalau bicara artis Korea full package, wah… daftarnya panjang! Sebagaimana berkali-kali tersurat dan tersirat dalam postinganku, tidak hanya visual mereka yang menggoda “iman”, namun para artis Korea ini pun serba bisa. 


Kelebihan visual mereka ini sering dituduh publik sebagai “plastik” alias hasil operasi dokter kecantikan. Pertama, tidak semua artis Korea melakukan operasi plastik. Banyak juga yang sudah ganteng atau cantik bawaan orok. Kedua, sesungguhnya hal itu pun mereka lakukan demi totalitas dalam profesinya sebagai artis. Dibalik tampilan visualnya, mereka punya banyak sekali kemampuan. Mulai dari kemampuan berseni peran, nyanyi, nari, main musik, MC, sampai menjadi model atau bintang iklan. Selain uri Jae-uck oppa, artis Korea serba bisa lain yang menjadi favoritku adalah Cho Jung-seok. 


Cho Jung-seok memulai kariernya sebagai pemain teater. Dia bermain dalam banyak drama musikal, di antaranya “Hedwig and The Angry Inch” dan “Amadeus”. 


Pertama sekali aku menyaksikan kemampuan akting Cho Jung-seok, dan terpesona, adalah dalam drama “Don’t Dare to Dream”. Akting Cho Jung-seok memerankan pria sombong gengsi menggalau bikin mabuk kepayang. Chemistry Cho Jung-seok dan Gong Hyo-jin merasuk sampai ke hati. Sorot matanya, gerakan tubuhnya, ohh my heaarrtt…


Setelah drama, aku lanjutkan dengan menonton filmnya. Ketika itu bertepatan ada tantangan di grup Drakor untuk mengulas film “EXIT” yang dibintangi Cho Jung-seok. Di situ pun kembali aku kagum dengan kemampuan aktingnya. 


Sejak tayang perdana, popularitas film yang dibintangi Cho Jung-seok dan Yoona SNSD ini terus melesat tinggi. Ketika penonton film tersebut menembus angka 9 juta, Cho Jung-seok dan Yoona SNSD mengucapkan terima kasih kepada para penggemarnya dengan mengunggah video mereka menari dengan iringan lagu “Superhero” yang menjadi OST film "EXIT". Walaupun tidak seluwes Yoona, tetapi Jo Jung-seok bisa mengimbanginya dengan gaya menari yang dramatis dan lucu.


“Gong”nya adalah di drama Hospital Playlist. Di situ Cho Jung-seok menunjukkan tidak hanya kemampuan aktingnya sebagai dokter bedah dan orangtua tunggal, namun dalam hampir setiap episode penonton dapat menikmati kemampuannya olah vokal dan bermain musik dalam sebuah band.


Drama “Hospital Playlist” ini memang spesial. Dalam drama ini pun kita bisa melihat keserbabisaan para artis Korea. Tidak hanya Cho Jung-seok, tetapi empat “dokter” lainnya pun memiliki kemampuan vokal dan bermain musik. Ternyata chemistry mereka berlima tidak hanya klop sebagai sahabat dan rekan sejawat, tetapi juga sebagai grup band. Ketika drama berakhir, Cho Jung-seok bersama empat rekan lainnya, yaitu Yoo Yeon-seok, Jung Kyung-ho, Kim Dae-myung, dan Jeon Mi-do, meresmikan band yang tadinya hanya ada dalam drama, dan memulai debut band yang mereka beri nama “Mido & Parasol”.

Selain kemampuan di bidang seni, tidak sedikit juga dari artis Korea, baik KPop idols maupun aktor/aktris yang mempunyai prestasi dalam bidang akademis. Kim Nam-joon (RM) BTS memiliki IQ 148, meraih nilai TOEIC 850, dan menguasai bahasa Inggris dengan belajar secara otodidak. RM sering menjadi juru bicara BTS setiap mereka tampil di ajang internasional. Kyuhyun, member termuda Super Junior, menyelesaikan program S2 nya di jurusan Postmodern Music di Universitas Kyunghee. 


Lee Seung-gi meraih gelar sarjana di jurusan International Trade and Commerce di Universitas Dongguk, dan meraih “Special Achievement Award”. Lalu Seung-gi melanjutkan studi S2 di Universitas yang sama, tidak satu tetapi dua jurusan, yaitu Trade Theory dan Finance and Cultural Contents. 


Kim Tae Hee, yang juga istri dari Rain, meraih gelar sarjana di jurusan Fashion Design dari Universitas Nasional Seoul, salah satu universitas paling bergengsi di Korea Selatan. Selama kuliah di sana, Kim Tae-hee pernah menjadi ketua klub ski wanita. 


Semakin banyak membaca dan menyaksikan karya mereka, semakin kagum aku dengan para artis Korea ini. Suatu bukti bahwa mereka memang lebih dari sekadar “plastik”.


