September 12, 2020

Beda Tangan Beda Rasa

Dalam keluarga intiku, yaitu Papi Mami Abang Kakak Ipar dan Ponakan, hampir semua bisa masak, kecuali ponakanku. Dan di antara kami berlima, aku lah yang paling jarang memasak. Jatahku adalah mencuci piring dan wajan. Yaa, sesekali kalau para chef lagi malas masuk dapur, maka tibalah giliranku untuk memasak mie instan buat kami serumah. 

Sebagaimana keterampilan lain, memasak pun ala bisa karena biasa. Memasak merupakan olah rasa. Semakin sering kita  mempraktekkannya, semakin peka lah perasaan kita terhadap masakan tersebut. Oleh sebab itu, sering sekali resep-resep masakan, yang mana biasanya ditulis oleh orang-orang yang sering dan jago masak, takaran bahan bumbu sering memakai satuan “secukupnya” atau “sesuai selera”. 

Selama merantau ke ibukota, masakan rumah adalah satu hal yang aku paling rindukan. Ada banyak menu favoritku. Semur ayam, ikan mas arsik, daging kecap, sambel goreng ati, nasi goreng, bahkan ayam goreng masakan Mami. Ayam goreng masakan mami itu cuman dimarinasi asam dan garam, lalu digoreng. Disantap panas-panas bersama nasi putih, sambal kecap, dan telur dadar. Ohmagaaa…


Sabtu yang lalu, aku sudah belanja di tukang sayur langganan. Sehari sebelumnya aku memesan ikan nila dan ayam satu ekor. Ditambah lagi sayuran dan bumbu, maka sebenarnya kulkas penuh dengan bahan makanan. Tapi sudah seminggu ini aku hilang minat untuk memasak. Lihat kompor saja malas, apalagi membayangkan harus mengupas bawang, mencuci berbagai wajan piring dan perabotan lain, dan membuang sampahnya ke tempat sampah besar di depan kost. itu hanya demi seporsi dua porsi makanan. Jadi aku lebih memilih makan gado-gado di dekat kantor untuk makan siang, atau nungguin tukang sate atau nasi goreng buat makan malam. 


Namun hari ini, aku ‘kesambet’ jadi semangat masak. Mumpung lagi kesambet, sekalian aja lah dimasak semua ayam yang seekor itu. Biar sekalian kupas bawang dan giling bumbunya. Kebetulan aku lagi kangen sama ayam semur buatan Mami. Sebelum masak, aku menelpon Mami dulu untuk konsultasi resep dan cara memasaknya. Seperti biasa, Mami memulai tutorialnya dengan kalimat, “Gampang kali itu masaknya…. “ Ok baique.


Setelah mendapatkan resep ayam semur dari Mami, aku pun mempersiapkan bahan-bahan. Atas nasihat teman seperdrakoran ku yang bijaksana, yaitu “mumpung lagi semangat, masak aja semua ayam yang seekor itu”, aku juga berencana memasak ayam ungkep. Jadi ayam yang satu ekor itu aku bagi dua, masing-masing lima potong. Aku mulai memasak sekitar pukul satu, dan sekitar pukul tiga, semuanya sudah hampir matang. 


Ketika mencicipi semur, rasanya berbeda dengan yang kuingat. Aku pun mengadu pada Mami, “kok beda sih??” Jawab Mami, “Beda tangan ya beda rasa”. Hiks.


Ayam Semur, ditambah "lauk" telur, tahu, dan kentang (dok.pribadi)

Rebusan Ayam Ungkep (dok.pribadi)

Setelah mendingin, semur dan ayam ungkep tadi kumasukkan ke dalam wadah bertutup, lalu masuk kulkas. Besok-besok tinggal menghangatkan atau menggoreng saja.


Pertanyaan berikutnya muncul. Malam ini makan apa? Rasanya sudah ‘kenyang’ menghirup aroma semur dan bumbu ungkep seharian. Tapi kalau makan mie instan, rasanya kok “lame” banget ya…


Sambil mencuci piring dan wajan, aku mendapatkan ide ketika menyaring air rebusan ayam ungkep. Ketika kucicipi, air rebusan itu rasanya mirip kuah soto. Aku jadi ingat, aku masih punya mie raja atau ong te mie, yang dikirim Papi dari Medan. Sambil memanaskan kuah, aku bongkar kulkas, lihat sayuran mana yang sudah hampir "expired". Ternyata masih ada lettuce. Bagian luarnya sudah mulai membusuk, namun sebagian besar bagian dalamnya masih sangat bagus. Maka langsung saja kubuang bagian yang busuk, sisanya kucuci lalu dipotong-potong.


Mie Kuah Soto, Dengan Ayam, Telur, dan Potongan Lettuce (dok.pribadi)

Maka malam ini, aku makan soto mie, dengan daging ayam dan telur, dan potongan lettuce. Ketika kucoba, rasanya agak asin. Aku teringat gaya Hwang Shi Mok Geomsa di drama Stranger, yang selalu menambahkan sedikit air putih ke dalam mie kuahnya yang keasinan. Hmm... kucoba, dan ...... berhasil!! Meogja! 


Read more…

September 11, 2020

Kepemimpinan Musa (Catatan PA Immanuel Choir)

Seperti biasa, setiap Jumat kedua dan keempat setiap bulan, Immanuel Choir mengadakan PA bersama. Yang membawakan renungan kali ini adalah Bang Agus Simorangkir. Tema kali ini adalah Kepemimpinan. Dan pada PA kali ini, kami belajar tentang teladan dari kepemimpinan Musa, berdasarkan perikop Keluaran 18 : 12 - 27.


Pengangkatan hakim-hakim

18:13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 

18:14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" 

18:15 Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk  Allah. 

18:16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan  dan keputusan-keputusan Allah." 

18:17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 

18:18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri  saja. 

18:19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 

18:20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan,  dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani,  dan pekerjaan yang harus dilakukan.   

18:21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut  akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap;   tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 

18:22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 

18:23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya." 

18:24 Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya. 

18:25 Dari seluruh orang Israel Musa memilih orang-orang cakap dan mengangkat mereka menjadi kepala atas bangsa itu, menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 

18:26 Mereka ini mengadili di antara bangsa itu sewaktu-waktu; perkara-perkara yang sukar dihadapkan mereka kepada Musa, tetapi perkara-perkara yang kecil diadili mereka sendiri. 

18:27 Kemudian Musa membiarkan mertuanya itu pergi dan ia pulang ke negerinya. 



Musa mengalami tiga fase dalam hidupnya. Selama 40 tahun pertama, Musa adalah anak istana. Musa diselamatkan dari Sungai Nil, dan diangkat menjadi anak oleh putri Firaun. Musa dibesarkan dan mendapatkan pendidikan selayaknya seorang bangsawan Mesir. 


Kemudian Musa melarikan diri dari Mesir. Hal itu menandai awal 40 tahun kedua dari hidupnya, yaitu Musa sebagai Gembala. Selama menjadi gembala, Musa belajar kehidupan di gurun. Musa belajar menjadi gembala yang memimpin ternak, menjaga ternak dari perampok dan binatang liar. 


40 tahun ketiga adalah Musa sebagai Pemimpin. Musa kembali ke tanah Mesir, lalu bernegosiasi dengan Firaun, dan akhirnya memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan oleh Tuhan.


Dari tiga tahap tersebut, kita bisa melihat bahwa Tuhan telah mempersiapkan Musa sebagai pemimpin bahkan sejak dari dalam kandungan. Tuhan menyiapkan Musa di tempat yang “baik dan nyaman”, sehingga Musa mengecap pendidikan yang baik. Tuhan juga menyiapkan Musa di tempat yang “keras dan tidak nyaman”, sehingga Musa belajar mengenal kehidupan di luar istana, belajar menjadi gembala. 


Dari kepemimpinan Musa, kita belajar beberapa hal, antara lain:

  1. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk melihat situasi. Mampu bertindak lembut, maupun keras.  

  2. Seorang pemimpin harus membangun dan memiliki komunikasi yang intens dengan atasan dan orang-orang yang dipimpinnya. 

  3. Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas, dan mampu menyampaikan visi itu kepada orang-orang yang dipimpinnya. 

  4. Seorang pemimpin harus menyiapkan seorang penerus untuk melanjutkan kepemimpinannya.

  5. Seorang pemimpin harus terus belajar, sehingga dia tetap memerlukan seorang “coach”, yang memberikan evaluasi kepada pemimpin tersebut, supaya ia dapat memimpin dengan lebih baik dan lebih efektif. Dalam perikop ini, Musa menerima evaluasi dari mertuanya, Yitro, yang adalah seorang imam. 

  6. Seorang pemimpin harus tetap menjaga hubungan dan komunikasi yang erat dengan Tuhan, yang telah memberikannya mandat sebagai pemimpin. Seperti Musa yang selalu berbicara dengan Tuhan, dan dengan imannya mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan.

  7. Kemampuan seorang memimpin tidak ditentukan oleh kemampuannya berbicara (public speaking), karena Musa sering sekali mengatakan bahwa ia tidak cakap dalam berbicara, lidahnya kelu. Namun yang paling utama adalah kemampuan seseorang menjaga integritasnya. Selain cakap, maka seorang pemimpin haruslah takut akan Tuhan, dapat dipercaya, dan benci terhadap suap.


Setiap orang pasti diberi karunia atau panggilan memimpin. Namun, sebagaimana halnya semua talenta yang diberikan Tuhan, kadarnya berbeda bagi setiap orang. Ada orang yang diberi panggilan untuk memimpin sepuluh orang, ada yang diberi panggilan memimpin ribuan orang, atau bahkan sebuah bangsa. Apapun talenta kita yang diberikan Tuhan dalam memimpin, kita harus melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Kita tidak perlu iri dengan orang yang mendapatkan talenta lebih banyak. Namun, apa yang dipercayakan Tuhan, itulah yang kita pertanggungjawabkan. Dan karena setiap pemimpin adalah orang-orang pilihan Tuhan, hendaklah kita selalu hormat dan menghargai pemimpin kita. 


Posisi sebagai pemimpin memungkinkan kita untuk menolong banyak orang. Tapi seringkali kita mengalami hal yang tidak enak, yaitu ketika orang yang kita bantu kemudian menganggap kita ‘angin lalu’ setelah apa yang dia butuhkan diperolehnya. Wajar bila kita kecewa atau sedih, namanya juga manusia. Namun kita harus kembalikan motivasi dan hati kita. Kita bekerja dan melayani tujuannya untuk menyenangkan hati Tuhan, mengucap syukur kepada Tuhan atas talenta dan karunia yang Dia berikan. Bukan untuk mendapatkan hormat dari manusia. Dengan kata lain, kita tidak perlu mengharapkan “terima kasih” apabila kita melakukan apa yang sudah menjadi kewajiban kita. 