Read more…

August 31, 2020

Ahjussi Idola

Membahas tentang budaya Korea Selatan ini seakan tidak ada habisnya. Bukan aku tak cinta sama negara dan budaya sendiri. Indonesia tetap tanah air beta. Ini hanya masalah selera. Setiap kita suka akan sesuatu, pasti kita akan mengoprek mengulas mengupas tuntas sesuatu itu, yes no?


Pada postingan sebelumnya aku menulis tentang Kim Mi Kyung, ahjumma idola yang dijuluki The Empress oleh publik Korea Selatan. Tidak lengkap bahas ahjumma kalau belum bahas ahjussi juga. 


“Ahjussi” merupakan panggilan kekerabatan dalam bahasa Korea yang artinya paman atau Oom. Secara umum, ini adalah panggilan kepada laki-laki yang lebih tua, yang segenerasi dengan orangtua kita. Salah satu ahjussi yang menjadi favoritku dalam drama Korea adalah Son Hyun Joo


Ahjussi Idola, Son Hyun Joo - sumber: IDNtimes)

Pertama sekali aku menonton kemampuan akting ahjussi yang satu ini adalah ketika ia bermain dalam drama “Criminal Minds” (2017), yang merupakan remake dari serial tv Amerika yang berjudul sama. Dalam drama ini berperan sebagai Kang Ki Hyung, team leader dari sekelompok profiler di NCI (National Criminal Investigation). Walaupun Ki Hyung tampak dingin dan tanpa ekspresi, namun sesungguhnya ia sangat peduli pada setiap anggota tim yang dipimpinnya. Kalau dalam versi Amerikanya, Ki Hyung ini serupa Aaron Hotchner (Thomas Gibson). Berhubung aku sangat suka dengan “Criminal Minds” versi Amerika, maka sosok Aaron Hotchner cukup melekat di benakku. Dan menurutku, Son Hyun Joo berhasil memerankan karakter “Aaron Hotchner” dengan sangat baik.


Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Itaewon Class” (2020), dimana ia berperan sebagai Park Seung Yeol, ayah dari Park Sae Ro Yi (Park Seo Joon). Walaupun Park Seung Yeol hanya muncul dalam tiga episode, tapi karakter ini meninggalkan kesan yang cukup dalam sebagai ayah yang sangat mencintai keluarganya. Scene ketika Park Seo Ro Yi bertemu dengan ayahnya di dalam mimpi berhasil membuat aku menonton dengan layar laptop yang tampak kabur. 


Berperan sebagai ayah Park Seo Joon dalam drama "Itaewon Class" (2020)
sumber: idntimes


Sejak memulai debutnya di tahun 1990, Son Hyun Joo sudah bermain dalam lebih dari 50 judul film dan drama. Selain “Criminal Minds” (2017) dan Itaweon Class” (2020), Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Signal” (2016) dan “Justice” (2019). Diantara banyak film dan drama tersebut, dua yang paling dikenal dan menjadi hits, dimana Son Hyun Joo menjadi pemeran utama, adalah drama “The Chaser” (2012) dan film “Hide and Seek” (2013). “The Chaser” (2012) sendiri memenangkan dua penghargaan Grand Prize (Daesang) dalam dua ajang perfilman di Korea Selatan, dan Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik atas perannya dalam drama tersebut. 


Son Hyun Joo tidak hanya memenangkan berbagai penghargaan di tingkat nasional, namun juga di ajang perfilman internasional. Pada tahun 2017, Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik dalam 39th Moscow International Film Festival atas perannya dalam film “Ordinary Person” (2017). 


Poster drama "The Good Detective" (2020)
sumber: dailyasia.com


Drama terbarunya adalah “The Good Detective” (2020), dimana ia berperan sebagai Kang Do Chang, seorang polisi detektif senior. Dalam drama ini, sekali lagi Son Hyun Joo membuktikan kepiawaiannya berakting, memerankan Kang Do Chang yang menjadi panutan dan mentor bagi para detektif junior, walaupun secara pangkat, dia masih setara bahkan di bawah mereka. Kang Do Chang menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan integritas yang tinggi, dan memperlakukan setiap tersangka dengan baik. Falsafahnya “Hate the sin, not the sinners”.





Read more…

August 29, 2020

Pengaruh Gen Terhadap Kesehatan

 Selama masa pandemi ini, sering sekali diadakan webinar, baik yang gratis maupun berbayar. Webinar ini menggantikan seminar, yang sebelumnya diadakan secara tatap muka langsung. Topiknya pun bermacam-macam, mulai dari kesehatan, hukum, manajemen, wirausaha, sampai kelas memasak dan make-up. Dari antara banyak webinar itu, yang paling sering aku ikuti adalah topik tentang kesehatan dan manajemen. Apalagi seorang sepupuku, Christin, adalah dokter spesialis gizi yang kerap menjadi narasumber. Christin selalu membagikan informasi tentang webinar dimana dia terlibat melalui WA Grup Keluarga Tobing. Semua webinar yang dibagikan Christin tidak hanya gratis, bahkan kadang-kadang ada hadiah bagi peserta.