Apapun yang kita alami, apapun yang dilakukan orang lain kepada kita, tetaplah kita yakin dan percaya, bahwa Tuhan akan tetap memelihara hidup kita.


Read more…

September 7, 2020

Serupa Tapi Tak Sama

Penulis drama Korea pada umumnya punya kreatifitas tanpa batas. Apa aja bisa dijadikan cerita. Tokoh-tokohnya bisa datang dari berbagai latar belakang pekerjaan, bangsa, dan budaya. Bahkan bisa juga datang dari planet lain atau dunia lain. Dunia paralel, bersinggungan, sampai tegak lurus pun bisa mereka ciptakan. 

Selain itu, industri perfilman Korea Selatan juga sangat produktif. Bahkan di masa pandemi ini, bisa dikatakan setiap bulan selalu ada judul drama baru yang tayang. Dalam setahun, bisa ada puluhan drama baru yang diproduksi. Jadi wajar saja, walaupun para writernim itu sungguh kreatif, tetap saja ada banyak drama-drama Korea yang memiliki kesamaan atau kemiripan tema, 

Belum banyak koleksi drama Korea yang kutonton sejak 2019. Ya namanya juga penonton (dan penulis) un-ambisius. Binge watching cuman mampu dijabanin weekend, dari pagi sampai sore. Itu pun kalau lagi mood. Sudah lewat lah masa-masa berjaya ketika raga masih mampu binge watching 2 x 24 jam. Sekarang, binge watching pangkal kapal oleng dan masuk angin. Dari koleksi yang sedikit itu, ada dua drama yang memiliki tema serupa, yaitu “Her Private Life” (2019) dan “What’s Wrong With Secretary Kim?” (2018) Kebetulan yang menjadi lead female dalam kedua drama tersebut adalah aktris yang sama, Park Min Young.


Poster Drama "Her Private Life" dan "What's Wrong With Secretary Kim?"
(sumber: Wikipedia)


Drama HPL dan WWWSK sama-sama bergenre romance comedy. Untuk seorang romance junkie, menonton kedua drama ini sungguh memuaskan jiwa, karena bergelimang kisah kasih asmara. 


Keduanya mengisahkan hubungan asmara antara rekan sekerja, yang akibat pekerjaan membuat mereka sering bersama-sama kemudian jatuh cinta. Pada HPL, Ryan Gold (Kim Jae Wook) adalah manajer sebuah galeri seni, dan Deok Mi adalah kuratornya. Sedang pada WWWSK, Lee Young Joon (Park Seo Joon) adalah Vice President dari sebuah perusahaan besar, dan Kim Mi So adalah sekretarisnya. Tidak hanya tokoh utamanya, rekan-rekan sekerja mereka yang lain juga terlibat kisah asmara, yang menjadi pemanis dalam kedua drama. 


Para tokoh utama dalam kedua drama sama-sama mengalami trauma masa kecil, yang terus terbawa hingga mereka dewasa. Ryan kecil tidak bisa mengingat wajah ibu kandungnya. Ia hanya bisa merasakan sesuatu yang magis, sesuatu dari ingatan masa kecilnya, ketika melihat lukisan karya Lee Sol. Deok Mi mengalami trauma akibat kecelakaan di masa kecil yang merenggut nyawa adiknya. Akibatnya, secara tidak sadar Deok Mi menghapus masa sebelum kecelakaan itu dari memorinya, sehingga Deok Mi tidak ingat kalau dia pernah punya seorang adik. 


Young Joon dan Mi So kecil sama-sama menjadi korban penculikan dari seorang wanita jahat. Selama mereka disekap, Young Joon selalu menghibur dan melindungi Mi So. Ketika dewasa, mereka sama-sama mengalami trauma. Young Joon yang ‘phobia’ dengan sentuhan, dan Mi So yang phobia laba-laba.  


Pertemuan mereka di masa dewasa pada akhirnya mengembalikan memori dan melengkapi potongan-potongan puzzle yang hilang dalam hidup mereka. Mereka mampu menghadapinya karena mereka sudah punya teman untuk berbagi. Intinya, mereka saling menyembuhkan.


Walaupun WWWSK telah lebih dahulu tayang, namun aku lebih dahulu menonton HPL, lalu terserang dejavu parah, lalu jatuh cinta ‘malabab’ sama Kim Jae Wook. Mungkin kalau kondisinya dibalik, bisa jadi ngebucinnya jadi ke Park Seo Joon yak.. haha Ah tapi nggak juga.. Memang banyak persamaan antara kedua drama tadi, tapi tetap saja, yang serupa itu pasti tidak sama. 


Pada kedua drama ini, para tokoh utamanya adalah teman masa kecil. Ini salah satu ke-klise-an yang paling sering ditemukan dalam drama Korea. Bedanya, di WWWSK, Young Joon sudah mengenali Mi So sejak awal. Bahkan Young Joon memang dengan sengaja melacak keberadaan Mi So. Ketika Mi So melamar ke salah satu perusahaan milik keluarga Young Joon, ia malah diminta untuk menjadi sekretaris Vice President, padahal Mi So tidak punya pendidikan dan pengalaman yang sesuai. Mula-mula Mi So kesulitan menjalankan tugasnya, tapi kalimat Young Joon di masa awal yang berat itu membuat Mi So termotivasi, Mi So terus belajar dan berusaha, sehingga akhirnya ia berhasil menjadi sekretaris yang diandalkan penuh oleh Young Joon. 


Sementara pada drama HPL, Ryan Gold dan Deok Mi pada mulanya ‘bermusuhan’. Ketika pemilik galeri meletakkan jabatan sebagai manajer, Deok Mi berharap dia lah yang mendapatkan posisi itu. Ternyata pemilik malah merekrut seorang seniman dari Amerika. Di masa awal, mereka sempat berselisih paham sampai-sampai Ryan memecat Deok Mi. Sadar dia membutuhkan keahlian Deok Mi, Ryan pun membujuk Deok Mi untuk bekerja kembali di galeri. Kemudian karena kepentingan pekerjaan, Ryan dan Deok Mi pura-pura menjadi pasangan, dan akhirnya mereka benar-benar saling jatuh cinta, dan tidak mau lagi pura-pura, tapi menjadi pasangan beneran. Setelah mereka menjadi pasangan, barulah mereka tahu bahwa sebenarnya mereka adalah teman masa kecil. Yang duluan menyadari justru orang-orang di sekitar mereka, yaitu orang tua Deok Mi dan Eun Gi, “kembaran” Deok Mi.   


Ternyata dari tema yang serupa, detail penyajiannya bisa berjuta rupa. Walaupun kisahnya dibelokkan ke kiri lalu ke kanan lalu putar balik kemudian lurus, yang namanya kisah cinta wajib harus mesti bikin bahagia. 


Read more…

September 5, 2020

"The Good Detective" (2020)

Beberapa bulan ini aku lagi senang-senangnya menonton drama Korea yang sedang tayang (on-going). Tantangannya semakin besar, karena beberapa drama ditunda penayangannya karena kasus pandemi maupun bencana badai. Drama “Was It Love” (2020) sempat tertunda penayangan episode 15 selama satu hari, dan episode 16 selama seminggu. Drama “Do Do Sol Sol La La Sol” yang pemeran utamanya adalah Lee Jae Wook, ditunda penayangannya, dan sampai sekarang masih belum jelas jadwal barunya. Tapi ya… sebagai penonton drakor on-going, di situ lah engkau diuji, ya kan? #ujian_hidup_kok_jadwal_drakor


Setelah berhasil menyelesaikan drama “Train” (2020), yang adalah drama crime thriller pertama yang kutonton secara lengkap, aku melanjutkan dengan “The Good Detective” (2020). Drama ini juga bergenre crime thriller, tetapi tidak pakai fantasi dunia paralel dunia tertukar ataupun dunia terbalik. Sebenarnya drama “The Good Detective” ini sudah tayang beberapa hari sebelum “Train”. Ketika menonton “Train”, sambilan aku men-download episode “The Good Detective”. Ceritanya di’tabung’, sehingga ketika selesai drama yang satu, aku bisa langsung melanjut ke drama yang lain. Cerdas bukan? Ah, tidak juga.


Poster Drama "The Good Detective" (sumber: Wikipedia)

Drama “The Good Detective” mengisahkan seorang polisi detektif senior, Kang Do Chang (Son Hyun Joo) bersama partnernya, Oh Ji Hyeok (Jang Seung Jo) dan rekan-rekan mereka dalam Violent Crimes Team 2, yang bertugas di Kantor Polisi West Incheon. Mereka berusaha membongkar sebuah kasus pembunuhan seorang wanita dan seorang polisi detektif, yang terjadi lima tahun yang lalu. Ketika itu Kang Do Chang menjadi penyelidik utamanya. Tersangka dalam kasus itu, Lee Dae Chul, mengaku tidak bersalah dan tidak pernah membunuh siapapun. Namun, dari hasil penyelidikan dan bukti-bukti yang dihadirkan dalam persidangan, Lee Dae Chul (Jo Jae Yun) dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. 

Menjelang jadwal pelaksanaan hukuman mati tersebut, seorang pria datang ke Kantor Polisi West Incheon, mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap seorang wanita remaja, yang adalah putri dari Lee Dae Chul. Ketika menyelidiki pengakuan pria tersebut, para detektif menemukan bahwa putri Lee Dae Chul masih hidup. Pengakuan itu hanyalah rekayasa si pria dan putri Lee Dae Chul. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan perhatian media, sehingga mereka bisa mendesak polisi untuk melakukan penyelidikan ulang terhadap Lee Dae Chul, yang mereka yakini tidak bersalah. Sayangnya, pria tersebut kemudian ditemukan meninggal akibat jatuh dari sebuah gedung, sebelum sempat memberitahukan kepada polisi siapa pembunuh yang sebenarnya.


Bersamaan dengan itu, seorang mantan pejabat pemerintahan, Kim Ki Tae, juga memberikan pertanyaan kepada  Jin Seo Kyung (Lee Elijah), seorang jurnalis dari Junghan Daily, bahwa Lee Dae Chul memang tidak bersalah. Kim Ki Tae ikut terlibat dalam kasus Lee Dae Chul lima tahun yang lalu, dan sekarang mendekam di penjara akibat perkara korupsi yang dibongkar oleh Jin Seo Kyung. 