Sekali waktu, Christin membagikan ke WAG tentang webinar dengan topik “How To Treat Heart Disease Based On Gene”. Webinar ini diadakan oleh RS. Jantung Diagram, bekerja sama dengan KALBE dan nutriGen-Me. Topik ini cukup menarik, sehingga cukup banyak dari keluarga kami yang mengikutinya. Apalagi dua orang Uda dan Amangboruku sudah pernah mendapat serangan jantung. Mereka sudah pasang ring dan bypass. Puji Tuhan, sampai saat ini mereka baik-baik saja.


Sebagaimana topiknya, webinar ini membahas seputar penyakit jantung dan terapi yang tepat sehubungan dengan gen yang dimiliki oleh masing-masing orang. Wah, aku baru tahu, ternyata Christin sudah bersertifikat untuk membaca hasil pemeriksaan gen. Hebat euy! 


Sebagai awam, kita sering bertanya-tanya. Kenapa ya kalau aku minum kopi, padahal sedikiiit saja, tapi jantung udah deg-degan gak karuan? Padahal, ada orang yang minum kopi bergelas-gelas, hidupnya santai aja tuh. Seperti tidak ada pengaruh sama sekali. Atau mungkin juga kita khawatir, ketika dari keluarga ayah ada bawaan sakit jantung, dan dari keluarga ibu bawaan diabetes, terus sebagai keturunannya, kita harus ottokee?


Dalam webinar ini Christin menjelaskan bahwa masing-masing orang memiliki penerimaan atau respon yang berbeda terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu tergantung gen yang dimiliki setiap orang. Tipe nya ada macam-macam. Sudah pasti aku tidak menghafalnya...hehehe Perbedaan tipe gen ini mempengaruhi bagaimana penerimaan kita terhadap sesuatu. 


Kita ambil saja satu contoh. Untuk menurunkan resiko serangan jantung, maka kita harus menurunkan kadar homosistein di dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan mengonsumsi folat. Nah, kemampuan menyerap folat ini bisa berbeda untuk tiap orang. Orang dengan tipe X apabila mengonsumsi makanan yang mengandung 400 mb folat, maka seluruh tubuhnya akan menyerap dan menggunakan. Namun orang dengan tipe Y, mungkin hanya mampu menyerap dan menggunakan 200 mg folat. Sehingga orang dengan tipe Y ini harus menemukan cara untuk menambah asupan folat yang diserap oleh tubuhnya, misalnya dengan menambah konsumsi makanan yang mengandung folat.


Hal yang sama juga dapat diaplikasikan pada penyerapan sodium dan berbagai vitamin. 


Masalahnya, sangat jarang kita yang tahu dengan jelas kita memiliki gen yang seperti apa dan apa pengaruhnya. Ternyata ada test nya lho. Harganya memang cukup mahal, harga promosi saja dibanderol 8 juta Rupiah. Namun, pemeriksaan genetik yang komprehensif ini dapat dipandang sebagai suatu investasi. Sebab, ternyata banyak sekali hal yang bisa kita antisipasi, apabila kita tahu tipe gen dan kromosom kita.


Dalam webinar tadi ada salah satu peserta yang menanyakan, apabila dari garis keturunan ayah dan ibu membawa turunan penyakit tertentu, apakah itu artinya keturunannya akan menderita penyakit tersebut? Jawabannya, belum tentu. Namun, karena ada faktor genetik tadi, resiko si anak/keturunan menderita penyakit tertentu tadi lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Oleh sebab itu, si anak tersebut harus lebih banyak melakukan tindakan-tindakan pencegahan.


Mengikuti webinar ini, aku mencatat beberapa poin untuk menjadi pengingat. Pertama, kita harus mengenal tubuh kita dengan baik. Pemeriksaan genetik sudah jelas lebih akurat, namun tanpa itu pun, kita harus jeli mengenali reaksi diri kita terhadap sesuatu. Kedua, lebih baik mencegah daripada mengobati. Pencegahan terbaik adalah memiliki gaya hidup yang sehat dan teratur, baik jasmani maupun rohani.


Harus diakui aku sendiri masih jauh dari gaya hidup sehat ini. Masih suka makan sembarangan, jarang olahraga, dan sering tidur larut (seperti malam ini). Namun pastinya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Semangat!


Read more…

August 27, 2020

Rekaman Sendirian

 “...dan Dwi, kamu yang lead untuk bagian Alto ya… nanti kirim rekamannya, yang lain tinggal ikuti saja”


Aku yang sedari tadi hanya "passive mode ON” mendengarkan para anggota senior berpendapat dan berdebat sambil browsing Instagram, seketika tersadar dan kembali menjejak ke bumi. Ketika itu Immanuel Choir, paduan suara yang aku ikuti, sedang mengadakan sesi zoom untuk membahas rencana kami membuat sebuah bentuk sederhana “virtual choir”. Rencana ini muncul dari kerinduan setiap anggota untuk melayani melalui lagu pujian paduan suara. Semenjak akhir Maret, yaitu ketika ibadah tidak lagi diadakan di gedung-gedung gereja, otomatis kegiatan dan pelayan paduan suara gerejawi pun terhenti. 


“Virtual Choir” adalah penggabungan dan sinkronisasi dari beberapa rekaman orang per orang yang bernyanyi, yang didasarkan pada sebuah partitur yang sama, sehingga menjadi sebuah paduan suara. Sederhananya, setiap anggota paduan suara membuat rekaman masing-masing menyanyikan bagian mereka (Sopran - Alto - Tenor - Bass), lalu rekaman ini digabungkan. 


Tantangan membuat virtual choir ini ada banyak. Pertama, anggota paduan suara tidak terbiasa bernyanyi sendirian. There’s a reason why only a few of us become soloists. Kedua, paduan suara (seharusnya) sangat tergantung pada seorang conductor atau pemimpin paduan suara. Dia lah yang memegang kemudi, menentukan apakah kita “berjalan” dengan cepat atau lambat, dengan lembut atau keras, dengan berapi-api atau menghiba. Jadi tidak mudah ketika kita harus bernyanyi tanpa komando dan hanya mengandalkan iringan musik. 


Ketiga, masalah teknis. Idealnya kita membutuhkan dua gadget dan satu headset. Gadget pertama untuk memainkan musik, yang kita dengarkan dengan headset, dan gadget kedua untuk merekam kita bernyanyi. Belum lagi setiap gadget punya kualitas rekaman yang berbeda-beda. Belum lagi demam panggung (walau sebenarnya tanpa panggung dan penonton), grogi, dan sebagainya. Belum lagi, setiap kali salah, kita harus mengulang rekaman mulai dari awal. Dan itu membuat aku baru ingat harus mengosongkan sebagian besar memori handphone-ku. 


Aku pun mulai mempelajari lagu “Panis Angelicus” yang akan kami bawakan. Ketika di Medan, aku sudah pernah membawakan lagu ini bersama Paduan Suara di gerejaku. Ketika itu kami menyanyikannya dalam ibadah Paskah dan dalam bahasa Latin. Butuh latihan beberapa minggu untuk menghafal liriknya. Kalau tidak dihafal, atau setidaknya mampu mengucapkannya dengan benar, maka kita tidak akan bisa konsentrasi pada komando dari conductor karena sibuk memelototi partitur untuk membaca liriknya. 


Kali ini, Immanuel Choir akan membawakannya dalam bahasa Batak. Buatku, membawakan lagu paduan suara dalam bahasa Batak itu hampir sama tingkat kesulitannya dengan bahasa Latin. Bahasa Batak memiliki pengucapan yang khas, tidak selalu sama dengan penulisannya. Selain harus kembali belajar mengucapkan dan menghafalkan liriknya, aku juga masih harus belajar aransemen, yang sedikit berbeda dengan yang pernah aku nyanyikan. 


Aku mengenal betul kelemahanku bernyanyi. Selain nafas pendek dan pengucapan R yang tidak sempurna, kadang-kadang aku tidak tepat menyanyikan not tertentu. Misalnya, ‘la’ dibunyikan ‘so’, dan ‘do’ dibunyikan ‘di’. Karena itu, aku meminta bantuan seorang teman di Medan. Namanya Aprilia, biasa kami panggil Lia. Lia adalah pianis paduan suara kami di Medan. Aku mengirimkan partitur ke Lia, dan minta tolong Lia untuk memainkan notasi untuk suara Alto, sehingga aku bisa memastikan nada ku sudah tepat. 


Satu hal lagi yang kulakukan untuk menolong aku menyanyikan lagu ini adalah dengan mencari sejarah dan makna lagu “Panis Angelicus” ini. Pengertian akan sebuah lagu akan sangat membantu kita untuk menghayatinya, sehingga kita dapat menyuarakan pesan yang diinginkan oleh pembuat lagu tersebut. Dengan penghayatan yang tepat, orang yang mendengarkannya akan dapat merasakan makna lagu tersebut, meskipun tidak mengerti arti liriknya.    


Setelah mengumpulkan segenap bahan dan beberapa hari latihan, aku mulai merekam suaraku untuk bagian Alto. Cepat atau lambat toh harus direkam, jadi mari kita coba dulu lakukan satu kali. Lalu dua kali.


Ketika mendengarkan hasilnya…. well… let me just say.... that… apparently... listening to all those marvelous soloists and choir singing Panis Angelicus, over and over and over again, wouldn’t make you a better singer. Been there, am doing that!


Read more…

August 26, 2020

Gelombang Hallyu di Hatiku

Aku mengenal drama Korea semenjak awal tahun 2000. Sebenarnya bukan spesifik menggemari drama Korea sih… lebih tepatnya ketika itu aku dan teman-teman kost di Bandung ikut gelombang trend “Meteor Garden” dengan F4 nya. Masih ingat ketika itu ikut daftar antrian meminjam CD Meteor Garden, milik kakak seorang teman, demi bisa menonton versi aslinya. Asli dalam arti tidak di sulih suara ke dalam bahasa Indonesia. 