Kemudian Kang Do Chang menerima sebuah rekaman CCTV yang bisa menjadi bukti bahwa Lee Dae Chul tidak melakukan pembunuhan yang dituduhkan kepadanya. Pada saat yang sama, Jin Seo Kyung juga menerima rekaman tersebut. Kang Do Chang, Oh Ji Hyeok, dan Jin Seo Kyung kemudian bekerjasama untuk memecahkan kasus Lee Dae Chul.


Dalam penyelidikannya, Kang Do Chang dan Oh Ji Hyeok tadinya tidak ingin melibatkan rekan-rekan mereka dalam Team 2, karena kasus ini cukup sensitif, dan melibatkan beberapa pejabat tinggi pemerintahan. Namun, mereka adalah tim yang solid, dan seluruh anggota tim sangat menghormati Kang Do Chang, walaupun Do Chang bukan team leader mereka. Seluruh tim pun ikut terlibat dalam penyelidikan itu. Akibatnya, mereka sempat menjadi bulan-bulanan Internal Affair, yang mengulik-ulik kehidupan pribadi mereka. Tidak hanya Team 2, bahkan Kepala Polisi West Incheon pun terpaksa (dipaksa?) mundur akibat kasus ini.


Drama ini menarik karena tidak hanya menceritakan kasus kriminal belaka. Drama ini juga menceritakan kehidupan pribadi para karakternya, nilai-nilai kekeluargaan diantara para anggota polisi, sehingga terasa lebih hangat daripada drama “crime thriller” pada umumnya. 



Lima Tokoh Utama Dalam Drama "The Good Detective" (sumber: woke.id)


West Incheon Violent Crimes Team 2 (sumber: Soompi)


Kang Do Chang berusaha mendapatkan kenaikan pangkat, sebab di antara teman-teman seangkatannya, hanya dia lah yang belum mendapatkan kenaikan pangkat. Selain itu, Kang Do Chang juga menjadi tulang punggung keluarga. Walaupun tidak hidup berlebihan, Kang Do Chang merasa bertanggung jawab terhadap putri Lee Dae Chul, dan menampungnya tinggal di rumahnya. Kang Do Chang hidup bersama adik perempuannya, Kang Eun Hee. Kang Eun Hee bercerai dan mantan suaminya tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan putra tunggal mereka. Awalnya Kang Eun Hee tidak suka dengan putri Lee Dae Chul. Namun akhirnya mereka menjadi dekat karena disatukan perasaan kehilangan akan orang yang sangat mereka kasihi. 


Oh Ji Hyeok adalah seorang yatim piatu. Ayahnya meninggal sebagai korban pembunuhan, dan Oh Ji Hyeok kecil adalah satu-satunya saksi mata. Ibunya bunuh diri karena tidak tahan menanggung kesedihan. Akibat trauma masa kecilnya, Oh Ji Hyeok menderita insomnia. Oh Ji Hyeok mendapatkan warisan yang sangat besar dari pamannya. Sepupunya, Oh Jong Tae (Oh Jung Se -- yang main jadi Sang Tae oppa), sangat membencinya, karena ayahnya lebih sayang kepada Oh Ji Hyeok. Dalam penyelidikannya, Oh Ji Hyeok menemukan bahwa ternyata Oh Jong Tae terlibat dalam kasus pembunuhan tersebut. Oh Ji Hyeok digambarkan sebagai detektif yang jujur, pintar, memecahkan kasus dari segi psikologis pelakunya (profiler), dan tidak menyerah sampai dia menemukan semua jawaban atas kasus tersebut. 


Jin Seo Kyung menjadi jurnalis karena dia kagum pada Yoo Jung Seok (Ji Seung Hyun), yang menjadi atasannya di Junghan Daily. Ketika ayah Jin Seo Kyung mengalami ketidakadllan dalam suatu kasus, Yoo Jung Seok membantu dengan mengekspos kasus tersebut di media. Rupanya Yoo Jung Seok menyimpan dosa masa lalu. Jin Seo Kyung merasa sangat menyesal karena kasus Lee Dae Chul yang dibongkarnya, ternyata ikut menyeret Yoo Jung Seok. Namun Yoo Jung Seok mengingatkannya, bahwa jurnalis wajib memberitakan fakta. 


Aku jadi teringat pada drama “Don’t Dare To Dream” (2016). Hwa Sin juga dimusuhi oleh keluarganya karena membongkar kasus kriminal abangnya sendiri. Namun, prinsip Hwa Sin, jurnalis wajib memberitakan fakta, apapun risikonya. 


Duo Imut (sumber: wowkeren.com)

Satu lagi yang menarik dari drama ini adalah kisah romansa tipis-tipis antara Oh Ji Hyeok dan Jin Seo Kyung. Di awal kerjasama mereka, Oh Ji Hyeok memberikan sebuah peluit kepada Jin Seo Kyung, untuk digunakan apabila dalam bahaya. Belakangan, Jin Seo Kyung mengembalikan peluit ini, yang kemudian membuat Oh Ji Hyeok secara tersirat menyatakan perasaannya. Ceritanya sih ini cinta pertama buat Oh Ji Hyeok. Jauh dari vulgar, yang ada malu-malu imut lucu gituu…


Satu lagi yang istimewa adalah penampilan Oh Jung Se sebagai villain (penjahat). Karakter yang sangat berbeda dibandingkan tokoh Sang Tae dalam drama “It’s Okay To Not Be Okay”(2020). Dalam drama ini, karakternya digambarkan sebagai manipulator dan penjahat berdarah dingin. Dia bisa memerintahkan pembunuhan terhadap seseorang, bahkan menikam sepupunya sendiri, dengan muka tetap lempang. Menakutkan. 