Menyoal urusan sulih suara ini, menurutku tidak semua film enak ditonton atau didengarkan tidak dalam bahasa aslinya. Apalagi kalau suara aktor atau aktris nya tidak cocok dengan karakter tokoh yang diperankan suaranya. Rasanya janggal. Ada sih beberapa yang aku suka versi sulih suaranya, antara lain beberapa kartun Jepang seperti Doraemon dan Sailormoon, kartun Spongebob Squarepants, telenovela sampai tahun 2000an (seperti Betty La Fea, Alicia, Maria Belen). 

Khusus untuk telenovela Asia, mulai dari Jepang, Thailand, Korea, Mandarin, aku jauh lebih bisa menikmati bila menontonnya dalam bahasa asli. Tentu saja dengan terjemahan… Yasallam kalau gak pakai terjemahan. Sudah bisa dipastikan menontonnya mirip dengan anak kecil yang gak bisa baca terus sok pegang buku. Liat gambar doang hihihi


Ok kembali ke topik.


Di jaman itu, aku hanya menonton dua drama Korea secara lengkap, yaitu "Endless Love/Autumn in My Heart" (2000) dan (sepertinya) "Friends" (2002). Ada beberapa yang lain, seperti "Hotelier" (2001) dan "Winter Sonata" (2002), tetapi aku tidak menonton dengan lengkap. Ketika itu memang belum berminat saja mungkin ya…


Sebelum aku menyatakan ‘comeback’ ke dunia drakor, sebenarnya sebelumnya teman-temanku sudah sering banget membahas berbagai drama Korea. Kalau yang mendengar bahasan mereka tidak mengikuti drakor, pasti akan mengira mereka sedang membahas suatu kejadian yang nyata. Mungkin akan mengira mereka sedang menggunjingkan sepasang kekasih atau sebuah keluarga. Padahal itu lagi ngomongin drakor doang! Tapi waktu itu aku belum tertarik sama sekali. 


Akhir Februari 2019, tiba-tiba aku kepengin aja lagi nonton drakor. Benar-benar impulsif. Nanya ke bLub, temanku yang drakorian (terlihat nyata dari berbagai postingan di medsos). Mula-mula, sarannya adalah “Jangan dicoba, ntar candu!” Namun aku yakinkan gak bakalan candu. Dan benar saja sih, sampai sekarang aku masih pada level sangat menikmati tapi tidak candu drakor. bLub menyarankan aku menonton “My Love From The Star” (2013-2014). Kemudian dilanjut lagi dengan judul-judul lainnya, sampai sekarang. Dan sejak saat itu pula, aku mulai ikut bergabung dengan teman-temanku ketika membahas drakor. 


Dua orang di antara teman-teman sesama drakorian ini, ternyata adalah penggemar KPop. Sebut saja mereka Matahari dan Bulan. Ketika membahas KPop, mereka lebih gegap gempita lagi. Wajah-wajah sumringah penuh ke-halu-an. Aku pun jadi penasaran lagi. Kuperhatikan medsos kedua temanku ini penuh dengan postingan tentang BTS. Ternyata mereka berdua adalah ARMY alias fans nya BTS. Mereka juga ikut acara-acara gathering ARMY setempat, nonton bareng ARMY, dan sejenisnya. Apalagi Bulan, modal banget jadi ARMY. Bulan sampai bela-belain menonton konser BTS di Singapore, dan punya koleksi album serta merchandise asli BTS. 


Sebenarnya keberadaan KPop di Indonesia udah dari kapan tahu. Boyband Super Junior sepertinya sudah langganan datang ke tanah air. Bahkan BTS sudah pernah konser di Jakarta tahun 2017. Tetapi ya memang aku gak berminat saja ketika itu.


Ada satu momen lagi yang bikin aku penasaran sama KPop. Ketika itu aku dan teman-temanku merayakan ulang tahun salah satu teman dengan karaokean. Lalu saat tiba gilirannya, Matahari menyanyikan lagu-lagu Blackpink. Fasih aja dia nyanyi dalam bahasa Korea, ditambah ngikutin koreo mereka. 


Maka aku mulai cari-cari tentang KPop, khususnya BTS, Blackpink, dan, lagi-lagi atas saran bLub, EXO. Selain nonton Music Videonya, aku juga menonton klip-klip buatan fans mereka. Setelah menonton banyak video dan mendengarkan lagu-lagu, dan juga membaca kisah-kisah tentang grup KPop, ternyata aku paling suka dengan BTS. Seperti yang kutuliskan pada postinganku yang ini, mereka adalah bukti nyata usaha dan kerja keras tidak mengkhianati hasil. 


Kesukaan ku pada KPop tidak terbatas pada boyband saja. Aku juga suka Zico dan beberapa penyanyi yang kukenal dari lagu mereka yang menjadi soundtrack drama, seperti Lee Chan Sol, Sondia, dan Kim Feel. 


Penikmat drakor, penyuka KPop, punya bias aktor maupun KPop idol, suka tiba-tiba ngomong “jinjja” dan “daebak”... Hmm, udah bisa dibilang resmi menjadi ‘korban’ hallyu wave dong yaa.... 𝩀


Read more…

August 25, 2020

Misteri Pembunuhan Berantai -- Review Drama "Train" (2020)

Tema dunia paralel bukan hal yang baru di dunia perdrakoran. Tema dunia paralel ini sering disandingkan dengan tema time traveling. Menurutku ini sebenarnya dua hal yang berbeda. 

Time traveling artinya si tokoh “melompat” ke periode waktu yang berbeda, apakah ke masa lalu atau ke masa depan, namun pada “dunia” yang sama. Sementara dunia paralel mengisahkan dua (atau lebih) kehidupan yang berjalan bersamaan pada periode yang bersamaan juga. Jadi orang-orangnya sama, usia sama, nama sama, tetapi “dunia” nya berbeda. Kejadian, karakter, latar belakang, situasi, suasana, semua berbeda. Aku melihat “dunia paralel” ini seperti dunia alternatif dari kehidupan yang kita miliki saat ini, seperti pilihan berganda saja; plan A plan B dan plan C. 


Sebelumnya sudah ada beberapa drama yang juga menggunakan tema dunia paralel yang sama. Salah satunya, yang paling baru dan paling hits (walaupun ratingnya tidak hits #monmaap_para_bucin), adalah “The King: Eternal Monarch” (2020), yang merupakan drama pertama Lee Min Ho setelah selesai masa wajib militer. 


Drama “Train” (2020) ini adalah drama bertema dunia paralel pertama yang aku tonton lengkap seluruh episode mulai awal sampai final. Memang niat sih… Ceritanya sebagai usaha menyeimbangkan kebucinan dan ke-romance-junkie-an, maka aku memutuskan untuk menonton drama yang bergenre misteri-fantasi-thriller ini.


Poster Drama "Train" (2020) -- sumber: AsianWiki


Dikisahkan seorang detektif bernama Seo Do Won (Yoon Si Yoon) yang dikenal selalu berusaha keras memecahkan kasus-kasus yang ditugaskan kepadanya. Sekali ini, Do Won sedang memecahkan kasus pembunuhan berantai. Polisi menemukan empat jenazah yang sudah menjadi kerangka di lintasan kereta api di stasiun Mugyeong, yang sudah ditutup sejak tahun 2015. Kasus ini ternyata membuka kembali kasus pembunuhan, yang selama ini disangka Do Won pelakunya adalah ayahnya.  Namun karena ayahnya meninggal karena tabrak lari di malam yang sama dengan kejadian pembunuhan itu, maka polisi menganggap kasus itu selesai. 


Ketika menyelidiki kasus pembunuhan berantai tadi, Do Won menemukan beberapa keanehan. Misalnya, pada koper yang menjadi barang bukti, ditemukan sebuah selebaran undangan untuk menghadiri ibadah di sebuah gereja. Sementara gereja tersebut sudah tutup sejak tahun 2015. Lebih anehnya lagi, pendeta yang fotonya tercantum di selebaran tersebut, ketika dicari datanya, ternyata sudah meninggal karena sakit kanker. Padahal selebaran tersebut bertanggal beberapa hari yang lalu.  


Keanehan tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari kemudian polisi kembali menemukan jenazah dalam sebuah koper di lintasan kereta api stasiun Mugyeong. Dari penyelidikan, polisi menemukan identitas korban dan mengabarkan kejadian ini kepada nenek korban. Tidak disangka, beberapa hari kemudian, si korban datang ke kantor polisi, masih hidup dan segar bugar. Jadi siapa jenazah yang tersimpan di ruang otopsi itu?


Penyelidikan kasus ini telah membuat Do Won kehilangan Han Seo Kyung, wanita yang dicintainya. Han Seo Kyung sendiri adalah putri dari korban pembunuhan yang ditimpakan pada ayah Do Won. Seo Kyung menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh pelaku, ketika dia memergoki pelaku sedang membuang koper, yang berisi jenazah. Hal ini membuat Do Won semakin termotivasi untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. 


Pada suatu malam, Do Won menemukan sumber keanehan, yaitu sebuah dunia paralel. Pada saat yang sama, Do Won ‘paralel’ pun menemukan dunia Do Won. Jadi tanpa mereka sadari, mereka telah bertukar tempat. 


Di dunia paralel, Do Won menemukan bahwa orang-orang yang dikasihinya, yaitu ayahnya dan Han Seo Kyung, ternyata masih hidup. Kasus yang terkait dengan ayah Do Won juga terjadi di dunia itu. Ayahnya tetap dianggap sebagai pelaku kejahatan, dan telah menjalani hukuman di penjara. Namun di dalam dunia paralel itu, hubungan Do Won dan Han Seo Kyung bukanlah sebagai kekasih. Ini seperti versi lain dari kisah hidupnya, dan dia bertekad untuk tetap tinggal di dunia itu, agar tetap dapat bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya, walaupun dalam bentuk hubungan yang berbeda. Do Won berusaha memecahkan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di dunia asal nya, yang diduga pelaku berasal dari dunia paralel ini. Pada saat yang sama, Do Won berusaha melindungi Seo Kyung, sesuatu yang tidak mampu dilakukannya di dunia asalnya. 