Oh Jung Se tampil meyakinkan sebagai villain (sumber: A Koala's Playground)

Bagaimana nasib Lee Dae Chul? Siapakah pembunuh yang sebenarnya? Apa yang terjadi pada Kang Do Chang, Oh Ji Hyeok, dan rekan-rekannya? Berhasilkan Junghan Daily mempertahankan reputasinya sebagai media yang hanya memberitakan fakta? Dan pertanyaan yang paling penting, apakah Oh Ji Hyeok dan Jin Seo Kyung akhirnya jadian? 


Sok atuhlah langsung ditonton. Tidak usah khawatir akan penundaan, drama ini sudah lengkap penayangannya, dan enam belas episodenya sudah bisa dinikmati melalui VIU. 


Read more…

September 2, 2020

Bukan "Plastik" Biasa

Tanpa terasa, tantangan menulis “30 Days with Koriya” di grup Drakor dan Literasi sudah masuk ke bulan terakhir. Semenjak di mulai di bulan Juni, aku dan teman-teman grup Drakor sudah menuliskan 25 topik tulisan seputar Korea. Tidak melulu tentang drama dan film Korea, tetapi juga makanan, bahasa, budaya, dan tentuk tidak ketinggalan, KPop. 

Bulan September ini adalah bulan terakhir. Masih ada 5 topik lagi yang akan dikupas tuntas bersama. Kalau dipikir-pikir, sungguh mengagumkan ya, 1 topik bisa dibahas dan dituliskan dari belasan sudut pandang dan gaya tulisan yang berbeda. 


Kali ini, topiknya adalah Idol yang menjadi aktor/aktris, atau artis yang full package. Kalau bicara artis Korea full package, wah… daftarnya panjang! Sebagaimana berkali-kali tersurat dan tersirat dalam postinganku, tidak hanya visual mereka yang menggoda “iman”, namun para artis Korea ini pun serba bisa. 


Kelebihan visual mereka ini sering dituduh publik sebagai “plastik” alias hasil operasi dokter kecantikan. Pertama, tidak semua artis Korea melakukan operasi plastik. Banyak juga yang sudah ganteng atau cantik bawaan orok. Kedua, sesungguhnya hal itu pun mereka lakukan demi totalitas dalam profesinya sebagai artis. Dibalik tampilan visualnya, mereka punya banyak sekali kemampuan. Mulai dari kemampuan berseni peran, nyanyi, nari, main musik, MC, sampai menjadi model atau bintang iklan. Selain uri Jae-uck oppa, artis Korea serba bisa lain yang menjadi favoritku adalah Cho Jung-seok. 


Cho Jung-seok memulai kariernya sebagai pemain teater. Dia bermain dalam banyak drama musikal, di antaranya “Hedwig and The Angry Inch” dan “Amadeus”. 


Pertama sekali aku menyaksikan kemampuan akting Cho Jung-seok, dan terpesona, adalah dalam drama “Don’t Dare to Dream”. Akting Cho Jung-seok memerankan pria sombong gengsi menggalau bikin mabuk kepayang. Chemistry Cho Jung-seok dan Gong Hyo-jin merasuk sampai ke hati. Sorot matanya, gerakan tubuhnya, ohh my heaarrtt…


Setelah drama, aku lanjutkan dengan menonton filmnya. Ketika itu bertepatan ada tantangan di grup Drakor untuk mengulas film “EXIT” yang dibintangi Cho Jung-seok. Di situ pun kembali aku kagum dengan kemampuan aktingnya. 


Sejak tayang perdana, popularitas film yang dibintangi Cho Jung-seok dan Yoona SNSD ini terus melesat tinggi. Ketika penonton film tersebut menembus angka 9 juta, Cho Jung-seok dan Yoona SNSD mengucapkan terima kasih kepada para penggemarnya dengan mengunggah video mereka menari dengan iringan lagu “Superhero” yang menjadi OST film "EXIT". Walaupun tidak seluwes Yoona, tetapi Jo Jung-seok bisa mengimbanginya dengan gaya menari yang dramatis dan lucu.


“Gong”nya adalah di drama Hospital Playlist. Di situ Cho Jung-seok menunjukkan tidak hanya kemampuan aktingnya sebagai dokter bedah dan orangtua tunggal, namun dalam hampir setiap episode penonton dapat menikmati kemampuannya olah vokal dan bermain musik dalam sebuah band.


Drama “Hospital Playlist” ini memang spesial. Dalam drama ini pun kita bisa melihat keserbabisaan para artis Korea. Tidak hanya Cho Jung-seok, tetapi empat “dokter” lainnya pun memiliki kemampuan vokal dan bermain musik. Ternyata chemistry mereka berlima tidak hanya klop sebagai sahabat dan rekan sejawat, tetapi juga sebagai grup band. Ketika drama berakhir, Cho Jung-seok bersama empat rekan lainnya, yaitu Yoo Yeon-seok, Jung Kyung-ho, Kim Dae-myung, dan Jeon Mi-do, meresmikan band yang tadinya hanya ada dalam drama, dan memulai debut band yang mereka beri nama “Mido & Parasol”.