Kisah ini cukup menarik, karena beberapa pemeran utamanya bisa dibilang memainkan dua tokoh; orang yang sama, namun memiliki karakter yang berbeda. Tidak sulit bagi kita untuk membedakan yang mana siapa, karena tampilan mereka dibuat berbeda. Gaya rambut, gaya berpakaian, sampai pada perbedaan sorot mata dan bahasa tubuh. Sekali lagi, aku dibuat kagum oleh penghayatan peran para oppa dan eonni Korea ini. 



Tokoh yang sama dengan karakter yang berbeda
sumber: koalasplayground.com

Memang pada kisah ini ada bagian yang ‘bolong’ di sana sini. Misalnya, tidak jelas dikisahkan bagaimana si pelaku awalnya menemukan ‘gerbang’ perpindahan dunia. Proses perpindahan dari satu dunia ke dunia lain ini juga tidak jelas, selain perpindahan itu bisa hanya terjadi apabila hujan, hanya pada malam hari sekitar pukul 9.30, dan hanya dengan menggunakan kereta nomor 8210 jurusan stasiun Mugyeong. Tidak jelas juga si pelaku ini datang dari dunia yang mana, karena pada bagian penutup episode akhir, dan juga pengakuan pelaku, mengesankan ada lebih dari dua dunia paralel yang dijalaninya. 

Secara keseluruhan kisah ini cukup menarik untuk ditonton. Karena drama ini bergenre thriller, tentu saja terdapat adegan kekerasan atau kekejaman, yang untungnya tidak terlalu banyak. Episode terakhir, yaitu episode 12, merupakan bagian yang paling krusial, dimana pada episode ini diceritakan apa yang sebenarnya terjadi, yang melatarbelakangi semua kisah yang kita saksikan sejak episode 1 sampai 11.  


Satu pesan moral yang bisa diambil dari drama ini adalah kita tidak bisa mengubah atau lari dari masa lalu kita. Meskipun kita diberi akses masuk ke dunia paralel, ternyata akhir kisahnya sama saja, yang berbeda hanya proses dan waktunya. Maka yang perlu kita lakukan adalah “move on”, melanjutkan hidup, mempersiapkan masa depan, menerima kenyataan dan bukan malah sibuk berusaha untuk mengubahnya.


Ada satu hal lagi yang membuat drama ini menarik sekaligus agak menyebalkan buatku. Menurut artikel yang kubaca, peran ini tadinya ditawarkan kepada Kim Jae Wook, tapi ditolak. Maka sepanjang menonton drama ini, sulit sekali bagi ku untuk tidak membayangkan apabila Jae Wook yang menjadi tokoh Seo Do Won… hiksss…  #bucin_halu


Siapakah sebenarnya pelaku kejahatan tersebut? Dan apa sebenarnya alasan melakukan pembunuhan berantai? Apakah Do Won bersatu kembali lagi dengan Seo Kyung? Sok atuh capcuss langsung tonton drama nya di Viu Premium.


Read more…

August 24, 2020

Nyalon Perdana di Masa Pandemi Corona

 Sejak kecil aku tidak pernah memanjangkan rambut. Paling maksimal seleher; itu pun sungguh jarang terjadi. Biasanya aku selalu memotong pendek rambutku, kira-kira sebatas garis telinga, atau lebih pendek lagi.

Ketika masih di Bandung, aku tidak sulit menemukan salon atau juru pangkas rambut yang ahli memotong model rambut pendek. Awalnya aku tidak punya salon langganan, dan suka mencoba-coba salon, apalagi kalau lagi ada promo atau voucher discount. Tetapi menjelang akhir masa perkuliahan, ada satu salon yang menjadi favoritku, namanya Sunan Salon. Salon ini letaknya di Jl. Cisitu Lama, tidak jauh dari kost ku selama di Bandung. Bila ada kesempatan ke Bandung, aku berusaha menyempatkan diri untuk melakukan perawatan rambut di sana. 


Ketika pulang ke Medan, ternyata kebutuhan memotong pendek rambut ini tidak gampang dipenuhi. Entah kenapa, potongannya beda aja. Tidak memuaskan seperti di Bandung. Nanggung gitu. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Mas Bowo. 


Waktu itu aku diajak temanku ke salon langganannya, dimana Mas Bowo bekerja sebagai hair stylist. Pertama kali rambutku dipotong oleh Mas Bowo, aku langsung kepincut berat dan tak bisa lagi pindah ke lain hati. Kami memiliki pendapat yang sama, “rambut panjang itu membosankan” hihihi. Sejak saat itu Mas Bowo menjadi hair stylist idolaque. Mas Bowo sempat berpindah salon tiga atau empat kali, dan aku mengikuti kemana dia pindah. 


Dengan Mas Bowo ini, aku sudah mencapai titik kenyamanan, dimana aku bahkan tidak perlu mengatakan lagi model rambut yg aku inginkan. Tinggal duduk dan ‘menunggu nasib’. Sampai pernah sekali waktu, ketika Mas Bowo mulai berkarya, aku mengobrol dengan temanku yang barengan datang ke salon. Aku tidak memperhatikan lagi apa yang dilakukannya dengan rambutku. Lagi pula, aku harus melepas kacamata, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas. 


Ketika selesai, ternyata rambutku sudah super duper cepak. Mungkin panjang yang tersisa hanya sekitar 2 atau maksimum 3 cm. Aku sih bahagia-bahagia saja. Cepak artinya praktis dan ringkas, tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk bersisir. Dan memang dengan potongan cepak itu aku tidak perlu bersisir hahaha Tetapi Mami ku tidak terlalu sepakat. Memang beliau tidak mengatakan apa-apa ketika melihatku pulang dengan rambut tinggal “seadanya”, tapi Mami langsung mengangsurkan sepasang anting, “Nih pake!”. Yeah… action speaks louder than words hahaha


Terakhir sekali aku memotong rambutku adalah pertengahan bulan Maret yang lalu, di salon yang dekat dengan kantor. Boleh juga hasilnya. Namun semenjak pandemi, beberapa usaha harus tutup sementara, termasuk salon yang dekat kantor tadi. Sungguh perjuangan rasanya mengurus rambut yang menggondrong ini. Aku punya kebiasaan keramas setiap pagi. Maka selama masa pandemi ini, sehari bisa keramas dua sampai tiga kali, karena setiap bepergian keluar rumah, pulangnya pasti mandi dan keramas lagi. Aku juga tidak punya alat pengering rambut. Jadi, ketika rambut memanjang tak berbentuk dan sudah lebih mirip logonya versace, maka urusan pasca keramas menjadi sangat merepotkan. 


Akhirnya hari Minggu kemarin, ku tak tahan lagi. Ketika seorang teman mengajak ke salon langganannya, yang sudah dipastikannya mengikuti protokol kesehatan, aku pun langsung mengiyakan. 


Ternyata salon tersebut tidak terlalu jauh dari tempat kost. Sebelum masuk ke salon, setiap pelanggan wajib mencuci tangan dengan air dan sabun yang sudah disediakan di pintu masuk. Kemudian mereka akan mengukur suhu tubuh kita. O iya, satu lagi, pelanggan wajib menggunakan masker.


Salon itu tidak terlalu besar, ku perkirakan sekitar 50 m2, namun bersih dan teratur. Maksimum hanya bisa melayani lima orang pelanggan. Posisi duduk sedemikian rupa, sehingga tidak ada pelanggan yang duduk bersebelahan. Di bagian tengah, ada dua set kursi-cermin yang saling berhadapan, dan tiga set lagi di letakkan di bagian sisi dinding, dan menghadap ke arah yang berbeda. Mereka menyediakan sepasang kursi di dekat pintu masuk, dan sebuah sofa di bagian dalam, untuk tempat menunggu bila diperlukan. Penyusunan kursi dan sofa ini pun diatur sedemikian rupa sehingga tetap ada jarak minimal satu meter dengan kursi pelanggan. Ruangan tersebut dilengkapi AC, namun mereka membuka pintu bagian belakang salon (area tempat mencuci rambut), untuk memastikan sirkulasi udara. 


Seluruh pekerja di salon itu menggunakan masker. Mereka bekerja dengan cepat, supaya pelanggan tidak terlalu lama berada di dalam salon. Mereka juga tidak banyak mengobrol dengan pelanggan maupun dengan sesama pekerja salon. Dan selama aku di sana, para pelanggan juga tidak banyak bersuara. Suatu hal yang jarang terjadi bukan? Mungkin karena pengaruh menggunakan masker, sehingga tidak nyaman untuk mengobrol. 


Ketika tiba giliranku, aku menunjukkan foto model rambut yang kuinginkan kepada si Aa’ (btw, aku memang lebih pas kalau yang memotong rambutku adalah pria), dan dia langsung bekerja. Tidak sampai satu jam, seluruh proses selesai dan aku sudah memperoleh ‘rambut baru’. Rasanya sungguh melegakan sekali. Selain mereka cepat bekerja untuk melayani pelanggan, mereka juga dengan cepat menyapu sampah guntingan rambut. Pantas saja salon itu tetap terlihat bersih. 


Secara keseluruhan, pengalaman nyalon perdana di masa pandemi ini cukup memuaskan. Memang hidup harus terus berlanjut. Kita harus dengan cepat beradaptasi dengan situasi yang baru ini, baik sebagai pelanggan maupun pemilik usaha. Baik sebagai pelanggan maupun pemilik usaha, kita perlu memastikan bahwa kita tetap menjalankan protokol kesehatan, menjaga kebersihan dan keamanan diri masing-masing. Dengan menjaga diri sendiri berarti kita juga ikut menjaga keamanan sesama. 


Semoga saja setelah pandemi ini usai, kita tetap bisa mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik ini. 


Read more…