Selain kemampuan di bidang seni, tidak sedikit juga dari artis Korea, baik KPop idols maupun aktor/aktris yang mempunyai prestasi dalam bidang akademis. Kim Nam-joon (RM) BTS memiliki IQ 148, meraih nilai TOEIC 850, dan menguasai bahasa Inggris dengan belajar secara otodidak. RM sering menjadi juru bicara BTS setiap mereka tampil di ajang internasional. Kyuhyun, member termuda Super Junior, menyelesaikan program S2 nya di jurusan Postmodern Music di Universitas Kyunghee. 


Lee Seung-gi meraih gelar sarjana di jurusan International Trade and Commerce di Universitas Dongguk, dan meraih “Special Achievement Award”. Lalu Seung-gi melanjutkan studi S2 di Universitas yang sama, tidak satu tetapi dua jurusan, yaitu Trade Theory dan Finance and Cultural Contents. 


Kim Tae Hee, yang juga istri dari Rain, meraih gelar sarjana di jurusan Fashion Design dari Universitas Nasional Seoul, salah satu universitas paling bergengsi di Korea Selatan. Selama kuliah di sana, Kim Tae-hee pernah menjadi ketua klub ski wanita. 


Semakin banyak membaca dan menyaksikan karya mereka, semakin kagum aku dengan para artis Korea ini. Suatu bukti bahwa mereka memang lebih dari sekadar “plastik”.


Read more…

August 31, 2020

Ahjussi Idola

Membahas tentang budaya Korea Selatan ini seakan tidak ada habisnya. Bukan aku tak cinta sama negara dan budaya sendiri. Indonesia tetap tanah air beta. Ini hanya masalah selera. Setiap kita suka akan sesuatu, pasti kita akan mengoprek mengulas mengupas tuntas sesuatu itu, yes no?


Pada postingan sebelumnya aku menulis tentang Kim Mi Kyung, ahjumma idola yang dijuluki The Empress oleh publik Korea Selatan. Tidak lengkap bahas ahjumma kalau belum bahas ahjussi juga. 


“Ahjussi” merupakan panggilan kekerabatan dalam bahasa Korea yang artinya paman atau Oom. Secara umum, ini adalah panggilan kepada laki-laki yang lebih tua, yang segenerasi dengan orangtua kita. Salah satu ahjussi yang menjadi favoritku dalam drama Korea adalah Son Hyun Joo


Ahjussi Idola, Son Hyun Joo - sumber: IDNtimes)

Pertama sekali aku menonton kemampuan akting ahjussi yang satu ini adalah ketika ia bermain dalam drama “Criminal Minds” (2017), yang merupakan remake dari serial tv Amerika yang berjudul sama. Dalam drama ini berperan sebagai Kang Ki Hyung, team leader dari sekelompok profiler di NCI (National Criminal Investigation). Walaupun Ki Hyung tampak dingin dan tanpa ekspresi, namun sesungguhnya ia sangat peduli pada setiap anggota tim yang dipimpinnya. Kalau dalam versi Amerikanya, Ki Hyung ini serupa Aaron Hotchner (Thomas Gibson). Berhubung aku sangat suka dengan “Criminal Minds” versi Amerika, maka sosok Aaron Hotchner cukup melekat di benakku. Dan menurutku, Son Hyun Joo berhasil memerankan karakter “Aaron Hotchner” dengan sangat baik.


Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Itaewon Class” (2020), dimana ia berperan sebagai Park Seung Yeol, ayah dari Park Sae Ro Yi (Park Seo Joon). Walaupun Park Seung Yeol hanya muncul dalam tiga episode, tapi karakter ini meninggalkan kesan yang cukup dalam sebagai ayah yang sangat mencintai keluarganya. Scene ketika Park Seo Ro Yi bertemu dengan ayahnya di dalam mimpi berhasil membuat aku menonton dengan layar laptop yang tampak kabur. 


Berperan sebagai ayah Park Seo Joon dalam drama "Itaewon Class" (2020)
sumber: idntimes


Sejak memulai debutnya di tahun 1990, Son Hyun Joo sudah bermain dalam lebih dari 50 judul film dan drama. Selain “Criminal Minds” (2017) dan Itaweon Class” (2020), Son Hyun Joo juga bermain dalam drama “Signal” (2016) dan “Justice” (2019). Diantara banyak film dan drama tersebut, dua yang paling dikenal dan menjadi hits, dimana Son Hyun Joo menjadi pemeran utama, adalah drama “The Chaser” (2012) dan film “Hide and Seek” (2013). “The Chaser” (2012) sendiri memenangkan dua penghargaan Grand Prize (Daesang) dalam dua ajang perfilman di Korea Selatan, dan Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik atas perannya dalam drama tersebut. 


Son Hyun Joo tidak hanya memenangkan berbagai penghargaan di tingkat nasional, namun juga di ajang perfilman internasional. Pada tahun 2017, Son Hyun Joo memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik dalam 39th Moscow International Film Festival atas perannya dalam film “Ordinary Person” (2017). 


Poster drama "The Good Detective" (2020)
sumber: dailyasia.com


Drama terbarunya adalah “The Good Detective” (2020), dimana ia berperan sebagai Kang Do Chang, seorang polisi detektif senior. Dalam drama ini, sekali lagi Son Hyun Joo membuktikan kepiawaiannya berakting, memerankan Kang Do Chang yang menjadi panutan dan mentor bagi para detektif junior, walaupun secara pangkat, dia masih setara bahkan di bawah mereka. Kang Do Chang menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan integritas yang tinggi, dan memperlakukan setiap tersangka dengan baik. Falsafahnya “Hate the sin, not the sinners”.





Read more…

August 29, 2020

Pengaruh Gen Terhadap Kesehatan

 Selama masa pandemi ini, sering sekali diadakan webinar, baik yang gratis maupun berbayar. Webinar ini menggantikan seminar, yang sebelumnya diadakan secara tatap muka langsung. Topiknya pun bermacam-macam, mulai dari kesehatan, hukum, manajemen, wirausaha, sampai kelas memasak dan make-up. Dari antara banyak webinar itu, yang paling sering aku ikuti adalah topik tentang kesehatan dan manajemen. Apalagi seorang sepupuku, Christin, adalah dokter spesialis gizi yang kerap menjadi narasumber. Christin selalu membagikan informasi tentang webinar dimana dia terlibat melalui WA Grup Keluarga Tobing. Semua webinar yang dibagikan Christin tidak hanya gratis, bahkan kadang-kadang ada hadiah bagi peserta.

Sekali waktu, Christin membagikan ke WAG tentang webinar dengan topik “How To Treat Heart Disease Based On Gene”. Webinar ini diadakan oleh RS. Jantung Diagram, bekerja sama dengan KALBE dan nutriGen-Me. Topik ini cukup menarik, sehingga cukup banyak dari keluarga kami yang mengikutinya. Apalagi dua orang Uda dan Amangboruku sudah pernah mendapat serangan jantung. Mereka sudah pasang ring dan bypass. Puji Tuhan, sampai saat ini mereka baik-baik saja.


Sebagaimana topiknya, webinar ini membahas seputar penyakit jantung dan terapi yang tepat sehubungan dengan gen yang dimiliki oleh masing-masing orang. Wah, aku baru tahu, ternyata Christin sudah bersertifikat untuk membaca hasil pemeriksaan gen. Hebat euy! 


Sebagai awam, kita sering bertanya-tanya. Kenapa ya kalau aku minum kopi, padahal sedikiiit saja, tapi jantung udah deg-degan gak karuan? Padahal, ada orang yang minum kopi bergelas-gelas, hidupnya santai aja tuh. Seperti tidak ada pengaruh sama sekali. Atau mungkin juga kita khawatir, ketika dari keluarga ayah ada bawaan sakit jantung, dan dari keluarga ibu bawaan diabetes, terus sebagai keturunannya, kita harus ottokee?


Dalam webinar ini Christin menjelaskan bahwa masing-masing orang memiliki penerimaan atau respon yang berbeda terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu tergantung gen yang dimiliki setiap orang. Tipe nya ada macam-macam. Sudah pasti aku tidak menghafalnya...hehehe Perbedaan tipe gen ini mempengaruhi bagaimana penerimaan kita terhadap sesuatu. 


Kita ambil saja satu contoh. Untuk menurunkan resiko serangan jantung, maka kita harus menurunkan kadar homosistein di dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan mengonsumsi folat. Nah, kemampuan menyerap folat ini bisa berbeda untuk tiap orang. Orang dengan tipe X apabila mengonsumsi makanan yang mengandung 400 mb folat, maka seluruh tubuhnya akan menyerap dan menggunakan. Namun orang dengan tipe Y, mungkin hanya mampu menyerap dan menggunakan 200 mg folat. Sehingga orang dengan tipe Y ini harus menemukan cara untuk menambah asupan folat yang diserap oleh tubuhnya, misalnya dengan menambah konsumsi makanan yang mengandung folat.


Hal yang sama juga dapat diaplikasikan pada penyerapan sodium dan berbagai vitamin. 


Masalahnya, sangat jarang kita yang tahu dengan jelas kita memiliki gen yang seperti apa dan apa pengaruhnya. Ternyata ada test nya lho. Harganya memang cukup mahal, harga promosi saja dibanderol 8 juta Rupiah. Namun, pemeriksaan genetik yang komprehensif ini dapat dipandang sebagai suatu investasi. Sebab, ternyata banyak sekali hal yang bisa kita antisipasi, apabila kita tahu tipe gen dan kromosom kita.


Dalam webinar tadi ada salah satu peserta yang menanyakan, apabila dari garis keturunan ayah dan ibu membawa turunan penyakit tertentu, apakah itu artinya keturunannya akan menderita penyakit tersebut? Jawabannya, belum tentu. Namun, karena ada faktor genetik tadi, resiko si anak/keturunan menderita penyakit tertentu tadi lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Oleh sebab itu, si anak tersebut harus lebih banyak melakukan tindakan-tindakan pencegahan.


Mengikuti webinar ini, aku mencatat beberapa poin untuk menjadi pengingat. Pertama, kita harus mengenal tubuh kita dengan baik. Pemeriksaan genetik sudah jelas lebih akurat, namun tanpa itu pun, kita harus jeli mengenali reaksi diri kita terhadap sesuatu. Kedua, lebih baik mencegah daripada mengobati. Pencegahan terbaik adalah memiliki gaya hidup yang sehat dan teratur, baik jasmani maupun rohani.


Harus diakui aku sendiri masih jauh dari gaya hidup sehat ini. Masih suka makan sembarangan, jarang olahraga, dan sering tidur larut (seperti malam ini). Namun pastinya tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Semangat!


Read more…